Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr M Maksum Machfoedz menekankan perlunya dialog antarkelompok internal sebuah agama dalam upaya-upaya toleransi. Menurutnya, dialog-dialog internal sangat dibutuhkan untuk menyamakan persepsi antarkelompok dalam sebuah agama.

“Dialog antarkelompok internal sebuah agama ini yang cukup sulit. Tetapi dialog seperti ini cukup efektif seperti yang pernah dilakukan PBNU dengan mempertemukan sejumlah kelompok Muslim di Afghanistan yang saling bertenangan,” kata Prof Maksum saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama

Dialog antarumat beragama memang penting. Tetapi mempertemukan kelompok-kelompok internal sebuah agama merupakan sebuah upaya yang tidak kalah penting, tambah Prof Maksum.

Ia meyakini bahwa dialog internal sangat penting mengingat setiap agama memiliki kelompok-kelompok ekstremnya sendiri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Hampir setiap agama ada kelompok radikalnya. Ini sebuah fakta,” kata Prof Maksum. (Alhafiz K)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaNu, AlaSantri, Cerita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Setidaknya tiga puluh santri Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kabupaten Jombang melaksanakan istighotsah anti korupsi di Islamic Center Umar Tamim, Jombang, Jawa Timur, Rabu (9/12) kemarin. Hal itu dilakukan untuk mendoakan bangsa Indonesia bersih dari tindakan korupsi.

Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi

Ircham Ali, salah satu santri mengatakan, sebenarnya kegiatan istighotsah tersebut dilaksanakan rutin setiap hari Rabu. Namun Bertepatan dengan hari anti korupsi sekalian dilaksanakan untuk berdoa bersama demi Indonesia bersih dari korupsi.

”Istighotsah santri pergerakan ini merupakan salah satu dari program kerja Biro Muamalah dan Ubudiyah Bidang Pendidikan Agama Putra-Putri, kita jalankan rutin dengan istiqomah setiap hari Rabu sebelum kegiatan PSQ (Pusat Studi Quran),” katanya kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Rabu (9/12) kemarin.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, peserta yang mengikuti istighotsah itu menamakan diri Santri Pergerakan. Pasalnya, selain sebagai santri, mereka juga tergabung dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) komisariat Umar Tamim.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Para anggota dan kader ini santri dari beberapa asrama di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso. Di antaranya, ada dari asrama Muzamzamah Chosiah, Asrama Nusantara, Asrama IV, Asrama Hurun Inn, dan lainnya,” ujarnya.

Ircham menjelaskan, istighotsah itu penting dilaksanakan.  Selain untuk melaksanakan doa bersama, juga untuk menjaga kebersamaan antar sesama santri. ”Doa bersama kali ini dikhususkan untuk negara kita yang bertahun-tahun tidak pernah lepas dari kasus korupsi,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan Indonesia bisa menjadi lebih baik dengan tidak ada lagi kasus korupsi. ”Semoga Indonesia bisa bersih dari korupsi yang dilakukan birokrasi pemerintahan hingga lini terkecil, termasuk ditingkat desa. Hal ini tentu membutuhkan tindakan tegas dari aparat penegak hukum demi kebaikan bangsa ke depan,” lanjutnya .

Ketua PMII Umar Tamim ini juga mengaku senang teman-temannya semangat melaksanakan istighotsah tersebut. Tidak meninggalkan tradisi keagamaan meskipun sudah berstatus aktivis mahasiswa.

”Pagi ini teman-teman tampak bersemangat penuh antusias mengikutinya. Dalam istighotsah ini, tawasul kita tujukan kepada para ulama, khususnya pendiri NU, pendiri Ponpes Darul Ulum  dan pesantren se-Jombang serta dikhususkan untuk almarhum Kiai Abdul Aziz Manshur pengasuh Ponpes Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang yang kemarin sudah wafat,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 05 Februari 2018

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Pada sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu 15 April 2017, KH Aziz Masyhuri Denanyar wafat. Berita ini tentu mengejutkan karena pada paginya beliau masih membaca koran dan melanjutkan menulis buku sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Dengan demikian berarti dua kiai besar bernama Aziz dari Jombang telah tiada, satunya lagi yaitu KH Aziz Mansyur Paculgowang sudah wafat pada 2015 lalu.

Saya, walaupun tidak lama, pernah mengaji ke beliau berdua. Kiai Aziz Mansyur adalah sosok kiai yang mempunyai etos ilmiah ala Lirboyo, yang tidak lain adalah pondok kakeknya sendiri, karena beliau juga lama mondok di Lirboyo. Gaya ngaji beliau; duduk bersila di depan meja kecil, dilengkapi dengan lampu belajar, serta bersandar di bantal. Diatas meja kecil itu, selain ada kitab dan lampu belajar, juga ada segelas air putih.

Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Ketika saya mengaji romadhon pada 2014, saya begitu takjub dengan kedisiplinan Kiai yang menjabat dewan syuro PKB ini. Kalau sudah duduk didepan kitab, maka sekitar 2 jam sampai 2, 5 jam ke depan, tidak beranjak dari tempat duduknya, membaca kitab tanpa berhenti, dan tanpa basa-basi. Ketika membaca kitab semacam ini posisi beliau menghadap ke arah kiblat, bertempat di selasar masjid. sementara kami yang mengaji juga menghadap kiblat, berada di belakang beliau. Nah, ini tentunya menguntungkan bagi saya, karena kalau ngantuk tidak akan ketahuan, hehehe.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kitab yang dikaji ba’da taraweh ketika itu adalah al-Asybah wa An-nadhair, dan Dalailul Khoirot. Belum lagi yang dibaca pada waktu pagi dan sore. Dengan etos yang demikian itu, maka wajar kalau dalam kesempatan romadhon yang biasanya tidak sampai tanggal 20 sudah selesai, berhasil menghatamkan beberapa kitab. Sehingga bisa dimaklumi jika santri alumni pondok salaf, semacam Paculgowang dan Lirboyo mempunyai perbendaharaan kitab kuning yang relatif banyak.

Lalu bagaimana gaya Kiai Aziz Masyhuri mengaji? Tempat belia mengaji tidak? ? di masjid, namun di ruang tamu. Beliau duduk di salah satu kursi, kemudian yang mengaji duduk dikursi-kursi yang lain, ada dua set kursi tamu di ruang tersebut. Sebagaimana layaknya menerima tamu, di meja tersaji aneka hidangan, ada makanan kering yang berada di toples-toples dan ada makanan basah, seperti pisang goreng, roti bakar, atau yang lainnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jadwal mengaji satu minggu sekali, saya perhatikan hidangan di atas meja tersebut selalu berganti. Terasa benar bahwa memang itu disiapkan secara khusus untuk orang-orang yang mengaji pada beliau. Tidak berhenti sampai disitu, setiap ada yang datang, tidak lama kemudian ada yang menghidangkan kopi. Di tengah-tengah pengajian biasanya disusul dengan kolak, lalu diakhir ditutup dengan nasi goreng atau tahu petis. Jadi saya katakan pada Anda, bahwa tips mengaji pada Kiai Aziz Masyhuri haruslah dalam kondisi perut kosong, kalau tidak mau keringat dingin, karena harus menghabiskan makanan yang sedemikian banyak.

Nah, begitu kita datang ternyata tidak langsung mengaji kitab, tetapi masih mengobrol kesana-kemari antara setengah sampai satu jam. Bahan obrolan biasanya tentang permasalahan aktual, tentang ke-NU-an, tentang kegiatan-kegiatan beliau, atau seputar penulisan kitab yang sedang beliau kerjakan.

Jujur, awal-awal saya merasa gelisah dengan ritme mengaji seperti ini, karena tidak langsung to the poin. Tapi lama-kelamaan merasakan hal yang berbeda. Apa yang beliau obrolkan tersebut biasanya adalah pandangan atau sikap beliau sebagai seorang kiai menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Jadi ini adalah pengajian aktual, tidak melulu mengaji kitab, tapi juga mengaji kehidupan. Apalagi ketika membaca kitab juga selalu disisipi dengan penjelasan-penjelasan.

Yang dikaji ketika itu adalah kitab Kawakibul Lama’ah karangan Kiai Fadhol Senori Tuban, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Mungkin Kiai Aziz Masyhuri produktif mengarang kitab karena terinspirasi oleh Kiai Fadhol ini. Kitab lain karya Kiai Fadhol diantaranya adalah ahlal musyamarah yang menceritakan tentang 10 wali di tanah Jawa. Di tangan Kiai Aziz Masyhuri, keterangan kawakibul lama’ah menjadi sangat luas.

Keterangan tentang apa yang tertulis di kawakibul lama’ah sepertinya sudah nempel banget di lidah beliau. Keterangannya bisa sangat detail. Misalkan saja, ketika masuk pada pembahasan devinisi sunnah dan jama’ah, dalam kitab tersebut menyitir devinisi dari kamus Muhith. Oleh beliau dijelaskan kamus mukhit ini merupakan kamus 4 jilid yang patokannya adalah huruf terakhir dari suatu kata. Misal kata ‘wasala’ yang terdiri dari huruf wawu, sin, dan lam, maka cara mencarinya dari huruf lam.

Keterangan ini kemudian melebar pada jenis-jenis kamus. Dimulai dari Tajul Arus yang merupakan sarah kamus mukhit. Lalu ada juga Misbahul Munir yang menurut beliau merupakan kamus yang paling ‘marem’, karena kalau ada masalah fiqh keterangannya dipanjangkan. Ada juga kamus munjit. Ini adalah kamus yang paling gampang, karena kalau ada yang tidak jelas dikasih gambar. Kelebihan yang lain dari kamus ini ada Faraidul Adab-nya. Namun yang mengarang orang kristen.

Keterangan kamus munjit ini menjadi semakin hidup manakala ditambahi dengan kisah Mbah Kiai Maksum Lasem dan putranya Mbah Kiai Ali Maksum. Mbah Kiai Maksum mengharamkan kamus munjit. Ketika Mbah Kiai Ali Maksum masih dipondok, waktu mau dijenguk ayahnya, santri-santri senior yang punya kamus munjit suruh menyembunyikan. Takut kalau-kalau Mbah Kiai Maksum memeriksa kamar-kamar. Nah, nanti kalau sudah pulang boleh dikeluarkan lagi.

Kitab berikutnya yang dikaji setelah kawakibul lama’ahkhatam adalah kitab tipis berjudul, butlani aqoidul syiah, sebuah kitab yang sepertinya belum ada di penerbitah Indonesia. Karena kami mengkajinya pun dari foto copy-an kitab yang beliau punya. Demikianlah Kiai Aziz Masyhuri, perbendaharaan kitab-kitab langkanya melimpah. Sehingga wajar kalau beliau menjadi rujukan kiai-kiai yang lain, termasuk dari pondok-pondok besar. Namun taqdir kami tidak bisa mempelajari kitab ini sampai selesai, karena setelah libur hari raya, pengajian kitab tersebut belum dilanjutkan lagi sampai beliau wafat.

Beliau memang pernah cerita, bahwa jika sedang haji, yang beliau buru adalah kitab-kitab terbitan timur tengah. Saking banyaknya yang beliau beli, sampai-sampai sebagiannya harus dititipkan ke orang lain yang jatah bagasinya masih ada. Maka wajar, kalau wacana kitab kuningnya di atas rata-rata. Sampai-sampai ketika Dr. Musthofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang juga karibnya waktu di Tebuireng membuat tulisan di Republika, tentang banyaknya kesamaan ajaran-ajaran NU melalui kitab karangan KH Hayim Asyari yang terkodifikasi dalam Irsyadus Syari, dengan ajaran-ajaran Wahabi, maka Kiai Aziz Masyhuri menegurnya, ketika bertemu di sebuah acara di madura. Hal ini karena Kiai Aziz Masyhuri mempunyai refrensi lain yang menguatkan tentang perbedaan besar antara ajaran NU dan wahabi.

Dengan kekayaan wacana kitab kuning demikian ini, ternyata Kiai Aziz Masyhuri mentransformasikan apa yang dipunyainya itu dengan cara yang santai; mengajar ngaji disambi dengan makan-makan dan ngobrol kesana-kemari. Perut terisi, kepala pun terisi.

Sedangkan Kiai Aziz Mansyur yang mempunyai tradisi dan etos kitab kuning yang disiplin, ternyata pembawaannya tidak dikit-dikit nge-dalil. Saya teringat ketika resepsi pernikahan saya, dalam tausyiahnya beliau malah hanya bercerita, tidak mendalil, tentang bagaimana galaunya ketika beliau dipasrahi untuk meneruskan estafet kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatun Nasihin, selepas ayahnya meninggal. Juga bercerita tentang awal-awal diundang mengaji ke kampung-kampung dengan mengendarai sepeda ontel, lalu beralih naik sepeda motor, lalu beralih memohon kapeda Allah agar diberi kendaraan yang ada iyup-iyupane (ada atapnya: mobil). Selanjutnya tausyiah beliau malah ditutup dengan penjelasan filosofi janur dan lain-lain, yang biasa digunakan di resepsi pernikahan adat Jawa. Allahummaghfirlahuma...

M. Fathoni Mahsun, Kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 02 Februari 2018

Pelajar NU Jombang Latihan Menulis

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sebanyak 50 pelajar NU mengikuti pelatihan jurnalistik di gedung PCNU Jombang, Ahad (6/4). Acara yang melibatkan pimpinan anak cabang, ranting, komisariat sekolah, dan komisariat perguruan tinggi ini, difasilitasi PC IPNU-IPPNU Jombang.

Pelajar NU Jombang Latihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jombang Latihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jombang Latihan Menulis

Ketua IPNU Jombang Aliyah mengatakan, pelatihan ini merupakan hal yang nyata dari salah satu program kerja PC IPNU-IPPNU Jombang untuk mencetak kader-kader penulis baru di tengah minusnya penulis muda di tubuh pelajar Nahdlatul Ulama.

“Kita tidak sekedar wacana saja, tetapi langsung membimbing dan mengawal rekan dan rekanita untuk bisa cakap dan mampu menulis minimal resensi,” terang Aliyah seperti keterangan pers rilis, Senin (7/4).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pelajar NU, sambung Aliyah, juga sudah diberi kesempatan oleh redaktur majalah Nahdlah untuk mengisi rubrik “Pelajar dan Prestasi” setiap bulan. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa, terang pria alumni STKIP Jombang.

Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Kader-kader IPNU-IPPNU yang sudah cakap, jelas Aliyah, akan kami seleksi dan kami masukan tim pers ipnu-ippnu yang dipimpin Khoirul. Mereka siap mewarnai media baik cetak maupun online.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pelatihan ini dipandu wartawan Jawa Pos Rojif Mamduh. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, Nahdlatul Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 26 Januari 2018

LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa

Kudus,Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Lazisnu Kabupaten Kudus mengadakan santunan untuk yatim piatu, fakir miskin, merbot masjid, pemberian modal usaha bagi janda miskin melalui program "NU Berbagai".

Santunan kerja sama GP Ansor, LAZISNU dan Bank BNI Kudus tersebut akan berlangsung pada tanggal 26-29 Ramadhan atau (1-4/7) di kantor PCNU Kabupaten Kudus dan di masing-masing Ranting NU.

LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa

Jika tahun lalu dana sumbangan dari dermawan dan muzakki terkumpul sejumlah Rp 172.770.000,- maka tahun ini LAZISNU Kudus menganggarkan Rp 869.150.000,-.

"Adapun rencananya rincian jumlah penerima anggaran tersebut yakni 3.971 yatama yang berasal dari madrasah dan Ranting se-Kabupaten Kudus berupa uang atau bingkisan alat sekolah, santunan 1.360 fakir miskin, 550 merbot dan 45 janda miskin," jelas Syaroni Suyanto, Ketua LAZISNU Kudus.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Meski rencana baru akan dilaksanakan pada bulan Juli, tapi pada acara Rapat Kerja Cabang (Rakercab) PC GP Ansor, Sabtu malam lalu (25/6) telah diawali dengan santunan 253 yatama se-Kecamatan Kaliwungu.

Kecamatan Kaliwungu sendiri selama ini telah digadang sebagai kecamatan percontohan program LAZISNU di antara sembilan kecamatan di Kudus. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pendidikan, AlaSantri, Santri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 22 Januari 2018

Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud

Assalamu alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama yang terhormat. Dalam diskusi kecil, menurut teman saya cara yang paling benar ketika bangkit dari sujud dalam shalat adalah dengan cara mengepalkan tangan. Berarti praktik shalat yang selama ini kita jalani di mana setiap bangkit dari sujud tidak mengepalkan tangan tetapi menghamparkan telapak tangan dianggap kurang benar.

Bagaimana pandangan pak ustadz dalam masalah ini, mohon penjelasannya? Atas penjelasannya, saya ucapkan terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Taufik/Bogor)

Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud

Jawaban

Assalamu alaikum wr. wb.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sepanjang kami ketahui dalam soal ini adalah bahwa disunahkan bagi orang yang shalat ketika bangun atau bangkit dari sujud atau duduk untuk bertumpu di atas kedua tangannya.

Alasan yang bisa dikemukan dalam hal ini adalah bahwa hal tersebut mengacu kepada praktik Rasulullah SAW itu sendiri. Di samping alasan lain adalah lebih merupakan sebagai simbol ketawadlu’an (asybah lit tawadhu’) dan lebih dapat membantu orang yang shalat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sunah untuk bertopang kepada kedua tangannya ketika bangun dari sujud dan duduk karena hal tersebut lebih tampak sebagai simbol ketawadlu’an, lebih bisa membantu orang yang shalat, dan karena telah dipraktikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana ditetapkan dalam hadits sahih,” (Lihat Muhammad Khathib asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, juz I, halaman 182).

Jika bertumpu di atas kedua tangan adalah praktik yang dilakukan Rasulullah SAW, pertanyaannya bagaimana caranya? Menurut Muhammad Khathib asy-Syarbini, baik orang kuat maupun yang lemah caranya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jari di atas tanah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sedang cara bertumpunya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jarinya di atas tanah baik orang yang kuat maupun yang lemah,” (Lihat M Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, juz I, halaman 182).

Sedang kalangan yang berpendapat bahwa orang yang shalat ketika bangkit dari sujud dengan cara mengepalkan tangannya didasarkan salah satu hadits berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ketika Rasulullah SAW bangkit dalam shalatnya Beliau meletakkan tangannya di atas tanah sebagaimana tukang adonan roti meletakan tangannya (al-‘ajin).”

Tetapi persoalannya menurut para ulama, hadits ini bukan masuk kategori hadits sahih sehingga tidak bisa dijadikan dasar. Meskipun hadits ini jika dianggap sahih, makna kata al-‘ajin bukan dalam pengertian tukang roti yang membuat adonan roti, tetapi maknanya adalah orang yang tua renta (asy-syaikh al-kabir).

Sehingga makna hadits tersebut adalah Rasulullah SAW ketika berdiri dalam shalat dengan bertumpu dengan kedua telapak tanggannya sebagaimana bertumpunya orang yang tua renta. Bukan diartikan mengepalkan kedua tangannya sebagaimana tukang pembuat adonan roti.

Sebab, praktik yang dilakukan Rasulullah SAW itu sendiri ketika bangkit dari sujud tidak mengepalkan tanggannya, tetapi dengan menjadikan kedua telapak tanggan dan telapak jari-jarinya di atas tanah, sebagaimana yang dijelaskan di atas mengetahui tata-caranya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adapun hadits yang terdapat dalam kitab al-Wasith dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw ketika berdiri dalam shalat meletakkan tangannya di atas tanah sebagaimana tukang pembuat adonan roti, bukan termasuk hadits sahih. Dan jika hadits ini sahih maka mesti ditafsirkan dengan penafsiran di atas (menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari di atas tanah), dan yang dimaksud dengan al-‘ajin adalah orang yang tua renta bukan tukang pembuat adonan roti (‘ajin al-‘ajn),” (Lihat M Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, juz I, halaman 182).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan sampai perbedaan dalam masalah ini menimbulkan konflik dan saling menyalahkan satu sama lain. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Habib, AlaSantri, Ubudiyah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 18 Januari 2018

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Yogyakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Berdakwah bukan saja dilakukan dengan cara pengajian saja, bisa juga dilakukan dengan seminar dan talk show. Materi dakwah juga bukan sebatas masalah ritual ibadah, tetapi juga terkait kesehatan masyarakat, apalagi terkait kesehatan reproduksi. Inilah yang terus diupayakan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) melalui bekerjasama dengan berbagai pihak dalam melayani masyarakat.

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Demikian ditegaskan drg H Abdul Kadir, Ketua LKNU DIY, dalam acara Talk Show Kesehatan Reproduksi pada Ahad, (8/11) lalu di aula lantai 2 Gedung PWNU DIY. Acara ini terselenggara berkat kerjasama LKNU DIY dengan Majlis Pengajian An-Nisan’ Yogyakarta, Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY.?

Menurut drg. Kadir, pemeriksaan papsmear dan payudara adalah upaya membentengi para ibu dari penyakit dengan prevalensi sangat tinggi dan menjadi penyebab kematian tertinggi ini. Untuk itu, lanjut drg. Kadir, pasangan suami-istri harus saling mendukung dalam mengupayakan kesehatan reproduksi. Suami adalah agen kesehatan bagi istrinya, sehingga harus setia dan bersama-sama periksa kepada dokter. Suami juga harus selalu mengingatkan, disitulah kerjasama keduanya dalam menjaga kesehatan. ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“LKNU DIY akan terus bekerjasama dengan berbagai pihak. Semua ini semata wujud khidmat untuk kemaslahatan semuanya. Ada banyak kader muda NU yang menekuni kesehatan, kita akan terus mengajak mereka untuk terlibat dalam berbagai program kesehatan, sehingga NU terus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara itu, Dr. H.A. Zuhdi Muhdlor, Wakil Ketua PWNU DIY yang membuka acara menjelaskan, bahwa kaum ibu adalah agen perubahan. Dari rahim para ibu yang sehat dan berkualiatas akan terlahir generasi yang sehat dan berkualitas pula.?

“Generasi yang sehat menjadi perhatian serius NU. Untuk itu, kami berharap LKNU terus menjalin kerjasama dengan banyak pihak dalam merealisasikan program-programnya, sehingga generasi yang sehat dan berkualitas bisa tumbuh untuk membangun bangsa di masa depan,” tegasnya.?

Acara ini diikuti oleh 125 ibu-ibu dari berbagai daerah di DIY. Para ibu ini sangat antusias, terbukti dalam sesi tanya jawab bersama dr. Nila Amalia, dokter muda lulusan UGM yang juga santri Pesantren Al-Muhsin, Krapyak Yogyakarta. Sementara dalam dalam pemeriksaan, tenaga medis dari Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY penuh senyum ketika melayani para ibu yang hadir di Gedung PWNU DIY. (Muahmmadun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock