Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mahbub Djunaidi yang dikenal sebagai sang “Pendekar Pena” adalah sosok yang dengan apiknya mampu meracik sesendok teh kritik, sejumput teori, dan diaduk dengan dua ratus mili liter humor sampai rata.

“Sehingga masyarakat dengan susahnya untuk bosan dengan gagasan-gagasan Mahbub,” papar Dimas Suro Aji pada acara Diskusi dan Bedah Film Dokumenter, yang diselenggarakan LSO Jurnalistik PMII Komisariat Kentingan Surakarta, di Taman Cerdas Jebres, Selasa (10/10).

Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan

Ditambahkan pegiat sastra Solo itu, sosok Mahbub juga mampu menhadirkan kritik, akan tetapi dengan bahasa yang jenaka.

Sementara itu, pembicara lainnya Joko Priyono mengajak para kader PMII untuk ikut meneladani perjuangan Mahbub.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Perjalanan hidupnya penuh dengan pelajaran dan teladan untuk kemudian menjadi tugas kita sebagai kader PMII untui mengistiqamahkan nilai-nilai PMII yang telah dimulai oleh Mahbub Djunaidi," tutur Joko.

Selain kegiatan pemutaran film dokumenter Mahbub, selama hampir dua pekan (10-28/10), untuk memperingati Haul Mahbub Djunaidi ke-22 ini juga bakal dihelat sejumlah kegiatan.

“Ada lomba essai, resensi dan puisi. Kemudian pelatihan jurnalistik dan desain, dan puncaknya diskusi bertajuk “Jejak Mahbub Djunaidi di Kota Solo,” terang ketua panitia kegiatan, Elvin. (Ninda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pemurnian Aqidah, Hikmah, Hadits Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 22 Februari 2018

KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok

Depok, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sosok KH Hasyim Muzadi meninggalkan kesan mendalam bagi Dewi, Rumiyati, dan Khadijah. Ketiga perempuan yang tinggal di sekitar Pondok Pesantren Al Hikam Depok itu masing-masing membagikan kesan mereka kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Kamis (26/3).

KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok

Bagi Khadijah, yang paling mengesankan dari sosok KH Hasyim Muzadi adalah karena seringnya almarhum memberikan solusi atas persoalan jamaah dan warga melalui ceramah-ceramahnya. "Ceramahnya bikin hati adem," ungkap perempuan 56 tahun yang datang melayat bakda dzuhur hari ini.

Adapun menurut Rumyati, KH Hasyim Muzadi adalah sosok yang ramah kepada semua orang dan dekat dengan anak-anak. "Makanya anak saya juga ikut ngaji di sini (Al-Hikam). Setiap hari ngajinya di sini," tutur Rumyati.

Ada nasihat yang selalu diingat oleh Rumyati. Pesan itu adalah bahwa menuntut ilmu agama jangan berhenti walaupun usia sudah tua. "Kalau mengaji, walaupun sudah dewasa jangan dilupakan. Itu yang paling saya ingat," cerita Rumyati.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara Dewi, sosok almarhum dinilai sebagai orang yang baik dan penyantun. "Kiai, terutama kalau lebaran, sering membagikan sembako bagi warga sekitar yang memerlukan," kata perempuan yang sering ikut salat dan mengaji di Masjid Al Hikam.

Bukan hanya ketiga perempuan warga sekitar Al Hikam yang terkesan dengan almarhum. Banyak tokoh dan masyarakat yang juga amat kehilangan. Hingga berita ini ditulis para pelayat terus berdatangan ke Pondok Pesantren Al Hikam Depok. Sementara langit Depok juga terlihat mendung. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Nasional Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 19 Februari 2018

Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah

Dalam shalat kita tidak hanya dituntut sekadar memenuhi syarat dan rukunnya secara formal. Melalui shalat kita juga dituntut untuk memenuhi kewajiban shalat, aturan-aturan formal, dan kesempurnaan shalat sedapat mungkin. Memang tidak ada batasan sejauhmana seseorang mewujudkan shalat berikut esensinya mengingat perbedaan kemampuan masing-masing orang. Tetapi masing-masing kita dituntut untuk mengejar esensi shalat

Mengomentari perkataan Sayyidina Umar “Siapa yang menjaga kewajiban dan menjaga kesempurnaan shalat,” Ibnul Arabi mengatakan, “Aku melihat ribuan orang bahkan tak terhitung menjaga kewajiban shalat, tetapi orang yang menjaga kewajiban shalat dengan khusyuk dan kehadiran penuh hanya terhitung dengan lima jari.”

Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah

Yang harus dipahami terlebih dahulu adalah bahwa shalat adalah kesempatan bagi manusia untuk membersihkan diri dalam artian seluas-luasnya dan membuka pintu ghaib sehingga shalat benar-benar efektif untuk menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan munkar.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Artinya, “(Shalat itu) kesucian hati dari dosa karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, menghapus dosa, dan membuka pintu-pintu ghaib dengan penampakan kuasa-Nya seperti ditunjukkan oleh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, ‘Shalat tempat munajat dan tambang kebersihan.’ Shalat adalah ‘tempat’ terdekat seorang hamba dan Penciptanya; ‘tempat’ menghadap di hadapan-Nya tanpa perantara selain menyebut-Nya; dan pelaksanaan tugas-tugas kehambaan dalam menghadap dan melihatnya,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, Syirkah Al-Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 110).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Bagaimana shalat mencegah perbuatan keji dan munkar? Shalat membuka pintu ghaib. Dari sini orang yang shalat menyaksikan kuasa Allah SWT sehingga ia takut dan juga malu untuk melakuka perbuatan keji dan munkar.

Di samping itu, shalat merupakan kesempatan emas bagi manusia untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Ketika shalat seseorang memasuki dimensi di mana ia menyadari bahwa ia yang bukan apa-apa sedang menghadap Allah Yang Maha Kuasa. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Lomba Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 18 Februari 2018

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Oleh Rosidin

Beragam opini menyelimuti akar kata “santri”. Pertama, dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Kedua, dari bahasa India, shastri, yang berarti “ahli kitab suci agama”,karena shastri berasal dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci agama”. Ketiga, dari bahasa Sansekerta yang berarti “ilmuwan yang pandai menulis”. Keempat, dari bahasa Jawa, cantrik yang berarti “orang yang selalu mengikuti guru”. Kelima, perpaduan dari kata saint yang berarti “manusia baik” dan tra yang berarti “suka menolong”.

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Kelima opini tersebut tidak perlu dibenturkan, melainkan cukup dipadukan untuk merumuskan ciri khas santri berdasarkan telaah bahasa. Hemat penulis, santri adalah “orang muslim yang mempelajari kitab suci agama Islam (al-Qur’an beserta perluasannya dalam “kitab kuning”) kepada guru mengaji (kiai) melalui proses pembelajaran dan peneladanan (di masjid, madrasah diniyah maupun pesantren) agar menjadi manusia yang baik dan suka menolong”.

Dalam bahasa al-Qur’an, tujuan utama menjadi santri adalah tafaqquh fi al-din atau memahami agama Islam secara mendalam (Q.S. al-Taubah [9]: 122). Santri diharapkan mampumenguasai empat sifat agama Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agama wahyu (al-din al-wahyi); (2)agama keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agama kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agama kemajuan (al-din al-ishlahi).Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkantiga prinsip utama pesantren menurut KH Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut pesantren, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda denganalumni perguruan tinggi yang semakin tinggi gelar, semakin jauh dari rakyat. Semakin tinggi gelar alumni pesantren, justru semakin dekat dengan rakyat.

Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI dari segala bentuk penyimpangan agama, seperti komunisme yang mengusung atheisme (anti-Tuhan). 

Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” yang masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demimembangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis Indonesia (PKI), sekaligus sebagai tandinganbagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” yang disebut KH Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampuradukkan agama. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (atheisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) yang menodai SilaKetuhanan Yang Maha Esa. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.Santri merupakan generasi yang bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah orang yang membuat umat muslim selamat (aman) dari perkataan dan perbuatannya” (HR Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh dari kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: 125 yang meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). 

Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH Zainal Mustofa, Pengasuh Pesantren Cimerah Sukamanah, yang melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang yang mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal 18 Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi.

Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus,serta bangsa Indonesia secara umum, agar menuntut kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah yang dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai 76.566 lembaga dan menampung 6.000.062 santri.

Ketiga, Sila Persatuan Indonesia. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Sumatra, 29 September 1945; sedangkan pemerintah Indonesia tidak melakukan perlawanan yang nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul Ulama seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, yang mengajukan Resolusi Jihad yang intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu dampak nyata dari Resolusi Jihad adalah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal 22 Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015.

Keempat, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah diarena birokrasi,baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan Agama Islam atau Menteri Agama Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fiqih: Tasharruful Imam ala raiyyah manuth bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).

Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa yang mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri yang membuat santrisiap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran yang menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial yang membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal wa Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri yang diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp 1.8 Triliun pada tahun 2015.

Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agama, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban Indonesia yang unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi yang mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Pengurus LTN NU Kabupaten Malang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Jadwal Kajian, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 16 Februari 2018

Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta

Oleh Muhammad Ishom

Di kota Surakarta terdapat dua tempat ibadah beda agama yang letaknya bersebelahan persis. Kedua tempat tersebut adalah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah. Keduanya bahkan berbagi alamat sama persis. Sejak gereja dan masjid itu didirikan puluhan tahun lalu, keduanya selalu rukun, saling menjaga dan hormat-menghormati.

Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta

Gereja dan masjid tersebut kini sangat penting khususnya bagi warga Surakarta, sebagai salah satu monumen kerukunan antarumat beragama. Mantan Walikota Solo, yang kini Presiden RI, Joko Widodo, dulu sering menyebut keduanya sebagai salah satu kebanggaan Kota Solo. Beberapa pihak menyebutnya sebagai ikon kerukunan antarumat beragama yang layak untuk dipromosikan sebagai objek wisata religi.

GKJ Joyodiningratan dibangun pada masa penjajahan Belanda, yakni pada tahun 1939. Masjid Al-Hikmah dibangun setelah kemerdekaan pada tahun 1947. Umat kedua tempat ibadah ini tidak pernah mengalami konflik berarti sejak awal berdirinya. Setiap kali ada permasalahan, seperti Idul Fitri jatuh pada hari Minggu, kedua belah pihak dapat merundingkannya dengan baik.  

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Di antara hasil perundingan itu, misalnya, kebaktian di gereja diundur agak siang karena jamaah shalat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah yang berlangsung di pagi hari meluber ke lahan parkir depan gereja. Sebaliknya pada hari Natal, pihak Masjid tidak keberatan lahan di depan masjid dipakai anggota jemaat GKJ untuk parkir mobil. Pihak Masjid juga tidak keberatan memindahkan arah loud speaker ke arah yang dirasa nyaman oleh gereja.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kerukunan antara   GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah diturunkan dari generasi ke generasi. Tugu lilin setinggi kira-kira 1,5 meter yang berdiri tegak antara kedua tempat ini, menjadi pengingat dan pendorong bagi kedua belah untuk selalu mengupayakan kerukunan dan kerja sama yang baik. Contoh kerja sama, misalnya, jika ada surat untuk gereja atau jemaatnya yang oleh petugas pos disampaikan ke masjid, pengurus masjid akan meneruskannya ke gereja. Demikian juga sebaliknya.

Peristiwa seperti itu kadang-kadang terjadi karena keduanya memang memiliki alamat sama persis, yakni Jl Gatot Soebroto No 222. Keduanya hanya dipisahkan oleh tembok yang digunakan secara bersama. Sebelah kanan tembok merupakan ruang masjid yang digunakan untuk shalat sedang di sebelah kirinya digunakan untuk kantor gereja.



Milik Dunia


Keberadaan GKJ Joyodingratan dan Masjid Al-Hikmah yang unik ini menarik banyak pihak termasuk tokoh-tokoh dari manca negara seperti Syekh Ibrahim Mogra. Pada tahun 2008  ulama asal Leicester Kerajaan Inggris tersebut mengunjungi Masjid Al-Hikmah.  Ketua Dewan Ulama Kerajaan Inggris tersebut melaksanakan shalat Jumat di masjid ini dan kemudian  berdialog dengan sang imam dan para jamaah.

Dari masjid, Syekh Ibrahim mengunjungi gereja dan berdialog dengan pendeta dan para  jemaat GKJ Joyodiningratan. Seusai dialog, Syekh Ibrahim mengungkapkan kekagumannya atas keunikan kedua tempat ibadah ini. ”Monumen ini milik dunia,” ungkapnya. Di Inggris juga ada masjid yang bersebelahan dengan gereja tetapi antara keduanya masih dipisahkan oleh jalan. GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah benar-benar unik, imbuhnya.

Pagi ini, penulis menyempatkan diri shalat Idul Adha di Masjid Al-Hikmah untuk melihat dari dekat kerukunannya dengan GKJ Joyodingratan. Penulis sangat mengapresiasi pihak gereja tidak keberatan hewan-hewan kurban milik jamaah Masjid Al-Hikmah yang jumlahnya puluhan itu ditempatkan di lahan parkir umum persis di depan GKJ Joyodiningratan. Sementara lahan parkir dan jalan depan masjid penuh sesak dengan jamaah shalat Idul Adha.

Bisa dibayangkan betapa menyengatnya bau kotoran hewan-hewan itu yang terdiri dari  puluhan sapi dan kambing. Bahkan ada dua  kambing yang karena kurangnya lahan, maka diikat di depan pintu gerbang gereja. Ini semua menunjukkan betapa kuatnya kerukunan, kerja sama, saling menjaga dan memahami, serta hormat menghormati antara GKJ Joyodingratan dan Masjid Al-Hikmah yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh puluh tahun itu.

Toleransi tingkat tinggi seperti itu dimungkinkan sebab di masjid ini, doa qunut diberlakukan. Bacaan basmalah dikeraskan. Puji-pujian sebelum jamaah shalat diperdengarkan secara live. Tarhim menjelang sahur di bulan Ramadhan juga diperdengarkan secara live. Adzan Jumat dilakukan dua kali. Artinya mereka adalah minna dan bukan minhum. Jadi inilah rahasia kerukunan dan toleransi  itu di pihak masjid. Di pihak gereja, GKJ memang termasuk moderat.



Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Pesantren, Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 15 Februari 2018

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad

Peringatan Resolusi Jihad NU 22 Oktober 2015 digelar meriah oleh PBNU di Tugu Proklamasi, Jakarta. Momen tersebut juga menjadi acara penyambutan pucak perjalanan Kirab Hari Santri Nasional yang dilaksanakan sejak tanggal 18 dari Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur. Pagi itu Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo yang datang bersama pasukan khusus dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, memberikan orasi di hadapan para kiai, perwakilan ormas-ormas Islam, serta ribuan pelajar dan santri dari berbagai daerah. Berikut transkripsi lengkap pidato Gatot yang disampaikan menjelang peresmian Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada siang harinya di Masjid Istiqlal:

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Yang terhormat,

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad

Ketua-ketua umum ormas Islam

Tokoh tokoh lintas agama

Para pejabat pemerintah daerah dan para pejabat TNI Polri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Para Ulama-Santri segenap para alim ulama para Kiai, hadirin undangan yang bebahagia.

Tidak ada yang pantas kita ucapkan selaian puja dan puji syukur kehaditrat Allah Swt. Karena hanya ats kuasa dan ridhonya kita dapat hadir dalam acara oerungatan 70 Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama di Tugu Proklamasi yang memiliki nilai stratagis.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam kesempatan ini perlu saya jelaskan, mengapa begitu saya diundang saya hadir di sini. Saya datang tidak sendirian, saya datang dengan dengan pasukan-pasukan khusus. Ada Kopasus, ada Marinir, ada Paskas, ada Kostrad, ada Armed.

Ini untuk mengingatkan genrai uda, bahwa perjuangan bangsa sejak proklamasi kemerdekaan tidak dilakukan oleh TNI, tetapi yang merebut kemerdekaan adalah seluruh komponen bangsa, termasuk para ulama. Setelah merdeka baru TNI lahir. Jadi yang memerdekaan bangsa Indonesai bukan TNI, tetapi bapak-ibu kandung TNI, sehingga TNI adalah anak kandung raya.

Karena sejarah mencatat rangkaian peristiwa ini, bersentuhan langsung dengan kedaulatan Republik Indonesia, Terdapat 4 peristiwa penting yang saling memengaruhi dan saling menguatkan yaitu: peristiwa tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. 5 Oktober hari pembentukan TKR sekarang TNI. 22 Oktober sebagai hari dicetuskannya Resolusi Jihad NU. Dan 10 November pecahnya perang di Surabaya yang kita kenal sebagai hari pahlawan hanya dalam hitungan empat bulan.

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi terhadap semangat dan motivasi yang ditunjukkan para santri sebagai generasi muda bangsa yang terus memilihara dan meneguhkan komitmennya terhadap perjuangan para pahlawan serta kecintaan pada tanah air, salah satunya diwujudkan pada gerak jalan memperingati Resolusi Jihad yang menempuh jarak ratusan kilometer diawali dari tugu pahlwan di Surabaya dan sampai di tugu proklamasi di Jakarta.

Hadirin undangan, peserta gerak jalan yang berbahagia.

Setelah tujuh puluh tahun berlalu, hikmah dan pelajaran yang diperoleh dari peristiwa Resolusi Jihad antara lain: bahwa perjuangan melawan penjajah saat itu, terkait erat dengan Resolusi Jihad yang dkumandangkan oleh rais akbar NU KH. Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Bangsa penjajah tidak rela negeri ini merdeka sehingga berusaha untuk menguasia kembali tanah air kita. NICA membonceng sekutu untuk menguasai tanah air Indoesia, namun hal itu diketahui oleh para pejuang kemerdekaan dan ditindaklanjuti dengan merapatkan barisan untuk menolak kedatangan kolonialis.Untuk itu para santri berkumpul di seluruh wilayah, Jawa, Madura, seluruh Jawa mereka mengatur langkah strategi perjuanangan sebagai kewajiban mempertahankan tanah air dan bangsanya.

Peran KH Hasyim Asy’ari

Dan pada tanggal 17 September 1945, Presiden Sokarno, memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada KH. Hasyim Asyari, sehingga KH. Hasyim Asyari mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan jihad bahwa perjuangan membela tanah air adalah merupakan jihad fi sabilillah.

Dan selanjutnya menilai situasi di sekitar Surabaya Jawa Timur, atas pemikiran Mayor Jenderal TKR pada waktu itu, Mustopo, sebagai komandan sektor perlawaan Surabaya, bersama Sungkono, Bung Tomo dan tokoh-tokoh Jawa Timur menghadap KH. Hasyim Asyari untuk melakukan perang suci atau jihad dengan sasaran mengusir sekutu dan NICA yang dipimpin oleh Brigjend Mallaby untuk menunjukkan eksistensi adanya perlawanan dan kedaulatan Republik Indonesia. Mengapa demikian, karena pada saat memprokalamasikan kemerdekaan republik Indonesia 17 Agustus 1945, banyak bangsa-bangsa dunia dan PBB belum yakin apakah perjuangan kemerdekaan bangsa ini diberi hadiah oleh penajajah ataukah perlawanan rakyat. Untuk itu makna perjuangan 10 November mempunyai makna yang luar biasa, bahwa bangsa Indonesia bukan diberi tapi melawan mengusir penjajah. Maka lahirlah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yaitu berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ain yang dikerjakan oleh setiap orang Islam laki-laki, perempuan, anak-anak bersenjata atau tidak.Bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tenpat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi kewajiban itu menjadi fardhu kifayah yang cukup kalau dikerjakan sebagaian saja untuk membentu perjuangan di wilayahnya.

Tanpa Resolusi Jihad, maka tidak ada perlawanan heroik. Jika tidak ada perlawanan heroik maka tidak ada hari pahlawan 10 November. Dan bisa mungkin mustahil bangsa Indonesia ada seperti saat ini.

Saya ingin pula menceritakan bahwa sebenarnya, perlawanan secara heroik bukan dilaksanakan tanggal 10, tetapi lebih awal. Jada pada saat itu KH. Hasyim Asyari menyampaikan,”Kita tunda, kita menunnggu singa Jawa Barat, yaitu Kiai Abbas bin Abdul Jamil”. Beliau adalah cicit dari MBah Muqoyyim, pendiri pesantren Buntet Cirebon.

Dan KH. Hasyim Asyari memerintahkan setelah Kiai Abbas bin Abdul Jamil datang, memerintahkan bahwa komando tertinggi Laskar Hizbullah diserahkan untuk memimpin langsung penyerangan sekutu di Surabaya pada tanggal 10 November 1945.

Pengaruh yang kuat membuat keputusan KH. Hasyim Asyari tersebut mengundurkan waktu sangat tepat. Sehingga terjadilah pertempuran yang sangat heroik yang kita kenal hari ini menjadi hari pahlawan. Hari ini mempunyai makna yang bisa kita petik bahwa peristiwa tersebut, bahwa perjuangan dan kepentingan mempertahankan kedaulatan negara berdimensi lintas etnis dan lintas wilayah. Siapapun dan di manapun mempunyai kewajiban yang sama membela bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tiga Jimat Jendral Sudirman

Dalam kesempatan ini pula saya ingin mengingatkan, dan menggarisbawahi bahwa perjuangan kemerdekaan Resolusi Jihad, hari pahlawan, dan TNI memiliki hubungan historis yang erat dan menentukan. Kita tahu bahwa panglima TNI yang abadi, yang pertama, yaitu Jendral Sudirman, adalah seorang guru agama, seorang santri. Saya sedikit menceritakan bagaimana perjuangan Jenderal Sudirman. Bahwa pada saat Jendral Sudirman belasan orang melakukan gerilya, ada satu orang penghianat. Maka pada saat Jendral Sudirman di rumah penduduk, karena penghianat ini melaporkan kepada Belanda, dikepung.

Tim pengamanan paling depan melaporkan, “Pak Dhe kita sudah dikepung.”

“Tenang, semuanya ganti pakian, dan berdzikir bersama-sama saya.” (Mereka) melakukan tahlil Lailahaillah, Lailahaillah, Lailahaillah.

Belanda masuk, ditunjukkan anak buahnya Pak Dirman (yang pengkhianat itu), “Ini yang namanya Sudirman, yang Tuan cari-cari selama ini.”

Dilihat-lihat (oleh pihak Belanda),“Saya tidak percaya ini Sudirman.”

“Pak Saya anak buahnya, saya bersama-sama bergerilya.”

Dilihat-lihat lagi, tapi tetap tidak percaya.

Belanda itu mencabut pistol. “Kamu pembohong!” Dan penghianat itu ditembak di depan Pak Dirman.

Makna ini mengingatkan, jangan sekali-kali kita menjadi penghianat bangsa. Baru di dunia saja sudah dihukum oleh Allah apalagi di akhirat nanti.

Kemudian, peristiwa demi peristiwa Pak Dirman dikawal oleh Pak Tjokropranolo, dan Pak Suprajo Rustam. Beliau berdua Pak Tjokropranolo dan Pak Rustam, karena saking penasarannya bertanya. Pak Dirman kadang-kadang dipanggl Pak Dhe kadang-kadang dipanggil Pak Yai. “Pak Yai, saya pingin tahu, jimatnya Pak Yai itu apa? Kita dikepung, Pak Yai tenang saja. Malah penghianat yang ditembak. Kita ditembaki, Pak Yai tenang-tenang saja.”

Beliu menjawab, “Kamu ingin tahu? Saya punya tiga jimat. Jimat yang pertama, saya tidak pernah lepas dari bersuci. Jadi kalau batal wudhu kamu kan bawa kendi saya, saya selalu berwudlu. Itu jimat yang pertama. Jimat yang kedua saya tidak pernah shalat tidak tepat waktu. Selalu bersih, waktunya shalat saya pasti salat, kamu tahu kan? Dan yang ketiga, jimat saya yang kegita adalah semua yang saya lakukan dengan tulus dan ikhlas untuk rakyat dan bangsa Indonesia.”

Wasslamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

?

Ditranskripsi oleh Fariz Alniezar

?

Video pidato lengkap Jendral Gatot Nurmatyo bisa dilihat di situs Youtube dengan link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=I24ia_KQ23A

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama RMI NU, Santri, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni

Jepara, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi menyebut ada tiga tingkatan santri. Tingkatan pertama adalah Mubtadi. Ialah santri yang sudah bisa membaca kitab tetapi belum bisa menguasainya.

Halitu dikemukakannya dalam Haflah Akhirussanah Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Rabu (3/6) siang.

Tingkatan berikutnya Mutawasit yakni santri yang bisa membaca kitab kuning serta mampu mengulasnya.

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni

Sedangkan tingkatan terakhir Muntahi yaitu santri yang bisa membaca, mengulas dan bisa menunjukkan dalil qur’an dan hadits tentang yang dibacanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kiai Sya’roni menjelaskan pesantren yang diasuh KH Makmun Abdullah Hadziq dinamakan Roudlotul Mubtadiin sudah tepat. Karena sesuai penjabarannya bisa membaca namun belum bisa menguasainya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Harapannya kedepan santri tingkatannya bisa meningkat menjadi Muntahi. Kiai kharismatik ini menambahkan menjadi santri harus percaya diri. Sebab perintah mondok sudah dicantumkan dalam Surat Baraah.

Perintah mondok disejajarkan dengan perintah perang Sabil. Baik mana? Kiai Sya’roni menjelaskan sama-sama baiknya tetapi ia lebih cocok untuk memilih mondok. Karena ilmu yang telah diperoleh di bangku pesantren bisa ditular-tularkan kepada yang lain.

Ia menambahkan orang yang mati dalam medan pertempuran dan di pesantren sama-sama sahidnya. Mati di medan perang sahid dunia akhirat. Sedangkan yang wafat di pesantren sahid akhirat.

“Semoga ilmu yang anda peroleh di Balekambang bermanfaat di dunia dan akhirat,” doanya. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tokoh, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock