Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

UNU Surakarta Akan Tambah Empat Prodi Baru

Surakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Memasuki tahun akademik 2015/2016, Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Surakarta berkomitmen akan menambah empat program studi (Prodi) baru. Empat prodi itu terdiri dari satu prodi program doktoral (S3) dan tiga prodi strata 1.

"Empat prodi baru tersebut, kini sudah kami usulkan ke dua kementerian. Yakni, Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Riset, Teknologi dan Dikti," ujar Rektor UNU Surakarta DR H Ahmad Mufrod Teguh Mulyo dalam Rapat Senat Terbuka UNU Surakarta, 21 Febuari 2015, di Surakarta.

UNU Surakarta Akan Tambah Empat Prodi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Surakarta Akan Tambah Empat Prodi Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Surakarta Akan Tambah Empat Prodi Baru

Dikatakan, dua prodi baru yang diusulkan ke Kemenag adalah prodi Pendidikan Agama Islam untuk jenjang S3 atau doktor. Proposal usulan program doktor sudah dipresentasikan di hadapan tim penilai dari Diktis Ditjen Pendidikan Islam Kemenag pada 16 Mei 2014. Kini UNU Surakarta tinggaal menunggu visitasi dan terbitnya Surat Keputusan dari Dirjend Pendidikan Islam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Berikutnya prodi Ekonomi Syariah S1. Prodi ini sudah divisitasi oleh Tim Ahli dari Diktis Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama pada 17 Desember 2014. Hasilnya sangat baik. Kini, UNU tinggal menunggu Surat Keputusan dari Dirjend Pendidikan Islam.

Sedangkan dua prodi yang diusulkan ke Kementerian Riset, Teknologi dan Dikti adalah prodi Teknik Industri S1 dan prodi Teknik Informatika S1. Dua prodi ini baru dalam proses pengusulan .

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Empat prodi tersebut diharapkan akan melengkapi prodi lama yang sudah ada. Seperti prodi magister Manajemen Pendidikan Islam (S2), prodi Pendidikan Agama Islam (S1), prodi Ahwal Asy-Syakhsyiyah (S1), prodi Manajemen (S1), prodi Manajemen Perusahaan (S1) dan? Akuntasi (D3). Selain itu, ada prodi Ilmu Hukum (S1), serta prodi Teknik Mesin (S1). (Sholihin Hasan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 19 Februari 2018

NU Kuat Indonesia Kuat, NU Lemah Indonesia Lemah

Makassar, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sejumlah pihak berharap Nahdlatul Ulama (NU) tetap kokoh sehubungan menentukan nasib Indonesia 30 tahun mendatang, ujar Instruktur Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IV, Adnan Anwar.

?

"Masa depan Indonesia ada di NU. Yang ngomong bukan saya. Tapi sejumlah pejabat negara dan duta besar beberapa negara sahabat," ujar mantan wasekjen PBNU ini, Senin (27/3), pada peserta Susbanpim di aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI), Makassar.

NU Kuat Indonesia Kuat, NU Lemah Indonesia Lemah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kuat Indonesia Kuat, NU Lemah Indonesia Lemah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kuat Indonesia Kuat, NU Lemah Indonesia Lemah

?

Kalau NU-nya kuat, maka Indonesia kuat. Kalau NU-nya lemah, Indonesia lemah. Setiap ada masalah di Indonesia yang menjadi solusi selalu NU. Ia mencontohkan, dari beberapa pemberontakan, NU selalu berpartisipasi menjaga Indonesia. "Kalau tidak ada Banser, Indonesia menjadi negara komunis," kata dia lagi .

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Adnan menambahkan, kalau mau menghancurkan NKRI, hancurkan NU, hancurkan GP Ansor, dan hancurkan Banser.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Dan NU hari ini, faktanya diserang sejumlah pihak. Banser di-bully dengan berita hoax membubarkan pengajian. Faktanya tidak demikian. Tujuan mereka yang menyerang NU hingga Banser itu ingin menghancurkan NKRI yang dilahirkan ulama-ulama," katanya.

Ia menegaskan, Indonesia sudah disepakati 1873 ulama di Aceh. Para orang alim di Serambi Mekah itu telah merumuskan Jumhuriyah Indonesia (Republik Indonesia) dan disebarkan hingga ke Papua untuk membangun cita-cita kesatuan tanah dan bangsa Indonesia.

"Kalau 30 tahun mendatang NU kuat dan masih mempunyai Banser-Banser yang sakti semacam sahabat-sahabat, NKRI masih kuat," ujar Adnan disambut gemuruh tepuk tangan antusias Banser dari Sulawesi, Kalimantan, Papua dan beberapa provinsi lain di Indonesia. (Gatot Arifianto/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Daerah, Berita, News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 12 Februari 2018

PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi menyebut ketepatan makhraj, tajwid, dan penghormatan atas ayat-ayat suci sebagai ketentuan dasar dalam membaca Al-Quran. Sementara varian irama lagu dalam membaca Al-Quran sendiri, menurutnya, lebih luas daripada langgam yang sudah populer di kalangan ahli qiro’ah.

PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Langgam Al-Quran Bertali Erat dengan Budaya

“Langgam itu soal budaya dan bukan barang haram di dalam Islam,” kata Kiai Masdar kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama di Jakarta, Selasa (19/5) sore.

Lebih lanjut Kiai Masdar mengatakan, salah satu fakta budaya ialah bahasa. Kenapa kalimah Al-Quran hadir dalam bahasa Arab? Karena Allah menghormati budaya Arab. Prinsipnya, bi lisani qoumihim (Menyampaikan dengan bahasa kaum para rasulullah).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Adapun kalamullah sendiri itu bi la harfin wa la shoutin (tanpa huruf dan suara), bukan dalam bahasa Arab atau bahasa bangsa apapun. Tetapi ketika berkomunikasi dengan bangsa Arab, tentu saja kemudian wahyu itu hadir dalam bahasa Arab,” terang kiai Masdar.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dulu kitab-kitab suci pernah berbahasa Ibrani karena yang dikhithabnya komunitas Ibrani, Kiai Masdar menyebut salah satu contoh.

Setiap bahasa itu mengandung sentuhan Ilahi, bukan hanya Arab, Ibrani atau bahasa tertentu. Karena, wa allama adamal asmaa kullaha (Allah mengajari Nabi Adam nama-nama semua benda) ini modal dasar dari bahasa.

Kita menyebut “batu”, “langit”, “bumi”, dan seterusnya, secara lahiriyah memang kreasi budaya. Tetapi di belakang itu, Allah SWT Yang Maha Bicara karena sifat-Nya itu mutakallimun.

Bayangkan kalau wahyu diturunkan di Jawa, untuk nabi Jawa, umat Jawa, tentu hadir dalam bahasa Jawa. Kalau turun di Jepang, tentu wahyu itu berbahasa Jepang, Kiai Masdar menambahkan. Karena normanya itu bi lisani qoumihim, bukan bi lisanil Arab. Jadi, semua bahasa itu baik dan mulia.

“Apalagi hanya soal langgam?” kata Kiai Masdar menanggapi kontroversi pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara pada Jumat (15/5) malam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama News, Daerah, Pesantren Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 26 Januari 2018

Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Ribuan jamaah menghadiri peringatan Haul ke-IX mantan Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta KHR. Abdurrohim bin Abi Hasan, di Gandekan, Jebres, Solo, belum lama ini (18/2). Dalam acara tersebut dibacakan riwayat hidup tokoh yang akrab disapa Mbah Durohim tersebut.

Dijelaskan, sejak usia 5 tahun, Kiai Abdurrohim kecil telah ditinggal wafat kedua orang tuanya. “Simbah Kiai Abdurrohim sejak umur 5 tahun sudah yatim piatu, kemudian diasuh oleh Pakdhe dan Budhenya,” terang salah satu cucu Kiai Abdurrohim, Gus Ahmad Zawawi Suryo Buwono.

Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu

Kemudian setelah nyantri di berbagai pesantren, ia diangkat menjadi salah satu modin atau ulama Keraton Surakarta sehingga kelak di depan namanya tersemat gelar Raden.

Salah satu sifatnya yang paling dikenang yakni gemar akan mencari ilmu, yang ia contohkan. “Beliau lebih mengutamakan membeli kitab yang isinya ilmu daripada membeli pakaian, meskipun pakaiannya sudah tidak layak pakai,” lanjut Gus Ahmad.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mbah Abdurrohim juga dikenal sebagai seorang yang zuhud. Hidup dengan penuh kesederhanaan. Bahkan, ia pernah ditawari anaknya untuk dibelikan rumah, malah ditolak. Pada akhir hayatnya, ia hanya meninggalkan 2 almari besar, yang berisi kitab-kitab.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sebagai seorang ulama dan juga kemudian mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta, Mbah Abdurrohim, dikenal sebagai ahli ilmu fiqih. “Setiap ada permasalahan yang berkaitan dengan syariat, selalu dijawab dengan ucapan: menurut Imam mazhab empat itu begini..,” ungkap Gus Zawawi.

Di akhir hidupnya, tercatat KH Raden Abdurrohim mengemban amanah sebagai Mustasyar PCNU Kota Surakarta. Lahu al-fatihah! (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Quote, Pertandingan, News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 19 Januari 2018

Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali

Dalam sebuah majlis ilmu, Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali (1058-1111 M) ‘disidang’ para ulama Baghdad. Pasalnya, ? Al-Ghazali seringkali mengutip sejumlah hadits yang dinilai dla’if (lemah). Bahkan memasukkan hadits-hadits maudhu’ (palsu) dalam beberapa karyanya.?

“Kenapa anda berbuat demikian?” tanya seorang ulama menghakimi.?

Al-Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam itu menjawab dengan tenang. “Para ulama yang mulia, saya menyeleksi hadits menggunakan cara yang berbeda dengan Anda semua. Cara saya hanya dengan mencium hadits tersebut. Jika tercium semerbak wangi, maka hadits itu shahih. Sebaliknya, jika tidak tercium harum, maka hadits itu dla’if atau maudhu’, Inilah yang disebut dengan thariqah al-mukasyafah (metode penyingkapan metafisika).” Para ulama yang ada di majelis itu pun terkagum.?

Kisah tersebut termaktub dalam buku berjudul Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali yang ditulis Mukti Ali. Dalam buku setebal 404 halaman ini, penulis menghimpun 39 kisah ajaib yang dirujuk dari sejumlah kitab-kitab klasik, baik yang ditulis oleh Al-Ghazali sendiri ataupun dari literatur klasik lainnya seperti kitab Nashaaihul ‘ibad ? karya Imam Nawawi Al-Bantani.?

Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali

Di antara kisah ajaib lainnya adalah mengenai kesaksian seorang sufi bernama ‘Arif al-Kabir al-Yamani Ahmad Ash Shayyad yang melihat Imam Al-Ghazali dibawa Nabi Khidir dan para malaikat menuju langit ke tujuh. Ada pula kisah mengenai kemampuan Al-Ghazali yang mengundang para sufi melalui mimpi.?

Sejumlah ulama percaya, Al-Ghazali merupakan seorang sufi yang mencapai derajat wali. Misalnya seperti yang dikisahkan Syaikh Al-‘Arif Abi Hasan Al-Syadzili. Mursyid sekaligus pendiri Thariqat Syadziliyah itu bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw berbincang dengan Nabi Musa AS dan Isa AS.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Apakah ada di antara umat kalian berdua seorang alim seperti Imam Al-Ghazali ini?” tanya Rasulullah.?

Keduanya menjawab serentak, “Tidak ada dari umat kami seorang alim seperti Imam Al-Ghazali.”

Mimpi yang diceritakan As-Syadzili kepada Ibnu as-Subuki itu menunjukkan bahwa kewalian Al-Ghazali diakui para Nabi.?

Sebagai ulama besar, kehidupan Imam Al-Ghazali banyak ditulis oleh sejumlah akademisi dari Timur dan Barat. Sejumlah karya tulis itu umumnya membahas mengenai biografi Al-Ghazali serta pemikiran-pemikirannya dalam berbagai aspek. Sebagai contoh adalah buku berjudul Konsep Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan yang ditulis oleh Abu Muhammad Iqbal. Namun baru buku berjudul Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali ? ini yang memberikan sudut pandang lain dan unik mengenai sosok yang bergelar Hujjatul Islam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Peresensi, Ade Faizal Alami







Info Buku

Judul : Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali

Penulis : Mukti Ali

Penerbit : Mentari Media

Jumlah halaman : 404 halaman?

Cetakan Pertama : Mei 2017

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama News, Doa Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 18 Januari 2018

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Pendidikan agama awal diperolehnya waktu masih sekolah di SR Tanagara dari ibundanya, karena ayahandanya Abuya Dimyathi Amin pada waktu itu masih Siyahah (berkelana) di Pondok Pondok Pesantren di Nusantara sekaligus bersilaturrahim, bertabarruk dan tholab pada para ulama sepuh kala itu.

Setelah tamat SR pada tahun 1965 M ia diajak oleh ayahandanya untuk ikut Siyahah sambil terus menerus digembleng pendidikan agama dalam pengembaraan selama 10 tahun, dan pada tahun 1975 M. Ia mengikuti Ayahandanya Iqomah di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten sambil merintis Pondok Pesantren.

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Abuya Muhtadi Dimyathi, Mufti Syafi’iyyah Nasionalis dari Banten

Meski telah memimpin pesantren, bukan berarti ia berhenti digembleng oleh ayahandanya, karena ia masih terus menerus dihujani lautan ilmu oleh ayahandanya sampai akhir hayat ayahandanya pada 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424 H. Walhasil ia badzlul wus’i, mengerahkan seluruh kemampuannya didalam mendalami ilmu agama selama 38 tahun, dan ia berhasil mengkhatamkan banyak Kitab ulama salaf dari berbagai fan (cabang) sampai berulang ulang dan dikaji dengan sistem pendidikan pesantren salaf huruf demi huruf.

Dari fan ilmu tafsir, ia mengkhatamkan Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabary (Tafsir terbesar) dan Tafsir Ibnu Katsir. Dari fan Qiroah ia tidak cuma ahli dalam Qiroah Sab’ah tapi juga ahli dalam Qiroah ‘Asyaroh disamping juga Hafidz Al-Quran. Dari fan Ilmu Al-Quran Beliau mengkhatamkan Al-Burhan, Al-Itqon dan lain-lain. Dari fan hadits ia mengkhatamkan Kutub As-Sittah, dari fan fiqih ia sampai mengkhatamkan Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Asnal Matholib, dan dari fan-fan lainnya yang ada 14 Fan.

Tidaklah berlebihan kalau ia disebut dengan Mufti Asy-Syafi’iyyah karena sudah mengkhatamkan dan menguasai 4 Kitab pedoman Mutaakhkhirin As-Syafi’iyyah (Tuhfatul Muhtaj, Mughnil Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Asnal Matholib) dan Kitab Raudlatut Tholibin (Pegangan Para Mufti), dan disebut dengan Al-Mutafannin (Orang yang menguasai berbagai Fan Ilmu Agama), dan disebut dengan Al-Musnid karena sudah disahkan untuk mengijazahkan Kitab Sanad Kifayatul Mustafid karangan Syaikh Mahfudz At-Tarmasy, dan disebut dengan Al-Mursyid karena ia juga menguasai 14 fan Thariqah dan menjadi Mursyid Thariqah Asy-Syadziliyyah, dan disebut dengan Syaikhul Masyasikh (Kyainya Para Kyai) karena di setiap hari terutama hari Sabtu, Ahad dan Senin di Majlis Ta’lim ia berkumpul para kiai alim ulama seantero Banten untuk menyerap ilmu agama tingkat tinggi yang ia ajarkan meneruskan Majlis Ta’lim yang diasuh oleh ayahandanya, dan pada saat ini ia membaca dan mengajarkan Kitab Raudlatut Tholibin, Mughnil Muhtaj, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Al-Ghunyah Li Tholibi Thariqil Haq, Ihya Ulumiddin, Shohih Muslim, An-Nasyr Fi Qiroatil ‘Asyr dll. Dan yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain adalah ketajaman Bashirah/Mata Bathin Beliau, karena Beliau adalah seorang Ulama yang ahli tirakat, bahkan semenjak umur 18 tahun sampai sekarang Beliau masih menjalani Shaumuddahri/puasa setiap hari bertahun tahun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Salah satu fatwanya yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang ulama nasionalis adalah fatwanya tentang Pancasila, HTI dan Ormas sejenisnya berikut ini:

Dengan ini saya Abuya Muhtadi Dimyathi (Ketua/Imam M3CB) berfatwa bahwa Pancasila adalah :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Artinya : Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

dan juga saya berfatwa bahwa :

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Artinya : HTI Hizbut Tahrir Indonesia dan ormas-ormas Islam lainnya yang sejalan dengan HTI tiada lain kecuali kaum muslimin yang menetap di negara kita Indonesia yang punya dasar Pancasila dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam? pemberontakan terhadap Negara, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Demikianlah sekilas biografi KH Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang penulis ketahui langsung dari beliau aqwaalan wa ahwaalan, semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

M. Hubab Nafi’ Nu’man, Santri Abuya Muhtadi, Instruktur Nasional Pendidikan Kader Penggerak NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Habib, Internasional, News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 16 Januari 2018

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya

Pernah suatu kali jamaah shalat Jum’at dikagetkan dengan tindakan Nabi Muhammad SAW di sela-sela khotbahnya. Rasulullah mendadak turun dari mimbar lantaran kedua cucunya yang masih kecil, Hasan dan Husain, menangis.

Nabi segera menghampiri Hasan dan Husain yang saat itu sedang ikut di masjid dan berusaha menenangkan keduanya. Melalui bahasa isyarat dan kelembutan hatinya, tangisan mereka mereda, dan beliau pun melanjutkan khotbahnya hingga selesai. Tak pernah Nabi membaca khotbah lebih panjang dari shalatnya.

Peristiwa lain tentang ”tingkah usil” kedua cucu mungilnya ini juga terjadi saat Rasulullah sedang mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Ketika sujud berlangsung, tiba-tiba Hasan memanjat punggung Nabi. Hasan kecil memukuli tubuh kakeknya itu selayak menunggang kuda yang mesti berpacu cepat.

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasih Sayang Nabi kepada Kedua Cucu Mungilnya

Sebetulnya Nabi sudah cukup lama menempelkan dahinya di atas lantai. Tapi tingkah Hasan membuat manusia mulia ini memperpanjang sujudnya lebih lama lagi. Hasan puas bermain kuda-kudaan.

Hasan akhirnya turun. Nabi mulai berniat mengangkat tubuhnya. Sekali lagi punggungnya tertahan. Husain tiba-tiba melompat ke atas punggung dan menirukan aksi kakaknya, Hasan. Artinya, Nabi mesti menambah waktu lagi untuk menunda duduk tasyahud. Baru ketika kedua cucunya turun, Rasulullah melanjutkan gerakan sembahyangnya.

Rasulullah mencontohkan betapa kasih sayang terhadap keluarga dan anak kecil adalah sikap yang harus diutamakan. Sikap Nabi ini juga mencerminkan kepekaannya tentang menghargai keterbatasan seseorang, baik dalam hal kondisi fisik, daya tangkap, ataupun tingkat pengetahuan. Keluhuran akhlak Nabi terpancar justru saat segenap keputusannya tersebut menjadi prioritas, melebihi ritus keberagamaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock