Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam

Pekalongan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ulama asal Lebanon Syekh Usamah Abdurrazzaq Ar-Rifa’i menjadi pemateri dalam sesi pertama Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela, Rabu (27/7) Hotel Santika Pekalongan, Jawa Tengah. Dalam sesi ini, Syekh Usamah membawakan materi tentang Persatuan dan Resolusi Konflik Antar-Umat Islam.?

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Asal Lebanon Ini Sebut 5 Faktor Pemersatu Umat Islam

Adapun Ruang lingkup pembahasannya, yaitu konsep dan hukum syar’i persatuan antar-umat Islam, bahaya perpecahan dan menyikapi khilafiyah antar umat Islam, antisipasi terhadap faktor-faktor penyebab perpecahan, dan permusuhan antar umat Islam.

“Ada lima faktor persatuan bagi umat Islam saat ini. Pertama, dengan mengedepankan aspek-aspek ushul, tidak sibuk dalam perkara-perkara khilafiyah. Kedua, menumbuhkan rasa cinta tanah air,” ujarnya.

Ketiga, tambahnya, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam berbangsa. Keempat, semangat kebersamaan bersama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai kelompok terbesar umat Islam.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Kelima, meninggalkan kebiasaan menghakimi mereka yang berbeda paham dan aliran. Selain itu, saya mengusulkan agar kita selektif dalam penyiapan para dai (penyeru agama Islam). Harus ada kriteria yang jelas, berkompeten, terkualifikasi dengan sanad keilmuan yang sahih. Jangan sampai semua orang bebas bicara menyampaikan isi Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah tanpa ilmu,” papar Syekh Usamah.

Ratusan peserta konferensi yang memadati ruangan diskusi begitu antusias mengikuti pemaparan Syekh Usamah terkait problem dunia Islam saat ini. Hotel Santika Pekalongan merupakan tempat khusus diadakannya pemaparan materi dari para ulama internasional. Sedangkan penyampaian materi oleh ulama nasional digelar di Aula Gedung Djunaid Pekalongan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Amalan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 25 Januari 2018

Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing

Alkisah, suatu hari Sayyidina Umar bin Khattab berkeliling meninjau wilayah perkampungannya. Di tengah perjalanan, Umar melihat seorang budak kecil yang sedang menggembala puluhan kambing.

Dalam benaknya, Umar ingin menguji kepintaran budak kecil si penggembala kambing tersebut. Umar lalu mendekati budak itu dan mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah kambing yang digembala si bocah.

Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing

“Nak, kambingmu saya beli satu boleh?” tanya Umar mengawali perbincangannya.

“Saya ini budak, saya tidak memiliki kewenangan untuk menjual kambing ini. Semua kambing milik majikan saya tuan,”jawab si penggembala dengan kejujurannya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Meski milik majikanmu, kalau saya beli satu nanti kamu laporan kepada majikan bahwa kambing yang kamu gembala dimakan macan satu ekor,” timpal Umar menguji dengan pura-pura mengajari sikap berbohong.

Dalam pikiran umar, si budak ini pasti akan melepaskan satu ekor untuk dijual kepadanya. Namun tak diduga si Budak kecil ini memberikan jawaban lain.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Saya tidak mau melakukan itu tuan, karena semuanya nanti bisa kelihatan. Meski juragan (pemilikkambing) tidak tahu tetapi Allah akan mengerti dan mengetahui yang saya lakukan,” jawab si budak tegas.

Mendengar jawaban itu, Sayyidina Umar seketika menangis seraya menepuk-nepuk bangga di pundak punggung si budak. Dari peristiwa ini, Sayyidina Umar mendapat ilmu dari bocah penggembala.

Hikmah kisah ini adalah bahwa Allah itu Maha Tahu. Jadi manusia berbuat apapun meskipun tidak diketahui siapapun namun Allah tetap akan mengerti. Maka berbuatlah yang baik-baik supaya dicatat dan mendapat balasan kebaikan dari Allah di hari akhir kelak. (Qomarul Adib)

* Kisah ini disampaikan Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi yang menerangkan surat Al-Hadid dalam pengajian rutin Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Ahad (21/7).

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Hadits, Tokoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 19 Januari 2018

Ketika Gus Mus Jatuh Cinta

Bercerita tentang sosok Rais Am PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus), semua kalangan  tentu sudah tidak asing lagi. Namun di balik ketokohannya yang supel, mudah bergaul dengan siapa saja, Gus Mus mempunyai cerita unik.

Dalam acara selametan 70 tahun Gus Mus sabtu (6/9), pengunjung dikenalkan biografi pengasuh pesantren Raudhatut Thalibin Leteh Rembang melalui pemutaran film pendek berjudul Gus Mus Gus Mu.

Film itu menceritakan kisah perjalanan kiai yang budayawan ini mulai anak-anak hingga pada usianya yang ke-70. Ketika sampai pada perjalanan Gus Mus jatuh cinta, tidak banyak yang menduga dan mengundang tawa hadirin.

Ketika Gus Mus Jatuh Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gus Mus Jatuh Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gus Mus Jatuh Cinta

Hj Siti Fatma, istri Gus Mus dalam film tersebut mengungkapkan sikap Gus Mus yang terkadang nakal pada masa mudanya. Ternyata,  kisah cintanya Gus Mus kepada Hj Fatma sudah dikatakan sejak masih anak-anak.

 "Saya dulu itu sampai gemes ,masak saya kelas lima SD sudah dibilangin Gus Mus, besok kamu jadi istriku," tutur Hj Siti Fatma dalam film tersebut.

Sontak saja, cerita Hj. Siti Fatma tersebut disambut geerr dan tepuk tangan hadirin yang memenuhi gedung universitas PGRI Semarang. Gus Mus dan istrinya yang duduk berdampingan bersama Gubernur Ganjar Pranowo pun terlihat ikut ketawa. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Halaqoh, Pemurnian Aqidah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 10 Januari 2018

Moskow Larang Penjualan Alkohol Selama Idul Adha

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pemerintah Moskow melarang penjualan alkohol dekat masjid Soboraya dan Istoricheskaya selama peringatan Idul Adha, seperti dilaporkan, RIA Novosti news agency dari perwakilan prefektur pusat administrasi distrik ibukota Rusia.

Moskow Larang Penjualan Alkohol Selama Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)
Moskow Larang Penjualan Alkohol Selama Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)

Moskow Larang Penjualan Alkohol Selama Idul Adha

“Pelarangan penjualan alkohol akan berlaku di daerah masjid Soboraya and Istoricheskaya selama peringatan Idul Adha,” kata perwakilan prefektur. 

Di beberapa negara bagian Rusia, Idul Fitri dan Idul Adha telah menjadi bagian dari hari libur resmi umat Islam yang ditetapkan oleh pemerintah. Mahkamah Agung Rusia pada September 2011 menetapkan Idul Fitri dan Idul Adha menjadi hari libur bagi Muslim negara bagian Bashkiria.Sebelumnya, Mahkamah Agung Rusia melihat pemberlakuan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur dianggap melanggar konstitusi. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pemerintah Baskhiria mengirimkan kasasi ke mahkamah Agung setelah sebelumnya Idul Fitri dan Idul Adha dianggap bukan libur bagi Muslim, dan kasasi tersebut disetujui.

Muslim di Ufa ibukota Bashkiria, mengeluh harus tetap bekerja saat Idul Fitri dan Idul Adha, dan sejak keputusan, yang mengadopsi aturan yang diberlakukan di Baskhiria, tahun 1992 silam, Muslim kembali bisa menikmati hari besarnya. (islam.ru/mukafi niam) 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Foto:tempo.co

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama News, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 31 Desember 2017

PMII Ingin Kader Kaffah, Cetak Penggerak Dakwah

Bandung, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mendidik mahasiswa mahasiswi pada pemahaman organisasi yang “kaffah”. Juga mampu jadi penggerak dakwah dalam membumikan Islam Indonesia dengan nilai-nilai Ahlusunnah wal Jama’ah.

Aktivis PMII Rayon Dakwah dan Komunikasi Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung,? Fajri Idatul Akbar,? mengatakan hal itu dalam rangka Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba.) kegiatan tersebut adalah fase rekruitmen mahasiswa untuk menjadi anggota PMII.

PMII Ingin Kader Kaffah, Cetak Penggerak Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ingin Kader Kaffah, Cetak Penggerak Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ingin Kader Kaffah, Cetak Penggerak Dakwah

“Kaffah di sini adalah sempurna pemikiran dan ketakwaannya. Jangan hanya kritis, tapi juga transformatif kepada nilai-nilai nasionalis serta berpegang teguh pada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah,” terang Fajri kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama ketika ditemui di sekretariat PMII di Jalan Manisi, Bandung, Jawa Barat, Senin (16/9).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selain kaffah, lanjut Fajri, kegiatan Mapaba pun bertujuan membentuk kader yang ulil albab. Menurut dia, setidaknya ada tiga ciri, pertama manusia yang peka terhadap kenyataan.

Kedua, tambah dia, manusia yang mengambil pelajaran dari pengalaman sejarah, dan ketiga manusia yang giat membaca tanda-tanda alam yang kesemuanya dilakukan dalam rangka berzikir kepada Allah SWT.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Mapaba ini adalah gerbang awal dalam pengkaderan di PMII sebab masih ada gerbang selanjutnya,” kata fajri, yang juga ketua komisariat PMII Cabang Kabupaten Bandung.

Mapaba tersebut sudah digelar pada tanggal 13 sampai dengan 15 September lalu, di Gedung Local Education Center (LEC) Cicalengka bandung. Ratusan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari berbagai jurusan dan fakultas mengikuti kegiatan tersebut. (Bakti Habibie/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Lomba, Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 16 Desember 2017

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam

Sejarah Aceh tidak terlepas dari peran hebat para perempuan sehingga masyarakat Indonesia lekat dengan nama sejumlah pahlawan nasional perempuan lebih banyak dari Aceh. Jauh sebelum muncul pejuang-pejuang perempuan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, dan Cut Muetia, Aceh memiliki Sulthanah Shafiatuddin, pemimpin atau nakhoda perempuan pertama di Kerajaan Aceh Darussalam.

Kemunculannya sebagai pemimpin tidak lepas dari kontroversi di Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan pada 1496 itu, ketika sang suami, Sultan Iskandar Tsani mangkat. Saat itu sulit sekali mencari pengganti Sultan Iskandar Tsani karena dari keluarga terdekat tidak ada seorang laki-laki.

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)
Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam

Muncul pertimbangan untuk mengangkat sang istri, Ratu Shafiatuddin Syah sebagai Sulthanah di Kerajaan Aceh Darussalam yang dulu pernah dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), sang ayah Shafiatuddin Syah. Dia merupakan putri tertua Raja yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam di era 1636-1641 tersebut.

Sultan Iskandar Muda yang wafat pada 1636 tidak mempunyai putra mahkota dan digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani, menantunya. Iskandar Tsani adalah putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang (kini wilayah Malaysia) yang menikah dengan Shafiatuddin Syah setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang pada 1617.

Era Sultan Iskandar Tsani tidak lama, yaitu 1636-1641 yang juga merupakan tahun kematiannya. Situasi politik yang mendesak saat itu kemudian menempatkan Shafiatuddin sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam berikutnya dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Debat soal boleh tidaknya pemimpin perempuan dalam pemerintahan Islam ternyata sudah terjadi ketika Ratu Shafiatuddin diajukan untuk memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ada sejumlah kalangan yang tidak setuju atas naik tahtanya Ratu Safiatuddin. Terjadilah beberapa kali aksi pemberontakan juga upaya pengkhianatan untuk mendongkel kepemimpinan sang ratu.

Kondisi saat itu bertambah rumit bagi dirinya karena Sulthanah Shafiatuddin juga harus menghadapi ancaman eksternal seiring menguatnya pengaruh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) setelah berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal tahun 1641.

Berangkat dari penguatan adat istiadat

Sejumlah kalangan di Kerajaan Aceh Darussalam bukan tanpa pertimbangan matang dalam memilih Ratu Shafiatuddin. Dia dinilai pantas menduduki tahta kerajaan yang ditinggalkan suaminya karena dia memiliki visi cemerlang dalam menyebarkan Islam serta mengembangkan kebudayaan dan seni dalam masyarakat Islam di Aceh.

Potensi memimpinnya pun terbilang tak kalah dengan raja-raja sebelumnya yang notabene seorang laki-laki. Terbukti ketika tahun 1639 terjadi Perang Malaka, Sulthanah Shafiatuddin membentuk sebuah barisan perempuan untuk menguatkan benteng istana. Banyak kebijakan bernilai positif yang dilakukan oleh ratu yang mempunyai nama asli Putri Sri Alam ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia terbilang sukses membangkitkan kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang mengalami periode gemilang pada era kepemimpinan sang ayah, Sultan Iskandar Muda, dan sempat redup semasa dipimpin oleh sang suami, Sultan Iskandar Tsani.

Salah satu yang terkenal adalah tentang tradisi pemberian hadiah berupa tanah untuk pahlawan perang. Masa pemerintahan Sulthanah Shafiatuddin pun dinilai sangat bijak, di mana menyoal hukum serta adat istiadat dijalankan dengan baik. Dari visi infrastruktur adat istiadat inilah muncul pengembangan seni, budaya, dan ilmu pengetahuan di era kepemimpinanya.

Selain itu, Ratu Shafiatuddin berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga. Tak hanya itu, di masa kekuasaannya, Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan seperti dijelaskan sebelumnya.

Sulthanah Safiatuddin bertahta selama 34 tahun hingga wafat pada 1675. Sepeninggal sang ratu pertama itu, Kesultanan Aceh Darussalam masih dipimpin oleh para perempuan tangguh sampai 24 tahun setelahnya, yaitu berturut-turut Sulthanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678), Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), sampai masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699).

Perihal pengangkatan ketiga perempuan tersebut, uniknya hal itu merupakan gebrakan baru dalam kerajaan Islam. Dikarenakan Sulthanah Shafiatuddin tidak memiliki keturunan, sang ratu akhirnya mengangkat tiga orang perempuan tersebut untuk meneruskan tahtanya. Ketiga perempuan itu justru bukan berasal dari keturunan ningrat atau bangsawan Aceh, melainkan kalangan biasa. Setelah Shafiatuddin, Aceh pun dipimpin oleh ketiga sosok perempuan itu.

Kendati tidak semua ratu sanggup membawa Kesultanan Aceh Darussalam merasakan era emas seperti pada masa Sultan Iskandar Muda dan Sulthanah Shafiatuddin, Serambi Mekkah yang menerapkan syariat Islam pernah memiliki rekam sejarah gemilang di bawah kepemimpinan perempuan. Ini merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Bahkan, Aceh punya banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin perempuan yang tidak melulu bertahta dengan label ratu atau sulthanah. Para wanita hebat asli tanah rencong ini bahkan tampil sebagai panglima perang dan memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, yakni Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, hingga tentunya Cut Nyak Dien yang masyhur itu.

Seorang penulis 

Pada masa kepemimpinan Sulthanah Safiatuddin perkembangan sastra bisa dikatakan sangat pesat. Hal ini tidak lain karena sang ratu merupakan sosok yang cinta terhadap bacaan. Dia banyak mengarang sajak dan cerita-cerita pendek.

Wujud nyata yang telah dilakukan oleh Sultanah Safiatuddin untuk mencerdaskan rakyatnya ketika itu adalah mendirikan perpustakaan. Tak banyak pemimpin yang perhatian dengan hal-hal semacam ini, namun Sultanah Safiatuddin melakukannya dengan sangat baik.

Pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin, perpustakaan negara didirikan dan diperluas. Selain itu, sang ratu juga memberikan dukungan penuh kepada para sastrawan dan kaum intelektual untuk mengembangkan keilmuannya. 

Di masa-masa inilah lahir para cendekiawan macam Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf Singkel. Ketiga orang yang disebut terakhir itu merupakan para ulama yang berhasil meletakkan pondasi kuat di bidang ilmu keislaman melalui sejumlah karya-karya monumentalnya.

Hamzah Fansur banyak melahirkan syair dan prosa, di antaranya Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung pipit, Syair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir. Sedangkan prosa yaitu Asrar al-Arifin dan Sharab al-Asyikin.

Nuruddin Ar-Raniry mengarang Kitab Bustanus Salatin (Taman Raja-raja), dan Kitab Shiratal Mustaqim (jalan yang lurus). Sedangkan Abdurrouf Singkel menulis Mirat al-Thullab fî Tasyil Mawaiz al-Badîrifat al-Ahkâm al-Syariyyah li Malik al-Wahhab (karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sulthanah Shafiatuddin) dan Kitab Tarjuman al-Mustafid, merupakan naskah pertama Tafsir Al-Quran berbahasa Melayu.

Meski tidak banyak arsip yang mencatat sejarah tentang Sulthanah Shafiatuddin, tapi usahanya dalam memimpin kerajaan besar dalam sejarah Islam di Nusantara patut jadi teladan. Tercatat selama 58 tahun atau setengah abad lebih semenjak Sulthanah Shafiatuddin, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh para perempuan atau sulthanah. 

Saat ini, nama Sulthanah Shafiatuddin diabadikan menjadi nama sebuah taman budaya di Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Taman ini menjadi pusat seni dan kebudayaan dari 23 kebupaten/kota di Aceh yang mempunyai ciri khas masing-masing. Setiap lima tahun sekali, di taman seluas 9 hektar ini diadakan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang menampilkan beragam seni, budaya, kuliner, musik, dan lain-lain dari masing-masing kabupaten/kota. (Fathoni Ahmad)

*) Diolah dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ubudiyah, Pahlawan, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 14 Desember 2017

Diberitakan Dukung Full Day School, PBNU: Itu Menyesatkan

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. “Judul beritanya menyesatkan”, itulah tanggapan Ketua PBNU H Robikin Emhas dalam menanggapi pemberitaan yang beredar bahwa “PBNU Akhirnya Dukung Kebijakan Full Day School” oleh media online viva.co.id. Terakhir diketahui, judul berita tersebut telah diubah oleh Viva sendiri.

Menurut Robikin, Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 adalah tentang Hari Sekolah yang di dalamnya mewajibkan penyelenggaraan lima sekolah hari dalam sepekan.

Diberitakan Dukung Full Day School, PBNU: Itu Menyesatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Diberitakan Dukung Full Day School, PBNU: Itu Menyesatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Diberitakan Dukung Full Day School, PBNU: Itu Menyesatkan

“Sedangkan Perpres adalah mengenai Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penyelenggaraan PPK dilakukan dalam enam hari sekolah. Itu poin utamanya. Namun bisa dilakukan dengan lima hari sekolah asal jam pulang sekolah tetap siang pada 12.00-13.00,” jelas Robikin, Selasa (5/9) di Jakarta.

Dalam hal PPK dilaksanakan dengan lima hari sekolah, lanjutnya, maka sejumlah syarat harus dipenuhi. Syarat itu meliputi proses dan forum pengambilan keputusannya hingga syarat objektif yang harus dipenuhi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sesuai janji Presiden Jokowi, Perpres PPK akan menganulir semua peraturan perundang-undangan yang mengatur hari sekolah yang substansinya bertentangan dengan isi Perpres.

Karena menurutnya, lima hari sekolah yang diatur Permendikbud 23/2017 bersifat imperatif (wajib), sedangkan poin utama penyelenggaraan PPK adalah enam hari sekolah.?

Maka, imbuhnya, jika Perpres diterbitkan, secara hukum Permendikbud Nomor 23 Tahun 2107 dengan sendirinya tidak berlaku.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Dengan demikian, tidak mungkin PBNU mendukung Full Day School. Itu alasan mengapa judul berita itu saya katakan menyesatkan,” tandas Robikin.





Poin menyesatkan lainnya dalam berita tersebut yaitu ketika PBNU dinilai menutup rapat-rapat pintu dialog dengan pemerintah soal kebijakan lima hari sekolah tanpa dijelaskan alasannya.

Padahal, PBNU selama ini menutup pintu dialog dengan pemerintah soal kebijakan lima hari sekolah lantaran ajakan diskusi bukan dalam konteks dengar pendapat (hearing), melainkan pada pembahasan kebijakan yang sudah jadi.? (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Daerah, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 22 November 2017

Alternatif Bacaan Doa Ifititah

Do’a Iftitah adalah doa yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat al-Fatihah. Doa Iftitah dalam shalat hukumnya sunnah.

Jika seseorang membaca doa Iftitah maka ia mendapatkan kesempurnaan dan tambahan pahala. Kalaupun ditinggalkan juga tidak mengurangi keabsahan shalat tersebut.

Do’a iftitah sendiri sebagaimana yang dibaca Rasulullah saw semasa hidupnya ada beberapa versi. Sebagaimana terdapat dalam Kitab Subulus Salam Syarah Bulughul Maram Karya Imam Ash-Shan’ani, berikut adalah hadits-haditsnya:

Alternatif Bacaan Doa Ifititah (Sumber Gambar : Nu Online)
Alternatif Bacaan Doa Ifititah (Sumber Gambar : Nu Online)

Alternatif Bacaan Doa Ifititah

Pertama adalah riwayat dari Ali Bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah setiap kali shalat selalu membaca doa ini,

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمآوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

Kedua adalah Hadits riwayat Abu Hurairah, bahwa setelah Rasulullah takbiratul ihram, beliau berhenti sejenak sebelum membaca ayat alquran, lalu Abu Hurairah bertanya apa yang dibaca Rasulullah, beliau menjawab dengan membaca doa ini,

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِكِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Ketiga, adalah riwayat Khalifah Umar Bin Khattab, beliau berdoa,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

Demikianlah beberapa doa iftitah yang dibaca oleh Rasuullah saw di dalam shalatnya. Dan secara syariat kitapun dianjurkan untuk memilih salah satunya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Lomba, Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 05 November 2017

GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim

Pasuruan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur bekerja sama dengan Sharia Business Consulting (SBC) Sidogiri mengadakan pelatihan Pendirian dan Pengelolaan BMT di Gedung SBC Sidogiri Kota Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (28/05).

Dalam sambutannaya Ilham Wahyudi, Direktur SBC Sidogiri berharap kegiatan ini bisa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader GP Ansor untuk mengelola dan mengembangkan koperasi berbasis syariah.

GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim

"Ansor hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan solusi keuangan anggota dengan menumbuhkan koperasi syariah, pelatihan ini tidak hanya sekadar sharing seputar mendirikan saja, melainkan bagaimana mengelola secara istiqamah, amanah, dan Profesional nantinya," kata pengurus PP GP Ansor ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

GP Ansor di semua tingkatan diharapkan mampu mengembangkan ekonomi Islam melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). SBC Sidogiri siap membantu dalam pelatihan dan pendampingan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Jumlah peserta pelatihan sebanyak 60 kader perwakilan dari PC GP Ansor se-Jatim diharapkan benar-benar bisa merealisasikan ilmu dan pengalaman di tengah-tengah masyarakat dan jangan hanya sekadar mengikuti pelatihan saja," kata Syukron Dosi, pengurus PW Ansor Jatim.

GP Ansor Jatim mempunyai misi meneruskan sejarah Nahdlatut Tujjar dan jaringan keuangan Islam yang telah diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama supaya perekonomian umat makin mandiri, kuat dan besar. "Hingga, manfaatnya dirasakan oleh umat manusia." Harap Syukron.

Adapun pemateri pelatihan seluruhnya dari BMT UGT Sidogiri Pasuruan, antara lain KH Mahmud Ali Zein, Ketua Pengurus BMT UGT Sidogiri dan beberapa Direksi BMT UGT yang lain. Pelatihan ini adalah langkah awal dari jalinan kerja sama antara GP Ansor Jatim dengan BMT Sidogiri Pasuruan, sebagai bentuk upaya Ansor untuk mendayagunakan LKMS GP Ansor bagi anggota dan masyarakat, khususnya yang bergerak di sektor riil dan keuangan. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ahlussunnah, Kajian Islam, Ubudiyah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 07 Oktober 2017

Rukyat itu Ilmiah

Semarang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Rukyat dalam pengertian pengamatan terhadap benda-benda langit, termasuk bulan (hilal) sudah ribuan tahun dilakukan. Hasil pengamatan demi pengamatan dicatat dan dirumuskan dalam bentuk ilmu yang kemudian melahirkan ilmu astronomi dan ilmu hisab (practical astronomy).

“Jadi ilmu hisab berasal dari pengamatan, penelitian dan observasi atau rukyat. Dengan demikian rukyat itu ilmiah dalam perspektif ilmu pengetahuan,” kata Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ma’ruf Amin kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama di sela-sela acara Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Nasional Pelaksana Rukyat NU di komplek Masjid Agung Semarang Jawa Tengah, Senin (18/12).

Beberapa pengamat berkomentar bahwa rukyat bil fi’li (pengamatan bulan secara langsung) untuk menentukan awal bulan Hijriyah tidak diperlukan lagi diperlukan karena sudah ada berbagai perhitungan pergerakan benda langit langit yang semakin akurat. Menurut, Kiai Ma’ruf Amin, fakta itu tidak akan menghilangkan fungsi pengamatan benda-benda langit karena kemungkinan penemuan fakta baru akan terus terbuka.

Rukyat itu Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyat itu Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyat itu Ilmiah

“Yang palig penting memang ini adalah perintah dari Nabi Muhammad SAW. Ada unsur Ibadahnya. Jadi Nahdlatul Ulama akan terus melaksanakan rukyat ini sebagai penentu utama penentuan awal Syawal,” kata Kiai Ma’ruf Amin.

Buku Pedoman

Untuk melakukan rukyatul hilal para pengamat dipandu dan dibantu oleh disiplin ilmu hisab sehingga posisi dan kedudukan hilal bisa dengan mudah. Beberapa benda langit mirip bulan yang kemungkinan akan mengganggu pengamatan dapat segera dibedakan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama pada 1993 telah menerbitkan buku pedoman pelaksanaan hisab dan rukyat di lingkungan Nahdliyyin yang merupakan hasil kesepakatan para ahli falak dan astronomi di lingkungan NU. Beberapa kitab dengan metodenya yang berbeda-beda telah? diserasikan untuk memperoleh tingkat akurasi yang lebih memadai kemudian distandarkan.

Kasus perbedaan penentuan awal syawal 1427 H kemarin antara PBNU dan PWNU Jawa Timur dipastikan karena PWNU Jawa Timur memasalahkan kembali metode hisab penyerasian dan kembali menggunakan beberapa kitab pedoman lama. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Habib, Kajian Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 09 September 2017

Antisipasi Kenakalan Remaja, Aplikasi Khidmat IPPNU

Tegal, Internet Marketer Nahdlatul Ulama 

Dihadari 100 peserta lebih IPPNU Kecamatan Jatinegara Kabupaten Tegal menggelar seminar Kenakalan Remaja dan seminar Kesehatan Reproduksi Wanita. 

Antisipasi Kenakalan Remaja, Aplikasi Khidmat  IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi Kenakalan Remaja, Aplikasi Khidmat IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi Kenakalan Remaja, Aplikasi Khidmat IPPNU

Hal itu dilakukan sebagai program khidmat IPNU dan IPPNU untuk mengantisipasi kenakalan remaja dan pengaruh buruk dari kesehatan peproduksi wanita. 

Seminar ini dilaksanakan pada beberapa waktu lalu itu, di Gedung MWC NU Kecamatan Jatinegara. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dan selesai pada pukul 12.30 WIB, dengan tema “Cantik Dari Dalam Dan Cantik Dari Luar Serta Bebas Penyakit”. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Acara ini diikuti oleh seluruh Pimpinan Ranting IPPNU Kecamatan Jatinegara dan beberapa perwakilan dari PAC IPPNU Kecamatan Bojong.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kegiatan itu juga dimaksudkan untuk memperingati hari lahir  IPPNU yang jatuh pada tanggal 2 Maret namun karena berbagai pertimbangan panitia menyelenggarakan seminar tersebut beberapa hari kemudian. 

Ketua PAC IPPNU Jatinegara Ani Daniati mengatakan tujuan diselenggarakannya seminar adalah selain sebagai program kerja PAC IPPNU Kec. Jatinegara juga agar generasi muda-mudi menjadi pribadi yang berakhlakul karimah dan tetap gaul dan tidak mudah terjerumus oleh pergaulan-pergaulan yang menjurus ke arah kenakalan remaja serta mengerti kesehatan wanita yang harus dijaga sejak dini.

“Dengan diadakannya seminar ini diharapkan seluruh remaja putri dibawah naungan PAC IPPNU Kec. Jatinegara dapat memetik manfaat bahwa peserta dapat lebih mawas dari pengaruh pergaulan yang keluar dari koridor Islam, mampu memupuk akidah islamiah sebagai benteng dalam segala pergaulan, mempunyai pengetahuan kesehatan wanita serta bersikap tetap terbuka terhadap kemajuan teknologi,” harapnya.

Hadir juga mengisi Asisten II bupati Agus Subagyo. Dalam pandangannya remaja dan kenakalan sangat tergantung pada pergaulan, untuk itu dia mengharap agar para remaja bisa menjaga diri dengan baik. 

Hadir juga dalam kegiatan itu Kanit Bimas Polsek Jatinegara  Wahyu Hidayat, Ketua MWC NU Jatinegara  H Muntarip, dan beberapa pembina IPPNU Jatinegara.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz 

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Quote, Kajian Islam, Tegal Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 20 Juni 2017

Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Qori internasional Muammar ZA memimpin pembacaan shalawat badar pada Istighotsah Menyambut Ramadhan 1436 H dan Pembukaan Munas Alim Ulama" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (14/6).

Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin

Muammar memandu pembacaan shalawat khas NU itu selepas melantunkan ayat suci al-Quran. Suara Muammar yang melengking disambut antusias puluhan hadirin yang memadati Masjid Istiqlal.

Hingga berita ini ditulis, acara istighotsah sedang berlangsung dengan dipimpin Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tampak di atas panggung antara lain Presiden RI Joko Widodo, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketum PP GP Ansor Nusron Wahid, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti, serta sejumlah pejabat dan para kiai lainnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Secara terpisah, Muammar menyatakan kegembiraannya dengan acara istighotsah NU. "Apalagi dengan melibatkan masyarakat sebanyak ini. Luar biasa," tuturnya.

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama tahun ini mengusung tema "Memelihara Tradisi Rohani, Menjaga Keutuhan Negeri". Sebelumnya, forum tertinggi setelah Muktamar NU ini juga digelar 2014 lalu. (Mahbib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Bahtsul Masail, Kajian Islam, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 11 Februari 2017

SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi

Blora, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sekolah Menengah Kejuruan NU Kunduran Blora Jawa Tengah, melakukan terobosan baru yaitu membuka jurusan Farmasi. Jurusan tersebut untuk menampung lulusan SMP/MTs yang ada di wilayah Kabupaten Blora bagian barat, Kabupaten Grobogan bagian timur dan sebagian wilayah Kabupaten Pati bagian selatan.

”Insya Allah, tahun ini SMK NU Kunduran bisa membuka jurusan Farmasi,” ujar Kepala SMK NU Kunduran, Drs Mohadi Said MpdI.

SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK NU Kunduran Buka Jurusan Farmasi

Mohadi, yang juga alumni pascasarjana Universitas NU Surakarta itu menambahkan, sebagai langkah awal pendirian jurusan baru tersebut, pekan lalu, pihak Dinas Pendidikan Blora sudah melakukan visitasi ke lapangan. Diharapkan, dalam waktu yang tidak lama lagi, izin operasional sudah bisa dikeluarkan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, jurusan baru di bidang farmasi itu sebagai upaya menambah kemampuan warga yang ingin mempelajari ilmu farmasi. Rintisan menambah jurusan baru tersebut sudah menjadi keinginan yayasan sejak lama. Namun, karena berbagai pertimbangan, keinginan itu baru mulai diwujudkan tahun ajaran baru ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dikatakan, SMK NU Kunduran yang dipimpinnya itu, kini memiliki siswa hampir 700 orang. Sehingga dengan penambahan jurusan baru tersebut, pihaknya berharap minat masyarakat yang akan menyekolahkan putra-putrinya ke SMK NU Kunduran akan makin bertambah.

SMK NU Kunduran, sebelumnya sudah memiliki beberapa jurusan. Seperti jurusan Sekretaris atau Administrasi Perkantoran. Kemudian jurusan Teknik Otomotif Sepeda Motor dan Teknik Komputer Jaringan.

"Dengan penambahan jurusan Farmasi, mudah-mudahan minat masyarakat yang ingin bersekolah di SMK NU Kunduran makin meningkat." (Sholihin Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 16 November 2016

Ragam Cabang Dimusabaqahkan MTQ JQH NU

Pontianak, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Beragam cabang dilombakan pada Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQ) VII Jam’iyyatul Qura’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Pontianak, Kalimantan Barat Selasa-Ahad (3-8/7).

Cabang-cabang itu diikuti peserta dengan kategori dewasa putra putri dengan batasan usia maksimal 30 tahun, remaja maksimal 25 tahun, dan anak-anak maksimal 15 tahun.

Ragam Cabang Dimusabaqahkan MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ragam Cabang Dimusabaqahkan MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ragam Cabang Dimusabaqahkan MTQ JQH NU

Di antara cabang-cabang itu adalah tilawah. Peserta akan membacakan qiraat sab’ah mujawwad memilih satu riwayat dari tiga riwayat Qalun, Warsy, atau Khalaf. Musabaqah ini bertempat di Gedung Wanita Kartini, Asrama Haji, gedung Korpri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tahfizh Al-Quran putra-putri golongan 30 juz plus membaca Binnadlar Riwayat Qalun Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah. Golongan 15 juz, 5 juz. Tempatanya di aula Bukopin A, B, dan C. 

Musabaqh Tafsir Al-Quran bahasa Arab kategori putra-putri bertempat di aula Dinkes 1. Musabaqah Tafsir Al-Quran bahasa Indonesia Putra-putri berlangsung di aula Dinkes 2. San sementara musabaqah Qiroatul Kutub di aula Dinkes 3.

MTQ Nasional VII ini berlangsung dari Rabu-Sabtu (4-7/7). Kemudian akan digelar MTQ Internasinal I pada  Ahad (8/7) bertempat di aula Asrama Haji dan gedung Kartini. MTQ ini akan memusabaqahkan dua cabang, yaitu tilawah dewasa dengan memakai salah satu riwayat dari imam 7 (tujuh) selain riwayat Hafsh, dan tahfizh 30 Juz plus binnazhar riwayat Qalun surah al-Baqarah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Redaktur :  Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Makam, Kajian Islam, IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 14 Januari 2016

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap

Cilacap, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ribuan orang nampak mengantar pemakaman KH Syahid Muchson atau yang biasa di sapa Gus Sahid, Jumat (3/5). ? Meninggalnya Ketua PCNU Kabupaten Cilacap Jawa Tengah ini memang mengejutkan banyak orang.

Pasalnya setelah mengalami sakit gangguan paru, ulama yang dikenal pekerja keras dan salah satu pendiri KBIH NU Cilacap ini dikabarkan mulai membaik kesehatannya. Namun tiba-tiba ulama yang pernah tinggal di Mekkah belasan tahun itu mengalami kritis dan akhirnya meninggal dunia, Jum’at (3/5) pukul 11.30.

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Antar Jenazah Ketua PCNU Cilacap

Sontak kabar meninggalnya Ketua PCNU Cilacap periode 2012-2017 yang belum sempat dilantik menjadi kabar duka bagi warga Nahdliyin di Kabupaten Cilacap. Ribuan orang pun datang ke rumah duka di Komplek PP AL Ihya Ulumaddin Kesugihan Cilacap.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Bahkan pelayat yang datang dari berbagai kalangan seperti ulama, tokoh masyarakat maupun pengjrus NU dari berbagai tingkatan yang ? sangat mengenal Gus Sahid. Salah satu tokoh yang cukup kehilangan adalah pengasuh PP Ail Ihya Ulumadin KH Hasbullah Badawi BA.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya sejak kembali dari Mekkah kiprah Gus Sahid memang cukup besar baik bagi PP AL Ihya Ulumadin maupun PC NU Kabupaten Cilacap. Hal itu juga diakui oleh kakaknya KH Suhud Muchson Lc yang mengakui sejak bersama-sama mendirikan KBIH NU.

“Waktu itu NU Kabupaten Cilacap ingin membuat KBIH namun tidak jalan-jalan, nah saya dengan Mbah Su’ada (Rois Suriyah) kemudian melihat potensi yang dimiliki adik saya itu sehingga kita minta untuk pulang ke Cilacap,” kata dia.

Di bawah kendalinya KBIH NU Cilacap langsung mendapat respon dari para jamaah yang mempercayakan bimbingannya kepada KBIH NU. Lantas pada periode ? 2007-2012 ? Gus Sahid juga masuk dalam struktur PCNU menjadi wakil ketua.

Satu periode masuk dalam struktur pengurus PCNU Cilacap ternyata membuat pengurus MWC dan Ranting NU se-Kabupaten Cilacap mempercayakan PCNU Cilacap dibawah pimpinnya. Sayang sejak itu pula ulama yang sudah 28 kali naik haji ini mengalamisakit hingga akhirnya meninggal.

“Saya tidak mengira jika semangat yang begitu membara ternyata telah mengalahkan rasa sakit yang diderita Gus Sahid hingga Allah SWT memanggilnya,” kata M Taufiq Hidayatullah SAg salahsatu tokoh muda Nu Cilacap yang mengenal dekat Gus Sahid.

Hal yang sama dikatakan oleh Ketua DPC PKB Kabupaten Cilacap H Akhmad Muslikhin SH MSi yang mengaku Gus Sahid sebagai sosok yang mampu memberikan semangat harmonisasi sehingga NU dan PKB di Kabupaten Cilacap mulai membangun kembali politi kebangsaan.

“Sayang beliau telah wafat dan membawa sebagain semangatnya yang tetap menyala diakhir hayatnya dan sebagian yang sudah ditorehkan harus kami lanjutkan sebagai wujud penghargaan kepada Gus Sahid atas jasa-jasanya,” kata dia.

KH Syahid Muchson meninggalkan seorang istri Ny Uun Unaisyah sahid Al Hafidzoh serta tiga orang putra Naely, Awwad dan ‘Affan Hafidz. Meski sedih harus melepas orang yang dicintainya namun apa yang telah diwasiatkan membuat putra-putri Gus Sahid terlihat tabah.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Daryanto?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Islam, Amalan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 03 September 2015

Jokowi di Mata Kiai Lokal

Oleh Irfan Nuruddin

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni Pondok? Langitan, perihal sosok Jokowi,? bagaimana keislamannya dan kiprah dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu shohih, tsiqoh, aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari sumber yang tsiqoh, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor Jokowi.

Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi di Mata Kiai Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi di Mata Kiai Lokal

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad? 22 Juni di ndalem beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

? “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo sae, saestu sae (baik, benar-benar baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq, (Pengasuh PP Al Muayyad).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat, adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil mantu oleh orang-orang? yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak tho Gus?” jawab beliau lugas.

? ? “Tapi kulo gih tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain, hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe… Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau sengau menahan isak.

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba mengiris-ngiris kalbu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut. Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih masih dan dasyhat, sehingga pada waktu ? Jokowi sowan ke Pak Dul Kareem (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti itu, tetapi menawi kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),”? kata Jokowi ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur, setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin. Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN dan PKS-mambu-mambu sitik (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

? “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat Islam subtantif Gus, tur yo merakyat tenan, umat Islam di Solo itu kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi ? Pak Jokowi untuk mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional, minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan? dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi rakyat kecil di sekitarnya.

? “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak ? salah untuk berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan marak… podo ditumpakke? jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek Wali Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa dihargai),” ? cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan semrawut, dan? sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau dhohiron wa bathinan, peringatan hari besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir dan mengkhatamkan Al Qur’an.

? “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, kulo ngiro niku isinya arto Gus, tapi jebule stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000 stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi adalah salah satu pembinanya.

? “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados ketua PCNU Solo, jadi gih saget bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem dengan antusias.

? “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal seperti itu, nyuruh ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi ngangkati gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu, aku lupa.

? Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya dari keluarga muslim yang baik, ? yang juga telah melakukan rukun Islam kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta, dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu, Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya. ? Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah ? “Akulah yang paling Islam, Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo yang salah, kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan sampluk. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan, dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

Wallohu a’lam bisshowab.

Irfan Nuruddin, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kiai, Kajian Islam, Amalan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 14 Oktober 2014

Pelajar NU Wanasari Ajak Adik Kelas Lanjutkan Sekolah

Brebes, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Jajaran Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Putri NU Wanasari, Kabupateb Brebes, Jawa Tengah menyambangi adik adik pelajar NU untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hanya dengan sekolah, derajat keilmuan anak-anak muda NU bisa terangkat.?

Pelajar NU Wanasari Ajak Adik Kelas Lanjutkan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Wanasari Ajak Adik Kelas Lanjutkan Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Wanasari Ajak Adik Kelas Lanjutkan Sekolah

“Kami mengajak kader IPNU-IPPNU se-Kecamatan Wanasari yang kini duduk di kelas 9 SMP/MTS untuk bisa meneruskan jenjang pendidikan ke sekolah,” ujar ketua PAC IPNU Wanasari Edi Purwanto kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, di kantor MWCNU Wanasari, Kamis (9/03).

Namun demikian, lanjut Edi, dirinya tetap menekankan anak anak NU untuk melanjutkan ke sekolah yang masih di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif NU. Salah satu contohnya melanjutkan ke SMK Maarif NU 01 Wanasari, jalan raya Pesantunan Sawojajar Kecamatan Wanasari. Sosialisasi tersebut bertujuan agar siswa kelas 9 SMP/MTs ? tidak salah pilih sekolah saat melanjutkan ke SLTA.

Perkembangan zaman, kata Edi, tidak harus bersekolah di sekolah umum karena tidak menjamin akan keberhasilan Anak-anak bangsa. Untuk itu, PAC IPNU-IPPNU Wanasari selalu mengawal kader-kader NU agar tidak terjerumus dengan sekolah umum saja. “Kita punya SMK Maarif NU 01 Wanasari yang sudah pasti NU, masa pilih yang lain?" tegasnya.

Ketua panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMK MAarif NU 01 Wanasari Ronik mengaku bangga dengan aktivitas pelajar NU yang tergabung dalam IPNU-IPNU yang tengah membantu sosialisasi sekolahnya.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Kami sangat berterima kasih, anak-anak muda NU saling memperhatikan adik-adiknya dengan mengawal ke SMK Maarif NU 01 Wanasari,” ucapnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 13 Februari 2014

Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax

Jakarta,Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Berita bohong atau dikenal hoax saat ini hampir meliputi beragam sendi kehidupan, mulai bisnis, kesehatan, pendidikan, politik, bahkan urusan agama. Hoax sengaja disebar pihak tertentu untuk dipercaya penerimanya. Biasanya tersebar luas melalui media sosial.

Hal itu dikatakan Ketua Litbang Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdlatul Ulaa (LTNNU) Malik Mughni di sela diskusi dengan peserta menulis Internet Marketer Nahdlatul Ulama di kantor PBNU (12/5).

Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabayun Kunci Sukses Lawan Hoax

Apalagi ketika menjelang pemilihan umum baik pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden, hoax, semakin marak.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Tujuannya tidak lain untuk menjatuhkan dengan menggunakan berita bohong. Selain itu hoax juga sering digunakan untuk menebarkan kebencian dalam satu golongan dan pengagungan kepada golongan lain,” jelasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Agar terhindar dari hoax, menurut Malik, adalah melakukan tabayun atau konfirmasi. Artinya kita tidak begitu saja percaya dengan berita yang diperoleh sebelum memastikan kebenarannya. Terutama berita dengan sumber yang tidak jelas.

Malik juga menambahkan, saat ini NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sering dihantam hoax dari pihak-pihak tertentu.

“Tentu saja itu sangat merugikan NU. Parahnya, media mainstream juga ikut termakan hoax,” kata Malik menegaskan.

Untuk menangkal hoax terhadap NU, LTNNU menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Kerja sama itu melibatkan para peneliti, pendidik, organisasi kepemudaan, pengamat, dan jurnalis di media-media mainstream. Mereka akan dipertemukan LTNNU pada konsolidasi nasional untuk mempertemukan gagasan mengimbangi media-media radikal dan berita-berita hoax.

“Kenapa itu dilakukan? Karena yang hoax itu tidak sesuai dengan ajaran Islam,” pungkasnya. (Mistra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 23 Desember 2013

Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban

Oleh Aswab Mahasin

Setiap tahun seluruh umat Islam di dunia merayakan hari raya Idul Adha, biasa kita kenal juga hari raya Qurban. Peristiwa ini menjadi sebuah gerakan sosial luar biasa, di Indonesia sendiri kalau kita sensus jumlah qurban Kambing/Sapi, mungkin jumlahnya bisa puluhan ribu, atau ratusan ribu, atau bahkan jutaan (saya belum menemukan data yang pasti), yang jelas sangat banyak—karena penyembelihan hewan qurban hampir dilakukan dari mulai mushola tingkat RT sampai Presiden.

Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Manusia adalah Makhluk Ber-Kurban

Magnet yang ditularkan luar biasa, semua lapisan masyarakat (bawah – atas) menikmati daging qurban. Sesungguhnya, dalam hal ini dimensi apa yang ingin disampaikan, khususnya dalam relasi umat manusia?

Menurut Pakar Tafsir, Muhammad Quraish Shihab dalam wawancaranya bersama Republika, tertanggal 18 Desember 2008, beliau menyampaikan, “Qurban adalah jenis ibadah paling tua di dunia. Filosofi dari peristiwa penyembelihan Ismail putra Nabi Ibrahim, adalah kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Ada dua hikmah dari peristiwa ini, pertama, jangan pernah menganggap sesuatu itu mahal untuk mempertahankan dan menyemarakan nilai-nilai Ilahi, dan kedua, di sisi lain jangan sekali-kali melecehkan manusia, megambil hak-hak manusia karena manusia itu makhluk agung yang dikasihi Allah. Karena kasihnya Allah kepada manusia, maka digantilah Ismail dengan seekor binatang”.

Dalam hal ini yang ingin saya kupas adalah dimensi manusia sebagai makhluk spiritual dan sosial (sebagai implementasi dari makhluk berkurban). Yang mana pada setiap diri manusia Allah SWT telah menginstal softwere/dimensi ketuhanan/dimensi kemanusiaan.

Saya teringat karya Ibn Tufail, Hayy ibn Yaqzon yang menyiratkan, “Perjalanan seorang manusia menggali pengalaman spiritualnya. Mencari jalan yang benar dengan berbagai macam tindakan dan pengamatan. Hayy adalah manusia yang hidup di hutan belantara, dan diasuh oleh Rusa, ia pun sebagai manusia yang berakal, berpikir, dan bernurani (mempunyai jiwa), mencoba menemukan kebenaran sejati melalui penghlihatannya, pendengarannya, rasionya, dan jiwanya. Hayy mengamati berbagai macam kebiasaan, binatang, alam, tumbuhan, perubahan cuaca, dan berbagai macam gejala. Dan setelah melakukan perenungan panjang, akhirnya ia menemukan Sang Kebenaran, Esensi dari segala Esensi.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Membaca cerita tersebut, banyak hal menarik, seorang manusia dalam asuhan rusa melakukan proses pencarian terhadap Sang Penciptanya. Tidak lain itu adalah dorongan spiritual manusia sebagai homo spiritus. Akan tetapi, dimensi spritual itu tidak serta merta muncul dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses kesadaran manusia. Realitas kehidupan dengan berbagai atributnya terkadang menjadi tabir, menghabat potensi kebaikan kita.

Allah SWT telah memberikan gambaran besar dalam al-Qur’an Surat Asy-Syams [91], ayat 7-10, “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (perilaku) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Dengan demikian, Allah SWT telah memberikan pelajaran/pilihan dari dua sudut yang berbeda, ketakwaan dan kefasikan (kejahatan). Sesungguhnya, semua itu terbentuk oleh bagaimana tindakan manusia dalam menjalani proses hidupnya. Apakah ia tercemari oleh virus kebaikan, atau ia memasang anti virus sebagi penghalau keburukan yang akan memengaruhinya.?

Kalau kita kaji lebih luas lagi mengenai makna spiritual, tugas spirtual manusia sejatinya mengatasi kesombongannya. Karena hakikat kenyataan, hubungan manusia tidak hanya berhenti dengan Tuhan, melainkan dengan seluruh ciptaanNya. Usaha spritual ini, yang dilakukan oleh setiap manusia sebagai strategi bagi perubahan sosial ke arah lebih baik. Artinya, kegiatan spiritual manusia harus mengisi sebagian besar wujud dan eksistensinya. Dengan demikian, momen hari raya qurban bisa dijadikan sebagai bagian dari eksistensi manusia dalam menebarkan nilai-nilai spirtualitasnya; kasih sayang, kemanfaatan, dan berbagi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dimensi sosial dan spiritual

Membicarakan apapun tentang manusia, sebetulnya bukan perkara mudah. Manusia merupakan eksemplar yang sulit dibaca, sedangkan manusia sendiri adalah “makhluk membaca”. Kita semua tahu Firman Allah yang pertama kali turun adalah perintah membaca; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (Lih. QS. Al-‘Alaq [95]: 1-2). Hal ini menyiratkan, agama sejatinya tidak hanya terbatas pada ritualitas-ritualitas monolitik belaka, spektrumnya lebih dari itu.?

Dalam penggalan ayat tersebut, ada dua prinsip penting, yaitu; keTuhanan dan kemanusiaan. Ada continum yang tak terputus, meminjam istilahnya Gus Dur, “Guru realitasku adalah spiritualitas, dan guru spiritualitasku adalah realitas.”

Beranjak dari itu semua, manusia dilahirkan dalam keadaan putih (kosong), ia belum paham dan belum mampu memahami apapun. Bertumbuhnya manusia menjadi dewasa, ia dituntut oleh fakta yang melingkarinya; agama, keluarga, budaya, dan lingkungan.

Manusia akan bersinggungan dengan manusia lainnya, untuk membaca watak dan karakter. Namun, lebih dari itu, pesan Rasulullah Saw “sebaik-baiknya manusia/seideal-idealnya manusia adalah manusia yang bermanfaat.” Nabi pun berpesan kembali, “Amal manusia akan terputus kecuali tiga hal, shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mengalirkan doa kepada orang tuanya.” Telah jelas titik pijaknya; “manfaat”.?

Oleh karena itu, konsep dasarnya, membaca manusia, membaca alam, dan membaca seluruh ciptaan Tuhan, standarnya adalah “kemanfaatan”, lebih tepatnya “manfaat untuk kebaikan” dan “baik untuk kemanfatan”.?

Kemanfatan identik dengan “pengorbanan”, baik itu secara ensensi maupun simbol. Bisa dikatakan untuk mencapai kemanfaatan yang agung, manusia kadang harus melakukan pengorbanan, atau berkurban; berkurban menenggelamkan hawa nafsu, berkurban dari hal-hal negatif, dan sebagainya.?

Seperti apa yang diisyaratkan dari definisi Idul Adha itu sendiri, Idul Adha yang terdiri dari dua suku kata berasal dari bahasa Arab. Pertama idul bersal dari kata ‘aada-ya’uudu-awdatan wa ‘idan yang berarti kembali. Sedangkan adhaakar katanya yaitu adha-yudhii-udhiyatan yang berarti berkorban. Kalau kita bedah lebih lanjut lagi, kurban secara bahasa juga berasal dari bahasa Arab qurbaan yang asalanya adalah qaruba-yaqrubu-qurbaan artinya kedekatan yang sangat.?

Kata qurbaan adalah bentuk tafdhil menunjukan penguatan terhadap sifat yang dikandung kata tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan, berqurban dengan ikhlas dan tulus, tanpa embel-embel legitimasi dari pihak manapun seorang hamba akan semakin dekat (qariib) dengan Allah Swt; Sungguh shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan seluruh alam.

Oleh karena itu, dalam Idul Qurban kita diingatkan banyak hal, khsusnya ajaran tentang iman, islam, dan ikhsan. Hal tersebut menyiratkan qurban mempunyai dimensi spiritual dan sosial. Di mana visi kultural dari qurban adalah merajut “rukun sosial”.

Dalam dimensi spiritual, kita semua tahu bagaimana awal mula ibadah qurban itu terlahir. Di mulai dari mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Perintah Tuhan ini oleh Nabi Ibrhamin disampaikan kepada Ismail dengan berdiskusi, dan tanpa pikir panjang Ismail sebagai hamba yang dipuji Allah (karena sabarnya) meng-“iya”-kan apa yang telah menjadi perintah Allah SWT.Kemudian Ibrahim dan Ismail menentukan tempat penyembelihannya, akhirnya diputuskan pada tanggal 10 Zulhijah dan bertempat di Mina.?

Perjalanan Nabi Ibrahim dan Ismail ke Mina banyak gangguan yang datang, setan-setan itu pun mencoba menggagalkan ritual agung dari perintah Tuhan. Namun, setan-setan itu dikisahkan dilempari batu oleh Ibrahim dan Ismail, dan peristiwa itu dikenal sebagai melontar jumrah dalam ibadah Haji.?

Sesampainya di tempat, Ibrahim mengambil posisi membaringkan Ismail di bongkahan batu, sambil matanya di tutup dan tangannya diikat ke belakang. Namun, pedang hampir saja dihunus, Malaikat Jibril membawa pesan dari Allah SWT harap mengganti sesembelihan itu dengan binatang. Peristiwa itu yang sekarang kita kenal dengan Ibadah Qurban. Di awali dari keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan seorang ayah dan anaknya, qurban menjadi perantara pendekatan diri kita terhadap Sang Pencipta. (Lih. QS. Ash-Shaffat [37]: 102-107).

Sekarang kita coba tarik pada dimensi sosial, kita semua pasti sepakat, berbagi untuk tolong menolong adalah kebaikan. Tidak ada yang sia-sia dalam memberi. Apalagi al-Quran telah mengamanatkan kepada kita semua, “tolong-menolonglah untuk berbuat baik dan takwa”.

Qurban bagian dari pendidikan tolong menolong, di mana kita diajarkan untuk berbagi dengan nilai yang tidak biasa. Biasanya kita hanya memasukan uang di kotak amal 1.000/2.000, namun dalam ibadah Qurban kita melakukannya lebih dari itu, dengan tujuan mensemarakan cinta kasih dalam lingkungan masyarakat.?

Apalagi di era modern ini, tidak mudah mendorong manusia untuk “memberi lebih”, kebanyakan dari mereka “ingin menerima lebih”. Identitas itulah yang sekarang terbangun, sehingga menumbuhkan sikap rakus dalam diri manusia modern, tidak lagi memerhatikan nilai-nilai dan kualitas hidup bersama.?

Saya teringat dengan kata Sally Koch, “Great opportunities to-help other seldom come, but small ones surround us every day.” (Sangat jarang kita kedatangan kesempatan luar biasa untuk membantu orang lain, tetapi kita menemukan hal yang kecil-kecil setiap hari).?

Idul Qurban adalah kesempatan luar biasa bagi kita untuk memberi/berbagi dengan orang lain, karena hanya datang setahun sekali. Jika kita tinjau menurut kajian psikologi, seperti yang diutarakan oleh Stephen Post dan Jill Neimark dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People (2011), menuliskan, sungguh memberi akan merubah diri kita menjadi lebih senang, lebih bahagia, lebih sehat, dan serasa hidup lebih abadi. Perantara memberi itu juga yang akan menghancurkan sifat-sifat negatif kita yang terus bergemuruh, seperti hawa nafsu, sombong, iri hati, dengki, yang tentu menyumbangkan terlahirnya berbagai penyakit fisik dan mental.

Memberi di sini sejatinya harus dimaknai tidak sekedar memberi, namun mempunyai dimensi lain, yaitu sebagai pijakan menumbuhkan kesadaran sosial, keakraban dengan sesama manusia, dan kerukunan antar tetangga. Banyak “jebakan” dalam akitiftas memberi jika tidak dibarengi dengan keinginan membangun.?

Yang terpenting adalah membangun kesadaran di setiap diri manusia, bahwa “manusia adalah makhluk berqurban (baca: berkorban)”, dalam hal apapun demi menebar kebaikan dan kemanfaatan.

Tulisan ini akan ditutup dengan petuah dari Ayah saya yang baru saja saya terima, “Jika kita belum mampu menyembelih hewan qurban, maka sembelihlah sifat sombong dan sum’ah dalam diri kita, jika kita belum mampu melempar Jumroh ‘Aqobah, maka lemparlah sifat kebencian dan egoisme dalam hati kita, dan jika kita belum mampu mengelilingi Ka’bah atau thawaf ifadzoh, maka kelilingilah tempat sanak saudara, tetangga, dan sahabat, untuk menjalin ukhuwah, serta berbagilah dengan sesama.” Selamat menyambut Hari Raya ‘Idil Qurban 1438 H.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren, Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama RMI NU, Anti Hoax, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 17 Juni 2009

Kader IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Berantas Narkoba

Probolinggo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sedikitnya 60 orang kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kraksaan dan Kabupaten Probolinggo mendapatkan pembinaan organisasi dari Kantor Pemuda dan Olahraga (Kanpora) Kabupaten Probolinggo, Ahad-Senin (7-8/8) di Hotel Srikandi Kota Kraksaan.

Dalam kegiatan yang mengambil tema “Peranan Organisasi Dalam Memerangi Narkoba”, para kader IPNU dan IPPNU tersebut diajak bersama-sama untuk memberantas dan menjauhi bahaya dari narkoba.

Kader IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU-IPPNU Probolinggo Komit Berantas Narkoba

Para kader IPNU ? dan IPPNU tersebut mendapatkan materi pengenalan jalur narkoba dan modus peredarannya dari Satlak P4GN Kabupaten Probolinggo, sanksi hukum dan proses rehabilitasi bagi pengguna dari Satuan Narkoba Polres Probolinggo, Motivator dari Brain Brillian Center Probolinggo dan kepemudaan dari Kanpora Kabupaten Probolinggo.

Kepala Kanpora Kabupaten Probolinggo H Syafi’uddin mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan wawasan tentang bahaya narkoba serta mengajak kader IPNU dan IPPNU untuk ikut memerangi narkoba.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Dalam beberapa tahun terakhir ini, Narkoba berkembang ibarat jamur yang tumbuh dimusim kemarau. Jika hal ini dibiarkan maka akan merusak proses kaderisasi. Sebab narkoba tidak hanya di kalangan orang dewasa akan tetapi sudah menjamur kepada para pemuda hingga anak-anak,” katanya.

Menurut Syafi’uddin, organisasi sebagai wadah tumbuh dan berkembangnya kepemimpinan tidak cukup hanya dengan mengasah kompetensi, akan tetapi perlu melindungi dari berbagai ancaman yang dapat merusak proses kaderisasi seperti narkoba dan penyimpangan perilaku.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Melalui kegiatan pembinaan ini diharapkan agar para kader IPNU dan IPPNU di Kabupaten Probolinggo turut ambil bagian dalam memerangi penyalahgunaan narkoba sesuai dengan kompetensinya,” harapnya.

Sementara Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya dengan kegiatan ini maka para kader IPNU dan IPPNU akan memperoleh pengetahuan tentang bahaya narkoba dan bisa ikut bersama-sama memerangi dan memberantas peredaran narkoba.

“Bagaimanapun juga narkoba dan sejenisnya merupakan ancaman yang sangat nyata bagi para pemuda. Oleh karena itu, para kader IPNU dan IPPNU sudah seharusnya ikut bertanggung jawab dalam penyelamatan generasi muda bangsa dari bahaya narkoba,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Kajian Islam, Pemurnian Aqidah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock