Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

PBNU Rekomendasikan Terbentuknya Wadah bagi Disabilitas

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama



Salah satu rekomendasi Munas dan Konbes NU di Lombok, Nusa Tenggara Barat mendatang adalah terbentuknya wadah untuk para penderita disabilitas.

Hal ini disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam Sarasehan Pesantren Inklusi di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (6/10). 

PBNU Rekomendasikan Terbentuknya Wadah bagi Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Rekomendasikan Terbentuknya Wadah bagi Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Rekomendasikan Terbentuknya Wadah bagi Disabilitas

“Nahdlatul Ulama dalam waktu dekat akan mempelopori masjid dan pesantren yang ramah disabilitas,” kata Kiai Said. 

Ia menambahkan disabilitas bukanlah kekurangan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Bahkan Gus Dur pun membuktikan bisa menjadi Presiden RI ke 4,” ungkap Kiai Said.

Oleh karenanya NU akan mengawal regulasi tentang disabilitas. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 12 Februari 2018

IPNU-IPPNU Rembang Bangun Website sebagai Pusat Informasi dan Data

Rembang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sebagai media komunikasi dan pangkalan informasi serta pusat data administrasi keorganisasian, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, membuat website atai situs resmi pelajar NU Rembang.

Ketua PC IPNU Rembang Ahmad Humam mengatakan, pihaknya saat ini sedang memproses terciptanya website baru. Pihaknya berharap dengan adanya website baru ini dapat menjadi pusat data.

IPNU-IPPNU Rembang Bangun Website sebagai Pusat Informasi dan Data (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rembang Bangun Website sebagai Pusat Informasi dan Data (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rembang Bangun Website sebagai Pusat Informasi dan Data

Humam lebih lanjut menjelaskan, nantinya website ini akan menjadi media komunikasi antarkader, sehingga informasi yang ada di setiap wilayah kerja akan dihimpun dalam website tersebut. "Data apapun terkait organisasi harus masuk di website kita," terang Humam.

Ini merupakan inisiatif yang cukup baik untuk mengantisipasi jarak tempuh yang cukup jauh dari wilayah PAC ke PC. Nantinya setelah terciptanya website baru, setiap Pimpinan Anak Cabang (PAC) akan dibuatkan sub-domain dari website utama.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kami berharap nantinya setiap Anak Cabang akan ada admin yang mengelola website dari masing-masing PAC, tentunya harus ada pelatihan terlebih dahulu," pungkasnya, Selasa (16/2/2016) sore disela-sela rapat persiapan acara Harlah IPNU/IPPNU.

Diketahui bahwa PC IPNU-IPPNU Kabupaten Rembang saat ini membawahi 9 PAC, meliputi Kecamatan Kaliori, Sumber, Gunem, Sedan, Rembang Kota, Pamotan, Bulu, Sale, dan Sulang. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Quote, Pendidikan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 24 Desember 2017

Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunci Sukses Menjawab Enam Pertanyaan di Alam Kubur

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seseorang telah dibaringkan di dalam kubur dan para pengantar telah meninggalkannya, maka dua malaikat, yakni Munkar dan Nakir, segera mendatangi dan menanyakan tentang tiga hal pokok, yakni: siapa tuhannya, apa agamanya dan siapa nabinya. Hadits tersebut sebagaimana diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?

Dalam beberapa riwayat dikatakan ketiga pertanyaan pokok tersebut diikuti dengan tiga pertanyaan berikutnya sehingga berjumlah enam pertanyaan sebagai berikut:

1. Man rabbuka? Siapa Tuhanmu?

2. Ma dinuka? Apa agamamu?

3. Man nabiyyuka? Siapa Nabimu?

4. Ma kitabuka? Apa kitabmu?

5. Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?

6. Man ikhwanuka? Siapa saudaramu?

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Keenam pertanyaan di atas tampak sepele untuk dijawab. Namun, sebenarnya tidak demikian sebab semua bergantung pada amal masing-masing semasa hidupnya. Ketika seseorang sudah dibaringkan di dalam kubur, ia sendirian tanpa seorang pun menemani; sementara malaikat menyapa dengan garang sambil menarik orang itu agar berposisi duduk. Kedua malaikat kemudian mengajukan keenam pertanyaan sebagaimana di atas. Mereka yang senantiasa melaksanakan shalat lima waktu, terlebih yang suka shalat berjamaah di masjid, sesungguhnya mereka telah memegang kunci sukses menjawab keenam pertanyaan itu.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Kalau kita camkan definsi shalat, yakni serangkaian kegiatan ibadah tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, maka kita dapati kata pertama yang wajib kita ucapkan dalam shalat adalah ?, yakni dalam takbiratul ihram: ? ?. Jika dalam sehari semalam kita melakukan shalat fardhu lima waktu, maka kita akan menyebut ? dalam takbiratul ihram sebanyak lima kali. Jika takibiratul ihram ditambah dengan takbir-takbir yang lain seperti takbir sebelum ruku’, sebelum sujud, dan sebagainya, maka dalam sehari semalam kita menyebut ? sebanyak 68 kali. Itu belum termasuk yang kita sebut dalam shalat-shalat sunnah. Singkatnya orang yang taat menjalankan perintah shalat akan sangat terbiasa mengucapkan ?.

Kaitannya dengan pertanyaan pertama di atas, seseorang yang semasa hidupnya senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, kemudian di dalam kubur ditanya: ? ? (siapa Tuhanmu) maka dengan mudah ia dapat menjawab: ? ? (Allah Tuhanku) karena ia terbiasa menyebut ? setidaknya 68 kali dalam sehari semalam. Bayangkan mereka yang malas shalat, apalagi tak pernah shalat sama sekali. Tentu mereka akan mengalami kesulitan menjawab pertanyaan ini.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Terhadap pertanyaan kedua, yakni ? ? (apa agamamu) seseorang yang semasa hidupnya senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, ketika di dalam kuburnya ditanya: ? ? - apa agamamu –? maka dengan mudah ia dapat menjawab:? ? (Islam agamaku) karena dalam konteks sekarang hanya Islam satu-satunya agama yang memerintahkan melaksanakan shalat.

Agama-agama sebelumnya pada zamannya juga memerintahkan umatnya melaksanakan shalat bahkan dengan jumlah rakaat yang lebih banyak dari pada Islam. Agama-agama itu hingga sekarang masih ada, namun inti ajarannya tidak lagi menekankan iman tauhid dengan hanya menyembah Allah SWT sebagaimana Islam. Maka bisa dimengerti agama-agama itu tidak lagi menyerukan umatnya melakukan shalat. Shalat telah identik dengan Islam karena sekali lagi dalam konteks sekarang Islam satu-satunya agama yang memerintahkan shalat.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Terhadap pertanyaan ketiga, yakni ? ? (siapa Nabimu) seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tentu dengan lancar dapat menjawab pertanyaan itu karena di dalam shalat lima waktu setidaknya kita menyebut nama ? sebanyak 10 kali dalam sehari semalam, yakni dalam bacaan tahiyat atau tasyahud akhir yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

dan dalam bacaan shalawat

? ? ? ?

Jumlah itu belum termasuk yang dibaca dalam tasyahud awal dan bacaan shalawat dalam rakaat kedua dalam shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ yang jumlahnya 15 sehingga seluruhnya berjumlah 25. Oleh karena itu, seseorang yang semasa hidupnya senantiasa melaksnakan shalat akan dengan mudah menjawab pertanyaan: ? ? (siapa nabimu), yakni dengan jawaban: ? ? (nabiku Muhammad SAW) karena setiap hari selalu menyebut nama ?.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Terhadap pertanyaan keempat, yakni ? ? - Apa kitabmu, seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tentu dapat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban: ? ? – Kitabku Al-Qur’an, karena di dalam shalat terdapat rukun yang mengharuskan orang shalat membaca surah pertama dalam Al-Qur’an yakni Surah Al-Fatihah. Seseorang yang melakukan shalat tanpa membaca surah ini dalam setiap rakaat, shalatnya tidak sah, kecuali bagi makmum masbuq yang di rakaat pertama tak selesai membacanya karena waktu tak mencukupi.

Selain surah Al-Fatihah, orang shalat juga membaca surah-surah lainnya di dalam Al-Qur’an yang dibaca sebagai bacaan sunnah. Surah-surah yang hukumnya sunnah ini dibaca setelah surah Al-Fatihah. Dengan dibacanya surah-surah dalam Al-Qur’an dalam shalat, maka dalam sehari semalam setidaknya orang membaca surah-surah Al-Qur’an sebanyak 27 kali. Dengan kata lain untuk menyebut ? sebagai sebagai kitab suci tidak sulit bagi mereka yang senantiasa melaksanakan shalat.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah…

Terhadap pertanyaan kelima, yakni ? ? (di mana kiblatmu) seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, tentu dapat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban: ? ? (Ka’bah kiblatku) karena orang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, akan menghadap ke arah Ka’bah sebanyak 5 kali sehari. Jika ditambah dengan shalat-shalat sunnah, tentu frekuensinya lebih tinggi lagi.

Kebiasan setiap hari menghadap kiblat berupa Ka’bah ini tentu akan memudahkan menjawab pertanyaan kelima di atas. Apalagi di dalam niat shalat terdapat kata “kiblat” yang maksudnya adalah Ka’bah. Niat itu misalnya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Aku berniat melaksanakan shalat Dzuhur empat rakaat dengan menghadap Kiblat karena Allah SWT.

Dalam bacaan niat di atas secara eksplisit terdapat kata ?. Kata-kata kiblat ini tentu akan selalu mengingatkan Ka’bah di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Orang Islam yang taat kepada Allah senantiasa akan menghadap ke arah Ka’bah sedikitnya 5 kali dalam sehari. Artinya bagi orang yang senantiasa melaksanakn shalat untuk menyebut nama Ka’bah tidak sulit.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Terhadap pertanyaan keenam, yakni ? ? (siapa saudara-saudaramu), seseorang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat dengan berjamaah di masjid, tentu dapat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang tepat, yakni ? ? ? (kaum muslimin dan muslimat saudara-saudaraku).

Jawaban dari pertanyaan keenam ini memang memiliki keterkaitan langsung dengan masjid karena tempat suci ini merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin dan muslimat untuk melaksanakan jamaah shalat. Seseorang yang membiasakan diri dengan shalat berjamaah di masjid, tentu akan ingat saudara-saudara seiman yang berjamaah shalat bersamanya walaupun mungkin tidak tahu nama mereka satu per satu. Tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya orang-orang non-muslim melakukan shalat, apalagi di masjid.

Sidang Jum’ah Rahimakumullah,

Dari uraian di atas dapat kita lihat dengan jelas ada hubungan erat antara shalat, masjid dan kelancaran menjawab 6 pertanyaan di dalam kubur yang meliputi: siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu, apa kitabmu, dimana kiblatmu, dan siapa saudara-saudaramu. Orang-orang yang senantiasa melaksanakan kewajiban shalat, apalagi dengan berjamaah di masjid, sudah pasti tidak akan mengalami kesulitan menjawab semua pertanyaan tersebut.

Kesuksesan menjawab semua pertanyaan itu menjadi penentu kesuksesan-kesuksesan berikutnya apakah seseorang akan masuk ke surga atau ke neraka. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senatiasa sukses dalam menghadapi semua pertanyaan di alam kubur. Amin ya rabbal alamin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Humor Islam, Pertandingan, Kyai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 23 Desember 2017

KH Nuril Huda: Tanpa Organisasi Orang Cenderung Hitam Putih

Sidoarjo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Deklarator Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) KH Nuril Huda mengatakan bahwa menghadapi persoalan yang tengah terjadi di masyarakat tidak bisa diselesaikan secara hitam putih. Melainkan dengan menempatkan persoalan itu secara kontekstual. Salah satunya dengan berorganisasi.

"Organisasi merupakan wadah untuk bergaul. Tanpa organisasi, orang akan cenderung kaku dan hitam putih. Organisasi PMII merupakan salah satu wadah yang luwes dalam menghadapi persoalan," kata Kiai Huda saat orasi budaya pada acara pra konferensi cabang PMII Sidoarjo di halaman Dispora Sidoarjo, Jumat (1/1) malam.

KH Nuril Huda: Tanpa Organisasi Orang Cenderung Hitam Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Nuril Huda: Tanpa Organisasi Orang Cenderung Hitam Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Nuril Huda: Tanpa Organisasi Orang Cenderung Hitam Putih

Kiai Nuril berharap kepada seluruh kader PMII Sidoarjo di dalam mengambil langkah gerak, untuk tetap berpegang teguh kepada ajaran Annahdliyah serta nilai-nilai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, untuk memajukan kehidupan sosial harus sesuai dengan tuntunan kehidupan dan menempatkan agama sebagai pondasinya. "Agar pembangunan bisa berjalan sesuai harapan, maka ilmu pengetahuan harus didasari dengan agama," tegasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Acara pra konferensi cabang PMII Sidoarjo yang bertajuk "PMII Berbudi, Berdaya dan Berbudaya" ini diharapkan agar kader dan para aktivis PMII cabang Sidoarjo tetap berada pada jalurnya serta mampu berkomitmen pada PMII.

Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Sidoarjo M Zainal Abidin mengapresiasi kinerja Gigin Anggi Zuarinsa selama dirinya memimpin PMII Sidoarjo dari tahun 2014 hingga 2015 ini.

Acara yang dihadiri Deklarator PMII KH Nuril Huda, Ketua Mabincab Sidoarjo M Zainal Abidin, seluruh pengurus PK PMII se-Sidoarjo itu berjalan penuh khidmat. Seluruh keterampilan dan seni budaya juga ditampilkan oleh setiap PK PMII Sidoarjo seperti pencak silat, teater dan lain sebagainya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Meme Islam, Anti Hoax Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 20 Desember 2017

Hasyim Muzadi, Kolesterol dan Kiai Madura

KH Hasyim Muzadi termasuk di antara kiai-kiai NU yang punya selera humor tinggi. Humor Kiai Hasyim berserakan kepada orang-orang yang pernah dekat dengannya. Staf Khusus Menteri Sosial RI Mas’ud Said termasuk orang yang terkesan dengan humor Kiai Hasyim.

Menurut Mas’ud Said, saat Kiai Hasyim menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Kiai Hasyim pernah diundang oleh kiai dari Madura.

Orang Madura, katanya, kalau menyambut kiai besar apalagi Ketua Umum PBNU, sudah pasti penghormatannya luar biasa. Semua mobil yang bagus datang, makanan yang enak dihidangkan.

Hasyim Muzadi, Kolesterol dan Kiai Madura (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi, Kolesterol dan Kiai Madura (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi, Kolesterol dan Kiai Madura

“Mari Kiai Hasyim ini udang, mari Kiai Hasyim ini kepiting yang enak ini,” kata Kiai Madura mengajak Kiai Hasyim untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Pak Haji, gak boleh saya makan gini-gini karena kolesterol,” kata Kiai Hasyim menolak dengan diikuti penjelasan kesehatannya. Tapi kiai Madura itu tidak putus asa agar Kiai Hasyim tetap memakannya.?

Ia berujar kepada Kiai Hasyim, “Jangan dimakan kolesterolnya kiai, dagingnya saja (yang dimakan),” timpal si kiai asal Madura itu dengan logat khas Maduranya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kisah ini diceritakan Prof Mas’ud Said saat menghadiri 40 hari Almaghfurlah KH Hasyim Muzadi di Pesantren Al-Hikam Depok, Jawa Barat, Ahad (23/4). (Husni Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 08 Desember 2017

Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Angin puting beliung yang menyambar 80 rumah ,tepatnya di Dusun Sumber Miri, Desa Bugasur Kedaleman, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Sabtu (1/10) lalu memantik banyak pihak untuk meringankan beban para korban.

Kali ini upaya untuk menggalang bantuan kemanusiaan terlihat dari kalangan pelajar NU setempat. Mereka turun ke jalan sembari membawa kotak kardus yang bertuliskan "bantuan untuk korban puting beliung Kecamatan Gudo" dan tersebar di beberapa titik yang dianggap ramai dilewati pengendara.?

Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung

Hanifuddin, salah seorang Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gudo saat ditemui di jalan utara Kebon Rojo Jombang mengaku, dirinya juga merasa terpanggil untuk ikut andil membantu para korban setelah mengetahui keberadaan para korban hingga saat ini masih membutuhkan bantuan.

"Kami dan teman-teman menggalang bantuan semacam ini di tiga tempat Mas, dua diantaranya di jalan alun-alun Jombang dan di jalan dekat Keplaksari (Kebon Ratu)," katanya kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Ahad (9/10) siang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia mengungkapkan, setelah dirinya mengunjungi keberadaan korban dan kondisi rumah korban sebelumnya, bantuan yang paling dibutuhkan adalah peralatan rumah.?

"Kalau makanan sih tidak begitu Mas, yang paling tampak kebutuhannya sekarang perabot-perabot rumah," ujarnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dengan demikian, semua dana hasil keringat karena panas matahari di jalanan itu akan dikumpulkan, kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan hingga kini.?

"Kami akan survei lagi ke sana, agar uang ini tepat guna," ucap dia sambil mengusap keringat di lehernya. ?

Sesuai data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang, 7 rumah rusak parah, 26 rumah mengalami kerusakan sedang dan 47 rumah rusak ringan. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Lomba, AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 07 Desember 2017

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Bila kita berkunjung ke kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 154, Jakarta, tiap Rabu pada minggu keempat saban bulan, ratusan warga akan terlihat sedang duduk bersila di Masjid An-Nahdlah begitu sembahyang jamaah isya’ usai.

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Mereka yang sibuk merapalkan doa-doa, shalawat, dan ayat-ayat al-Qur’an itu datang dari daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebagian merupakan jamaah dari majelis taklim tertentu, ada yang dari pesantren, serta banyak pula warga umum yang memang senang mengikuti majelis dzikir dan pengajian.

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) memang memfasiltiasi kegiatan bertajuk “Istighotsah dan Pengajian Bulanan” ini sebagai forum silaturahim, penguatan rohani, juga sarana menimba ilmu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selepas istighotsah, jamaah akan menyimak sekaligus bisa berdiskusi dengan para mubaligh yang dihadirkan. Beberapa ulama luar negeri pernah duduk lesehan bersama Nahdliyin dalam forum ini, di antaranya Syaikh Muhammad Utsman asal Palestina dan Syekh Khalil ad-Dabbagh dari Lebanon.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut salah satu pengurus Pengurus Pusat LDNU, Bukhori Muslim, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak sepuluh tahun silam. “Sudah ada sejak era Gus Dur. Persisnya saat kepemimpinan Kiai Nuril Huda (mantan Ketua PP LDNU),” ungkapnya usai acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan, Rabu (25/3) malam.

Tiap istighotsah, lanjut Bukhori, masjid PBNU selalu penuh jamaah hingga meluber ke halaman. “Banyak kiai dan habaib datang turut menyemarakkan kegiatan bulanan itu,” ujarnya.

Selain segenap pengurus LDNU, hadir pula dalam acara Rabu tadi malam pengasuh Pondok Pesantren al-Mishbah Jakarta, KH Misbahul Munir. Dalam ceramahnya, Kiai Misbah menjelaskan tentang keutamaan berdoa dan dzikir bersama.

“Dalam kitab al-Tibyan, diceritakan ada sekelompok orang berdoa kemudian ada yang mengamini, itu sangat dianjurkan. Yustahabbu khudhuru majlisi khatmil Quran,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Kiai Misbah, Rasulullah SAW justru mengimbau orang-orang yang haid untuk turut serta dalam majlis itu, untuk mengharapkan berkah doa dari kaum muslimin. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pesan Bunda

Oleh Naili Halimah

 Jam bandul di masjid pondok berdentang tiga kali. Gema suaranya merambat ke segala penjuru mata angin yang mampu dicapai dengan kakuatan dentangan itu sendiri. Gelombang ultrasonik itu menggelitik gendang telinga Kang Rahmat. Mata beratnya mencoba menangkap cahaya agar bisa melihat di sekitarnya, mengerjap-ngerjap, masih ngantuk.

Ia hampir terlelap kembali. Tapi ketika matanya menangkap sosok kecil Haikal yang meringkuk dalam pelukannya, ia tak jadi tidur kembali meski mata yang baru terlelap tadi jam 1, merengek minta diistirahatkan.

Pesan Bunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Bunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Bunda

Dengan penuh kasih, Kang Rahmat memandang wajah Haikal. Wajahnya muram, meski jauh lebih baik dari saat pertama kali datang. Bekas-bekas air wudhu belum kentara memancarkan cahaya wajahnya. Itu bisa dimaklum, dia baru 2 pekan mukim di pondok. Hati Kang Rahmat terasa sakit melihat wajah pucat Haikal. Dengan mata membengkak karena sudah 3 hari ini dia menangis terus. Dia tampak lebih kurus dari biasanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Ada apa sebenarnya, Kal?” tanya Kang Rahmat sambil mencium kening Haikal lembut. Kang Rahmat sangat menyayangi Haikal, bocah berusia 12 tahun itu telah ia anggap adik sendiri bahkan terkadang menanggap anaknya. Ia tak bisa membiarkan anak sekecil Haikal hidup sendiri meski harus dilatih mandiri.

“Sudah bangun?” tanya Kang Rahmat saat dilihatnya mata bengkak Haikal mengerjap-ngerjap. Dalam  hatinya berdoa semoga Haikal tidak merengek minta pulang seperti 3 hari sebelumnya. Ia khawatir Haikal benar-benar akan melarikan diri seperti katanya tadi malam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Jam berapa, Kang?” tanya Haikal. Serak. Ia menarik sarung sampai ke leher dan merapatkannya ke tubuh, meringkuk kembali dengan mata merem-melek.

“Tahajud, yuk!” ajak Kang Rahmat.

Haikal mengangguk kecil, tapi tetap dalam posisi semula.

Kang Rahmat bangkit dan menawarkan punggungnya untuk Haikal. Tapi bocah itu malah diam sambil mengucek-ngucek mata.

“Ayolah…!” bujuk Kang Rahmat seraya memunggung Haikal, agar mudah menaikinya.

”Berat lho, Kang,” serak Haikal masih dengan mata menyipit.

“Apa? Berat? Mana mungkin, Kal. Lihat tanganmu saja separuh tanganku. Mana mungkin bagiku kamu berat. Cepat naik daripada nanti kamu kecebur kolam,” jawab Kang Rahmat seraya menarik Haikal ke punggungnya.

Tanpa terasa rasa damai merasuki jiwa Haikal di tengah rasa gundahnya. Ia  menemukan muara kesejukan. Dengan pasrah, ia meletakkan  kepalanya  di punggung Kang Rahmat, mencoba merengkuh semua rasa damai dan hangat dari lelaki itu. Tangan kecil terulur melingkar di leher Kang Rahmat.

“Kang, aku pengen pulang,” rengek Haikal. Suara seraknya menggema dalam hati Kang Rahmat. Suara itu seakan transfer rasa sakit akan luka hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca.

”Kapan, Kang, aku boleh pulang,” ucapnya lagi. Kini, air mata tak kuasa dibendung, mengalir.

Kang Rahmat merasakan punggungnya menghangat, ikut merasakan sesak yang dirasakan Haikal. Ia diam. Habis kata-kata untuk menenangkan Haikal. Ia tak tahu bagaimana cara menolongnya, sedang ia sama sekali tak tahu yang tengah terjadi.

”Sabar, Kal, Allah pasti memberi jalan. Di balik segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya,” akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Kang Rahmat, setelah meraba-raba, kira-kira apa yang menyebabkan Haikal jadi seperti itu.

Sampai di depan masjid, Kang Rahmat menurunkan Haikal di anak tangga teratas. Mereka duduk bersebelahan. Mata bengkak Haikal masih saja basah. Bahkan sesekali air mata mengalir di pipi kurusnya. Dengan penuh kasih sayang, Kang Rahmat merangkul bahu Haikal, mencoba memberi kekuatan.

“Sudahlah, Kal, nanti kamu malah kehabisan air mata. Kamu mau menangis, bisa keluar matanya,” hibur kang Rahmat mencoba melucu. Tapi bukannya diam atau tersenyum, Haikal malah serenggukan.

”Aduh malah jadi begini,” batin Kang Rahmat. Pikirnya melayang mencoba menelusuri jejak-jejak hidup di 3 hari yang lalu. Mencoba mencari onak apa yang telah merebut senyum dan keceriaan Haikal. Ya, kini ingat 3 hari yang lalu ada surat. Dan sejak itulah Haikal berubah jadi pendiam, suka menyendiri dan sering menangis.

“Sebenarnya kamu ini kenapa? Kemarin-kemarin kamu ceria. Kamu bilang juga kerasan. Lha ini kenapa kok kamu jadi nangis terus begini, apa ada yang jail atau...?”

“Aku ingin pulang, Kang,….” Haikal memotong, sambil menghapus air matanya, menahan isak tangisnya.

Kang Rahmat mendesah melihatnya. Dengan lembut, ia membelai kepala Haikal. Kemudian menyandarkannya ke pundaknya.

Sejenak hening dan diam.

”Haikal, kamu ingat, kamu pernah bilang, mau jadi anak yang soleh, menjadi orang yang pinter ngaji, bisa ndongakke marang wong tuwo loro, seperti yang ibu kamu harapkan. Kamu harus kerasan! Harus bertahan hingga 40 hari, baru pulang! Kamu masih ingat kan pesan dan harapan ayah ibumu sebelum kamu ke sini?” nasihat Kang Rahmat.

”Masak baru 2 pekan udah mau pulang? Dapet apa, Kal? Juz ‘Amma aja belum hafal, gimana bisa mendoakan orang tua? Ingat, Kal, apa pun yang terasa berat di hati kita, itu cobaan untuk orang yang sedang menuntut ilmu. Di mana-mana, orang menuntut ilmu pasti dicoba Allah. Dan kamu harus tahu Allah itu mencoba kita menurut kadar kemampuan kita,” panjang lebar Kang Rahmat melanjutkan nasihat.

Bukannya diam, tangis Haikal kian menjadi. Ia teringat nasihat ibunya saat ia berangkat. Ingat kata-kata sarat makna yang mengalir dari jiwa ibunya ketika ia hendak berangkat mondok. Air mata orang tua itu tak berjeda, terus mengalir mengantar kepergian Haikal. Antara rela dan tak rela, antara berat dan harapan tinggi akan putera semata wayangnya.

”Hiks…Ibu, maafkan Haikal, ibu….”

“Ada apa, Kang?” satu suara bertanya.

Ternyata Rusydi yang mimpi indahnya terganggu tangisan. Beberapa santri yang tidur di serambi masjid juga terbangun.

“Ini, Kang, Haikal masih minta pulang,” jawab Kang Rahmat tak enak hati.

“Oh…..” Kang Rusydi maklum. Segera berlalu.

Sepeniggal Kang Rusydi, Kang Rahmat langsung memeluk Haikal, membiarkan menangis di dadanya.”

“Ayo, katanya mau tahajud,” bisik Kang Rahmat setelah Haikal tenang, ”jangan lupa berdoa sama gusti Allah semoga kita diberi hati yang istikomah. Semoga kuat menghadapi cobaan. Semoga diberi ilmu yang bermanfaat dunia akhirat. Semoga kita bisa bakti sama orang tua. Doakan bapak, emak di rumah. Kita di sini disuruh ngaji dan berdoa untuk mereka, bukan buat menangisinya. Di pundak kita ada beban. Kita harus jadi orang berilmu lagi mengamalkan ilmunya seperti harapan orang tua. Ayo kita wudhu,” panjang lebar Kang Rahmat bicara.

Usai berkata begitu, Kang Rahmat membimbing Haikal ke kolam untuk berwudhu.

Musik masih menggema; nyanyian ribuan jangkrik masih memenuhi jagat malam itu. Di langit, bulan sabit merajai lukisan malam dan kerlip bintang-gemintang di lautan pekat petaka angkasa. Di dalam masjid pondok, di antara santri-santri yang tengah khusuk qiyamul lail, Haikal bersimpuh di atas sajadahnya.

Air mata yang terus mengalir sejak ia takhbirotul ihrom tadi, kini tumpah-ruah di atas sajadah. Hati yang senantiasa gundah berselimut prasangka, ia pasrahkan sepenuhnya pada yang menciptakan jagat raya. Ia mengadu segala duka lara hati pada Ilahi, memasrahkan takdir pada yang berhak mengubah takdir.

Dalam benaknya, berkelebat bayangan pucat ibunya; tersenyum memudakan kembali segala nasihat yang pernah diberi.

“Ilahi, hanya kepada-Mu kembalinya segala sesuatu. Hanya di tangan-Mu segala apa yang ada. Engkau Penguasa Yang Maha Perkasa, namun begitu bijaksana. Rob, atas rido dan rahmat-Mu, atas taufik dan hidayah-Mu, kuatkan hamba hadapi segala cobaan. Beri hamba rizki ilmu yang bermanfaat. Rob, beri hamba kekuatan, kesehatan, kemudahan dalam menuntut ilmu-Mu. Jauh di sana ya Rob, semoga Engkau senantiasa melebarkan sayap rahman rahim-Mu kepada ayah-ibu limpahkan beribu kebaikan atas mereka, ya Rob.

Haikal terus berdoa dengan linangan air mata, terus memohon dengan kerendahan jiwa untuk kedua orang tuanya.

Di pojok saf pertama Kang Rahmat menatap Haikal sedih. Diam-diam ia menyelinap keluar masjid. Angin menyapanya di tengah keremangan cahaya lampu, membuatnya menggigil kedinginan. Bulu romanya meremang. Ia tak peduli, tetap melangkahkan kaki, kembali menyusuri jalan menuju pondok; menuju kamar 7, kamar yang terletak paling ujung dari 7 kamar yang ada.

Sesampainya di kamar, Kang Rahmat segera menghampiri tempat pakaian Haikal, mencari-cari kertas yang menurutnya membuat Haikal bermuram durja. Lama ia  membuka-buka sela pakaian. Nihil. Ia beralih ke tempat kitab Haikal yang isinya cuma beberapa buku tulis dan kitab. Dengan mudah, ia menemukan amplop putih dalam Arbain Nawawi. Perlahan, dengan hati berdebar, Kang Rahmat membuka amplop itu. isinya  lipatan kertas kecil. Tampak rangkain kata ditulis dalam keadaan tak menentu. Tulisannya tak karuan. Bahkan tanpa pembuka maupun penutup. Singkat padat dan langsung pada inti permasalahan.

Ananda tercinta, bolehkah bunda bermain kata? Meski teramat singkat, Haikal sayang, maafkan bapak, bunda telah melanggar aturan pondok dengan berkirim berita pada waktu yang salah, tapi Haikal, ibu hanya berpesan .doakan ibu, Nak. Ibu sedikit demam. Doakan ya semoga lekas sembuh dan bisa bantu ayah di rumah. Ayah harus masak, nyuci sendiri belum lagi ngurus ibu. Haikal uangnya masih kan? Dihemat dulu, ya. Mungkin kirimannya agak telat. Maafkan ayah ibu, Haikal. Jangan lupa ngaji yang benar, berdoa buat kebaikan semuanya. Percayalah, Allah itu kuasa. Pesan ibu, Nak, kerasan di pondok, ya, ngaji yang temen, d barengi doa dan riyadhoh. Jangan lupa puasa ya, Nak, masani ilmumu biar sedikit, yang penting manfaat.

Tanpa terasa air mata Kang Rahmat menitik membaca surat itu. Tapi di sudut hatinya, ada rasa yang mengusik ketenangan batinnya. Entahlah, dosa apakah jika ia sama sekali tak percaya akan isi surat itu? Hati kecilnya berkata bahwa ibu Haikal tak hanya demam, ia merasa ada yang lebih menghawatirkan dari itu. Mungkin Haikal juga merasa seperti itu. Pantas dia begitu sedih dan ngotot minta pulang. Haikal adalah semata wayang dan disayang.

Kini Kang Rahamt tahu dan paham perasaan Haikal.

Suara azan Subuh terdengar bersahut-sahutan. Suara merdu Kang Maimun terdengar paling jelas bagi Kang Rahmat. Cepat-cepat ia melipat surat itu, mengembalikannya ke tempat semula dan segera berlari ke masjid bersama para santri yang baru saja terjaga dari mimpinya.

Usai shalat Subuh, Haikal masih duduk di tempat semula. Ia bermunajat dengan teramat khusyuknya. Begitu Haikal meraupkan kedua tangannya ke wajah, Kang Rahmat mendekatinya, duduk di sampingnya.

“Ngaji!” kata Kang Rahmat begitu Haikal menatapnya. Anak itu mengangguk, lalu mereka berdua segera bangkit berjalan beriringan keluar dari masjid. Mereka tampak seperti bapak dan anak.

“Kang, Haikal duluan, ya,” pamit Haikal lalu berbelok ke aula tempat para santri ngaji sama Abah atau pengasuh pondok pesantren.

“Ya. Sudah hafal kan?”

“Insya Allah, Kang,”sahut Haikal yang separuh tubuhnya telah menasuki aula.

Begitu Haikal bergabung dengan santri-santri yang tengah menunggu Abah rawuh, Kang Rahmat pergi ke kantor pondok. Di sana ada Kang Umam, lurah pondok. Langsung saja Kang Rahmat mengutarakan maksud kedatangannya ke kantor untuk meminjam HP pondok dan menceritakan sekilas tentang Haikal.

“Ini, Kang,” lurah pondok itu menyerahkan sebuah ponsel.

“Terima kasih.”

“Semoga tak separah yang kita bayangkan,” gumam Kang Umam.

“Aku harap juga gitu, Kang,” balas Kang Rahmat sambil menghubungi nomor yang tadi dicatat di secarik kertas, saat ia mencari-cari surat ibu Haikal.

Tak lama kemudian terdengar nada sambung.

“Assalamu’alaikum, Bapak, ini teman Haikal,” terang Kang Rahmat sebelum ayah Haikal bertanya. Alih-alih mendapat jawaban, Kang Rahmat malah mendengar helaan nafas panjang.

Kemudian hening.

Kang Rahmat Menunggu.

”Hiks… hiks…, Nak Rahmat,” suara di seberang serak dan berat.

Seketika pikiran Kang Rahmat melayang. Ia teringat Haikal. Hatinya bergemuruh seakan dirinya adalah Haikal. Jantungnya berdegup kencang bersiap menerima kabar terburuk yang akan menghempaskannya dalam lautan air mata.

"Ah……bila aku sesakit ini bagaimana dengan Haikal yang benar-benar pemeran utama,” Kang Rahmat membatin. Tak sadar air matanya meleleh.

“Gimana keadaan ibu, Pak?” lirih kang Rahmat begitu ia mampu menguasai perasaan.

Diam. Hanya isak kecil. Tak ada jawaban dari seberang.

“I…I…Ibu sa… sakit, Nak. Gi... gi… ginjalnya… ha…harus di...operasi cangkok ginjal.”

“Innalillahi…,” batin Kang Rahmat.

“Doakan ya, Nak. Se… semoga ada donor ginjal dan operasinya berhasil.”

“Tentu Pak, kami akan berdoa untuk ibu,” sahut Kang Rahmat dengan hati carut marut.

“Nak, jangan sampai Haikal tahu, ya. Rahasiakan ini dari Haikal. Bi…bilang saja ibu sudah baikan. Sudah dulu ya, Nak, bapak masih banyak kerjaan.”

“Ya. Assalamu’alaikum warahmatullah.”

Terdengar serak ayah Haikal menjawab salam sebelum sambungan terputus.

Kang Rahmat menghela nafas berat, dikembalikannya HP kepada Kang Umam.

”Harus operasi cangkok ginjal. Parahnya, sampai hari ini belum ada donor yang cocok,” jelas Kang Rahmat lemah, menjawab tanda tanyanya di wajah sahabtnya.

”Tolong, jangan bilang sama Haikal,” gumam Kang Rahmat lagi.

“Kasihan, baru dua pekan mondok, cobaannya sudah seberat ini,” sahut Kang Umam turut sedih.

“Ya.”

“Ada Kang Rahmat?” tiba-tiba Kang Syamsul nongol, “tuh, dicari Haikal!” tambahnya.

Kang Rahmat segera bangkit. Kemudian pamitan.

Hari beranjak siang. Kang Rahmat mengira masih remang. Ternyata matahari mulai bersinar. Hari yang cerah membuat suasana pagi terang lebih awal. Tentu saja burung-burung menyambut suka cita.

Tanpa banyak kata, Kang Rahmat bergegas menuju masjid. Dia hafal betul Haikal paling suka tiduran di bawah bedug masjid sambil menghafal Juz Amma atau hadits. Suasana agak sepi. Hanya ada beberapa santri yang sedang menghafal atau i’tikaf sambil menunggu dhuha.

Benar saja, Haikal sedang tiduran di bawah bedug beralaskan sajadah. Tangannya memegang Juz Amma. Kang rahmat mendekat. Sebenarnya tiap kali ia melihat Haikal tidur di bawah bedug, ia ingin selalu tertawa. Bagaimana tidak, orang Haikal seperti ulat digencet batu. Ukuran bedug itu 10 kali lipat tubuh Haikal.

“Cari aku, ya?” tanya Kang Rahmat ketika anak itu menghentikan hafalannya.

Haikal menutup Juz Amma dan meletakkannya di atas penyangga bedug.

“Sini, jangan di situ, aku kan nggak bisa masuk!” imbuh Kang Rahmat sambil menarik sajadah Haikal, namun ia berkelit dengan tampang sedihnya.

“Heh, ke sini bocah nakal!” gerutu Kang Rahmat beralih menangkap ujung sarung Haikal. Lalu menariknya hingga kedodoran. Begitu Haikal mendekat, Kang Rahmat segera menang kap kakinya. Lalu menariknya hingga tubuh Haikal keluar dari bayang beduk.

“Aku pengen pulang, Kang,” gumam Haikal tanpa merapikan sarungnya. Matanya menerawang jauh entah kemana.

“Huh, pulang lagi, pulang lagi,” batin Kang Rahmat mulai pusing.

“Pulang? Mau apa? Wong kamu tuh disuruh ngaji yang bener. Biar jadi anak soleh yang bisa mendoakan dan menolong orang tua di akhirat. Eh, malah minta pulang?” Kang Rahmat merebahkan tubuhnya di samping Haikal sambil melepas songkoknya. Dalam hati ia meniatkan i’tikaf. Sambil menyelam minum air.

“Kal, niatkan i’tikaf!” anjur Kang Rahmat.

“Sudah, Kang, tapi aku mau pulang,” rengek Haikal lagi. Kini perasaannya benar-benar tak nyaman. Bayangan ibunya yang tengah terbaring tak berdaya mengiris-iris hatinya.

“Sudahlah, Kal, bukannya kamu lebih baik di sini? Kalau di rumah malah merepotkan ayah ibumu. Mau apa di rumah? Tak ada yang bisa dikerjakan anak sekecil kamu!”

“Ibu sa…sa… sakit, Kang,” Haikal mulai menangis. Lepas. Air mata bercucuran. Beban berton-ton yang selama ini ia pikul sendiri sudah mampu ia lepaskan,“aku tak percaya ibu cuma demam. Perasaanku tak enak, Kang. Seperti ada yang…” kalimatnya terputus.

 “Ssssst…jangan berkata begitu!” Kang Rahmat memiringkan badan. Lalu membelai rambut Haikal dengan lembut. Ditariknya anak itu mendekat. Kemudian membenamkan wajah Haikal di dadanya.

“Jangan berprasangka buruk dulu. Siapa tahu itu cuma perasaanmu yang terlalu khawatir atau terlalu kangen. Bisa saja kan?” terang Kang Rahmat. Suaranya parau karena tak kuasa juga menahan perasaannya. Air matanya sendiri pun tak kuasa dibendung. Namun lekas-lekas menghapusnya. Ia tak mau Haikal tahu ia menangis.

“Ah, apa yang harus aku lakukan, ya Allah?” batin Kang Rahmat merintih.

“Tapi, Kang, aku…”

“Tidak baik berprasangka kepada Allah. Berdoa saja semoga ibu kamu lekas sembuh,” hibur Kang Rahmat.

Haikal diam. Perlahan tangisnya mereda, meski masih serenggukan. Ia melepaskan pelukan Kang Rahmat; menghapus air matanya dengan ujung kemeja. Meski tampak mendung, wajah Haikal agak tenang.

“Benar juga, Kang. Selama ini aku terlalu dekat sama ibu. Aku tak pernah jauh dari ibu. Aku seperti ekor ibu, kemana saja selalu ikut, kecuali ke kamar karena takut sama ayah. Dulu pun kalau ibu sakit, aku suka ikut-ikutan sakit.”

“Tuh kan bener. Kamunya aja yang terlalu percaya sama perasaan, tapi jangan lupa doakan ibumu semoga lekas baikan dan yang pasti kamu harus sabar dan ikhlas menerima cobaan.”

“Itu pasti aku usahain, Kang. Aku kan pengen jadi anak yang bakti sama orang tua. Ibu bilang aku harus kerasan, harus jadi anak yang soleh, biar berguna bagi orang tua gitu, Kang,” terang Haikal. Agak ceria, bahkan tersungging senyum manis sembari mengusap sisa-sisa ai mata dan ingusnya.

Melihat tingkah Haikal, hati kang rahmat merintih. Ingin rasanya ia menangis, matanya memanas.

“Udah…udah ngocehnya. Sekarang menghafal lagi, biar nanti ditambah. Malu kan kalau ngulang seperti kemarin? Masa surat Al-Zalzalah yang cuma 8 ayat nggak hafal? Bukan anak cerdas namanya,” Kang Rahmat memasang tampang lucu, mencoba menghilangkan perasaannya.

“He he he…namanya juga lupa, Kang,” sahut Haikal sambil meraih songkok dan Juz Amaa.

“Tapi, Kang, aku kepikir ibu terus perasa…”

“Ah, sudah, sudah dhuha…” teriak Kang Rahmat mengalihkan perhatian Haikal. Ia segera bangkit lalu menarik tangan anak itu. Ia tak mau melihat air matanya lagi. Melihat Haikal sedih, ia ikut-ikutan sedih. Apalagi ia lebih tau dari Haikal.

“Kang…,” Haikal masih saja berfikir tentang keadaan ibunya, Kang Rahmat mulai jengah.

“Dhuha! Ayo jangan malas! Dasar, nakal!” gurau Kang Rahmat sambil menarik anak itu ke punggungnya. Dan detik itu pula, Kang Rahmat telah menggendong Haikal sambil melangkah menuju kolam.

“Kok bau, nggak mandi ya?” tanya Kang Rahmat sambil memonyongkan bibirnya.

“Bau yo, Kang?” Haikal balas tanya sambil merentangkan tangannya.

“Banget!”

“Hahaha… kena deh. Emang aku nggak mandi dari kemarin, Kang.”

Belum usai Haikal berkata, tubuhnya diturunkan dari pundak Kang Rahmat

“Hiah… dasar anak nakal!” teriak Kang Rahmat.

Haikal jatuh terduduk sambil tertawa. Senang melihat tingkah Kang Rahmat yang menurutnya begitu lucu.

***

Usai shalat dhuha, Haikal kembali tiduran di bawah bedug sambil menghafal Juz Amma lagi. Jauh darinya, Kang Rahmat duduk bersandar pada tiang masjid sambil membaca kitab Tanbihul Ghofilin yang selalu ia tinggalkan di masjid. Keduanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sibuk memasukkan partikel-partikel ilmu ke dalam sanubari, tidak hanya ke dalam otak belaka. Dan tak jauh dari mereka, santri-santri juga melakukan hal yang sama.

Angin bertiup sepoi-sepoi. Terasa sangat sejuk. Matahari bersinar tak terlalu menyengat. Hangat di sekujur tubuh, menyehatkan karena dapat mengubah pro vitamin D menjadi vitamin D yang sangat baik untuk pertumbuhan tulang. Sungguh suasana yang sangat nyaman.

Di tempatnya masing-masing, Haikal dan Kang Kahmat mulai liyer-liyer; merasakan nikmat belaian alam sampai akhirnya kedua insan itu terlelap dengan posisi yang sangat unik. Haikal tertidur di bawah bedug dengan songkok hitam menutupi wajahnya dan Juz Amma terjatuh di dadanya. Mulutnya melongo siap kejatuhan kotoran cicak. Sementara Kang rahmat tertidur dengan kepala menunduk dalam-dalam. Songkok terjatuh di sampingnya. Rambut hitamnya berantakan. Kitabnya tergeletak begitu saja di pangkuannya. Tidak ketinggalan mulutnya juga melongo nyaris goa salah tempat.

“Kang, Kang Rahmat, Kang rahmat!” teriak Kang Umam sambil berlari, “Kang rahmat!” suara itu terdengar amat nyaring.

Kang Rahmat gelagapan, sampai-sampai kitabnya terjatu. Segera diraihnya kembali kitab itu berikut songkoknya.

"Dug… terdengar suara benda jatuh. Disusul jerit “Adaw,” suara kening haikal yang tertidur di bawah bedug kepentok bedug itu sendiri ketika ia kaget mendengar suara kang umam. Haikal jatuh tertidur kembali, ia meringis sambil mengelus-elus keningnya yang sakit.

“Ada apa kang?” tanya Kang Rahmat sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Kang Umam tak langsung menjawab. Ditatapnya Haikal yang tengah berguling keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Kang Rahmat, berbisik sebentar. Mendadak wajah yang dibisiki menegang, dan langsung ditatapnya Haikal dengan perasaan campur-aduk.

“Suruh ke kantor, kang!” pinta Kang Umam.

“Ya,” sahut Kang Rahmat tanpa ekspresi. Ia segera bangkit dan berlari secepat kilat ke kantor. Disusul Kang Umam yang juga berlari meninggalkan Haikal sendiri dengan tanda tanya besar di otaknya; semacam prasangka tiba-tiba muncul tanpa ia pinta.

Perasaan tak nyaman bergumul-gumul dalam dadanya; sesak, entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas. Matanya memerah. Bayangan ibunya, segala tingkah lakunya dulu yang menhyusahkan ibunya berkelebat, menimbulkan sesal dan rasa bersalah bergunung-gunung. Ingin ia berlari pulang; memeluk ibunya, mencium tangannya, bersimpuh memohon maaf akan segala dosanya yang telah diperbuat.

“Ibu…” rintih Haikal pilu. Air matanya menganak sungai. Hatinya sakit. Teramat sakit.

Entah dorongan dari mana, dengan langkah gontai dan mata terus basah, Haikal melangkahkan kaki menuju kantor. Peduli apa, dia ingin di sisi Kang Rahmat. Ingin tahu kenapa orang yang sangat disayanginya itu tampak begitu tegang dan panik. Tak mungkin hanya musyawarah pengurus. Ia yakin ada yang lain, ada yang tersembunyi.

***

Sementara itu di kantor, Kang Rahmat menanti HP yang tergeletak di atas meja itu bergetar, rasanya terlalu, lama benda itu tak kunjung menyala atau bergetar. Ia mondar-mandir, gelisah, sebentar duduk, berdiri lalu duduk kembali.

“Kring...” ponsel yang ditunggu itu bergetar. Dengan tangkas Kang Rahmat menyambar benda itu dan langsung menempelkan ke pipinya begitu menekan tombol OK.

“Assalamu’alaikum, Bapak ini Rahmat…!” sergahnya.

“Kang Rahmat, maaf kami mau bicara dengan Kang Dwi di koperasi!”

“Oh, maaf, ada apa? Nanti saya sampaikan…” sahut Kang Rahmat lemas campur kecewa.

“Kitab pesanannya sudah ada. Bisa diambil kapan saja pada jam kerja.”

“Ya, nanti saya sampaikan,” sahut Kang Rahmat kembali tanpa semangat.

Setelah mengucapkan terima kasih dan salam, suara di seberang hilang. Sambungan terputus.

Dengan kecewa dan hati makin kalut, Kang Rahmat meletakkan HP itu di atas meja. Di seberangnya, Kang Umam juga tak kalah sedih

“Lama sekali!” gerutu Kang Rahmat.

“Lagi sibuk kali. Tadi saja kayaknya buru-buru banget.”

“Huh…,Kang…, perasaanku…” desah Kang Rahmat tak selesai karena ponsel kembali bergetar. Ia langsung.

“Rahmat…,” terdengar suara serak dari seberang tanpa mengucap salam, disusul suara isak tangis kecil yang berusaha ditahan-tahan.

“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Rahmat dengan jantung berdebar kencang seakan menanti putusan hakim menanti vonis terburuk yang akan diterimanya.

“Ibu… men… ni…ning… ibu … meninggal, Mat…hiks. Gagal ginjal…!”

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun…” desis Kang Rahmat cukup keras untuk didengar sepasang telinga yang sejak tadi mendengarkan dari balik pintu dengan tubuh gemetar.

“Tolong jaga Haikal dulu. Bapak titip Haikal. Jangan beri tahu dia. Masih terlalu kecil,” pesan suara du seberang dengan suara serak dan tersendat.

Kang Rahmat yang perasaannya sudah kacau-balau, tak bisa menjawab. Tubuhnya lemas. Telapak tangannya basah dan matanya berkaca-kaca. Bayangannya kepada Haikal kecil. Haikal yang akhir-akhir ini menangis terus.

“Si…si…siapa yang me…me…meninggal, Kang?” suara serak dan tersendat Haikal menyentakkan Kang Rahmat dan Kang Umam yang sejak tadi diam dalam kesedihan. Tanpa terasa HP terjatuh di karpet. Kang Rahmat terpana menatap Haikal sudah berdiri di ambang pintu dengan air mata merebak. Tubuhnya gemetar hebat. Detik itu waktu terasa terhenti. Tegang dengan rasa tiada tentu. Rasa sakit tiada terukur.

"Bruk...," suara tubuh Haikal jatuh terduduk di lantai dengan tubuh lunglai. Air mata terus keluar, tapi suaranya tak ada. Ia sesenggukan. Tanpa daya, antara sadar dan tidak sadar.

Melihat haikal roboh, kang rahmat tersadar dari kebekuan. Ia segera menyongsongnya; merengkuh tubuhnya yang lunglai di pelukan.

Wajah Haikal begitu pucat. Tangannya sedingin es. Tubuhnya bak tak bertulang belakang.

“Haikal, tabah Haikal…, kamu harus kuat…,” bisik Kang Rahmat seraya membenamkan wajah anak itu ke dadanya. Kang Umam yang hanya bisa melihat, turut menitikkan air mata. Hatinya turut terluka mengetahui apa yang menimpa Haikal kecil.

“Haikal … tabah!” bisik Kang Rahmat kembali. Diangkatnya tubuh anak itu. Lalu membaringkannya di karpet. Kang Umam meraih songkok Haikal yang terjatuh dan ikut mendekati tubuh yang terbaring lemah dengan mata terpejam, namun mengalirkan air mata itu; sesekali sesenggukan.

“Haikal, kamu sadar kan? Tabah Haikal…” bisik Kang Rahmat sambil mengelus pipi anak itu.

“Ibu, Kang, ibu….Haikal belum minta maaf sama ibu, Kang!” lirih Haikal seperti tidak sadar, "Ibu… Hhaikal minta maaf, bu… dosa Haikal banyak.”

“Haikal … bangun… bangun…!” Kang Rahmat menepuk pipi haikal. Perlahan ia membuka mata; menatap Kang Rahmat memelas. “

"Haikal, percayalah… ibumu sudah memaafkanmu. Ayahmu bilang, kamu harus tetap di sini. Jangan pulang…!” Kang Rahmat membelai rambutnya dengan lembut.

“Aku banyak dosa, Kang!”

“Tenang, Haikal… doakan saja semoga ibumu khusnul khotimah, percayalah ibumu sudah memaafkanmu, kalau tak percaya nanti kang rahmat telfonkan ayahmu, kalau boleh bicara asal kamu janji gak minta pulang. Kamu harus kuat haikal, kamu harus jadi orang yang berguna bagi ibu dan ayahmu, yang bisa mendoakan mereka…”

“Ya, Kang aku nggak akan pulang. Tapi, Kang, ibu…,”

“Percayalah kalau kamu pulang dan gagal, ibumu di alam sana akan sedih dan kecewa.”

“Hu hu huh uhu… Ibu, maafkan Haikal. Haikal janji tetap di sini ngirim doa buat ibu…”

Haikal terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Kang Rahmat.

“Tabah, Kal… tabah…!” bisik Kang Rahmat sambil membelai kepalanya.

 

Pesan Bunda, merupakan Juara I kategori cerpen pada sayembara penulisan kreatif yang digelar Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) 2012.Internet Marketer Nahdlatul Ulamaakan memuat pula cerpen juara II dan III, serta beberapa nominasi juara, tiap akhir pekan, secara berurutan.

Naili Halimah, lahir di Magelang, 21 Juni 1990, di Dusun Bugangan, Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Nyantri di Pondok Pesantren Ma’ahidul ‘Irfan; terletak di Dusun Soropaten, Desa Gandusari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

Keterangan gambar: lukisan Affandi

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Aswaja, Budaya Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 06 Desember 2017

Teknologi Informasi Harus Solidkan Warga NU

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mengimbau warga NU untuk memanfaatkan teknologi informasi bagi kepentingan NU baik keorganisasian maupun kewargaan NU. Dengan itu, NU dan warganya diharapkan menjadi lebih solid.

Demikian dikatakan Kiai Hasyim di hadapan ratusan hadirin dalam peresmian kerja sama pelatihan informasi dan teknologi antara PCNU kota Surakarta dan PT Telkom di Hotel Lampion, Solo, Senin (17/3).

Teknologi Informasi Harus Solidkan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Teknologi Informasi Harus Solidkan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Teknologi Informasi Harus Solidkan Warga NU

Seiring peningkatan penggunaan teknologi informasi di kalangan warga NU, “Gerakan NU bisa lebih cepat dan terkoordinir,” kata Kiai Hasyim.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Disaksikan ratusan orang, kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan antara kedua pihak. Tampak hadir dalam peresmian ini KH Hasyim dan Komisaris Utama Telkom Indonesia Jusman Syafii Djamal.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pascaperesmian, pelatihan internet gratis dan bersertifikat untuk warga NU akan dimulai. Menurut Manager CS Telkom Area Solo Raharjo, pelatihan tersebut akan dilaksanakan di Kantor PCNU Solo, Jawa Tengah. “Peserta nantinya akan dikelompokkan menjadi 3 kelas,” terangnya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Kiai, Halaqoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 03 Desember 2017

PWI Jombang Sediakan Posko untuk Wartawan Muktamar

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Muktamar ke-33 NU di Jombang yang bakal digelar 1-5 Agustus 2015 mendapat perhatian berbagai kalangan. Tak ketinggalan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Organisasi profesi wartawan ini menyatakan kesiapannya turut menyukseskan perhelatan akbar NU itu.

"Sebagai organisasi profesi, PWI Jombang khususnya akan ikut mensyukseskan kegiatan Muktamar NU yang ada di Jombang. Kita sudah komunikasikan dengan panitia daerah dalam hal ini Gus Ipul," ujar Yusuf Wibisono, Ketua PWI Jombang, Rabu (8/7), usai koordinasi dengan seluruh anggota di Grama Media Jl KH Wahid Hasyim, Jombang, Jawa Timur.

Ia mengatakan, menyongsong penyelenggaraan forum Musyawarah tertinggi NU tersebut, pihaknya mengadakan kegiatan “Bakti PWI untuk Muktamar ke-33 NU”. Salah satunya adalah memberikan informasi dan publikasi bagi masyarakat terkait agenda NU di kota santri.

PWI Jombang Sediakan Posko untuk Wartawan Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
PWI Jombang Sediakan Posko untuk Wartawan Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

PWI Jombang Sediakan Posko untuk Wartawan Muktamar

"Di samping memang sudah tugasnya mempublikasikan informasi, teman teman wartawan juga akan mendirikan posko untuk pekerja pers yang melakukan peliputan di arena Muktamar NU," imbunya seraya mengatakan, Jombang merupakan kota kelahiran tokoh tokoh besar pendiri NU seperti KH Hasyim Asyari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri dan juga Gus Dur.

Posko wartaman Muktamar NU ini, tambah Yusuf, akan menempati gedung Media Center di Jalan KH Wahid Hasyim yang merupakan kantor PWI Jombang. ? "Kebetulan gedung PWI ini lokasinya sangat dekat dengan lokasi utama yakni yang ada di alun alun Jombang, hanya sekitar 300 meteran. Temen-temen media yang melakukan peliputan baik dari media nasional maupun internasional bisa ngepos di sini, dan akan akan disediakan tenda, serta fasilitas pendukung seperti jaringan internet yang memadai untuk memudahkan mereka bekerja,” tandasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Bahkan, masih menurut Yusuf, Kantor PWI Jombang dikatakannya bisa digunakan untuk beristirahat bagi? para awak media. "Insyaallah juga akan disediakan ruangan tempat tidur dan kamar mandi, termasuk kopi biar temen-temen bekerja bisa nyaman," tandasnya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Quote, Pendidikan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 30 November 2017

Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi

Semenjak kecil, almarhum KH Abdul Ghoni gemar mengembara untuk menimba ilmu di berbagai pesantren di tanah Jawa. Riwayat pendidikannya dimulai di madrasah diniyyah ibtida’iyyah Tegal Sari Sala. 

Kemudian beliau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, yakni di Madrasah Tsanawaiyyah dan Aliyyah Mamba’ul Ulum Sala, dan lulus tahun 1939. Selain pendidikan formal, beliau yang haus ilmu, memperdalam ilmu agama dengan nyantrik ke beberapa pondok pesantren. Di antaranya di Jawa Timur beliau pernah ngaji di Pesantren Termas Pacitan (tahun 1940) yang diasuh Raden Sayyid Hasan dan Kiai Hamid bin Abdullah, Pesantren Mojosari Nganjuk yang dipimpin Kiai Zainuddin, dan Pesantren Tebu Ireng Jombang. Di pesantren yang disebut terakhir tadi, Mbah Sadjadi mengkhususkan untuk mengkhatamkan kitab hadist Shohih Bukhori.

Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mursyid Abdul Ghoni Atau Mbah Ahmad Sadjadi

Di Jawa Tengah, ia pernah nyantri di Pesantren Lasem asuhan Mbah Kiai Ma’sum, Pesantren Watucongol Muntilan asuhan Kiai Dalhar, dan Pesantren Bustanul Usyaqil Qur’an Demak asuhan Kiai Raden Muhammad bin Mahfudz at-Tirmizi. Di pesantren ini, ia berhasil menghafalkan Al-Qur’an selama 3 tahun (1941-1944). Ia juga pernah nyantri di Serang Banten di bawah bimbingan Kiai Haji Syam’un.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tak heran jika akhirnya Kiai Abdul Ghoni, atau yang lebih akrab disapa Mbah Sadjadi ini menjadi ulama yang sangat luas ilmunya. Ia menguasai berbagai macam keilmuan, seorang hafidul qur’an, ahli tafsir, ahli hadist, dan juga seorang ahli fiqih. Kiai Sadjadi menguasai ilmu perbandingan fiqih 4 mazhab.

Aktif berdakwah dan berorganisasi

Kiai Sadjadi sejak 1977 berada di lingkungan masjid M Tohir, Yosoroto Laweyan Solo. Dua tahun kemudian ia dipercaya untuk tinggal di masjid Yosoroto. Dan sejak itulah, para tamu dari thariqah asy-Syadziliyyah banyak yang berkunjung ke masjid. Setiap hari, puluhan orang bertamu ke Yosoroto.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut cerita dari KH Adib Zain, Sekretaris Jendral JATMAN, salah satu pengganti mursyid thoriqoh asy-Syadziliyyah, usai KHR Ma’ruf Mangun Wiyoto wafat, diantaranya adalah Mbah Sadjadi yang di usia lanjutnya dikenal dengan sebutan KH Abdul Ghoni. 

Ijazah Mbah Sadjadi diperoleh dari Kiai Ma’ruf dan Kiai Ahmad Abdul Haq, pengasuh Pondok pesantren Watucongol Muntilan.

Saat mengemban amanah di masjid Yosoroto, kiai yang juga dikenal sayang dengan anak-anak dan selalu berusaha shalat berjama’ah ini, mengadakan banyak kegiatan keagamaan, di antaranya adalah sema’an Al-Qur’an yang diselingi dengan penjelasan ayat yang dibaca, rutin setiap malam Rabu. Dan, khusus pada malam Rabu terakhir diselingi dengan pembacaan shalawat Burdah karya Imam Bushiri.

Mbah Sulaeman Tanon Sragen, salah satu santri Kiai Umar Al-Muayyad bercerita, ketika masih mondok di Al-Muayyad beliau sering disuruh untuk sema’an di masjid Yosoroto. Menurutnya, banyak kitab yang telah diserap dari lisan sang kiai, di antaranya tafsir Jalalain, Riyadus Shalihin dan lainnya.

Selain mengajar di Yosoroto, Kiai Sadjadi juga mengajar santri-santri Al-Muayyad. Kitab yang diajarkannya adalah tentang perbandingan madzhab “Al-Mizanul Kubro” karya Syekh Abil Mawahib bin Ahmad bin Aly al-Anshory. Sedangkan di Masjid Tegalsari Solo beliau mengajarkan Tafsir Jalalain, matan ghoyah wat taqrib dan Jawahirul Bukhori.

Tidak hanya itu, ternyata Kiai Sadjadi juga seorang dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta sejak 1947-1987. Pernah bergabung dalam Laskar Sabilillah Kota Surakarta (1946), juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Surakarta dari fraksi NU (1964-1965) dan menjabat mustasyar NU Kota Surakarta (1987). Sampai akhir hayat pada tahun 1987, beliau terus mengabdi untuk masyarakat.

Sabtu Pon 21 Maret 1987 bertepatan dengan 22 Rajab 1407 H sekitar pukul 19.00 WIB. Beliau pergi dalam usia 68 tahun. Kepergiannya membawa duka bagi keluarga, sahabat, para ulama dan santri-santri beliau. Kiai Sadjadi meninggalkan seorang istri, Nyai Hj. Chammah Sadjadi, 5 putra dan 3 putri.

Ada beberapa kesaksian menarik saat prosesi pemakaman beliau. Sebagaimana dikisahkan Ibu Nyai Hj. Baidhowi Syamsuri (istri KH Baidhowi Syamsuri, pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo) dan juga KH Abdul Karim Ahmad yang menyaksikan kepergian beliau. Saat keranda beliau diangkat oleh para santri dan keluarga secara silih berganti, keranda terasa ringan.

Orang-orang yang membawa keranda Kiai Sadjadi seakan berlari-lari sambil bershalawat burdah, “Karena ringannya keranda almarhum, yang mengangkat tak bisa menahan kakinya untuk berlari.” Kata KH Abdul Karim. Menurut Kiai yang akrab disapa Gus Karim, itu merupakan pertanda bahwa almarhum sudah tidak sabar ingin bertemu Allah swt, “Para Malaikat penyambut almarhum juga sudah tak sabar menunggu pecinta shalawat itu.” (Ajie Najmuddin, disarikan dari tulisan A. Himawan asy-Syirbany di Tabloid TAJAM Jamuro)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Tokoh, Doa Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 29 November 2017

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Perilaku dan tindakan ekstrem atas nama agama kerap menjadi stigma bagi masyarakat dunia (baca: Barat) untuk menjustifikasi bahwa Islam adalah agama teroris. Brand ini bukan tanpa alasan karena yang seringkali melakukan teror mematikan dengan menggunakan bom, dan lain-lain tidak lain adalah seorang Muslim.

Tentu tindakan tersebut hanya dilakukan oknum, baik dalam bentuk kelompok, organisasi, maupun individu. Namun, sebagian orang Barat nampaknya memmukul rata (generalisir) untuk menjustifikasi orang Islam sehingga mereka pun terkadang mengalami diskriminasi di negara-negara Barat atas perbuatan segelintir oknum yang nyata-nyata membuat wajah Islam tidak baik di mata dunia.

Pada prinsipnya, kelompok-kelompok ekstrem (tatharruf) kerap menggunakan ayat-ayat pedang (qital) untuk melegitimasi aksi kejinya atas nama jihad menegakkan agama Allah, perjuangan mendirikan negara Islam, dan sejumlah argumentasi utopia lainnya.?

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Kelompok paling nyata yang sering mempropagandakan kekejaman teror atas nama agama adalah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dengan mendeligitimasi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Kajian serius tentang ISIS yang keliru dan melenceng dalam menggunakan Hadits dikupas secara mendalam oleh M. Najih Arromadloni dalam bukunya, Bid’ah Ideologi ISIS: Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits.

Awalnya buku ini merupakan penelitian Tesisnya yang berhasil ia pertahankan di depan para penguji di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Buku setebal 202 halaman ini juga bukan hanya mengkaji penistaan ISIS terhadap hadits, tetapi juga berupaya mengenalkan lebih jauh tentang ISIS kepada para pembaca. Seperti apa sepak terjang ISIS semenjak dideklarasikan pada tahun 2014 lalu, namun jauh sebelum itu, yakni ketika veteran perang Afghanistan mulai menciptakan embriologinya di tahun 1990-an.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam pandangan penulis buku, ISIS sebagaimana organisasi radikal lain yang berlabel agama tidak lebih dari sekadar organisasi politik yang menggunakan dan menyajikan ayat-ayat pedang dengan dalih menegakkan agama Allah untuk tujuan pendirian Daulah Islamiyah. Gerakan ini secara berkelindan membuat ISIS sering memahami hadits secara politis atau dengan kata lain melakukan politisasi hadits.

Buku ini juga menerangkan secara jelas mana hadits-hadits yang sering terpolitisir oleh paham ekstrem-radikal Abu Bakar Al-Baghdadi dan kroni-kroni kejinya di ISIS. Mereka bukan hanya melenceng jauh dari konteks diturunkannya nash, tetapi juga tidak mampu memahami bahwa keberadaan Al-Qur’an maupun Hadits tidak berdiri sendiri melainkan saling bertautan. Tautan antara ayat satu dengan yang lain dan hadits satu dengan hadits lain mewujudkan pemahaman agama secara mendalam, tidak dangkal dan radikal seperti tampak dalam nalar kelompok ISIS.

Salah satu yang disebut dalam buku ini mengenai ISIS adalah merupakan kelompok takfiri radikal. Artinya mereka tidak hanya mudah mengafirkan dengan hadits-hadits yang dieksploitir secara politis, tetapi juga berlaku brutal dengan cara kekerasan, merampas, hingga membunuh orang lain yang dianggap kufur oleh mereka. Bahkan sampai menghalalkan seorang perempuan untuk dijadikan budak seks dan dijual bebas.

Di era teknologi informasi yang terbuka bebas dan serba cepat, ISIS memanfaatkan betul kecanggihan tersebut, utamanya melalui media sosial. Tercatat pada tahun 2014 lalu, mereka menciptakan sekitar 50.000 akun lebih di media sosial untuk melakukan propaganda radikalnya. Nampaknya, mereka sengaja menciptakan keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat dunia lewat aksi kejinya seperti memberondong dengan tembakan kepada sejumlah orang secara hidup-hidup, membakar, hingga menggorok secara tidak berperikemanusiaan dan diunggah di media sosial? You Tube.?

Lebih keji lagi, korban mereka tidak hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga dari agama dan kelompok-kelompok lain seperti Yahudi, Kristen, Katolik, Sunni, Syiah, dan kelompok serta suku-suku lainnya. Artinya, keberadaan mereka seperti tanda-tanda akhir zaman dengan hadirnya fitnah kubro (fitnah besar untuk seluruh manusia), seseorang atau sekelompok orang yang tidak sepaham dan tidak mau mengikuti ISIS, maka jaminannya adalah nyawa yang siap melayang dengan cara keji. Wallahu a’lam bisshowab.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam buku tersebut juga dijelaskan, pada awal April 2014 lalu, salah seorang juru bicara ISIS Abu Muhammad al-‘Adnani menyatakan, Nabi Muhammad adalah seorang yang diutus untuk mengemban pedang sebagai Rahmat bagi alam semesta. (Halaman 18)

Ia mendasarkan pendapatnya itu pada sebuah hadits berikut: Nabi SAW bersabda, “Aku diutus dengan pedang, menjelang datangnya hari kiamat, sampai Allah disembah secara esa bayang-bayang busurku dan akan ditimpakkan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyalahi aturanku, dan barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari mereka.” (HR Ahmad dalam al-Musnad dari Ibnu Umar dan dijadikan Shahid oleh al-Bukhori)

Hadits di atas bukan hanya dieksploitir untuk melegalkan aksi keji mereka, tetapi mereka juga tidak berupaya memahami konteks diturunkannya (asbabul wurud) hadits tersebut. Di titik ini, ISIS atau kelompok ekstrem sejenis hanya menghadirkan ayat-ayat pedang atau perang, padahal ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa Islam adalah agama kedamaian, rahmat, dan toleran tidak kalah banyaknya. Lantas, mengapa mereka hanya memilih ayat-ayat perang dalam memanifestasikan keagamaan mereka?

Sebetulnya ISIS merupakan salah satu kelompok yang mewujudkan ekstrem radikalnya melalui tindakan langsung secara keji yang berawal dari radikalisme. Jika digambarkan secara jelas, radikalisme bisa dibagi menjadi tiga, bertindak secara radikal (melakukan teror), radikalisme pemikiran, dan radikalisme secara pemahaman. Konteks Indonesia sendiri, saat ini eskalasi penguatan radikalisme ada pada aspek pemikiran dan pemahaman. Yang jelas, muara dari semua itu adalah tindakan teror.

Kajian holistik yang dilakukan oleh penulis buku ini membawa pembaca untuk menyelami ISIS hingga ke akar-akarnya. Pembaca dapat memahami ISIS secara historis, geneologis, dan ideologis. Tokoh-tokoh utama beserta jaringan organisasinya juga dapat pembaca temukan di dalam buku yang banyak menghadirkan rujukan kitab-kitab secara otoritatif ini.

Kajian buku yang mendasarkan diri dari Majalah Dabiq yang disebarluaskan ISIS di internet ini, penulis buku berupaya menganalisis penistaan Hadits yang dilakukan oleh ISIS tentang khilafah, jihad, hijrah, Iman, dan al-Malahim. Review buku secara singkat ini tentu belum menghadirkan semua informasi dan gagasan penulis buku secara utuh sehingga pembaca dapat memahami lebih jauh lagi dengan membaca bukunya secara langsung. Selamat membaca!

Identitas buku:

Judul Buku: Bidah Ideologi ISIS: Catatan Penistaan ISIS Terhadap Hadits

Penulis : M. Najih Arromadloni

Tebal: 202 halaman

Cetakan : Pertama, Maret 2017

Penerbit : Daulat Press Jakarta

ISBN : 9786021813157

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pendidikan, Lomba, Kyai Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 27 November 2017

Abdul Qadir al-Jazairi dan Para Tawanan Kristen

Ahmad Bouyerdene mengatakan bahwa Amir Abdul Qadir al-Jazairi (1808-1883 M) adalah, “Saints among the Princess, the Prince among the Saints—orang suci di antara penguasa, penguasa di antara orang suci.”

Sebelum masuk dalam kisah-kisah beliau dengan para tahanan perang, penting untuk mengetahui terlebih dahulu siapa beliau. Amir Abdul Qadir al-Hasani al-Jazairi adalah seorang syarif (sayyid) dan mursyid Tarekat Qadiriyyah. Ia hafal Al-Qur’an di usia 14 tahun, menguasai berbagai disiplin ilmu, dari mulai fiqih, tasawuf, hingga sastra. Ketika Aljazair dijajah Prancis pada tahun 1832 M, ayahnya diangkat sebagai Amirul Mu’minin dalam sebuah pertemuan berbagai kabilah wilayah Barat Aljazair. Ayahnya menolak karena merasa dirinya terlalu tua. 

Abdul Qadir al-Jazairi dan Para Tawanan Kristen (Sumber Gambar : Nu Online)
Abdul Qadir al-Jazairi dan Para Tawanan Kristen (Sumber Gambar : Nu Online)

Abdul Qadir al-Jazairi dan Para Tawanan Kristen

Lima hari kemudian, di Masjid Agung Mascara, Abdul Qadir al-Jazairi diangkat sebagai Amirul Mu’minin menggantikan ayahnya. Dalam waktu satu tahun, Abdul Qadir berhasil menyatukan berbagai kabilan dan wilayah, memberikan perlawanan sengit kepada Prancis yang memaksa mereka masuk ke meja perundingan dan menyepakati perjanjian damai (Treaty of Tafna). Setelah itu, Ia mendirikan sebuah negara berdaulat, tapi selalu menolak pemberian gelar sultan oleh para bawahan dan pengikutnya. Beberapa tahun kemudian, dengan berbagai intrik dan kelicikannya, Prancis menangkap Amir Abdul Qadir al-Jazairi dan mengasingkannya di Touloun.

Dalam buku The Life of Abdel Kadir: Ex-Sultan of The Arabs and Algeria karangan seorang diplomat Inggris, Kolonel Charles Henry Churchill (1807-1869 M) diceritakan:

Suatu malam seorang wanita muda dengan anak kecil di tangannya, tergesa-gesa masuk ke tenda Uskup Aljazair di perkemahan pasukan Prancis. Ia berlutut dan menyentuh kakinya, sembari berucap dengan wajah penuh duka: “My husband, the father of my child—suamiku, ayah dari anakku.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Suaminya menghilang dalam perang, tidak kembali bersama pasukan lainnya. Ia tidak tahu keadaan suaminya sekarang, menjadi tawanan atau mati di medan perang.

Uskup itu membayangkan nasib seorang tahanan Prancis di tangan orang-orang Arab. Karena tersentuh oleh wanita muda itu, ia menulis surat kepada Abdul Kadir al-Jazairi, yang secara singkat tertulis:

“Tuan tidak mengenalku, tapi profesiku adalah melayani Tuhan, dan atas namaNya mencintai seluruh manusia, anak-anak dan saudaranya. Andai aku dapat mengendarai kuda, aku tak takut kegelapan malam maupun deru badai. Aku akan hadir di depan pintu tenda tuan dan memanggil-manggil tuan. Jika kesanku tentang tuan tidak salah, tuan tidak akan menolaknya. Bebaskan saudaraku yang malang itu, tapi aku tidak bisa datang sendiri.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Izinkan saya mengirimkan salah satu murid untuk menyerahkan surat yang kutulis tergesa-gesa ini kepada tuan... Saya tidak memiliki emas dan perak untuk ditawarkan kepada tuan. Satu-satunya yang bisa saya berikan adalah doa yang tulus dan rasa terima kasih yang dalam dari keluarga yang membuatku menulis surat ini. Berbahagialah orang yang penuh belas kasih, karena mereka mendapatkan rasa belas kasihan.” (Charles Henry Churchill, The Life of Abdel Kadir: Ex-Sultan of The Arabs and Algeria, London: Champan and Hall,hlm 206-207).

Abdul Qadir bin Muhyiddin al-Jazairi membalas surat uskup itu dengan mengatakan:

“Aku telah menerima surat tuan, apa yang tuan minta sama sekali tidak mengejutkanku karena karakter suci tuan. Namun demikian, izinkan aku mengamati titel ganda tuan, sebagai ‘pelayan Tuhan’ dan ‘teman manusia’. (Dengan dua titel itu), seharusnya tuan menuntut tidak hanya kebebasan seorang tawanan saja, tapi semua orang Kristen yang telah menjadi tawanan perang. Dua titel itu membuat tuan tidak akan merasa puas dengan membebaskan dua atau tiga ratus orang Kristen, karenanya tuan harus memperbanyak jumlahnya ke hitungan yang sama dengan orang-orang Islam yang merana di penjara tuan.” (Charles Henry Churchill, hlm 207-208).

Pada 21 Mei 1841 M terjadi pertukaran tawanan perang di Sidi Khalifa, buah dari peleburan dua hati mulia itu.

Kemudian, Amir Abdul Kader dengan keluasan hatinya mengirimkan sekawanan domba dan anak-anaknya ketika mendengar uskup itu mengadopsi anak yatim-piatu akibat perang. Dalam suratnya Ia menulis: “I send you a flock of goat, with their young who are still sucking. With these you will be able for some time longer to nourish the little children you have adopted, and who have lost their mothers—aku mengirimkan tuan sekawanan domba, dengan anak-anaknya yang masih menyusu. Dengan domba-domba ini, tuan akan sedikit terbantu untuk memberi makan anak-anak kecil yang telah tuan adopsi, dan yang telah kehilangan ibu-ibu mereka.” (Charles Henry Churchill, hlm 208).

Kemurahan-hati Amir Abdul Qadir al-Jazairi terhadap tawanan perangnya tercatat rapi di berbagai tulisan orang-orang Barat. Kolonel Churchill menggambarkannya dengan, “almost unparalleled in the annals of warfare—hampir tak tertandingi dalam sejarah peperangan.” Ia memberikan kebebasan terhadap setiap tawanan perang untuk melaksanakan ajaran agamanya, bahkan ia pernah membebaskan semua tawanan perang Prancis dengan mengatakan, “without the food to properly feed them, Islam did not permit him to keep them as captives—tanpa makanan untuk diberikan dengan baik, Islam tidak mengizinkannya untuk menahan mereka sebagai tawanan.”

Kapan pun para tahanan perang berhadapan dengan Amir Abdul Qadir, mereka diperlakukan seperti tamu. Ia sering mengirimi mereka makanan dari dapurnya sendiri. Mereka diberikan pakaian yang baik untuk dikenakan. Salah satu bukti perhatian Amir Abdul Qadir terhadap kebebasan melaksanakan ajaran agama para tawanan perang, ia menulis surat kepada uskup Aljazair.

“Kirimkan seorang pendeta ke perkemahanku. Aku akan berhati-hati menghormatinya sebagai pelayan Tuhan dan wakil Anda. Ia akan berdoa dengan para tahanan setiap hari, menghibur mereka dan menjadi penghubung mereka dengan keluarga mereka. Dengan demikian, ia bisa menjadi sarana bagi mereka untuk mendapatkan uang, pakaian, buku, surat atau segala sesuatu yang mereka inginkan, agar dapat meringankan sukarnya hidup sebagai tahanan. Hanya saja, saat ia tiba di sini, ia tidak diperbolehkan menyinggung pergerakan militer dan keadaan perkemahan dalam surat-suratnya.” (Charles Henry Churchill, hlm 209).

Karena kemurahan-hatinya, beberapa kali para tawanan Prancis menyatakan diri hendak memeluk Islam, tidak sedikit dari mereka yang kemudian memilih Islam sebagai agamanya. Untuk memastikan bahwa tindakan mereka memilih Islam bukan karena ketakutan dibunuh, ia selalu menjawab:

If you do so in good faith, well and good. But if you are needlessly alarmed at your present situation, you will do wrong. Though you are, and remain Christians, not a hair of your heads shall be touched. Consider rather what will happen to you should you return to your countrymen after having renounced your faith. "Would you not be treated as the most criminal of deserters? How can you hope to benefit by the occasion should an exchange of prisoners take place?—jika kau melakukannya karena iktikad baik, itu bagus. Tapi, jika kau melakukannya karena khawatir atas keadaanmu saat ini, kau salah. Meskipun kau orang Kristen dan tetap menjadi Kristen, tidak satupun rambut dikepalamu akan disentuh. Petimbangkanlah apa yang akan terjadi padamu jika kau kembali ke bangsamu setelah meninggalkan keyakinanmu. “Maukah kau diperlakukan sebagai penjahat paling kriminal? Bagaimana bisa kau berharap mendapatkan keuntungan dari hal itu ketika pertukaran tawanan perang terjadi?” (Charles Henry Churchill, hlm 209-210).

Suatu ketika ada seorang tawanan Prancis yang berbicara dengan berani di depan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Ia mengatakan, “I will never renounce my religion. You maycut off my head, but make me a renegade, never!—aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku. Kau boleh memenggal kepalaku, tapi membuatku murtad, tidak akan pernah terjadi.”

Amir Abdul Qadir tersenyum dan berkata, “Be perfectly easy, your life is sacred with me, I like to hear such language. You are a brave and loyal man, and merit my esteem. I honour courage in religion more than courage in war—tenanglah, hidupmu aman denganku. Aku menyukai ungkapan semacam itu. Kau adalah seorang pemberani dan loyal, serta pantas dihargai. Aku lebih menghormati keberanian dalam agama daripada keberanian dalam perang.” (Charles Henry Churchill, hlm 210).

Ketinggian pekerti dan kelembutan hatinya membuat petinggi militer Prancis pusing. Mereka memerintahkan para tahanan Prancis yang dilepaskan oleh Amir Abdul Qadir tidak menceritakan keluhuran budinya kepada tentara Prancis lainnya. Jika ada yang melanggar, akan dihukum secara militer. Mereka telah dibuat pusing oleh kekuatan militer Abdul Qadir, ditambah tidak sedikit tentara Prancis yang beralih agama menjadi muslim.

Banyak sekali kisah keteladanan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Keteladanan yang diakui seluruh dunia.Di Amerika Serikat terdapat kota yang mengabadikan namanya, kota Elkader di Iowa. Timothy Davis, John Thompson dan Chester Sage sebagai pendiri kota itumemilih nama Elkaderpada tahun 1846. Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian, kemurah-hatian dan kemanusiaan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. (www.elkader-iowa.com/Histroy).

William Makepeace Thackeray (1811-1863 M), seorang sastrawan Inggris, menulis puisi khusus untuk Amir Abdul Qadir al-Jazairi dengan judul The Caged Hawk at Touloun (Elang Terpenjara di Touloun) yang menggambarkan keberanian, ketenangan dan kemurahan-hati Amir Abdul Qadir al-Jazairi, serta kelicikan Prancis dalam menjebaknya hingga Ia ditangkap dan dipenjara di Touloun, Prancis. (William Makepeace Thackeray, The Works of William Makepeace Thackeray, vol 25, hlm 19). Bahkan Abraham Lincoln pernah mengirimkan hadiah sepasang pistol sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Apa yang dilakukan Amir Abdul Qadir al-Jazairi bukan tanpa dasar. Ia sedang mempraktikkan ajaran Islam yang luhur, yang dicontohkan oleh Nabi Agung Muhammad Saw. Berbeda dengan yang dilakukan ISIS, membunuhi para tahanan perang dan memperbudak mereka sejadi-jadinya. Bukankah al-Qur’an sendiri mengatakan:

? ? ? ? ? ? ?

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (Q.S. al-Insan [76]: 8).

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 23 November 2017

Pesan KH Dimyati Rois untuk Para Ulama dan Pengurus NU

Kendal, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mustasyar PBNU KH Dimyati Rois asal Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah saat menerima rombongan Anjangsana Islam Nusantra Pascasarjana STAINU Jakarta, Selasa (24/1) mengatakan bahwa budaya silaturahim dan musyawarah harus ditingkatkan.

Hal ini khususnya harus dilakukan di kalangan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dan para ulama agar masyarakat juga tetap tenang di tengah kondisi kebangsaan yang kurang stabil.

Pesan KH Dimyati Rois untuk Para Ulama dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan KH Dimyati Rois untuk Para Ulama dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan KH Dimyati Rois untuk Para Ulama dan Pengurus NU

Menurut Mbah Dim, langkah tersebut penting untuk merapatkan barisan, mendekatkan hubungan, dan menyamakan persepsi antar sesama pemuka NU dan ulama yang sedari dulu mempunyai peran sebagai perekat bangsa.

“Yang harus dilakukan adalah musyawarah,” tegas Mbah Dim saat ditanya apa yang harus dilakukan oleh para ulama dan pengurus NU di tengah situasi umat Islam dan problem bangsa yang akhir-akhir ini kerap bergejolak.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pesan untuk generasi muda

Salah seorang Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) di Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015 itu juga mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi umat Muslim Nusantara saat ini, termasuk di dalam NU sebagai garda terdepan penjaga keutuhan NKRI.

Dikatakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadllu wal Fadlilah Kaliwungu Kendal ini bahwa kian kemari para ulama khos yang mendekati kriteria kewalian kian berkurang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Saya berharap kepada generasi muda NU untuk mengikuti jejak lampah para ulama yang ikhlas itu, termasuk melanjutkan lakon dan tradisi riyadhah yang kerap dilakukan oleh para kiai,” harap Mbah Dim.

Para kiai zaman dulu, tambahnya, ketika hendak melakukan sesuatu selalu diawali dengan istikharah, riyadhah atau tirakat, memperbanyak doa dan taqarrub kepada Allah, serta meminta restu para gurunya.

Perilaku tersebut terkait dengan keberkahan dan hadirnya kebaikan secara terus menerus atas apa yang dilakukan kiai. Sehingga tidak heran keberkahan selalu hadir. Hal ini bisa menjadi teladan di kalangan generasi muda untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Internasional Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 22 November 2017

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan "Plus-Plus"

Waykanan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) di Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung mendapat apresiasi positif dari peserta yang berasal dari tiga kecamatan dan empat sekolah di daerah tersebut sehubungan memberikan wawasan lebih, ujar sejumlah peserta di Blambangan Umpu, Senin (1/6).

"Kegiatan ini membuat pola pikir kami menjadi optimistis. Sanlat BPUN memberikan wawasan plus-plus bagi saya. Saya tidak ragu lagi mengkampanyekan pentingnya kegiatan luar biasa ini bagi adik-adik kelas saya," ujar Diduri Sri Faridah, peserta dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan Plus-Plus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan Plus-Plus (Sumber Gambar : Nu Online)

Sanlat BPUN Waykanan Memberikan Wawasan "Plus-Plus"

Sanlat BPUN Waykanan dihelat di Pesantren Tahfidzul Quran 18 Mei hingga 1 Juni 2015. 9 hingga 17 Mei, 27 peserta belajar mandiri setelah mendapatkan modul dari penyelenggara. Namun saat karantina mulai berlangsung, sejumlah peserta mengundurkan diri sehingga diikuti 14 peserta.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Program ini gratis, tanpa dipungut biaya. Tahun depan, kami siap berpartisipasi mencarikan donatur untuk terselenggaranya BPUN di Waykanan sehingga bisa diikuti adik-adik kelas kami," ujar Ayu Sri Ningsih, Siti Husnul Khotimah, Eis Novia, Nindya Fela Roza dan Frastika dari SMAN 1 Blambangan Umpu.

Sejumlah peserta mengaku jarang melakukan sholat wajib di rumah masing-masing. Tapi saat mengikuti Sanlat BPUN, setiap peserta harus mengikuti sholat rawatib berikut tahajud dan dhuha, terkecuali bagi perempuan yang sedang berhalangan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Ini salah satu nilai lebih Sanlat BPUN. Ibadah kami ditempa, bahkan setiap malam Jumat diwajibkan untuk Yasinan," papar Ayu menambahkan. Selain ibadah, Ayu juga mengaku mendapat lecutan semangat dari sejumlah narasumber yang dihadirkan. Salah satu diantaranya, Sekretaris PAC GP Ansor Baradatu Very Triyono.

Very merupakan mahasiswa STAI Maarif Baradatu, Waykanan. Very yang membiayai kuliahnya sendiri dengan berdagang telur puyuh hingga sabun mandi bercita-cita melanjutkan kuliah hingga strata 2.

"Sahabat Very membuat kami mempunyai semangat untuk tidak takut berwirausaha. Kami semakin optimistis melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi," ujar Diduri Sri Faridah lagi.

Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto menambahkan, kualitas peserta Sanlat BPUN Waykanan 2015, dari pola pikir dan ibadah insyaallah mengalami kenaikan.

"Ibadah yang diajarkan selama Sanlat BPUN harus dilanjutkan dan dilakukan di rumah. Santri BPUN Waykanan harus menjadi satu lilin yang bisa menerangi seribu lilin. Memberikan ilmu bermanfaat akan terus dicatat sebagai amal ibadah. Santri BPUN Waykanan 2015 harus mempunyai saham untuk masuk surga dengan tidak ragu dan malu berbagi untuk sesama," ujar Gatot.

Sanlat BPUN Waykanan diikuti peserta dari empat sekolah, yakni SMAN 1 Blambangan Umpu, SMAN 2 Blambangan Umpu, SMAN 1 Baradatu dan SMAN 2 Gununglabuhan. Berdasarkan hasil musyawarah peserta, Disisi Saidi Fatah dari SMAN 1 Blambangan Umpu dipilih menjadi Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015, lalu Sekretaris Dicky Afrizal dari SMAN 2 Gununglabuhan dan ? Bendahara Diduri Sri Faridah dari SMAN 1 Blambangan Umpu. Adapun koordinator bidang studi IPA dipercayakan kepada Suryaningsih dan IPS dipercayakan kepada Siti Husnul Khotimah, keduanya dari SMAN 1 Blambangan Umpu.? ? ? ?

Bendahara PC GP Ansor Waykanan Abdullah Candra Kurniawan menyerahkan piagam keapada perwakilan peserta Sanlat BPUN Waykanan 2015 Ocha Sindy Octa Vintika dari SMAN2 Blambangan Umpu disaksikan Manajer BPUN Waykanan Gatot Arifianto dan Pengasuh pesantren Tahfidzul Quran Ustad Ahmad Jasmani. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Kyai, Daerah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 21 November 2017

Sambut Hari Santri, PCNU Kota Depok Luncurkan Rangkaian Kegiatan

Depok, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati pada setiap 22 Oktober disambut dengan meriah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kota Depok menyemarakkan HSN  dengan beragam kegiatan yang melibatkan santri, pimpinan pesantren, kiai, tokoh masyarakat, dan masyarakat pada umumnya.

"Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan dan peluncuran di Masjid Kubah Emas, Sabtu 7 Oktober 2017 pukul 19.30 WIB. Acara diisi dengan pembacaan Qasidah Burdah yang akan dipimpin langsung oleh Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Depok KH Junaidi HMS. Selanjutnya akan digelar pembukaan rangkaian peringatan Hari Santri yang melibatkan hampir seluruh pondok pesantren se-Kota Depok," ujar Ketua PCNU Kota Depok KH Raden Salamun Adiningrat di kantornya, Kali Mulya, Cilodong, Jumat (6/10).

Sambut Hari Santri, PCNU Kota Depok Luncurkan Rangkaian Kegiatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, PCNU Kota Depok Luncurkan Rangkaian Kegiatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, PCNU Kota Depok Luncurkan Rangkaian Kegiatan

Ia berharap kepada seluruh warga NU agar  berbondong-bondong memadati Masjid Kubah Emas lengkap dengan segala atribut ke-NUan yang dimiliki. Acara ini akan dihadiri beberapa pengurus harian PBNU, dan pengurus harian, lembaga dan badan otonom PCNU Kota Depok.

"Kepada seluruh santri, warga NU dan masyarakat Depok, kami harap kehadirannya untuk memeriahkan HSN," paparnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

PCNU Kota Depok telah menyiapkan serangkaian kegiatan baik berbagai lomba untuk santri, zikir, semaan dan khataman Al-Quran, shalawat Nariyah, kirab, dan apel kebangsaan.

Saat ditanya apakah di acara pembukaan dan peluncuran nanti akan dihadiri pihak Pemkot Depok, ia menjawab belum ada informasi dari tim panitia terkait kepastian keterlibatan Pemkot Depok dalam peringatan hari santri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Intinya kami mengajak seluruh komponen masyarakat dan koordinasi dengan semua pihak untuk menyukseskan peringatan hari santri," tegasnya.

Pihaknya telah menyiapkan beragam kegiatan, yaitu lomba bagi santri yang bertempat di sejumlah titik pesantren, dzikir, khataman Al-Quran, Sholawat Nariyah, kirab dan apel kebangsaan.

Sebagaimana diketahui Peringatan Hari Santri ditetapkan Pemerintah Indonesia oleh Presiden Joko Widodo. Tidak hanya diperingati oleh santri di Kota Depok, tapi juga dilaksanakan secara nasional di seluruh Indonesia. Tahun lalu Pemkot Depok tidak menyelenggarakan dan lebih memilih pada Gebyar Muharram yang diselingi acara dangdut. (Aan Humaidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Quote, Tokoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock