Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Mobil-Mobil Tokoh NU (3)

Hampir setiap malam kami mengadakan dakwah jika tidak ada sidang parlemen. Diam di Ibu Kota Jakarta dengan macam-macam tugas tanpa memiliki mobil memang susah juga. Harus mempunyai mobil walau tua sekalipun.

Suatu hari Idham Chalid datang ke parlemen dengan mobilnya merk “Human” berwarna hijau tua. Tentu saja mobil bekas. Ia membisikkan padaku bahwa ia membawa mobil, sambil menunjuk ke arah mobil kecil yang diparkir di bawah pohon beringin di depan gedung parlemen.

Mobil-Mobil Tokoh NU (3) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mobil-Mobil Tokoh NU (3) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mobil-Mobil Tokoh NU (3)

“Dapat dari mana?” tanyaku.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Ada kiriman uang dari Kalimantan. Saya beli mobil seharga Rp 18.000,” jawabnya.

“Kok mahal begitu?” tanggapanku.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Apa mahal! Lihat dulu barangnya. Mesinnnya masih tokcer,” jawabnya.

Kiai Ilyas keluar dari sidang parlemen dengan A Achsien. Aku beri tahukan kepadanya bahwa Idham Chalid membawa mobil “baru”. Ia kepingin juga mencoba hendak menebeng sampai ke rumahnya. A Achsien sudah mempunyai mobil sendiri.

Idham Chalid duduk di kursi kemudi. Ia hendak mengemudikan sendiri. Batinku bertanya, “Kapan belajar mengemudi?”

Karena percaya bahwa Idham Chalid sudah pandai mengemudi mobil, aku diam saja.

Mobil keluar dari halaman parlemen menuju arah jalan Pejambon. Jalannya mobil tidak lurus, tidak stabil. Pedal rem sering diinjak tiba-tiba, lalu tancap gas tak kepalang tanggung.

Kiai Ilyas melirik padaku. Dalam hatinya, barangkali mengatakan, “Kok begini nyetirnya?” Tapi aku tak membalas lirikannya. Aku cuma diam saja. Sejak tadi aku membaca-baca shalawat. Benar juga, nyaris menyenggol pengendara sepeda di dekat Stasiun Gambir. Kiai Ilyas teriak keras!

“Ya akhi, kalau ada orang jual rokok di depan itu, berhenti!” seru Kiai Ilyas ditujukan kepada Idham Chalid.

Di depan penjual rokok, Idham Chalid menghentikan mobilnya. Agak keterusan. Kiai Ilyas turun dari mobil. Aku kira ia akan membeli rokok, kiranya ia terus berjalan di atas trotoar.

“Mengapa? Hayo naiklah!” ajakku kepadanya.

“Terima Kasih! Jalan kaki lebih aman ...!” sambil mempercepat jalannya menuju arah prapatan.

“Penakut!” teriak Idham Chalid.

Aku pindah tempat di sampingnya. Mesin lalu dihidupkan. Mobil mulai jalan lagi. Sepanjang jalan aku biarkan ia mengemudikan mobilnya sekehendak hatinyalah. Aku diam saja, memperbanyak membaca shalawat.

Alhamdulillah, Tuhan Maha Besar! Akhirnya, sampai juga ke tempat tujuan dengan selamat, walaupun tidak begitu sehat.? Kepalaku pening!? (KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-Orang Pesantren)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pendidikan, Nasional, Pahlawan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 18 Februari 2018

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Oleh Rosidin

Beragam opini menyelimuti akar kata “santri”. Pertama, dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Kedua, dari bahasa India, shastri, yang berarti “ahli kitab suci agama”,karena shastri berasal dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci agama”. Ketiga, dari bahasa Sansekerta yang berarti “ilmuwan yang pandai menulis”. Keempat, dari bahasa Jawa, cantrik yang berarti “orang yang selalu mengikuti guru”. Kelima, perpaduan dari kata saint yang berarti “manusia baik” dan tra yang berarti “suka menolong”.

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Kelima opini tersebut tidak perlu dibenturkan, melainkan cukup dipadukan untuk merumuskan ciri khas santri berdasarkan telaah bahasa. Hemat penulis, santri adalah “orang muslim yang mempelajari kitab suci agama Islam (al-Qur’an beserta perluasannya dalam “kitab kuning”) kepada guru mengaji (kiai) melalui proses pembelajaran dan peneladanan (di masjid, madrasah diniyah maupun pesantren) agar menjadi manusia yang baik dan suka menolong”.

Dalam bahasa al-Qur’an, tujuan utama menjadi santri adalah tafaqquh fi al-din atau memahami agama Islam secara mendalam (Q.S. al-Taubah [9]: 122). Santri diharapkan mampumenguasai empat sifat agama Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agama wahyu (al-din al-wahyi); (2)agama keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agama kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agama kemajuan (al-din al-ishlahi).Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkantiga prinsip utama pesantren menurut KH Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut pesantren, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda denganalumni perguruan tinggi yang semakin tinggi gelar, semakin jauh dari rakyat. Semakin tinggi gelar alumni pesantren, justru semakin dekat dengan rakyat.

Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI dari segala bentuk penyimpangan agama, seperti komunisme yang mengusung atheisme (anti-Tuhan). 

Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” yang masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demimembangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis Indonesia (PKI), sekaligus sebagai tandinganbagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” yang disebut KH Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampuradukkan agama. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (atheisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) yang menodai SilaKetuhanan Yang Maha Esa. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.Santri merupakan generasi yang bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah orang yang membuat umat muslim selamat (aman) dari perkataan dan perbuatannya” (HR Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh dari kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: 125 yang meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). 

Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH Zainal Mustofa, Pengasuh Pesantren Cimerah Sukamanah, yang melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang yang mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal 18 Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi.

Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus,serta bangsa Indonesia secara umum, agar menuntut kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah yang dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai 76.566 lembaga dan menampung 6.000.062 santri.

Ketiga, Sila Persatuan Indonesia. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Sumatra, 29 September 1945; sedangkan pemerintah Indonesia tidak melakukan perlawanan yang nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul Ulama seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, yang mengajukan Resolusi Jihad yang intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu dampak nyata dari Resolusi Jihad adalah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal 22 Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015.

Keempat, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah diarena birokrasi,baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan Agama Islam atau Menteri Agama Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fiqih: Tasharruful Imam ala raiyyah manuth bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).

Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa yang mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri yang membuat santrisiap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran yang menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial yang membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal wa Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri yang diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp 1.8 Triliun pada tahun 2015.

Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agama, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban Indonesia yang unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi yang mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Pengurus LTN NU Kabupaten Malang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Jadwal Kajian, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 14 Februari 2018

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai ajang konsolidasi dengan kepengurusan NU di bawahnya. Pengurus Harian NU DKI Jakarta menemui pengurus Majelis Wakil Cabang NU se-Jakarta Selatan di Kantor Sekretariat PCNU Jakarta Selatan di Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (11/6) malam.

Kunjungan silaturahmi dan konsolidasi ini diawali dengan khataman Al-Quran dan sembahyang tarawih berjamaah. Forum ini diisi dengan tanya jawab terkait ke-NU-an dan permasalahan ibu kota Jakarta antara pengurus MWCNU dan PWNU DKI Jakarta.

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan, PWNU DKI Kunjungi MWCNU Se-Jakarta Selatan

“Semoga pertemuan silaturahmi ini menguatkan nahdliyin di Ibu Kota Jakarta,” kata Ketua Panitia Safari Ramadhan Ustadz H Munahar Mukhtar mengawali sambutannya.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi mengapresiasi gerakan tangkas pengurus harian NU DKI Jakarta. Menurutnya, tidak lama setelah konferensi wilayah NU pengurus baru harian NU DKI Jakarta segera melangsungkan pelantikan untuk kemudian terus menyapa cabang dan majelis wakil cabang NU di Jakarta.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Insya Allah Jakarta adem kalau pengurus NU dan nahdliyin bergerak menjalankan amanah organisasi dan menghidupkan tradisi Aswaja NU. Semoga gerakan NU Jakarta ini menjadi etalase kepengurusan NU se-Indonesia,” kata Kiai Abdurrazak.

Sebelum menyapa pengurus MWCNU se-Jakarta Selatan, H Saefullah mendata kehadiran pengurus satu per satu MWCNU. Menurutnya, Jakarta ini penuh dengan masalah.

Pengurus NU di Jakarta, menurutnya, harus kerja keras untuk membenahi Jakarta dan nahdliyin. Kiprah NU dalam pergerakan dan mengisi kemerdekaan Indonesia tidak perlu diragukan. Kini kita mesti meningkatkan pengabdian kita untuk khususnya Jakarta menjadi lebih baik.

“Kalau Pemda DKI Jakarta punya APBD, NU ini seperti kata Ketua PBNU KH Imam Aziz tidak memiliki APBN dan APBD. Tetapi berkah perjuangan para ulama kita, NU harus terus bergerak dari mana rezekinya,” kata H Saefullah disambut gelak tawa hadirin.

Menurutnya, NU sudah terbukti menerima Pancasila dan UUD 1945. Hal ini terbukti dari komitmen NU terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan ideal dan konstitusional di Indonesia. NU dalam acara formalnya selalu membawakan lagu Indonesia Raya.

Sebelum ditutup dengan doa khatmil Quran oleh KH Muhyiddin Ishaq, Ketua PWNU DKI Jakarta Dr H Saefullah menyerahkan secara simbolis wakaf Al-Quran pribadinya kepada Ketua PCNU Jakarta Selatan KH Abdurrazak Alwi. Sebelum bubar, para hadirin membaca doa kaffaratul majlis yang dipimpin Rais Syuriyah NU Jakarta Selatan KH Lukman Hakim. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Makam, Cerita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 06 Februari 2018

Islam Nusantara adalah Aktualisasi Konsep ‘Ummatan Wasathan’

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan, Islam Nusantara adalah ikhtiar menjelmakan moderatisme (tawassuthiyah) dalam sosial-budaya, ekonomi, pendidikan, bahkan di bidang politik.

“Islam Nusantara adalah moderasi Islam dan keindonesiaan sebagai aktualisasi konsep ummatan wasathan,” jelas Kiai Said saat menyampaikan muhasabah 2017 dan resolusi kebangsaan 2018, Rabu (3/1) di Kantor PBNU Jakarta.

Islam Nusantara adalah Aktualisasi Konsep ‘Ummatan Wasathan’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara adalah Aktualisasi Konsep ‘Ummatan Wasathan’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara adalah Aktualisasi Konsep ‘Ummatan Wasathan’

Ia menegaskan, Islam adalah agama yang mulia, agama yang suci. Karena itu, Islam harus dibela dan diperjuangkan dengan cara-cara yang mulia pula. Kiai Said mengutip Sabda Nabi:

(? ?) ? ? ? ? ? ??  

“Barang siapa hendak mengajak kebaikan, maka ajaklah dengan cara yang baik pula.” (HR Baihaqi)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga menerangkan, Allah menghendaki umat Islam menjadi umat moderat (ummatan wasathan) sebagaimana ditegaskan al-Qur’an (al-Baqarah/2: 143).

?? ? ? ? ? ? ? ?.. (?) 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, manifestasi Islam Nusantara kini tengah menghadapi tantangan menguatnya ideologi ekstremisme dan radikalisme di berbagai dunia, termasuk di Indonesia. 

Menangkal radikalisme

PBNU bersyukur bahwa tahun 2017, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang mencoreng Islam dan melumat sejumlah negara Islam di Timur Tengah dan Afrika berhasil dilumpuhkan. ISIS berhasil diusir dari Mosul (Irak) pada 21 Juni 2017 dan dari Raqqa (Suriah) pada 17 Oktober 2017.

“Pada 9 Desember 2017, Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, mengumumkan bahwa perang melawan ISIS telah dinyatakan usai. Jaringan mereka mencoba mencari basis di Asia Tenggara, melalui Filipina, namun sebenarnya mengincar Indonesia,” ungkapnya.

Meski makan waktu cukup lama, sekitar 154 hari dan menelan banyak korban jiwa, pada 23 Oktober 2017, otoritas Filipina mengumumkan berhasil melumpuhkan pemberontakan Marawi oleh kelompok afiliasi ISIS, Maute dan Abu Sayyaf.

Dalam rangka mengantisipasi ideologi Khilâfah alá ISIS yang terbukti memporakporandakan sejumlah negara, jelas Kiai Said, PBNU dapat memahami dan mendukung kebijakan Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Ormas yang diikuti dengan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengusung gerakan Khilâfah.

Namun, imbuhnya, PBNU menghimbau penyempurnaan Undang-Undang Ormas agar upaya memberantas gerakan anti-NKRI dan Pancasila tidak menghalangi hak setiap warga negara untuk berserikat dan berkumpul yang dijamin konstitusi.

“PBNU melihat, proses pembubaran ormas tetap perlu mekanisme peradilan agar setiap orang dan kelompok dapat membela diri dalam sebuah majelis terhormat,” tuturnya.

Yang lebih penting dari penerbitan Perppu Ormas dan pembubaran HTI, menurutnya, adalah menangkal ideologi radikalisme melalui gerakan terstruktur, massif, dan komprehensif melibatkan berbagai aspek: politik, keamanan, kultural, sosial-ekonomi, dan agama.

Faktor agama menyumbang radikalisme melalui pemahaman bahwa Islam menuntut institusionalisasi politik melalui negara Islam atau Khilâfah Islâmiyah. Ajaran ini, sambung Kiai Said, akan membuat orang Islam di mana pun untuk berontak terhadap kekuasaan yang sah, meski kekuasaan itu tidak menghalangi bahkan memfasilitasi pelaksanaan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Ideologi pemberontakan ini menghalalkan kekerasan yang bisa mewujud nyata jika kondisi politik dan kekuatannya memungkinkan. Pemerintah perlu bersikap dan bertindak tegas mengatasi persoalan radikalisme dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan ketahanan lingkungan berbasis keluarga.

Menurutnya, Kementerian Agama perlu mengambil peran lebih aktif sebagai leading sector dalam penanganan radikalisme agama, terutama mengembangkan wawasan keagamaan yang nasionalis melalui pembobotan kurikulum, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, dan pengelolaan program strategis seperti bidik misi dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

“Peran UKP PIP (Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila) perlu juga dioptimalkan dalam pemantapan ideologi Pancasila di lingkungan aparatur sipil negara (ASN), kementerian, dan lembaga-lembaga negara, BUMN, dan TNI/Polri. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Tegal, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 02 Februari 2018

Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT

Malang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku terkejut saat dirinya menjadi sasaran bully oleh kalangan aktivis media sosial. Kementerian yang dipimpinnya disebut akan membuat program rehabilitasi bagi kalangan LGBT, antara lain dengan terapi rebus.

Seperti dilansir kompas.com, Ahad (13/3), kepada wartawan di Malang, Jawa Timur Khofifah, meluruskan pemberitaan yang beredar.

Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Jelaskan ‘Terapi Rebus’ Hanya untuk Napza, Bukan LGBT

Menurutnya, kementeriannya tidak mempunyai program rehabilitasi untuk LGBT. "Kami tidak punya kewenangan penindakan,” ujarnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam kunjungan kerja ke Sidoarjo dan Mojokerto beberapa waktu lalu, Khofifah mengaku bertutur tentang keberadaan lembaga yang memiliki metode terapi bagi pengguna narkotika, obat, dan zat terlarang (napza), menggunakan proses perebusan.

"Betul, ada metode direbus sampai suhu 85 derajat celsius, tetapi itu untuk (pengguna) napza," ujar Khofifah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ditambahkan, lembaga-lembaga yang dia ceritakan itu merupakan institusi penerima wajib lapor (IPWL), yang hubungannya dengan Kementerian Sosial sebatas koordinasi.

Adapun terkait LGBT, Khofifah menyebut, pernyataan yang pernah dia sampaikan adalah cuplikan perbincangan dengan Ary Ginanjar. Dalam perbincangan itu, kata Khofifah, Ary mengatakan, metode ESQ yang dikembangkan lembaganya ternyata juga bisa membantu kalangan LGBT yang berkeinginan mengubah orientasi seksualnya kembali menjadi heteroseksual.

Khofifah menyebutkan, sampai saat ini, kementeriannya berkoordinasi dengan 118 IPWL. Kutipan soal pelepasan sejumlah eks LGBT yang disebut akan dilakukan pada Rabu (16/3/2016), kata dia, juga merupakan kegiatan dari salah satu IPWL, bukan kementeriannya.

"Karena beberapa IPWL memang sekaligus menangani (terapi) untuk (pengguna) napza, LGBT, dan lain-lain itu, tetapi metode perebusan yang saya sebut tadi bukan untuk LGBT," kata Khofifah. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Pemurnian Aqidah, Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 01 Februari 2018

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Syahdan, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, beberapa sisa pasukannya menyebar ke berbagai penjuru. Diantaranya ada yang mengungsi ke wilayah Holing (Bahasa Cina), dalam bahasa jawa disebut Keling-Kalong. Ratusan pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Ageng Gombol.

“Mbah Gombol, nama aslinya KH Hambali,” terang Riza Baihaqi, salah satu warga setempat, Sabtu lalu (6/7).

Di papan besar yang dipasang di dekat makam, tertulis bahwa Mbah Gombol berasal dari Bagelan Purworejo. Dia adalah penasehat Pangeran Diponegoro dan ahli strategi perang gerilya. Bersama ratusan pasukannya ia berjuang melawan Belanda.

Ki Ageng Gombol yang dikejar oleh pasukan Kompeni Belanda, akhirnya sampai di wilayah Holing. Di tempat itu, mereka kemudian membuka sebuah padepokan. Daerah yang sebagian besar masih berupa rawa-rawa seluas + 2 hektar  itu kemudian dikeringkan.

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Selang beberapa bulan kemudian, tanah yang sudah kering dapat digunakan untuk membangun rumah dan berladang. Kemudian oleh Ki Ageng Gombol, tempat yang semula bernama Penatus itu diganti dengan nama Pekajangan, dinamakan seperti itu karena di daerah tersebut banyak ditumbuhi Pohon Kajang. Daerah ini sampai sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Pekajangan, Kedungwuni, Kab. Pekalongan.

Padepokan itu kemudian digunakan untuk tempat ibadah lima waktu dan ilmu kaweruh (santapan rohani) yang dipimpin oleh beberapa orang guru ngaji. Diantaranya ada yang dikenal dengan nama Raden Sitojoyo (Sutojoyo), Raden Gondang Winangun dan juga Raden Suryo Mentaram. Begitu pula dengan kesenian wayang kulit yang juga di uri-uri, juga ilmu silat dan ilmu kanuragan.

Tahun 1840 Masehi bulan Dzulhijah, Ki Ageng Gombol wafat. Beliau dimakamkan di dekat padepokan. Makamnya sempat terlupakan, karena seiring bergantinya generasi. Namun, setahun silam makam tersebut ditemukan kembali oleh tim dari Pesantren Nurul Huda Sragen. Makamnya kemudian dipindahkan di dekat makam lama, bersama dua pengikutnya, yakni Kiai Ageng Basyari (Mbah Sor Pring) dan Raden Mas Suryomentaram.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Setiap malam Jum’at Kliwon, biasanya di makam diadakan pengajian dan banyak peziarah datang” ungkap Baihaqi, yang mengaku masih termasuk keturunan Mbah Gombol itu. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Pahlawan, Kajian Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 23 Januari 2018

IKA-PMII: Negara Bergerak ke Arah Penghilangan Tanggung Jawab

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pasca reformasi dan amandemen UUD 1945, pengertian negara mulai berbelok. Tujuan negara yang semestinya memberi kesejahteraan sebesar-besarnya kepada rakyat seperti diamanatkan konstitusi berangsur lenyap.

IKA-PMII: Negara Bergerak ke Arah Penghilangan Tanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
IKA-PMII: Negara Bergerak ke Arah Penghilangan Tanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

IKA-PMII: Negara Bergerak ke Arah Penghilangan Tanggung Jawab

Pandangan ini disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Arief Mudatsir Mandan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) ke-5 IKA-PMII bertema "Menegaskan Kedaulatan Indonesia di Tengah Percaturan Geolpolitik Dunia” di Jakarta, Senin (1/7) sore.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Arief mengatakan, pembelokan tersebut menuju pengertian hanya tanggung jawab secara prosedural dalam segenap tatakrama formalitas politik kekuasaan, seperti pemilu, pembatasan masa jabatan kekuasaan, keberadaan lembaga-lembaga negara, dan seterusnya.

”Negara secara perlahan bergerak kepada penghilangan kemaslahatan rakyat, jaminan keamanan, pemenuhan kebutuhan rakyat secara fisik dan batin, dan individual maupun kolektif,” tuturnya.

Menurut Arief, kedaulatan perekonomian nasional yang terliberalisasi dengan dipersilakannya kekuatan luar telah mengeksploitasi ekonomi Indonesia serta mendorong hancurnya sendi-sendi jati diri bangsa dan kemandirian sebagai sebuah negara.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Jika negara abai dan dalam menjalankan peran tidak berfungsi, maka rakyat wajib memberikan petisi, memberikan koreksi, guna mengembalikan kedaulatan agar tetap di tangannya,” tegasnya.

Ia berharap, Munas ke-5 IKA-PMII yang baru akan berakhir pada Rabu ini tidak hanya menghasilkan pemimpin baru yang lebih baik tapi juga menyumbangkan gagasan dan kiprah bagi perbaikan bangsa dan negara secara keseluruhan.

”Sebagai bagian terpenting dari ujung tombak NU, kader PMII dan alumninya memiliki peran strategis dalam mendorong Indonesia kembali ke khittahnya, mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat sepenuhnya,” jelas Arief.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Ahlussunnah, Ubudiyah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 21 Januari 2018

Perguruan Tinggi Islam Punya Mandat Cetak Masa Depan Bangsa

Surabaya, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin, menyatakan bahwa perguruan tinggi Islam mempunyai mandat dari negara untuk melaksanakan tugas yang di share sama dengan perguruan tinggi lain di bawah Kemenag. Hal ini adalah untuk meningkatkan daya saing bangsa.

"Perlu diketahui bersama bahwa perguruan tinggi Indonesia masih di bawah Malaysia, Thailand dan Filipina. 75 persen anak Indonesia tidak mempunyai kesempatan belajar di perguruan tinggi. Maka ini merupakan salah satu amanah yang diberikan kepada perguruan tinggi untuk mencetak masa depan Indonesia. Indonesia memiliki potensi, mereka (generasi bangsa) yang akan menentukan Indonesia ke depan," kata Kamarudin disela-sela acara rapat terbuka senat IAI Al-Khoziny dalam rangka wisuda sarjana dan pasca sarjana di gedung DBL Surabaya, Ahad (16/10).

Perguruan Tinggi Islam Punya Mandat Cetak Masa Depan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Perguruan Tinggi Islam Punya Mandat Cetak Masa Depan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Perguruan Tinggi Islam Punya Mandat Cetak Masa Depan Bangsa

Selain melaksanakan, perguruan tinggi juga harus mempertahankan, menjaga dan merawat Indonesia. Pasalnya, Indonesia adalah negara yang paling plural. Indonesia memiliki perbedaan budaya, suku dan bahasa. Indonesia memiliki kualitas yang paling besar.

"Indonesia yang sesungguhnya memiliki potensi konflik yang begitu dahsyat karena perbedaan tadi. Tugas kita adalah merawat Indonesia yang keras dan plural menjadi Indonesia tetap damai dan tentram untuk masa yang akan datang," ujarnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, Islam Indonesia adalah Islam demokratis. Indonesia adalah negara yang sangat damai padahal mempunyai potensi konflik yang paling besar. Indonesia berhasil merawat Islam yang sangat besar. Hal itu yang harus dirawat, dipertahankan dan dijaga oleh generasi bangsa. Nilai ke-Islaman menjadi pengawalan, bagaimana pengetahuan yang dimiliki dapat di transportasi menjadi sikap dan perilaku akhlak yang dimiliki.

"Tugas di atas bila dilakukan akan menjadi manusia sempurna. Dan ini harus dilaksanakan oleh perguruan tinggi karena sebagai sebuah lembaga mendapatkan amanah dari Allah dan negara untuk terus menjaga sikap dan perilaku generasi anak bangsa. Sarjana yang tawadhu, itulah yang diharapkan dari sarjana Islam," tutupnya.

Sementara itu, Rektor Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny Buduran Sidoarjo, KH Asep Syarifuddin Chalim mengatakan, jangan menjadi wisuda wan dan wisuda wati yang mudah puas. Kiai Asep berharap, para mahasiswa IAI Al-Khoziny bisa melanjutkan S2.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Ketika kuliah di pasca sarjana S2 Al-Khoziny. Seorang pemuda harus mempunyai cita-cita yang tinggi. Bagi mereka yang menuntut ilmu akan ditempatkan di tempat yang paling mulia dan mudah-mudahan syafaat itu diberikan kepada mahasiswa yang wisuda tahun ini," harap Ketua Pergunu Pusat itu. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hadits, Tokoh, Pahlawan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 17 Januari 2018

Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia

Surakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Saat ini generasi muda banyak yang mulai diracuni dengan paham keagamaan yang radikal, sehingga mereka berkeyakinan bahwa membunuh adalah bagian dari jihad. Mereka juga sangat merusak kebhinekaan bangsa ini karena begitu mudah mengafirkan orang-orang yang tidak sepaham atau sealiran.

"Radikalisme adalah persoalan serius. Ini ancaman yang merusak kebangsaan dan mencoreng agama Islam yang seharusnya dipahami dan diamalkan sebagai rahmatan lil alamin," kata Ketua PBNU Nusron Wahid pada acara Pelantikan Pengurus Cabang NU dan GP Ansor Cabang Kabupaten Karanganyar Periode 2015-2020, di Pendopo Bupati Karanganyar, Sabtu (5/3).

Kegiatan yang juga dirangkai Silaturahim Ulama Se-Eks Karesidenan Surakarta serta Dialog Bahaya Radikalisme Agama di Indonesia ini turut dihadiri Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar, KH Ubaidillah Shodaqoh, dan Khatib Amm PBNU KH Yahya C Staquf.?

Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tokoh Ini Mengancam Indonesia

Dalam kesempatan sama, KH Miftakhul Akhyar mengungkapkan, mereka yang mengatasnamakan Islam tetapi melakukan perusakan dan tindakan teror sejatinya telah berlaku anti-Islam.

"Banyak yang mengaku berjuang untuk Islam dengan mengatasnamakan jihad, tapi pemahaman jihadnya salah sehingga yang ada teror dan sejatinya perlakuan mereka anti Islam," ungkap Kiai Miftah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara itu, Menko Polhukam, Luhut Panjaitan menyatakan, PBNU dan Ansor sebagai kekuatan besar Islam di Indonesia harus terus-menerus melakukan suatu upaya bahwa Islam harus menonjolkan perdamaian.

Luhut menyebut sejumlah tokoh yang patut diwaspadai lantaran terafiliasi gerakan pro negara Islam Irak-Suriah seperti, pendiri Jamaah Ansharul Tauhid (JAT) Abu Bakar Baasyir dan pendiri Katibah Al Iman, Abu Husna yang keluar dari penjara Agustus 2015. Namun untuk Baasyir, sekarang lebih condong ke kelompok Al Qaeda.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mengingat ancaman begitu nyata, Luhut berharap semua pihak ikut mengambil langkah pencegahan teror. Kalau masyarakat, lurah, camat, kepala desa saling memberi informasi, apalagi bekerjasama dengan intelijen, maka aksi radikalisme dan terorisme akan bisa secepatnya dicegah. (Ahmad Rosyidi/Zunus)





Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 12 Januari 2018

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Oleh: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi

Muncul pada hari-hari ini di Timur Tengah sejumlah gerakan berturut-turut dimulai dari Tunisia yang menyebabkan jatuhnya sang presiden, lalu di Mesir dan tumbangnya presiden, kemudian terjadi di Yaman yang memakan waktu lama sehingga menyebabkan intervensi negara-negara kerjasama teluk, dan kemudian disepakati pengunduran diri presiden dan kekuasaan dilanjutkan oleh Presiden al Hadi. 

Di Libya, yang kasusnya juga berlarut-larut, dan saat itu menjadi bahan ejekan dan hasutan dari Presiden Muammar Gaddafi serta intervensi dari Barat dan Qatar dan negara-negara lain, dan gerakan itu menjalar ke tempat lain sampai ke Syria apa yang mereka sebut dengan Musim Semi Arab (Arab Spring), lalu Gaddafi pun terbunuh. Namun hal ini tidaklah mengakhiri masalah bahkan menjadi lebih buruk dan terus memburuk meninggalkan banyak orang mati dan pengungsi, ditambah lagi kehancuran massal dan tersebarnya rasa kebencian.

Dari hal di atas kita mencatat dua hal: Hal pertama menyangkut peran media, terutama sekali stasiun televisi Al-Jazeera dan al Arabiyyah, di mana peran mereka tidak terbatas pada penyebaran fakta-fakta apa yang terjadi, bahkan beralih perannya untuk mengarahkan dan menciptakan peristiwa, dan mengharuskan stasiun televisi dan saluran-saluran yang mengikutinya untuk menguasai seni berbohong, berlebihan dalam menyampaikan serta fabrikasi berita. 

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kewajiban Ulama dan Fitnah Dunia Islam

Dan peran dua saluran televisi berubah menjadi industri berita. Yang membuat orang Arab dan mereka yang mengikuti saluran ini terpengaruh terhadap apa yang disampaikan oleh saluran-saluran itu. Tampaknya pihak-pihak yang dimaksud telah mempercayakan kepada dua saluran ini untuk memimpin gerakan tersebut atas nama media tertentu.

Hal kedua adalah bahwa sebahagian tokoh-tokoh agama sebelumnya telah banyak disorot dan diberi posisi istimewa, ditambah pula orang-orang yang menempuh cara ini dari para sheikh/tetua (saya tidak mengatakan ilmuwan) berkontribusi dalam mempengaruhi publik dan mengarahkan peristiwa-peristiwa tersebut. Bahkan salah satu dari mereka meneriakkan hasutan untuk membunuhnya; dan mengeluarkan fatwa untuk membunuh orang lain. Apa yang terjadi sebagai akibat dari itu?

Para Pemberontak itu tidak mencapai tujuan mereka, akan tetapi mereka yang telah merancang hal tersebut telah mendapatkan sebagian target yang mereka tuju. Yaitu terjadinya kekacauan di wilayah ini dan menjadi rebutan dan santapan lezat mereka yang  rakus dan tamak.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Saya berdiri disini bukan untuk menceritakan tragedi yang menyedihkan/memilukan. Saya hanya ingin -melalui keterangan ini- menjelaskan tanggungjawab seorang ‘Aalim yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan sikapnya terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Terutama sekali ketika ia melihat pertumpahan darah dan kerusakan yang luas, dan perpindahan jutaan orang dari rumah dan desa mereka, serta mereka kehilangan tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Lalu dirampas rasa aman dari mereka. Ditambah lagi penistaan kehormatan dan harga diri serta eksploitasi kebutuhan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak memeiliki hati nurani dan bersukacita dalam kubangan fitnah ini.

Sungguh, beberapa tokoh ilmu kebanggaan umat telah jatuh ke dalam fitnah ini, menjadi penyebab banyak masyarakat tersesat jalan. Dan mereka ikut menjadi sebab terjadinya kekacauan ini yang mereka sebut sebagai jihad, padahal mereka adalah korban yang disebabkan kesesatan dan ketertipuan mereka sendiri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Agar mereka bisa menempuh cara tersebut, mereka melandaskannya kepada beberapa hal. Pertama, mengkafirkan orang-orang yang berbeda (pendapat) dengan mereka, sebagaimana kaum khawarij mengkafirkan orang banyak dan menghalalkan darah mereka.

Kedua, menghembuskan problem pemilahan sectarian, yang juga berakhir dengan pengkafiran sekte yang berbeda. Kemudian seruan untuk memerangi mereka yang akan mengakibatkan perang saudara yang memanas.

Ketiga, dalam rangka untuk mencari jalan pintas dan mencari sutradara pertikaian ini, mereka menuduh para ulama yang konsisten (istiqomah) dengan berbagai macam tuduhan keji agar umat hilang kepercayaan. Dan mereka tidak ragu-ragu untuk memfitnah mereka dengan banyak kebohongan, dan mengejek mereka sebagai bentuk penghancuran karakter dan figur yang bisa mengembalikan situasi kepada takarannya dan dapat mengklarifikasi fakta. 

Hal ini sengaja dibuat agar umat kehilangan kepercayaan terhadap ulamanya dan hilang pula sopan santun terhadap para pemimpin dan orang-orang sholeh. Menjadikan mereka semakin jauh dari sisi kebenaran ditengah-tengah badai perbedaan yang menghantam. Bahkan, mereka ikut menghasut untuk membunuh para ulama tersebut.

Peran institusi dan ilmuwan di tengah perselisihan

Jika sebahagian ilmuwan kebanggaan merupakan bagian dari provokator dan promotor yang telah menyesatkan banyak masyarakat, maka para ulama yang mukhlishin yang harus meluruskan, dan menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah, dan mengawal rambu-rambu kebenaran.

Saya ingin katakan: seluruh Ulama memiliki tanggung jawab menjelaskan dan memunculkan kebenaran, dan memberikan nasehat kepada umat serta menjelaskan hukum serta sikap yang benar terhadap setiap peristiwa dan kejadian. Dan jangan ragu untuk memikul tanggung jawab ini, karena ancaman terhadap kehancuran bangsa dan membuat agama yang benar ini menjadi jelek dan terdistorsi merupakan hal yang sudah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dan mereka memperalat para ilmuwan untuk mencapai tujuannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran: (Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan para pemimpin di antara kalian. Dan jika kalian berselisih paham akan suatu hal, maka kembalikanlah (merujuklah) kepada Allah dan Rasul-Nya, jika Anda beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu (adalah) lebih baik dan sebaik-baik tempat kembali) An-Nisa: 59 , yakni Allah Taala telah memerintahkan kita -ketika terjadi perbedaan- untuk kembali kepada apa yang telah dijelaskan di dalam Qur’an dan Nabi Muhammad SAW yang mulia dalam sunnahnya. Dan Dia Allah tidak pernah menyerahkan (penyelesaiannya) kepada hawa nafsu dan fanatisme buta.

Sesungguhnya Fenomena yang disebut (Arab Spring/Musim Semi Arab) tidak lain hanyalah membuka jalan bagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang menebar teror pembunuhan dan perusakan atas nama Islam.

Oleh karena itu, pengakuan beberapa pihak yang mengatakan bahwa mereka berjuang memerangi kelompok-kelompok teroris, bagi saya merupakan sikap bersikeras untuk tetap pada kesalahan pertama, dengan cara menyulut api fitnah dan memancing kekacauan, sebagai bentuk pelaksanaan langkah-langkah Free Masonry Internasional/Global, yang disebut oleh Rice dengan ‘kekacauan kreatif’.

Situasi ini mengharuskan para ilmuwan untuk melakukan peran dan tanggungjawab yang telah dipercayakan Allah Taala kepada mereka, baik dari sisi amar ma’ruf nahyi munkar, atau dari sisi dakwah kepada Allah dengan cara yang bijaksana dan nasihat yang baik, atau dari sisi menjelaskan kebenaran dan menghapus kebingungan/kecauan pikiran yang menimpa pikiran orang-orang yang mengetahuinya.

Sungguh diamnya seorang ‘Aalim atas apa yang terjadi merupakan suatu kekurangan dan menyembunyikan kebenaran, dan merupakan salah satu sebab terus berlakunya kebathilan. Dan hal itu tidak pantas terjadi kecuali jika seseorang itu takut untuk melawan kebathilan. Atau barangkali dia termasuk orang-orang yang disifati oleh Allah SWT dalam firman-Nya: {dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata} al-Hajj: 11. 

Dan selayaknyalah seorang ‘Aalim memiliki sifat sebagaimana firman-Nya: (... dan akan Allah datangkan kaum yang Dia cinta mereka dan mereka juga mencintai-NYA. Mereka lemah lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut siapa pun yang mencela mereka. Demikian itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang IA kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberiannya) lagi Maha Mengetahui} al-Maaidah: 54.

Seorang ‘Aalim harus cemburu jika hilang rambu-rambu kebenaran dan khawatir jika umat tersesat. takut jika terjadi perselisihan dan konsekuensinya ... dari pertumpahan darah, kehancuran, dan perpindahan. Bukan ini yang telah terjadi?

Ini merupakan perbuatan dari sekelompok pemilik ilmu serta para ilmuwan yang rela menjadi alat menebar fitnah dan menjadi pengawalnya karena rakus dengan godaan keserakahan atau dengki pada orang-orang yang melihat mereka sebagai pesaing bagi mereka atau iri atas apa yang mereka dapatkan dari penerimaan di seluruh bumi.

Sesungguhnya hal yang lebih berbahaya dan lebih mengkhawatirkan lagi yaitu merajalelanya hawa nafsu pribadi di tengah-tengah masyarakat. Ini terkait dengan masa depan bangsa dan pernyataan kebenaran yang telah ternoda oleh gerakan-gerakan ini ...Ini juga terkait dengan kewajiban untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan kebenaran. 

Bukan kah Allah telah berfiman dalam kitab-Nya: dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima) Ali Imran: 187. Dan bukan kah Allah telah mengingatkan para ulama tentang menyembunyikan kebenaran dengan firman-Nya: ((Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilanati Allah dan dilanati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melanati)) al-Baqarah: 159.

Penulis adalah Ketua Persatuan Ulama Suriah, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Putra Sayyid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

*) Makalah ini disampaikan dalam Seminar Internasional ‘Peran Ulama dalam Meredam Krisis Politik dan Ideologi di Timur Tengah’ yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Suriah Indonesia (Al-Syami), Kamis (10/3/2016) di Gedung Pascasarjana UI Salemba Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Kajian, Olahraga Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 10 Januari 2018

Demo PMII soal Kenaikan BBM Berlangsung di Berbagai Daerah

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari berbagai daerah di Tanah Air menggelar aksi unjuk rasa memprotes kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka antara lain melakukan orasi, aksi turun jalan, dan membentangkan spanduk berisi protes.

Demo PMII soal Kenaikan BBM Berlangsung di Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Demo PMII soal Kenaikan BBM Berlangsung di Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Demo PMII soal Kenaikan BBM Berlangsung di Berbagai Daerah

"Seharusnya pemerintah melihat kondisi rakyat secara cermat terlebih dahulu sebelum memutuskan suatu kebijakan yang dampaknya akan sangat luas," kata Ipung dari Pengurus Cabang PMII Ciputat yang mengikuti seruan penolakan kenaikan BBM di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarata, Selasa (18/11).

Protes senada juga diungkapkan PC PMII Bojonegoro. Kebijakan Presiden Jokowi dinilai tidak tepat karena ia menaikan harga BBM ketika harga minyak mentah dunia masih pada kisaran harga $ 80 perbarel. Harga tersebut masih di bawah kisaran asumsi APBN selain lifting minyak juga masih berada di bawah APBN.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Bukan mensejahterakan pemerintah tetapi malah membuat rakyat Indonesia semakin sengsara," kata koordinator aksi PC PMII Bojonegoro, Heri Cahyono di Bunderan Jetak, Bojonegoro, Jawa Timur.

PC PMII Kota Solo juga melakukan aksi penolakan atas kebijakan tersebut bersama berbagai elemen gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Solo (AMS), di antaranya, GMNI, HMI, KAMMI, dan BEM UNS.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua PC PMII Kota Solo Ahmad Rodif Hafidz dalam orasinya juga menegaskan, Jokowi telah mengingkari janjinya untuk tidak menaikkan harga BBM. “Dari dulu alasan menaikkan harga BBM masih ajeg karena APBN defisit. Kenyataannya, defisitnya anggaran itu bukan hanya karena subsidi BBM yang tinggi. Melainkan korupsi besar-besaran yang dilakukan mafia migas,” katanya di Tugu Gladag dan depan Balaikota Solo. (Yazid/Ajie/Owi/Mahbib)

 

Foto: Aksi unjuk rasa PMII Bojonegoro

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Sejarah, Kiai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 30 Desember 2017

Tentang Zakat Fitrah

Zakat fitrah berbeda dengan zakat harta benda. Karena zakat fitrah merupakan satu rangkaian yang tidak terpisahkan dengan ibadah puasa Ramadhan. Bila ibadah puasa berfungsi untuk mensucikan diri dan jiwa seorang muslim, maka zakat fitrah berfungsi mensucikan harta mereka dari segala kotoran yang selama ini terkumpul ketika bermuamalah dengan sesama manusia. Mengenai hal ini Rasulullah saw menggambarkan dalam haditsnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Nabi saw bersabda “puasa bulan Ramadhan digantungkan antara langit dan bumi, dan tidak akan diterima (dengan sempurna oleh Allah swt) kecuali dengan zakat fitrah.

Demikianlah zakat fitrah yang harus dikeluarkan oleh setiap orang muslim baik laiki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa, yang menjumpai bulan Ramadhan dan bulan Syawal dan memiliki kelebihan rizki persediaan untuk siang dan malamnya idul fitri. inilah tiga syarat zakat fitrah.

Tentang Zakat Fitrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Zakat Fitrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Zakat Fitrah

Dengan kata lain zakat fitrah merupakan zakat jiwa. Zakat yang diwajibkan pada setiap manusia muslim yang bernyawa. Maka seorang muslim yang menjadi tulang punggung keluarga (suami misalkan) wajib menunaikan zakat semua anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. Seperti anak, istri, mertua dan orang-orang dilingkungannya yang kebutuhan sehari-hari mereka ditanggungnya.

Oleh karena itu seorang bayi yang lahir pada hari terakhir (seblum maghrib) bulan Ramadhan, sama wajibnya membayar zakat fitrah seperti orang dewasa lainnya, karena dia telah berjumpa dengan Ramadhan dan akan menghadapi bulan Syawal . Tetapi sebaliknya orang yang meninggal di hari terakhir bulan sebelum memasuki hari pertama bulan Syawal tidak diwajibkan menunaikan zakat fitrah.

Adapun zakat fitrah itu berupa makanan pokok  sebesar 1 sho’ atau dalam konteks negara Indonesia berupa beras sebanyak 2,5 kg.  Sebagaimana hadits Rasulullah saw:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Ibnu Umar ra Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma, atau gandum bagi muslim yang hamba dan muslim yang merdeka laki-laki maupun perempuan, baik muslim anak-anak ataupun  orang tua. Dan hendaklah zakat fitrah ditunaikan sebelum orang-orang selesai mengerjakan halat id.

Hadits di atas juga menyebutkan ihwal penunaian zakat fitrah yang hendaknya dilakukan seusai bulan Ramadhan hingga menjelang shalat id. Itu adalah prime time pelaksanaan zakat fitrah. Namun para fuqaha juga memperbolehkan membayar zakat fitrah semenjak awal Ramadhan, yang diistilahkan dengan nama ta’jil. Adapun jika zakat ditunaikan setelah shalat id, maka zakat tersebut berubah fungsi sebagai shadaqah biasa, bukan zakat fitrah dan hukumnya makruh. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan ucapan kotor, serta untuk memberikan makanan orang miskin. Maka barang siapa mengeluarkan zakat sebelum shalat id maka itulah zakat fitrah yang terqabul, dan barang siapa yang memberika zakat setelah shalat id maka itu termasuk shadaqah. (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 22 Desember 2017

Ini Doa Qunut Nazilah

Berikut ini merupakan lafal doa qunut nazilah. Qunut nazilah pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW selama sebulan ketika kehilangan para sahabatnya di Bi’r Mu‘anah. Qunut nazilah ini dibaca sebelum sujud pada rakaat terakhir di setiap shalat wajib yang lima waktu.

Qunut nazilah diamalkan ketika umat Islam menghadapi persoalan keamanan, pertanian, bencana alam, bencana kemanusiaan, dan lain sebagainya. Selain doa qunut subuh, pada qunut nazilah ini ada baiknya kita menambahkannya dengan doa qunut yang dibaca oleh Sayyidina Umar dan Ibnu Umar RA. Berikut ini doanya.

Ini Doa Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa Qunut Nazilah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Allâhumma innâ nasta‘înuka wa nastaghfiruk, wa nastahdîka wa nu’minu bik wa natawakkalu alaik, wa nutsnî alaikal khaira kullahu nasykuruka wa lâ nakfuruk, wa nakhla‘u wa natruku man yafjuruk. Allâhumma iyyâka na‘budu, wa laka nushallî wa nasjud, wa ilaika nas‘â wa nahfid, narjû rahmataka wa nakhsyâ adzâbak, inna adzâbakal jidda bil kuffâri mulhaq.

Artinya, “Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu. Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari. Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma adzzibil kafarata wal musyrikîn, a‘dâ’ad dînilladzîna yashuddûna ‘an sabîlik, wa yukadzzibûna rusulaka wa yuqâtilûna auliyâ’ak. Allâhummaghfir lil mu’minîna wal mu’minât, wal muslimîna wal muslimât, al-ahyâ’i minhum wal amwât, innaka qarîbun mujîbud da‘awât. Allâhumma ashlih dzâta bainihim, wa allif baina qulûbihim, waj‘al fî qulûbihimul îmâna wal hikmah, wa tsabbithum alâ dînika wa rasûlik, wa auzi‘hum an yûfû bi‘ahdikalladzî ‘âhadtahum alaih, wanshurhum ala ‘aduwwihim wa ‘aduwwika ilâhal haq, waj‘alnâ minhum, wa shallallâhu alâ sayyidinâ muhammadin wa alâ âlihi wa shahbihî wa sallam.

Artinya, “Tuhan kami, jatuhkan azab-Mu kepada orang-orang kafir dan musyrik, (mereka) musuh-musuh agama yang berupaya menghalangi orang lain dari jalan-Mu, mereka yang mendustakan rasul-Mu, dan mereka yang memusuhi kekasih-kekasih-Mu. Ya Allah, ampunilah hamba-hamba-Mu yang beriman laki-laki dan perempuan, kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang sudah wafat. Sungguh, Engkau maha dekat dan pendengar segala munajat. Tuhanku, damaikan pertikaian di antara kaum muslimin, bulatkan hati mereka, masukkan kekuatan iman dan hikmah di qalbu mereka, tetapkan mereka di jalan nabi dan rasul-Mu, ilhami mereka untuk memenuhi perjanjian yang telah Kauikat dengan mereka, bantulah mereka mengatasi musuh mereka dan seteru-Mu. Wahai Tuhan hak, masukkanlah kami ke dalam golongan mereka itu. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.”

Doa ini disarikan dari Hasyiyatul Baijuri karya Syekh Ibrahim Al-Baijuri, tanpa keterangan tahun, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 169). Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, News, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 20 Desember 2017

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Brebes, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Gencarnya penggunaan media online dan media sosial tentang berbagai aktivitas masyarakat disikapi anggota Muslimat NU Kabupaten Brebes dengan cara bijak. Sebanyak 60 aktivis Muslimat NU Brebes menggunakan sejumlah media sosial terutama untuk memotivasi para pasangan usia subur agar ikut Keluarga Berencana (KB).

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Mereka mengikuti pendidikan di Hotel Grand Dian Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Rabu-Jumat (13-15/1). “Mereka mendapatkan pelatihan mengenai metode kontrasepsi dan penggunaan teknologi modern untuk sosialisasi KB dengan cara Islami di tengah masyarakat,” kata Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM) Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah.

Selama 10 tahun ke belakang, kata Nurhalimah, peningkatan capaian KB di Indonesia sangat rendah. Di sisi lain tingkat kematian ibu karena melahirkan juga masih tinggi. Ia menyebut kehamilan yang tidak direncanakan dengan baik sebagai salah satu penyebab kematian ibu. Hal ini semakin memperkuat urgensi untuk segera melakukan inovasi dalam bekerja di lapangan.?

Keluarga Berencana di Indonesia sudah dilaksanakan sejak 40 puluh tahun lalu dan sudah mencapai hasil yang sangat baik yang diakui oleh dunia internasional keberhasilannya. Meski demikian, dalam setiap hal pasti akan ada saatnya dimana dibutuhkan cara kerja baru. Di tengah dinamika lingkungan yang sudah berbeda, seperti dinamika kemajuan teknologi, dinamika budaya dan sosial yang sudah berubah diperlukan inovasi agar dapat terus mempertahankan apa yang sudah dicapai dan meningkatkan ke arah yang lebih baik lagi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua Muslimat NU Dra Hj Chulasoh menambahkan, Kabupaten Brebes memiliki jumlah penduduk terbanyak se-Jawa Tengah. Ia berharap ledakan jumlah penduduk dapat dicegah. “Muslimat NU terpanggil untuk berperan aktif mengatur jumlah kelahiran,” tuturnya.

Di sisi lain, kata Chulasoh, saat ini hampir 80% orang di Brebes memiliki akses terhadap telepon genggam. Sebagian besar di antaranya sudah memiliki koneksi internet di teleponnya. Mereka menggunakan internet untuk mencari informasi, membaca berita, atau menggunakan sosial media. Hampir 90% masyarakat Brebes memilliki fesbuk.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Statistik ini didapatkan berdasarkan studi terakhir di tahun 2015 yang dilakukan oleh Johns Hopkins Center for Communication Program bekerja sama dengan Universitas Indonesia di 11 kabupaten kota wilayah kerja program Pilihanku, dengan total responden lebih dari 20,000 Pasangan Usia Subur (PUS).

“Dengan media sosial dan instant messaging saya sekarang dapat terkoneksi dengan seluruh orang di dunia,” tambah Soimah salah seorang peserta.?

Ketua Pelaksana Program Pilihanku Muslimat NU Hj Kusnia Nasser menjelaskan, Muslimat NU bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Johns Hopkins Center for Communication Program (CCP) melihat potensi yang sangat besar untuk menjangkau masyarakat dengan informasi akurat tentang Keluarga Berencana melalui pemanfaatan teknologi online dan media sosial.?

“Muslimat NU sejak tahun 1967 setuju dengan Keluarga Berencana dan bahkan aktif mengumpulkan para ulama NU untuk diajak diskusi tentang KB ditinjau dari perspektif Islam sehingga pada tanggal 25 September 1969 menghasilkan 8 Fatwa PB Syuriah NU berupa Pedoman Pokok tentang KB untuk jam’iyah NU”, jelasnya.?

Cara-cara Islami yang dimaksud adalah yang sesuai dengan delapan fatwa ulama Syuriyah PBNU. Pertama, KB harus diartikan sebagai pengaturan penjarakkan kehamilan untuk kesejahteraan dan bukan pencegahan untuk pembatasan kehamilan. Kedua, KB harus dijelaskan dalam kepentingan kesejahteraan Ibu dan Anak dan bukan karena takut miskin. Ketiga, KB tidak boleh dilakukan dengan pengguguran kandungan. Keempat, tidak boleh merusak dan menghilangkan bagian tubuh. Kelima, KB adalah masalah perseorangan dan sukarela. Keenam, KB harus mendapat persetujuan suami dan istri. Ketujuh, KB tidak boleh bertentangan dengan hukum agama Islam. Kedelapan, KB jangan disalahgunakan untuk kepentingan maksiat.

Motivator yang rata-rata tinggal di pedesaan dari 17 Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Brebes itu diberi bekal cara menggunakan media komunikasi tablet yang sudah dilengkapi dengan aplikasi tentang Keluarga Berencana. “Alhamdulillah, saya bisa mengoperasikan tablet yang biasa digunakan anak saya,” tuturnya.

Tablet yang menjadi hak milik para peserta pelatihan tersebut, juga dilengkapi aplikasi perencanaan keluarga yang diberi nama SKATA ? (berasal dari Seiya Sekata bersama pasangan) kini sudah dapat diunduh dari Google Play dan App Store. SKATA adalah aplikasi baru tentang perencanaan keluarga yang dapat diunduh secara gratis oleh pengguna Android atau IOS (iPhone). Selain itu SKATA juga dapat diakses di www.skata.info bagi mereka yang memiliki operating system berbeda, seperti misalnya Blackberry.

Dengan mengunduh SKATA atau melihat websitenya masyarakat dapat memperoleh informasi tentang perencanaan keluarga lewat artikel yang ditulis oleh para ahli. SKATA memberikan penjelasan mendetail tentang masing-masing metode kontrasepsi seperti IUD dan implan, metode kontrasepsi jangka panjang yang memberikan perlindungan 3-12 tahun yang dapat dihentikan pemakaiannya sewaktu-waktu atau berbagai jenis metode kontrasepsi yang cocok bagi ibu yang baru melahirkan. Melalui SKATA juga dapat diperoleh lokasi bidan terdekat untuk konsultasi. SKATA memberikan kuis-kuis untuk mengetes pengatahuan dan bahkan dapat digunakan menjadi menjadi agenda pribadi perencanaan keluarga seperti pengingat imunisasi, kalender menstruasi, kalender kontrasepsi, dan lain-lain.

Hal ini dilakukan agar tiap keluarga di Indonesia memiliki inspirasi untuk merencanakan keluarganya dan merencanakan kebahagiannya sehingga setiap keluarga di Indonesia adalah keluarga yang sejahtera, harmonis, dan berdaya saing tinggi untuk Indonesia yang lebih baik. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Tokoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 16 Desember 2017

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam

Sejarah Aceh tidak terlepas dari peran hebat para perempuan sehingga masyarakat Indonesia lekat dengan nama sejumlah pahlawan nasional perempuan lebih banyak dari Aceh. Jauh sebelum muncul pejuang-pejuang perempuan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, dan Cut Muetia, Aceh memiliki Sulthanah Shafiatuddin, pemimpin atau nakhoda perempuan pertama di Kerajaan Aceh Darussalam.

Kemunculannya sebagai pemimpin tidak lepas dari kontroversi di Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan pada 1496 itu, ketika sang suami, Sultan Iskandar Tsani mangkat. Saat itu sulit sekali mencari pengganti Sultan Iskandar Tsani karena dari keluarga terdekat tidak ada seorang laki-laki.

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)
Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam

Muncul pertimbangan untuk mengangkat sang istri, Ratu Shafiatuddin Syah sebagai Sulthanah di Kerajaan Aceh Darussalam yang dulu pernah dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), sang ayah Shafiatuddin Syah. Dia merupakan putri tertua Raja yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam di era 1636-1641 tersebut.

Sultan Iskandar Muda yang wafat pada 1636 tidak mempunyai putra mahkota dan digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani, menantunya. Iskandar Tsani adalah putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang (kini wilayah Malaysia) yang menikah dengan Shafiatuddin Syah setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang pada 1617.

Era Sultan Iskandar Tsani tidak lama, yaitu 1636-1641 yang juga merupakan tahun kematiannya. Situasi politik yang mendesak saat itu kemudian menempatkan Shafiatuddin sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam berikutnya dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Debat soal boleh tidaknya pemimpin perempuan dalam pemerintahan Islam ternyata sudah terjadi ketika Ratu Shafiatuddin diajukan untuk memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ada sejumlah kalangan yang tidak setuju atas naik tahtanya Ratu Safiatuddin. Terjadilah beberapa kali aksi pemberontakan juga upaya pengkhianatan untuk mendongkel kepemimpinan sang ratu.

Kondisi saat itu bertambah rumit bagi dirinya karena Sulthanah Shafiatuddin juga harus menghadapi ancaman eksternal seiring menguatnya pengaruh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) setelah berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal tahun 1641.

Berangkat dari penguatan adat istiadat

Sejumlah kalangan di Kerajaan Aceh Darussalam bukan tanpa pertimbangan matang dalam memilih Ratu Shafiatuddin. Dia dinilai pantas menduduki tahta kerajaan yang ditinggalkan suaminya karena dia memiliki visi cemerlang dalam menyebarkan Islam serta mengembangkan kebudayaan dan seni dalam masyarakat Islam di Aceh.

Potensi memimpinnya pun terbilang tak kalah dengan raja-raja sebelumnya yang notabene seorang laki-laki. Terbukti ketika tahun 1639 terjadi Perang Malaka, Sulthanah Shafiatuddin membentuk sebuah barisan perempuan untuk menguatkan benteng istana. Banyak kebijakan bernilai positif yang dilakukan oleh ratu yang mempunyai nama asli Putri Sri Alam ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia terbilang sukses membangkitkan kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang mengalami periode gemilang pada era kepemimpinan sang ayah, Sultan Iskandar Muda, dan sempat redup semasa dipimpin oleh sang suami, Sultan Iskandar Tsani.

Salah satu yang terkenal adalah tentang tradisi pemberian hadiah berupa tanah untuk pahlawan perang. Masa pemerintahan Sulthanah Shafiatuddin pun dinilai sangat bijak, di mana menyoal hukum serta adat istiadat dijalankan dengan baik. Dari visi infrastruktur adat istiadat inilah muncul pengembangan seni, budaya, dan ilmu pengetahuan di era kepemimpinanya.

Selain itu, Ratu Shafiatuddin berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga. Tak hanya itu, di masa kekuasaannya, Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan seperti dijelaskan sebelumnya.

Sulthanah Safiatuddin bertahta selama 34 tahun hingga wafat pada 1675. Sepeninggal sang ratu pertama itu, Kesultanan Aceh Darussalam masih dipimpin oleh para perempuan tangguh sampai 24 tahun setelahnya, yaitu berturut-turut Sulthanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678), Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), sampai masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699).

Perihal pengangkatan ketiga perempuan tersebut, uniknya hal itu merupakan gebrakan baru dalam kerajaan Islam. Dikarenakan Sulthanah Shafiatuddin tidak memiliki keturunan, sang ratu akhirnya mengangkat tiga orang perempuan tersebut untuk meneruskan tahtanya. Ketiga perempuan itu justru bukan berasal dari keturunan ningrat atau bangsawan Aceh, melainkan kalangan biasa. Setelah Shafiatuddin, Aceh pun dipimpin oleh ketiga sosok perempuan itu.

Kendati tidak semua ratu sanggup membawa Kesultanan Aceh Darussalam merasakan era emas seperti pada masa Sultan Iskandar Muda dan Sulthanah Shafiatuddin, Serambi Mekkah yang menerapkan syariat Islam pernah memiliki rekam sejarah gemilang di bawah kepemimpinan perempuan. Ini merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Bahkan, Aceh punya banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin perempuan yang tidak melulu bertahta dengan label ratu atau sulthanah. Para wanita hebat asli tanah rencong ini bahkan tampil sebagai panglima perang dan memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, yakni Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, hingga tentunya Cut Nyak Dien yang masyhur itu.

Seorang penulis 

Pada masa kepemimpinan Sulthanah Safiatuddin perkembangan sastra bisa dikatakan sangat pesat. Hal ini tidak lain karena sang ratu merupakan sosok yang cinta terhadap bacaan. Dia banyak mengarang sajak dan cerita-cerita pendek.

Wujud nyata yang telah dilakukan oleh Sultanah Safiatuddin untuk mencerdaskan rakyatnya ketika itu adalah mendirikan perpustakaan. Tak banyak pemimpin yang perhatian dengan hal-hal semacam ini, namun Sultanah Safiatuddin melakukannya dengan sangat baik.

Pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin, perpustakaan negara didirikan dan diperluas. Selain itu, sang ratu juga memberikan dukungan penuh kepada para sastrawan dan kaum intelektual untuk mengembangkan keilmuannya. 

Di masa-masa inilah lahir para cendekiawan macam Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf Singkel. Ketiga orang yang disebut terakhir itu merupakan para ulama yang berhasil meletakkan pondasi kuat di bidang ilmu keislaman melalui sejumlah karya-karya monumentalnya.

Hamzah Fansur banyak melahirkan syair dan prosa, di antaranya Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung pipit, Syair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir. Sedangkan prosa yaitu Asrar al-Arifin dan Sharab al-Asyikin.

Nuruddin Ar-Raniry mengarang Kitab Bustanus Salatin (Taman Raja-raja), dan Kitab Shiratal Mustaqim (jalan yang lurus). Sedangkan Abdurrouf Singkel menulis Mirat al-Thullab fî Tasyil Mawaiz al-Badîrifat al-Ahkâm al-Syariyyah li Malik al-Wahhab (karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sulthanah Shafiatuddin) dan Kitab Tarjuman al-Mustafid, merupakan naskah pertama Tafsir Al-Quran berbahasa Melayu.

Meski tidak banyak arsip yang mencatat sejarah tentang Sulthanah Shafiatuddin, tapi usahanya dalam memimpin kerajaan besar dalam sejarah Islam di Nusantara patut jadi teladan. Tercatat selama 58 tahun atau setengah abad lebih semenjak Sulthanah Shafiatuddin, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh para perempuan atau sulthanah. 

Saat ini, nama Sulthanah Shafiatuddin diabadikan menjadi nama sebuah taman budaya di Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Taman ini menjadi pusat seni dan kebudayaan dari 23 kebupaten/kota di Aceh yang mempunyai ciri khas masing-masing. Setiap lima tahun sekali, di taman seluas 9 hektar ini diadakan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang menampilkan beragam seni, budaya, kuliner, musik, dan lain-lain dari masing-masing kabupaten/kota. (Fathoni Ahmad)

*) Diolah dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ubudiyah, Pahlawan, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 05 Desember 2017

Tasawuf, Pintu Kemajuan Umat Islam

Surabaya, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Tasawuf sangat dibutuhkan menjadi semangat era global dan modernisme yang gersang dari nilai-nilai spiritualitas. Sejarah kejumudan dan kemunduran umat Islam bukan disebabkan doktrin dan ajaran tasawuf, melainkan justru akibat umat Islam meninggalkan nilai-nilai tasawuf dan terjebak dalam kubangan fitnah duniawi.

Tasawuf, Pintu Kemajuan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawuf, Pintu Kemajuan Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawuf, Pintu Kemajuan Umat Islam

Tasawuf yang dipraktikkan secara sebenarnya otomatis akan menjadi metode efektif dan impresif untuk menghadapi tantangan zaman. Bagi kaum sufi, apapun zamannya atau apapun bergejolaknya dunia akan dihadapi dengan jernih, objektif dan ketenangan (thuma’ninah). Dalam ungkapan Imam Al-Junaid, Ash-shufi ibnu waqtihi (seorang sufi adalah anak zamannya). ? Ash-shufi kal ma’i, la launa lahu, launuhu launu ‘inaih, (seorang sufi bagikan air tidak memiliki warna tertentu. Warnanya adalah warna tempatnya.)?

“Justru kaum sufi yang terbiasa dengan kehidupan nyata, walau hatinya telah melampaui kenyataan lahiriah, akan menempatkan dinamika kehidupan pada tempat yang proporsional. Maka, dengan demikian tasawuf merupakan “revolusi spiritual” (ats-tsaurah ar-ruhiyyah),” kata Kiai Said Aqil Siroj dalam pengukuhan guru besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/11).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kenyataan ini tentunya sangatlah tidak ganjil mengingat adanya proporsionalitas antara ilmu, amal dan kebersihan hati (tashfiyatu al-qalbi). Sebab, ilmu dan amal yang tidak disertai dengan kebersihan hati yang diproses melalui pelatihan sufistik bagi kaum sufi dipandang sia-sia belaka.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Seseorang yang telah tercerahkan melihat seluruh alam ini dengan hatinya. Dia mempersembahkan hatinya sebagai tempat suci bagi ibadah kepada Allah di tengah alam semesta. Dia melihat bukti-bukti kehadiran Allah, kapan saja dan di mana saja. Namun, bagi orang yang awam dalam masalah spiritual, tampak bahwa Allah lebih terasa hadir pada waktu dan tempat khusus dari pada di tempat dan waktu yang lain.?

Tujuan utama dari semua praktik kesufian adalah membangkitkan pengalaman kepada kebenaran yang tidak terbatas yang sesungguhnya secara natural telah terbentang dalam hati setiap manusia. Secercah cahaya yang memancar dari dalam tidak terhitung dan tidak terbatas dalam kombinasi mereka yang meliputi semua sifat dan kemudian hakikat adalah satu.?

“Sufi yang sejati tidak akan berhenti sebelum mantap dalam pengetahuan tentang hakikat itu, dan ketika hal itu terjadi, semua cahaya lain, semua manifestasi dan sifat yang agung meluber dalam pancaran sinar dan kebangkitan batin,” tandasnya.?

Puncak kesufian terlukiskan dalam ungkapan, “’Kita’ ini sebenarnya ‘tidak ada’. Tapi Kita ini di-ada-kan oleh yang ‘Ada’. Yang ‘Ada’ sebelum kata ‘ada’ itu ‘Ada’. Maka yang ‘Ada’ hanyalah yang ‘Ada’. Kita menggunakan kata ‘ada’ karena ada yang ‘Ada’. Dan kita menggunakan kata ‘tidak ada’ karena ada yang ‘Ada’ yaitu Allah”. ? Dalam pengungkapan kata ganti ‘aku’, ‘engkau’ dan ‘dia’ misalnya ‘aku Ahmad’, ‘engkau Husein’ dan ‘dia Hasan’, maka ketika tiga orang tersebut sudah tidak ada, kembalinya ‘aku’, ‘engkau’ dan ‘dia’ ? hanyalah pada ‘Aku yang tidak pernah mati’, yaitu la ilaha illa ana dan ‘Engkau yang selamanya ada ‘yaitu la ilaha illa anta serta ’Dia yang selamanya hidup’, yaitu la ilaha illa huwa. Jadi hakikatnya ‘Aku, Engkau dan Dia’ adalah Allah Swt.. Kita hanya mendapatkan ‘pinjaman’ sampai batas usia tertentu.?

Pada akhirnya menjadi semakin jelas bahwa sesungguhnya zaman modern ini justru lebih membutuhkan tasawuf daripada zaman orang-orang terdahulu. “Zaman modern ini mengundang banyak godaan dan tantangan yang bisa menjerumuskan manusia pada tingkatan yang rendah di berbagai aspek. Sebab, sejatinya manusia yang beradab adalah manusia yang hatinya berfungsi aktif mulai dari bashirah hingga fuad.” ?

Indonesia, kata Kiai Said, sedang dalam era kepemimpinan baru yang tengah bersemangat menggemakan ‘revolusi mental’ tentunya bisa menjadi harapan baru bagi Indonesia yang lebih beradab. “Setelah sekian lama bangsa kita merasakan pudarnya nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, solidaritas yang akarnya adalah kejatuhan mental, sehingga bangsa kita ini mudah dimasuki oleh berbagai pengaruh khususnya pengaruh asing seperti kapitalisme, liberalisme serta radikalisme dan terorisme. Maka dengan sangat jelas dan urgen, ‘revolusi mental’ membutuhkan ‘amunisi’ ? yang lebih mendalam dan mendasar dalam mendongkrak dan membangun mentalitas bangsa yang paripurna, yaitu melalui ‘revolusi spiritual’ yang berbasiskan pada tasawuf.”? ?

Para sufi telah merumuskan suatu pemahaman bathiniyah yang sangat substantif-holistik dengan mengejawantahkan nilai-nilai esoteris keagamaan dan kemanusiaan yang adiluhung. Mereka berangkat dari suatu pengalaman sufistik yang begitu mendasar dan mendalam. Pemikiran universalis dalam revolusi yang dirumuskan oleh para sufi ini merupakan estafeta pemikiran yang telah berlangsung lama dalam ranah dunia kesufian. Suatu pengungkapan yang secara otentik dan bersandar dari hasil penjelajahan intensif dalam samudera keilmuan dan pengamalan jiwa-batini.?

“Walhasil, kita perlu membangun bangsa ini melalui ‘revolusi spiritual’ berkultur sufisme.” (mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Olahraga, Santri, Pahlawan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 21 November 2017

Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan

Semarang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Para kiai dan nyai pengasuh pesantren yang tergabung dalam organisasi Musyawarah Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (MP31) mengusulkan batas usia perempuan diizinkan kawin digeser naik. Mereka merekomendasikan perubahan pasal di UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 dari batas usia diizinkan menikah 16 tahun menjadi 18 tahun.

Hal itu merupakan keputusan Workshop dan bahtsul masail yang digelar di Hotel Horison Semarang, Jumat-Ahad (22-24/4).

Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan

Dewan Pembina MP3I KH Ahmad Badawi Basyir menyatakan, hasil pembahasan yang mempertimbangkan aspek fiqih, kesehatan, maupun psikologis, usia nikah 16 tahun bagi perempuan itu rawan masalah, banyak madharat (kerugian) dan tidak sesuai dengan definisi anak yang telah ditetapkan secara internasional yaitu 18 tahun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Para kiai sepakat mengusulkan batas usia perempuan diizinkan nikah adalah 18 tahun," tuturnya.

Pengasuh Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus ini menjelaskan, sebelum memutuskan rekomendasi ini para peserta bahtsul masail telah mendengar paparan dari pemerintah seperti utusan pihak Kemendikbud, Kemenakertrans, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, dan Kemenkes. Mereka juga meminta pandangan dari pakar psikologi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kami telah mendengarkan paparan dari berbagai pihak, bahwa perkawinan usia anak di bawah 18 tahun, itu banyak risiko kesehatan dan kejiwaan," katanya dalam acara yang didukung Plan International dan Fitra Jateng tersebut.

Agama Islam disyariatkan untuk membawa kemaslahatan bagi umat. Negara dalam kewajibannya melayani warga juga harus berorientasi kebaikan warganya. Maka menikah harus diupayakan saat seseorang telah dewasa. Dewasa menurut yang berlaku di dunia saat ini adalah saat orang berusia 18 atau lebih.

"Definisi fiqih tentang batas nikah adalah telah bulugh (baligh), yakni berfungsinya organ reproduksi, itu perlu ditinjau ulang demi mengupayakan maslahat," paparnya.

Para peserta juga sepakat meminta pemerintah RI mengadakan kursus pranikah sebagaimana di Malaysia. Pemerintah harus memastikan setiap orang siap menikah baru boleh menikah. Ini perlu digarap oleh Kemenag dan bisa melibatkan kementerian lain. (Ichwan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Sunnah, Kiai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 15 November 2017

Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri

Rembang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan para santri untuk tetap menjaga identitas khas pesantren. Hal tersebut disampaikan saat iftitah peringatan Hari Santri yang digelar oleh PCNU Lasem dan Rembang Sabtu (21/10) malam.

Selain menjaga identitas, seorang santri harus tetap menjadi sosok yang sederhana. Yang paling penting, santri harus cinta pada tanah air, yaitu Indonesia dan menjaga keuntuhan bangsa.

Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Gus Mus untuk Para Santri

Gus Mus berpesan, santri harus senantiasa menjaga identitas dan jati diri santri. Selain itu, kemandirian, serta pola hidup sederhana juga harus tercermin, jika kelak menjadi orang yang sukses.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Saya ingatkan lagi, pegang identitas jati diri santri, mandiri sederhana, keindonesiaan," pesan Gus Mus.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, sikap kasih sayang merupakan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, serta berpegang teguh dengan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunah wal Jamaah, juga harus menjadi pedoman seorang santri dalam setiap langkahnya.

Amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dilakukan oleh santri harus berlandaskan kasih sayang sebagaimana yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

"Berpegang pada Islam yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah harus kalian pegangi jika kelak kalian menjadi orang yang sukses," tambah Gus Mus. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Anti Hoax, Lomba Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 13 November 2017

KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?



KH Said Agil Husin Al Munawar memimpin shalat atas jenazah KH Hasyim Muzadi di Masjid Al-Hikam, Depok, Jawa Barat pada Kamis sore (16/3). Para pelayat antusias mengikuti shalat tersebut sehingga masjid tidak muat.?

Oleh karena itu, sempat ada usulan dari para pelayat untuk melakukan shalat jenazah dua kali. Namun, karena waktu telah sore, keluarga memutuskan satu kali shalat jenazah. Para pelayat yang tidak mendapat tempat di masjid, melakukan shalat jenazah di halaman masjid. Mereka berjajar membentuk barisan rapi.

KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres

Jenazah kemudian dibawa ke lokasi makam yang dipilih Kiai Hasyim semasa hidup, yaitu dekat Pesantren Al-Qur’an di Kompleks Pesantren Al-Hikam. Prosesi pemakaman dilakukan secara militer yang dipimpin Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.?

Beberapa tokoh terlihat mengikuti prosesi tersebut di antaranya Ketua MPR RI H. Zulkifli Hasan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Menteri Sosial Hj. Khofifah Indar Parawans, Ketua BNP2TKI H. Nusron Wahid.?

Wartawan dan para fotografer mengabadikan suasana tersebut. Di antara fotografer ada yang naik ke atap bus mengabadikan prosesi itu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Prosesi pemakaman diliputi suasana agak mendung, tetapi tidak hujan. Sempat gerimis turun, sehingga udara cukup lembab, tapi kemudian berhenti lagi. Angin bertiup semilir mengipasi keringat para pelayat. (Abdullah Alawi)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Cerita, Halaqoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 27 Oktober 2017

Hadapi Persaingan ASEAN 2015, Ratusan Pengacara Syariah Gelar Munas

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) akan mengadakan Musyawarah Nasional pada Kamis, (27/11) di Jakarta. Asosiasi yang beranggotakan kebanyakan santri dan alumni Fakultas Syariah ini, akan merumuskan kemungkinan-kemungkinan dan tantangan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Munas kali ini mengambil tema “Prospek dan Tantangan Advokat Syariah dalam Pembangunan dan Penegakan Hukum Ekonomi Syariah di Era Pasar Bebas.

Hadapi Persaingan ASEAN 2015, Ratusan Pengacara Syariah Gelar Munas (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Persaingan ASEAN 2015, Ratusan Pengacara Syariah Gelar Munas (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Persaingan ASEAN 2015, Ratusan Pengacara Syariah Gelar Munas

"Kami akan menyelenggarakan Munas pada 27 November di Jakarta," kata Sekretaris Pelaksana Munas APSI Mustolih Siradj.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kami juga melibatkan teman-taman pengurus dan anggota yang tersebar di beberapa daerah. Ada 12 DPW yang sudah konfirmasi hadir, lainnya menyusul," kata Wakil Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) APSI Indra Kasiyanto Pasaribu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selain pengurus, Munas APSI ini akan menghadirkan lembaga yang selama ini menjadi stake holder ekonomi syariah di antaranya MUI, Dewan Syariah Nasional (DSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pimpinan perbankan syariah, Kementerian Agama, kalangan pasar modal, pimpinan lembaga peradilan serta tokoh-tokoh terkemuka.

Munas kali ini, kata Indra, sangat menentukan arah perjuangan dan haluan organisasi APSI. “Advokat-advokat berlatar belakangan syariah harus berperan aktif dalam menyambut era pasar bebas. Jangan sampai kalah bersaing dengan advokat asing,” ujar Indra.

Di sisi lain tren global ekonomi syariah juga harus menjadi perhatian khusus. Terlebih di Indonesia sudah banyak perundang-undangan yang mengadopsi sistem syariah ke dalam peraturan kenegaraan seperti UU Perbankan Syariah, UU Zakat, UU Haji, UU Jaminan Produk Halal, Perma Nomor 2 Tahun 2008 tentang Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah dan sebagainya.

"Ke depan ada pasar bebas ASEAN, selain itu diprediksi akan mulai terjadi ledakan sengketa ekonomi syariah. Maka kita perlu merapatkan barisan," tegas pengacara senior ini.

APSI merupakan salah satu organisasi advokat yang diakui oleh UU Nomor 18 tahun 2003. Dalam Munas Kamis mendatang, para pengurus dan hampir seluruh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) akan hadir dalam pertemuan penting ini.

APSI organisasi advokat yang paling muda di antara organisasi-organisasi seperti IKADIN, IPSI, HAPI, HKHPM, SPI, AAI yang turut membidani lahirnya PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) yang kini menjadi wadah tunggal advokat.

Asosiasi yang berdiri pada 8 Februari 2003 berasal dari sarjana berlatar belakang Fakultas Syariah. Saat ini APSI memiliki anggota sekitar 700 orang di seluruh Indonesia. "Sekarang minat alumni syariah untuk menekuni profesi advokat sangat tinggi," tukas Indra. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Budaya, Pahlawan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock