Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Dulag, Suara Bedug dari Sunda

Tetabuhan dengan alat musik bedug dan beberapa kohkol (kentungan atau tongtong) yang biasa berada di samping masjid. Ngadulag artinya menabuh bedug dengan irama dulag. 

Uniknya, ngadulag tidak memiliki aturan khusus dalam menabuhnya. Tapi setiap penabuh berusaha menampilkan irama seenak dan seunik mungkin. Dalam pendengaran orang Sunda, secara umum, dulag berbunyi dulugdugdag.  

Dulag, Suara Bedug dari Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dulag, Suara Bedug dari Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dulag, Suara Bedug dari Sunda

Dulag hanya diperbolehkan saat bulan puasa. Biasanya ditabuh selepas tarawih dan saat membangunkan orang sahur. Dulag dilakukan semalam suntuk saat malam takbiran Lebaran Idul Fitri atau Idul Adha. Tidak hanya di masjid, kadang ngadulag dilakukan sambil mengarak bedug di jalanan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sebagai penghias lebaran, dulag jadi istilah yang disandingkan dengan pakaian baru dibeli. Misalnya sarung dulag, atau peci dulag. Artinya sarung dan peci yang baru dibeli. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dengan demikian, dulag mengacu kepada keramaian. Ada peribahasa Sunda berbunyi “jauh ka bedug anggang ka dulag”. Artinya, tempat yang jauh dari bedug dan dulag yang mengisyaratkan kesepian. 

Di daerah Banten, ada tradisi ngadu dulag, yaitu pertandingan memukul bedug antarkampung selepas lebaran. Yang paling tahan lama ngadulag dianggap sebagai pemenang. 

Di wilayah Sukabumi ada Soldug, artinya solawat bedug. Irama dulag diiringi nyanyian solawat Nabi. Biasanya dipertunjukkan saat samenan (imtihan, atau kenaikan kelas) sekolah agama (madrasah diniyah). (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Muslimah Pimpin Fatayat NU Sukoharjo

Sukoharjo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Guru SD Angkasa Karatasura Muslimah diamanahkan menakhodai Fatayat NU Sukoharjo. Muslimah terpilih dalam konferensi di Madin NU Tunggulsari Kartasura Sukoharjo, Ahad (25/1) sebagai Ketua Fatayat NU Sukoharjo untuk masa bakti 2015-2020.

Muslimah Pimpin Fatayat NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimah Pimpin Fatayat NU Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimah Pimpin Fatayat NU Sukoharjo

Fatayat NU Sukoharjo memiliki potensi untuk menjadi organisasi besar di Sukoharjo. "NU dan Muslimat NU di Sukoharjo cukup berpengaruh. Nah sekarang saatnya Fatayat NU bisa berkibar di bumi Sukoharjo Makmur," kata Muslimah kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Ahad (25/1).

Untuk menindaklanjuti hasil-hasil Konfercab, segera merapat kembali menyusun susunan kepengurusan. "Usai konfercab kita akan koordinasi lagi," kata Muslimah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Fatayat NU Sukoharjo akan segera menggelar Raker. Pembenahan ke dalam dan mencoba membangun jaringan dengan kelompok strategis baik di Sukoharjo maupun pada level nasional. "Saya mendapat amanah untuk membenahi Fatayat. Insya Allah sekuat tenaga saya tercurah untuk Fatayat," tegasnya.

Konfercab dibuka oleh pengurus Fatayat NU Jateng Hj Tazkiyatun Muttmainnah didampingi Ketua PCNU Sukoharjo H M Nagib Sutarno. (Cecep Choirul Sholeh/Alhafiz K)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 31 Januari 2018

Ikutilah Malam Baca Puisi Kopri PMII di Arena Munas NU 2017

Guna turut meramaikan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017, serta memperingati 50 tahun Korp PMII Putri (Kopri), Komunitas Sepertiga Malam yang dipimpin Budi Syahbudin bekerjasama dengan Kopri PKC PMII NTB akan menggelanggelar Kala Santri Berpuisi, Jumat 24 November 2017.

Acara akan diihadiri oleh sahabat-sahabat lintas generasi yang hadir di arena Munas. Acara diagendakan dimulai pukul 19.30 WITA di halaman Pondok Putri 1, Pesantren Nurul Islam, Jl. Swa Sembada, Sekarbella Mataram.

"Acara sengaja digelar di Sekarbella, karena pondok pesantren itu dipimpin oleh Hajjah Wartiah yang merupakan alumni Kopri militan dan telah berhidmat di PMII sejak 30 tahun lalu." ujar Ketua Panitia acara Budi Syabudin. Jumat (24/11) pagi.

Ikutilah Malam Baca Puisi Kopri PMII di Arena Munas NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikutilah Malam Baca Puisi Kopri PMII di Arena Munas NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikutilah Malam Baca Puisi Kopri PMII di Arena Munas NU 2017

Para senior PMII dari berbagai kota yang tengah berada di arena Munas Kota Matraman, NTB. Mereka juga akan dipersilakan meramaikan malam puisi tersebut.

Dihubungi Kamis (23/11) malam, Hj Wartiah mengungkapkan sangat antusias dan merespons positif.

"Saya siap (membantu) menyukseskan acara tersebut dengan maksimal," ujarnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selain baca puisi, acara juga akan dihangatkan dengan persembahan Tari Saman dan Marawis dari Pesantren Putri Nurul Islam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Semua persiapan sudah siap. Tinggal menunggu kehadiran semua sahabat saja," kata Lia Purnamasari, Ketua Kopri NTB. (Red;Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Doa, Sunnah, Kiai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 20 Januari 2018

Opick Sakit Hati dengan Film yang Sudutkan Pesantren

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Opick, salah seorang musisi dan pelantun lagu religi Indonesia, mengaku tidak terima dengan sikap sejumlah orang yang menuduh pesantren secara negatif. Menurut dia, tudingan itu harus kritisi karena buktinya pesantren berperan banyak untuk negeri.

”Saya pikir kultur di pesantren luar biasa. Dari sini lahir orang-orang yang luar biasa,” ujarnya kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama usai mengisi ”Malam Penganugerahan Tokoh Perubahan 2012” yang digelar harian Republika di Jakarta, Selasa (30/4) malam.

Opick Sakit Hati dengan Film yang Sudutkan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Opick Sakit Hati dengan Film yang Sudutkan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Opick Sakit Hati dengan Film yang Sudutkan Pesantren

Artis bernama asli Aunur Rofiq Lil Firdaus ini mencontohkan keberhasilan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) naik sebagai presiden. Opick mengatakan, fakta ini secara konkret menunjukkan bahwa pesantren di kalangan Nahdliyin terbukti juga mampu memegang jabatan-jabatan penting di Indonesia.

Opick menekankan pentingnya mengubah stigma pesantren, khususnya oleh masyarakat perkotaan. Ia juga menyesali, terbitnya sejumlah tayangan film yang mendeskripsikan pesantren secara keliru.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Aduh, beberapa film tentang pesantren yang menggambarkan bahwa pesantren itu sarang teroris, pesantren anti-sastra, anti-modern, ah itu saya sangat tidak setuju. Sakit hati saya,” keluhnya.

Sebaliknya, sambung Opick, pesantren pada kenyataannya justru mencetak sejumlah tokoh berdedikasi yang banyak menciptakan perubahan bagi republik ini. ”Kita lihat banyak sekali orang-orang besar lahir dari pesantren,” pungkasnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Cerita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 10 Januari 2018

Santri Didorong Teladani Spirit Ulama

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ketua PCNU Jombang, KH Salmanudin Yazid mengungkapkan, dalam memperingati momentum Hari Santri Nasional (HSN), santri dapat meniru perjuangan dan spirit ulama dalam menjaga serta mempertahankan NKRI.

"Peringatan hari santri yang akan kita peringati pada 22 Oktober, hendaknya dijadikan momen yang tepat untuk meneladani spirit para ulama untuk menjaga keutuhan NKRI dan bangsa Indonesia," ujarnya, Rabu (2/10).

Santri Didorong Teladani Spirit Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Didorong Teladani Spirit Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Didorong Teladani Spirit Ulama

Sejarah mencatat, papar dia, pembangunan bangsa dan Negara Indonesia memang tidak lepas dari peran santri dan pesantren. Dua komponen ini yang sering disebut dengan dua pilar pembangunan bangsa dan negara.

"Santri dan pesantren adalah dua pilar yang tidak terpisahkan dalam menegakkan NKRI," jelas Gus Salman, sapaan akrab KH Salmanudin Yazid.

Untuk itu, ia berharap peran atau kontribusi yang telah dicetak para santri dan pesantren, tetap diperhatikan. "Jadi sangat wajar jika amanah untuk membangun Indonesia, juga menjadi tanggung jawab santri dan pesantren," ujar dia. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Doa, Sunnah, Ubudiyah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 06 Januari 2018

PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan

Rembang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU kecamatan Rembang kota kabupaten Rembang menggelar seminar kebangsaan di Gedung Darul Khadlonah, Rembang, Sabtu (17/10) siang. sebanyak 150 anggota Muslimat datang dari 34 ranting Muslimat NU di kecamatan Rembang dan 9 PAC Muslimat.

Mantan Ketua Muslimat NU Rembang Hj Mahmudah Masykuri menyampaikan, seminar dilakukan sebagai upaya PAC Muslimat NU Rembang dalam memperkuat pengetahuan empat pilar kebangsaan NKRI yang kini kian terkikis oleh beberapa faktor.

PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC Muslimat NU Rembang Ngaji 4 Pilar Kebangsaan

"Kami sengaja mengadakan kegiatan seminar empat pilar kebangsaan untuk menguatkan pengetahuan kader Muslimat NU, serta memberikan pengetahuan mengenai perundang-undangan serta tata kelola pemerintahan.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mahmudah berpendapat, sebagai warga Nahdlatul Ulama sebagai garda terdepan untuk mengawal empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, serta UUD 45 sangat wajib memiliki pengetahuan luas mengenai empat pilar kebangsaan.

"Jika NU yang senantiasa menjadi garda terdepan dalam mengawal empat pilar kebangsaan, maka kita sebagai pengurus Muslimat NU juga membantu langkah NU, dengan cara paham empat pilar kebangsaan serta tatakelola pemerintahan.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Muslimat NU Rembang menggandeng pihak DPD RI. Pertemuan ini disertai dengan penyerahan bantuan kepada sejumlah pesantren di kabupaten Rembang. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Santri, Daerah, Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 31 Desember 2017

NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal

Surabaya, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam rangka memberikan apresiasi terhadap seni dan kebudayaan asli dari Kota Surabaya, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Surabaya memberikan Penghargaan Sapta Wikrama kepada seniman Surabaya, Kartolo dan Ida Lailia. Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian pagelaran berbagai seni di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Senin (30/5) ini, pukul 18.00 WIB.

?

Ketua Lesbumi PCNU Kota Surabaya M Hasyim Asyari menjelaskan bahwa? kegiatan tersebut merupakan wujud kepedulian NU terhadap kesenian asli Surabaya. Karena, katanya, beberapa kesenian dan kebudayaan tersebut sebagian masih eksis dan hanya segelintir orang dan komunitas yang merawat dan melestarikannya.

NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Beri Penghargaan Sapta Wikrama kepada Seniman Lokal

?

Menurutnya, selain dalam rangka berdakwah melalui kesenian dan kebudayaan, Lesbumi hadir untuk merawat dan melestarikan tradisi kesenian dan kebudayaan Nusantara khususnya di Surabaya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

?

Untuk itu dalam acara tersebut Lesbumi juga akan menampilkan pagelaran seni modern dan dan kesenian khas daerah. “Pada siang hari akan ada pagelaran musik modern dan malam akan ada kentrung dan kidungan, pencak jidor serta penghargaan untuk seniman ludruk,” katanya dalam siaran pers, Ahad (29/5) malam.

?

Ia menambahkan era digital menjadi tantangan nilai-nilai keluhuran budaya Nusantara. Kondisi ini menjadi tanggung jawab Lesbumi untuk mempertahankan, melestarikan, dan mengolaborasi kesenian.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

?

"Kebudayaan tradisional menjadi suguhan yang mempunyai daya tarik bagi seluruh kalangan. Lesbumi diharapkan menggali kembali kesenian dan kebudayaan tradisional, Lesbumi harus menghargai dan mengapresiasi karya seni dan budaya untuk menjadi motivasi generasi muda di masa-masa yang akan datang," tegasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Sunnah, Amalan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 29 Desember 2017

Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim

Rembang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Dalam peringatan haul KH M Abdullah Maksum Jauhari atau biasa  disapa Mbah Maksum Lirboyo yang diselenggarakan setiap tahun oleh Pengurus Cabang (PC) Pagar Nusa Kabupaten Rembang. acara ini dihadiri ratusan pendekar Pagar Nusa (PN) dari ranting-ranting se-cabang Rembang.

Sesepuh Pagar Nusa Rembang Zainur Rouf menyebutkan, peringatan ini merupakan wujud hormat dan cinta  kepada pendiri bela diri Pagar Nusa. Selain itu, dengan peringatan seperti ini ia berharap mendapatkan keberkahan ilmu dari seorang guru.

Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim

"Mbah Masum itu pendiri Pagar Nusa yang berasal dari Pondok Pesantren (Pontren) Lirboyo Kediri. Ia merupakan seorang yang alim dengan ilmu bela diri yang hebat," ungkapnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia berharap dengan diadakan kegiatan rutin setiap tahun ini semakin meningkatkan tali persaudaraan antarpendekar di Kabupaten Rembang sehingga kepengurusan Pagar Nusa Rembang bisa solid dan melahirkan pendekar yang berprestasi.

Sementara, Pengurus Pagar Nusa Rembang Tyas Eko Saputro selaku ketua panitia menyatakan banyak acara yang turut meramaikan Haul Mbah Maksum, Kamis (5/10) tersebut. Acara ini dimeriahkan dengan khataman Al-Quran sebanyak lima kali, pertunjukan pentas seni, dan santunan kepada yatim dan piatu setempat.

"Perwakilan dari beberapa ranting menunjukkan aksi hebatnya dengan mempertontonkan gerakan jurus, seni bela diri, sampai memecahkan batu bata dengan kepala," ujarnya saat ditemui di gedung serbaguna YKM NU Rembang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Acara ini dimulai pukul 20.00 hingga menjelang tengah malam. Turut hadir Ketua PCNU Kabupaten Rembang KH Sunarto, Rais Syuriyah PCNU Rembang H Ahmad Chazim Mabrur, sesepuh Pagar Nusa, dan seluruh ranting Pagar Nusa di cabang Rembang. (Onji/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Nasional, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 13 Desember 2017

Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Quran

Salah satu ciri khas pesantren di Jawa pada umumnya adalah mengaji kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharakat (kitab gundul). Ada juga yang menyebutkan kitab kuning, karena sebagian besar kitab-kitab klasik itu dicetak dengan kertas berwarna kuning. Kiai menerjemahkan per kata (lafadz) dengan memperhatikan kedudukan masing-masing lafadz dalam susunan kalimat. Santri mengikutinya dengan mencatat terjemahannya di bawah lafadz asal. Dengan model pengajian ini, santri tidak sekadar mengetahui terjemah lafadz, namun juga mengetahui kedudukan masing-masing lafadz baik menurut kaidah nahwu maupun sharaf, sehingga pemahaman mereka atas makna teks menjadi lebih dalam.

Lafadz yang berkedudukan sebagai subyek (mubtada’) pasti disebut terjemahnya adalah utawi, sedangkan yang berkududukan sebagai predikat (khabar) selalu disebut terjemahnya adalah iku. Hal ini berlaku dalam kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Jika susunannya adalah kalimat verbal yang terdiri dari (fi’il dan fa’il), maka terjemah lafadz kerja (fiil) pasti akan diikuti keterangan waktu lampau, sekarang atau akan datang (wus, lagi, arep). Jika kedudukan lafadz itu menjadi subyek (fa’il), maka pasti dengan tegas terjemahnya diucapkan dengan ungkapan sapa (jika subyek berakal) atau apa (jika subyek tidak berakal). Ada banyak lagi contoh terjemah yang menujukkan kedudukan lafadz dalam suatu kalimat, misal, ing menujukan obyek, halih menunjukkan hal, apane menunjukkan tamyiz, rupane menunjukkan badal dan masih banyak lagi yang lainnya.?

Model pengajian seperti ini secara sistematis telah melatih santri atau murid menjadi peka terhadap struktur kalimat (tarkib) dan perubahan i’rabnya. Struktur minimal kalimat adalah terdiri dari subyek dan predikat, sedangkan yang lengkap adalah subyek, predikat, obyek dan keterangan. Hal ini juga berlaku pada bahasa Arab. Adapun i’rab adalah perubahan akhir kalimat dalam bahasa Arab karena perbedaan unsur (‘amil) yang memasukinya baik secara tampak lafadznya maupun secara perkiraan. Misalnya lafadz al-kitaab; dalam keadaan tertentu lafadz itu harus dibaca al-kitaabu, al-kitaaba, atau al-kitaabi karena menempati kedudukan yang berbeda. ? ? ? ?

Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Quran

Mungkin karena diidentikkan dengan Al-Quran yang berbahasa Arab, kajian teori gramatika bahasa Arab di pesantren selama ini dipersepsi sebagai sesuatu hampir-hampir sakral. Buktinya tingkat senioritas kompetensi santri seringkali dilekatnya dengan berapa banyak bait-bait nadham kitab Imrithy atau Alfiyah ibn Malik. Tidak semua pesantren menganjurkan atau bahkan mewajibkan santri menghafal Al-Quran, tapi sebaliknya santri terkondisikan untuk menghafal bait-bait nadham dalam kedua kitab itu, padahal ia bukan kitab suci yang membacanya bernilai ibadah (almuta’abbad bi tilaawatihi).

Didorong semangat untuk melestarikan tradisi keilmuan dan pembelajaran di pesantren seperti ini, Muhammad Afifuddin Dimyathi (Gus Awis), pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang menyusun sebuah buku berbahasa Arab dengan judul, Shafaaul Lisaan Fii I’raabil Quraan. Buku ini memang ditujukan untuk para pemula dalam studi bahasa Al-Quran, khususnya para santri dan mahasiswanya, sehingga hanya berisi analisis irab tiap lafadz dan kalimat ayat-ayat Al-Quran yang terpilih dengan menggunakan metode irab yang telah dikenal di pondok pesantren.?

Penyusun buku ini sepertinya ingin memadukan antara penguasaan gramatika bahasa Arab dan pembelajaran kitab suci Al-Quran, sehingga sikap santri dalam menyakralkan ilmu diarahkan secara tepat pada kitab suci Al-Quran. Kitab Imrithy atau Alfiyah ibn Malik memang penting untuk belajar gramatika bahasa Arab, namun tidak sepatutnya disakralkan melebihi penyakralan terhadap kitab suci Al-Quran.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Penyusun buku ini yang juga alumnus MAPK/MAKN Jember menganalisis kandungan i’rab tiga surat Al-Quran pilihan, yaitu: QS. Al-Fatihah, QS. As-Sajadah, dan Al-Insan. Ketiga surat ini sangat populer di pesantren, khususnya di pesantren Gus Awis, karena sering dibaca khususnya dalam shalat Shubuh hari Jumat. Dengan obyek kajian tiga surat al-Quran itu, pembaca buku ini diharapkan memperoleh dua manfaat sekaligus. Manfaat pertama adalah pembaca akan mampu belajar mendalami penarapan ilmu nahwu dan sharaf. Manfaat kedua adalah membaca, belajar dan memahami ayat-ayat dan ? kandungan kitab suci Al-Quran yang secara langsung memiliki nilai ibadah. ? ? ?

Menurut penyusun buku ini ketiga surat Al-Quran tersebut memiliki variasi i’rab yang sangat beraneka macam, sehingga merepresentasikan i’rab yang terkandung dalam seluruh ayat-ayat Al-Quran. Dengan mengkajinya, maka pembaca akan mempu memformulasikan i’rab yang terdapat dalam ayat dan surat yang lain secara mandiri. ? ? ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kompetensi menganalisis i’rab suatu kalimat sangat diperlukan dalam kajian tafsir Al-Quran. Ketidaktepatan analisis i’rab bisa mengubah makna secara fatal. Sebagai misal, dalam QS. Fatir ayat 28, seharusnya makna yang tepat adalah hanya saja yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya adalah ulama. Makna ini diperoleh jika lafadz Allah dalam ayat itu dibaca Allaaha. Sebaliknya maknanya bisa berubah sangat fatal, jika lafadz Allah dibaca Allaahu, sehingga terjemahnya menjadi hanya saja Allah takut kepada hamba-hambaNya yang ulama. Lafadznya sama, namun jika dibaca Allaaha atau Allaahu, ternyata maknanya sudah bertentangan 180 derajat. Oleh karena itu ilmu I’rab menjadi salah satu ilmu penting dalam memahami ayat-ayat Al-Quran khususnya.?

Selama ini analisis i’rab seringkali hanya digunakan untuk membedah kalimat bahasa Arab biasa. Melalui bukunya ini dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengajak pembaca untuk langsung menerapkannya dalam analisis ayat-ayat Al-Quran. Ini adalah karya yang patut diapresiasasi karena menjadi sarana mempopulerkannya dalam kajian-kajian bahasa Arab. Santri atau murid tidak sekadar membaca dan menganalisis kalimat bahasa Arab biasa, namun langsung diarahkan kepada analisis bahasa kitab suci Al-Quran yang mengandung berbagai keutamaan yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab biasa.

Alhasil, siapa saja yang membaca dan mempelajari kandungan buku ini pasti akan melakukan dua aktifitas mulia sekaligus, yaitu mengaji dan mengkaji ayat-ayat Al-Quran. Pembaca juga akan mendapatkan sisi sakral dan gramatikal di dalam buku ini. Jika penasaran, silakan miliki dan membacanya sendiri untuk membuktikannya. ?

Data Buku

Judul Buku : Shafaaul Lisaan Fii I’raabil Quraan

Penulis ? ? ? ? : Muhammad Afifuddin Dimyathi

Penerbit ? ? ? ? : Lisan Arabi

Alamat ? ? ? ? ? : Sidoarjo, Jawa Timur

Cetakan ? ? ? ? : Pertama : 2016 M / 1437 H ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Halaman : 117 halaman

Peresensi

Nine Adien Maulana, Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA Negeri 2 Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Pendidikan, Pondok Pesantren Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 05 Desember 2017

Rekam Jejak Sang Perusak

Dalam satu dasa warsa terakhir ini, pergerakan kaum Salafi-Wahabi di Indonesia begitu massif. Saat ini kita tidak sulit menjumpai lelaki yang berpenampilan “syaikh” dengan menggunakan  gamis  dan celana cingkrang, lengkap dengan cambang dan jenggotnya yang menggantung. Sementara yang perempuan, seluruh tubunya dibalut dengan kain, kecuali matanya. Busana tersebut memang menjadi ciri khas kaum Salafi-Wahabi. Sekilas kita menduga bahwa meraka adalah bagian dari kita. Lebih-lebih mereka selalu berkoar dan mengklaim diri sebagai satu-satunya representasi kelompok Ahlussunah wal Jama’ah. Jargon-jargon yang mereka teriakkan juga sangat islami,  misalnya “mari kembali kepada ajaran al-Quran dan Sunnah, tidak ada tempat meminta kecuali kepada Allah” dan sebagainya. 

Sekilas gerakan puritan mereka, terkesan sangat  islami, paling bertauhid, dan seterusnya. Tapi kita jangan silau, apalagi terjebak dalam kamuflase amaliah mereka. Mereka sesungguhnya adalah kelompok yang justru ingin mengikis habis amalan-amalan Ahlussunah wal Jama’ah versi NU khususnya dan umat Islam umumnya.

Rekam Jejak Sang Perusak (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekam Jejak Sang Perusak (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekam Jejak Sang Perusak

Buku ini mengulas rekam jejak sejarah “kelakuan” Salafi-Wahabi yang begitu ekstrem. Dikatakan ekstrem karena kelompok ini selalu memberi stempel kafir kepada umat Islam yang bertentangan dengan ajarannya.  Mereka “mengisolasi diri” dalam komunitasnya, karena mengangap najis orang lain yang tidak satu “akidah” dengan mereka. Mereka menganggap wajib memusuhi, bahkan memerangi orang di luar mereka, kendati dia orang tuanya sendiri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sesungguhnya, Muhammad bin Abdil Wahhab, --sang pendiri Wahabi—dan para pengikutnya mempunyai catatan hitam dalam lembar sejarah pergerakan mereka. Orang-orang yang suka tawassul, ziarah kubur dan sebagainya dinilainya sebagai ahli bid’ah, kafir dan syirik. Karena itu, darah mereka diangggap halal. Dalam prakteknya, kelompok Wahabi tak segan-segan membunuh orang yang dianggap kafir itu, kemudian hartanya diambil sebagai harta rampasan (Hal. 2). Bahkan, seorang hakim, Utsman bin Mu’ammir  dibunuh di dalam masjid usai shalat Jumat. Tidak hanya itu, istananya juga  dihancurkan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab dan para pengikutnya lantaran dianggap mbalelo (Hal. 30).

Sejarah telah membuktikan betapa kejam prilaku Wahabi dalam menyikapi perbedaan dalam agama Islam. Tahun 1216 Hijriyah, Wahabi memasuki daerah Karbala untuk misi dakwahnya. Bukan berdakwah, tapi memerangi penduduk setempat karena dianggap melawan ajarannya. Mereka dengan sadisnya menghabisi orang-orang di pasar-pasar dan rumah-rumah. Hampir 1000 penduduk mati di tangan Wahabi. Hartanya juga dikuras.

Di tahun yang sama, Koka Makkah juga menjadi sasaran. Pasukan Abdul Aziz dan Utsman –tokoh Wahabi— memasuki Makkah tanpa peperangan. Meski masuk dengan damai, namun mereka juga masih memerangi penduduknya. Mereka mendatangi penduduk dari rumah ke rumah untuk dibunuh dan  diambil hartanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mereka menetap di Makkah selama 20 hari karena sibuk menghancurkan masyhad-masyhad dan kubah-kubah makam setiap harinya. Tak ada satupun masyhad dan kubah yang tersisa. Semua diratakan dengan tanah (Hal. 42). Kubah makam, memang salah satu bangunan yang dinilai bid’ah oleh Wahabi

Sebenarnya, ajaran  Muhammad bin Abdil Wahhab –dedengkot Wahabi-- ketika itu banyak ditentang oleh umat Islam. Ayahnya sendiri, Syaikh Abdul Wahhab juga menentang keras ajaran yang dikembangkan anaknya. Konon, ia sudah mempunyai firasat buruk terhadap anaknya itu, yang ditengarai akan membawa kesesatan dan kerusakan pada umat. Kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdil Wahhab juga masuk di barisan utama penentang ajaran Muhammad bin Abdil Wahhab. Ia membantah habis-habisan ajaran adiknya itu. Di antara bantahannya itu, ia tulis dalam kitab ash-Shawaiq  al-Ilahiyah fi  Radd ‘ala Wahhabiyah dan Fashl al-Khitab fi Madzhab Muhammad bin Abdil Wahhab dan sebagainya (Hal. 6).

Dalam perkembangannya setelah itu, ada 129 ulama kesohor dari madzhab empat yang menolak ajaran Wahabi. Dengan ratusan kitab, mereka menelanjangi doktrin yang diajarkan Muhammad bin Abdil Wahhab (Hal. 49).

Kendati demikian, Muhammad bin Abdil Wahhab dan para pengikutnya ramai-ramai mengingkari dan membantah kitab-kitab yang mementahkan doktrin mereka. Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Nyatanya, sampai kini Wahabi tetap eksis, malah penetrasinya semakin meluas. Itu karena didukung oleh Kerajaan Arab Saudi. Di Indonesia, ajaran Wahabi yang dibawa oleh “santri-santri” Timur-Tengah bermetamorfosis menjadi Salafi.

Hanya gerakan Salafi di Indonesia, tidak seradikal di Arab Saudi dan negara-negara Timur-Tengah lainnya. Sebab, Salafi di Indonesia masih tergolong minoritas. Tapi kalau sudah menjadi kelompok menengah secara kuantitas, apalagi mayoritas, bukan tidak mungkin gerakan-gerakan ektrem dan kejam akan dipertontonkan Salafi. Rekam jejak Wahabi sebagai perusak ketenangan, kedamaian dan kerukunan antar umat Islam, sudah terbukti di daerah asalnya.

Buku ini patut dibaca oleh umat Islam yang menginginkan kedamaian dan menjunjung tinggi pluralitas agar bisa berhati-hati terhadap sepak terjang dan pengaruh Salafi. Ditulis dengan mengambil referensi kitab-kitab yang ditulis oleh tokoh Wahabi yang sudah insyaf atau sejarawan Wahabi, sehingga “kabar” mengenai radikalisme kekejaman Wahabi bisa dipertanggug jawabkan.

.

Judul: Rekam Jejak Radikalisme Salafi Wahabi, Sejarah, Doktrin dan Akidah

Penerbit: Khalista, Surabaya

Penulis: Achmad Imron R.

Cetakan: April 2014

Tebal: xxviii + 303 hlm.

Peresensi: Aryudi A. Razaq, kontributor Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jember

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Nasional, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 04 Desember 2017

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Jember, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Para pesilat Pagar Nusa Jember, terus menunjukkan eksistensinya.  Selain aktif melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelajar dan santri organisasi pencak silat NU tersebut bersilaturrahim dan Latihan Gabungan (Latgab) di Mayang. 

Kegiatan Senin (24/3) di rumah Ketua Pagar Nusa H. FB. Zamroni tersebut juga dihadiri Ketua DPW Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur, H. Faidhul Mannan. 

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Selain memantau latihan gabungan, H. Faidol juga berkenan mengukuhkan 75 pelatih Pagar Nusa. "Kami berharap agar anggota Pagar Nusa, bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk turut serta dalam menjaga keteritiban dan keamanan, termasuk bekerjasama dengan pihak kepolisian," katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam kesempatan itu, H. Faidhul juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) PSNU Pagar Nusa Jember hasil revisi periode 2012-2017. Di SK tersebut, ketua tetap dipegang oleh H. FB. Zamroni dan sekretaris dijabat oleh H. Ismail Iskandar.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut salah seorang pengurus Pagar Nusa Jember, H. Thoif Zamroni, ke depan pihaknya akan lebih giat lagi untuk memperkenalkan Pagar Nusa ke lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren dan sekolah-sekolah di bawah naungan LP. Maarif. 

"Kegiatan pencak silat Pagar Nusa ini, bisa menjadi agenda ekstrakurikuler di pesantren-pesantren. Karena kami dan pesantren itu punya kesamaan visi, yaitu sebagai sokoguru Nahdlatul Ulama," ucap Ketua DPRD Kabupaten Jember itu. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, Sholawat, Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 25 November 2017

Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Karim Raslan, kolumnis Malaysia, melakukan syuting film dokumenter tentang Indonesia. Jumat kemarin (17/1) pengambilan gambar dilakukan di Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur Kegiatan ini melibatkan KH Khoiron Syuaib, dai yang aktif membina Pekerja Seks Komersial atau PSK.

Ya, semenjak berkenalan sekitar 10 tahun silam, Karim Raslan mengagumi kiprah KH Khoiron Syuaib yang mengentaskan para PSK di Surabaya dengan cara lembut. Bagi Karim, cara lembut nan elegan akan membuat orang terkesan dan terpikat hatinya.

Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kolumnis Malaysia Dokumentasikan Islam Indonesia

Tentang pesantren, ia menilai lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara ini adalah sentral pengajaran metode dakwah dan memperdalam kajian agama. Menurutnya, pesantren merupakan miniatur NU, dan NU adalah gambaran sikap elegan muslim Indonesia.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Saya memahami keislaman dan keIndonesiaan dari diskusi dengan Gus Dur," kata Karim  di tengah-tengah pengambilan gambar.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Alumnus Universitas Cambridge ini menilai jika proses liputan di Pesantren Tebuireng merupakan bagian dari episode "Islam sebagai Rahmat" dalam serial "Ceritalah Indonesia", sebuah film dokumenter tentang Indonesia.

"Mengapa syuting di Tebuireng, karena Kiai Khoiron Syuaib alumni pondok ini, dan Tebuireng juga salah satu pesantren besar yang punya pengaruh signifikan dalam kehidupan berbangsa dan beragama," kata kolumnis ini.

Dalam babakan episode yang pengambilan gambarnya dilakukan di perpustakaan pondok dan komplek makam Gus Dur. Di hadapan kamera, Karim memberikan narasi singkat mengenai pesantren, Wali Songo, NU, dan Islam Indonesia.

Pesantren Tebuireng merupakan tempat pengkaderan Kiai Khoiron dan lokalisasi Bangunsari, Surabaya, menjadi medan dakwahnya. Dia juga menjelaskan bahwa Tanjung Perak, Surabaya, merupakan pelabuhan kuno dan menjadi titik temu peradaban dunia sejak ratusan tahun silam. Sosok Sunan Ampel dinilai sebagai penyebar agama Islam secara damai.

"Nilai-nilai Islam yang menyebarkan kasih sayang merupakan kunci mewujudkan Islam sebagai Rahmat," katanya.

Usai syuting di Tebuireng, pengambilan dokumentasi dilanjutkan ke bekas lokalisasi Bangunsari Pelabuhan Tanjung Perak, dan Makam Sunan Ampel. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 22 November 2017

Berbekal Ilmu Kanuragan, Terapkan Kedisiplinan di Tebuireng

KH Abdul Kholik Hasyim adalah seorang pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang cukup disegani oleh masyarakat. Ia memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Di bawah kepemimpinannya, intensitas pengajian kitab kuning di Tebuireng ditingkatkan.

Kelahiran dan Pendidikan

Berbekal Ilmu Kanuragan, Terapkan Kedisiplinan di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbekal Ilmu Kanuragan, Terapkan Kedisiplinan di Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbekal Ilmu Kanuragan, Terapkan Kedisiplinan di Tebuireng

Abdul Kholik Hasyim dilahirkan pada tahun 1916 dengan nama kecil Abdul Hafidz. Beliau adalah putra keenam dari pasangan Kiai Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sejak kecil Abdul Kholik dididik langsung oleh ayahnya sendiri. Setelah dianggap mampu, Abdul Kholik melanjutkan pendidikannya ke pondok pesantren Sekar Putih, Nganjuk. Selepas dari sana, dia meneruskan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar nahwu. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Abdul Kholik melanjutkan studinya ke Pesantren Kajen, Juwono, Pati, Jawa Tengah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pada tahun 1936, dalam usia 20 tahun, Abdul Kholik pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di sana ia bermukim selama empat tahun sambil memperdalam ilmu pengetahuan. Salah seorang gurunya bernama Syekh Ali al-Maliki al-Murtadha.

Berkeluarga dan Berjuang

Pada tahun 1939, Abdul Kholik pulang ke tanah air. Setahun kemudian, ia menikah dengan salah seorang keponakan Kiai Baidhawi yang bernama Siti Azzah. Pada tahun 1942, Kiai Kholik dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Abdul Hakam. Inilah satu-satunya keturunan Kiai Kholik.

Selama masa revolusi fisik, Kiai Kholik aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Sejak tahun 1944, atau satu tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Kiai Kholik masuk dalam dinas ketentaraan nasional. Dia menjadi anggota PETA. 

Kiai Kholik merupakan orang dekat Jenderal Sudirman bersama kakaknya, Kiai Wahid Hasyim. Kiai Kholik mengundurkan diri dari militer pada tahun 1952 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel (Letkol), kemudian pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya.

Memimpin Tebuireng

Sepulang dari Makkah, Kiai Kholik mampir dulu ke Jakarta menemui Kiai Wahid Hasyim yang saat itu menjadi Menteri Agama. Di sana beliau membicarakan masalah kepemimpinan Tebuireng yang waktu itu dipegang oleh Kiai Baidlawi. Dalam pandangan Kiai Kholik, naiknya Kiai Baidlawi sebagai pimpinan Tebuireng telah merubah tradisi kepemimpinan pesantren yang biasanya diteruskan oleh putra pengasuhnya, bukan oleh menantunya.

Setelah dari Jakarta, Kiai Kholik mampir ke Desa Kwaron, Jombang. Di sana ia tinggal di rumah adiknya yang paling bungsu, Muhammad Yusuf Hasyim. Dari Desa Kwaron Kiai Kholik mengirim utusan ke Tebuireng untuk membicarakan masalah suksesi kepemimpinan Tebuireng dengan Kiai Baidhawi. Mendengar rencana tersebut, Kiai Baidhawi lalu menyerahkan kepemimpinan Tebuireng kepada Kiai Kholik.

Sejak awal kepemimpinannya, Kiai Kholik banyak melakukan pembenahan pada sistem pendidikan dan pengajaran kitab kuning, yang pada tahun-tahun sebelumnya digantikan dengan sistem klasikal. Sebagai pendekar sekaligus bekas tentara, Kiai Kholik menerapkan kedisiplinan yang cukup tinggi di Tebuireng.

Langkah pertama yang diambilnya ialah meminta bantuan kakak iparnya, Kiai Idris Kamali (tahun 1953), untuk mengajar di Tebuireng. Kiai Idris diminta untuk mengajarkan kembali kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf, serta melakukan revitalisasi sistem pengajaran. 

Dalam memimpin Tebuireng, Kiai Kholik terkenal sangat disiplin. Ini mungkin merupakan pengaruh tidak langsung dari jiwa militernya. Meskipun demikian, Kiai Kholik sangat hormat kepada Kiai Idris, karena dianggap lebih tinggi ilmu spiritualnya. Kiai Idris juga sangat dihormati oleh santri dan masyarakat. Sedangkan Kiai Kholik sebagai pemimpin formal Tebuireng, mengajar kitab-kitab tasawwuf.

Sedangkan Kiai Kholik sangat disegani masyarakat, karena memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Hampir setiap hari tamu-tamu berdatangan ke rumahnya, baik meminta doa-doa atau meminta syarat kesembuhan. Masyarakat percaya bahwa Kiai Kholik mewarisi kesufian dan kekaromahan Kiai Hasyim, sehingga beliau sering melakukan keajaiban-keajaiban tertentu. Konon, Kiai Kholik pernah menurunkan buah kelapa tanpa memanjatnya. Beliau cukup menggerakkan tenaga dari bawah, buah kelapa sudah berjatuhan. Kiai Kholik juga terkenal kebal senjata tajam. Saat terjadi peristiwa G30S PKI, Kiai Kholik memberikan amalan untuk kekebalan dan kesaktian kepada para santri dan masyarakat.

Pada masa penjajahan, Kiai Kholik pernah ditahan oleh tentara Belanda tanpa alasan yang jelas. Beliau dijatuhi hukuman mati. Keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Kiai Kholik meminta waktu kepada algojo untuk salat dua rakaat. Seusai salat, Kiai Kholik mengangkat tangan berdoa kepada Allah. Anehnya, setelah itu pihak Belanda menyatakan bahwa Kiai Kholik tidak jadi dihukum mati.

Selain terkenal memiliki karomah tinggi, Kiai Kholik juga memiliki kebiasaan mengoleksi kitab-kitab syair berbahasa Arab (semacam ontologi). Hal ini dapat dilihat dari kitab-kitab peninggalannya yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Tebuireng.

Pada masa Kiai Kholik, madrasah yang telah dirintis oleh para pendahulunya tetap dipertahankan. Saat itu Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), dan Mu’allimin. Kurikulumnya 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Pada masa ini pula, Madrasah Nidzamiyah yang dulunya didirikan oleh Kiai Wahid, berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah.

Polaritas Politik 

Di bidang politik, pada masa kepemimpinan Kiai Kholik terdapat polaritas internal di kalangan pemimpin Tebuireng. Pertama, Kiai Kholik mendirikan partai Aksi Kemenangan Umat Islam (AKUI) tahun 1955 dan melarang segala aktivitas politik dan organisasi apapun di Tebuireng. Kedua, Kiai Karim (kakak Kiai Kholik) tetap konsisten menjadi anggota Masyumi. Ketiga, sebagian warga pesantren dan masyarakat Tebuireng mengikuti Partai NU. Padahal Kiai Kholik saat itu melarang segala kegiatan yang berbau NU. Segala aktifitas harus dilakukan di luar pondok. Di pondok hanya untuk ibadah dan mengaji.

Ketika Presiden Soekarno menjatuhkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kiai Kholik sebagai anggota Konstituante, menentang dengan keras. Dalam pandangannya, jalan musyawarah dan diplomasi masih bisa dilanjutkan. Kiai Kholik mendapat teguran keras atas penentangannya itu, sehingga partai AKUI yang didirikannya dibubarkan. Kiai Kholik kemudian keluar dari politik.

Berpulang ke Haribaan-Nya

Bulan Juni 1965, atau tiga bulan sebelum meletusnya pemberontakan G.30.S/PKI, Kiai Kholik menderita sakit selama beberapa hari. Semua keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Mereka semua mengharap kesembuhan sang pengasuh. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihadang. Beberapa hari setelah itu, Kiai Kholik menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna liLlahi wa inna ilayhi raji’un. Tebuireng pun berduka.

Sebagaimana keluarga lainnya, jenazah Kiai Kholik dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, diiringi ribuan peta’ziyah yang mengantarkannya hingga ke liang lahat. (Mustaram/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 21 November 2017

Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan

Semarang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Para kiai dan nyai pengasuh pesantren yang tergabung dalam organisasi Musyawarah Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (MP31) mengusulkan batas usia perempuan diizinkan kawin digeser naik. Mereka merekomendasikan perubahan pasal di UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 dari batas usia diizinkan menikah 16 tahun menjadi 18 tahun.

Hal itu merupakan keputusan Workshop dan bahtsul masail yang digelar di Hotel Horison Semarang, Jumat-Ahad (22-24/4).

Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengasuh Pesantren Usul Batas Usia Nikah Dinaikkan

Dewan Pembina MP3I KH Ahmad Badawi Basyir menyatakan, hasil pembahasan yang mempertimbangkan aspek fiqih, kesehatan, maupun psikologis, usia nikah 16 tahun bagi perempuan itu rawan masalah, banyak madharat (kerugian) dan tidak sesuai dengan definisi anak yang telah ditetapkan secara internasional yaitu 18 tahun.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Para kiai sepakat mengusulkan batas usia perempuan diizinkan nikah adalah 18 tahun," tuturnya.

Pengasuh Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus ini menjelaskan, sebelum memutuskan rekomendasi ini para peserta bahtsul masail telah mendengar paparan dari pemerintah seperti utusan pihak Kemendikbud, Kemenakertrans, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, dan Kemenkes. Mereka juga meminta pandangan dari pakar psikologi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kami telah mendengarkan paparan dari berbagai pihak, bahwa perkawinan usia anak di bawah 18 tahun, itu banyak risiko kesehatan dan kejiwaan," katanya dalam acara yang didukung Plan International dan Fitra Jateng tersebut.

Agama Islam disyariatkan untuk membawa kemaslahatan bagi umat. Negara dalam kewajibannya melayani warga juga harus berorientasi kebaikan warganya. Maka menikah harus diupayakan saat seseorang telah dewasa. Dewasa menurut yang berlaku di dunia saat ini adalah saat orang berusia 18 atau lebih.

"Definisi fiqih tentang batas nikah adalah telah bulugh (baligh), yakni berfungsinya organ reproduksi, itu perlu ditinjau ulang demi mengupayakan maslahat," paparnya.

Para peserta juga sepakat meminta pemerintah RI mengadakan kursus pranikah sebagaimana di Malaysia. Pemerintah harus memastikan setiap orang siap menikah baru boleh menikah. Ini perlu digarap oleh Kemenag dan bisa melibatkan kementerian lain. (Ichwan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Sunnah, Kiai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 11 November 2017

Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam yang bergerak dalam berbagai bidang seperti keagamaan, sosial, seni budaya, ekonomi, dan pendidikan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, NU giat dalam menggalakkan pendidikan tingkat perguruan tinggi. Hal itu terbukti dengan berdirinya 31 universitas Nahdlatul Ulama yang berdiri dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun terakhir.?

Selain itu, tentu masih ada banyak lagi kampus-kampus yang berafiliasi dengan NU atau didirikan oleh kader-kader NU, tapi tidak terdaftar pada struktural NU. Jumlahnya ratusan. Mulai dari sekolah tinggi hingga universitas. ?

Pada tingkat Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyyah sampai Sekolah Menengah Atas atau Madrasah Aliyah, satuan pendidikan yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU adalah sekitar 48 ribu. Sedangkan untuk pondok pesantren, ada sekitar 23 ribu pesantren yang tergabung di dalam Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI NU).

Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Secara Kuantitas, Pendidikan NU Tidak Ada Tandingannya

Muktamar ke-30 tahun 1999 yang diselenggarakan di Lirboyo Kediri bisa dibilang sebagai momentum penting dalam sejarah pengembangan pendidikan NU. Pada Muktamar ini, NU menegaskan untuk serius dalam memperkuat tata kelola pendidikannya. Lalu, tahun 2001 LP Ma’arif NU menggelar Rakernas. Di antara hasil Rakernas adalah membagi satuan pendidikan dalam tiga kategori sekolah atau madrasah, yaitu: Pertama, satuan pendidikan yang didirikan oleh LP Maarif.

Kedua, satuan pendidikan yang didirikan oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU bekerja sama dengan LP Maarif. Terakhir, yang didirikan dan dikelola secara mandiri oleh jamaah atau lembaga lain di lingkungan NU.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Namun yang menjadi pertanyaan adalah Bagaimana pendidikan NU bisa berkembang begitu pesatnya? Apa yang menyebabkannya? dan Apakah kuantitas yang begitu meruah dibarengi dengan kualitas yang memadahi?

Untuk menjawab itu, Jurnalis Internet Marketer Nahdlatul Ulama A Muchlishon Rochmat mewawancarai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Masduki Baidlowi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi X DPR RI (Bidang Pendidikan) dan juga Ketua LP Ma’arif PBNU. Berikut hasil wawancaranya:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama





Seperti apa pendidikan NU saat ini?

Secara kuantitas, saya kira pendidikan NU tidak ada tandingannya. NU adalah ormas yang memiliki lembaga pendidikan terbesar di Indonesia. Sampai sekarang pendidikan NU terus berkembang.





Faktor apa yang menyebabkan pendidikan NU begitu meruah?

Pendidikan NU bisa eksis dan bertahan bahkan semakin banyak karena mentalitas kader-kader NU di bidang pendidikan sangat kuat. Itu didasari oleh etos kerja mereka yang tumbuh dari ajaran agama.

Salah atu ajaran agama yang menjadi pegangan kader-kader NU dalam bidang pendidikan adalah bahwa menyelenggarakan pendidikan itu tanda dari ilmu yang bermanfaat. Di dalam hadis Nabi disebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah salah satu bekal amal ibadah yang pahalanya tidak putus-putus meski sudah meninggal.?

Dari ajaran agama itu, etos ini menjadi nilai yang hidup dan mengakar kuat di dalam diri Nahdliyin. Sehingga kalau kita tanya berapa jumlah sekolah, berapa jumlah madrasah, lembaga formal, informal, atau pun nonformal, pasti yang terbanyak orang NU.

?

Orientasi pendidikan NU itu seperti apa?

Ilmu pendidikan zaman modern selalu mengaitkan bahwa output dari orang yang belajar adalah akses kerja. Pada dasarnya pendidikan itu ada input, proses, dan output. Di dalam standar pendidikan nasional, ada delapan output. Ouput adalah salah satu standar kompetensi kelulusan. Kalau ada mahasiswa S1 di bidang musik, dia bisa apa dan bekerja dimana.

Kalau dulu tidak ada urusan yang seperti itu karena yang namanya bekerja itu adalah akibat dari proses hidup. Mereka bebas untuk hidup seperti apa, namun yang terpenting adalah mereka bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Sehingga orientasi pendidikan pada zaman itu betul-betul berorientasi pada proses.?

Kalau disebut-sebut bahwa pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia atau pendidikan karakter yaitu sebenarnya pendidikan NU. Pendidikan karakter orientasinya adalah pada keteladanan guru.?

Standar Nasional Pendidikan (SNP) itu ada delapan. Yang 3 tidak terkait dengan guru, yaitu standar pendanaan, manajemen, dan sarana-prasarana. Sedangkan yang 5 selalu berkaitan dengan guru. Oleh karena itu, guru itu betul-betul merupakan kunci perubahan.





Model pendidikan NU?

Model pendidikan NU itu adalah model pendidikan yang sangat bagus. Dalam artian, saat kita mendidik orang itu jangan terlalu disibukkan outpunya tetapi lebih menyibukkan dengan bagaimana proses dari pendidikan itu, yaitu bagaimana memanusiakan manusia.





Tujuannya?

Ilmu yang bermanfaat adalah merupakan salah satu tujuan daripada pendidikan yang ada di NU. Minimal bermanfaat untuk diri sendiri, baru kemudian bermanfaat untuk orang lain. Makanya pendidikan di NU tidak pernah memikirkan tentang seperti apa sekolahnya akan dibangun.

Misalnya seperti pesantren-pesantren besar NU yang ada saat ini itu tidak pernah memikirkan bagaimana membangun gedung, tetapi bagaimana seorang guru -yang punya pengaruh besar di dalam proses pendidika itu- tumbuh sebagai guru laku dan guru yang memberikan keteladanan.

Oleh karena itu, jumlah pendidikan NU sangat banyak karena dua hal. Pertama, memegang teguh nilai ilmu yang bermanfaat dan yang kedua adalah berorientasi kepada proses penciptaan pendidikan karakter.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj selalu mengatakan bahwa kalau lahir dan sekolah di NU tidak akan ada yang menjadi teroris. Karena proses pendidikannya itu sangat menentukan bagaimana antara ilmu agama dihubungkan dengan adat istiadat setempat sebagai infrastruktur agama.?

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah bagaiaman kalau konsep itu dihadapkan dengan orientasi pendidikan saat itu yaitu akses kerja?

Kalau pola ini diterapkan sekarang, maka dianggap kurang berkualitas karena tidak pernah berfikir pada pasca proses. Pendidikan sekarang selalu dikaitkan dengan dunia kerja yang polanya terus berkembang sesuai dengan modernitas dan industri sehingga keahlian juga semakin tumbuh dan berkembang.

Pendidikan keahlian-keahlian itu yang harus disiapkan oleh sekolah. Sehingga ukuran pendidikan disebut berkualitas atau tidak itu selalu dihubungkan dengan akses kerja. Kalau anda sudah terdidik di sebuah sekolah dan kemudian lulus, anda bisa apa dan diterima dimana. Itu pola pendidikan saat ini.?

Lalu, bagaimana menghadapi itu?

Karena sekarang harus berurusan dengan kualitas atau mutu dan pendidikan dihubungkan dengan kerja maka mau tidak mau NU juga harus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Dan harus diakui bahwa dalam konteks ini NU agak tertinggal.?

Jadi untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian tujuan pendidikan, NU itu agak lambat dalam arti bahwa NU masih tetap saja berorientasi kepada dua hal dia atas, yaitu ilmu yang bermanfaat dan proses.?

Bagaimana memperbaikinya?

Harus segera dilakukan penyesuaian-penyesuaian. Banyak juga lembaga-lembaga pendidikan sekolah atau madrasah NU, lembaga-lembaga pendidikan pesantren NU yang sudah melakukan penyesuaian-penyesuaian. Tetapi secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa belum sepenuhnya bisa karena begitu banyaknya jumlah lembaga pendidikan NU.?





Terus, bagaimana caranya melakukan penyesuaian-penyesuaian tersebut dan harus dimulai dari mana?

Pertama kita bicara peran negara. Ada empat tujuan daripada didirikannya negara ini, diantaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah tujuan utama dari bernegara dan ini kaitannya dengan pendidikan. Mencerdaskan itu bukan hanya pada aspek kognitif saja, kecerdasan itu kan mencerdaskan kehidupan. Artinya, implementasi dari ilmu pendidikan itu melahirkan kemudahan-kemudahan dan produktivitas-produktivitas dimana anak bangsa bisa dengan mudah menciptakan kesejahteraannya.?

Itu adalah kebijakan negara menciptakan kebijakan-kebijakan. Derivasi dari tujuan bernegara ini, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, dirumuskan di dalam UUD 1945. Ada banyak pasal-pasal yang menjelaskan mengenai bagaimana cerdas dalam kehidupan. Intinya adalah pendidikan itu merupakan hak dasar bagi setiap warga negara yang harus disiapkan oleh negara.

Oleh karena itu, negara wajib menyelenggarakan dan tidak boleh ada diskriminasi. Diskriminasi itu masih terjadi dimana-mana. Misalnya, sarana antara madrasah dan sekolah negeri beda, perlakuan di Papua dan di Jawa beda. Ini tidak boleh terjadi.?

Kedua kita bicara internal. NU juga harus memperbaiki manajemen yang ada dan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru yang mengajar di sekolah-sekolah NU. ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Budaya Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 02 September 2017

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Mohsen mengatakan, pondok pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga wilayah perbatasan dan kepulauan serta bahari.

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

“Saatnya pesantren maritim menunjukkan eksistensinya di republik ini,” kata Mohsen kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/5) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id. ? Menurut dia, Kemenag kini sedang mengembangkan ? pesantren kemaritiman.

Dikatakan Mohsen, pesantren menjadi salah satu opsi bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya agar lebih paham ilmu agama Islam. Kini, pesantren tak hanya menawarkan pendidikan agama namun sedang dikembangkan untuk pesantren kemaritiman.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Penyelenggaran pesantren merupakan respon pemerintah pada pembangunan nasional. Pesantren maritim ini juga membangun masyarakat terpinggir, terpencil, yang berada di kepulauan,” ujarnya.

Saat ini ada sekitar 80 pesantren yang akan difokuskan ke bidang kemaritiman. Hal ini dinilainya sejalan dengan konsep nawacita yang diusung Presiden Jokowi untuk me?nonjolkan Kelautan Indonesia di mata dunia.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Laut juga penting bagi kebangsaan. Ini sesuai dengan nawacita presiden yang mengutamakan kedaulatan di laut. Ada tol laut yang akan dikembangkan dan sebagainya. Inilah argumen mengapa kita mengajukan bahari penting untuk ditonjolkan,” lanjutnya.

Peluncuran program pemberdayaan ekonomi umat melalui pondok pesantren ini akan dilakukan 18 Mei nanti di Palu, Sulteng. Program ini terkait dengan program Sail Tomini yang akan dilaksanakan September mendatang di Sulteng.

Di wilayah ini ? sudah ada 20 pesantren yang akan dibuat menjadi pesantren maritim, salah satunya di kabupaten Parimo, Sulteng.

Selain Parimo, ada juga pesantren di daerah Karimunjawa, Jepara dan kecamatan Bonang, Demak, Jawa Tengah. Ada juga pesantren di wilayah Kep. Riau, Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Sebagian besar jenjang pesantren ini adalah MI/MTS Aliyah.

Dijelaskan Mohsen, konsep pembelajaran kemaritiman ini akan sejalan dengan pembelajaran agama di pesantren tersebut. Saat ini, pihaknya terus menyempurnakan konsep pembelajaran yang juga disesuaikan dengan konsep pelajaran kemaritiman di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

Adanya spesifikasi pesantren seperti ini diharapkannya bisa membuat santri pesantren lebih banyak bergelut dengan hal-hal kemasyarakatan. “Di sinilah fungsi dan peran strategis pondok pesantren yang diharapkan perannya menjadi mitra pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” jelas Mohsen.

Menurut Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bachtiar, maritim tidak bisa dilepaskan dari proses penyebaran agama di Indonesia, karena negara kita sebagai negara kelautan. Untuk itu pihaknya berencana akan membuka kajian kebaharian di perguruan tinggi keagamaan.(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Sejarah, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 15 Agustus 2017

GP Ansor NTT Berpartisipasi Amankan Paskah

Kupang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Timur (NTT) berpartisipasi dalam pengamanan hari raya Paskah  bagi umat Kristiani di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya yang jatuh pada Jumat (3/4). Kegiatan serupa rutin digelar setiap momen hari raya di provinsi berpenduduk mayoritas Katolik dan Protestan ini.

GP Ansor NTT Berpartisipasi Amankan Paskah (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Berpartisipasi Amankan Paskah (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Berpartisipasi Amankan Paskah

Kali ini PW GP Ansor NTT bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Wilayah  Gerakan Mahasisiswa Satu Bangsa Provinsi NTT (Gemasaba NTT).  "Ini sudah menjadi agenda tahunan bagi Pimpinawan Wilayah (GP Ansor NTT) maupun pimpinan cabang Ansor se-NTT," kata Ketua PW GP Ansor NTT Abdul Muis APS.

Sesuai mekanisme, tugas ini pihaknya serahkan sepenuhnya kepada para anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Agenda pengamanan diprioritaskan di wilayah Kota Kupang, khususnya di sekitar gareja-gareja di ibu kota NTT tersebut.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Partisipasi pengamanan berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis, Jumat, sampai Sabtu. Ketua DPW GEMASABA NTT Kaharudin mengatakan, agenda ini adalah sebuah wujud kebersamaan dalam nuansa toleransi sesama umat yang di wilayah Kota Kupang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Partisipasi pengamanan paska ini sebuah wujud nyata dari aksi bertema ‘Toleransi dari NTT untuk Indonesia’,” ungkap mantan ketua Umum PMII Cabang Kupang itu di Kupang, Kamis (3/4). (Ajhar Jowe/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pesantren, Sunnah, Anti Hoax Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 22 September 2016

PW Muslimat NU DKI Jakarta Bagikan Hadiah Lomba Qasidah

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta rencananya akan mengumumkan dan membagikan hadiah perlombaan Qasidah Barzanji dan Qasidah Ad-Diba‘I pada pengajian rutin bulanan Muslimat NU DKI Jakarta di Gedung PWNU DKI Jakarta, Jalan Talang nomor tiga, Jakarta Pusat, Sabtu (8/6) pagi.

Demikian dikatakan anggota Kewirausahaan dan Koperasi PW Muslimat NU DKI Jakarta Mutia kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama per telepon, Rabu (5/6) sore.

PW Muslimat NU DKI Jakarta Bagikan Hadiah Lomba Qasidah (Sumber Gambar : Nu Online)
PW Muslimat NU DKI Jakarta Bagikan Hadiah Lomba Qasidah (Sumber Gambar : Nu Online)

PW Muslimat NU DKI Jakarta Bagikan Hadiah Lomba Qasidah

“Pengumuman dan pembagian hadiah itu bertepatan dengan pengajian rutin sekaligus peringatan Isra Mi‘raj 1434 H. Di hadapan sedikitnya 5000 peserta pengajian rutin bulanan, grup pemenang akan menerima hadiah uang dan piala.” tambah Mutia.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengumuman dan pembagian hadiah itu, lanjut Mutia, merupakan tindak lanjut dari perlombaan qasidah Rawi Barzanji dan Ad-Diba‘I di aula Gedung PWNU DKI Jakarta, Sabtu lalu (1/6) siang. perlombaan diikuti sedikitnya 36 grup rebana yang tersebar di lima cabang Muslimat NU DKI Jakarta.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mutia menambahkan, perlombaan qasidah diadakan dalam rangka peringatan harlah ke-67 Muslimat NU dan menyatakan syiar hari besar Islam Isra Mi‘raj 1434 H.

Selain mensyiarkan hari besar Islam, perlombaan qasidah juga dimaksudkan untuk menyemarakkan syiar Islam dan menjaga jalinan silaturahmi di kalangan umat Islam, sambung Mutia.

Menutup pembicaraan, Mutia mengatakan bahwa perlombaan qasidah berfungsi untuk menjaga kesenian rebana di lingkungan DKI Jakarta.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pemurnian Aqidah, Sunnah, Warta Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 22 Februari 2015

Pindah Tugas, Irjen Pol Anas Pamitan ke PWNU Jatim

Surabaya,Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Kapala Polisi Daerah Jawa Timur (Jatim) Irjen Pol Anas Yusuf datang tanpa pengawalan khusus dari kepolisian ke kantor PWNU Jatim di Jl Masjid Al Akbar No 9 Surabaya pada Rabu (9/9). Kedatangannya disambut Rais Syuriah dan Ketua Tanfiziyah PWNU.

Pindah Tugas, Irjen Pol Anas Pamitan ke PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pindah Tugas, Irjen Pol Anas Pamitan ke PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pindah Tugas, Irjen Pol Anas Pamitan ke PWNU Jatim

Pertemuan Kapolda dengan KH Anwar Mansur sebagai Pj Rais Syuriah jawa Timur dan KH Mutawakkil Alallah Ketua PWNU Jatim berlangsung singkat.

Anas menyampaikan terima kasih atas bantuan para kiai selama bertugas di Jatim. Ia mengabarkan bahwa dirinya dialihtugaskan,

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Jatim ini kan tempat para kiai dan NU. Dan NU itu adalah ormas Islam terbesar di Indonesia. Jadi peran kepolisian harus didukung oleh para kiai, khususnya NU," jelas Anas kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Anas minta doa restu kepada Kiai Anwar dan Kiai Mutawakkil supaya bisa menjalankan tugas barunya sebagai Gubenur Akademik Kepolisian. "Itu sesuai dengan isi surat dari Kapolri, saya sebagai prajurit hanya patuh kepada pimpinan," tandasnya sebelum meninggalkan gedung PWNU Jatim.

Ketua Tanfidziyah juga mengapresiasi kepada Irjen Pol Anas Yusuf selama bertugas di Jawa Timur. Kiai Mutawakkil menilai Anas adalah salah satu Kapolda Jatim yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

"Beliau itu mengayomi, melindungi masyarakat. Terutama saat muktamar NU di gelar di Jombang. Pak Anas sangat membantu kami," jelas Kiai Mutawakkil. (Rof Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 09 Maret 2014

Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia

Pringsewu, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi. Kesempurnaan manusia itu harus terus dijaga dan digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai kesempurnaan tersebut hilang sehingga manusia hanya dalam bentuk jasadnya saja namun hakikatnya bukan manusia.

Demikian dikatakan Pengurus Jamiyyah Al Mutabaroh An Nahdliyyah NU (JATMAN) Pringsewu Lampung, KH Muhammad Dalhar saat memberikan penjelasan materi tasawuf pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU setempat, Ahad (13/02).

Kiai Dalhar mengungkapkan bahwa untuk menjadi manusia sebagai makhluk yang sebenar-benarnya manusia, harus menyadari hakikat diciptakannya manusia. " Dalam diri kita mengalir darah. Dalam darah kita ada ruh dan dalam ruh ada rasa. Sehingga jika orang tak punya rasa, hakikatnya bukan manusia," tegasnya.

Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia

Sebagai contoh ia mengatakan bahwa rasa kita sebagai seorang orang tua, anak, kakak, adik dan sebagainya merupakan hal yang membedakan kita dari hewan. "Kalau hewan tidak memiliki rasa itu. Jadi bila kita bertingkah semaunya tanpa memikirkan rasa tersebut berarti kita sama saja seperti hewan," tegasnya.

Lebih lanjut Kiai Dalhar mengingatkan bahwa sebagai mahkluk yang paling sempurna, manusia juga harus menyadari bahwa tugas utamanya adalah beribadah mendekatkan diri kepada yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam beribadah ada empat tingkatan yang dapat menghantarkan manusia merasakan nikmatnya beribadah sekaligus menjadikan manusia lebih sempurna lagi. "Empat tingkatan tersebut adalah marifat yakni ilmu dalam beribadah, syariat yakni cara beribadah, thariqat yakni jalan atau arah beribadah, dan yang terakhir adalah tingkatan hakikat yakni tujuan dari ibadah kita," jelasnya.

Kiai Dalhar mengibaratkan perjalanan menuju kenikmatan beribadah tersebut seperti berlayar mengarungi lautan. " Marifat itu ilmunya, syariat itu kapalnya, thariqat itu lautnya, dan hakikat itu adalah mutiara di dalam lautnya," pungkasnya.? (Muhammad Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Hikmah, Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock