Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Pertandingan, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 09 Februari 2018

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama H. Arifin Junaidi menegaskan pihaknya memiliki madrasah formal sejumlah 48 ribu. Menurut dia, murid dan guru lembaga tersebut menolak kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Sekolah 5 Hari.?

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti (Sumber Gambar : Nu Online)
Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti (Sumber Gambar : Nu Online)

Rugikan Ribuan Madrasah Sore, LP Ma’arif NU Minta Mendikbud Diganti

“Jika kebijakan ini dipaksakan, Prgunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) dan Ma’arif akan datang ke Jakarta,” ungkapnya pada konferensi bersama Pengurus Besar PBNU menyikapi kebijakan Sekolah 5 Hari di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (15/6). ?

Karena, menurut laporan yang diterima dari lembaga-lembaga M’arif di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Makassar, Banjarmasin, Maluku, kebijakan tersebut sangat merasahkan.?

“Saya telah berkomunikasi dengan LP Ma’arif di Makassar, di Banjarmasin; terjadi keresahan yang luar biasa kebijakan Mendikbud ini,” katanya.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia menambahkan, sebelumnya Mendikbud akan membuat kebijakan Full Day School (FDS). Kemudian diubah menjadi kebijakan Sekolah Lima Hari dengan belajar selama 8 jam sehari. Ini adalah kebijakan yang sama saja, beda nama.?

“Mendikbud telah bikin gaduh. Kami meminta Presiden untuk menggantinya,” tegasnya. ?

Arifin menambahkan, di luar 48 ribu madrasah di bawah LP Ma’arif terdapat 70 ribu Madrasah Diniyah Takmiliyah yang waktu belajarnya sore hari. Dengan demikian, kebijakan tersebut akan 7 juta murid Madrasah Diniyah Takmiliyah tersebut. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja, Ahlussunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 03 Februari 2018

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes

Brebes, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Banjir besar akibat jebolnya tanggul Sungai Pemali, Sungai Cisanggarung, dan Sungai Babakan yang melanda Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Kamis (16/2) telah merendam belasan desa di 4 Kecamatan.

Relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) turut serta menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir berupa 150 paket cleaning kits yang berisi wiper, keset lantai, sabun colek, dan ember plastik.

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes

Menurut Tim Tanggap Darurat PP LPBINU, Asbit Panatagara, pemberian bantuan ini didasarkan pada tinjauan kebutuhan yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat LPBINU selama di lokasi bencana. Bantuan disalurkan di Desa Limbangan Kulon, Wangandalem, Pemaron Kecamatan Brebes, Selasa (21).

Menurut pantauannya, hingga hari ini, korban banjir yang melanda Brebes dalam beberapa hari ini mulai surut dengan debit air di sungai Pemali yang mulai turun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Sebagian warga yang mengungsi di Gelanggang Olahraga Brebes sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Warga mulai membersihkan rumah. Mereka menjemur perabotan yang basah karena terendam air. Tumpukan lumpur sisa banjir masih berserakan di jalan-jalan kampong” jelas Asbit.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua PP LPBINU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat di Brebes, khususnya di daerah terdampak banjir untuk melakukan kajian risiko bencana agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko, dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Hasil kajian risiko bencana itu nantinya dapat dijadikan acuan semua pihak dalam melakukan upaya pengurangan risiko bencana dan mengintegrasikannya dalam perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

Dengan begitu, Ali Yusuf berharap ke depan rencana dan tindakan konkret untuk penanggulangan bencana banjir dapat segera dirumuskan agar kejadian yang sangat merugikan itu tidak terulang lagi di masa mendatang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Cerita, Aswaja, Hadits Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 01 Februari 2018

Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika

Tulungagung,Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kader Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Tulungagung mempresentasikan “Kopi Mangrove Segara” sebagai produk hasil pemberdayaan masyarakat pesisir pantai Sine, Tulungagung, di Amerika. Kopi Mangrove Segara merupakan hasil kerja sama PAC IPNU-IPPNU Kalidawir dengan NGOs Redirect Indonesia dan Leshutama. Konsep yang diusung dalam bisnis ini adalah social entrepreneurship melalui program pemberdayaan.

Ikbar Al Asyari dari IPNU Tulungagung meraih beasiswa YSEALI Academic Fellowship Program on Civic Engagement di University of Nebraska at Omaha (UNO) dan berdialog dengan Presiden Obama.

Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kalidawir Presentasikan Kopi di Amerika

Young South East Asia Leader Initiative (YSEALI) adalah program yang digagas Presiden Barrack Obama untuk memfasilitasi pemuda ASEAN belajar di universitas ternama di Amerika. Tema program yang ditentukan yaitu civic engagement, environmental studies, dan social-economic development. Peserta berkesempatan mendapatkan pendanaan social project berupa dana hibah dari State Department of United State.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

YSEALI Academic Fellowship Program on Civic Engagement di University of Nebraska at Omaha berlangsung intensif selama 5 minggu dari 24 September – 29 Oktober 2016. Saat ini Ikbar mengikuti program YSEALI yang memasuki minggu ketiga.

“Saya bersyukur diapresiasi oleh pemerintah Amerika sehingga saya bisa menjadi salah satu yang berangkat ke Amerika mengingat ketatnya persaingan dan pendaftar dari Indonesia yang mencapai ribuan orang,” Ikbar bercerita melalui surat elektronik pada Selasa (12/10).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selama program berlangsung, Ikbar ikut kuliah intensif bersama ahli di bidang civic engagementdi UNO, coaching-mentoring, study visit ke beberapa organisasi di Amerika tentang civic engagement di Omaha, Nebraska, Iowa, South Dakota, Portland, dan Oregon. Program akan berakhir di Washington DC untuk presentasi final social project yang diusulkan dan dilaksanakannya penjurian untuk kelayakan pendanaan.

Ketua Umum PAC IPNU Kalidawir Adib Hasani mengaku senang rekannya membawa nama Indonesia melalui program tersebut. Dengan demikian, Kopi Mangrove Segara berpeluang untuk didanai dan memperluas jaringan pasar hingga ke luar negeri.

Harapannya, kata dia, program ini mampu memberikan manfaat untuk berkembangnya Kopi Mangrove Segara lebih jauh lagi yang akhirnya akan memberikan manfaat pada masyarakat pesisir Pantai Sine. (Irwanto Marhaenis/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Halaqoh, Ubudiyah, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 31 Januari 2018

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Selain menyelenggarakan program mudik gratis setiap tahun, Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) NU juga mendirikan posko mudik berbasis masjid. Jumlah posko mudik yang didirikan NU ada 27 titik dari Merak di Banten hingga Ketapang di Banywangi.

Sekretaris LTMNU, H Ibnu Hazen menjelaskan bahwa NU berkomitmen melayani warga NU yang hendak pulang kampung saat momen Lebaran tiba. Tindak lanjut dari program mudik bareng, NU juga telah menyiapkan posko mudik berbasis masjid.

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Siapkan 27 Titik Posko Mudik Berbasis Masjid, Ini Keistimewaannya

“Melalui masjid, NU menyapa umat. Masjid sangat strategis untuk melayani para pemudik. Selain untuk beribadah, juga bisa diberdayakan untuk kebutuhan istirahat dan mandi,” ujar Ibnu, Jumat (17/6) di Jakarta.

Fungsi tersebut menurutnya, merupakan keistimewaan tersendiri yang tidak didapatkan di posko mudik biasa. Adapun petugas yang nanti melayani di posko yaitu para kader NU yang selama ini aktif menjadi muharrik (penggerak) masjid.

Dalam mudik gratis bareng NU di tahun 2016, Ibnu menerangkan bahwa pemeberangkatan mudik serentak akan dilaksanakan pada 2 Juli 2016 di Gedung PBNU. Sebelumnya, pendaftaran mudik dilaksanakan pada 18 Juni 2016, kemudian penukaran tiket akan dilaksanakan pada 25 Juni 2016 mendatang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Setiap tahun, warga NU cukup antusias dengan program mudik bareng yang dilaksanakan NU ini. Mereka juga kerap antri tiket dari pagi hingga malam hari hanya demi bisa ikut mudik bareng NU yang selama ini melayani dengan baik melalui kendaraan bus yang sangat memadai. Selain itu, NU juga menyediakan menu berbuka puasa untuk para peserta mudik agar tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kajian Sunnah, Aswaja, Anti Hoax Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 11 Januari 2018

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta

Surakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Kota Surakarta dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Pelajar XXXII se-Jawa Tengah. Acara yang diikuti pelajar setingkat SD, SMP dan SMA ini rencananya bakal dibuka Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Balaikota Surakarta, Rabu (15/11) malam.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Solo, Said mengatakan pihaknya siap untuk menyediakan fasilitas yang baik untuk para peserta selama penyelenggaraan MTQ, Rabu-Sabtu (15- 18/11).

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah 30 Tahun, MTQ Jateng Kembali Digelar di Surakarta

"Setelah 30 tahun mengantre akhirnya kegiatan ini berlangsung di Solo. Pemkot Solo sangat berkomitmen untuk mensukseskan acara tersebut," tutur Said.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Terdapat tiga cabang yang akan diperlombakan sesuai tingkat pendidikan mulai dari SD/MI, SMP/MTs, serta tingkat SMA, SMK dan MA.

Di antara cabang tersebut yakni tartil Al-Quran, tilawah Al-Quran dan Hifz Al-Quran. Khusus untuk cabang Hifz Al-Quran golongan 1 juz dan tilawah hanya diikuti pelajar jenjang SMP/MTs. Sedang untuk golongan 5 juz dan tilawah diperuntukan untuk pelajar jenjang SMA, SMK dan MA.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara itu, dari pihak tuan rumah Kafilah Solo pun menargetkan untuk memperoleh medali di beberapa cabang.

“Kami realistis saja, pantura itu memang bagus-bagus. Tapi kita siapkan," terang Ketua kafilah Solo yang juga Kepala Seksi Bimas Kemenag Kota Solo Muhammad Nashiruddin.

MTQ Pelajar ke-32 memperebutkan trofi bergilir yang tahun lalu diraih oleh Kabupaten Wonosobo. Pemkot Solo telah menyiapkan bonus berupa uang pembinaan sebesar Rp 1,25 juta untuk masing-masing juara di tiap kategori. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 09 Januari 2018

Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand

Bangkok, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Berikut ini laporan kontibutor Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Yusuf Suharto, yang pada  pertengahan bulan silam (15-25 Desember 2013) mengikuti Short Course Manajemen Pengelolaan Perguruan Tinggi di negeri Thailand, tepatnya di UTCC (University of Thai Chamber of Commerce) Din Daeng Bangkok .

Thailand mempunyai tiga musim. Panas, hujan, dan dingin. Ketika kami berkunjung, kami berada dalam rentang bulan musim dingin. Malam hari, juga pagi terasa dinginnya udara cukup menusuk. Lebih dingin mana dengan musim dingin Indonesia. Ya, kira-kira sama.

Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengalaman Sepuluh Hari di Thailand

Kedatangan saya ke Thailand, merupakan penugasan dari Rektor Universitas Darul Ulum (Undar), Dr. Ma’murotus Sa’diyah, M.kes., agar saya, sebagai Ketua Lembaga Penelitian Undar, menindaklanjuti MoU antara Undar dan UTCC (University of Thai Chamber of Commerce) pada 02 September 2013 lalu. Lagipula, saya memang mendampingi Dr. H. Muchtar, M.Si., Asisten Direktur Pascasarjana Undar, yang bersemangat menindaklanjuti program ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Berbicara tentang Thailand, sesungguhnya negara ini lebih dekat dan tidak asing dengan kita. Maklum, hampir setiap hari kita bersua dengan sesuatu yang berbau Negeri Gajah Putih itu. Sebut saja, pepaya Thailand, jambu Bangkok, ayam Thailand, dan durian Thailand. Kita pun kadang impor beras dari Thailand. Faktor terakhir ini sangat memprihatinkan manakala melihat bahwa negara kita yang sangat subur dan kaya tanah pertanian.Tapi bukan dalam kesempatan kali ini kita membicarakan hal yang memprihatinkan ini.

Pada umumnya, penduduk Thailand menganut agama Budha. Agama ini seolah menjadi agama “resmi” negara yang kerap diguncang kudeta ini. Menurut sensus penduduk yang dilakukan pemerintah Thailand, sekitar sepuluh tahun silam, penduduk Thailand 94,6% beragama Budha, kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik.

Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar 7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat. Basis penduduk muslim berada di tiga provinsi; Yala, Narattiwat, dan Pattani. Ketiga provinsi ini berada di Thailand Selatan. Secara fisik, tradisi dan budaya penduduk tiga provinsi ini lebih dekat dengan masyarakat Melayu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Meskipun mayoritas muslim ada di Thailand Selatan, namun bukan berarti di bagian lain tidak ada muslim. Katakanlah Bangkok, ibukota Thailand. Di Bangkok, kita dengancukup mudah dapat menjumpai masjid. Walaupun mayoritas muslim di Bangkok adalah pendatang dari bagian selatan Thailand (secara fisik dapat dikenali dengan mudah, karena berdarah melayu), namun cukup banyak juga muslim yang berdarah Thailand asli (biasanya berkulit putih). Hal ini menunjukkan dakwah Islam berjalan dengan baik di Bangkok. Ibaratnya, Bulan Sabit di punggung Gajah Putih.

Di UTCC sendiri, mahasiswi muslim dengan jilbab pun ada beberapa, bahkan di lokasi kampus terdapat mushola bagi mahasiswa muslim. Dalam baliho promosi kampus, juga dalam website resmi UTCC, perwakilan mahasiswa muslim juga disertakan.

Setelah kami mendarat di Bandara Internasional Thailand, Don Mueang Bangkok, pada Ahad malam, 15 Desember 2013, kami mencermati bahwa tidak ada perbedaan waktu antara Indonesia dengan Thailand. Yang membedakan adalah waktu untuk shalat saja, atau waktu terbit dan tenggelamnya matahari. Ketika di Indonesia waktu untuk shalat Maghrib pukul 18.00 WIB, maka di Thailand mundur sekitar setengah jam.

Dalam waktu 11 hari (15-25 Desember 2013), kami mengikuti berbagai kegiatan dalam rangka short course manajemen pengelolaan perguruan tinggi sebagai tindak lanjut MoU. Dalam sesi dialog disepakati akan diadakan proram pertukaran dosen dan mahasiswa, program beasiswa, twin program penelitian yang dapat dilakukan secara silang antara dosen atau mahasiswa Undar dengan UTCC.

Bagaimana dengan makanan halal? Awalnya kami masygul. Namun setelah kami berkeliling di sekitar keramaian kampus, alhamdulillah kami mendapati dengan cukup mudah makanan halal. Di sekitar kampus paling tidak ada tiga penjual makanan halal. Pertama, penjualnya yang sangat  ramah, berasal dari Turki, dan sudah bertahun-tahun tinggal di Bangkok. Nama kiosnya adalah “God Razzaq Kebub”, ada tulisan halal di kiosnya tersebut. Dari UTCC dengan berjalan kaki sekitar 50 meter dari kampus.

Kedua, di antara kios jajanan di depan pinggir gerbang kampus ada tujuh penjual, dan salah satunya ada seorang pria yang di depan kiosnya ada tulisan lafadz “Allah” dan “Muhammad”. Ia menjual gorengan. Dan ketiga, di kantin di dalam areal kampus, ada  penjual makanan , seorang ibu yang ditemani perempuan muda yang memasang tulisan “halal” dan stiker ayat suci al-Quran di depan kiosnya.

Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand, kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah Sunni bermazhab Syafi’i. Dan secara umum, mereka mirip sekali dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita. Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah, nasyid, dan berbagai macam shalawat. Setiap masjid pun biasanya memiliki ulama yang dihormati di situ.

Bermaksud berkunjung ke KBRI dan mencari masjid, dalam perjalanan  kami menelpon Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), dan ternyata kedutaan libur, mengikuti kalender nasional, Indonesia. Sementara itu pada 25 Desember itu di Thailand kantor dan lembaga masuk seperti hari biasa.

Setelah telpon saya katakan ke teman, "Bahagia bisa berbahasa Indonesia."

Setelah sampai di kedutaan kami ditemui staf KBRI, jejaka asal Gresik, Hilmi namanya. Kebetulan kami sedang membawa buku pernikahan yang kami terjemahkan dari risalah tulisan pendiri NU, Mbah KH. Hasyim Asy’ari , “Dhaw’ul Mishbah fi Bayani Ahkamin Nikah”, buku mungil itu kemudian kami hadiahkan.

Staf bercerita bahwa KBRI adalah kedutaan negara asing pertama yang didirikan di Thailand. Tanah yang dibuat kantor konon juga hibah dari pihak kerajaan Thailand. Ia menunjukkan pula warung halal dan masjid terdekat.

Di dekat KBRI, perjalanan kaki kurang dari seperempat jam kami sarapan di warung halal "Farida Muslim Food", dan kemudian kami ditunjukkan masjid Darul Aman. Di kedua tempat ini kami juga berbahasa melayu atau Indonesia. Petugas warung orang Thailand Selatan, tetapi ia sering berinteraksi dengan orang-orang melayu.

"Tamu dan orang kedutaan Indonesia sering makan di tempat kami," demikian Muhammad bercerita. Setidaknya di dekat masjid dan KBRI ada tiga rumah makan muslim, ada Makyah Food, Muslim Food, dan Farida Muslim Food.

Di antara masjid yang menjadi sentral kegiatan kaum muslimin di Bangkok  dan dekat dengan KBRI adalah yang berada di Petchaburi 7 ini bernama Masjid Darul Aman. Masjid yang berlantai dua ini berada tidak jauh dari jalan Petchaburi (jalan utama), kurang lebih sepuluh meter. Di sekitarnya adalah pemukiman muslim Thailand yang sebagian dari mereka berasal dari Thailand selatan dan berbahasa Melayu. Oh ya di sekitar atau timur lokasi masjid ini terdapat deretan makam muslim.Pendidikan keagamaan bagi para muda muslim juga menjadi kesatuan dari masjid ini. Di lantai dua, kita bisa melihat bangku dan kursi berjejer dengan papan tulis sederhana. Ya, semacam madrasah diniyyah di nusantara.

Khotbah Jumat disampaikan dalam bahasa Thailand. Setelah Jumatan, imam shalat memandu jamaah wirid bersama dengan bersuara keras (jahr). Setelah selesai berdoa, imam memimpin salaman antar jamaah dengan iringan shalawat.

Ini tradisi mulia yang sama dengan tradisi mayoritas muslim di Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi, karena ulama besar di wilayah Pattani di abad ke-17, Syaikh Dawud Faththani, merupakan murid dari Syaikh Abdurrauf as-Sinkli, ulama besar asal Aceh. Kesamaan tradisi inilah yng membuat ikatan emosional muslim Pattani terjaga hingga kini. Terbukti, beberapa santri di pondok pesantren di Jawa berasal dari Pattani. Di Masjid Muhajireen, salah satu masjid di Din Daeng Bangkok, sekitar 4 km dari UTCC, yang jika ditempuh perjalanan kaki membutuhkan setengah jam, dan jika naik bus, sekitar 5 menit, kami juga menemukan terjemahan kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Thai.

Ada pula majalah berbahasa Melayu yang ditulis menggunakan aksara pegon. Di samping ada terjemah Quran dalam bahasa Thai, di masjid ini dan tentu juga di masjid Darul Aman, kami dapati Al-Quran dengan terjemah bahasa Indonesia, terbitan Kemenag RI.

Di sela-sela short course ini kami berjalan-jalan bersama rombongan. Ada guide, tentunya. Jumlahnya ada empat, bergantian. Tiga di antara mereka berasal dari China. Dua di antaranya tidak beragama, tetapi percaya pada Tuhan. Saat berjalan-jalan santai inilah kami beberapa kali bersua dengan kelompok-kelompok kecil. Mereka adalah demonstran anti pemerintahan PM Yingluck Sinawatra. Di antara mereka ada yang membagi-bagikan koran. Lucunya, korannya berbahasa Thai, jadi mana bisa kami membaca. Menuju Pratunam Market kami jalan kaki. Kami kira jauh, ternyata mungkin hanya sekitar 5 km dari UTCC. Kira-kira 45 menit kami sampai.

Heran kami kenapa jalan di depan mall ISetan kok lengang. Kami baru tahu ternyata jalan memang ditutup. Dipasang panggung tenda menghadang di sana, semacam panggung musik. Bus dan mobil tidak bisa masuk.

Kami dapati kerumunan orang yg berwajah agak tegang. Ada apa ini? Teman kami menerka, "Itu para demonstran Pak."

Tiba di market kami diberitahu oleh pedagang asal Malaysia (orang kedua yang berbicara bahasa Melayu setelah mahasiswa Timur Leste yang kami jumpai pada malam Ahad dalam suatu acara kampus) bahwa hari ini ada demonstrasi. Menenangkan kami ia mengata, "Demo ini pakai mulut, tidak pakai senjata. Aman."

Agak capek, kami memutuskan pulang naik taksi dengan ongkos 100 Baht, setelah kami tawar dari 200 Baht.

 

Sehari setelahnya  kami memutuskan untuk berkeliling ulang melihat suasana, walaupun sebenarnya pemandu menyampaikan bahwa hari ini (Senin) ada demonstrasi yang lebih besar daripada kemarin. Katanya, "Beresiko kalau kita pergi, mungkin tidak aman bagi orang asing."

Alhamdulillah kekhawatiran itu tak terjadi, kondisi masih cukup stabil. Ketika kami berkunjung untuk berdiskusi di salah satu sekolah di Din Daeng Bangkok, ada pertanyaan seorang guru yang cukup menggelitik.

"Kenapa di Indonesia pelajar tidak boleh memakai rok pendek?"

Salah seorang teman menjawab bahwa memang demikianlah ajaran Islam. Aurat tak boleh dibuka. Sementara, di negara yang kami kunjungi ini memang amat jamak ditemui hal demkian itu.

Para siswa yang ketika itu menantikan sesi dialog sangat apresiatif, mereka mengagumi Bali dan Borobudur. Seorang siswi menghampiri kami, dan berkata, "Saya sangat kagum pada Indonesia, negara dengan banyak pulau yang indah. Saya juga suka baju nasionalnya."

Ia mengatakan demikian sembari mengisyaratkan tangan di sekitar wajah hingga kaki. Mungkin maksudnya kebaya Indonesia atau baju muslimah, jilbab dan baju panjang.

"Suatu saat saya akan pergi ke Indonesia. Saya juga mau jadi warga Indonesia," ujarnya tersenyum.

Pengalaman selama sepuluh hari berada di Thailand dan berinteraksi dengan sahabat lintas negara, salah satu negara ASEAN membuat saya merenung, "Apa saja yang telah kita darmakan untuk negeri indah nan jelita Indonesia, dan apa yang akan kita perbuat?"

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock