Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Pertandingan, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 09 Februari 2018

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama H. Arifin Junaidi menegaskan pihaknya memiliki madrasah formal sejumlah 48 ribu. Menurut dia, murid dan guru lembaga tersebut menolak kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Sekolah 5 Hari.?

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti (Sumber Gambar : Nu Online)
Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti (Sumber Gambar : Nu Online)

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti

“Jika kebijakan ini dipaksakan, Prgunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) dan Ma’arif akan datang ke Jakarta,” ungkapnya pada konferensi bersama Pengurus Besar PBNU menyikapi kebijakan Sekolah 5 Hari di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (15/6). ?

Karena, menurut laporan yang diterima dari lembaga-lembaga M’arif di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Makassar, Banjarmasin, Maluku, kebijakan tersebut sangat merasahkan.?

“Saya telah berkomunikasi dengan LP Ma’arif di Makassar, di Banjarmasin; terjadi keresahan yang luar biasa kebijakan Mendikbud ini,” katanya.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia menambahkan, sebelumnya Mendikbud akan membuat kebijakan Full Day School (FDS). Kemudian diubah menjadi kebijakan Sekolah Lima Hari dengan belajar selama 8 jam sehari. Ini adalah kebijakan yang sama saja, beda nama.?

“Mendikbud telah bikin gaduh. Kami meminta Presiden untuk menggantinya,” tegasnya. ?

Arifin menambahkan, di luar 48 ribu madrasah di bawah LP Ma’arif terdapat 70 ribu Madrasah Diniyah Takmiliyah yang waktu belajarnya sore hari. Dengan demikian, kebijakan tersebut akan 7 juta murid Madrasah Diniyah Takmiliyah tersebut. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja, Ahlussunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 03 Februari 2018

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes

Brebes, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Banjir besar akibat jebolnya tanggul Sungai Pemali, Sungai Cisanggarung, dan Sungai Babakan yang melanda Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Kamis (16/2) telah merendam belasan desa di 4 Kecamatan.

Relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) turut serta menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir berupa 150 paket cleaning kits yang berisi wiper, keset lantai, sabun colek, dan ember plastik.

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes

Menurut Tim Tanggap Darurat PP LPBINU, Asbit Panatagara, pemberian bantuan ini didasarkan pada tinjauan kebutuhan yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat LPBINU selama di lokasi bencana. Bantuan disalurkan di Desa Limbangan Kulon, Wangandalem, Pemaron Kecamatan Brebes, Selasa (21).

Menurut pantauannya, hingga hari ini, korban banjir yang melanda Brebes dalam beberapa hari ini mulai surut dengan debit air di sungai Pemali yang mulai turun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Sebagian warga yang mengungsi di Gelanggang Olahraga Brebes sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Warga mulai membersihkan rumah. Mereka menjemur perabotan yang basah karena terendam air. Tumpukan lumpur sisa banjir masih berserakan di jalan-jalan kampong” jelas Asbit.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua PP LPBINU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat di Brebes, khususnya di daerah terdampak banjir untuk melakukan kajian risiko bencana agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko, dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Hasil kajian risiko bencana itu nantinya dapat dijadikan acuan semua pihak dalam melakukan upaya pengurangan risiko bencana dan mengintegrasikannya dalam perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

Dengan begitu, Ali Yusuf berharap ke depan rencana dan tindakan konkret untuk penanggulangan bencana banjir dapat segera dirumuskan agar kejadian yang sangat merugikan itu tidak terulang lagi di masa mendatang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Cerita, Aswaja, Hadits Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 01 Februari 2018

Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika

Tulungagung,Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kader Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tulungagung mempresentasikan “Kopi Mangrove Segara” sebagai produk hasil pemberdayaan masyarakat pesisir pantai Sine, Tulungagung, di Amerika. Kopi Mangrove Segara merupakan hasil kerja sama PAC IPNU-IPPNU Kalidawir dengan NGOs Redirect Indonesia dan Leshutama. Konsep yang diusung dalam bisnis ini adalah social entrepreneurship melalui program pemberdayaan.

Ikbar Al Asyari dari IPNU Tulungagung meraih beasiswa YSEALI Academic Fellowship Program on Civic Engagement di University of Nebraska at Omaha (UNO) dan berdialog dengan Presiden Obama.

Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika

Young South East Asia Leader Initiative (YSEALI) adalah program yang digagas Presiden Barrack Obama untuk memfasilitasi pemuda ASEAN belajar di universitas ternama di Amerika. Tema program yang ditentukan yaitu civic engagement, environmental studies, dan social-economic development. Peserta berkesempatan mendapatkan pendanaan social project berupa dana hibah dari State Department of United State.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

YSEALI Academic Fellowship Program on Civic Engagement di University of Nebraska at Omaha berlangsung intensif selama 5 minggu dari 24 September – 29 Oktober 2016. Saat ini Ikbar mengikuti program YSEALI yang memasuki minggu ketiga.

“Saya bersyukur diapresiasi oleh pemerintah Amerika sehingga saya bisa menjadi salah satu yang berangkat ke Amerika mengingat ketatnya persaingan dan pendaftar dari Indonesia yang mencapai ribuan orang,” Ikbar bercerita melalui surat elektronik pada Selasa (12/10).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selama program berlangsung, Ikbar ikut kuliah intensif bersama ahli di bidang civic engagementdi UNO, coaching-mentoring, study visit ke beberapa organisasi di Amerika tentang civic engagement di Omaha, Nebraska, Iowa, South Dakota, Portland, dan Oregon. Program akan berakhir di Washington DC untuk presentasi final social project yang diusulkan dan dilaksanakannya penjurian untuk kelayakan pendanaan.

Ketua Umum PAC IPNU Kalidawir Adib Hasani mengaku senang rekannya membawa nama Indonesia melalui program tersebut. Dengan demikian, Kopi Mangrove Segara berpeluang untuk didanai dan memperluas jaringan pasar hingga ke luar negeri.

Harapannya, kata dia, program ini mampu memberikan manfaat untuk berkembangnya Kopi Mangrove Segara lebih jauh lagi yang akhirnya akan memberikan manfaat pada masyarakat pesisir Pantai Sine. (Irwanto Marhaenis/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Halaqoh, Ubudiyah, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 31 Januari 2018

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Selain menyelenggarakan program mudik gratis setiap tahun, Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) NU juga mendirikan posko mudik berbasis masjid. Jumlah posko mudik yang didirikan NU ada 27 titik dari Merak di Banten hingga Ketapang di Banywangi.

Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen menjelaskan bahwa NU berkomitmen melayani warga NU yang hendak pulang kampung saat momen Lebaran tiba. Tindak lanjut dari program mudik bareng, NU juga telah menyiapkan posko mudik berbasis masjid.

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya

“Melalui masjid, NU menyapa umat. Masjid sangat strategis untuk melayani para pemudik. Selain untuk beribadah, juga bisa diberdayakan untuk kebutuhan istirahat dan mandi,” ujar Ibnu, Jumat (17/6) di Jakarta.

Fungsi tersebut menurutnya, merupakan keistimewaan tersendiri yang tidak didapatkan di posko mudik biasa. Adapun petugas yang nanti melayani di posko yaitu para kader NU yang selama ini aktif menjadi muharrik (penggerak) masjid.

Dalam mudik gratis bareng NU di tahun 2016, Ibnu menerangkan bahwa pemeberangkatan mudik serentak akan dilaksanakan pada 2 Juli 2016 di Gedung PBNU. Sebelumnya, pendaftaran mudik dilaksanakan pada 18 Juni 2016, kemudian penukaran tiket akan dilaksanakan pada 25 Juni 2016 mendatang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Setiap tahun, warga NU cukup antusias dengan program mudik bareng yang dilaksanakan NU ini. Mereka juga kerap antri tiket dari pagi hingga malam hari hanya demi bisa ikut mudik bareng NU yang selama ini melayani dengan baik melalui kendaraan bus yang sangat memadai. Selain itu, NU juga menyediakan menu berbuka puasa untuk para peserta mudik agar tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah, Aswaja, Anti Hoax Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 11 Januari 2018

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta

Surakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Kota Surakarta dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Pelajar XXXII se-Jawa Tengah. Acara yang diikuti pelajar setingkat SD, SMP dan SMA ini rencananya bakal dibuka Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Balaikota Surakarta, Rabu (15/11) malam.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Solo, Said mengatakan pihaknya siap untuk menyediakan fasilitas yang baik untuk para peserta selama penyelenggaraan MTQ, Rabu-Sabtu (15- 18/11).

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta

"Setelah 30 tahun mengantre akhirnya kegiatan ini berlangsung di Solo. Pemkot Solo sangat berkomitmen untuk mensukseskan acara tersebut," tutur Said.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Terdapat tiga cabang yang akan diperlombakan sesuai tingkat pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, serta tingkat SMA, SMK dan MA.

Di antara cabang tersebut yakni tartil Al-Quran, tilawah Al-Quran dan Hifz Al-Quran. Khusus untuk cabang Hifz Al-Quran golongan 1 juz dan tilawah hanya diikuti pelajar jenjang SMP/MTs. Sedang untuk golongan 5 juz dan tilawah diperuntukan untuk pelajar jenjang SMA, SMK dan MA.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara itu, dari pihak tuan rumah Kafilah Solo pun menargetkan untuk memperoleh medali di beberapa cabang.

“Kami realistis saja, pantura itu memang bagus-bagus. Tapi kita siapkan," terang Ketua kafilah Solo yang juga Kepala Seksi Bimas Kemenag Kota Solo Muhammad Nashiruddin.

MTQ Pelajar ke-32 memperebutkan trofi bergilir yang tahun lalu diraih oleh Kabupaten Wonosobo. Pemkot Solo telah menyiapkan bonus berupa uang pembinaan sebesar Rp 1,25 juta untuk masing-masing juara di tiap kategori. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 09 Januari 2018

Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand

Bangkok, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Berikut ini laporan kontibutor Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Yusuf Suharto, yang pada  pertengahan bulan silam (15-25 Desember 2013) mengikuti Short Course Manajemen Pengelolaan Perguruan Tinggi di negeri Thailand, tepatnya di UTCC (University of Thai Chamber of Commerce) Din Daeng Bangkok .

Thailand mempunyai tiga musim. Panas, hujan, dan dingin. Ketika kami berkunjung, kami berada dalam rentang bulan musim dingin. Malam hari, juga pagi terasa dinginnya udara cukup menusuk. Lebih dingin mana dengan musim dingin Indonesia. Ya, kira-kira sama.

Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand

Kedatangan saya ke Thailand, merupakan penugasan dari Rektor Universitas Darul Ulum (Undar), Dr. Ma’murotus Sa’diyah, M.kes., agar saya, sebagai Ketua Lembaga Penelitian Undar, menindaklanjuti MoU antara Undar dan UTCC (University of Thai Chamber of Commerce) pada 02 September 2013 lalu. Lagipula, saya memang mendampingi Dr. H. Muchtar, M.Si., Asisten Direktur Pascasarjana Undar, yang bersemangat menindaklanjuti program ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Berbicara tentang Thailand, sesungguhnya negara ini lebih dekat dan tidak asing dengan kita. Maklum, hampir setiap hari kita bersua dengan sesuatu yang berbau Negeri Gajah Putih itu. Sebut saja, pepaya Thailand, jambu Bangkok, ayam Thailand, dan durian Thailand. Kita pun kadang impor beras dari Thailand. Faktor terakhir ini sangat memprihatinkan manakala melihat bahwa negara kita yang sangat subur dan kaya tanah pertanian.Tapi bukan dalam kesempatan kali ini kita membicarakan hal yang memprihatinkan ini.

Pada umumnya, penduduk Thailand menganut agama Budha. Agama ini seolah menjadi agama “resmi” negara yang kerap diguncang kudeta ini. Menurut sensus penduduk yang dilakukan pemerintah Thailand, sekitar sepuluh tahun silam, penduduk Thailand 94,6% beragama Budha, kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik.

Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar 7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat. Basis penduduk muslim berada di tiga provinsi; Yala, Narattiwat, dan Pattani. Ketiga provinsi ini berada di Thailand Selatan. Secara fisik, tradisi dan budaya penduduk tiga provinsi ini lebih dekat dengan masyarakat Melayu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Meskipun mayoritas muslim ada di Thailand Selatan, namun bukan berarti di bagian lain tidak ada muslim. Katakanlah Bangkok, ibukota Thailand. Di Bangkok, kita dengancukup mudah dapat menjumpai masjid. Walaupun mayoritas muslim di Bangkok adalah pendatang dari bagian selatan Thailand (secara fisik dapat dikenali dengan mudah, karena berdarah melayu), namun cukup banyak juga muslim yang berdarah Thailand asli (biasanya berkulit putih). Hal ini menunjukkan dakwah Islam berjalan dengan baik di Bangkok. Ibaratnya, Bulan Sabit di punggung Gajah Putih.

Di UTCC sendiri, mahasiswi muslim dengan jilbab pun ada beberapa, bahkan di lokasi kampus terdapat mushola bagi mahasiswa muslim. Dalam baliho promosi kampus, juga dalam website resmi UTCC, perwakilan mahasiswa muslim juga disertakan.

Setelah kami mendarat di Bandara Internasional Thailand, Don Mueang Bangkok, pada Ahad malam, 15 Desember 2013, kami mencermati bahwa tidak ada perbedaan waktu antara Indonesia dengan Thailand. Yang membedakan adalah waktu untuk shalat saja, atau waktu terbit dan tenggelamnya matahari. Ketika di Indonesia waktu untuk shalat Maghrib pukul 18.00 WIB, maka di Thailand mundur sekitar setengah jam.

Dalam waktu 11 hari (15-25 Desember 2013), kami mengikuti berbagai kegiatan dalam rangka short course manajemen pengelolaan perguruan tinggi sebagai tindak lanjut MoU. Dalam sesi dialog disepakati akan diadakan proram pertukaran dosen dan mahasiswa, program beasiswa, twin program penelitian yang dapat dilakukan secara silang antara dosen atau mahasiswa Undar dengan UTCC.

Bagaimana dengan makanan halal? Awalnya kami masygul. Namun setelah kami berkeliling di sekitar keramaian kampus, alhamdulillah kami mendapati dengan cukup mudah makanan halal. Di sekitar kampus paling tidak ada tiga penjual makanan halal. Pertama, penjualnya yang sangat  ramah, berasal dari Turki, dan sudah bertahun-tahun tinggal di Bangkok. Nama kiosnya adalah “God Razzaq Kebub”, ada tulisan halal di kiosnya tersebut. Dari UTCC dengan berjalan kaki sekitar 50 meter dari kampus.

Kedua, di antara kios jajanan di depan pinggir gerbang kampus ada tujuh penjual, dan salah satunya ada seorang pria yang di depan kiosnya ada tulisan lafadz “Allah” dan “Muhammad”. Ia menjual gorengan. Dan ketiga, di kantin di dalam areal kampus, ada  penjual makanan , seorang ibu yang ditemani perempuan muda yang memasang tulisan “halal” dan stiker ayat suci al-Quran di depan kiosnya.

Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand, kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah Sunni bermazhab Syafi’i. Dan secara umum, mereka mirip sekali dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita. Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah, nasyid, dan berbagai macam shalawat. Setiap masjid pun biasanya memiliki ulama yang dihormati di situ.

Bermaksud berkunjung ke KBRI dan mencari masjid, dalam perjalanan  kami menelpon Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dan ternyata kedutaan libur, mengikuti kalender nasional, Indonesia. Sementara itu pada 25 Desember itu di Thailand kantor dan lembaga masuk seperti hari biasa.

Setelah telpon saya katakan ke teman, "Bahagia bisa berbahasa Indonesia."

Setelah sampai di kedutaan kami ditemui staf KBRI, jejaka asal Gresik, Hilmi namanya. Kebetulan kami sedang membawa buku pernikahan yang kami terjemahkan dari risalah tulisan pendiri NU, Mbah KH. Hasyim Asy’ari , “Dhaw’ul Mishbah fi Bayani Ahkamin Nikah”, buku mungil itu kemudian kami hadiahkan.

Staf bercerita bahwa KBRI adalah kedutaan negara asing pertama yang didirikan di Thailand. Tanah yang dibuat kantor konon juga hibah dari pihak kerajaan Thailand. Ia menunjukkan pula warung halal dan masjid terdekat.

Di dekat KBRI, perjalanan kaki kurang dari seperempat jam kami sarapan di warung halal "Farida Muslim Food", dan kemudian kami ditunjukkan masjid Darul Aman. Di kedua tempat ini kami juga berbahasa melayu atau Indonesia. Petugas warung orang Thailand Selatan, tetapi ia sering berinteraksi dengan orang-orang melayu.

"Tamu dan orang kedutaan Indonesia sering makan di tempat kami," demikian Muhammad bercerita. Setidaknya di dekat masjid dan KBRI ada tiga rumah makan muslim, ada Makyah Food, Muslim Food, dan Farida Muslim Food.

Di antara masjid yang menjadi sentral kegiatan kaum muslimin di Bangkok  dan dekat dengan KBRI adalah yang berada di Petchaburi 7 ini bernama Masjid Darul Aman. Masjid yang berlantai dua ini berada tidak jauh dari jalan Petchaburi (jalan utama), kurang lebih sepuluh meter. Di sekitarnya adalah pemukiman muslim Thailand yang sebagian dari mereka berasal dari Thailand selatan dan berbahasa Melayu. Oh ya di sekitar atau timur lokasi masjid ini terdapat deretan makam muslim.Pendidikan keagamaan bagi para muda muslim juga menjadi kesatuan dari masjid ini. Di lantai dua, kita bisa melihat bangku dan kursi berjejer dengan papan tulis sederhana. Ya, semacam madrasah diniyyah di nusantara.

Khotbah Jumat disampaikan dalam bahasa Thailand. Setelah Jumatan, imam shalat memandu jamaah wirid bersama dengan bersuara keras (jahr). Setelah selesai berdoa, imam memimpin salaman antar jamaah dengan iringan shalawat.

Ini tradisi mulia yang sama dengan tradisi mayoritas muslim di Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi, karena ulama besar di wilayah Pattani di abad ke-17, Syaikh Dawud Faththani, merupakan murid dari Syaikh Abdurrauf as-Sinkli, ulama besar asal Aceh. Kesamaan tradisi inilah yng membuat ikatan emosional muslim Pattani terjaga hingga kini. Terbukti, beberapa santri di pondok pesantren di Jawa berasal dari Pattani. Di Masjid Muhajireen, salah satu masjid di Din Daeng Bangkok, sekitar 4 km dari UTCC, yang jika ditempuh perjalanan kaki membutuhkan setengah jam, dan jika naik bus, sekitar 5 menit, kami juga menemukan terjemahan kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Thai.

Ada pula majalah berbahasa Melayu yang ditulis menggunakan aksara pegon. Di samping ada terjemah Quran dalam bahasa Thai, di masjid ini dan tentu juga di masjid Darul Aman, kami dapati Al-Quran dengan terjemah bahasa Indonesia, terbitan Kemenag RI.

Di sela-sela short course ini kami berjalan-jalan bersama rombongan. Ada guide, tentunya. Jumlahnya ada empat, bergantian. Tiga di antara mereka berasal dari China. Dua di antaranya tidak beragama, tetapi percaya pada Tuhan. Saat berjalan-jalan santai inilah kami beberapa kali bersua dengan kelompok-kelompok kecil. Mereka adalah demonstran anti pemerintahan PM Yingluck Sinawatra. Di antara mereka ada yang membagi-bagikan koran. Lucunya, korannya berbahasa Thai, jadi mana bisa kami membaca. Menuju Pratunam Market kami jalan kaki. Kami kira jauh, ternyata mungkin hanya sekitar 5 km dari UTCC. Kira-kira 45 menit kami sampai.

Heran kami kenapa jalan di depan mall ISetan kok lengang. Kami baru tahu ternyata jalan memang ditutup. Dipasang panggung tenda menghadang di sana, semacam panggung musik. Bus dan mobil tidak bisa masuk.

Kami dapati kerumunan orang yg berwajah agak tegang. Ada apa ini? Teman kami menerka, "Itu para demonstran Pak."

Tiba di market kami diberitahu oleh pedagang asal Malaysia (orang kedua yang berbicara bahasa Melayu setelah mahasiswa Timur Leste yang kami jumpai pada malam Ahad dalam suatu acara kampus) bahwa hari ini ada demonstrasi. Menenangkan kami ia mengata, "Demo ini pakai mulut, tidak pakai senjata. Aman."

Agak capek, kami memutuskan pulang naik taksi dengan ongkos 100 Baht, setelah kami tawar dari 200 Baht.

 

Sehari setelahnya  kami memutuskan untuk berkeliling ulang melihat suasana, walaupun sebenarnya pemandu menyampaikan bahwa hari ini (Senin) ada demonstrasi yang lebih besar daripada kemarin. Katanya, "Beresiko kalau kita pergi, mungkin tidak aman bagi orang asing."

Alhamdulillah kekhawatiran itu tak terjadi, kondisi masih cukup stabil. Ketika kami berkunjung untuk berdiskusi di salah satu sekolah di Din Daeng Bangkok, ada pertanyaan seorang guru yang cukup menggelitik.

"Kenapa di Indonesia pelajar tidak boleh memakai rok pendek?"

Salah seorang teman menjawab bahwa memang demikianlah ajaran Islam. Aurat tak boleh dibuka. Sementara, di negara yang kami kunjungi ini memang amat jamak ditemui hal demkian itu.

Para siswa yang ketika itu menantikan sesi dialog sangat apresiatif, mereka mengagumi Bali dan Borobudur. Seorang siswi menghampiri kami, dan berkata, "Saya sangat kagum pada Indonesia, negara dengan banyak pulau yang indah. Saya juga suka baju nasionalnya."

Ia mengatakan demikian sembari mengisyaratkan tangan di sekitar wajah hingga kaki. Mungkin maksudnya kebaya Indonesia atau baju muslimah, jilbab dan baju panjang.

"Suatu saat saya akan pergi ke Indonesia. Saya juga mau jadi warga Indonesia," ujarnya tersenyum.

Pengalaman selama sepuluh hari berada di Thailand dan berinteraksi dengan sahabat lintas negara, salah satu negara ASEAN membuat saya merenung, "Apa saja yang telah kita darmakan untuk negeri indah nan jelita Indonesia, dan apa yang akan kita perbuat?"

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 02 Januari 2018

Kejeniusan Empu, Penempaan Keris Padukan Fisika dan Kimia

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?



Pada tahun 2008, UNESCO mengakui keris sebagai warisan budaya dunia yang harus dilestarikan untuk kategori tak benda, Intangible Cultural Heritage (ICH).?

Koordinator Divisi Sastra, Folklor, Permainan Dedaktik Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, Donny Satryowibowo, keris tidak hanya dilihat dari segi wujudnya sebagai senjata. Namun, dalam proses penempaannya memerlukan teknik-teknik khusus serta sarat nilai yang mengandung unsur-unsur budaya. Termasuk estetika dan filosofis.?

Kejeniusan Empu, Penempaan Keris Padukan Fisika dan Kimia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kejeniusan Empu, Penempaan Keris Padukan Fisika dan Kimia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kejeniusan Empu, Penempaan Keris Padukan Fisika dan Kimia

Menurutnya, penempaan keris oleh para empu sejak zaman dulu menggunakan teknik metalurgi yang melibatkan ilmu fisika-kimia.?

"Keris ini kan ada proses teknik metalurgi. Kaitannya dengan ilmu fisika dan kimia. Jadi bagaimana cara pengolahannya itu masuk ilmu fisika. Dan apa bahan-bahannya itu masuk ilmu kimia," ujar Donny yang ditemui pada Silaturahim Kebudayaan yang digelar Lesbumi di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/7). ?

Keris sebagai tosan aji, yaitu besi yang dimuliakan, memiliki sisi estetika yang menawan. Berbeda dengan senjata logam lain seperti pedang samurai yang berbentuk lurus dan mengkilap, keris relatif berukuran lebih pendek, ada yang bilahnya berkelok-kelok seperti naga, serta dihiasi beragam motif yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan tampilan keris tampak indah dan berkarakter.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Donny menuturkan bahwa leluhur bangsa Indonesia telah berhasil membuat keris dengan cara yang pintar. Proses pembuatan keris tidak hanya berakhir ketika logam besi selesai ditempa. Namun, melalui proses finishing dengan melapisi permukaan keris menggunakan warangan.?

"Keris terdiri dari tiga macam logam, yaitu baja, besi, dan pamor. Nah, kemudian oleh leluhur kita, mereka mempunyai cara pengolahan kimia untuk coating atau membuat layer dengan cara diwarangi atau dijamasi. Jamas ini Bahasa Jawa yang artinya keramas. Keris ini dijamasi dengan warangan yang dicampur dengan asam sitrat atau air jeruk nipis," ujar Donny yang juga pendiri komunitas Jayakarta -komunitas yang aktif melakukan kegiatan untuk melestarikan tosan aji. ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Warangan terbuat dari batu tambang yang kebanyakan didatangkan dari Cina atau Mongol, dan mengandung senyawa arsenik yang bersifat racun. Inilah yang membuat keris memiliki efek mematikan paling kuat apabila mengenai darah manusia.?

"Ketika terkena darah, arsenik yang terdapat pada bilah keris akan berpindah ke darah sehingga darah menjadi menggumpal. Tapi kalau hanya menyentuh saja tidak apa-apa. Jadi, sudah sepintar itu leluhur kita untuk urusan kimia-fisika," terang pria yang mengaku memiliki banyak koleksi keris itu.?

Warangan yang digunakan untuk melapisi keris, tidak hanya berfungsi untuk menyematkan racun. Menurut Donny, pengaplikasian warangan juga untuk memunculkan nilai estetika pada keris.?

"Dengan diberi warangan tadi itu akan muncul nilai keindahan berupa tiga warna pada keris. Baja menjadi warna keabu-abuan, kehijauan atau kebiruan, besi menjadi hitam legam, sedangkan pamor tetap berwarna putih metalik seperti warna sendok makan," terang Donny.?

Pada acara Silaturahim Kebudayaan itu, digelar juga pameran keris koleksi komunitas Jayakarta. Menurut Donny, yang juga menjadi panitia, maksud diadakannya pameran keris tersebut adalah untuk memulangkan kembali kesadaran masyarakat tentang keIndonesiaan dan kenusantaraan. "Jangan sampai orang luar negeri yang justru lebih peduli pada budaya kita, dibanding kita sendiri," ujar pria yang mengajar kesenian di Institut Kesenian Jakarta itu. (Alika Rukhan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Olahraga, Quote, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 23 Desember 2017

Bakti Sosial, Ansor Mojogedang Gelar Aksi Donor Darah

Karanganyar, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggelar bakti sosial sebagai salah satu rangkaian acara “Ansor Bershalawat” yang diselenggarakan di Masjid Darul Muttaqin, Pulosari, Kaliboto, Mojogedang, Ahad (28/9).

Acara bakti sosial tersebut diisi dengan kegiatan donor darah. Ketua PAC Ansor Kecamatan Mojogedang Danang Warsito menyatakan, kegiatan ini diselenggarakan sebagai wujud pengabdian dan kepedulian GP Ansor terhadap masyarakat setempat.

Bakti Sosial, Ansor Mojogedang Gelar Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bakti Sosial, Ansor Mojogedang Gelar Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bakti Sosial, Ansor Mojogedang Gelar Aksi Donor Darah

“Donor darah merupakan proses sirkulasi yang mudah, praktis namun sangat besar manfaatnya baik bagi kesehatan si pendonor maupun bagi orang yang membutuhkan donor,” ungkapnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Aksi donor darah GP Ansor ini bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Karanganyar. “Bagi mereka yang dinyatakan sehat dan memenuhi syarat, langsung menuju dalam Bus Tranfusi Darah milik PMI dan masing-masing orang diambil darahnya rata-rata sebanyak 250 cc,” tambah Danang.

Selanjutnya bagi pendonor yang telah selesai mendonorkan darah diberikan multivitamin, susu dan makanan ringan agar kondisi badannya pulih kembali. Bakti sosial donor darah ini merupakan kegiatan yang pertama kali di perkampungan oleh GP Ansor Mojogedang, dan diharapkan bisa menjadi kalender rutin tahunan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 19 Desember 2017

Penentang NKRI akan Berhadapan dengan NU

Probolinggo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan konsep yang paling sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang beragam. Konsep ini sesuai dengan yang dipraktikkan Rasulullah Muhammad SAW ketika memimpin Madinah.

“Rasululah SAW tahu bahwa di Madinah saat itu bukan hanya ada Islam. Namun juga ada Yahudi, Majuzi, Nasrani dan yang lain. Sebuah kondisi yang beragam,” kata ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Ali Maschan Musa, dalam acara silaturrahim pengurus ranting NU se Jawa Timur Rayon 1 di pendapa Pemkab Probolinggo, Sabtu (2/6) kemarin.

Menurut Ali Maschan, para sahabat Rasulullah yang melanjutkan pemerintahan juga tidak pernah memasukkan konsep negara Islam.

Penentang NKRI akan Berhadapan dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Penentang NKRI akan Berhadapan dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Penentang NKRI akan Berhadapan dengan NU

”Mengaca pada konsep pemerintahan Rasulullah dan sahabatnya, maka konsep NKRI sudah sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia. Dan ini merupakan konsep yang sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tegasnya.

Dikatakan warga nahdliyyin perlu waspada terhadap munculnya beberapa aliran Islam baru yang menyerang ajaran ahlusunnah wal jamaah (aswaja) yang dianut NU. Aliran ini pertama-tama mempertanyakan kembali konsep NKRI dengan menawarkan konsep negara Islam.

Di hadapan ribuan pengurus ranting NU Maschan kembali menegaskan, NU sudah mencapai kata sepakat tentang konsep NKRI. “Jika ada aliran yang mempertanyakan lagi konsep NKRI maka harus berhadapan dengan NU,” tegasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, lanjut Maschan, aliran baru itu mengajak warga melakukan jihad dengan definisi yang salah kaprah. Menurutnya, mereka yang menganut ajaran ini lupa bahwa jihad yang paling berat yaitu jihad memerangi hawa nafsu.”Jadi tidak perlu perang ke Irak atau Lebanon hanya untuk berjihad fi sabilillah,” tuturnya.

Aliran baru itu menjadikan masjid-masjid warga nahdliyyin sebagai medan penyebaran faham mereka. “Parahnya, ada juga warga NU yang terseret-seret dalam ajaran ini,” terang Maschan.(man/sam)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja, Tokoh, Budaya Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 14 Desember 2017

Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania

Mafraq, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Fenomena pernikahan dini yang dilakukan para pengungsi Suriah di Yordania marak terjadi. Para perempuan usia belasan tahun dinikahkan orang tua mereka karena alasan ketidakpastian ekonomi dan ‘kehormatan’ anak-anak mereka yang rentan.

Keputusan mereka bukan tak berdampak negatif kepada para pengantin remaja ini. Kasus menjadi janda karena perceraian di usia yang muda dan kemiskinan tetap menyelmuti karena ketidaksiapan kedua mempelai, khususnya secara ekonomi.

Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernikahan Dini oleh Gadis Pengungsi Suriah Marak di Yordania

Data sensus Yordania menunjukkan, kasus tersebut mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2015, perempuan yang menikah pada usia 13-17 tahun sebesar 44 persen dari total perempuan Suriah di Yordania. Jumlah ini naik dibanding tahun 2010 yang berkisar 33 persen.

PBB dan pemerintah Yordania menyebut perkembangan ini sebagai tren berbahaya, baik bagi pengungsi sendiri maupun negara yang ditempati.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pernikahan dini menyebabkan angka putus sekolah meningkat. Apalagi para gadis remaja itu umumnya menikahi pria yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya dan tanpa pekerjaan tetap. Selain melanggengkan kemiskinan, pernikahan usia dini juga potensial meningkatkan populasi penduduk. Pernikahan dengan sesama anak muda cenderung produktif menghasilkan keturunan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Ini berarti kita akan memiliki lebih banyak? penduduk, lebih banyak daripada yang dimiliki pemerintah Yordania," kata Maysoon Al-Zoubi, sekretaris jenderal Dewan Penduduk Tinggi Yordania, seperti dilansir AP, Selasa.

Data sensus November 2015 yang dikompilasi dengan studi terbaru memperlihatkan bahwa ada 9,5 juta jiwa yang tinggal di Yordania, termasuk 2,9 juta orang non-Yordania. Orang Suriah yang tinggal di sana mencapai 1.265.000 jiwa, jumlahnya berlipat ganda sejak konflik Suriah pada tahun 2011. Termasuk dalam jumlah orang Suriah ini adalah para buruh migran yang datang sebelum perang dan tak tercatat sebagai pengungsi. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 13 Desember 2017

Mantan Senator AS Gelar Dialog dengan NU

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mantan Senator Amerika Serikat Christopher Kit Bon, Selasa (23/4) petang, berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulam (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Kit Bon mengadakan dialog dengan sejumlah pengurus dan warga NU.

Mantan Senator AS Gelar Dialog dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Senator AS Gelar Dialog dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Senator AS Gelar Dialog dengan NU

Kedatangan Kit Bon disambut Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud. Turut hadir, antara lain, Bendahara Umum PBNU H Bina Suhendra, Ketua PBNU H Iqbal Sulam, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika Utara Shalahudin Kafrawi, dan sekitar 20 pengurus lembaga dan lajnah NU.

Senator Kit Bon mengaku, sebelumnya pernah berkunjung ke Jakarta dan mendapat sambutan hangat dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia mendukung, Islam sebagai ajaran pada prinsipnya adalah penebar kedamaian.

Dalam acara yang dirangkai dengan penyerahan penghargaan oleh PCINU Amerika Utara ini, Kit Bon menjelaskan, terorisme sama sekali tidak identik dengan Islam. Ia mengaku, stereotip kekerasan terhadap Islam di berbagai negara menjadi tantangan berat bersama.

As’ad menyambut positif kiprah Kit Bon selama ini. Kit Bon dinilai cukup berjasa dalam mencitrakan Islam di Amerika sebagai agama yang ramah. Ia optimis, kebangkitan Islam di dunia akan dimulai dari Asia Tenggara. Seperti ditunjukkan NU, Islam mengedepankan pedekatan budaya dan dialog antarperadaban (hiwar bainal hadlarah).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Marsyudi dalam kesempatan itu, menjelaskan profil singkat NU, meliputi sejarah pendirian, keanggotaan, serta segenap jaringan kelembagaan yang dimiliki. ”NU sudah berdiri sejak Indonesia belum berdiri. Dan NU merupakan salah satu pendiri republik ini,” katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja, Kiai, Nasional Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 07 Desember 2017

Pesan Bunda

Oleh Naili Halimah

 Jam bandul di masjid pondok berdentang tiga kali. Gema suaranya merambat ke segala penjuru mata angin yang mampu dicapai dengan kakuatan dentangan itu sendiri. Gelombang ultrasonik itu menggelitik gendang telinga Kang Rahmat. Mata beratnya mencoba menangkap cahaya agar bisa melihat di sekitarnya, mengerjap-ngerjap, masih ngantuk.

Ia hampir terlelap kembali. Tapi ketika matanya menangkap sosok kecil Haikal yang meringkuk dalam pelukannya, ia tak jadi tidur kembali meski mata yang baru terlelap tadi jam 1, merengek minta diistirahatkan.

Pesan Bunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Bunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Bunda

Dengan penuh kasih, Kang Rahmat memandang wajah Haikal. Wajahnya muram, meski jauh lebih baik dari saat pertama kali datang. Bekas-bekas air wudhu belum kentara memancarkan cahaya wajahnya. Itu bisa dimaklum, dia baru 2 pekan mukim di pondok. Hati Kang Rahmat terasa sakit melihat wajah pucat Haikal. Dengan mata membengkak karena sudah 3 hari ini dia menangis terus. Dia tampak lebih kurus dari biasanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Ada apa sebenarnya, Kal?” tanya Kang Rahmat sambil mencium kening Haikal lembut. Kang Rahmat sangat menyayangi Haikal, bocah berusia 12 tahun itu telah ia anggap adik sendiri bahkan terkadang menanggap anaknya. Ia tak bisa membiarkan anak sekecil Haikal hidup sendiri meski harus dilatih mandiri.

“Sudah bangun?” tanya Kang Rahmat saat dilihatnya mata bengkak Haikal mengerjap-ngerjap. Dalam  hatinya berdoa semoga Haikal tidak merengek minta pulang seperti 3 hari sebelumnya. Ia khawatir Haikal benar-benar akan melarikan diri seperti katanya tadi malam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Jam berapa, Kang?” tanya Haikal. Serak. Ia menarik sarung sampai ke leher dan merapatkannya ke tubuh, meringkuk kembali dengan mata merem-melek.

“Tahajud, yuk!” ajak Kang Rahmat.

Haikal mengangguk kecil, tapi tetap dalam posisi semula.

Kang Rahmat bangkit dan menawarkan punggungnya untuk Haikal. Tapi bocah itu malah diam sambil mengucek-ngucek mata.

“Ayolah…!” bujuk Kang Rahmat seraya memunggung Haikal, agar mudah menaikinya.

”Berat lho, Kang,” serak Haikal masih dengan mata menyipit.

“Apa? Berat? Mana mungkin, Kal. Lihat tanganmu saja separuh tanganku. Mana mungkin bagiku kamu berat. Cepat naik daripada nanti kamu kecebur kolam,” jawab Kang Rahmat seraya menarik Haikal ke punggungnya.

Tanpa terasa rasa damai merasuki jiwa Haikal di tengah rasa gundahnya. Ia  menemukan muara kesejukan. Dengan pasrah, ia meletakkan  kepalanya  di punggung Kang Rahmat, mencoba merengkuh semua rasa damai dan hangat dari lelaki itu. Tangan kecil terulur melingkar di leher Kang Rahmat.

“Kang, aku pengen pulang,” rengek Haikal. Suara seraknya menggema dalam hati Kang Rahmat. Suara itu seakan transfer rasa sakit akan luka hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca.

”Kapan, Kang, aku boleh pulang,” ucapnya lagi. Kini, air mata tak kuasa dibendung, mengalir.

Kang Rahmat merasakan punggungnya menghangat, ikut merasakan sesak yang dirasakan Haikal. Ia diam. Habis kata-kata untuk menenangkan Haikal. Ia tak tahu bagaimana cara menolongnya, sedang ia sama sekali tak tahu yang tengah terjadi.

”Sabar, Kal, Allah pasti memberi jalan. Di balik segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya,” akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Kang Rahmat, setelah meraba-raba, kira-kira apa yang menyebabkan Haikal jadi seperti itu.

Sampai di depan masjid, Kang Rahmat menurunkan Haikal di anak tangga teratas. Mereka duduk bersebelahan. Mata bengkak Haikal masih saja basah. Bahkan sesekali air mata mengalir di pipi kurusnya. Dengan penuh kasih sayang, Kang Rahmat merangkul bahu Haikal, mencoba memberi kekuatan.

“Sudahlah, Kal, nanti kamu malah kehabisan air mata. Kamu mau menangis, bisa keluar matanya,” hibur kang Rahmat mencoba melucu. Tapi bukannya diam atau tersenyum, Haikal malah serenggukan.

”Aduh malah jadi begini,” batin Kang Rahmat. Pikirnya melayang mencoba menelusuri jejak-jejak hidup di 3 hari yang lalu. Mencoba mencari onak apa yang telah merebut senyum dan keceriaan Haikal. Ya, kini ingat 3 hari yang lalu ada surat. Dan sejak itulah Haikal berubah jadi pendiam, suka menyendiri dan sering menangis.

“Sebenarnya kamu ini kenapa? Kemarin-kemarin kamu ceria. Kamu bilang juga kerasan. Lha ini kenapa kok kamu jadi nangis terus begini, apa ada yang jail atau...?”

“Aku ingin pulang, Kang,….” Haikal memotong, sambil menghapus air matanya, menahan isak tangisnya.

Kang Rahmat mendesah melihatnya. Dengan lembut, ia membelai kepala Haikal. Kemudian menyandarkannya ke pundaknya.

Sejenak hening dan diam.

”Haikal, kamu ingat, kamu pernah bilang, mau jadi anak yang soleh, menjadi orang yang pinter ngaji, bisa ndongakke marang wong tuwo loro, seperti yang ibu kamu harapkan. Kamu harus kerasan! Harus bertahan hingga 40 hari, baru pulang! Kamu masih ingat kan pesan dan harapan ayah ibumu sebelum kamu ke sini?” nasihat Kang Rahmat.

”Masak baru 2 pekan udah mau pulang? Dapet apa, Kal? Juz ‘Amma aja belum hafal, gimana bisa mendoakan orang tua? Ingat, Kal, apa pun yang terasa berat di hati kita, itu cobaan untuk orang yang sedang menuntut ilmu. Di mana-mana, orang menuntut ilmu pasti dicoba Allah. Dan kamu harus tahu Allah itu mencoba kita menurut kadar kemampuan kita,” panjang lebar Kang Rahmat melanjutkan nasihat.

Bukannya diam, tangis Haikal kian menjadi. Ia teringat nasihat ibunya saat ia berangkat. Ingat kata-kata sarat makna yang mengalir dari jiwa ibunya ketika ia hendak berangkat mondok. Air mata orang tua itu tak berjeda, terus mengalir mengantar kepergian Haikal. Antara rela dan tak rela, antara berat dan harapan tinggi akan putera semata wayangnya.

”Hiks…Ibu, maafkan Haikal, ibu….”

“Ada apa, Kang?” satu suara bertanya.

Ternyata Rusydi yang mimpi indahnya terganggu tangisan. Beberapa santri yang tidur di serambi masjid juga terbangun.

“Ini, Kang, Haikal masih minta pulang,” jawab Kang Rahmat tak enak hati.

“Oh…..” Kang Rusydi maklum. Segera berlalu.

Sepeniggal Kang Rusydi, Kang Rahmat langsung memeluk Haikal, membiarkan menangis di dadanya.”

“Ayo, katanya mau tahajud,” bisik Kang Rahmat setelah Haikal tenang, ”jangan lupa berdoa sama gusti Allah semoga kita diberi hati yang istikomah. Semoga kuat menghadapi cobaan. Semoga diberi ilmu yang bermanfaat dunia akhirat. Semoga kita bisa bakti sama orang tua. Doakan bapak, emak di rumah. Kita di sini disuruh ngaji dan berdoa untuk mereka, bukan buat menangisinya. Di pundak kita ada beban. Kita harus jadi orang berilmu lagi mengamalkan ilmunya seperti harapan orang tua. Ayo kita wudhu,” panjang lebar Kang Rahmat bicara.

Usai berkata begitu, Kang Rahmat membimbing Haikal ke kolam untuk berwudhu.

Musik masih menggema; nyanyian ribuan jangkrik masih memenuhi jagat malam itu. Di langit, bulan sabit merajai lukisan malam dan kerlip bintang-gemintang di lautan pekat petaka angkasa. Di dalam masjid pondok, di antara santri-santri yang tengah khusuk qiyamul lail, Haikal bersimpuh di atas sajadahnya.

Air mata yang terus mengalir sejak ia takhbirotul ihrom tadi, kini tumpah-ruah di atas sajadah. Hati yang senantiasa gundah berselimut prasangka, ia pasrahkan sepenuhnya pada yang menciptakan jagat raya. Ia mengadu segala duka lara hati pada Ilahi, memasrahkan takdir pada yang berhak mengubah takdir.

Dalam benaknya, berkelebat bayangan pucat ibunya; tersenyum memudakan kembali segala nasihat yang pernah diberi.

“Ilahi, hanya kepada-Mu kembalinya segala sesuatu. Hanya di tangan-Mu segala apa yang ada. Engkau Penguasa Yang Maha Perkasa, namun begitu bijaksana. Rob, atas rido dan rahmat-Mu, atas taufik dan hidayah-Mu, kuatkan hamba hadapi segala cobaan. Beri hamba rizki ilmu yang bermanfaat. Rob, beri hamba kekuatan, kesehatan, kemudahan dalam menuntut ilmu-Mu. Jauh di sana ya Rob, semoga Engkau senantiasa melebarkan sayap rahman rahim-Mu kepada ayah-ibu limpahkan beribu kebaikan atas mereka, ya Rob.

Haikal terus berdoa dengan linangan air mata, terus memohon dengan kerendahan jiwa untuk kedua orang tuanya.

Di pojok saf pertama Kang Rahmat menatap Haikal sedih. Diam-diam ia menyelinap keluar masjid. Angin menyapanya di tengah keremangan cahaya lampu, membuatnya menggigil kedinginan. Bulu romanya meremang. Ia tak peduli, tetap melangkahkan kaki, kembali menyusuri jalan menuju pondok; menuju kamar 7, kamar yang terletak paling ujung dari 7 kamar yang ada.

Sesampainya di kamar, Kang Rahmat segera menghampiri tempat pakaian Haikal, mencari-cari kertas yang menurutnya membuat Haikal bermuram durja. Lama ia  membuka-buka sela pakaian. Nihil. Ia beralih ke tempat kitab Haikal yang isinya cuma beberapa buku tulis dan kitab. Dengan mudah, ia menemukan amplop putih dalam Arbain Nawawi. Perlahan, dengan hati berdebar, Kang Rahmat membuka amplop itu. isinya  lipatan kertas kecil. Tampak rangkain kata ditulis dalam keadaan tak menentu. Tulisannya tak karuan. Bahkan tanpa pembuka maupun penutup. Singkat padat dan langsung pada inti permasalahan.

Ananda tercinta, bolehkah bunda bermain kata? Meski teramat singkat, Haikal sayang, maafkan bapak, bunda telah melanggar aturan pondok dengan berkirim berita pada waktu yang salah, tapi Haikal, ibu hanya berpesan .doakan ibu, Nak. Ibu sedikit demam. Doakan ya semoga lekas sembuh dan bisa bantu ayah di rumah. Ayah harus masak, nyuci sendiri belum lagi ngurus ibu. Haikal uangnya masih kan? Dihemat dulu, ya. Mungkin kirimannya agak telat. Maafkan ayah ibu, Haikal. Jangan lupa ngaji yang benar, berdoa buat kebaikan semuanya. Percayalah, Allah itu kuasa. Pesan ibu, Nak, kerasan di pondok, ya, ngaji yang temen, d barengi doa dan riyadhoh. Jangan lupa puasa ya, Nak, masani ilmumu biar sedikit, yang penting manfaat.

Tanpa terasa air mata Kang Rahmat menitik membaca surat itu. Tapi di sudut hatinya, ada rasa yang mengusik ketenangan batinnya. Entahlah, dosa apakah jika ia sama sekali tak percaya akan isi surat itu? Hati kecilnya berkata bahwa ibu Haikal tak hanya demam, ia merasa ada yang lebih menghawatirkan dari itu. Mungkin Haikal juga merasa seperti itu. Pantas dia begitu sedih dan ngotot minta pulang. Haikal adalah semata wayang dan disayang.

Kini Kang Rahamt tahu dan paham perasaan Haikal.

Suara azan Subuh terdengar bersahut-sahutan. Suara merdu Kang Maimun terdengar paling jelas bagi Kang Rahmat. Cepat-cepat ia melipat surat itu, mengembalikannya ke tempat semula dan segera berlari ke masjid bersama para santri yang baru saja terjaga dari mimpinya.

Usai shalat Subuh, Haikal masih duduk di tempat semula. Ia bermunajat dengan teramat khusyuknya. Begitu Haikal meraupkan kedua tangannya ke wajah, Kang Rahmat mendekatinya, duduk di sampingnya.

“Ngaji!” kata Kang Rahmat begitu Haikal menatapnya. Anak itu mengangguk, lalu mereka berdua segera bangkit berjalan beriringan keluar dari masjid. Mereka tampak seperti bapak dan anak.

“Kang, Haikal duluan, ya,” pamit Haikal lalu berbelok ke aula tempat para santri ngaji sama Abah atau pengasuh pondok pesantren.

“Ya. Sudah hafal kan?”

“Insya Allah, Kang,”sahut Haikal yang separuh tubuhnya telah menasuki aula.

Begitu Haikal bergabung dengan santri-santri yang tengah menunggu Abah rawuh, Kang Rahmat pergi ke kantor pondok. Di sana ada Kang Umam, lurah pondok. Langsung saja Kang Rahmat mengutarakan maksud kedatangannya ke kantor untuk meminjam HP pondok dan menceritakan sekilas tentang Haikal.

“Ini, Kang,” lurah pondok itu menyerahkan sebuah ponsel.

“Terima kasih.”

“Semoga tak separah yang kita bayangkan,” gumam Kang Umam.

“Aku harap juga gitu, Kang,” balas Kang Rahmat sambil menghubungi nomor yang tadi dicatat di secarik kertas, saat ia mencari-cari surat ibu Haikal.

Tak lama kemudian terdengar nada sambung.

“Assalamu’alaikum, Bapak, ini teman Haikal,” terang Kang Rahmat sebelum ayah Haikal bertanya. Alih-alih mendapat jawaban, Kang Rahmat malah mendengar helaan nafas panjang.

Kemudian hening.

Kang Rahmat Menunggu.

”Hiks… hiks…, Nak Rahmat,” suara di seberang serak dan berat.

Seketika pikiran Kang Rahmat melayang. Ia teringat Haikal. Hatinya bergemuruh seakan dirinya adalah Haikal. Jantungnya berdegup kencang bersiap menerima kabar terburuk yang akan menghempaskannya dalam lautan air mata.

"Ah……bila aku sesakit ini bagaimana dengan Haikal yang benar-benar pemeran utama,” Kang Rahmat membatin. Tak sadar air matanya meleleh.

“Gimana keadaan ibu, Pak?” lirih kang Rahmat begitu ia mampu menguasai perasaan.

Diam. Hanya isak kecil. Tak ada jawaban dari seberang.

“I…I…Ibu sa… sakit, Nak. Gi... gi… ginjalnya… ha…harus di...operasi cangkok ginjal.”

“Innalillahi…,” batin Kang Rahmat.

“Doakan ya, Nak. Se… semoga ada donor ginjal dan operasinya berhasil.”

“Tentu Pak, kami akan berdoa untuk ibu,” sahut Kang Rahmat dengan hati carut marut.

“Nak, jangan sampai Haikal tahu, ya. Rahasiakan ini dari Haikal. Bi…bilang saja ibu sudah baikan. Sudah dulu ya, Nak, bapak masih banyak kerjaan.”

“Ya. Assalamu’alaikum warahmatullah.”

Terdengar serak ayah Haikal menjawab salam sebelum sambungan terputus.

Kang Rahmat menghela nafas berat, dikembalikannya HP kepada Kang Umam.

”Harus operasi cangkok ginjal. Parahnya, sampai hari ini belum ada donor yang cocok,” jelas Kang Rahmat lemah, menjawab tanda tanyanya di wajah sahabtnya.

”Tolong, jangan bilang sama Haikal,” gumam Kang Rahmat lagi.

“Kasihan, baru dua pekan mondok, cobaannya sudah seberat ini,” sahut Kang Umam turut sedih.

“Ya.”

“Ada Kang Rahmat?” tiba-tiba Kang Syamsul nongol, “tuh, dicari Haikal!” tambahnya.

Kang Rahmat segera bangkit. Kemudian pamitan.

Hari beranjak siang. Kang Rahmat mengira masih remang. Ternyata matahari mulai bersinar. Hari yang cerah membuat suasana pagi terang lebih awal. Tentu saja burung-burung menyambut suka cita.

Tanpa banyak kata, Kang Rahmat bergegas menuju masjid. Dia hafal betul Haikal paling suka tiduran di bawah bedug masjid sambil menghafal Juz Amma atau hadits. Suasana agak sepi. Hanya ada beberapa santri yang sedang menghafal atau i’tikaf sambil menunggu dhuha.

Benar saja, Haikal sedang tiduran di bawah bedug beralaskan sajadah. Tangannya memegang Juz Amma. Kang rahmat mendekat. Sebenarnya tiap kali ia melihat Haikal tidur di bawah bedug, ia ingin selalu tertawa. Bagaimana tidak, orang Haikal seperti ulat digencet batu. Ukuran bedug itu 10 kali lipat tubuh Haikal.

“Cari aku, ya?” tanya Kang Rahmat ketika anak itu menghentikan hafalannya.

Haikal menutup Juz Amma dan meletakkannya di atas penyangga bedug.

“Sini, jangan di situ, aku kan nggak bisa masuk!” imbuh Kang Rahmat sambil menarik sajadah Haikal, namun ia berkelit dengan tampang sedihnya.

“Heh, ke sini bocah nakal!” gerutu Kang Rahmat beralih menangkap ujung sarung Haikal. Lalu menariknya hingga kedodoran. Begitu Haikal mendekat, Kang Rahmat segera menang kap kakinya. Lalu menariknya hingga tubuh Haikal keluar dari bayang beduk.

“Aku pengen pulang, Kang,” gumam Haikal tanpa merapikan sarungnya. Matanya menerawang jauh entah kemana.

“Huh, pulang lagi, pulang lagi,” batin Kang Rahmat mulai pusing.

“Pulang? Mau apa? Wong kamu tuh disuruh ngaji yang bener. Biar jadi anak soleh yang bisa mendoakan dan menolong orang tua di akhirat. Eh, malah minta pulang?” Kang Rahmat merebahkan tubuhnya di samping Haikal sambil melepas songkoknya. Dalam hati ia meniatkan i’tikaf. Sambil menyelam minum air.

“Kal, niatkan i’tikaf!” anjur Kang Rahmat.

“Sudah, Kang, tapi aku mau pulang,” rengek Haikal lagi. Kini perasaannya benar-benar tak nyaman. Bayangan ibunya yang tengah terbaring tak berdaya mengiris-iris hatinya.

“Sudahlah, Kal, bukannya kamu lebih baik di sini? Kalau di rumah malah merepotkan ayah ibumu. Mau apa di rumah? Tak ada yang bisa dikerjakan anak sekecil kamu!”

“Ibu sa…sa… sakit, Kang,” Haikal mulai menangis. Lepas. Air mata bercucuran. Beban berton-ton yang selama ini ia pikul sendiri sudah mampu ia lepaskan,“aku tak percaya ibu cuma demam. Perasaanku tak enak, Kang. Seperti ada yang…” kalimatnya terputus.

 “Ssssst…jangan berkata begitu!” Kang Rahmat memiringkan badan. Lalu membelai rambut Haikal dengan lembut. Ditariknya anak itu mendekat. Kemudian membenamkan wajah Haikal di dadanya.

“Jangan berprasangka buruk dulu. Siapa tahu itu cuma perasaanmu yang terlalu khawatir atau terlalu kangen. Bisa saja kan?” terang Kang Rahmat. Suaranya parau karena tak kuasa juga menahan perasaannya. Air matanya sendiri pun tak kuasa dibendung. Namun lekas-lekas menghapusnya. Ia tak mau Haikal tahu ia menangis.

“Ah, apa yang harus aku lakukan, ya Allah?” batin Kang Rahmat merintih.

“Tapi, Kang, aku…”

“Tidak baik berprasangka kepada Allah. Berdoa saja semoga ibu kamu lekas sembuh,” hibur Kang Rahmat.

Haikal diam. Perlahan tangisnya mereda, meski masih serenggukan. Ia melepaskan pelukan Kang Rahmat; menghapus air matanya dengan ujung kemeja. Meski tampak mendung, wajah Haikal agak tenang.

“Benar juga, Kang. Selama ini aku terlalu dekat sama ibu. Aku tak pernah jauh dari ibu. Aku seperti ekor ibu, kemana saja selalu ikut, kecuali ke kamar karena takut sama ayah. Dulu pun kalau ibu sakit, aku suka ikut-ikutan sakit.”

“Tuh kan bener. Kamunya aja yang terlalu percaya sama perasaan, tapi jangan lupa doakan ibumu semoga lekas baikan dan yang pasti kamu harus sabar dan ikhlas menerima cobaan.”

“Itu pasti aku usahain, Kang. Aku kan pengen jadi anak yang bakti sama orang tua. Ibu bilang aku harus kerasan, harus jadi anak yang soleh, biar berguna bagi orang tua gitu, Kang,” terang Haikal. Agak ceria, bahkan tersungging senyum manis sembari mengusap sisa-sisa ai mata dan ingusnya.

Melihat tingkah Haikal, hati kang rahmat merintih. Ingin rasanya ia menangis, matanya memanas.

“Udah…udah ngocehnya. Sekarang menghafal lagi, biar nanti ditambah. Malu kan kalau ngulang seperti kemarin? Masa surat Al-Zalzalah yang cuma 8 ayat nggak hafal? Bukan anak cerdas namanya,” Kang Rahmat memasang tampang lucu, mencoba menghilangkan perasaannya.

“He he he…namanya juga lupa, Kang,” sahut Haikal sambil meraih songkok dan Juz Amaa.

“Tapi, Kang, aku kepikir ibu terus perasa…”

“Ah, sudah, sudah dhuha…” teriak Kang Rahmat mengalihkan perhatian Haikal. Ia segera bangkit lalu menarik tangan anak itu. Ia tak mau melihat air matanya lagi. Melihat Haikal sedih, ia ikut-ikutan sedih. Apalagi ia lebih tau dari Haikal.

“Kang…,” Haikal masih saja berfikir tentang keadaan ibunya, Kang Rahmat mulai jengah.

“Dhuha! Ayo jangan malas! Dasar, nakal!” gurau Kang Rahmat sambil menarik anak itu ke punggungnya. Dan detik itu pula, Kang Rahmat telah menggendong Haikal sambil melangkah menuju kolam.

“Kok bau, nggak mandi ya?” tanya Kang Rahmat sambil memonyongkan bibirnya.

“Bau yo, Kang?” Haikal balas tanya sambil merentangkan tangannya.

“Banget!”

“Hahaha… kena deh. Emang aku nggak mandi dari kemarin, Kang.”

Belum usai Haikal berkata, tubuhnya diturunkan dari pundak Kang Rahmat

“Hiah… dasar anak nakal!” teriak Kang Rahmat.

Haikal jatuh terduduk sambil tertawa. Senang melihat tingkah Kang Rahmat yang menurutnya begitu lucu.

***

Usai shalat dhuha, Haikal kembali tiduran di bawah bedug sambil menghafal Juz Amma lagi. Jauh darinya, Kang Rahmat duduk bersandar pada tiang masjid sambil membaca kitab Tanbihul Ghofilin yang selalu ia tinggalkan di masjid. Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sibuk memasukkan partikel-partikel ilmu ke dalam sanubari, tidak hanya ke dalam otak belaka. Dan tak jauh dari mereka, santri-santri juga melakukan hal yang sama.

Angin bertiup sepoi-sepoi. Terasa sangat sejuk. Matahari bersinar tak terlalu menyengat. Hangat di sekujur tubuh, menyehatkan karena dapat mengubah pro vitamin D menjadi vitamin D yang sangat baik untuk pertumbuhan tulang. Sungguh suasana yang sangat nyaman.

Di tempatnya masing-masing, Haikal dan Kang Kahmat mulai liyer-liyer; merasakan nikmat belaian alam sampai akhirnya kedua insan itu terlelap dengan posisi yang sangat unik. Haikal tertidur di bawah bedug dengan songkok hitam menutupi wajahnya dan Juz Amma terjatuh di dadanya. Mulutnya melongo siap kejatuhan kotoran cicak. Sementara Kang rahmat tertidur dengan kepala menunduk dalam-dalam. Songkok terjatuh di sampingnya. Rambut hitamnya berantakan. Kitabnya tergeletak begitu saja di pangkuannya. Tidak ketinggalan mulutnya juga melongo nyaris goa salah tempat.

“Kang, Kang Rahmat, Kang rahmat!” teriak Kang Umam sambil berlari, “Kang rahmat!” suara itu terdengar amat nyaring.

Kang Rahmat gelagapan, sampai-sampai kitabnya terjatu. Segera diraihnya kembali kitab itu berikut songkoknya.

"Dug… terdengar suara benda jatuh. Disusul jerit “Adaw,” suara kening haikal yang tertidur di bawah bedug kepentok bedug itu sendiri ketika ia kaget mendengar suara kang umam. Haikal jatuh tertidur kembali, ia meringis sambil mengelus-elus keningnya yang sakit.

“Ada apa kang?” tanya Kang Rahmat sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Kang Umam tak langsung menjawab. Ditatapnya Haikal yang tengah berguling keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Kang Rahmat, berbisik sebentar. Mendadak wajah yang dibisiki menegang, dan langsung ditatapnya Haikal dengan perasaan campur-aduk.

“Suruh ke kantor, kang!” pinta Kang Umam.

“Ya,” sahut Kang Rahmat tanpa ekspresi. Ia segera bangkit dan berlari secepat kilat ke kantor. Disusul Kang Umam yang juga berlari meninggalkan Haikal sendiri dengan tanda tanya besar di otaknya; semacam prasangka tiba-tiba muncul tanpa ia pinta.

Perasaan tak nyaman bergumul-gumul dalam dadanya; sesak, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas. Matanya memerah. Bayangan ibunya, segala tingkah lakunya dulu yang menhyusahkan ibunya berkelebat, menimbulkan sesal dan rasa bersalah bergunung-gunung. Ingin ia berlari pulang; memeluk ibunya, mencium tangannya, bersimpuh memohon maaf akan segala dosanya yang telah diperbuat.

“Ibu…” rintih Haikal pilu. Air matanya menganak sungai. Hatinya sakit. Teramat sakit.

Entah dorongan dari mana, dengan langkah gontai dan mata terus basah, Haikal melangkahkan kaki menuju kantor. Peduli apa, dia ingin di sisi Kang Rahmat. Ingin tahu kenapa orang yang sangat disayanginya itu tampak begitu tegang dan panik. Tak mungkin hanya musyawarah pengurus. Ia yakin ada yang lain, ada yang tersembunyi.

***

Sementara itu di kantor, Kang Rahmat menanti HP yang tergeletak di atas meja itu bergetar, rasanya terlalu, lama benda itu tak kunjung menyala atau bergetar. Ia mondar-mandir, gelisah, sebentar duduk, berdiri lalu duduk kembali.

“Kring...” ponsel yang ditunggu itu bergetar. Dengan tangkas Kang Rahmat menyambar benda itu dan langsung menempelkan ke pipinya begitu menekan tombol OK.

“Assalamu’alaikum, Bapak ini Rahmat…!” sergahnya.

“Kang Rahmat, maaf kami mau bicara dengan Kang Dwi di koperasi!”

“Oh, maaf, ada apa? Nanti saya sampaikan…” sahut Kang Rahmat lemas campur kecewa.

“Kitab pesanannya sudah ada. Bisa diambil kapan saja pada jam kerja.”

“Ya, nanti saya sampaikan,” sahut Kang Rahmat kembali tanpa semangat.

Setelah mengucapkan terima kasih dan salam, suara di seberang hilang. Sambungan terputus.

Dengan kecewa dan hati makin kalut, Kang Rahmat meletakkan HP itu di atas meja. Di seberangnya, Kang Umam juga tak kalah sedih

“Lama sekali!” gerutu Kang Rahmat.

“Lagi sibuk kali. Tadi saja kayaknya buru-buru banget.”

“Huh…,Kang…, perasaanku…” desah Kang Rahmat tak selesai karena ponsel kembali bergetar. Ia langsung.

“Rahmat…,” terdengar suara serak dari seberang tanpa mengucap salam, disusul suara isak tangis kecil yang berusaha ditahan-tahan.

“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Rahmat dengan jantung berdebar kencang seakan menanti putusan hakim menanti vonis terburuk yang akan diterimanya.

“Ibu… men… ni…ning… ibu … meninggal, Mat…hiks. Gagal ginjal…!”

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun…” desis Kang Rahmat cukup keras untuk didengar sepasang telinga yang sejak tadi mendengarkan dari balik pintu dengan tubuh gemetar.

“Tolong jaga Haikal dulu. Bapak titip Haikal. Jangan beri tahu dia. Masih terlalu kecil,” pesan suara du seberang dengan suara serak dan tersendat.

Kang Rahmat yang perasaannya sudah kacau-balau, tak bisa menjawab. Tubuhnya lemas. Telapak tangannya basah dan matanya berkaca-kaca. Bayangannya kepada Haikal kecil. Haikal yang akhir-akhir ini menangis terus.

“Si…si…siapa yang me…me…meninggal, Kang?” suara serak dan tersendat Haikal menyentakkan Kang Rahmat dan Kang Umam yang sejak tadi diam dalam kesedihan. Tanpa terasa HP terjatuh di karpet. Kang Rahmat terpana menatap Haikal sudah berdiri di ambang pintu dengan air mata merebak. Tubuhnya gemetar hebat. Detik itu waktu terasa terhenti. Tegang dengan rasa tiada tentu. Rasa sakit tiada terukur.

"Bruk...," suara tubuh Haikal jatuh terduduk di lantai dengan tubuh lunglai. Air mata terus keluar, tapi suaranya tak ada. Ia sesenggukan. Tanpa daya, antara sadar dan tidak sadar.

Melihat haikal roboh, kang rahmat tersadar dari kebekuan. Ia segera menyongsongnya; merengkuh tubuhnya yang lunglai di pelukan.

Wajah Haikal begitu pucat. Tangannya sedingin es. Tubuhnya bak tak bertulang belakang.

“Haikal, tabah Haikal…, kamu harus kuat…,” bisik Kang Rahmat seraya membenamkan wajah anak itu ke dadanya. Kang Umam yang hanya bisa melihat, turut menitikkan air mata. Hatinya turut terluka mengetahui apa yang menimpa Haikal kecil.

“Haikal … tabah!” bisik Kang Rahmat kembali. Diangkatnya tubuh anak itu. Lalu membaringkannya di karpet. Kang Umam meraih songkok Haikal yang terjatuh dan ikut mendekati tubuh yang terbaring lemah dengan mata terpejam, namun mengalirkan air mata itu; sesekali sesenggukan.

“Haikal, kamu sadar kan? Tabah Haikal…” bisik Kang Rahmat sambil mengelus pipi anak itu.

“Ibu, Kang, ibu….Haikal belum minta maaf sama ibu, Kang!” lirih Haikal seperti tidak sadar, "Ibu… Hhaikal minta maaf, bu… dosa Haikal banyak.”

“Haikal … bangun… bangun…!” Kang Rahmat menepuk pipi haikal. Perlahan ia membuka mata; menatap Kang Rahmat memelas. “

"Haikal, percayalah… ibumu sudah memaafkanmu. Ayahmu bilang, kamu harus tetap di sini. Jangan pulang…!” Kang Rahmat membelai rambutnya dengan lembut.

“Aku banyak dosa, Kang!”

“Tenang, Haikal… doakan saja semoga ibumu khusnul khotimah, percayalah ibumu sudah memaafkanmu, kalau tak percaya nanti kang rahmat telfonkan ayahmu, kalau boleh bicara asal kamu janji gak minta pulang. Kamu harus kuat haikal, kamu harus jadi orang yang berguna bagi ibu dan ayahmu, yang bisa mendoakan mereka…”

“Ya, Kang aku nggak akan pulang. Tapi, Kang, ibu…,”

“Percayalah kalau kamu pulang dan gagal, ibumu di alam sana akan sedih dan kecewa.”

“Hu hu huh uhu… Ibu, maafkan Haikal. Haikal janji tetap di sini ngirim doa buat ibu…”

Haikal terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Kang Rahmat.

“Tabah, Kal… tabah…!” bisik Kang Rahmat sambil membelai kepalanya.

 

Pesan Bunda, merupakan Juara I kategori cerpen pada sayembara penulisan kreatif yang digelar Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) 2012.Internet Marketer Nahdlatul Ulamaakan memuat pula cerpen juara II dan III, serta beberapa nominasi juara, tiap akhir pekan, secara berurutan.

Naili Halimah, lahir di Magelang, 21 Juni 1990, di Dusun Bugangan, Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Nyantri di Pondok Pesantren Ma’ahidul ‘Irfan; terletak di Dusun Soropaten, Desa Gandusari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

Keterangan gambar: lukisan Affandi

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Aswaja, Budaya Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 04 Desember 2017

PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menegaskan bahwa keterlibatan dalam gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan sebagai tugas utama pengurus ranting NU. Karena pada prinsipnya pengurus ranting NU bertugas mengayomi, melindungi, dan mengatasi masalah jamaah di daerahnya masing-masing.

Demikian disampaikan Kang Said dalam pertemuan silaturahmi dan sarapan pagi PBNU dan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta di halaman Gedung PBNU, Ahad (27/11) pagi.

PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil

Menurut Kang Said, pengurus ranting NU adalah mengorganisasi. Masyarakat atau rakyat yang diorganisir sangat berharap mengalami perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Perubahan ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan atas hak dasar mereka dari ancaman maupun tantangan yang mereka hadapi.

“Ada ketidakadilan, penindasan, dan sebagainya. Karena itu seorang pengurus NU, yang berarti adalah pengorganisir warga, memang harus memiliki keberpihakan kepada masyarakat atau rakyat,” kata Kang Said di hadapan ribuan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini mengatakan, masalah di setiap desa kadang dipahami melalui pendekatan dan rumus tertentu. Tetapi pengorganisasian itu sesungguhnya bukan teori atau rumus ilmiah. Karena setiap masalah, ancaman, ketidakadilan, di tiap tempat memiliki pengertian dan nuansa yang khas lokal sesuai konteks masing-masing.

“Tidak bisa tidak, untuk menjawab hal-hal tersebut seorang pengorganisir harus terlibat di dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan,” kata Kang Said dalam pertemuan silaturahmi yang juga dihadiri Kapolri dan jajarannya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Sholawat, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 25 November 2017

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Oleh Munawir Aziz*

Selama ini, dakwah yang digunakan untuk mengampanyekan nilai-nilai Islam sangat terkait dengan media. Penyampaian pesan-pesan keagamaan melalui media konvesional terbukti efektif sebagai agenda dakwah. Model-model dakwah dalam forum kajian, majelis taklim maupun acara-cara seminar mampu mempengaruhi perspektif kaum muslim agar memahami nilai-nilai agama secara lebih utuh.

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Digital dan Dakwah Kelas Menengah

Akan tetapi, saat ini media mengalami revolusi dalam spektrum baru berupa media digital. Bagaimana merespon revolusi media dalam kerangka strategi dakwah? Bagaimana menampilkan model dakwah yang baru di tengah percepatan teknologi? Tentu saja, dakwah di era digital perlu menggunakan strategi-strategi baru untuk merespon ekosistem media digital yang berbeda dengan media konvensional.

Pertumbuhan media digital menemukan momentumnya dengan pertumbuhan kelas menengah muslim. Jika geliat kelas menengah dimulai dari tahun 1980an, yang kemudian menemukan akses luas pasca reformasi, tentu hal ini tidak bisa dilepaskan dari iklim politik dan kebebasan di ruang publik untuk mengekspresikan identitas. Kelas menengah muslim dianggap sebagai ceruk penting yang memiliki potensi luar biasa, dari akses ekonomi, gaya hidup, pengetahuan hingga keberpihakan politik. ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam hal ini, kelas menengah muslim adalah ceruk komunitas yang terus membesar, seiring pertumbuhan ekonomi dan akses pendidikan. Robisan mencatat, bahwa “dalam kelas menengah, terdapat sejumlah akademisi, kaum cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, tokoh politik, aktifis kebudayaan, kaum teknokrat, aktifis LSM, juru dakwah, publik figur, presenter, pengamat ekonomi dan sejenisnya” (Robison 1993: 30)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Untuk itu, Vatikiotis mengungkapkan bahwa kelas menengah muslim lebih banyak berada di perkotaan, karena mudahnya akses media dan jaringan pengetahuan. “Di Indonesia, kebangkitan kembali kepada semangat keagamaan tahun 1980an dan 1990an adalah fenomena khas kelas menengah di wilayah-wilayah perkotaan – segmen masyarakat yang paling banyak tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Fenomena ini berpengaruh luas pada meningkatnya ketaatan beragama padaorang-orang Islam yang sedang menikmati kemakmuran sebagai kelasmenengah” (Vatikiotis, 1996: 152 – 53). Akan tetapi, pandangan Vatikiotis ini perlu direvisi karena pertumbuhan media digital.

Seiring meningkatnya akses informasi melalui media digital, tentu pembagian demografi dalam pandangan Vatikiotis akan sedikit mengalami revisi. Ruang fisik semakin meluas tidak hanya di kota-kota besar semata, karena hal ini akan ditembus oleh akses ekonomi, media informasi dan perkembangan teknologi. Sekarang ini, sangat mungkin menemukan pengusaha muslim yang memiliki produk hijab skala menengah yang bermukim di pelosok Banyuwangi, namun memiliki kantor cabang di Jakarta dan Surabaya. Perkembangan teknologi, media sosial dan kemudahan akses infrastruktur memungkinkan fenomena ini terjadi.

Sirkulasi Ekonomi

Tumbuhnya kelas menengah muslim, juga ditunjang oleh tren positif pasar ekonomi syariah. Meningkatnya sirkulasi ekonomi dengan dalam pasar berlabel syariah, dapat dilacak pada perkembangan pesat bank syariah di Indonesia. Rintisan perbankan syariah yang dimulai pada 1991 oleh Bank Muamalat, tumbuh mencapai 40 % tiap tahunnya. Penetrasi ini melebihi bank konvensional yang tidak sampai kisaran 20%. Meski belum mencapai 5% dari total aset perbankan, akan tetapi geliat pasar ekonomi syariah sangat menjanjikan. Setidaknya, dari data awal 2014, sudah ada sekitar 11 Bank Umum Syariah (BUS), 23 Bank syariah dalam bentuk Unit Usaha Syariah (UUS), dan 160 Bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dari jumlah ini, bank-bank syariah memiliki 2.925 kantor cabang dan memiliki lebih dari 12 juta akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari 175 triliun rupiah (Yuswohadi, 2015).

Saat ini, tren ekonomi syariah berdampak pada bisnis kreatif dengan pasar kelas menengah muslim, dari fashion, kuliner, hingga wisata. Di beberapa daerah, wisata berbasis syariah sudah mulai menggeliat dengan memunculkan paket-paket jelajah daerah dengan panduan khusus untuk melayani pasar kelas menengah muslim. Dari sisi bisnis, tumbuhnya kelas menengah muslim menjadi tren penting pada zaman sekarang. Dampaknya, sangat terasa pada volunterism, fundrising dan agenda-agenda dakwah beserta amal yang mengakses kelas menengah muslim.

Revolusi Media

Tumbuhnya kelas menengah muslim perlu diimbangi dengan strategi dakwah yang tepat dan efektif. Revolusi media dengan tampilnya media sosial menjadi bagian penting untuk menerapkan dakwah di era digital. Di Indonesia, pengguna internet semakin meningkat, dengan akses media sosial yang terintegrasi. Para pengguna media sosial, cenderung menyampaikan pesan, pikiran dan mengakses informasi dari media-media baru sebagai platform visioner.

Data yang dirilis WeAreSocial (2015), pengguna internet di negeri ini pada kisaran 72,7 juta. Dari data ini, sekitar 72 juta merupakan pengguna aktif media sosial, yang diakses dari 60 juta akun media dari mobile. Ini artinya, media sosial sangat efektif dalam penyampaian pesan, perspektif dan informasi terbaru. Di sisi lain, media digital sebagai medan dakwah di era sekarang sangat signifikan untuk mencapai target kelas menengah muslim. Dakwah untuk kelas menengah muslim, dipengaruhi oleh bagaimana strategi menggunakan media digital untuk menyampaikan informasi serta mengkampanyekan pesan-pesan tertentu.

Tentu saja, hal ini menjadi tantangan menarik bagi ormas-ormas muslim untuk merespon tumbuhnya kelas menengah dan revolusi media digital. Kelas menengah muslim yang terkoneksi dengan akses media digital membutuhkan sentuhan dakwah yang lebih interaktif, efektif dan mudah diakses. Sentuhan teknologi dan grafis sangat diperlukan untuk memperkuat content-content dakwah. Berbagai platform media sosial dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan karakter khas Indonesia. Dakwah yang ramah di era digital menjadi tantangan strategis bagi pelbagai ormas Islam di negeri ini.

* Peneliti media, Pengurus? Lembaga Ta’lif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 19 November 2017

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati

Pati, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK Remaja) Cah Pati PC IPNU-IPPNU Kabupaten Pati menerima kunjungan kerja dari Komisi C DPRD Kota Pekalongan di sekretariat PIK Remaja yang bertempat di Gedung NU Kabupaten Pati, Selasa (22/1).?

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Prestasi IPNU-IPPNU Pati

Kunjungan kerja ini memang difokuskan untuk menambah wawasan mengenai program Kependudukan yang bermitra dengan Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati.?

Selain menuju sekretariat PIK Remaja di Gedung NU Kabupaten Pati, Kunjungan kerja juga dilaksanakan di Bina Keluarga Lansia Kecamatan Gembong Kabupaten Pati.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

PIK Remaja Cah Pati merupakan lembaga di bawah kordinasi PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati, yang telah menorehkan prestasi di tingkat lokal, propinsi dan nasional.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pada tahun 2012, PIK Remaja Cah Pati menjadi Juara I Lomba PIK Remaja untuk tahap tegak, dan menjadi salah satu dari 6 besar nominasi Lomba PIK Remaja tahap tegak di tingkat nasional.?

PIK Remaja Cah Pati juga menjadi PIK unggulan di Indonesia dan menjadi delegasi dari propinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Sail Morotai 2012 yang bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Tidak hanya itu, PIK Remaja Cah Pati juga pernah mengikuti kegiatan remaja hingga tingkat internasional, salah satunya yaitu Asian Pasific Conference on Reproductive and Sexual Health and Rights ke-6.?

Koordinator Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Bapak Ismet Inanue, SH, MH. menyatakan bahwa kunjungan kerja ini bertujuan untuk saling bagi antarprogram kependudukan yang bermitra dengan BPPKB Kabupaten Pati.?

Dengan kunjungan ini diharapkan Kota Pekalongan dapat menekan laju pertumbuhan penduduk dan dapat mengembangkan organisasi remaja yang ? ada di Kota Pekalongan.

? Dalam presentasinya, Ketua PIK Remaja Cah Pati Adiningtyas Prima Yulianti memaparkan profil dan kegiatan PIK Remaja Cah Pati, termasuk program Pendewasaan Usia Perkawinan yang juga merupakan program Keluarga Berencana.?

“Kegiatan yang dilaksanakan PIK Remaja Cah Pati tidak sekedar sosialisasi dan kegiatan administratif saja, tetapi kami juga melakukan penelitian dan pendampingan. PIK Remaja Cah Pati mendampingi dua PIK Remaja di tingkat sekolah dan tingkat desa, juga satu PIK Mahasiswa," jelas Prima Yulianti.

"Pendampingan ini bukan tugas yang mudah, karena kami harus meluangkan waktu dan mengkoneksikan PIK Remaja dan PIK Mahasiswa dampingan kami kepada Dinas terkait di daerah asal PIK Remaja dan PIK Mahasiswa tersebut. Kami selalu berkordinasi dengan BPPKB Kabupaten Pati dibantu oleh UPT KB di tingkat Kecamatan dalam mendampingi PIK Remaja dan PIK Mahasiswa. Sehingga tugas kami menjadi ringan,” lanjutnya.

Semenatara itu, salah seorang pengurus NU Pati H Asnawi mengatakan, program pendampingan yang dilakukan oleh PIK Remaja Cah Pati patut diapresiasi, karena jarang sekali organisasi remaja yang mau turun langsung ke komunitas remaja.?

"Permasalahan remaja seperti kehamilan yang tidak diinginkan, narkoba, HIV AIDS merupakan fenomena gunung es yang harus dieselesaikan bersama-sama. Dengan adanya PIK Remaja Cah Pati diharapkan dapat ? mendukung penyelesaian masalah tersebut”, jelas H Asnawi yang ketua RMI Pati.

Redaktur ? ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor ? : Tim IPNU-IPPNU Pati

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja, Meme Islam, Sejarah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 17 November 2017

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu

Oleh Miftahul Jannah--Cita-cita tentang terwujudnya perdamaian dunia adalah tujuan kemanusiaan yang mulia. Di mana pun, konflik dan peperangan adalah kesedihan bagi yang menyaksikannya. Terlebih lagi bagi yang mengalaminya. Anak-anak, perempuan mengalami trauma. Juga kaum bapak dan semua yang kehilangan anggota keluarga, harta benda dan pekerjaan.

Begitu juga Konflik Israel-Palestina. Konflik di sana berawal dari adanya resolusi PBB yang membagi tanah Palestina menjadi dua bagian. Israel mendapatkan tanah lebih luas sementara Palestina mendapat bagian yang lebih kecil. Konflik semakin memuncak ketika Israel mendirikan negara pada tahun 1948 berdasarkan resolusi tersebut.

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu

Konflik terus berlangsung. Tak sedikit masyarakat sipil baik dari Palestina maupun Israel yang menjadi korban. Dampak semakin terasa di pihak Palestina karena wilayahnya semakin mengecil, akibatnya masyarakat terusir dari wilayahnya sendiri dan harus mengungsi ke negara-negara Arab lainnya.

Jalan damai Israel-Palestina telah diupayakan sejak tahun 1948 baik oleh kedua belah pihak atau pihak lain sebagai mediator. Namun kata sepakat sulit ditemukan. Puncak kegagalan upaya damai ini terjadi ketika partai Hamas dari Palestina menolak berunding dengan Israel sehingga peperangan kembali terjadi dan entah sampai kapan akan berakhir. Bahkan Liga Arab sebagai organisasi negara-negara Arab tidak mampu memberikan jalan tengah bagi konflik tersebut. Banyak negara-negara Timur Tengah turut merasakan dampaknya. Pan-Arabisme yang menyatukan negara-negara Arab ini sempat mengalami kemunduran sehingga menimbulkan sikap apatis terhadap konflik Timur Tengah. Dengan demikian perdamaian di Israel Palestina dan Timur Tengah lainnya masih sulit untuk terwujud sampai saat ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jerusalem

Saya berkesempatan melakukan kunjungan ke Israel (19-27 Jan 2015) sebagai salah seorang peserta Indonesian Moslem Leaders "Tribute to Gus Dur". Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Jerusalem. Nama ini diambil dari kata saleem (selamat), merupakan kota yang penting bagi umat Yahudi (Jewish), umat muslim dan umat Kristen. Di Jerusalem lah Nabi Ibrahim menerima wahyu untuk berkurban, Nabi Sulaiman membangun temple, juga Nabi Muhammad berangkat ke langit dari Jerussalem.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Bagi umat Yahudi, Jerusalem merupakan tempat beradanya tembok ratapan dan Bait Allah. Bagi umat Islam, adalah tempat dimana mesjid Al Aqsha berada, tempat nabi melaksanakan perjalanan spiritual nan suci dari Masjidil Haram di Makkah ke mesjid Al Aqsha di Jerussalem (Qs Al Isra:1). Lalu menuju ke langit untuk menerima wahyu kewajiban shalat lima waktu bagi umat muslim. Dan bagi umat Kristen, Jerusalem adalah tempat gereja Makam Kudus, dimana Jesus disalib dan dimakamkan. Serta situs-situs keagamaan yang penting lainnya seperti gereja Kelahiran dan kuburan Rahel di Betlehem.

Israel memiliki budaya yang beranekaragam karena para Yahudi imigran dari seluruh dunia membawa tradisi dan budayanya masing-masing. Hari raya nasional ditentukan berdasarkan kalender Yahudi. Saya menyaksikan hari Sabtu (Shabbat), candlelighting di rumah seorang yahudi taat, Peta Pelach. Lalu Shabbat Service di sinagoge terdekat dan Shabbat hospitality di kediaman seorang rabi (pendeta Yahudi).

Shabbat ditetapkan sebagai hari libur dimulai dari sunset Jumat sampai dengan sunset Sabtu. Tidak ada aktivitas apa pun saat Shabbat. Tidak ada jual beli, tidak bekerja, tidak menyalakan computer atau kamera. Hanya doa dan kumpul bersama keluarga menikmati dinner saat Shabbat. Israel juga dipengaruhi budaya Arab yang terlihat pada arsitektur-arsitektur bangunan, musik, dan kuliner Israel.

Kami berkunjung ke museum, salah satu institusi kebudayaan yang terpenting di Israel. Saya mengunjungi Museum Holocaust nasional Israel, Yad Vashem. Museum ini menyimpan sejumlah arsip-arsip informasi mengenai peristiwa pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman. Juga berkunjung ke museum di Masada in memory of Yigeal Yadin, dan Museum of Islamic Art yang menyimpan sejarah perjalanan Islam Timur Tengah, periode Mongol, Iran, Turki dan tentunya Islam di Israel.

Silaturrahim dan kunjungan juga dilakukan ke pusat pusat kebudayaan Islam. Selain ke museum yang menyimpan banyak sejarah tokoh dan peristiwa, kunjungan juga ke Arabiyah Village dekat perbatasan Israel Lebanon Jordan, dan Syiria, dimana komunitas muslim Israel Palestina berada. Kunjungan juga dilakukan ke mesjid-mesjid, yaitu Masjid Ahmad Haji Qadirov (nama ayah dari presiden Cechnya), karena memang biaya pembangunan mesjid berasal dari donasi Presiden Cechnya. Menurut peraturan perundangan yang berlaku, pemerintah Israel tidak boleh memberikan dana untuk mendirikan tempat ibadah agama apa pun. Pendirian tempat ibadah menjadi tanggung jawab para pemeluknya masing-masing.

Kami disambut Walikota Abi Gosh, visit dan lunch at sufi center-Islamic cultural Syeikh Ghassan Manasra imam Thariqah Qadliriyah di Nazaret; putra Syeikh Abdussalam Husein Munashiroh muallif kitab “Mu’jam kalimatul Qur’anul karim maniy wa tashrif”. Nazareth adalah Kota terindah di Israel yang berada di puncak pegunungan, dengan mayoritas muslim keturunan Arab. Meski demikian, kota ini tetap disebut sebagai kota Jesus. Atas kesepakatan bersama, di sinilah toleransi dan kebesaran hati masing-masing pemeluk agama teruji.

Tak lupa kunjungan juga dilakukan untuk turut dapat berempati dan memberikan cinta kasih kepada korban perang Syiria yang dirawat Rumah Sakit Zip Hospital. Seluruh korban perang di sini tidak dipungut biaya, ditanggung pemerintah Israel. Setidaknya selama tahun 2014, sebanyak 77.000 pasien gawat darurat dan 220.000 pasien rawat jalan di sini. Selanjutnya kunjungan ke Save A Child’s Heart di Wolfson Hospital, Holon Tel Aviv. Di situ anak-anak dari seluruh dunia termasuk Afrika yang memiliki penyakit di bagian hati dirawat dan diupayakan sembuhkan. Love is powerfull! ?

Gus Dur dan Perdamaian dunia

Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid adalah nama seorang muslim Indonesia yang paling sering didengar di Israel karena selalu disebut para rabai (Pendeta Yahudi), tokoh Kristen, jurnalis, aktivis Interfaith di Israel. Juga tentunya di kalangan moslem community di Israel dan Palestina. Gus Dur menjadi nama yang begitu akrab dan dicintai baik kalangan yahudi maupun komunitas muslim di kedua negara itu. Menyebut nama Gus Dur adalah berkah bagi warga Indonesia karena dengan menyebutnya seperti menjadi semacam clue dan ada chemistry bahwa ada persahabatan antara kami dengan mereka.

Peran aktif Gus Dur dalam mewujudkan perdamaian antara Palestina dan Israel terlihat jelas semasa hidupnya. Setidaknya Gus Dur tercatat dalam dua organisasi besar yang memperjuangkan terwujudnya kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia di Israel dan Palestina. Bahkan Gus Dur juga menjadi salah satu pendiri di dalam organisasi ini jauh sebelum ia menjadi Presiden Republik Indonesia, yaitu the Peres Center for Peace. Organisasi itu dimotori mantan Presiden Israel Simon Peres. Gus Dur juga tercatat sebagai member board The Elijah Interfaith Institute sharing wisdom, fostering peace dimana para tokoh agama dan tokoh perdamaian dunia menjadi member di dalam kedua organisasi ini. Gus Dur ada di dalamnya karena konsisten memperjuangkan perdamaian dunia.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, beliau pernah mewacanakan membuka hubungan dagang dengan Israel. Wacana yang cukup kotroversial. Banyak yang mengkritik terhadap keinginannya, terutama dari kalangan umat Islam. Alasannya cukup ‘ideologis’ bahwa Israel sampai saat ini masih melakukan penjajahan terhadap Palestina. Konstitusi Indonesia UUD 1945 menganut ‘Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Penolakan muncul dari mana-mana, baik dari dalam parlemen maupun dari luar parlemen. Akibat penolakan ini, bisa ditebak hasilnya, pembukaan hubungan dagang batal dilakukan.

Selama di Israel, setidaknya saya mengikuti dua forum diskusi formal dalam bentuk seminar, beberapa seminar yang diperuntukkan khusus sebagai penghormatan kepada jasa Gus Dur dalam turut serta mewujudkan kerukunan antarumat beragama dan perdamaian dunia. Fakta eksistensi Gus Dur sangat berarti bagi umat beragama khususnya di wilayah konflik seperti Israel-Palestina yang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh agama yang berbeda-beda di sana.

Israel berpenduduk kurang lebih 7.5 juta jiwa dengan16 % persennya beragama Islam. Lebih dari tiga per empat, atau 75,5% populasi Israel adalah Yahudi yang berlatar belakang berbeda-beda. Sekitar 68% Yahudi Israel dilahirkan di negara tersebut, 22%-nya merupakan imigran dari Eropa dan Amerika, dan 10%-nya merupakan imigran dari Asia dan Afrika (termasuk pula dari Arab). Umat Muslim mencapai 16%, agama minoritas terbesar di Israel sebab yang lain sekitar 2% populasi beragama Kristen, dan 1,5%-nya beragama Druze.

Saat rasa curiga dan tidak percaya antarwarga bangsa, antarumat beragama terjadi, saat umat Yahudi tidak percaya lagi kepada umat Muslim, saat umat muslim tidak percaya umat Yahudi dan umat lainnya, Gus Dur datang memberikan pencerahan dan harapan perdamaian di tanah Israel-Palestina.

Seorang aktivis kerukunan umat beragama perempuan di Israel dari Elijah Institut Peta Jones Pellach menyampaikan testimoninya tentang Gus Dur. “Menyaksikan langkah dan usaha Gus Dur dalam kerukunan umat beragama dan perdamaian dunia, membuat kami semakin memahami bahwa Islam yang sebenarnya adalah Islam yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh Gus Dur, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin; Islam yang mengayomi semua orang yang menjadi berkah dan member kasih sayang tanpa pandang bulu kepada siapa pun di dunia.”

Ini sejalan dengan yang sering didengungkan Gus Dur “bahwa kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”.

Masih menurut Pelach bahwa ia masih mengingat kata-kata Gus Dur terhadap saya "lakukan kebaikan yang selama ini telah kamu lakukan, maka engkau akan mendapatkan perdamaian di tanah suci tiga agama ini."

Menarik, bahwa para Yahudi dan Kristen di Israel sangat berharap akan terus berkembangnya Islam moderat sebagaimana Islam Indonesia yang telah ditunjukkan Gus Dur. Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sangat diharapkan peran aktifnya dalam membantu proses perdamaian termasuk di Timur Tengah. Moderasi Islam yang dibawa oleh Gus Dur telah mengubah pandangan mereka tentang Islam di dunia. Mereka sangat berharap pemahaman Islam "model" Gus Dur ini akan terus berkembang agar dunia menjadi lebih damai.

Selain itu mereka juga menceritakan bagaimana mereka juga sangat terkesan dengan guyonan ala Gus Dur yang sering dilontarkannya di forum Israel, sebagaimana disampaikan Emanuel Shahaf, seorang Yahudi yang menjadi Vice Chairman Israel-Indonesia Chamber of Commerce.

Begitu juga Mr Chaim Chosen selaku Head of the Asia and the Pacific division of Ministry of Foreign Affairs of Israel. Dia mengaku sangat terkesan dan bahagia bisa bertemu dengan Gus Dur. Menurutnya bertemu Gus Dur adalah peristiwa penting dan istimewa. Pertama dia bertemu Gus Dur di Universitas Hebrow Israel. Kedua, Gus Dur hadir pada penandatanganan perdamaian antara Israel dengan Jordania. Menurut Chaim juga, bahwa meski tidak memiliki hubungan diplomatik antara Israel dengan Republik Indonesia, tetapi hubungan tidak formal seperti kunjungan ini menjadi penting mengingat Indonesia sebagai negara Muslim moderat di dunia. Katanya tidak ada conflict of interest antara Indonesia dan Israel.

The last but not the least bertemu dengan Simon Peres, mantan Presiden Israel di Bait Peres Lil Salam. Lagi-lagi Gus Dur menjadi objek utama perbincangan. Tentu tak lupa juga tentang Islam Indonesia. Bagi Simon Peres, Mr. Wahid (begitu dia menyebut KH Abdurrahman Wahid) adalah pribadi yg sangat merdeka, independen dan mengayomi. Saat semua orang membicarakan tentang perang dan menuding Israel sebagai penyerang, ia justru datang kepada kami, Israel, untuk bicara tentang perdamaian. Ia adalah figur yang inspiratif bagi para pencinta damai dan kerukunan.

“Wahid adalah salah satu board di Peres Peace Center. Kami merasa kehilangan seorang tokoh yg luar biasa dan sangat dicintai. Dia memimpin jutaan umat Islam di negara muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia. Islam yg menjadi harapan bagi kedamaian dunia,” kata Peres.

Dan tak lupa Peres pun meminta kepada tim delegasi Indonesia, jika tidak keberatan, ada yang membuat patung Wahid untuknya, untuk dipasang di salah satu bagian gedung kantornya “The Peres Center for Peace” berdampingan dengan tokoh besar dunia lainnya seperti yang sudah ada di situ, yaitu patung Dalailama, Mahatma Ghandi dan lain-lain.

Gus Dur anugrah bagi Indonesia dan perdamaian dunia.

“Jika kamu berbuat baik pada semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.” Gus Dur, lahul Fatihah.

Miftahul Jannah, Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Banten

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pertandingan, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock