Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

PBNU Undang Para Tokoh Nasionalis, Kaji Amandemen UUD 1945

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengundang beberapa tokoh nasionalis untuk mendiskusikan persoalan-persoalan mendasar seputar amandemen Undang Undang Dasar 1945 yang telah dilakukan empat kali. Sebagai institusi sosial keagamaan terbesar di Indonesia yang punya andil besar dalam mendirikan bangsa ini, PBNU ingin memberikan masukan-masukan dengan terlebih dahulu menyaring beberapa pokok pikiran dari para ahli.

“Pada diskusi ini posisi PBNU bukan untuk bicara tapi untuk mendengar, mencermati buah fikiran dan mutiara-mutiara pendapat dari para bapak-bapak yang sangat kita hormati. Alhamdulillah semua datang ke sini,” kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi saat memberikan kata pengantar diskusi di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (19/7).

Para tokoh nasionalis yang hadir antara lain Try Sutrisno, Kwik Kian Gie, dan Tyasno Sudarto, dan Muji Sutrisno. Sebagai pembanding diskusi Wakil Rektor Universitas Paramadina Jakarta Yudi Latif, Budayawan Radhar Panca Dahana, dan Ketua Masyarakat Profesional Madani Ismet Hasan Putro. Diskusi dipandu oleh Enceng Sobirin Nadj.

PBNU Undang Para Tokoh Nasionalis, Kaji Amandemen UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Undang Para Tokoh Nasionalis, Kaji Amandemen UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Undang Para Tokoh Nasionalis, Kaji Amandemen UUD 1945

Diskusi bertajuk “Amandemen UUD 45 dalam Dimensi Sosial, Ekonomi Politik” itu merupakan diskusi kedua yang diselenggarakan oleh PBNU. Sebelumnya, PBNU mengundang pakar hukum tata negara Ryaas Rasyid dan beberapa pelaku amandemen antara lain Ali Maskur Moesa dari Fraksi Kebangkitan Bangsa dan Lukman Hakim Saifuddin dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan untuk membicarakan legalitas serta dimensi hukum dan politik amandemen UUD 1945.

Undang undang hasil amandemen dinilai banyak kalangan justru mendatangkan banyak persoalan. Belakangan muncul keinginan untuk melakukan amandemen untuk kelima kalinya. Menurut Hasyim Muzadi, PBNU ingin mendapatkan masukan-masukan yang lebih komprehensif mengenai berbagai aspek dalam amandemen itu, berikut berbagai konsekuensinya. “Harapannya kita kita dapat berbuat lebih banyak untuk bangsa,” katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Try Sutrisno menyatakan, amandemen UUD 1945 justru akan memunculkan masalah besar jika tidak hati-hati. Menurutnya, amandemen yang telah dilakukan empat kali itu tidak dilandasi oleh “naskah akademik” yang jelas dan tidak mengarah pada pencapaian cita-cita bangsa sebagaimana termakstub dalam pembukaan UUD 1945.

“Tidak ada salahnya, apabila kita perbaiki yang kurang lengkap. Saya berpendapat, lebih tepat jika saya pilih kaji ulang secara jujur dan bertanggung jawab,” kata mantan wakil presiden itu.

Ketidakjelasan dalam naskah amandemen itu juga ditemukan oleh Kwik Kian Gie. Menurut mantan Menko Ekuin di zaman Gus Dur dan Megawati itu, penambahan ayat dalam pasal 33 UUD 1945 berkaitan dengan sistem perekonomian Indonesia tidak disertai alasan apa pun. “Yang jelas sekarang ini kita mengarah pada ekonomi liberal. Dampaknya kemiskinan meningkat, kekayaan menumpuk pada beberapa orang,” katanya.

Mantan KSAD Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto menyatakan, kesimpangsiuran nasib bangsa Indonesia pasca reformasi disebabkan karena ulah para pemimpin yang tidak merawat warisan bangsa dengan benar, termasuk dengan mengamandemen UUD 1945 itu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Saya tak akan uraikan lagi apa yang jadi kesusahan, kekrisisan dan malapetaka, karena kita sudah tahu, karena kita tidak lagi bersyukur nikmat terbesar, yaitu nikmat kemerdekaan dengan segala ugorampenya, kelengkapannya, yaitu UUD 45 yang notabene adalah rahmat dari Allah,” katanya sembari mengutip puisi Jendral Besar Sudirman tentang kedaulatan negara dan kemandirian bangsa.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Amalan, AlaNu, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 06 Februari 2018

Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Hj Khofifah Indar Parawansa berharap aktivitas Koperasi Muslimat NU Inkopan meingkatkan kesejahteraan masyarakat. Inkopan diminta kesiapannya untuk menggerakan perekonomian masyarakat.

“Koperasi Muslimat NU harus bisa memodali masyarakat yang ingin mengawali usahanya,” kata Hj Khofifah di hadapan peserta pendidikan kewirausahaan sejak pagi hingga petang di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Kamis (19/5).

Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Koperasi Muslimat NU Jadi Modal Kesejahteraan Rakyat

Kongres Muslimat NU pada 1979, lanjut Hj Khofifah, sudah mengingatkan kita untuk mengadakan koperasi. Saya sendiri sejak akhir 1990-an keliling Indonesia untuk menyadarkan pengurus Muslimat NU akan pentingnya koperasi.

“Koperasi ini dapat menyelamatkan mereka yang membutuhkan modal dari jeratan rentenir. Mereka yang ingin membeli bibit dan pupuk. Mereka yang ingin melaut dan mencari ikan dengan membutuhkan solar dan cadangan makanan yang memadai. Kita mesti membebaskan mereka dari jeratan rentenir melalui koperasi,” tegas Hj Khofifah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, Al-Quran sudah menjelaskan bahwa riba adalah haram, zina haram, dan judi haram. Tetapi bagaimana kita bisa menyelematkan umat dari yang haram? Masalah ini membutuhkan penanganan khusus, rancangan matang sistematis, dan gerakan ekonomi terorganisasi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia mengakui bahwa sebuah gerakan ekonomi misalnya tidak harus dikaitkan dengan Muslimat NU.

“Secara individu kalau bisnis jalan, maka ia akan menyejahterakan umat. Ustadzah dan Muslimat NU tidak perlu meminta sekian persen. Cukup jadi amal jariyah Muslimat NU,” kata Khofifah saat mendorong pemasaran produk Susu Kambing Kurma Madu Indonesia (SKKMI) yang akan meluncur bulan depan di pasaran.

“Saya minta tim ini mengikhlaskan produk. Jangan sampai, belum apa-apa organisasi sudah memberatkan. Kita berharap individu kelak berkontribusi buat organisasi. Organisasi cukup memediasi dan memfasilitasi jamaah,” tutup Hj Khofifah yang kini diamanahi sebagai Menteri Sosial RI. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Habib, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 05 Februari 2018

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Pada sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu 15 April 2017, KH Aziz Masyhuri Denanyar wafat. Berita ini tentu mengejutkan karena pada paginya beliau masih membaca koran dan melanjutkan menulis buku sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Dengan demikian berarti dua kiai besar bernama Aziz dari Jombang telah tiada, satunya lagi yaitu KH Aziz Mansyur Paculgowang sudah wafat pada 2015 lalu.

Saya, walaupun tidak lama, pernah mengaji ke beliau berdua. Kiai Aziz Mansyur adalah sosok kiai yang mempunyai etos ilmiah ala Lirboyo, yang tidak lain adalah pondok kakeknya sendiri, karena beliau juga lama mondok di Lirboyo. Gaya ngaji beliau; duduk bersila di depan meja kecil, dilengkapi dengan lampu belajar, serta bersandar di bantal. Diatas meja kecil itu, selain ada kitab dan lampu belajar, juga ada segelas air putih.

Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Ketika saya mengaji romadhon pada 2014, saya begitu takjub dengan kedisiplinan Kiai yang menjabat dewan syuro PKB ini. Kalau sudah duduk didepan kitab, maka sekitar 2 jam sampai 2, 5 jam ke depan, tidak beranjak dari tempat duduknya, membaca kitab tanpa berhenti, dan tanpa basa-basi. Ketika membaca kitab semacam ini posisi beliau menghadap ke arah kiblat, bertempat di selasar masjid. sementara kami yang mengaji juga menghadap kiblat, berada di belakang beliau. Nah, ini tentunya menguntungkan bagi saya, karena kalau ngantuk tidak akan ketahuan, hehehe.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kitab yang dikaji ba’da taraweh ketika itu adalah al-Asybah wa An-nadhair, dan Dalailul Khoirot. Belum lagi yang dibaca pada waktu pagi dan sore. Dengan etos yang demikian itu, maka wajar kalau dalam kesempatan romadhon yang biasanya tidak sampai tanggal 20 sudah selesai, berhasil menghatamkan beberapa kitab. Sehingga bisa dimaklumi jika santri alumni pondok salaf, semacam Paculgowang dan Lirboyo mempunyai perbendaharaan kitab kuning yang relatif banyak.

Lalu bagaimana gaya Kiai Aziz Masyhuri mengaji? Tempat belia mengaji tidak? ? di masjid, namun di ruang tamu. Beliau duduk di salah satu kursi, kemudian yang mengaji duduk dikursi-kursi yang lain, ada dua set kursi tamu di ruang tersebut. Sebagaimana layaknya menerima tamu, di meja tersaji aneka hidangan, ada makanan kering yang berada di toples-toples dan ada makanan basah, seperti pisang goreng, roti bakar, atau yang lainnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jadwal mengaji satu minggu sekali, saya perhatikan hidangan di atas meja tersebut selalu berganti. Terasa benar bahwa memang itu disiapkan secara khusus untuk orang-orang yang mengaji pada beliau. Tidak berhenti sampai disitu, setiap ada yang datang, tidak lama kemudian ada yang menghidangkan kopi. Di tengah-tengah pengajian biasanya disusul dengan kolak, lalu diakhir ditutup dengan nasi goreng atau tahu petis. Jadi saya katakan pada Anda, bahwa tips mengaji pada Kiai Aziz Masyhuri haruslah dalam kondisi perut kosong, kalau tidak mau keringat dingin, karena harus menghabiskan makanan yang sedemikian banyak.

Nah, begitu kita datang ternyata tidak langsung mengaji kitab, tetapi masih mengobrol kesana-kemari antara setengah sampai satu jam. Bahan obrolan biasanya tentang permasalahan aktual, tentang ke-NU-an, tentang kegiatan-kegiatan beliau, atau seputar penulisan kitab yang sedang beliau kerjakan.

Jujur, awal-awal saya merasa gelisah dengan ritme mengaji seperti ini, karena tidak langsung to the poin. Tapi lama-kelamaan merasakan hal yang berbeda. Apa yang beliau obrolkan tersebut biasanya adalah pandangan atau sikap beliau sebagai seorang kiai menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Jadi ini adalah pengajian aktual, tidak melulu mengaji kitab, tapi juga mengaji kehidupan. Apalagi ketika membaca kitab juga selalu disisipi dengan penjelasan-penjelasan.

Yang dikaji ketika itu adalah kitab Kawakibul Lama’ah karangan Kiai Fadhol Senori Tuban, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Mungkin Kiai Aziz Masyhuri produktif mengarang kitab karena terinspirasi oleh Kiai Fadhol ini. Kitab lain karya Kiai Fadhol diantaranya adalah ahlal musyamarah yang menceritakan tentang 10 wali di tanah Jawa. Di tangan Kiai Aziz Masyhuri, keterangan kawakibul lama’ah menjadi sangat luas.

Keterangan tentang apa yang tertulis di kawakibul lama’ah sepertinya sudah nempel banget di lidah beliau. Keterangannya bisa sangat detail. Misalkan saja, ketika masuk pada pembahasan devinisi sunnah dan jama’ah, dalam kitab tersebut menyitir devinisi dari kamus Muhith. Oleh beliau dijelaskan kamus mukhit ini merupakan kamus 4 jilid yang patokannya adalah huruf terakhir dari suatu kata. Misal kata ‘wasala’ yang terdiri dari huruf wawu, sin, dan lam, maka cara mencarinya dari huruf lam.

Keterangan ini kemudian melebar pada jenis-jenis kamus. Dimulai dari Tajul Arus yang merupakan sarah kamus mukhit. Lalu ada juga Misbahul Munir yang menurut beliau merupakan kamus yang paling ‘marem’, karena kalau ada masalah fiqh keterangannya dipanjangkan. Ada juga kamus munjit. Ini adalah kamus yang paling gampang, karena kalau ada yang tidak jelas dikasih gambar. Kelebihan yang lain dari kamus ini ada Faraidul Adab-nya. Namun yang mengarang orang kristen.

Keterangan kamus munjit ini menjadi semakin hidup manakala ditambahi dengan kisah Mbah Kiai Maksum Lasem dan putranya Mbah Kiai Ali Maksum. Mbah Kiai Maksum mengharamkan kamus munjit. Ketika Mbah Kiai Ali Maksum masih dipondok, waktu mau dijenguk ayahnya, santri-santri senior yang punya kamus munjit suruh menyembunyikan. Takut kalau-kalau Mbah Kiai Maksum memeriksa kamar-kamar. Nah, nanti kalau sudah pulang boleh dikeluarkan lagi.

Kitab berikutnya yang dikaji setelah kawakibul lama’ahkhatam adalah kitab tipis berjudul, butlani aqoidul syiah, sebuah kitab yang sepertinya belum ada di penerbitah Indonesia. Karena kami mengkajinya pun dari foto copy-an kitab yang beliau punya. Demikianlah Kiai Aziz Masyhuri, perbendaharaan kitab-kitab langkanya melimpah. Sehingga wajar kalau beliau menjadi rujukan kiai-kiai yang lain, termasuk dari pondok-pondok besar. Namun taqdir kami tidak bisa mempelajari kitab ini sampai selesai, karena setelah libur hari raya, pengajian kitab tersebut belum dilanjutkan lagi sampai beliau wafat.

Beliau memang pernah cerita, bahwa jika sedang haji, yang beliau buru adalah kitab-kitab terbitan timur tengah. Saking banyaknya yang beliau beli, sampai-sampai sebagiannya harus dititipkan ke orang lain yang jatah bagasinya masih ada. Maka wajar, kalau wacana kitab kuningnya di atas rata-rata. Sampai-sampai ketika Dr. Musthofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang juga karibnya waktu di Tebuireng membuat tulisan di Republika, tentang banyaknya kesamaan ajaran-ajaran NU melalui kitab karangan KH Hayim Asyari yang terkodifikasi dalam Irsyadus Syari, dengan ajaran-ajaran Wahabi, maka Kiai Aziz Masyhuri menegurnya, ketika bertemu di sebuah acara di madura. Hal ini karena Kiai Aziz Masyhuri mempunyai refrensi lain yang menguatkan tentang perbedaan besar antara ajaran NU dan wahabi.

Dengan kekayaan wacana kitab kuning demikian ini, ternyata Kiai Aziz Masyhuri mentransformasikan apa yang dipunyainya itu dengan cara yang santai; mengajar ngaji disambi dengan makan-makan dan ngobrol kesana-kemari. Perut terisi, kepala pun terisi.

Sedangkan Kiai Aziz Mansyur yang mempunyai tradisi dan etos kitab kuning yang disiplin, ternyata pembawaannya tidak dikit-dikit nge-dalil. Saya teringat ketika resepsi pernikahan saya, dalam tausyiahnya beliau malah hanya bercerita, tidak mendalil, tentang bagaimana galaunya ketika beliau dipasrahi untuk meneruskan estafet kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatun Nasihin, selepas ayahnya meninggal. Juga bercerita tentang awal-awal diundang mengaji ke kampung-kampung dengan mengendarai sepeda ontel, lalu beralih naik sepeda motor, lalu beralih memohon kapeda Allah agar diberi kendaraan yang ada iyup-iyupane (ada atapnya: mobil). Selanjutnya tausyiah beliau malah ditutup dengan penjelasan filosofi janur dan lain-lain, yang biasa digunakan di resepsi pernikahan adat Jawa. Allahummaghfirlahuma...

M. Fathoni Mahsun, Kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 26 Desember 2017

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Catatan Kenangan



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat, Hikmah, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 18 Desember 2017

Sistem Khilafah Tak Ada Faktanya dalam Sejarah Islam

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama



Penulis disertasi “Islamisme dan Transisi Demokrasi di Dunia Muslim, Perbandingan Tuntutan Penguatan Syariat Islam dalam Amandemen Konstitusi di Indonesia dan Mesir”, Imdadun Rahmat mengatakan, sistem khilafah yang diusung Hizbut Tahrir itu tidak ada faktanya dalam sejarah Islam.?

Pada masa Nabi Muhammad dan sahabat atau Khulafau Rasyidin, masyarakat Islam pernah menerapkan macam-macam tipoligi. “Pada zaman Nabi city state, negara kota, seperti Singapura sekarang atau Athena dulu,” katanya di kantor redaksi Internet Marketer Nahdlatul Ulama, PBNU, Jakarta, 28 April lalu.

Sistem Khilafah Tak Ada Faktanya dalam Sejarah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Khilafah Tak Ada Faktanya dalam Sejarah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Khilafah Tak Ada Faktanya dalam Sejarah Islam

Setelah itu, lanjut lulusan S3 Univeristas Indonesia itu, berubah menjadi kerajaan yang dibangun Bani Umayah dan Abasyiah. Sistem tersebut adalah negara dengan pemimpin turun-temurun.?

“Peralihan dari Umayah ke Abasyiah itu terjadi pembantaian habis-habisan. Mana sistem bakunya? Merujuk kepada sistem khilafah? Tidak!” jelas Wakil Sekjen PBNU 2010-2015 itu.?

Jika cita-cita khilafah itu menyatukan negara-negara Islam menjadi sebuah negara, sejarah Islam justru membuktikan pernah ada dua kerajaan Islam pada waktu yang bersamaan, yaitu pada zaman Abasyiyah dan kerajaan Islam di Andalusia yang merupakan kelanjutan dari Umawiyah.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jika merujuk Turki Utsmani, lanjut Ketua Komnas HAM Periode 2016-2017, itu pun bukan bentuk khilafah, tapi tetap kerajaan.?

Sekarang pun, tidak ada satu negara Islam pun yang menggunakan sistem khilfah. “Mana ada negara yang setuju. Negara Islam mana pun tidak akan setuju dengan khilafah itu karena basis eksistensi negara-negara Islam, adalah nation state. Malah ada suku state. Arab Saudi itu apa kalau bukan suku state?”

Jadi, menurut Imdad, penganut paham khilafah itu hanya berhenti pada keyakinan bahwa konsep mereka layak untuk diujicobakan.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Padahal, negara, umat, tidak boleh menjadi obyek coba-coba. eksperimen politik itu terlalu besar cost dan madrat yang akan ditimbulkannya,” kata penulis buku Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pemurnian Aqidah, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 04 Desember 2017

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Jember, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Para pesilat Pagar Nusa Jember, terus menunjukkan eksistensinya.  Selain aktif melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelajar dan santri organisasi pencak silat NU tersebut bersilaturrahim dan Latihan Gabungan (Latgab) di Mayang. 

Kegiatan Senin (24/3) di rumah Ketua Pagar Nusa H. FB. Zamroni tersebut juga dihadiri Ketua DPW Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Timur, H. Faidhul Mannan. 

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Jember Gelar Silaturrahim dan Latgab

Selain memantau latihan gabungan, H. Faidol juga berkenan mengukuhkan 75 pelatih Pagar Nusa. "Kami berharap agar anggota Pagar Nusa, bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk turut serta dalam menjaga keteritiban dan keamanan, termasuk bekerjasama dengan pihak kepolisian," katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam kesempatan itu, H. Faidhul juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) PSNU Pagar Nusa Jember hasil revisi periode 2012-2017. Di SK tersebut, ketua tetap dipegang oleh H. FB. Zamroni dan sekretaris dijabat oleh H. Ismail Iskandar.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut salah seorang pengurus Pagar Nusa Jember, H. Thoif Zamroni, ke depan pihaknya akan lebih giat lagi untuk memperkenalkan Pagar Nusa ke lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren dan sekolah-sekolah di bawah naungan LP. Maarif. 

"Kegiatan pencak silat Pagar Nusa ini, bisa menjadi agenda ekstrakurikuler di pesantren-pesantren. Karena kami dan pesantren itu punya kesamaan visi, yaitu sebagai sokoguru Nahdlatul Ulama," ucap Ketua DPRD Kabupaten Jember itu. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, Sholawat, Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menegaskan bahwa keterlibatan dalam gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan sebagai tugas utama pengurus ranting NU. Karena pada prinsipnya pengurus ranting NU bertugas mengayomi, melindungi, dan mengatasi masalah jamaah di daerahnya masing-masing.

Demikian disampaikan Kang Said dalam pertemuan silaturahmi dan sarapan pagi PBNU dan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta di halaman Gedung PBNU, Ahad (27/11) pagi.

PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Tugas Pengurus Ranting NU Kawal Kepentingan Rakyat Kecil

Menurut Kang Said, pengurus ranting NU adalah mengorganisasi. Masyarakat atau rakyat yang diorganisir sangat berharap mengalami perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Perubahan ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan atas hak dasar mereka dari ancaman maupun tantangan yang mereka hadapi.

“Ada ketidakadilan, penindasan, dan sebagainya. Karena itu seorang pengurus NU, yang berarti adalah pengorganisir warga, memang harus memiliki keberpihakan kepada masyarakat atau rakyat,” kata Kang Said di hadapan ribuan pengurus ranting NU se-DKI Jakarta.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini mengatakan, masalah di setiap desa kadang dipahami melalui pendekatan dan rumus tertentu. Tetapi pengorganisasian itu sesungguhnya bukan teori atau rumus ilmiah. Karena setiap masalah, ancaman, ketidakadilan, di tiap tempat memiliki pengertian dan nuansa yang khas lokal sesuai konteks masing-masing.

“Tidak bisa tidak, untuk menjawab hal-hal tersebut seorang pengorganisir harus terlibat di dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan,” kata Kang Said dalam pertemuan silaturahmi yang juga dihadiri Kapolri dan jajarannya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Sholawat, Aswaja Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 27 November 2017

Final LSN Jatim 1, Sulaiman Trenggalek Tantang Darul Huda Ponorogo

Trenggalek, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Tuntas sudah babak Semifinal Liga Santri Nusantara Jatim 1 yang digelar Rabu sore (20/9). Skuad Sulaiman Trenggalek dan skuad Darul Huda Mayak Ponorogo berhasil melanggang menuju babak Final yang akan digelar Kamis sore (21/9) di Stadion Menak Sopal Trenggalek. Keduanya akan memburu tiket menuju seri Nasional yang dihelat akhir Oktober mendatang.

Pertandingan Semifinal berlangsung sangat sengit. Bagaimana tidak, dua tim tuan rumah Qomarul Hidayah Trenggalek dan Sulaiman Trenggalek berhadapan dengan dua tim tamu yang merupakan Juara Liga Santri Nusantara tahun 2016. 

Final LSN Jatim 1, Sulaiman Trenggalek Tantang Darul Huda Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)
Final LSN Jatim 1, Sulaiman Trenggalek Tantang Darul Huda Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)

Final LSN Jatim 1, Sulaiman Trenggalek Tantang Darul Huda Ponorogo

Keduanya adalah Darul Huda Mayak Ponorogo, juara Region Jawa Timur 1 Karesidenan Madiun dan Daruttaibin, juara Region Jawa Timur 2 Karesidenan Kediri. Kedua tim ini memiliki rekam yang cukup kuat, baik dalam strategi maupun permainan. 

"Ini luar biasa. Jarang-jarang ada pertandingan seperti ini. Hawa persaingannya sangat terasa sekali di tengah lapangan," ucap Gus Anam Panpel LSN, disela menyaksikan jalanya pertandingan.

Pada laga yang dihelat di Stadion Menak Sopal Trenggalek, Darul Huda Mayak Ponorogo tanpa ampun menghajar Qomarul Hidayah dengan skor 4-0. Gol diciptakan oleh pemain bernama Miftahul A dan Wiranto. Ini menghantarkan tim dari Kota Reog Ponorogo melaju ke babak Final.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari awal hingga akhir, Darul Huda Mayak mendominasi jalanya pertandingan. Anak asuh pelatih Agus S ini bermain dengan solid. Komunikasi antar pemain terlihat sangat bagus.

 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara Qomarul Hidayah juga bermain cukup bagus. Beberapa kali mereka hampir menembus pertahanan Darul Huda, tapi usaha mereka dapat dihalau oleh penjaga gawang. Namun hingga pertandingan berakhir, Qomarul Hidayah masih tidak mampu membalas kekalahan. 

Sementara itu, hasil mengejutkan datang dari lapangan Sumber Gedong. Dimana pertandingan antara tim tuan rumah Sulaiman Trenggalek melawan Daruttaibin Tulungagung berakhir dengan adu pinalti.

Sejak peluit pertama dibunyikan,  kedua tim menampilkan permainan yang sangat alot. Mereka saling kejar-mengejar untuk menciptakan gol terlebih dahulu. Namun hingga pertandingan berakhir. Kedua tim tidak mampu membobol gawang masing-masing lawan.

Keduanya lalu melakukan adu pinalti. Kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan oleh kedua tim, namun sayang tim Daruttaibin hanya mampu menciptakan satu gol, sementara tuan rumah Sulaiman Trenggalek berhasil menciptakan empat gol. Alhasil Sulaiman Trenggalek yang berhak mengantongi tiket menuju babak Final.

Menurut koordinator Region, Habib Mustofa, babak Final nampaknya akan berlangsung sangat meriah. Kedua tim yang berlaga akan didukung supporter masing-masing. Darul Huda Mayak akan mendatangkan ratusan supporternya. Masyarakat Trenggalek pun akan berbondong-bondong menyaksikan penutupan Liga Santri.

"Babak final seri region ini juga akan disiarkan secara langsung oleh TV9 mulai pukul 14.00. Selain itu direktur pertandingan LSN, Kusnaini yang akrab disapa Bung Kus juga akan hadir menjadi komentator pertandingan," ungkap Gus Toev. 

Seperti diketahui, 32 tim pesantren ikut berpartisipasi dalam kompetisi Liga Santri Nusantara Region Jatim 1 yang digelar di Trenggalek. LSN Jatim 1 berlangsung sejak Ahad (17/9) dan akan berakhir Kamis (21/9). Pelaksanaan kompetisi dinilai lebih baik dari pelaksanaan pada tahun lalu. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Santri Siaga Bencana Kedoya Bikin Rumah Kompos

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Persoalan pengelolaan sampah di Jakarta sampai saat ini belum tertangani dengan baik, salah satunya kesadaran masyarakat untuk mengelolanya dengan baik. Di satu sisi, sampah bisa menjadi potensi ekonomi, tetapi jika tak mampu mengelola akan menjadi bencana.

Santri Siaga Bencana (SSB) wilayah Jakarta Barat yang merupakan konsep penanganan bencana berbasis komunitas dari NU berupaya membantu mengimplementasikan pengelolaan sampah di Jakarta dengan mendirikan rumah kompos dan bank sampah di RW 04 kelurahan Kedoya Utara Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat Ahad, (20/6) lalu.

Santri Siaga Bencana Kedoya Bikin Rumah Kompos (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Siaga Bencana Kedoya Bikin Rumah Kompos (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Siaga Bencana Kedoya Bikin Rumah Kompos

Ketua RW 04 Sofyan Lutfi mengungkapkan bahwa di kelurahan Kedoya Utara, sebelumnya harus mengangkut sampah setiap bulannya sebanyak 25-30 kontainer (truk sampah besar).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Namun berkat upaya dari RW 04 yang menjadi RW Teladan se-Kecamatan Kebon Jeruk, bersama-sama dengan SSB memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk peduli lingkungan dan mengajarkan bagaimana mengelola sampah. Upaya tersebut berhasil mengurangi jumlah sampah hanya menjadi 12 Kontainer. Dengan adanya Bank Sampah dan Rumah Kompos ini, diharapkan sampah yang diangkut tiap bulannya akan berkurang antara 8-10 kontainer saja.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pembuatan bank sampah dan rumah kompos ini dibangun atas dana dari Community Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama (CBDRMNU).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Camat Kebon Jeruk, Perwakilan dari Kepala Lingkungan Hidup oleh Wike, Perwakilan dari Walikota Jakarta Barat, Program Manager CBDRMNU/Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Avianto Muhtadi, Paguyuban Masyarakat Peduli Lingkungan yang diwakili oleh bapak Sanusi, Perwakilan Gereja Santo oleh Andreas, Dewan Kelurahan dari 6 Kelurahan yang ada di Kecamatan Kebon Jeruk , Ketua RW 04, PKK RW 04, Ketua-ketua RT yang ada di lingkungan Kelurahan Kedoya Utara, masyarakat Kelurahan Kedoya Utara dan Santri Siaga Bencana dari 5 Kecamatan yang ada di Jakarta Barat.

Camat Kebon Jeruk M Hidayat juga menyatakan kebanggaannya terhadap kerja SSB di wilayah Kedoya Utara yang bekerja sama dengan RW 04 teladan tersebut dalam melakukan kepedulian lingkungan dan pengelolaan sampah melalui pembuatan kompos ini.

M Hidayat menyatakan bahwa wilayah Kedoya Utara khususnya di RW 04 dan 06 merupakan wilayah percontohan untuk kelurahan lainnya dan Jakarta Barat juga mendapatkan piala Adipura dan menempati urutan ke-5 di DKI Jakarta dalam hal kebersihannya.

Ia berharap dengan adanya Rumah Kompos dan Kader peduli Lingkungan seperti SSB di 5 Kecamatan se- Jakarta Barat, maka Jakarta Barat akan dapat menempati urutan ke-3 atau ke-2 untuk mendapatkan piala Adipura. RW 04 dan SSB Kedoya Utara akan dilibatkan sebagai pelopor ataupun kader dalam upaya mensosialisasikan pengelolaan sampah melalui pembuatan kompos ke seluruh kelurahan yang ada di lingkungan kecamatan Kebon Jeruk.

Avianto Muhtadi juga menyatakan dukungan dan akan menjadikan wilayah Kedoya Utara menjadi wilayah percontohan bagi Kelurahan-kelurahan dampingan CBDRMNU yang ada di Jakarta Barat.

“Keberhasilan ini, akan kami sampaikan dalam laporan akhir CBDRMNU kepada Australia – Indonesia Partnership (AIP) selaku pihak donor sebagai best practices yang dimiliki oleh CBDRMNU Jakarta Barat. Selain itu, hal ini juga akan disosialisasikan ke seluruh daerah pilot project CBDRMNU yang ada di beberapa Kabupaten di Indonesia,” katanya.

Kegiatan lain dalam upaya pengurangan risiko bencana yang dilakukan SSB di sejumlah kecamatan di Jakarta Barat antara lain meliputi bakti sosial dalam bentuk kerja bakti di setiap kelurahan, pembuatan peta bencana berupa jalur evakuasi di tingkat keluarahan dan sosialisasi Pengurangan Risiko Bencana di tingkat kelurahan.

Beberapa kelurahan yang menjadi sasaran antara lain di Kedoya Selatan Kec. Pesing, Grogol Petamburan Kec. Grogol, Rawa Buaya Kec. Cengkareng, Kalideres Kec. Kalideres dan Kedoya Utara Kec. Kebon Jeruk yang diselenggarakan setiap akhir pekan antara 6-20 Juni. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat, Kajian, Berita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 25 November 2017

Pergunu Jabar-KPID Dorong Guru Pahami Dampak Media bagi Siswa

Bandung, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Melihat besarnya dampak media televisi, radio, dan media online terhadap pembentukan mental, dan karakter siswa, Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat menggandeng Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat untuk mengatasi masalah ini.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris PW Pergunu Jabar H Saepuloh di ruang sekretaris kantor PWNU Jawa Barat, Jalan Terusan Galungung Nomor 09, Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/02).

Pergunu Jabar-KPID Dorong Guru Pahami Dampak Media bagi Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar-KPID Dorong Guru Pahami Dampak Media bagi Siswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar-KPID Dorong Guru Pahami Dampak Media bagi Siswa

Lebih lanjut, H. Saepuloh mengatakan bahwa salah satu bentuk kerja sama antara Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat dan Pergunu Jawa Barat adalah diselenggarakannya dialog publik dengan tema “Dampak Siaran Radio/Televisi terhadap Mental dan Karakter Bangsa”.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pukul 09.00 WIB pada 22 Februari 2016 di Aula Kantor KPID Jawa Barat, Jalan Malabar Nomor 62, Bandung.

Ia berharap dialog Publik tersebut dapat menambah wawasan guru tentang dampak siaran radio/televisi terhadap mental dan karakter bangsa, dan guru dapat menjadi agen untuk mencerdaskan siswa dan orang tua akan siaran radio/televisi yang sehat untuk ditonton.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menyambut dengan baik kerja sama dengan Persatuan Guru NU Jawa Barat. “Diharapkan guru-guru yang tergabung dalam Persatuan Guru NU Jawa Barat dapat menjadi pilar utama dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas dalam memilih tontonan yang sehat dan edukatif," tutur M Saefurrohman, salah satu Komisioner KPID Jawa Barat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat, Meme Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 20 November 2017

Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

NU merupakan jamiyyah diniyyah ijtimaiyyah, organisasi masyarakat keagamaan. Sejak awal didirikan oleh para Kyai, NU mengemban tugas besar menjaga, merawat, dan mengembangkan ajaran Islam ala Ahlissunnah wal Jamaah di bumi Nusantara.

Karenanya sudah teramat jelas bahwa NU tidak bertujuan meraih kekuasaan politik. Kalaupun harus menyebut istilah politik, maka politik NU adalah politik kebangsaan dan politik kerakyatan. NU menunjukkan bahwa jalan menuju kemaslahatan individual dan kolektif terbentang begitu banyak dan luas. Sementara kekuasaan politik praktis hanya sebagian saja dari berbagai jalan yang ada.

Hingga sekarang dan kelak, NU secara tegas dan teguh memegang komitmen terhadap Khittah 1926 ini. Salah satu pelajaran penting dari Khittah 1926 ialah NU keluar dari batas-batas partai politik. NU meluaskan pandangan dan pengertian terhadap politik. Perluasan pandangan itu beranjak dari sebatas tukar guling kekuasaan meluas menjadi perjuangan kemaslahatan.

 

Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

Sejak mengemban amanah Ketua Umum PBNU, saya dengan sadar dan sengaja berusaha meneruskan komitmen Khittah 1926. NU bukan bagian dari partai politik apapun. Bukan bagian dari PDIP, GOLKAR, PD, GERINDRA, PKB, PPP, dan seterusnya. Bagi saya, Karena NU jauh lebih besar dari partai, justru di partai-partai itulah tersebar kader-kader NU.

 

Indonesia pasca-reformasi yang antara lain ditandai dengan semangat desentralisasi atau otonomi daerah dibajak oleh penumpang gelap demokrasi. Pembajakan demokrasi di era otonomi itu membuat kekuasaan politik tersebar secara luas dan menyeret masyarakat sipil dalam godaan dan iming-iming duniawi yang tidak mudah dikendalikan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

 

Dalam pusaran semacam itu, unsur-unsur dalam NU kerap diseret-seret untuk terlibat dalam arus kekuasaan politik praktis. Dari level nasional hingga daerah, kecenderungan ini terjadi secara sporadis. Kita tahu bahwa jumlah Nahdliyin, merujuk sejumlah survei akademik, survey pemerintah, dan survey intelijen, memang besar sekali secara demografis. Tidak heran jika Agenda semacam pemilihan kepala daerah, seringkali membuat Nahdliyyin dihitung sebatas sebagai penyumbang suara. Padahal, ini yang kerap dilupakan, besarnya jumlah warga Nahdliyyin merupakan akibat dari perjuangan keaswajaan yang berangkat dari kesadaran, bukan semata akibat dari politik praktis yang berangkat dari hasrat kekuasaan.

 

Hari-hari ini, kita menyaksikan, proses menuju Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014 begitu menyita perhatian. Sulit dipungkiri, NU kembali diseret-seret dalam proses tersebut. NU sebagai organisasi tidak layak diperalat untuk menjadi sekadar tim sukses. Yang didukung NU bukan sekadar kandidat, melainkan proses penyelenggaran pemilihan yang jujur, adil, dan bermartabat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

 

Sikap PBNU jelas dan tegas, tidak berpolitik praktis. Tak satupun yang akan mendapat stempel NU. Kalaupun ada pihak-pihak yang membawa-bawa NU untuk dijadikan komoditas politik, sudah pasti itu tidak lebih dari sekadar klaim.

 

Saya menghimbau warga NU untuk memilih pemimpin yang mampu menjadi solusi bagi Indonesia. Warga NU harus menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Tanggung jawab itu terus berlangsung hingga setidaknya lima tahun mendatang. Baik buruknya bangsa ini, ada di tangan kita sendiri.

 

Karena pemilihan presiden hanya merupakan satu tahap saja dari rangkaian pembangunan Indonesia,  jauh lebih penting bagi PBNU untuk mengawal dan mengawasi pemerintahan terpilih. Saya akan berdiri di depan dan pasang badan jika presiden dan wakil presiden terpilih nanti tidak bekerja untuk kedaulatan rakyat. Jadi, tidak hanya 9 Juli yang penting, jauh lebih penting adalah hari-hari panjang sesudahnya.

 

Jakarta, 1 Juni 2014

 

 

DR KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Daerah, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 12 November 2017

Ada Pasar Murah Ramadan di Kantor Kemendes PDTT

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar Pasar Murah Ramadhan 1438 H selama tiga hari sejak tanggal 14 hingga 16 Juni. Kegiatan yang digelar di halaman parkir kantor Kemendes PDTT di Kalibata tersebut bertujuan untuk menekan harga pokok yang ada di pasaran.

“Jelang lebaran, harga biasanya melambung. Dengan kegiatan pasar murah ini, mudah-mudahan bisa meringankan beban karyawan dan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Mendes PDTT, Eko Putro Sandjojo, saat membuka Pasar Murah Ramadhan di Jakarta, Rabu (14/6).

Ada Pasar Murah Ramadan di Kantor Kemendes PDTT (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Pasar Murah Ramadan di Kantor Kemendes PDTT (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Pasar Murah Ramadan di Kantor Kemendes PDTT

Melambungnya harga bahan pokok, lanjut Menteri Eko, disebabkan lantaran tingginya permintaan dari pasar. Adanya pasar murah pun diharapkan sekaligus dapat menekan angka inflasi. Para produsen pun sekaligus dapat mempromosikan komoditasnya.

“Pasar murah bisa menekan harga bahan pokok yang ada di pasaran menjelang lebaran. Pasar murah juga membangkitkan kita untuk mencegah inflasi menjelang lebaran. Kami juga sedang merencanakan menggelar pasar murah di sejumlah desa,” katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Diikut 40 stan, gelaran pasar murah Ramadhan tersebut turut menggandeng BULOG, APRINDO, Komunitas UKM, Belfoods, dan Dharma Wanita Persatuan Kemendes PDTT. Setiap stan menyajikan berbagai produk dan bahan pokok dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran. Sejumlah kebutuhan bahan pokok tersebut diantaranya yakni beras premium 5 kg seharga Rp 59.000, beras medium plus 5 kg Rp 47.500, tepung terigu Rp 7.500/kg, beras merah Rp 52.000/kg, bawang putih Rp 38.000/kg, bawang merah Rp 25.500/kg, minyak goreng Rp 11.000/kg, dan gula pasir Rp 12.500/kg. Selain itu, pasar murah juga menyediakan daging kerbau dan daging sapi seharga Rp 80.000/ kg.

“Mudah-mudahan pasar murah ini bisa sukses dan bermanfaat. BULOG juga telah komitmen kalau kehabisan, bisa diisi lagi stoknya. Jadi, tidak usah khawatir dengan stok dari Bulog dalam penyelenggaraan pasar murah ini,” pungkasnya. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tokoh, Sholawat, Anti Hoax Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 07 November 2017

Doa Ketika Dengar Ayam Berkokok

Kokok ayam adalah suara yang paling disukai Allah Swt. Suara kokok ayam menandai turunnya malaikat membawa rahmat-Nya. Ketika berkokok, konon ayam mengucapkan, “Lâ ilâha illallâh”. Karenanya doa ini dianjurkan untuk dibaca saat ayam berkokok.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Ketika Dengar Ayam Berkokok (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Ketika Dengar Ayam Berkokok (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Ketika Dengar Ayam Berkokok

Lâ ilâha illallâh. Allâhumma innî as’aluka min fadhlika.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Artinya, “Tiada tuhan yang disembah selain Allah. Hai Tuhanku, aku meminta kepada-Mu sebagian dari kemurahan-Mu,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kiai, Sholawat, Sejarah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 03 November 2017

Jelang Pembukaan, 62 Pasien Periksa di Posko Kesehatan

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sebanyak 62 pasien sudah memeriksa kesehatannya di Posko Kesehatan yang berada di komplek SMA 1 Jombang menjelang pembukaan  Muktamar ke-33 NU oleh Presiden RI Joko Widodo, Sabtu (1/8/2015) malam di Alun-Alun, Jombang. Pasien tersebut dilayani di Posko Kesehatan I sebanyak 50 orang, Posko II 4 orang dan Posko III 8 orang. Posko Kesehatan yang berlokasi di ruangan SMA 1 Jombang, di depan Alun-Alun, lokasi pembukaan berlangsung. 

Tim Medis di Posko I dr.  Silvy Rahmah Yanthy kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama,  Sabtu (1/8/2015) malam di sela-sela melayani pasien menyebutkan, diantara keluhan pasien adalah kelelahan, nyeri sendi dan asma. 

Jelang Pembukaan, 62 Pasien Periksa di Posko Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pembukaan, 62 Pasien Periksa di Posko Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pembukaan, 62 Pasien Periksa di Posko Kesehatan

"Pasien yang berasal dari peserta Muktamar disebabkan kelelahan setelah menempuh perjalanan yang jauh. Sedangkan bagi tenaga pendukung pelaksanaan Muktamar sendiri akibat kelelahan menjalankan tugas yang menjadi tanggungjawabnya," kata Sily, dokter dari RSI Siti Hajar, Sidoarjo. 

Sedangkan Tim Medis di Posko III dr.H. Muhammad Henalsyah menyebutkan, selain kelelahan, keluhan pasien juga disebabkan salah makan. Mereka makan dengan menu yang berbeda dari kebiasaannya. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Seorang pasien di posko III ini mengalami kondisi serius sehingga dibutuhkan infus. Kondisinya harus istirahat total di bangsal yang sudah disiapkan," kata Henalsyah yang juga Manager Pelayanan Medis RSI Unisma. 

Rosmawati (52) pasien yang diinfus berasal dari Kabupaten Morongraya Propinsi Kalimatan Tengah. Rosmawati mengaku datang ke Muktamar ke-33 NU harus menempuh perjalanan yang melelahkan. Dari Kabupaten Morongraya menuju Banjarmasin ditempuh dengan jalan darat selama 13 jam dan dari Banjarmasin ke Surabaya sampai Kamis (30/7/2015) lewat udara selama kurang lebih 1 jam. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kami datang ke Muktamar ini bersama 20 orang khusus untuk meramaikan dan mensukseskan Muktamar," kata Rosmawati, aktifis Muslimat NU di Kabupaten Morongraya. 

Meski dirawat di ruangan posko kesehatan III, Rosmawati tetap tidak kecewa hadir di Muktamar. Padahal, teman-temannya sudah pergi berziarah ke beberapa makam ulama dan tokoh nasional, termasuk ke Blitar makam Soekarno. 

"Meski tidak bisa ikut teman-teman berziarah, tetap tidak kecewa dan terus semangat  mengikuti Muktamar ini," tambah Rosmawati. (Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 02 November 2017

Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama
Ricuhnya kongres GP Ansor ke-13 yang usai ditutup hari ini, senin (4/4) bisa di selesaikan dengan jalan mengembalikan mekanisme pemilihan sesuai dengan tata tertib yang di sepakati ketika sidang paripurna di gelar. "Ini harus dilakukan untuk menjaga kredibilitas organisasi, apalagi Ansor merupakan aset NU yang mestinya mengedepankan mekanisme demokrasi dalam setiap keputusannya," demikian diungkapkan Wakil Sekjen PBNU, Saeful Bahri Ansori kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama di kantor PBNU, Senin (4/4).

Menurutnya, jika menggunakan logika organisasi yang benar pengembalian mekanisme itu perlu, karena menyangkut keabsahan keputusan tertinggi dalam sebuah rapat organisasi. "Bagaimana mungkin keputusan rapat paripurna bisa dikalahkan derajatnya oleh sebuah keputusan yang lebih rendah, dan parahnya keputusan itu keluar dari tata tertib yang telah disepakati sebelumnya. Jadi saya mengangap sekarang ini tidak ketua umum Ansor karena mekanisme pemilihannya tidak sah," ungkap Saeful seraya mengatakan, Kongres XIII Ansor ini merupakan kongres terburuk dalam sejarah kongres organisasi kepemudaan NU tersebut.

Karena itu, lanjut mantan ketua umum PB PMII ini, untuk menghindari berlarut-larutnya konflik di tubuh Ansor, PBNU selaku stake holder perlu turun tangan untuk menghindari pecahnya salah satu aset besar NU ini. "Meskipun Ansor sebagai badan otonom memiliki hak untuk menyelenggarakan urusan internalnya, tetapi jika terjadi konflik, PBNU memiliki tanggung jawab moral selaku "bapak" terhadap "anaknya", apalagi ada ketentuan AD/ ART PBNU yang mengatur itu," tandas alumnus IAIN Djogjakarta ini.

Ditambahkan Saeful, ricuhnya pelaksanaan kongres kali ini harus bisa dijadikan tantangan bagi kader Ansor ke depan untuk mengembalikan organisasi ini sesuai dengan semangat kesejarahan yang di dirikannya yakni membentuk dan mengembangkan generasi muda Indonesia sebagai kader bangsa yang tangguh, memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, berkepribadian luhur, berakhlak mulia, sehat, terampil, patriotik, ikhlas, dan beramal saleh.

"Inilah tantangan yang harus di jawab secara serius oleh kader-kadernya sesuai trilogi tujuan GP Ansor, yaitu kaderisasi, ideologisasi, dan aksi nyata,  yang ditpoang melalui wacana intelektual agar tidak terjebak pada "paradigma kekuasaan" dan pragmatisme," imbuh Saeful yang mengaku mengikuti beberapa kali penyelenggaraan Kongres Ansor ini. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat, Warta, Pemurnian Aqidah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisruh Ansor, Perlu Pengembalian Mekanisme Tata Tertib

Rabu, 01 November 2017

Suriah Alami Krisis Kemanusiaan Terbesar Sepanjang Masa

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Tujuh organisasi kemanusiaan utama menyebut krisis di Suriah sebagai krisis kemanusiaan terbesar sepanjang masa.

Ketujuh organisasi kemanusiaan itu antara lain meliputi Amnesty International, Human Rights Watch dan Oxfam seperti dilansir oleh BBC Indonesia.

Suriah Alami Krisis Kemanusiaan Terbesar Sepanjang Masa (Sumber Gambar : Nu Online)
Suriah Alami Krisis Kemanusiaan Terbesar Sepanjang Masa (Sumber Gambar : Nu Online)

Suriah Alami Krisis Kemanusiaan Terbesar Sepanjang Masa

Mereka mengatakan setelah berkecamuk perang selama tiga tahun, situasi di Suriah tidak dapat diuraikan di dunia yang beradab.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk membela rakyat Suriah yang mengalami krisis kemanusiaan terbesar di masa sekarang," kata koalisi tujuh organisasi.

Seruan itu disampaikan di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, bertepatan dengan konferensi perdamaian Suriah di Montreux, kota lain di Swiss pada Rabu (22/01).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Konferensi perdamaian Suriah dibuka oleh Sekretaris Jendral Ban Ki-moon. Ia menyerukan perlunya membangun dialog yang mengarah ke solusi politik.

Perdebatan

Menurut koalisi tujuh organisasi, separuh jumlah penduduk Suriah tergantung pada bantuan kemanusiaan setelah terjadi perang sipil selama hampir tiga tahun.

Di daerah-daerah tertentu, penyakit dan kelaparan sangat mudah ditemukan.

Sementara konferensi perdamaian di Montreux diwarnai perdebatan pedas antara wakil-wakil pemerintah Suriah dan kubu oposisi.

Pemimpin oposisi Ahmed Jarba menuduh Presiden Bashar Al-Assad melakukan tindak kejahatan perang dan menyatakan Assad tidak boleh memegang peran politik apa pun di masa depan.

Menteri Luar Negeri Suriah, Walid Muallem, menyebut oposisi sebagai para pengkhianat dan agen asing.

Muallem menegaskan Presiden Assad tidak akan tunduk memenuhi tuntutan pihak luar untuk mundur. (mukafi niam)

ilustrasi: blouinnews

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat, Daerah, Habib Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 14 September 2017

NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS

Makassar, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Wilayah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan mengadakan Seminar TB dan HIV-AIDS melalui Pemberdayaan Pesantren, Kamis (14/5), di Hotel Grand Asia Panakukang, Makassar, Sulawesi Selatan.

NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS

Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sulsel Dr Arfah Shiddiq dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang melibatkan pesantren dan badan otonom NU untuk mengambil peran mengurangi penularan penyakit Tuberklosis dan HIV-AIDS.

Di hadapan ratusan peserta, dr. Erwan dari Dinas Kesehatan Sulsel mengungkapkan, dewasa ini penyebaran penyakit TB dan HIV-AIDS di Indonesia sudah masuk ambang penderita yang sangat tinggi, sehingga dibutuhkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Peserta seminar kesehatan kali ini berasal dari tokoh pesantren, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), rumah sakit Islam, aktivis badan otonom NU, LSM, dan ratusan kader TB Muslimat NU se-kota Makassar.

Mereka mendapatkan materi seputar penularan TB, HIV-AIDS, serta cara mencegahnya oleh Ketua Umum PP LKNU Dr. dr. Imam Rasjidi, peran LKNU Sulsel dalam menanggulangi penyebaran TB dan HIV-AIDS di Sulawesi Selatan (Prof. Dr. dr. Syafar), TB, HIV-AIDS menurut Islam (Dr. dr. Khidri Alwi), dan peran pemerintah menanggulangi HIV-AIDS (dr. Yuli dari Dinas Kesehatan). (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Daerah, Sholawat, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 12 September 2017

Ansor ke Depan Diharap Kritis Terhadap UU Desa

Brebes, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Terbitnya UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa dan PP nomor 43 tahun 2014, memberikan keleluasaan pemerintah desa untuk mengelola desa termasuk anggarannya. Untuk itu anggota GP Ansor perlu mengawal kebijakan pemerintah desa. Namun demikian sikap kritis mereka sangat dibutuhkan agar pembangunan desa berjalan dengan baik.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Brebes Narjo saat membuka Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Wanasari, di SMK Ma’arif NU 01 Wanasari, Brebes, Ahad (23/11).

Ansor ke Depan Diharap Kritis Terhadap UU Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor ke Depan Diharap Kritis Terhadap UU Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor ke Depan Diharap Kritis Terhadap UU Desa

Menurut Narjo, setiap desa pada tahun 2015 mendatang mendapatkan kucuran dana sekitar 1,4 milyar per tahun. Bila tidak ada sikap kritis dari warga masyarakat, khususnya Ansor maka dikhawatirkan pembangunan desa berjalan tidak semulus harapan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Akibat kekeliruan kebijakan pemerintah desa, bisa saja menjadi penghambat pembangunan desa itu sendiri,” kata Narjo.

Sebagai penolong GP Ansor harus terus memelihara suasana kondusif,  menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Ansor jangan sampai lengah apalagi lemah,” tandasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua GP Ansor Wanasari Ahmad Fathoni menjelaskan, PKD digelar untuk membina anggota agar lebih mantap dalam mengikuti kegiatan Ansor.

“Jenjang pengaderan awal di tubuh Ansor ini bertujuan melahirkan kader loyal, tidak hanya untuk Ansor tetapi juga untuk bangsa,” kata Toni.

Ketua panitia kaderisasi Edi Tristiyanto menambahkan, acara ini dilaksanakan selama 3 hari yang diikuti 70 peserta. Mereka mempelajari teori dan aplikasinya.

Turut Hadir saat pembukaan Ketua MWCNU Wanasari KH Shobaruddin, Ketua Muslimat NU Wanasari Dra Hj Aqilah Munawaroh, pembina, dan alumni GP Ansor. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, Sholawat, Makam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 19 Agustus 2017

Kemarau Panjang, Peringatan Alam kepada Penghuni Alam

Yogyakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pada saat sekarang ini yang dibutuhkan adalah sensitifitas kita agar lebih tajam lagi. Misalnya DIY saat ini belum turun hujan. Padahal dulu bulan September, Oktober, November sudah hujan. Salah satunya ini akibat dari pemanasan global (global warming). Pada kondisi seperti ini, ketika alam mulai dirusak oleh tangan-tangan manusia, maka alam sebenarnya sedang mengingatkan kepada penghuni alam, yaitu manusia.

Demikian pernyataan yang di sampaikan oleh Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama Hj Khofifah Indar Parawansa yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial RI dalam acara Pelantikan dan Rapat Kerja PW Muslimat Nahdlatul Ulama DIY Masa Khidmat 2015-2020 di Asrama Haji DIY, Ahad (1/11) lalu.

Kemarau Panjang, Peringatan Alam kepada Penghuni Alam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemarau Panjang, Peringatan Alam kepada Penghuni Alam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemarau Panjang, Peringatan Alam kepada Penghuni Alam

Khofifah menyampaikan, bahwa ada saudara kita yang berada di wilayah Equator memiliki musim yang berbeda. Ternyata memiliki perbandingan dua kali musim kemarau dan satu kali musim hujan. Jadi Riau itu dapat dua kali kemarau dan satu kali hujan.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Sekarang yang terjadi di Riau yaitu kebakaran hutan. Entah di bakar atau terbakar masih dalam proses pengumpulan data. Dan untuk dapat memadamkan api jika kekuatan manusia saja tidak cukup. Ternyata yang dapat memadamkan api adalah kalau ada hujan dengan intensitas yang cukup. Alhamdulillah dalam 3 hari kemarin jarak pandang di Riau sudah mencapai 6000 M – 8000 M. Artinya sudah normal,” jelasnya.

“Nah sekarang apa yang dapat di lakukan? Belum terlambat kalau kita sama-sama sholat Istisqo’ secara berjama’ah, Memohon hujan yang barokah. Hujan yang menyelamatkan, jangan hujan yang membuat petaka baru,” imbuhnya. (Muhlisin/Fathoni)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Nasional, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 16 Agustus 2017

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Sejarah Nusantara mengatakan kepada kita bahwa Islam di Indonesia lebih menonjol penyebarannya dengan menggunakan budaya sebagai media utama. Meskipun tidak mengalami perkembangan yang berarti selama lebih kurang 500 tahun, namun kemudian terjadi secara massif di masa wali songo.

Moderatisme, toleransi dan sikap tawazun (penuh pertimbangan) dalam kehidupan sosial setidaknya menjadi kunci sukses para Wali Songo itu. Meskipun perkembangannya juga dipengaruhi kondisi politik, namun praktis bisa dikatakan bahwa Islam berkembang dengan pesatnya tampa menimbulkan pertumpahan darah sedikitpun.

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Pada masa para wali ini, Islam kemudian berkembang sedemikian rupa hingga membentuk sebuah institusi sendiri yang mengatur sendi kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan beridirnya kesultanan Demak yang menggunakan Islam sebagai konstitusinya. Hukum Islam digali dari berbagai referensi kitab fiqih abad pertengahan khususnya madzhab Syafi’i.

Pada masa berikutnya, agama nasrani datang bersamaan dengan kolonialisme negara-negara Eropa. Pada masa inilah maka kondisi perubahan peta politik Islam di Nusantara mulai terjadi. Kolonial Belanda telah memasangkan pengaruhnya di Nusantara dan relatif berhasil dalam memecah belah politik Islam.

Bersamaan dengan itu, pada sekitar tahun 1700-an datanglah ke Indonesia paham Islam puritan Wahabi yang dibawa dari timur tengah. Sikapnya yang begitu ekstrim terbukti telah mengakibatkan perang saudara di Nusantara yang kemudian dimanfaatkan oleh penjajah. Hal demikian ini membuat politik Islam semakin melemah. Maka secara politis semakin berkuasalah penjajah di bumi nusantara.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hal demikian ini membuat Belanda mampu memasang sebuah konstitusi yang secara lambat laun kemudian melemahkankonstitusi islami yang telah dibangun sejak masa sebelumnya. Dampak logisnya, kondisi demikian telah mampu sedikit demi sedikit telah mampu menggeser pola hidup Islami masyarakat yang sejak sebelumnya telah dilaksanakan mereka secara sistematis.?

Memang bisa dikatakan bahwa para Wali Songo telah mampu mengislamkan masyarakat Islam dan Islam sebagai agama menjadi dipeluk oleh sebagian besar warga negara Indonesia. Namun jika membicaakan kualitas keislaman dalam arti ketaatan beragama secara penuh, maka prosentasenya berbeda-beda. Hal inilah yang mendorong Greetz dan Feillard membagai masyarakat Islam menjadi abangan dan santri. Bahwa Islam abangan adalah Islam yang tidak begitu taat dalam menjalankan syariat dan santri adalah yang lebi taat.?

Dalam menyikapi hal ini, kalangan Islam di Indonesia telah berbeda-beda dalam gayanya. Beberapa diantara ummat Islam menginginkan sistem Islam kembali digunakan secara formal. Kelopok ini kemudian mati-matian berjuang dari atas. Kelompok yang lain memilih perjuangan dalam menyadarkan masyarakat bawah dalam beragama Islam. Meskipun berbeda gaya, namun tujuannya sama, yakni dakwah, dalil yang digunakan pun juga sama yakni, Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jelasnya, bagaimana Islam mampu dihayati oleh masyarakat. Contoh Kasus gerakan Islam yang ditampilkan organisasi-organisasi seperti Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Masyumi dapat dijadikan contoh dalam kasus ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan, politik Islam menjadi tolok ukur yang paling mudah untuk dijadikan ukuran seberapa kuantitas santri dan abangan di Nusantara setelah dakwahnya yang berlangsung selama ratusan tahun. Dari sudut pandang politis, Islam terpecah setidaknya ke dalam dua kelompok besar yang pada mulanya bersatu. Kelompok Islam yang mengaku lebih progresif kala itu bergabung dalam Masyumi, sedangkan Islam pesantren (yang notabane-nya dianggap lebih kolot) berada dalam NU. Secara kuantitas ketika itu, seandainya bersatu maka Islamlah pemenangnya (Masyumi 20%, NU 18% disamping PNI 22% dan PKI 14%). Namun karena terpecah menjadi dua maka hal tersebut tidak terjadi.

Pada masa kemudian, peran politis NU menjadi semakin melemah bahkan sampai saat ini. Di mana dalam pandangan penulis, keadaan itu disamping disebabkan peran pemerintah dalam menekan Islam, juga disebabkan oleh keributan di antara ummat Islam sendiri.

Bahwasanya Islam sebagai kekuatan budaya di Indonesia adalah dapat dipercaya meskipun secara formal tidak dipakai sebagai konstitusi negara. Namun kekuatan budaya ini harus senantiasa diimbangi dengan proses institusionalisasi di sisi lain yang dilakukan setahap demi setahap. Para elit muslim selayaknya sudah harus memikirkan hal ini. Hal demikian ini karena sudah menjadi sunnatullah bahwa kondisi kehidupan dunia ini yang karena pengaruh modernitas, budayanya semakin tergerus dan mengalami degradasi. Di sinilah maka proteksi dari sebuah konstitusi menjadi diperlukan.?

Ada yang mengatakan bahwa, “Dalam sebuah sistem yang baik, orang jahat diajak menjadi baik. Sedangkan dalam sistem yang jelek, orang baik diajak menjadi jahat.” Dalam hemat penulis, Islamlah sistem yang baik itu. Oleh karena Fiqih Islam tidak sebagaiman hukum sekuler yang semata-mata bertumpu pada kondisi sosial masyarakat belaka, namun juga diwarnai oleh campur tangan Tuhan.

Demikianlah maka perntanyaannya kemudian, bisakah para elit Islam mampu berpikir di manakah dia harus mengedepankan perbedaannya dengan kelompok Islam yang lain. Dan dimana pula ia harus bersatu dalam sebuah ikatan Ukhuwwah Islamiyah.

Nahdlatul Ulama sejak tahun 1985 telah merumuskan konsep persatuan ini kedalam 3 (tiga) bentuk, yakni Ukhuwah Islamiyah (Pesatuan Islam), Ukhuwah Wathaniyah (Persatuan Kebangsaan), dan Ukhuwah Basyariyah (Persatuan Kemanusiaan). Namun apakah ketiga prinsip ini mudah dalam tataran praktik untuk membantuk Ummatan Wahidah, nampaknya ini masih menjadi PR besar umat Islam khususnya para elitnya.

Ketidaksadaran akan hal ini hanya akan membuat penghayatan masyarakat akan Islam sebagai bagian hidupnya semakin lama semakin berkurang. Sungguh berat rasanya mengemban amanat dakwah. Tapi hal inilah yang menjadikan kita umat Islam sebagai ummat terbaik (Khaira Ummah).

Penulis tinggal di Karangploso, Malang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sejarah, Sholawat, Humor Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock