Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi

Alkisah, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

? ? ? ? ? ?

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi

"Aku adalah pintunya ilmu, dan Ali adalah kuncinya".

Ya, sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah menantu Baginda Nabi. Dikisahkan, Nabi merupakan pintu ilmu yang sangat luas. Ia sebagai bekal dunia akhirat sebagaimana pernah disabdakan, kunci ilmu dimiliki oleh sahabat Ali. Hati mana yang tak penasaran mendengar sabda Rasul tersebut.

Pun dengan gerombolan orang-orang Khawarij. Mereka gusar tiada tara tatkala mendengar kabar hadits ini. Kemudian mendorong mereka berniat menguji kebenaran hadis kepada Rasulullah secara langsung. Dikumpulkanlah tujuh orang dari golongan mereka.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Jika Ali sebagai kunci ilmu, maka ketika kita beri pertanyaan yang sama tentu jawabannya juga sama". Salah seorang dari mereka mengawali pembicaraan. "Ya, benar kamu. Tidak mungkin seseorang yang dianggap kuncinya ilmu akan menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Jika memang benar ia kuncinya ilmu" yang lain menimpali.

Disusunlah strategi, rencana matang disusun, "mari kita uji dengan memberikan pertanyaan yang sama, namun dari orang yang berbeda-beda," usul salah seorang dari ketujuh khawarij tersebut dan mereka berakhir pada kata sepakat. Pertanyaan yang akan diajukan,? antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama??

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Setelah mereka memberikan pertanyaan yang sama. Mereka mendapat jawaban yang sama pula. Antara ilmu dan harta, yang lebih utama adalah ilmu. "Tapi tunggu dulu, apakah Ali juga memberikan alasan tentang jawabannya?" tanya salah seorang dari mereka. "ya, benar" timpal mereka bersama-sama. "Apa itu?".?

"Kalau ilmu menjagamu. Namun, harta, engkau yang harus menjaganya," orang pertama dari kelompok khawarij menyampaikan alasan yang dikemukakan sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah. "Jika ilmu adalah warisan nabi, harta adalah warisan Qorun yang terkutuk". Orang kedua menambahi kemudia "ilmu jika ditasarufkan, akan bertambah. Sedang harta, jika ditasarufkan akan berkurang," tambah orang ketiga menyampaikan kutipan argumentasi yang ia terima.?

Mereka mulai heran akan jawaban yang berbeda-beda. "Andai kau memilih ilmu, kau akan mendapat julukan yang baik, namun jika harta, julukan buruk yang kau dapat," demikian orang keempat menjelaskan. Mereka semakin ragu akan alasan yang berbeda-beda.?

"Ilmu itu menerangi hati, sedangkan harta mengeraskan hati," "Ilmu jika dibiarkan tidak apa-apa, namun harta jika dibiarkan akan rusak", "ilmu ketika di hari kiamat akan menolongmu, namun harta akan menjadi penyebab lamanya hisab di hari kiamat." Demikian mereka bergantian menyampaikan.?

Sejenak, mereka tertegun akan alasan yang berbeda-beda. Bagaimana mungkin, pertanyaan yang diberikan kepada orang satu, menghasilkan jawaban yang memiliki alasan-alasan tersendiri.?

Namun, dengan cepat mereka tersadar akan keutamaan ilmu yang dimiliki sahabat Ali bin Abi Thalib. Alasan demi alasan yang diutarakan sahabat Ali bin Abi Thalib berbeda, namun antara satu dan lainnya saling menguatkan, antara ilmu dan harta lebih utama ilmu.? Subhanallahil adzim wa shodaqo rasuluhu nabiyyul karim.

(Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 18 Februari 2018

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Oleh Rosidin

Beragam opini menyelimuti akar kata “santri”. Pertama, dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Kedua, dari bahasa India, shastri, yang berarti “ahli kitab suci agama”,karena shastri berasal dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci agama”. Ketiga, dari bahasa Sansekerta yang berarti “ilmuwan yang pandai menulis”. Keempat, dari bahasa Jawa, cantrik yang berarti “orang yang selalu mengikuti guru”. Kelima, perpaduan dari kata saint yang berarti “manusia baik” dan tra yang berarti “suka menolong”.

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Kelima opini tersebut tidak perlu dibenturkan, melainkan cukup dipadukan untuk merumuskan ciri khas santri berdasarkan telaah bahasa. Hemat penulis, santri adalah “orang muslim yang mempelajari kitab suci agama Islam (al-Qur’an beserta perluasannya dalam “kitab kuning”) kepada guru mengaji (kiai) melalui proses pembelajaran dan peneladanan (di masjid, madrasah diniyah maupun pesantren) agar menjadi manusia yang baik dan suka menolong”.

Dalam bahasa al-Qur’an, tujuan utama menjadi santri adalah tafaqquh fi al-din atau memahami agama Islam secara mendalam (Q.S. al-Taubah [9]: 122). Santri diharapkan mampumenguasai empat sifat agama Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agama wahyu (al-din al-wahyi); (2)agama keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agama kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agama kemajuan (al-din al-ishlahi).Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkantiga prinsip utama pesantren menurut KH Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut pesantren, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda denganalumni perguruan tinggi yang semakin tinggi gelar, semakin jauh dari rakyat. Semakin tinggi gelar alumni pesantren, justru semakin dekat dengan rakyat.

Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI dari segala bentuk penyimpangan agama, seperti komunisme yang mengusung atheisme (anti-Tuhan). 

Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” yang masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demimembangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis Indonesia (PKI), sekaligus sebagai tandinganbagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” yang disebut KH Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampuradukkan agama. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (atheisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) yang menodai SilaKetuhanan Yang Maha Esa. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.Santri merupakan generasi yang bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah orang yang membuat umat muslim selamat (aman) dari perkataan dan perbuatannya” (HR Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh dari kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: 125 yang meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). 

Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH Zainal Mustofa, Pengasuh Pesantren Cimerah Sukamanah, yang melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang yang mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal 18 Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi.

Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus,serta bangsa Indonesia secara umum, agar menuntut kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah yang dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai 76.566 lembaga dan menampung 6.000.062 santri.

Ketiga, Sila Persatuan Indonesia. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Sumatra, 29 September 1945; sedangkan pemerintah Indonesia tidak melakukan perlawanan yang nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul Ulama seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, yang mengajukan Resolusi Jihad yang intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu dampak nyata dari Resolusi Jihad adalah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal 22 Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015.

Keempat, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah diarena birokrasi,baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan Agama Islam atau Menteri Agama Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fiqih: Tasharruful Imam ala raiyyah manuth bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).

Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa yang mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri yang membuat santrisiap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran yang menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial yang membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal wa Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri yang diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp 1.8 Triliun pada tahun 2015.

Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agama, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban Indonesia yang unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi yang mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Pengurus LTN NU Kabupaten Malang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Jadwal Kajian, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 15 Februari 2018

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Setiap momentum peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia, seruan kata “Merdeka!” sering diucapkan dalam setiap kesempatan. Kata ini pula yang menjadi semacam mantra semangat, bagi para pejuang dan pahlawan bangsa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kata tersebut memiliki makna luas. Menurut Pengasuh Majelis Ar-Raudhah Solo, Habib Noval bin Muhammad Al-Idrus, merdeka! ini tidak hanya menjadi seruan pemberi semangat semata. Tetapi lebih dari itu, bermakna syukur kepada Allah swt. atas karunia kemerdekaan.

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir

“Ucapan Merdeka!? itu bersyukur. Meskipun wujudnya kata merdeka! tapi Allah tahu itu merupakan salah satu wujud syukur,” terang dia, belum lama ini (9/8), dalam sebuah pengajian akbar di Kota Solo.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hal tersebut, lanjut Habib Noval, didasarkan pada perintah Allah di dalam surah ad-Duha ayat 11: Fa amma bini’mati robbika fahaddist, agar kita bersyukur atas ni’mat yang diberikan-Nya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ditambahkan, selain bermakna syukur, kata merdeka! juga dapat bermakna zikir. “Jadi njenengan teriak merdeka! itu zikir, Allahuakbar itu ya dzikir. Dzikir itu bermacam-macam,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, Lomba, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam.

Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung.

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustopa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustopa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan.

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci.  Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika.

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya.

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. Sudah 36 tahun Ajengan Ruhiat, ajengan patriot dan pejuang itu meninggalkan kita. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Tokoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 27 Januari 2018

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Pringsewu, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu, Lampung, KH Fuad Abdillah mengatakan, bahwa jika ukuran ibadah haji adalah kekayaan maka seluruh orang kaya sudah melaksanakan rukun Islam ke lima ini. Demikian saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam Walimatissafar Lil Haj Pengasuh Pondok Pesantren Al Wusto Pringsewu, Ustadz Nasihin, Sabtu (5/9) lalu.

Kiai Fuad menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan oleh orang yang mampu. Kriteria mampu ini mencakup bukan hanya mampu dalam hal fisik dan materi, namun juga mampu dalam hal mental termasuk niatan yang kuat untuk melaksanakannya.

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Keteguhan niat ini perlu dimiliki oleh seluruh orang yang akan menjalankan ibadah haji karena menurut Kiai Fuad, haji adalah ibadah yang merupakan latihan meninggal dunia. "Ketika melaksanakan ibadah haji, para jamaah tidak memikirkan hal-hal duniawi terlebih lebih harta. Ini karena mereka hanya memikirkan ibadah kepada Allah SWT sesempurna mungkin," terangnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam ibadah haji, tambah Kiai Fuad, banyak sekali ibadah-ibadah kepada Allah SWT yang terkesan unik. Namun dibalik keunikan ini mengandung hikmah yang sangat luarbiasa. Contohnya menurut kiai berkacamata ini, seperti rangkaian tawaf yang hanya lari berputar putar, sai y? ng berupa lari bolak balik sofa marwa dan mecari batu untuk lempar jumrah. "Walaupun kelihatannya seperti mainan, namun ibadah ibadah tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT," Jelasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Oleh karena itu, Kiai Fuad yang juga Ketua MUI Kecamatan Pringsewu ini mengajak kepada seluruh jamaah untuk niat mantap melaksanakan ibadah haji tanpa ragu. "Ibadah haji itu sulit teorinya saja namun prakteknya gampang. Apalagi sekarang banyak KBIH yang siap membantu teori manasik sekaligus membantu secara teknis proses haji yang akan dilalui," Jelasnya.

Pada acara walimatus Safar lil haj ini dihadiri oleh Ketua MUI Kabupaten Pringsewu H Hambali, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memberi sambutan Perwakilan tamu undangan dan beberapa Tokoh Masyarakat Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 25 Januari 2018

Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan

Way Kanan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Pemerintah Kabupaten Way Kanan Lampung menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 17, di Blambangan Umpu, Rabu (27/4). Gerakan Pemuda Ansor satu-satunya organisasi kepemudaan yang mengikuti upacara dipimpin Bupati Raden Adipati Surya.

Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan

"Ansor selalu siap berkiprah dalam pembangunan daerah. Kami bangga bisa turut serta langsung mengikuti kegiatan tersebut," ujar Dewan Penasehat Ansor PAC Negara Batin Muhammad Anas Zahroni.

Alumni Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur 1997 itu mengharapkan, daerah pemekaran Kabupaten Lampung Utara 24 April 1999 itu bisa semakin maju.

"Hadirnya Ansor dalam upacara tersebut penegasan bahwa pemuda Nahldatul Ulama siap untuk berbuat untuk Way Kanan. Harapan, kami pemerintah bisa mengembangakan potensi-potensi yang ada, misalnya anak-anak berprestasi di bidang olah raga seperti bulu tangkis atau sepak bola mengingat kemampuan semacam tersebut juga perlu ditampung supaya ada penyaluran bagi mereka," ujar Tri Wahono, kader Ansor dari Kampung Adijaya, Kecamatan Negara Batin.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Memperingati HUT Way Kanan ke 17, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor setempat menurunkan 20 kader dari PAC Negara Batin sehubungan adanya undangan untuk mengikuti upacara dihadiri unsur Forkompida, aparatur sipil negara, TNI, Polri, OSIS dan Pramuka.

"Kami bangga bisa menghadiri upacara peringatan HUT Way Kanan. Semoga Way Kanan menjadi lebih baik. Ansor selalu siap mendukung kegiatan pemerintah yang sejalan dengan tujuan organisasi, salah satunya berperan aktif dan kritis dalam pembangunan nasional demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia yang berkeadilan, berkemakmuran, berkemanusiaan, dan bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia yang diridai Allah," kata Ketua PAC Ansor Negara Batin Hozin Munir.

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor, ujar Ketua Ansor Way Kanan Gatot Arifianto menambahkan, mengapresiasi partisipasi aktif kader dari Negara Batin untuk organisasi.

"Fokus Ansor terletak pada tiga hal, yakni kaderisasi, ideologisasi, dan aksi nyata. Kami bangga kader-kader Ansor terus menunjukkan eksistensinya, seperti PAC Pakuan Ratu yang menggelar PKD V, lalu PAC Banjit yang menggelar beragam kegiatan, seperti sunatan massal bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan pelayanan pembuatan identitas kependudukan bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam rangka memperingati Harlah ke 82 tahun. Terima kasih untuk energi dan semangat yang diberikan untuk organisasi dengan perbuatan," ujar Gatot. (Ahmad Nursalim/Abdullah Alawi)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 21 Januari 2018

PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah

Kendal, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Cabang NU Kendal melantik Pengurus Lembaga dan Lajnah di tingkat Cabang. Pelantikan perangkat organisasi NU tersebut dilakukan bersamaan pembukaan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) yang digelar di Pesantren Nurul Qur’an, Sukolilan Patebon Kendal, Rabu malam (14-/11).

PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah

Prosesi pelantikan dilakukan langsung oleh ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial ? dan dihadiri oleh Wakil Bupati Kendal KHM Mustamsikin, Ketua PW NU Jateng H Muhammad Adnan, Segenap Badan Otonom dan pengurus MWC NU se Kab . Kendal. Tampak hadir beberapa pengurus partai di tingkat Kabupaten Kendal.

Dalam sambutaannya ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial mengatakan pelantikan Lembaga dan Lajnah ditingkat cabang mendesak untuk segera dilaksanakan agar mereka bisa segera bekerja, mengingat beberapa pekerjaan sudah menanti.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dijelaskan, usai Konfercab NU beberapa waktu lalu pengurus PCNU yang ? baru telah menerima wakaf sebidang tanah. Kalau lembaga dan lajnah tidak segera dibentuk dan dilantik dikuatirkan tidak segera ada yag mengurus.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Oleh karenanya ia meminta pengurus Lembaga dan Lajnah yang baru saja dilantik untuk segera bekerja dengan riil tidak sekedar namanya tercantum dalam struktur pengurus.

”Jangan sampai pengurus NU, Lembaga maupun Lajnah hanya numpang nama tanpa ada kerja nyata,” pintanya.

Untuk menghidupkan Lembaga, Lajnah maupun Banom NU pihaknya mengaku akan mengadakan rapat koordinasi rutin tiap tiga bulan sekali. Dalam penilaiannya selama ini yang rutin mengadakan kegiatan setiap tiga bulan sekali baru lembaga Bahtsul Masail.

Lebih lanjut, Kiai Danial yang juga aktif menulis buku itu berkeinginan ada subsidi silang diantara lembaga dan lajnah ditingkat cabang. Lembaga dan Lajnah yang punya banyak dana harus bisa mensubsidi yang lain agar semua lembaga dan lajnah bisa sama-sama mengadakan kegiatan.

“Lembaga dan Lajnah yang ada harus bisa sama-sama hidup dan mengadakan kegiatan karena hakekatnya mereka ? punya tujuan yang sama yaitu menegakkan ahlussunah wal jama’ah dan Nahdlatul Ulama” tegasnya.

Muskercab dan Pelatikan Lembaga dan Lajnah yang dilaksanakan bertepatan dengan peringatan tahun baru 1434 H tersebut disamping menjabarkan pokok-pokok program kerja hasil Konfercab beberapa waktu lalu juga akan menggodok sejumlah rekomendasi serta bahtsul masail diniyah.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Fahroji

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Budaya, Tegal, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock