Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Pertandingan, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 04 Februari 2018

Mi’raj: Imajinasi untuk Pengubah Keadaan

Oleh Eman Suryaman

---Peristiwa Isra’ (perjalanan malam) dan Mi’raj (secara bahasa berarti tangga), merupakan fenomena kehidupan sejarah umat Islam. Di sana terbentang kisah-kisah unik, imajinatif dan penuh kreativitas tentang sosok Nabi Muhammad SAW yang “terbang” berkendaraan “buraq” menuju langit tujuh.

Peristiwa ini bukan urusan “believe or not” semata. Sebab, jika kajiannya hanya urusan itu, maka implikasinya akan menjebak pada sekadar urusan beriman (bagi yang percaya) dan kafir (bagi yang tak mempercayainya).

Mi’raj: Imajinasi untuk Pengubah Keadaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mi’raj: Imajinasi untuk Pengubah Keadaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mi’raj: Imajinasi untuk Pengubah Keadaan

Isra’ mi’raj harus ditafsirkan melalui apresiasi kreatif, melihat seorang individu (Nabi Muhammad SAW) yang dengan kepribadian unggulnya memiliki (mendapatkan) transendesi tinggi, yang kemudian mampu menerjemahkan ide-ide briliannya ke tengah masyarakat, bahkan apa yang di sampaikan olehnya, -karena ia merupakan sosok terpercaya- kemudian transendensi itu berubah menjadi imajinasi milik warga bagi masyarakat (ummatnya) di jazirah Arab, bahkan menginspirasi umat manusia di luar Arab dalam waktu yang panjang berabad-abad hingga sekarang.

Wajar kiranya jika kemudian seorang pemikir sejarah sosial seperti John L. Esposito dalam Ensiklopedia Oxford melukiskan kisah Isra-Mi’raj sebagai salah satu tema besar imajinasi rakyat dan elit Islam serta pelengkap tema besar lainnya, yaitu diturunkannya al-Quran.  Sebab kemudian, dengan pesan-pesan kewahyuan yang terus turun tersebut, masyarakat Arab melalui Nabi Muhammad kemudian mendapatkan bara’ (cahaya) untuk penerang kehidupan.

Al-Quran yang secara harafiah berarti “bacaan” bisa menjadi guide, alat mapping, bahkan terposan paradigma dari luar (transendetal) untuk melihat sesuatu yang kala itu masyarakat Arab kebanyakan diombang-ambing oleh ketidakpastian imannya, ketidak jelaskan arah tuju hidupnya.

Dengan kehadiran al-Quran sebagai paradigma baru inilah masyarakat Arab terbebas ide-ide konvensional yang biasanya tidak memberi solusi atas persoalan hidup masyarakat yang lahir dari senandung ritmik (reka-reka) para penyair atau sikap ngawurnya para kahin (dukun/tukang sihir) di masa jahiliyah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

 

Lepas Sains, ke Tafsir Sosial

Isra’ Mi’raj akan lebih bermakna bagi hidup kita sekarang jika ia ditafsirkan sebagai cara melihat problem dan kebutuhan manusia pada setiap zaman yang selalu membutuhkan ide-ide baru, gagasan terobosan, upaya untuk menemukan jalan keluar (berbuat ma’ruf), meninggalkan dan melawan realitas buruk (munkar) dengan modal tuma’nina billah (keyakinan transendental atau “ideologi”).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Itulah mengapa seorang Filsuf, Muhammad Iqbal merasa bahwa pengalaman Mi’raj yang indah, fantastis dan imajinatif itu lebih sebagai tanggungjawab sosial kemanusiaan, urusan bumi, bukan urusan langit. Iqbal berpikir, jika urusan personal semata, maka Nabi barangkali akan lebih memilih tidak balik/turun ke bumi yang banyak problem, melainkan akan lebih memilih berasyik-masyuk  berada di langit bersama Tuhan selamanya.

Tetapi memang dalam dimensi keilmuan (utamanya filsafat dan sains), urusan Isra’ Mi’raj ini tetap menarik, menjadi tantangan, karena di sana menyediakan altar lain, cakrawala imajinatif untuk ruang kreativitas untuk memecahkan teka-teki dan misteri ini dengan penyediaan metode baru dalam melihat realitas.

Hal ini penting karena sejauh ini, persoalan isra’ -mi’raj dalam konteks sains masih belum keluar dari paradigma rasio-empirik dengan doktrin _trial and error_, atau belum keluar dari model penalaran observatif eksperimental sehingga mengalami kebuntuan saat merasionalisasi, karena memang peristiwa itu tak bisa diulang (dicoba lagi), tak bisa diobservasi melalui eksperimen ulang.

Namun, dalam urusan hidup kita memang kita tidak bisa terus-menerus bergantung sains. _Toh _pada kemajuan sains modern (sekalipun kita hargai sebagai keilmuan, bahkan kita hargai sebagai berkah Illahi) bukan berarti sains modern itu bebas masalah. Bahkan sains itu sendiri yang harus terus dikritik dan terus dikembangkan agar manusia tidak terjebak pada kesalahan-kesalahan hingga menyebabkan malapetaka sains.

Bahkan, seandainya peristiwa Mi’raj tersebut juga bisa dirasionalisasi secara saintifik, misalnya pada kasus kemampuan perjalanan Nabi Muhammad SAW, dengan kecepatan cahaya (prakiraan) 300.000 km/s, bisa jadi nanti akan muncul bantahan dalam bentuk rasionalitas sains yang lain.

Dengan kata lain, menunggu kepastian sains memecahkan misteri tersebut, tidak akan menjamin munculnya kebenaran tunggal. Selalu ada tafsir atas fakta, dan karena itu pada urusan Mi’raj memang lebih bermanfaat jika ditafsir dengan apa yang kita sebut dalam sains sosial sebagai imajinasi.

Kita tahu, dalam ruang lingkup ilmu sosial, imajinasi merupakan tonggak lahirnya sebuah pembaharuan, atau jalan baru kehidupan. Setiap tokoh-tokoh besar memiliki imajinasi. Setiap nabi membawa imajinasi.

 

Setiap Tokoh Membawa Imajinasi

Nabi Isa AS membawa imaji welas asih yang begitu kuat. Pesan-pesan cinta-kasihnya begitu mendalam. Sebagai tokoh yang kuat kepribadiannya, tegas dalam bersikap terhadap kemunkaran, dan sekaligus humanis kepada umatnya.

Nabi Musa dengan mentalilnya yang kuat mampu sanggup turun dari ruang kerajaan (Fir’aun) dan lebih mengabdi kepada bangsanya yang tertindas, menjadi inspirator gerakan kewargaan di mesir kuno, membawa ratusan ribu umatnya keluar dari belenggu penindasan panjang dengan imajinasi “kebangsaan” yang unggul.

Dan nabi Muhammad adalah sosok yang sangat berarti dalam diri kita tentang apa itu yang munkar (buruk) dan harus ditinggalkan, mana yang ma’ruf (baik) harus ditegakkan, dan pentingnya _tuma’nina billah_ (beriman kepada Allah) sebagai sarana manusia untuk tidak berpaling dari jalan hanif; yang selalu merindukan kebenaran dan kebaikan).

Imajinasi yang telah terbukti membawa sebuah kebaikan bersama itulah yang perlu direfleksikan secara mendalam, diserap substansinya, kemudian kita jadikan cara/model menggerakkan masyarakat agar terjadi perubahan sosial yang lebih baik.

 

Mi’raj Sosial-Kewargaan

Dengan Mi’raj Nabi tersebut sesungguhnya tersedia banyak pelajaran (ibrah) berharga tentang kematian ego (individu). Kesadaran Nabi sebagai manusia tentang hakikat hidup telah tuntas karena perjumpaan dengan yang lain (realitas alam lain) yang memberikan pelajaran untuk pencerahan bagi urusan bumi.

Dengan pengalaman “di dunia lain” itu Nabi mendapatkan sisi lain yang baru, menggetarkan, dan mengubah paradigma hidupnya, dan dari situlah pula karakter pribadi terbentuk secara khusus.

Dengan kata lain pula terdapat makna, bahwa seseorang bisa berubah karena faktor luar, bukan semata karena hijrah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan memang butuh hijrah batiniah (transenden) untuk perubahan diri. Kisah nabi mengendarai buraq (baraqa) yang artinya adalah “bercahaya sebagaimana kilat” bisa dimaknai sebagai pencerahan (ilumunasi).

Makna kontemporernya, dalam kita berinteraksi dengan manusia dan alam semesta di era modern sekarang ini, seyogyanya bermodal wawasan, pengetahuan yang tidak sekadar hanya menyerap pakem-pakem pengetahuan secara umum, melainkan harus kreatif mencari pengetahuan transendetal agar laku-hidup kita (tidak sesat dalam kegelapan, termasuk tersesat dari sains secara umum) sehingga mampu memberikan berkah/kebaikan bagi semesta.

Dalam pengertian itulah sebenarnya, Mi’raj juga berarti keharusan kita untuk selalu naik dari tangga satu ke tangga lain (yang lebih tinggi) sehingga setiap hari kita memang senantiasa harus mengejar prestasi untuk menghasilkan ke-ma’rufan’ dan meninggalkan mengurangi ke-munkar-an sehingga semakin kuat ikatan iman kita pada yang esa.

Pada dimensi urusan sosial-kemasyarakatan, mi’raj berarti usaha keras untuk kita berbakti, berkhidmat secara terus-menerus dengan selalu membuka diri secara kreatif untuk menjawab persoalan urusan warga.

Kebuntuan demokrasi yang terjadi saat ini akibat sekadar urusan pemilu/pilkada harus diterobos dengan memperkuat dimensi demokrasi lain yang mungkin itu berat karena menyangkut urusan partisipasi, emansipasi dan menegakkan daulat rakyat melalui musyawarah (deliberasi).

Bagaimana menjadikan demokrasi itu mampu menyejahterakan rakyat, membawa keadilan sosial, dan memberdayakan warga secara beradab? Itu semua membutuhkan sikap transendetal dari diri kita, terutama para politisi, kaum intelektual, dan pimpinan organisasi sosial kemasyarakatan

Pada urusan kemasyarakatan di organisasi juga perlu sekiranya kita ber-Mi’raj (menuju tangga kualitatif). Kemandulan gerakan organisasi, baik di organisasi kemasyarakatan (ormas), partai, mengelola bisnis, tak bisa kita berlaku tertutup sebagaimana kebiasaan mengumbar sikap cengeng menyalahkan realitas, apalagi menyalahkan sesama pengurus.

Tugas kita bukan berkeluh kesah sebab itu tidak menyelesaikan persoalan. Tugas utama kita bermasyarakat adalah menemukan ruang-ruang kreatif, selalu mencari imajinasi untuk terus menuju tangga yang lebih tinggi. Dan itu bukan semata kita sekadar berpikir, melainkan harus bertindak/beramal. Sebab dengan banyaknya tindakan justru sering mendapatkan banyak pengalaman yang akumulasinya nanti bisa menjelma teori/pengetahuan.

 

Tangga Kualitas

Hari selalu baru. Karena waktu memang terus berjalan. Tetapi hari baru dengan kualitas kehidupan kita tidak selalu terjadi karena apa yang disebut pembaharuan bukan sekadar mengikuti arus pergeseran kalender harian. Memang, berbuat atau tidak kita (secara natural) akan berubah. Tetapi perubahan alamiah bisa jadi menjelma kita sebagai spesies, atau hewan yang lahir, hidup, berkembang lalu punah.

Pelajaran dari Mi’raj, yakni tangga sebagai ilustrasi menandakan kita selalu dituntut untuk “naik” ke arah kualitatif. Karena itu dalam perjalanan hidup ini, upaya naik harus terus dilakukan sepanjang hayat. Naik secara ilmu, naik secara kepribadian, naik kesejahteraan, naik derajat dan keimanan kita, naik solidaritas sosial, naik bersama-sama membangun peradaban. Wallahu a’lam.

 

KH Dr Eman Suryaman MM, Ketua PWNU Jawa Barat 2011-2016

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pertandingan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 02 Februari 2018

PBNU: Al-Quran Boleh Dibaca dengan Langgam Apapun Asal Jaga Kaidah

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi menyatakan kebolehan melagukan Al-Quran dengan irama adat manapun. Pasalnya, setiap komunitas memiliki langgamnya masing-masing. Hanya saja yang perlu diperhatikan ialah kaidah pelafalan dan respek terhadap ayat-ayat suci itu sendiri.

PBNU: Al-Quran Boleh Dibaca dengan Langgam Apapun Asal Jaga Kaidah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Al-Quran Boleh Dibaca dengan Langgam Apapun Asal Jaga Kaidah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Al-Quran Boleh Dibaca dengan Langgam Apapun Asal Jaga Kaidah

“Setiap pembaca itu wajib menjaga makhrajnya, panjang, juga pendeknya. Tujuannya agar tidak merusak makna Quran itu sendiri. Kalau soal langgam, Al-Quran terbuka. Jawaz (boleh) dengan langgam Jawa, Sunda, atau langgam lainnya,” kata Kiai Masdar kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama di Jakarta, Selasa (19/5) sore.

Menanggapi pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa di Istana Negara pada Jumat (15/5) malam, Kiai Masdar menyatakan rasa syukurnya kalau langgam lokal itu menambah kesyahduan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Dan langgam itu berbeda antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya. Kalau iya begitu, setiap komunitas boleh membaca Al-Quran dengan langgam yang lazim di kalangan mereka. Bisa langgam Jawa, Sunda, atau langgam lainnya,” ujar Kiai Masdar.

Setiap bahasa pun sebenarnya mengandung nilai transendensi. Allah sendiri mengatakan, wa allama adamal asma’a kullaha. Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam. “Artinya setiap bahasa mengandung nilai ilahiyah.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rais Syuriyah PBNU ini mengajak masyarakat tidak perlu membesar-besarkan persoalan ini. Tidak ada larangan membaca Al-Quran dengan langgam apapun selagi menjaga dua kaidah itu, tegas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pertandingan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 26 Januari 2018

Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Ribuan jamaah menghadiri peringatan Haul ke-IX mantan Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta KHR. Abdurrohim bin Abi Hasan, di Gandekan, Jebres, Solo, belum lama ini (18/2). Dalam acara tersebut dibacakan riwayat hidup tokoh yang akrab disapa Mbah Durohim tersebut.

Dijelaskan, sejak usia 5 tahun, Kiai Abdurrohim kecil telah ditinggal wafat kedua orang tuanya. “Simbah Kiai Abdurrohim sejak umur 5 tahun sudah yatim piatu, kemudian diasuh oleh Pakdhe dan Budhenya,” terang salah satu cucu Kiai Abdurrohim, Gus Ahmad Zawawi Suryo Buwono.

Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Abdurrohim bin Abi Hasan, Pribadi Zuhud dan Cinta Ilmu

Kemudian setelah nyantri di berbagai pesantren, ia diangkat menjadi salah satu modin atau ulama Keraton Surakarta sehingga kelak di depan namanya tersemat gelar Raden.

Salah satu sifatnya yang paling dikenang yakni gemar akan mencari ilmu, yang ia contohkan. “Beliau lebih mengutamakan membeli kitab yang isinya ilmu daripada membeli pakaian, meskipun pakaiannya sudah tidak layak pakai,” lanjut Gus Ahmad.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mbah Abdurrohim juga dikenal sebagai seorang yang zuhud. Hidup dengan penuh kesederhanaan. Bahkan, ia pernah ditawari anaknya untuk dibelikan rumah, malah ditolak. Pada akhir hayatnya, ia hanya meninggalkan 2 almari besar, yang berisi kitab-kitab.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sebagai seorang ulama dan juga kemudian mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta, Mbah Abdurrohim, dikenal sebagai ahli ilmu fiqih. “Setiap ada permasalahan yang berkaitan dengan syariat, selalu dijawab dengan ucapan: menurut Imam mazhab empat itu begini..,” ungkap Gus Zawawi.

Di akhir hidupnya, tercatat KH Raden Abdurrohim mengemban amanah sebagai Mustasyar PCNU Kota Surakarta. Lahu al-fatihah! (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Quote, Pertandingan, News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 27 Desember 2017

Jangan hanya Manjakan Sektor Industri

Jogyakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Posisi kaum tani sebagai tumbal pembangunan telah lama terjadi, jauh hari sebelum negeri ini memasuki masa reformasi. Sayang, reformasi paripurna dalam tata-politik dari monolitik-sentralistik menjadi desentralistik ternyata nyaris tidak membawa berkah bagi kaum tani.

Tumbalisasi terjadi dalam format perkonomian yang dikotomis memperhadapkan sektor pertanian-pedesaan-tradisionil dengan sektor industri-perkotaan-moderen, dan sekarang ini belum juga terbenahi dengan nyata. Musibah perberasan nasional menunjukkan betapa sempurnanya tumbalisasi kaum tani di era reformasi.

Jangan hanya Manjakan Sektor Industri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan hanya Manjakan Sektor Industri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan hanya Manjakan Sektor Industri

"Pemanjaan sektor industri dengan mengurbankan sektor pertanian dan pedesaan sudah waktunya dihentikan. Dikotomi Agro-Pedesaan-Tradisional vis-? -vis Industri-Perkotaan-Modern amat-sangat tidak adil dan memerlukan reformasi struktural kebijakan perekomian yang sinergis dan tidak dikotomis,” kata Wakil Ketua Pengurus Wilayah nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta KH. Mohammad Maksum dihubungi Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Jum’at (9/2).

Inpres 13/2005 tentang perberasan, sebagai landasan legal perberasan nasional, telah melegalkan segala tumbalisasi itu terjadi. Angka-angka HPP (Harga Pembelian Pemerintah) dalam Inpres 13/2005 tersebut terlalu rendah, bahkan lebih rendah dari rerata harga pasar di saat panen raya sekali pun. Fakta ini, kata Maksum, menjadi alasan pembelian BULOG rendah.

Menurutnya, Inpres tersebut diterbitkan Oktober 2005 dan menjadi tidak layak ketika keseluruhan beaya produksi telah meroket di kemudian hari sebagai akibat dari kenaikan harga BBM 162%, Oktober 2005.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selain itu Proporsi HPP juga sangat tidak masuk akal.? Besaran HPP untuk Gabah Kering Panen (GKP), Gabah Kering Giling (GKG), dan Beras yang masing-masing sebesar: Rp 1.730/kg, Rp 2.280/kg dan Rp 3.550/kg. Dari angka-angka ini terhitung bahwa pada tingkat rendemen beras/gabah sebesar 60%, setiap kilogram beras seharga Rp 3.550,- mutlak memerlukan GKG sebanyak 1,66 kg yang harganya Rp 3.807,-

”Harga beras lebih rendah dari harga gabah bahan bakunya. Ini kadzaab dan sejak Gadjah Mada masih hidup, sangat mustahil terjadi,” kata Maksum

Akibat dari HPP murah ini, Bulog tidak membeli cukup stok dari dalam negeri dan hanya mencapai 60% dari target pengadaannya 2006Sementara fihak konsumen beras memandang harga beras harus murah dan akan menuntut harga selalu murah kepada pemerintah. Lalu operasi pasar (OP) dilakukan pada tingkat harga rendah. Pada titik ini, kata Maksum, kaum tani telah kehilangan gairah produksi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Sederhana sekali reaksi yang muncul pada tingkat negara, bahwa dalam kondisi cadangan Bulog terbatas, dan keharusan pengamanan harga karena tuntutan politis publik atas HPP beras yang ilusif tersebut, maka dilakukanlah importasi bertubi-tubi,” katanya.

Dengan reaksi importasi seperti itu, lingkaran perberasan nasional tidak akan pernah terbenahi dengan baik. Karena kita telah melupakan inti persoalan yang sesungguhnya sangat jelas, yaitu landasan legal yang sangat tidak berkeadilan.

Dengan HPP yang rendah dan tidak proporsional, selamanya pengadaan dalam negeri akan jeblog, sementara manipulasi harga tengkulak menjadi-jadi, OP harus dilakukan secara bertubi-tubi dan semangat produksi mengalami stagnasi. Seharusnya solusi itu bisa dijabarkan lebih adil melalui sistem subsidi-dan-taksasi memadai. Tetapi, solusi Negara terperangkap importasi-importasi, menggadaikan kedaulatan pangan dan perut bangsa RI.

Asbabul mushibah beras adalah tidak proporsional dan rendahnya HPP dan karenanya, Inpres 13/2005 harus segera dikaji ulang. Kebijakan pangan murah hanya berkeadilan apabila dilakukan dengan sistem subsidi-dan-taksasi yang manusiawi,” pungkasnya. (nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pertandingan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 24 Desember 2017

Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seseorang telah dibaringkan di dalam kubur dan para pengantar telah meninggalkannya, maka dua malaikat, yakni Munkar dan Nakir, segera mendatangi dan menanyakan tentang tiga hal pokok, yakni: siapa tuhannya, apa agamanya dan siapa nabinya. Hadits tersebut sebagaimana diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

Dalam beberapa riwayat dikatakan ketiga pertanyaan pokok tersebut diikuti dengan tiga pertanyaan berikutnya sehingga berjumlah enam pertanyaan sebagai berikut:

1. Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?

2. Ma dinuka? Apa agamamu?

3. Man nabiyyuka? Siapa Nabimu?

4. Ma kitabuka? Apa kitabmu?

5. Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?

6. Man ikhwanuka? Siapa saudaramu?

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Keenam pertanyaan di atas tampak sepele untuk dijawab. Namun, sebenarnya tidak demikian sebab semua bergantung pada amal masing-masing semasa hidupnya. Ketika seseorang sudah dibaringkan di dalam kubur, ia sendirian tanpa seorang pun menemani; sementara malaikat menyapa dengan garang sambil menarik orang itu agar berposisi duduk. Kedua malaikat kemudian mengajukan keenam pertanyaan sebagaimana di atas. Mereka yang senantiasa melaksanakan shalat lima waktu, terlebih yang suka shalat berjamaah di masjid, sesungguhnya mereka telah memegang kunci sukses menjawab keenam pertanyaan itu.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Kalau kita camkan definsi shalat, yakni serangkaian kegiatan ibadah tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, maka kita dapati kata pertama yang wajib kita ucapkan dalam shalat adalah ?, yakni dalam takbiratul ihram: ? ?. Jika dalam sehari semalam kita melakukan shalat fardhu lima waktu, maka kita akan menyebut ? dalam takbiratul ihram sebanyak lima kali. Jika takibiratul ihram ditambah dengan takbir-takbir yang lain seperti takbir sebelum ruku’, sebelum sujud, dan sebagainya, maka dalam sehari semalam kita menyebut ? sebanyak 68 kali. Itu belum termasuk yang kita sebut dalam shalat-shalat sunnah. Singkatnya orang yang taat menjalankan perintah shalat akan sangat terbiasa mengucapkan ?.

Kaitannya dengan pertanyaan pertama di atas, seseorang yang semasa hidupnya senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, kemudian di dalam kubur ditanya: ? ? (siapa Tuhanmu) maka dengan mudah ia dapat menjawab: ? ? (Allah Tuhanku) karena ia terbiasa menyebut ? setidaknya 68 kali dalam sehari semalam. Bayangkan mereka yang malas shalat, apalagi tak pernah shalat sama sekali. Tentu mereka akan mengalami kesulitan menjawab pertanyaan ini.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Terhadap pertanyaan kedua, yakni ? ? (apa agamamu) seseorang yang semasa hidupnya senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, ketika di dalam kuburnya ditanya: ? ? - apa agamamu –? maka dengan mudah ia dapat menjawab:? ? (Islam agamaku) karena dalam konteks sekarang hanya Islam satu-satunya agama yang memerintahkan melaksanakan shalat.

Agama-agama sebelumnya pada zamannya juga memerintahkan umatnya melaksanakan shalat bahkan dengan jumlah rakaat yang lebih banyak dari pada Islam. Agama-agama itu hingga sekarang masih ada, namun inti ajarannya tidak lagi menekankan iman tauhid dengan hanya menyembah Allah SWT sebagaimana Islam. Maka bisa dimengerti agama-agama itu tidak lagi menyerukan umatnya melakukan shalat. Shalat telah identik dengan Islam karena sekali lagi dalam konteks sekarang Islam satu-satunya agama yang memerintahkan shalat.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Terhadap pertanyaan ketiga, yakni ? ? (siapa Nabimu) seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tentu dengan lancar dapat menjawab pertanyaan itu karena di dalam shalat lima waktu setidaknya kita menyebut nama ? sebanyak 10 kali dalam sehari semalam, yakni dalam bacaan tahiyat atau tasyahud akhir yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

dan dalam bacaan shalawat

? ? ? ?

Jumlah itu belum termasuk yang dibaca dalam tasyahud awal dan bacaan shalawat dalam rakaat kedua dalam shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ yang jumlahnya 15 sehingga seluruhnya berjumlah 25. Oleh karena itu, seseorang yang semasa hidupnya senantiasa melaksnakan shalat akan dengan mudah menjawab pertanyaan: ? ? (siapa nabimu), yakni dengan jawaban: ? ? (nabiku Muhammad SAW) karena setiap hari selalu menyebut nama ?.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Terhadap pertanyaan keempat, yakni ? ? - Apa kitabmu, seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tentu dapat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban: ? ? – Kitabku Al-Qur’an, karena di dalam shalat terdapat rukun yang mengharuskan orang shalat membaca surah pertama dalam Al-Qur’an yakni Surah Al-Fatihah. Seseorang yang melakukan shalat tanpa membaca surah ini dalam setiap rakaat, shalatnya tidak sah, kecuali bagi makmum masbuq yang di rakaat pertama tak selesai membacanya karena waktu tak mencukupi.

Selain surah Al-Fatihah, orang shalat juga membaca surah-surah lainnya di dalam Al-Qur’an yang dibaca sebagai bacaan sunnah. Surah-surah yang hukumnya sunnah ini dibaca setelah surah Al-Fatihah. Dengan dibacanya surah-surah dalam Al-Qur’an dalam shalat, maka dalam sehari semalam setidaknya orang membaca surah-surah Al-Qur’an sebanyak 27 kali. Dengan kata lain untuk menyebut ? sebagai sebagai kitab suci tidak sulit bagi mereka yang senantiasa melaksanakan shalat.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Terhadap pertanyaan kelima, yakni ? ? (di mana kiblatmu) seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tentu dapat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban: ? ? (Ka’bah kiblatku) karena orang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, akan menghadap ke arah Ka’bah sebanyak 5 kali sehari. Jika ditambah dengan shalat-shalat sunnah, tentu frekuensinya lebih tinggi lagi.

Kebiasan setiap hari menghadap kiblat berupa Ka’bah ini tentu akan memudahkan menjawab pertanyaan kelima di atas. Apalagi di dalam niat shalat terdapat kata “kiblat” yang maksudnya adalah Ka’bah. Niat itu misalnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Aku berniat melaksanakan shalat Dzuhur empat rakaat dengan menghadap Kiblat karena Allah SWT.

Dalam bacaan niat di atas secara eksplisit terdapat kata ?. Kata-kata kiblat ini tentu akan selalu mengingatkan Ka’bah di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Orang Islam yang taat kepada Allah senantiasa akan menghadap ke arah Ka’bah sedikitnya 5 kali dalam sehari. Artinya bagi orang yang senantiasa melaksanakn shalat untuk menyebut nama Ka’bah tidak sulit.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Terhadap pertanyaan keenam, yakni ? ? (siapa saudara-saudaramu), seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat dengan berjamaah di masjid, tentu dapat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang tepat, yakni ? ? ? (kaum muslimin dan muslimat saudara-saudaraku).

Jawaban dari pertanyaan keenam ini memang memiliki keterkaitan langsung dengan masjid karena tempat suci ini merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin dan muslimat untuk melaksanakan jamaah shalat. Seseorang yang membiasakan diri dengan shalat berjamaah di masjid, tentu akan ingat saudara-saudara seiman yang berjamaah shalat bersamanya walaupun mungkin tidak tahu nama mereka satu per satu. Tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya orang-orang non-muslim melakukan shalat, apalagi di masjid.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Dari uraian di atas dapat kita lihat dengan jelas ada hubungan erat antara shalat, masjid dan kelancaran menjawab 6 pertanyaan di dalam kubur yang meliputi: siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu, apa kitabmu, dimana kiblatmu, dan siapa saudara-saudaramu. Orang-orang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, apalagi dengan berjamaah di masjid, sudah pasti tidak akan mengalami kesulitan menjawab semua pertanyaan tersebut.

Kesuksesan menjawab semua pertanyaan itu menjadi penentu kesuksesan-kesuksesan berikutnya apakah seseorang akan masuk ke surga atau ke neraka. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senatiasa sukses dalam menghadapi semua pertanyaan di alam kubur. Amin ya rabbal alamin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Humor Islam, Pertandingan, Kyai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Menjelang pelaksanaan Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara, Ahad (17/1) mendatang, Komunitas Lintas Iman yang terdiri dari PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI, dan LPOI mengadakan pertemuan di Gedung PBNU lantai 8, Jumat (15/1) siang. Seluruh elemen lintas iman menyerukan bahwa terorisme, radikalisme, dan narkoba adalah musuh bersama.

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mewakili seluruh elemen lintas iman mengajak seluruh masyarakat untuk mencegah, mewaspadai, dan membendung serta melawan radikalisme, terorisme, dan narkoba.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Permasalahan ini tidak hanya menjadi tugas aparat keamanan, pemerintah, tetapi membutuhkan peran serta dan partisipasi seluruh pihak. Hanya dengan kebersamaan dan sinergitas yang kuat antara negara dan masyarakat, radikalisme, terorisme, dan narkoba akan sulit berkembang di Indonesia,” ujar Kang Said dalam jumpa pers.

Sesungguhnya yang memberi ruang dan membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya radikalisme, terorisme, dan narkoba di Indonesia adalah sikap ketidakpedulian dan sifat acuh masyarakat terhadap realitas sosial.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan dengan memberikan pemahaman dan penguatan nasionalisme dan kebhinekaan merupakaan ikhtiar mendesak yang harus ditempuh pemerintah,” tambah Kang Said.

Ia mengatakan, kita sebagai negara yang memiliki keragaman bahasa, agama, suku, adat-istiadat, ras, Indonesia telah mampu menunjukkan kepada dunia akan potret kehidupan bangsa yang harmoni.

Keberagaman yang ada merupakan salah satu tonggak dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, tandas Kang Said. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pertandingan, AlaSantri, Santri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock