Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Senandung Lirih Sebuah Doa

Oleh: M Arif Rahman Hakim

Kiai Karim terdiam setelah mendengar cerita orang-orang yang datang ke rumahnya malam itu. Sebagai orang yang dituakan, dia selalu menjadi rujukan untuk dimintai pendapat jika ada suatu persoalan di desanya. Sebenarnya, ulama yang bernama lengkap Abdullah Karim ini, belumlah terlalu tua. Hanya saja, posisinya sebagai kiai menjadikan orang-orang menaruh hormat kepadanya.

“Bagaimana, Kiai, pendapatnya?” tanya seorang tamunya menyadarkan kiai muda itu dari lamunannya. “Masalah ini harus segera diambil keputusan karena waktu pelaksanaan haul  massal tinggal beberapa hari lagi, Kiai” kata seseorang yang lain.

Senandung Lirih Sebuah Doa (Sumber Gambar : Nu Online)
Senandung Lirih Sebuah Doa (Sumber Gambar : Nu Online)

Senandung Lirih Sebuah Doa

“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa memutuskan sesuatu, apalagi menyangkut masalah pelik seperti ini, secara tergesa-gesa,” jawab Kiai Karim dengan tenang. “Beri aku waktu barang tiga hari untuk memutuskan masalah tersebut” lanjut Kiai Karim.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Aku minta masalah ini jangan sampai mengganggu persiapan acara haul massal. Ingat, acara ini sudah menjadi tradisi desa kita ini. Aku tidak ingin hanya karena persoalan ini terjadi perpecahan di antara warga desa,” tegas Kiai Karim saat mengantarkan para tamunya di depan pintu rumahnya.***Desa Kemrajen, tempat Kiai Karim mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya selama sepuluh tahun mondok  di berbagai pesantren, merupakan sebuah desa kecil yang tenang. Hampir tidak pernah terjadi konflik di desa itu bahkan saat pemilihan kepala desa sekalipun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Setiap tahun tepatnya sehari sebelum bulan Ramadhan, warga Desa Kemrajen selalu melaksanakan tradisi turun-temurun sejak para pendiri desa membangun desa tersebut, yaitu haul massal. Tradisi mengirimkan doa untuk seluruh warga desa yang telah meninggal dunia yang dilaksanakan di kompleks pemakaman desa.

Setiap warga yang memiliki sanak-saudara yang telah meninggal dunia akan mendaftarkan nama sanak-saudaranya yang akan dikirimi doa kepada panitia yang dibentuk oleh pemerintah desa. Biasanya untuk setiap arwah yang akan dikirimi doa, warga dimintai sedekah seribu rupiah. Uang hasil sedekah itu akan digunakan untuk kegiatan keagamaan desa.

Tahun kemarin terkumpul uang lima juta rupiah. Itu pun setelah dipotong untuk keperluan pelaksanaan acara tersebut. Sebab, satu kepala keluarga bisa mengirimkan doa untuk sepuluh anggota keluarganya yang telah meninggal bahkan lebih. Padahal di Desa Kemrajen ada sekitar dua ratusan kepala keluarga.

Kiai Karim selalu menjadi pemimpin acara tersebut sehingga secara tidak langsung dia ikut bertanggung jawab atas kesuksesan acara tersebut. Oleh karena itu, begitu mendengar kabar dari panitia bahwa Parman ingin mendaftarkan kedua orangtuanya untuk didoakan pada acara haul massal tahun ini, hati kiai yang telah ditinggal mati bapaknya ketika berusia lima tahun dihadapkan pada sebuah dilema.

***

Parman adalah anak tunggal dari Kardiman dan Surati. Semua warga desa mengenal siapa Kardiman dan Surati? Oleh sebab itulah, hampir sebagian besar warga desa menolak keinginan Parman untuk mengirimkan doa kepada kedua orangtuanya itu saat acara haul massal.

Kardiman dan Surati adalah suami-istri yang bergelut dengan dunia seni semasa hidupnya. Kardiman dikenal sebagai pemain ketoprak yang wasis  memerankan lakon apa saja. Sedangkan istrinya kondang dengan suara merdunya ketika melantunkan tembang-tembang mocopat  mengiringi pementasan ketoprak Kardiman.

Suatu malam tidak lama setelah terjadinya ‘geger Lubang Buaya’ di Jakarta, Kardiman dan Surati ditangkap dan ‘dimassa’ oleh sekelompok orang berbadan tegap dibantu oleh beberapa pemuda desa di balai desa. 

Menurut kabar, grup ketoprak Kardiman dan Surati sering mementaskan lakon yang menghasut masyarakat untuk merampas tanah, tidak percaya kepada Tuhan, dan ‘berontak’ kepada pemerintah.

Parman yang waktu itu belum genap berusia lima tahun kemudian dirawat oleh seorang pamannya yang tinggal di kota lain. Sejak saat itu, dia belum pernah menengok desa tempat kelahirannya itu meskipun dalam hati kecilnya kerinduan akan kenangan masa kecilnya selalu mengundangnya untuk kembali ke desa tersebut.

Menjelang Ramadhan tahun ini, Parman tiba-tiba muncul di balai desa untuk mendaftarkan nama kedua orangtuanya untuk didoakan pada acara haul massal. Kedatangannya menimbulkan kegemparan di desa yang selama ini tenteram.

***

“Man, aku memahami keinginanmu untuk mendoakan kedua orangtuamu” ucap Kiai Karim yang sengaja menemui Parman di rumah salah seorang kerabatnya di desa sebelah. Di sanalah Parman menginap selama menunggu acara haul massal digelar di desanya. “Itu sebuah keinginan yang mulia bahkan sangat dianjurkan oleh agama untuk mendoakan orangtua kita yang sudah meninggal,” lanjut Kiai Karim.

Meskipun tidak pernah bertemu Kiai Karim sejak peristiwa yang menghilangkan kedua orangtuanya malam itu, Parman langsung bisa menangkap pancaran sinar kewibawaan dari wajah Kiai Karim sehingga dia langsung menaruh hormat kepadanya.

“Terima kasih jika Pak Kiai memahami niat baik saya tersebut,” jawab Parman. “Namun saya yakin Pak Kiai juga tahu bahwa niat baik saya itu telah disalahartikan oleh masyarakat desa kita,” lanjutnya. “Mereka menganggap saya ingin mengungkit-ungkit kembali cerita gelap masa lalu desa kita”.

“Benar, Man. Aku bisa menangkap kekhawatiran dan kegemparan warga sejak mengetahui bahwa kau ingin mengirimkan doa untuk orangtuamu pada acara haul massal di desa kita” sahut Kiai Karim. “Tapi aku juga berharap kamu mau memahami kekhawatiran masyarakat desa karena bagaimanapun apa yang menimpa kedua orang tuamu itu memang adalah bagian terkelam dalam sejarah desa kita yang sudah sekian lama tidak ada yang berani mengusiknya lagi.”

Parman menghela napas panjang sambil menatap wajah teduh Kiai Karim. Ada kebimbangan terpancar dari kedua matanya. Dan, Parman yakin kebimbangan itu bermuara pada masalah dirinya.

“Baiklah, Kiai. Sekarang saya serahkan sepenuhnya keputusan apakah niat baik itu bisa terwujud atau tidak kepada Kiai,” kata Parman akhirnya. “Saya yakin Kiai bisa menentukan jalan terbaik untuk semuanya.”

“Semoga Allah memberikan petunjuk-Nya kepadaku untuk memutuskan masalah ini. Tapi aku sendiri tidak yakin apakah keputusan itu bisa memuaskan semua pihak. Kita lihat saja nanti,” ucap Kiai Karim saat bersalaman dengan Parman untuk berpamitan. Kabut kebimbangan terlihat semakin tebal di mata Kiai Karim ketika bersitatap dengan Parman.  

***

Ketika melangkah keluar dari masjid seusai mengimami shalat Isya, dua malam sebelum haul massal diselenggarakan, Kiai Karim didekati dua orang panitia haul massal yang kelihatannya sengaja menunggui Kiai Karim selesai sembahyang.

“Assalaamu ‘alaikum, Kiai.”

“Wa’alaikum salam.”

“Bagaimana Kiai sudah ada keputusan soal si Parman itu?” tanya salah seorang panitia yang bertubuh lebih besar dan tua.

“Oh soal itu. Rencananya setelah ini aku memang mau mampir ke rumah Pak Lurah untuk membicarakan hal itu,” jawab Kiai Karim.

“Kalau begitu, mari kita sama-sama ke rumah Pak Lurah saja sekarang, Kiai. Kebetulan kami juga akan melaporkan persiapan acara haul missal,” kata panitia yang lebih muda.

Kedua orang itu mengiringi langkah Kiai Karim menuju rumah Pak Lurah yang berada di depan balai desa, tidak jauh dari masjid. Mereka berdua tidak mengetahui bahwa dalam benak Kiai Karim sejatinya belum menemukan keputusan untuk masalah itu.

Belum jenak Kiai Karim duduk, Pak Lurah langsung menanyakan keputusan tentang masalah Parman kepada Kiai Karim. Kiai yang merasa baru kali ini dihadapkan pada persoalan yang membuatnya serba-dilematis itu berusaha mengurangi kebimbangan hatinya dengan menyeruput kopi panas yang disuguhkan di depannya.

Kecamuk argumentasi berperang dalam benaknya. Sebagai orang yang telah menimba ilmu keagamaan dari beberapa kiai besar di pesantren yang didiaminya, Kiai Karim ingat betul sebuah hadits  Nabi yang menyatakan bahwa salah satu amal manusia yang tidak akan terputus pahalanya meskipun telah meninggal dunia adalah doa yang dikirimkan oleh anak keturunannya yang masih hidup.

Saat ini, ada seorang anak manusia yang bernama Parman ingin menunjukkan rasa baktinya kepada orang tua yang meskipun singkat pernah mencurahkan kasih sayang mereka kepadanya. “Apakah hal itu salah?” tanyanya dalam batin.

Namun di sisi lain, Kiai Karim paham benar bahwa peristiwa 42 tahun silam itu merupakan kisah paling mengenaskan dalam sejarah panjang Desa Kemrajen. Sebuah kisah yang ditulis dengan darah tetangga mereka sendiri. Sebuah kisah yang selama puluhan tahun telah tersimpan rapat dalam jeruji ingatan warga Desa Kemrajen.

Bagi Kiai Karim yang lahir setelah peristiwa itu, penyebabnya tidaklah terlalu jelas. Ada yang mengatakan bahwa orang tua Parman dianggap terlibat dalam peristiwa penculikan para jenderal di Jakarta. Ada pula yang mengatakan bahwa sebenarnya mereka dibunuh hanya karena fitnah dan dendam seseorang yang tidak senang kepada Kardiman yang berhasil menyunting Surati yang dikenal sebagai kembang Desa Kemrajen saat itu.

Deheman Pak Lurah membuyarkan renungan Kiai Karim. “Jadi bagaimana Kiai?” tanya Pak Lurah lagi. “Kami menunggu fatwa Kiai.”

“Baiklah kalau begitu. Tapi aku tidak akan mengatakan keputusanku kepada kalian malam ini. Pada saat haul massal kalian akan mengetahui keputusanku.”“Kami percaya keputusan Kiai tidak akan bertentangan dengan keinginan sebagian besar warga desa kita,” kata Pak Lurah menutup perbincangan pada malam yang semakin larut dan bertambah dingin itu.***Hari yang ditunggu pun tiba. Semua warga berkumpul di pemakaman desa. Bahkan warga yang merantau di luar kota pun menyempatkan diri untuk pulang kampung mengikuti haul massal. 

Sehari sebelumnya, para pemuda bekerja bakti membersihkan pemakaman sehingga pada hari ini komplek makam yang sebelumnya terlihat tidak terurus menjadi lebih bersih. Tenda besar terpasang di dekat cungkup makam para pendiri desa. Di sinilah pusat acara haul massal dilangsungkan.

Parade pidato para pejabat mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa menjadi acara awal sebelum acara inti dimulai. Kiai Karim sengaja tidak duduk di deretan depan bersama para pejabat karena ingin mengetahui apakah Parman datang pada pagi hari itu. Dilihatnya seluruh penjuru makam itu, namun tak tampak Parman di antara ratusan warga yang hadir.

Separuh bagian benaknya bersyukur Parman tidak datang pada acara tersebut karena kehadirannya pasti akan mengundang emosi dan kemarahan warga yang lain. Namun separuh bagian hatinya yang lain menangis karena pada hari ini seorang anak manusia tidak bisa mewujudkan niat sucinya mengirimkan doa untuk kedua orang tuanya bersama warga yang lain hanya karena prasangka masa lalu dan stigma yang dibangun untuk melanggengkan sebuah kuasa.

“Pak Kiai, acara inti akan segera dimulai,” tegur seorang pemuda yang berdiri di dekatnya.

Acara inti haul massal adalah pembacaan tahlil  bersama dan diakhiri dengan doa untuk para arwah yang dipimpin Kiai Karim. Sebelum doa dibacakan, biasanya secara bergantian panitia akan membacakan nama-nama orang yang pada hari itu akan dikirimi doa oleh keluarganya.

Di antara ratusan nama dalam daftar panjang itu, tidak tertulis nama Kardiman dan Surati!

***

Menjelang tengah malam saat semua warga desa kelelahan setelah seharian mengikuti acara haul massal, terlihat dua sosok berjalan perlahan mendekati komplek pemakaman desa.

Dua orang itu berjalan menuju ke dua buah makam yang terletak di pojok areal pemakaman itu, terpisah dengan makam-makam yang lain. Kedua makam itu terlihat sangat tidak terurus. Tumbuhan liar menutupi kedua makam tersebut. Hanya dua patok kayu keropos yang masih tersisa sebagai penanda.

“Man, di sinilah bapak dan ibumu dimakamkan. Mari kita doakan bersama!”

“Baik, Kiai!”

M. ARIF RAHMAN HAKIM, mantan Ketua PC. IPNU Kabupaten Batang, Jawa Tengah

 

Haul (Arab) : peringatan hari kematian seseorang. Biasanya diadakan untuk memperingati hari kematian seorang ulama/kiai besar. Tetapi di beberapa daerah di Jawa, tradisi haul massal dilaksanakan oleh warga masyarakat biasa. Waktu pelaksanaannya bervariasi tetapi sebagian dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan.

Mondok (Jawa) : tinggal untuk mempelajari ilmu agama Islam di sebuah pesantren.  

Wasis (Jawa) : pantas ; cocok ; pas 

Mocopat (Jawa) : sejenis lagu-lagu daerah khas Jawa Tengah dan Yogyakarta.  

Hadits (Arab) : semua perkataan, perbuatan, dan harapan Nabi Muhammad SAW. Hadits menjadi salah satu sumber utama hukum Islam di samping Al Quran, Ijma’ dan Qiyas.   

Tahlil (Arab) : pembacaan surat-surat Al Quran untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 13 Februari 2018

Sejumlah MA dan SMA se-Jatim Ikuti Olimpiade Matematika di Unipdu

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Himpunan Mahasiswa Matematika atau Himatika Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang kembali menyelenggarakan kompetisi matematika tingkat provinsi. Kegiatan kali ini untuk tingkat MA dan SMA, dari sebelumnya yakni MTs dan SMP. 

Pada sambutan pembukaan, Prof Dr KH Ahmad Zahro menyampaikan bahwa Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) terbilang sangat kreatif. “Walaupun kecil, tapi bisa membuktikan dengan kegiatan yang sangat bermutu, salah satunya adalah Program Kreatifitas Mahasiswa atau PKM,” kata Rektor Unipdu tersebut, Ahad (28/1).

Sejumlah MA dan SMA se-Jatim Ikuti Olimpiade Matematika di Unipdu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah MA dan SMA se-Jatim Ikuti Olimpiade Matematika di Unipdu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah MA dan SMA se-Jatim Ikuti Olimpiade Matematika di Unipdu

Selanjutnya Profesor Zahro, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Fakultas MIPA selalu mendapatkan hibah penelitian PKM yang diselenggarakan Ristek Dikti. “Ke depan, Fakultas Matematika Unipdu diharap tambah berkembang dan menjadi pioner di lingkungan kampus bahkan dalam kancah nasional,” kata guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Dyah Novita Larasati selaku ketua panitia menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan Himatika Unipdu tidak semata menjadi kewajiban memajukan organisasi internal kampus. “Tetapi juga sebagai tanggung jawab mahasiswa dalam menjunjung tinggi almamater yaitu mengembangkan Unipdu menjadi kampus go to internasional,” tandasnya.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut diikuti 60 peserta dari 30 sekolah di berbagai kota se-Jatim seperti Sidoarjo, Probolinggo, Nganjuk, Mojokerto, Malang, Jombang, hingga kota-kota di Madura. Selama olimpiade berlangsung, juga diisi lomba swafoto antar sekolah. (Ibnu Nawawi

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah, Khutbah, Ahlussunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 01 Februari 2018

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Syahdan, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, beberapa sisa pasukannya menyebar ke berbagai penjuru. Diantaranya ada yang mengungsi ke wilayah Holing (Bahasa Cina), dalam bahasa jawa disebut Keling-Kalong. Ratusan pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Ageng Gombol.

“Mbah Gombol, nama aslinya KH Hambali,” terang Riza Baihaqi, salah satu warga setempat, Sabtu lalu (6/7).

Di papan besar yang dipasang di dekat makam, tertulis bahwa Mbah Gombol berasal dari Bagelan Purworejo. Dia adalah penasehat Pangeran Diponegoro dan ahli strategi perang gerilya. Bersama ratusan pasukannya ia berjuang melawan Belanda.

Ki Ageng Gombol yang dikejar oleh pasukan Kompeni Belanda, akhirnya sampai di wilayah Holing. Di tempat itu, mereka kemudian membuka sebuah padepokan. Daerah yang sebagian besar masih berupa rawa-rawa seluas + 2 hektar  itu kemudian dikeringkan.

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Selang beberapa bulan kemudian, tanah yang sudah kering dapat digunakan untuk membangun rumah dan berladang. Kemudian oleh Ki Ageng Gombol, tempat yang semula bernama Penatus itu diganti dengan nama Pekajangan, dinamakan seperti itu karena di daerah tersebut banyak ditumbuhi Pohon Kajang. Daerah ini sampai sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Pekajangan, Kedungwuni, Kab. Pekalongan.

Padepokan itu kemudian digunakan untuk tempat ibadah lima waktu dan ilmu kaweruh (santapan rohani) yang dipimpin oleh beberapa orang guru ngaji. Diantaranya ada yang dikenal dengan nama Raden Sitojoyo (Sutojoyo), Raden Gondang Winangun dan juga Raden Suryo Mentaram. Begitu pula dengan kesenian wayang kulit yang juga di uri-uri, juga ilmu silat dan ilmu kanuragan.

Tahun 1840 Masehi bulan Dzulhijah, Ki Ageng Gombol wafat. Beliau dimakamkan di dekat padepokan. Makamnya sempat terlupakan, karena seiring bergantinya generasi. Namun, setahun silam makam tersebut ditemukan kembali oleh tim dari Pesantren Nurul Huda Sragen. Makamnya kemudian dipindahkan di dekat makam lama, bersama dua pengikutnya, yakni Kiai Ageng Basyari (Mbah Sor Pring) dan Raden Mas Suryomentaram.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Setiap malam Jum’at Kliwon, biasanya di makam diadakan pengajian dan banyak peziarah datang” ungkap Baihaqi, yang mengaku masih termasuk keturunan Mbah Gombol itu. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Pahlawan, Kajian Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 31 Januari 2018

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Selain menyelenggarakan program mudik gratis setiap tahun, Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) NU juga mendirikan posko mudik berbasis masjid. Jumlah posko mudik yang didirikan NU ada 27 titik dari Merak di Banten hingga Ketapang di Banywangi.

Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen menjelaskan bahwa NU berkomitmen melayani warga NU yang hendak pulang kampung saat momen Lebaran tiba. Tindak lanjut dari program mudik bareng, NU juga telah menyiapkan posko mudik berbasis masjid.

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya

“Melalui masjid, NU menyapa umat. Masjid sangat strategis untuk melayani para pemudik. Selain untuk beribadah, juga bisa diberdayakan untuk kebutuhan istirahat dan mandi,” ujar Ibnu, Jumat (17/6) di Jakarta.

Fungsi tersebut menurutnya, merupakan keistimewaan tersendiri yang tidak didapatkan di posko mudik biasa. Adapun petugas yang nanti melayani di posko yaitu para kader NU yang selama ini aktif menjadi muharrik (penggerak) masjid.

Dalam mudik gratis bareng NU di tahun 2016, Ibnu menerangkan bahwa pemeberangkatan mudik serentak akan dilaksanakan pada 2 Juli 2016 di Gedung PBNU. Sebelumnya, pendaftaran mudik dilaksanakan pada 18 Juni 2016, kemudian penukaran tiket akan dilaksanakan pada 25 Juni 2016 mendatang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Setiap tahun, warga NU cukup antusias dengan program mudik bareng yang dilaksanakan NU ini. Mereka juga kerap antri tiket dari pagi hingga malam hari hanya demi bisa ikut mudik bareng NU yang selama ini melayani dengan baik melalui kendaraan bus yang sangat memadai. Selain itu, NU juga menyediakan menu berbuka puasa untuk para peserta mudik agar tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah, Aswaja, Anti Hoax Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 28 Januari 2018

HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir

Surabaya, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Perhelatan Konferensi Wlayah Nahdlatul Ulama yang segera berlangsung mendapatkan apresiasi dari sejumlah kalangan, termasuk HIPSI. Bahkan, sejumlah tali asih disiapkan bagi mereka yang tergerak menjadi anggota baru.

HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Buka Pendaftaran dan Berbagi Souvenir

Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI), Mochammad Ghozali kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama (30/5). ?

“HIPSI terpanggil untuk turut meramaikan even akbar NU Jatim ini terutama untuk mengingatkan kembali semangat Nahdlatut Tujjar yang pernah didengungkan KH Abdul Wahab Chasbullah kepada nahdliyin,” katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Karena itu, untuk kegiatan Konferwil ini HIPSI mengambil dua stand di dalam arena maupun di luar.?

“Untuk stand di dalam, mendisplay sejumlah produk unggulan hasil usaha dari sejumlah pengurus dan anggota HIPSI di sejumlah daerah,” tandasnya. Sedangkan untuk stand di luar arena Konferwil berupa produk kuliner.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Kami mendisplay sejumlah produk hasil karya anak-anak muda NU di bidang software IT, kerajinan mendong, produk olahan nugget, bakso, coffee shop, snack dan sejenisnya,” ungkapnya. ?

Sejumlah produk ini adalah hasil karya para santri secara mandiri. “Sebagian lagi ada yang berpartner dengan pengusaha muslim di Gresik untuk produk frozen food dan ikan laut,” lanjutnya.

Di stand yang ada nantinya juga sebagai ajang mempromosikan kiprah sejumlah pengurus yang telah memiliki usaha membanggakan. Para pengunjung dapat mendengarkan kisah sukses dari HIPSI Jember yang sudah memiliki lebih dari 500.000 populasi ayam potong.?

“Kami juga sedang mengembangkan produk turunan yang memiliki nilai tambah seperti aneka macam nugget ayam, resoles, siomay dan sejenisnya,” terangnya.

Tidak hanya ingin memamerkan sejumlah keberhasilan dan kiprah para pengusaha santri, di stand juga menjadi media untuk menampung para pengusaha baru yang ingin bergabung dengan HIPSI.?

“Kami sediakan sekitar tiga ratus kaos dan souvenir dari salah satu sponsor kepada para kiai, santri dan warga NU yang berkenan untuk mendaftar sebagai anggota baru,” katanya berpromosi.

Banyaknya pengunjung di even ini menjadi salah satu media efektif dalam upaya memperkenalkan organisasi yang berkeinginan untuk menciptakan jutaan pengusaha santri ? di tanah air ini. Sebuah kesempatan langka dan sayang kalau dilewatkan.? ?

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 27 Januari 2018

NU Kota Serang Gelar Dialog Kebangsaan

Serang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Cabang NU Kota Serang, Banten menggelar dialog kebangsaan di aula Pondok Pesantren Salafi Al-Fathaniyah Komplek Tembong Cipocok Jaya, Serang, Banten, pada Ahad pagi, (16/12).

?

Menurut pembawa acara dialog tersebut, Tubagus Qurtubi, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan Shalawat Badar oleh Ustad Jamalulail dari MWC NU Kasemen. Kemudian menyanyikan Indonesia Raya dengan dirigen Li Nasiha dari IPPNU Kota Serang.

NU Kota Serang Gelar Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Serang Gelar Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Serang Gelar Dialog Kebangsaan

?

Kemudian sambutan Ketua PCNU Kota Serang KH Matin Sarkowi. Ia berkata, melalui acara ini diharapkan semua warga Nahdliyin dan masyarakat umum bisa menyerap manfaat dari kegiatan NU Kota Serang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

?

Dialog dimoderatori Rangga Galura menghadirkan narasumber dari PBNU yaitu Wakil Ketua Umum, H As’ad Said Ali. Narasumber lain yaitu Pembina Majelis Pesentren Salafy Banten KH Obing Surohman, dan Rais Syuriyah NU Kota Serang KH Ariman Anwar.

Dialog tersebut dihadiri banom, lajnah dan lembaga NU Serang, di antaranya JQH, RMI, IPNU, IPPNU, PMII, GP Ansor. Juga para alim ulama dan pengasuh pesantren NU se-Kota Serang.? ? Selain itu, menurut Tubagus Qurtubi, hadir pula waga NU dari Kasemen 50 orang, Taktakan 40 orang, Curug 30 oran, Walantaka 20 orang, Cipocokjaya 30 orang, dan Serang 15 orang.?

Redaktur: Mukafi Niam

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah, Syariah, Meme Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 26 Januari 2018

PMII Bimbing Calon Mahasiswa Baru Masuk UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Perguruan Tinggi Umum (Komfuspertum) Cabang Ciputat bekerja sama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah menyelenggarakan bimbingan tes (bimtes) bagi para calon mahasiswa yang hendak belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) Mandiri.

Kegiatan yang dilaksanakan mulai 20-23 Juni 2016 ini diikuti sekitar 170 calon mahasiswa baru yang bertempat di Ruang Teater Fakultas Ushuluddin kampus setempat. Syifa, ketua pelaksana bimtes ini mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian PMII kepada calon mahasiswa baru yang ingin masuk perguruan tinggi Islam negeri yang beralamat di Ciputat, Tangerang Selatan itu.

PMII Bimbing Calon Mahasiswa Baru Masuk UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bimbing Calon Mahasiswa Baru Masuk UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bimbing Calon Mahasiswa Baru Masuk UIN Jakarta

“Kegiatan yang dilakukan para kader PMII ini merupakan proses bagi para kader kami untuk bisa peduli terhadap sesama. Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena panitia kebanyakan semester 2 yang baru setahun mengemban title mahasiswa. Tak disangka mereka benar-benar bertanggung jawab dengan tugas yang mereka emban,” kata Arsyad Prayogi, ketua PMII Komfuspertum.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Salah satu peserta bimtes, Alantri Anggara, mengaku sangat senang dengan bimtes ini. Para calon mahasiswa yang masih minim informasi mengenai jalur tes masuk ini merasa terbantu karena sudah diarahkan para panitia bagaimana cara agar bisa lolos tes masuk ini.

“Walaupun kami juga masih harus belajar sendiri di rumah setidaknya kegiatan ini cukup memberikan pengetahuan bagi kami. Terima kasih kepada para panitia yang telah membantu kami,” imbuhnya. (Ulul Alfi Kurniawan/Mahbib)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah, Budaya Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock