Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mahbub Djunaidi yang dikenal sebagai sang “Pendekar Pena” adalah sosok yang dengan apiknya mampu meracik sesendok teh kritik, sejumput teori, dan diaduk dengan dua ratus mili liter humor sampai rata.

“Sehingga masyarakat dengan susahnya untuk bosan dengan gagasan-gagasan Mahbub,” papar Dimas Suro Aji pada acara Diskusi dan Bedah Film Dokumenter, yang diselenggarakan LSO Jurnalistik PMII Komisariat Kentingan Surakarta, di Taman Cerdas Jebres, Selasa (10/10).

Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mahbub Djunaidi Tak Pernah Membosankan

Ditambahkan pegiat sastra Solo itu, sosok Mahbub juga mampu menhadirkan kritik, akan tetapi dengan bahasa yang jenaka.

Sementara itu, pembicara lainnya Joko Priyono mengajak para kader PMII untuk ikut meneladani perjuangan Mahbub.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Perjalanan hidupnya penuh dengan pelajaran dan teladan untuk kemudian menjadi tugas kita sebagai kader PMII untui mengistiqamahkan nilai-nilai PMII yang telah dimulai oleh Mahbub Djunaidi," tutur Joko.

Selain kegiatan pemutaran film dokumenter Mahbub, selama hampir dua pekan (10-28/10), untuk memperingati Haul Mahbub Djunaidi ke-22 ini juga bakal dihelat sejumlah kegiatan.

“Ada lomba essai, resensi dan puisi. Kemudian pelatihan jurnalistik dan desain, dan puncaknya diskusi bertajuk “Jejak Mahbub Djunaidi di Kota Solo,” terang ketua panitia kegiatan, Elvin. (Ninda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pemurnian Aqidah, Hikmah, Hadits Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 22 Februari 2018

KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok

Depok, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sosok KH Hasyim Muzadi meninggalkan kesan mendalam bagi Dewi, Rumiyati, dan Khadijah. Ketiga perempuan yang tinggal di sekitar Pondok Pesantren Al Hikam Depok itu masing-masing membagikan kesan mereka kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Kamis (26/3).

KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi di Mata Tiga Perempuan Warga Depok

Bagi Khadijah, yang paling mengesankan dari sosok KH Hasyim Muzadi adalah karena seringnya almarhum memberikan solusi atas persoalan jamaah dan warga melalui ceramah-ceramahnya. "Ceramahnya bikin hati adem," ungkap perempuan 56 tahun yang datang melayat bakda dzuhur hari ini.

Adapun menurut Rumyati, KH Hasyim Muzadi adalah sosok yang ramah kepada semua orang dan dekat dengan anak-anak. "Makanya anak saya juga ikut ngaji di sini (Al-Hikam). Setiap hari ngajinya di sini," tutur Rumyati.

Ada nasihat yang selalu diingat oleh Rumyati. Pesan itu adalah bahwa menuntut ilmu agama jangan berhenti walaupun usia sudah tua. "Kalau mengaji, walaupun sudah dewasa jangan dilupakan. Itu yang paling saya ingat," cerita Rumyati.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara Dewi, sosok almarhum dinilai sebagai orang yang baik dan penyantun. "Kiai, terutama kalau lebaran, sering membagikan sembako bagi warga sekitar yang memerlukan," kata perempuan yang sering ikut salat dan mengaji di Masjid Al Hikam.

Bukan hanya ketiga perempuan warga sekitar Al Hikam yang terkesan dengan almarhum. Banyak tokoh dan masyarakat yang juga amat kehilangan. Hingga berita ini ditulis para pelayat terus berdatangan ke Pondok Pesantren Al Hikam Depok. Sementara langit Depok juga terlihat mendung. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Nasional Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 19 Februari 2018

Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah

Dalam shalat kita tidak hanya dituntut sekadar memenuhi syarat dan rukunnya secara formal. Melalui shalat kita juga dituntut untuk memenuhi kewajiban shalat, aturan-aturan formal, dan kesempurnaan shalat sedapat mungkin. Memang tidak ada batasan sejauhmana seseorang mewujudkan shalat berikut esensinya mengingat perbedaan kemampuan masing-masing orang. Tetapi masing-masing kita dituntut untuk mengejar esensi shalat

Mengomentari perkataan Sayyidina Umar “Siapa yang menjaga kewajiban dan menjaga kesempurnaan shalat,” Ibnul Arabi mengatakan, “Aku melihat ribuan orang bahkan tak terhitung menjaga kewajiban shalat, tetapi orang yang menjaga kewajiban shalat dengan khusyuk dan kehadiran penuh hanya terhitung dengan lima jari.”

Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Shalat Menurut Al-Hikam Ibnu Athaillah

Yang harus dipahami terlebih dahulu adalah bahwa shalat adalah kesempatan bagi manusia untuk membersihkan diri dalam artian seluas-luasnya dan membuka pintu ghaib sehingga shalat benar-benar efektif untuk menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan munkar.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Artinya, “(Shalat itu) kesucian hati dari dosa karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar, menghapus dosa, dan membuka pintu-pintu ghaib dengan penampakan kuasa-Nya seperti ditunjukkan oleh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam, ‘Shalat tempat munajat dan tambang kebersihan.’ Shalat adalah ‘tempat’ terdekat seorang hamba dan Penciptanya; ‘tempat’ menghadap di hadapan-Nya tanpa perantara selain menyebut-Nya; dan pelaksanaan tugas-tugas kehambaan dalam menghadap dan melihatnya,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, Syirkah Al-Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 110).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Bagaimana shalat mencegah perbuatan keji dan munkar? Shalat membuka pintu ghaib. Dari sini orang yang shalat menyaksikan kuasa Allah SWT sehingga ia takut dan juga malu untuk melakuka perbuatan keji dan munkar.

Di samping itu, shalat merupakan kesempatan emas bagi manusia untuk berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Ketika shalat seseorang memasuki dimensi di mana ia menyadari bahwa ia yang bukan apa-apa sedang menghadap Allah Yang Maha Kuasa. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Lomba Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 18 Februari 2018

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Oleh Rosidin

Beragam opini menyelimuti akar kata “santri”. Pertama, dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Kedua, dari bahasa India, shastri, yang berarti “ahli kitab suci agama”,karena shastri berasal dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci agama”. Ketiga, dari bahasa Sansekerta yang berarti “ilmuwan yang pandai menulis”. Keempat, dari bahasa Jawa, cantrik yang berarti “orang yang selalu mengikuti guru”. Kelima, perpaduan dari kata saint yang berarti “manusia baik” dan tra yang berarti “suka menolong”.

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Kelima opini tersebut tidak perlu dibenturkan, melainkan cukup dipadukan untuk merumuskan ciri khas santri berdasarkan telaah bahasa. Hemat penulis, santri adalah “orang muslim yang mempelajari kitab suci agama Islam (al-Qur’an beserta perluasannya dalam “kitab kuning”) kepada guru mengaji (kiai) melalui proses pembelajaran dan peneladanan (di masjid, madrasah diniyah maupun pesantren) agar menjadi manusia yang baik dan suka menolong”.

Dalam bahasa al-Qur’an, tujuan utama menjadi santri adalah tafaqquh fi al-din atau memahami agama Islam secara mendalam (Q.S. al-Taubah [9]: 122). Santri diharapkan mampumenguasai empat sifat agama Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agama wahyu (al-din al-wahyi); (2)agama keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agama kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agama kemajuan (al-din al-ishlahi).Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkantiga prinsip utama pesantren menurut KH Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut pesantren, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda denganalumni perguruan tinggi yang semakin tinggi gelar, semakin jauh dari rakyat. Semakin tinggi gelar alumni pesantren, justru semakin dekat dengan rakyat.

Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI dari segala bentuk penyimpangan agama, seperti komunisme yang mengusung atheisme (anti-Tuhan). 

Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” yang masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demimembangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis Indonesia (PKI), sekaligus sebagai tandinganbagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” yang disebut KH Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampuradukkan agama. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (atheisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) yang menodai SilaKetuhanan Yang Maha Esa. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.Santri merupakan generasi yang bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah orang yang membuat umat muslim selamat (aman) dari perkataan dan perbuatannya” (HR Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh dari kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: 125 yang meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). 

Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH Zainal Mustofa, Pengasuh Pesantren Cimerah Sukamanah, yang melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang yang mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal 18 Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi.

Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus,serta bangsa Indonesia secara umum, agar menuntut kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah yang dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai 76.566 lembaga dan menampung 6.000.062 santri.

Ketiga, Sila Persatuan Indonesia. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Sumatra, 29 September 1945; sedangkan pemerintah Indonesia tidak melakukan perlawanan yang nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul Ulama seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, yang mengajukan Resolusi Jihad yang intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu dampak nyata dari Resolusi Jihad adalah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal 22 Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015.

Keempat, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah diarena birokrasi,baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan Agama Islam atau Menteri Agama Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fiqih: Tasharruful Imam ala raiyyah manuth bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).

Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa yang mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri yang membuat santrisiap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran yang menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial yang membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal wa Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri yang diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp 1.8 Triliun pada tahun 2015.

Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agama, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban Indonesia yang unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi yang mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Pengurus LTN NU Kabupaten Malang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Jadwal Kajian, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 16 Februari 2018

Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta

Oleh Muhammad Ishom

Di kota Surakarta terdapat dua tempat ibadah beda agama yang letaknya bersebelahan persis. Kedua tempat tersebut adalah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah. Keduanya bahkan berbagi alamat sama persis. Sejak gereja dan masjid itu didirikan puluhan tahun lalu, keduanya selalu rukun, saling menjaga dan hormat-menghormati.

Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Kerukunan dari Masjid dan Gereja di Surakarta

Gereja dan masjid tersebut kini sangat penting khususnya bagi warga Surakarta, sebagai salah satu monumen kerukunan antarumat beragama. Mantan Walikota Solo, yang kini Presiden RI, Joko Widodo, dulu sering menyebut keduanya sebagai salah satu kebanggaan Kota Solo. Beberapa pihak menyebutnya sebagai ikon kerukunan antarumat beragama yang layak untuk dipromosikan sebagai objek wisata religi.

GKJ Joyodiningratan dibangun pada masa penjajahan Belanda, yakni pada tahun 1939. Masjid Al-Hikmah dibangun setelah kemerdekaan pada tahun 1947. Umat kedua tempat ibadah ini tidak pernah mengalami konflik berarti sejak awal berdirinya. Setiap kali ada permasalahan, seperti Idul Fitri jatuh pada hari Minggu, kedua belah pihak dapat merundingkannya dengan baik.  

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Di antara hasil perundingan itu, misalnya, kebaktian di gereja diundur agak siang karena jamaah shalat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah yang berlangsung di pagi hari meluber ke lahan parkir depan gereja. Sebaliknya pada hari Natal, pihak Masjid tidak keberatan lahan di depan masjid dipakai anggota jemaat GKJ untuk parkir mobil. Pihak Masjid juga tidak keberatan memindahkan arah loud speaker ke arah yang dirasa nyaman oleh gereja.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kerukunan antara   GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah diturunkan dari generasi ke generasi. Tugu lilin setinggi kira-kira 1,5 meter yang berdiri tegak antara kedua tempat ini, menjadi pengingat dan pendorong bagi kedua belah untuk selalu mengupayakan kerukunan dan kerja sama yang baik. Contoh kerja sama, misalnya, jika ada surat untuk gereja atau jemaatnya yang oleh petugas pos disampaikan ke masjid, pengurus masjid akan meneruskannya ke gereja. Demikian juga sebaliknya.

Peristiwa seperti itu kadang-kadang terjadi karena keduanya memang memiliki alamat sama persis, yakni Jl Gatot Soebroto No 222. Keduanya hanya dipisahkan oleh tembok yang digunakan secara bersama. Sebelah kanan tembok merupakan ruang masjid yang digunakan untuk shalat sedang di sebelah kirinya digunakan untuk kantor gereja.



Milik Dunia


Keberadaan GKJ Joyodingratan dan Masjid Al-Hikmah yang unik ini menarik banyak pihak termasuk tokoh-tokoh dari manca negara seperti Syekh Ibrahim Mogra. Pada tahun 2008  ulama asal Leicester Kerajaan Inggris tersebut mengunjungi Masjid Al-Hikmah.  Ketua Dewan Ulama Kerajaan Inggris tersebut melaksanakan shalat Jumat di masjid ini dan kemudian  berdialog dengan sang imam dan para jamaah.

Dari masjid, Syekh Ibrahim mengunjungi gereja dan berdialog dengan pendeta dan para  jemaat GKJ Joyodiningratan. Seusai dialog, Syekh Ibrahim mengungkapkan kekagumannya atas keunikan kedua tempat ibadah ini. ”Monumen ini milik dunia,” ungkapnya. Di Inggris juga ada masjid yang bersebelahan dengan gereja tetapi antara keduanya masih dipisahkan oleh jalan. GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah benar-benar unik, imbuhnya.

Pagi ini, penulis menyempatkan diri shalat Idul Adha di Masjid Al-Hikmah untuk melihat dari dekat kerukunannya dengan GKJ Joyodingratan. Penulis sangat mengapresiasi pihak gereja tidak keberatan hewan-hewan kurban milik jamaah Masjid Al-Hikmah yang jumlahnya puluhan itu ditempatkan di lahan parkir umum persis di depan GKJ Joyodiningratan. Sementara lahan parkir dan jalan depan masjid penuh sesak dengan jamaah shalat Idul Adha.

Bisa dibayangkan betapa menyengatnya bau kotoran hewan-hewan itu yang terdiri dari  puluhan sapi dan kambing. Bahkan ada dua  kambing yang karena kurangnya lahan, maka diikat di depan pintu gerbang gereja. Ini semua menunjukkan betapa kuatnya kerukunan, kerja sama, saling menjaga dan memahami, serta hormat menghormati antara GKJ Joyodingratan dan Masjid Al-Hikmah yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh puluh tahun itu.

Toleransi tingkat tinggi seperti itu dimungkinkan sebab di masjid ini, doa qunut diberlakukan. Bacaan basmalah dikeraskan. Puji-pujian sebelum jamaah shalat diperdengarkan secara live. Tarhim menjelang sahur di bulan Ramadhan juga diperdengarkan secara live. Adzan Jumat dilakukan dua kali. Artinya mereka adalah minna dan bukan minhum. Jadi inilah rahasia kerukunan dan toleransi  itu di pihak masjid. Di pihak gereja, GKJ memang termasuk moderat.



Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Pesantren, Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 15 Februari 2018

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad

Peringatan Resolusi Jihad NU 22 Oktober 2015 digelar meriah oleh PBNU di Tugu Proklamasi, Jakarta. Momen tersebut juga menjadi acara penyambutan pucak perjalanan Kirab Hari Santri Nasional yang dilaksanakan sejak tanggal 18 dari Tugu Pahlawan Surabaya, Jawa Timur. Pagi itu Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo yang datang bersama pasukan khusus dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, memberikan orasi di hadapan para kiai, perwakilan ormas-ormas Islam, serta ribuan pelajar dan santri dari berbagai daerah. Berikut transkripsi lengkap pidato Gatot yang disampaikan menjelang peresmian Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada siang harinya di Masjid Istiqlal:

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Yang terhormat,

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Transkripsi Lengkap Pidato Panglima TNI pada Peringatan Resolusi Jihad

Ketua-ketua umum ormas Islam

Tokoh tokoh lintas agama

Para pejabat pemerintah daerah dan para pejabat TNI Polri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Para Ulama-Santri segenap para alim ulama para Kiai, hadirin undangan yang bebahagia.

Tidak ada yang pantas kita ucapkan selaian puja dan puji syukur kehaditrat Allah Swt. Karena hanya ats kuasa dan ridhonya kita dapat hadir dalam acara oerungatan 70 Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama di Tugu Proklamasi yang memiliki nilai stratagis.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam kesempatan ini perlu saya jelaskan, mengapa begitu saya diundang saya hadir di sini. Saya datang tidak sendirian, saya datang dengan dengan pasukan-pasukan khusus. Ada Kopasus, ada Marinir, ada Paskas, ada Kostrad, ada Armed.

Ini untuk mengingatkan genrai uda, bahwa perjuangan bangsa sejak proklamasi kemerdekaan tidak dilakukan oleh TNI, tetapi yang merebut kemerdekaan adalah seluruh komponen bangsa, termasuk para ulama. Setelah merdeka baru TNI lahir. Jadi yang memerdekaan bangsa Indonesai bukan TNI, tetapi bapak-ibu kandung TNI, sehingga TNI adalah anak kandung raya.

Karena sejarah mencatat rangkaian peristiwa ini, bersentuhan langsung dengan kedaulatan Republik Indonesia, Terdapat 4 peristiwa penting yang saling memengaruhi dan saling menguatkan yaitu: peristiwa tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. 5 Oktober hari pembentukan TKR sekarang TNI. 22 Oktober sebagai hari dicetuskannya Resolusi Jihad NU. Dan 10 November pecahnya perang di Surabaya yang kita kenal sebagai hari pahlawan hanya dalam hitungan empat bulan.

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang tinggi terhadap semangat dan motivasi yang ditunjukkan para santri sebagai generasi muda bangsa yang terus memilihara dan meneguhkan komitmennya terhadap perjuangan para pahlawan serta kecintaan pada tanah air, salah satunya diwujudkan pada gerak jalan memperingati Resolusi Jihad yang menempuh jarak ratusan kilometer diawali dari tugu pahlwan di Surabaya dan sampai di tugu proklamasi di Jakarta.

Hadirin undangan, peserta gerak jalan yang berbahagia.

Setelah tujuh puluh tahun berlalu, hikmah dan pelajaran yang diperoleh dari peristiwa Resolusi Jihad antara lain: bahwa perjuangan melawan penjajah saat itu, terkait erat dengan Resolusi Jihad yang dkumandangkan oleh rais akbar NU KH. Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945.

Bangsa penjajah tidak rela negeri ini merdeka sehingga berusaha untuk menguasia kembali tanah air kita. NICA membonceng sekutu untuk menguasai tanah air Indoesia, namun hal itu diketahui oleh para pejuang kemerdekaan dan ditindaklanjuti dengan merapatkan barisan untuk menolak kedatangan kolonialis.Untuk itu para santri berkumpul di seluruh wilayah, Jawa, Madura, seluruh Jawa mereka mengatur langkah strategi perjuanangan sebagai kewajiban mempertahankan tanah air dan bangsanya.

Peran KH Hasyim Asy’ari

Dan pada tanggal 17 September 1945, Presiden Sokarno, memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam kepada KH. Hasyim Asyari, sehingga KH. Hasyim Asyari mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan jihad bahwa perjuangan membela tanah air adalah merupakan jihad fi sabilillah.

Dan selanjutnya menilai situasi di sekitar Surabaya Jawa Timur, atas pemikiran Mayor Jenderal TKR pada waktu itu, Mustopo, sebagai komandan sektor perlawaan Surabaya, bersama Sungkono, Bung Tomo dan tokoh-tokoh Jawa Timur menghadap KH. Hasyim Asyari untuk melakukan perang suci atau jihad dengan sasaran mengusir sekutu dan NICA yang dipimpin oleh Brigjend Mallaby untuk menunjukkan eksistensi adanya perlawanan dan kedaulatan Republik Indonesia. Mengapa demikian, karena pada saat memprokalamasikan kemerdekaan republik Indonesia 17 Agustus 1945, banyak bangsa-bangsa dunia dan PBB belum yakin apakah perjuangan kemerdekaan bangsa ini diberi hadiah oleh penajajah ataukah perlawanan rakyat. Untuk itu makna perjuangan 10 November mempunyai makna yang luar biasa, bahwa bangsa Indonesia bukan diberi tapi melawan mengusir penjajah. Maka lahirlah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yaitu berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ain yang dikerjakan oleh setiap orang Islam laki-laki, perempuan, anak-anak bersenjata atau tidak.Bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tenpat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di luar jarak lingkaran tadi kewajiban itu menjadi fardhu kifayah yang cukup kalau dikerjakan sebagaian saja untuk membentu perjuangan di wilayahnya.

Tanpa Resolusi Jihad, maka tidak ada perlawanan heroik. Jika tidak ada perlawanan heroik maka tidak ada hari pahlawan 10 November. Dan bisa mungkin mustahil bangsa Indonesia ada seperti saat ini.

Saya ingin pula menceritakan bahwa sebenarnya, perlawanan secara heroik bukan dilaksanakan tanggal 10, tetapi lebih awal. Jada pada saat itu KH. Hasyim Asyari menyampaikan,”Kita tunda, kita menunnggu singa Jawa Barat, yaitu Kiai Abbas bin Abdul Jamil”. Beliau adalah cicit dari MBah Muqoyyim, pendiri pesantren Buntet Cirebon.

Dan KH. Hasyim Asyari memerintahkan setelah Kiai Abbas bin Abdul Jamil datang, memerintahkan bahwa komando tertinggi Laskar Hizbullah diserahkan untuk memimpin langsung penyerangan sekutu di Surabaya pada tanggal 10 November 1945.

Pengaruh yang kuat membuat keputusan KH. Hasyim Asyari tersebut mengundurkan waktu sangat tepat. Sehingga terjadilah pertempuran yang sangat heroik yang kita kenal hari ini menjadi hari pahlawan. Hari ini mempunyai makna yang bisa kita petik bahwa peristiwa tersebut, bahwa perjuangan dan kepentingan mempertahankan kedaulatan negara berdimensi lintas etnis dan lintas wilayah. Siapapun dan di manapun mempunyai kewajiban yang sama membela bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tiga Jimat Jendral Sudirman

Dalam kesempatan ini pula saya ingin mengingatkan, dan menggarisbawahi bahwa perjuangan kemerdekaan Resolusi Jihad, hari pahlawan, dan TNI memiliki hubungan historis yang erat dan menentukan. Kita tahu bahwa panglima TNI yang abadi, yang pertama, yaitu Jendral Sudirman, adalah seorang guru agama, seorang santri. Saya sedikit menceritakan bagaimana perjuangan Jenderal Sudirman. Bahwa pada saat Jendral Sudirman belasan orang melakukan gerilya, ada satu orang penghianat. Maka pada saat Jendral Sudirman di rumah penduduk, karena penghianat ini melaporkan kepada Belanda, dikepung.

Tim pengamanan paling depan melaporkan, “Pak Dhe kita sudah dikepung.”

“Tenang, semuanya ganti pakian, dan berdzikir bersama-sama saya.” (Mereka) melakukan tahlil Lailahaillah, Lailahaillah, Lailahaillah.

Belanda masuk, ditunjukkan anak buahnya Pak Dirman (yang pengkhianat itu), “Ini yang namanya Sudirman, yang Tuan cari-cari selama ini.”

Dilihat-lihat (oleh pihak Belanda),“Saya tidak percaya ini Sudirman.”

“Pak Saya anak buahnya, saya bersama-sama bergerilya.”

Dilihat-lihat lagi, tapi tetap tidak percaya.

Belanda itu mencabut pistol. “Kamu pembohong!” Dan penghianat itu ditembak di depan Pak Dirman.

Makna ini mengingatkan, jangan sekali-kali kita menjadi penghianat bangsa. Baru di dunia saja sudah dihukum oleh Allah apalagi di akhirat nanti.

Kemudian, peristiwa demi peristiwa Pak Dirman dikawal oleh Pak Tjokropranolo, dan Pak Suprajo Rustam. Beliau berdua Pak Tjokropranolo dan Pak Rustam, karena saking penasarannya bertanya. Pak Dirman kadang-kadang dipanggl Pak Dhe kadang-kadang dipanggil Pak Yai. “Pak Yai, saya pingin tahu, jimatnya Pak Yai itu apa? Kita dikepung, Pak Yai tenang saja. Malah penghianat yang ditembak. Kita ditembaki, Pak Yai tenang-tenang saja.”

Beliu menjawab, “Kamu ingin tahu? Saya punya tiga jimat. Jimat yang pertama, saya tidak pernah lepas dari bersuci. Jadi kalau batal wudhu kamu kan bawa kendi saya, saya selalu berwudlu. Itu jimat yang pertama. Jimat yang kedua saya tidak pernah shalat tidak tepat waktu. Selalu bersih, waktunya shalat saya pasti salat, kamu tahu kan? Dan yang ketiga, jimat saya yang kegita adalah semua yang saya lakukan dengan tulus dan ikhlas untuk rakyat dan bangsa Indonesia.”

Wasslamua’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

?

Ditranskripsi oleh Fariz Alniezar

?

Video pidato lengkap Jendral Gatot Nurmatyo bisa dilihat di situs Youtube dengan link berikut: https://www.youtube.com/watch?v=I24ia_KQ23A

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama RMI NU, Santri, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni

Jepara, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi menyebut ada tiga tingkatan santri. Tingkatan pertama adalah Mubtadi. Ialah santri yang sudah bisa membaca kitab tetapi belum bisa menguasainya.

Halitu dikemukakannya dalam Haflah Akhirussanah Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Rabu (3/6) siang.

Tingkatan berikutnya Mutawasit yakni santri yang bisa membaca kitab kuning serta mampu mengulasnya.

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tingkatan Santri Menurut Kiai Syaroni

Sedangkan tingkatan terakhir Muntahi yaitu santri yang bisa membaca, mengulas dan bisa menunjukkan dalil qur’an dan hadits tentang yang dibacanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kiai Sya’roni menjelaskan pesantren yang diasuh KH Makmun Abdullah Hadziq dinamakan Roudlotul Mubtadiin sudah tepat. Karena sesuai penjabarannya bisa membaca namun belum bisa menguasainya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Harapannya kedepan santri tingkatannya bisa meningkat menjadi Muntahi. Kiai kharismatik ini menambahkan menjadi santri harus percaya diri. Sebab perintah mondok sudah dicantumkan dalam Surat Baraah.

Perintah mondok disejajarkan dengan perintah perang Sabil. Baik mana? Kiai Sya’roni menjelaskan sama-sama baiknya tetapi ia lebih cocok untuk memilih mondok. Karena ilmu yang telah diperoleh di bangku pesantren bisa ditular-tularkan kepada yang lain.

Ia menambahkan orang yang mati dalam medan pertempuran dan di pesantren sama-sama sahidnya. Mati di medan perang sahid dunia akhirat. Sedangkan yang wafat di pesantren sahid akhirat.

“Semoga ilmu yang anda peroleh di Balekambang bermanfaat di dunia dan akhirat,” doanya. (Syaiful Mustaqim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tokoh, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 03 Februari 2018

Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW

Kudus, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mbah Arwani satu-satunya kiai di Kudus yang pada masa hayatnya berpenampilan meneladani Nabi Muhammad SAW. Kiai yang alim dalam bidang Al-Qur’an ini, membawa sisir ke mana saja untuk menjaga penampilan dan kerapian.

Demikian dikatakan Mustasyar PBNU KH Sya’roni  Ahmadi saat menerangkan sifat dan tabiat Nabi Muhammad SAW kepada jamaah pengajian rutin Tafsir Al-Quran di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Jum’at (9/5) pagi.

Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Penampilan Mbah Arwani, Keseharian Kanjeng Nabi Muhammad SAW

KH Sya’roni menceritakan, Nabi Muhammad mempunyai rambut panjang tidak lebih sampai telinga, mbah Arwani juga menjaga rambutnya hingga telinga.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Seperti juga yang dilakukan kanjeng Nabi,  Mbah Arwani juga selalu membawa sisir untuk merapikan  rambut usai melaksanakan wudhu,” kata KH Sya’roni.

Mbah Arwani selalu memakai cincin Seloko bukan cincin batu akik seperti yang dipakai kebanyakan orang. Sebab, cincin Nabi yang dipakai juga berupa seloko. “Tidak ada ulama yang bisa meniru prilaku kanjeng nabi kecuali mbah Arwani,”tegas KH Sya’roni.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mengenang sosok Mbah Arwani,  Pengurus Bidang Media ISNU Kudus Rosidi menuturkan hal yang berbeda. Menurutnya, Mbah Arwani pernah menerima penghargaan “Al-Qoriul Kabir” dari pemerintah Arab Saudi pada tahun 2009.

“Ia menerima gelar itu karena karya tulisnya kitab Faidh al-Barakat fi as-Sabi’a Qira’at.  Mbah Arwani mempunyai tradisi menulis karya yang patut menjadi inspirasi dan teladan bagi santri dan generasi masa kini,” kata Rosidi saat memberi motivasi menulis santri di Madrasah Aliyah NU TBS.

KH Arwani merupakan ayahanda  Rais Syuriyah PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani. Ia lahir pada 15 Rajab 1323 H bertepatan dengan 5 September 1905 M di kampung Kerjasan Kota Kudus Jawa Tengah. iamendirikan pesantren Yanbu’ul Qur’an.

Pada 1 Oktober 1994 M, Mbah Arwani Wafat dalam usia 92 tahun (dalam hitungan Hijriyah) dan dikebumikan di kompleks pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus. Hingga kini makamnya selalu ramai diziarahi para santri dan masyarakat Kudus dan sekitarnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 31 Januari 2018

Idap Pengecilan Otak, Balita Amanda Terima Bantuan NU Care-LAZISNU

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sejak awal September 2017, NU Care-LAZISNU melakukan penggalangan donasi untuk membantu biaya pengobatan Amanda, seorang balita penderita pengecilan otak, penyempitan pernafasan, serta epilepsi langka. Penggalangan donasi tersebut berhasil mengumpulkan uang sejumlah Rp. 100.281.762,- dan diserahkan secara langsung kepada ibunda Amanda di ruang 103 Gedung A RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), Selasa (24/10) petang.

Eha Julaeha, ibu dari Amanda, mengisahkan dua minggu setelah kelahiran Amanda mengalami kejang-kejang hingga tak sadarkan diri. Selama satu bulan Amanda terbaring lemas di rumah sakit daerah dengan alat bantu pernapasan.

Idap Pengecilan Otak, Balita Amanda Terima Bantuan NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Idap Pengecilan Otak, Balita Amanda Terima Bantuan NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Idap Pengecilan Otak, Balita Amanda Terima Bantuan NU Care-LAZISNU

“Hasil dari pemeriksaan dokter, Amanda mengidap penyakit pengecilan otak, penyempitan pernapasan serta epilepsi langka yang sulit disembuhkan. Amanda harus dirujuk ke Jakarta (RSCM, red.) dan ditangani oleh dokter spesialis,” tuturnya.

Usia Amanda kini menginjak 15 bulan. Amanda mengalami dislokasi sendi, yaitu bergesernya tulang pinggul yang diakibatkan oleh kejang. Dokter, kata Eha, mengharuskan agar Amanda dioperasi.

“Saya bingung untuk biaya operasi anak saya. Penghasilan suami saya sebagai supir hanya cukup buat kebutuhan hidup dan susu Amanda. Saya berterimakasih sekali kepada LAZISNU dan semua donatur yang telah membantu,” ungkap Eha.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Meski dokter meminta orangtua Amanda agar tidak berharap banyak atas kesembuhan anak mereka, namun sebagaimana seorang Ibu, Eha tetap optimis akan kesembuhan putrinya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Amanda sangat kuat menahan sakitnya, dan itulah yang menguatkan hati saya dan suami,” ucap Eha sembari mengusap sudut matanya yang berair.

Manajer Fundraising NU Care-LAZISNU Nur Rohman, menguatkan hati ibunda Amanda bahwa hal tersebut merupakan cobaan.

“Ibu yang tabah dan harus tetap optimis, Amanda pasti sembuh. Allah sedang menguji hamba-Nya. Ibu harus kuat agar Amanda juga kuat menahan sakitnya. Serahkan semuanya kepada Allah yang Maha Menyembuhkan,” tutur Nur Rohman.

Semantara itu, Agus Fuat, Staf Fundraising NU Care-LAZISNU menjelaskan, penggalangan donasi dilakukan selama satu bulan, baik secara offline maupun online. Banyak dermawan yang tergerak hatinya untuk membantu Amanda. Di kanal kitabisa.com, platform fundraising Indonesia, campaign Amanda dibagikan sebanyak 8641 kali dengan jumlah 423 donatur.

“Untuk membantu Amanda kami menggalang donasi lewat kitabisa[dot]com dan media sosial NU Care-LAZISNU. Namun kami juga tidak menutup donasi offline. Kami, NU Care LAZISNU mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh donatur. Ini akan bermanfaat untuk membantu biaya pengobatan Amanda,” ucap Fuat. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

KH Masyhuri Malik Paparkan Dua Hal Penting bagi NU

Yogyakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. KH Masyhuri Malik mangungkapkan, ada dua hal penting yang harus dipikirkan dan dilaksanakan NU saat ini. Pertama, pembenahan organisasi dari tingkat pusat hingga ranting. Kedua, adalah membangun ekonomi mikro.

Ketua Pelaksana Kaderisasi PBNU ini menambahkan, NU sebagai organisasi harus memproteksi konsumsi produk, seperti air mineral, sabun dan pasta gigi. Selama ini kita sering minum air mineral dengan merk-merk terkenal. Tanpa kita sadari itu hanya membuat para pemodal besar semakin tambah kaya.

KH Masyhuri Malik Paparkan Dua Hal Penting bagi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masyhuri Malik Paparkan Dua Hal Penting bagi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masyhuri Malik Paparkan Dua Hal Penting bagi NU

“Dengan membeli produk-produk mereka, kita menyumbang kepada para pengusaha itu. Lebih baik kita menyumbang kepada warga kita sendiri,” tandas KH Masyhuri Malik dalam Halaqah NU di Pesantren ar-Robitha, Krapyak Lor, Sleman, Kamis (11/6) siang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dengan ekonomi kuat, NU akan menjadi organisasi kokoh. NU tidak mudah terombang ambing pada pragmatisme. Gerakan ekonomi ini bisa dimulai dari hal-hal yang kecil, misalnya usaha air mineral kemasan.   

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Orang-orang NU tidak hanya sebagai pemain pasar, tapi juga harus menjadi produsen produk-produk pokok masyarakat, seperti air mineral dan sabun,” ajak Kiai Masyhuri yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Bekasi. .

Hal penting lainnya yang perlu dilakukan dalam tubuh NU adalah pembenahan organisasi. “NU harus membenahi organisasi agar untuk mempersiapkan satu abad mendatang. Jika organisasi tertata, maka pemimpin NU tidak akan kerja sendiri,” ujar Kiai Masyhuri.

Dalam Halaqah itu dihadiri para kiai dan pengurus PWNU DIY serta pengurus PCNU se-DIY. Di dalam forum itu, Kiai Masyhuri juga menyatakan siap untuk dicalonkan sebagai ketua umum PBNU dalam Muktamar ke-33 NU di Jombang pada tanggal 1-5 Agustus mendatang. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Lomba, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 27 Januari 2018

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

Surabaya, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali membuktikan keseriusannya dalam berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama (NU). Kali ini PMII ITS memfasilitasi pendaftaran Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) bagi dosen, karyawan serta mahasiswa NU yang ada di ITS, PENS ataupun PPNS. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad (12/02) dan bertempat di gedung MWCNU Sukolilo, Surabaya.

Kegiatan ini dilakukan karena masih banyak warga NU dari kalangan dosen, karyawan maupun mahasiswa yang ada di ITS, PENS dan PPNS yang belum terdata. Sebagaimana yang disampaikan Ketua PMII ITS, Zidni Nafi Akbar, menurutnya kegiatan ini salah satunya untuk mendata mahasiswa maupun dosen NU di ITS, PENS ataupun PPNS.

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Fasilitasi Dosen dan Mahasiswa Daftar Kartanu

“Banyak sekali mahasiswa dan dosen NU yang di kampus ITS, PENS dan PPNS, namun belum bisa terdata,” ungkapnya.

Selain itu, tujuan lain diselenggarakan kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi warga NU yang belum memiliki Kartanu. “Sebenarnya kegiatan ini difokuskan kepada mahasiswa dan dosen yang ada di sekitar ITS. Namun bila ada warga atau anggota PMII selain PMII Sepuluh Nopember dipersilakan untuk ikut,” imbuhnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kegiatan ini berawal dari kerja sama antara PMII ITS dengan PCNU Surabaya. “Berhubung PMII ITS bisa bekerja sama dengan PCNU Surabaya untuk mengadakan Kartanu, maka diselenggarakan kegiatan ini,” jelas mahasiswa asal Kediri ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam pelaksanaannya, ternyata bukan hanya dari kalangan dosen, karyawan serta mahasiswa ITS, PENS dan PPNS saja yang hadir guna melakukan pembuatan Kartanu. Warga sekitar tiga kampus tersebut juga turut hadir untuk melakukan pendaftaran Kartanu, bahkan mahasiswa luar ITS juga ikut serta dalam kegiatan ini, seperti dari Universitas Islam Negeri Surabaya (Uinsa), Universitas Sunan Giri (Unsuri),? Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair).

Banyaknya peserta dari luar area ITS dikarenakan informasi mengenai kegiatan ini menyebar di sosial media dengan cepat. Hal itu senada dengan apa yang diutarakan Ahmad, salah satu pendaftar Kartanu dari luar area ITS. Ia mengatakan, mengetahui adanya kegiatan ini dari sosial media. “Saya tahu info ini dari sosial media,” ujarnya.

Salah satu dosen yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ardy Maulidy Navastara ST MT. Ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan semacam ini. Tak hanya itu saja, ia mengharapkan agar seluruh MWC, khususnya yang ada di seluruh Surabaya untuk menjadi agenda rutin.

“Saya pikir ini seharusnya menjadi agenda rutin bagi para MWC yang ada di seluruh Surabaya untuk disosialisasikan kepada masyarakat yang ada di Surabaya,” ungkapnya.

Selain itu, menurutnya perlu adanya sosialisasi. Hal itu dikarenakan masih banyak mahasiswa dan dosen ITS yang belum mengetahui Kartanu. “Kalau bisa disediakan posko yang selalu siap melayani warga nahdliyyin yang ingin mendaftar Kartanu,” pungkasnya. (Hanan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Berita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 25 Januari 2018

Geliat Islam Periode Wali Songo

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Peran Wali Songo di Indonesia (baca: Nusantara) dalam mendakwahkan Islam menjadi objek riset yang menarik. Jika dilacak, Sunan Ampel sekeluarga datang ke Nusantara pada 1440-an atau tujuh tahun setelah akhir kedatangan Laksamana Muhammad Cheng Ho pada 1433. Praktis, diasumsikan Sunan Ampel sejak awal sudah berdakwah.

“Tapi belum terlalu kuat dan luas dakwahnya. Saya menghitung kira-kira dakwah Islam terorganisasi yang disebut Wali Songo terbentuk sekitar tahun 1470-an, yaitu 30 tahun setelah kedatangan Sunan Ampel di Jawa. Saat itu putra-putranya, antara lain, Sunan Bonang dan para santrinya dewasa,” tutur KH Agus Sunyoto di hadapan para dosen Pascasarjana STAINU Jakarta, Selasa.

Sejarawan NU ini didaulat mempresentasikan risetnya pada rapat kurikulum Islam Nusantara yang menghadirkan para dosen dan pemangku kebijakan Pascasarjana STAINU Jakarta. Rapat yang juga dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tersebut digelar di ruang media center lantai 5 gedung PBNU.

Geliat Islam Periode Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Islam Periode Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Islam Periode Wali Songo

“Kalau kita mulai tahun 1470 dimulai dakwah sistematis Wali Songo, maka kita akan melihat hasil dari dakwah itu. Tahun 1513, atau 40-50 tahun setelah dakwah Wali Songo, seorang berkebangsaan Portugis datang ke Jawa. Dia mencatat seluruh Pantai Utara Jawa dikuasai para adipati beragama Islam. Bahkan, di Demak saat itu merupakan pusat Islam,” ungkap Agus Sunyoto.

Rupanya, lanjut Agus, tahun 1513 Raden Patah sudah meninggal. Karena para peneliti itu menyebut di situ rajanya Raja Patiunus, anaknya Raden Patah. Lalu, pada 1522 seorang berkebangsaan Italia, Antonio Gutapeta, datang juga ke Jawa. Dia mencatat bahwa seluruh Jawa muslim.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Artinya, kalau kita melihat, dakwah Wali Songo dari tahun 1470 sampai 1513 (40 tahunan), bagaimana bisa mengislamkan seluruh tahah Jawa. Itu yang sampai sekarang jadi misteri bagi para sejarawan, termasuk satu peneliti yang menyatakan bahwa dakwah Islam di Jawa itu paling tidak jelas. Kenapa? Karena nggak masuk akal,” ujar Agus Sunyoto disambut senyum simpul para dosen.

Dalam tempo begitu singkat, tambah Agus, Wali Songo mampu mengubah masyarakat dari tidak Islam menjadi pemeluk Islam. Gerakan dakwah apakah yang dilakukan. “Kita kesampingkan aja bagaimana pola dan sistem dakwahnya. Yang jelas, kita menemukan satu fakta bahwa gerakan para wali dalam proses islamisasi ternyata melahirkan satu produk pengetahuan baru. Ini merupakan kelanjutan dari Majapahit,” tuturnya.

Wakil Ketua Lesbumi ini menilai, sebelum dakwah para wali secara terorganisasi Islam tidak bisa dianut masyarakat pribumi karena sejak awal orang-orang di Nusantara tergolong masyarakat yang sudah tinggi ilmu pengetahuan dan teknologinya.

“Kita ambil contoh aja, abad pertama masehi, orang Nusantara sudah mengenal kalender. Kalender Jawa itu sekarang usianya 1948 M. Sementara, kalender hijriyah baru 1436 H. Ada selisih 500 tahun. Memang, teknologinya sudah maju,” cetusnya.

Ketika terjadi islamisasi, lanjut Agus, justru pada saat pengetahuan yang dikembangkan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit jatuh akibat perang berkepanjangan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Di situlah generasi Islam era Wali Songo membangun peradaban termasuk ilmu-ilmu pengetahuan baru,” tegasnya.

Manunggaling Kawulo-Gusti. Lebih lanjut Agus Sunyoto memberi contoh misalnya dalam Sosiologi. Masyarakat Majapahit saat itu hanya mengenal dua jenis komunitas yang ada di wilayah. Pertama, golongan Gusti, yaitu masyarakat yang tinggal di keraton. Mayoritas beragama Hindu. Sementara di Sriwijaya beragama Budha.

Kedua, masyarakat di luar keraton yang disebut kawulo, artinya budak. Mayoritas dari mereka beragama Kapitayan, bukan Hindu bukan pula Budha. Kapitayan itu agama Nusantara yang oleh orang Belanda disebut sebagai agama Animisme-Dinamisme.

“Jadi, mereka tidak mengenal dewa-dewi. Sebaliknya, mereka hanya mengenal persembahan ke punden-punden dan pemujaan kepada leluhur. Mereka menjadikan cungkup sebagai tempat ziarah. Ini bedanya dengan Hindu dan Budha. Nah, ziarah itu akar asli Nusantara,” papar Agus.

Pada era Wali Songo, kata Agus, muncul fenomena baru terutama ajaran Syekh Siti Jenar, yakni Manunggaling Kawulo-Gusti. Antara golongan gusti dan kawulo sebenarnya satu. Melalui dukuh-dukuh yang masuk kawasan Lemah Abang dibentuk sebuah komunitas baru bukan lagi bernama kawulo, tapi masyarakat.

“Istilah ini diambil dari kata musyarakah yang berarti orang sederajat yang bekerja sama. Konsep ini ndak ada di Timur Tengah. Ini ndak ada kesukuan, tapi orang kerja sama. Nggak peduli suku apapun, agama apapun, yang penting dia bukan kawulo. Nah, di komunitas ini lalu diperkenalkan istilah baru seperti ‘hak’ dan ‘milik’. Pelan-pelan, bahasa Arab itu pun masuk,” urainya.

Padahal, lanjutnya, kawulo atau budak itu tidak memiliki hak dan milik. Rumah, anak dan istri milik kaum gusti. “Jadi, kalau ada gusti berburu lewat kampung lalu ada wanita cantik, diambil aja. Nggak peduli itu anak atau istri orang. Tapi kalau di Lemah Abang mereka pasti melawan,” ungkapnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah, Syariah, Meme Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 15 Januari 2018

Momen Kelulusan, Pelajar SMP NU Gresik Sosialisasi Bahaya Narkoba

Gresik, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus OSIS SMP NU 2 Gresik tak menyia-nyiakan waktu luang setelah ulangan akhir semester genap tahun ajaran 2014-2015. Setelah remidi dilaksanakan, mereka menggelar seminar bertema “Dampak Penyalahgunaan Narkotika” bagi para pelajar setempat.

Acara yang digelar Rabu (10/6) siang ini mendatangkan narasuber dari BNK (Badan Narkotika Kabupaten) Gresik, Sudarmanto dan Fanani. Semua peserta didik wajib mengikuti seminar tersebut. Mereka berjumlah 158 siswa dari kelas VII, VIII dan IX SMP NU 2 Gresik.

Momen Kelulusan, Pelajar SMP NU Gresik Sosialisasi Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Momen Kelulusan, Pelajar SMP NU Gresik Sosialisasi Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Momen Kelulusan, Pelajar SMP NU Gresik Sosialisasi Bahaya Narkoba

Sekolah Menengah Pertama yang beralamat di Jalan Raden Santri V/22 Gresik itu mengadakan kegiatan di lantai II menggunakan 3 ruang kelas yang dibuka sekatnya. “Begitu apik dan interaktif narasumber menyampaikan, sehingga anak-anak merasa nyaman saat menerima materi,” kata Choiruddin selaku Pembina OSIS.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tidak sekadar ulasan teori, pada kesemoatan itu sempat juga ditayangkan video-video para korban penyalahgunaan Narkotika, serta video hukuman bagi para pengedar obat-obatan terlarang tersebut.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Firmansyah, ketua penitia kegiatan seminar, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi peserta didik yang belum mengetahui tentang Narkotika.

BNK mengimbau agar para pengguna bisa berkonsultasi kepada petugas BNN. Laporan dari para pengguna akan dirahasiakan. Mereka tidak akan dihukum, tapi akan direhabilitasi atau disembuhkan dari ketergantungan.

Sedangkan bagi para pengedar akan dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Jadi hentikanlah segera bagi yang saat ini menjual barang haram tersebut.

SMP yang bernaung di bawah LP Maarif kabupaten Gresik itu rutin mengadakan kegiatan bagi peserta didik untuk menbentuk karakter.

Setelah kegiatan seminar selesai, pihak sekolah mengumumkan kelulusan kelas 9. Suasana haru dan khidmat terasa saat satu-persatu pengumuman mulai dibagikan.

“Setiap peserta didik kelas 9 menerima amplop yang berisi pengumuman kelulusan serta nilai hasil ujian. Alhamdulillah, SMP NU 2 Gresik lulus 100%,” kata Hadi Suwito selaku Kepala SMP NU 2 Gresik. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ubudiyah, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 05 Januari 2018

Orang-Orang Miskin yang Pergi Haji (1)

Surabaya, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Orang-orang miskin yang pergi beribadah haji ke Tanah Suci agaknya bukan hanya ada dalam sinetron seperti "Mak Ijah Pengen ke Mekkah" atau "Tukang Bubur Naik Haji".

Bahkan, di Jawa Timur pada musim haji 2013 ada tukang becak, juru parkir, pemulung, pedagang rongsokan, loper koran, dan sebangsanya yang menunaikan ibadah haji.

Orang-Orang Miskin yang Pergi Haji (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang-Orang Miskin yang Pergi Haji (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang-Orang Miskin yang Pergi Haji (1)

Agaknya, cara yang ditempuh orang-orang miskin untuk bisa bertandang "Rumah Allah" (Baitullah) di Masjidilharam atau ke "Rumah Nabi" di "Roudloh" (Masjid Nabawi) itulah yang menarik direnungkan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Misalnya, Abdullah bin Saiful Hadi (57), bapak dua anak serta tiga cucu asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang berangkat bersama Kloter 62/Surabaya pada tanggal 8 Oktober 2013.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Abdullah yang hanya lulusan SD itu bisa mewujudkan niatnya menyempurnakan Rukun Islam yang kelima dalam kurun waktu hampir 26 tahun.

Sejak remaja, dia memang sudah terbiasa dengan kehidupan yang cukup keras sebab orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya walau Abdullah akhirnya bisa sekolah dengan gratis karena ada yang membiayainya.

Sepulang sekolah, Abdullah mencari "rupiah" dengan menjadi pengayuh becak. Namun, sejak 1987 selalu menyisihkan uangnya hasil jerih payahnya sebagai pengayuh becak dan kuli panggul di Pasar Mangli Jember untuk mewujudkan keinginannya ke Tanah Suci itu.

Bayangkan, setiap hari uang yang disisihkan Abdullah dalam tabungannya hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000, kecuali hari Ahad karena toko-toko yang ada libur.

Dengan kesabaran dan ketekunannya, Abdullah mendaftarkan dirinya ke bank untuk mendapatkan nomor porsi pada tahun 2009 kendati sejumlah rekannya sering mengolok-olok dirinya.

"Penghasilan sebagai tukang becak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, saya bersama almarhumah istri tetap menyisakan uang receh sisa dari belanja kebutuhan keluarga untuk ditabung," paparnya.

Saat itu, hanya tersisa sekitar Rp17 juta karena sering diambil untuk kebutuhan yang mendadak, termasuk menikahkan anaknya.

Untuk bisa mendapat porsi haji pada tahun itu harus tersedia dana Rp20 juta, maka akhirnya ditambahi tabungan milik istrinya Rp3 juta sehingga mencukupi.

Guna memenuhi kekurangan biaya haji diikhtiarkan dengan mengikuti arisan di kampungnya, yaitu Dusun Klanceng, Kecamatan Ajung, Jember.

"Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Di depan Ka’bah, saya doakan almarhumah istri yang telah meninggal dunia pada tahun 2011, serta memohon rezeki lancar dan barokah serta haji yang mabrur," tuturnya.

Menabung Sejak 2008

Cerita yang tak jauh berbeda juga dialami Djumain, seorang juru parkir motor di pertokoan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang tergabung dalam Kloter 44 yang berangkat ke Tanah Suci pada tanggal 2 Oktober 2013.

Dengan meneteskan air mata seolah tak percaya, dia menceritakan tentang bagaimana mewujudkan niatnya untuk bisa menunaikan Rukun Islam yang kelima.

Keseharian dirinya sebagai seorang juru parkir motor tentu sangatlah sulit dibayangkan bisa berangkat haji walaupun dibantu istrinya, Sulismani, yang menerima pesanan kue-kue.

"Akan tetapi, Allah berkehendak lain, tiba-tiba saya tergerak untuk selalu menyisihkan penghasilan saya yang sekitar Rp700 ribu setiap bulan untuk sebagian dimasukkan tabungan haji sejak 2008," ucap penderita polio sejak kecil itu.

Selang setahun, dengan bantuan saudara-saudaranya, dia pun langsung mendaftarkan diri untuk bisa mendapatkan nomor porsi berangkat haji, sampai pada saat pelunasan pun mampu terpenuhi walaupun cukup bersusah payah untuk semua itu.

Padahal, pada tahun 2011, Djumain yang bapak dari empat anak itu mengalami kecelakaan saat mengendarai motor akibat tertabrak mobil. Dia pun tidak sadarkan diri dan siuman saat sudah berada di RSSA Malang.

"Kaki dan tangan saya patah dan kaki kanan saya harus dipen serta tangan kiri dengan perawatan selama 20 hari. Alhamdulillah, saya tetap bisa berangkat bersama istri walaupun harus menggunakan tongkat penyangga untuk berjalan," tukasnya.

Di Mekah, dia berdoa untuk rumah tangga yang sakinah mawadah wa rohmah, rezekinya lancar dan barokah, dan pendidikan anak yang masih kuliah lancar serta ilmunya bermanfaat bagi keluarga dan negara.

Ikhtiar yang tidak jauh berbeda juga dilakukan Sutika bin Marwapi (42), yang berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 2012.

Warga asal Desa Cangkring Baru, Kecamatan Jenggawah, Jember yang berprofesi sebagai pedagang di Pasar Jenggawah itu mengaku dirinya berasal dari keluarga miskin, lalu dirinya merantau ke Bali untuk bekerja.

"Di Bali, pikiran saya terbuka untuk berdagang dan saya mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji agar saya tidak malu di hadapan keluarga, lalu saya mendaftarkan haji pada tahun 2008 dan akhirnya ditakdirkan berangkat pada hari Senin (15/10/2012)," ujarnya. (bersambung). (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sejarah, Hikmah, Makam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 29 Desember 2017

Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim

Rembang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Dalam peringatan haul KH M Abdullah Maksum Jauhari atau biasa  disapa Mbah Maksum Lirboyo yang diselenggarakan setiap tahun oleh Pengurus Cabang (PC) Pagar Nusa Kabupaten Rembang. acara ini dihadiri ratusan pendekar Pagar Nusa (PN) dari ranting-ranting se-cabang Rembang.

Sesepuh Pagar Nusa Rembang Zainur Rouf menyebutkan, peringatan ini merupakan wujud hormat dan cinta  kepada pendiri bela diri Pagar Nusa. Selain itu, dengan peringatan seperti ini ia berharap mendapatkan keberkahan ilmu dari seorang guru.

Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Mbah Maksum Jauhari, Ratusan Pendekar Gelar Khataman dan Santunan Yatim

"Mbah Masum itu pendiri Pagar Nusa yang berasal dari Pondok Pesantren (Pontren) Lirboyo Kediri. Ia merupakan seorang yang alim dengan ilmu bela diri yang hebat," ungkapnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia berharap dengan diadakan kegiatan rutin setiap tahun ini semakin meningkatkan tali persaudaraan antarpendekar di Kabupaten Rembang sehingga kepengurusan Pagar Nusa Rembang bisa solid dan melahirkan pendekar yang berprestasi.

Sementara, Pengurus Pagar Nusa Rembang Tyas Eko Saputro selaku ketua panitia menyatakan banyak acara yang turut meramaikan Haul Mbah Maksum, Kamis (5/10) tersebut. Acara ini dimeriahkan dengan khataman Al-Quran sebanyak lima kali, pertunjukan pentas seni, dan santunan kepada yatim dan piatu setempat.

"Perwakilan dari beberapa ranting menunjukkan aksi hebatnya dengan mempertontonkan gerakan jurus, seni bela diri, sampai memecahkan batu bata dengan kepala," ujarnya saat ditemui di gedung serbaguna YKM NU Rembang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Acara ini dimulai pukul 20.00 hingga menjelang tengah malam. Turut hadir Ketua PCNU Kabupaten Rembang KH Sunarto, Rais Syuriyah PCNU Rembang H Ahmad Chazim Mabrur, sesepuh Pagar Nusa, dan seluruh ranting Pagar Nusa di cabang Rembang. (Onji/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sunnah, Nasional, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 26 Desember 2017

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama.

Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan "Guru Sekumpul" duduk? bersila berhadapan dengan KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur. Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan

Pemasangan poster foto ulama adalah salah satu wujud penghormatan terhadap para ulama. Pemasangan poster Guru Sakumpul dan Gus Dur, menunjukkan penghormatan pemilik restoran pada sosok ulama tersebut. Dan sudah barang tentu ia berharap orang-orang, para pengunjung restorannya juga menghormati mereka berdua.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Catatan Kenangan



Poster foto itu mengingatkan saya pada kenangan sekitar seperempat abad yang lalu. Ketika itu Gus Dur datang ke Salatiga untuk menjadi pembicara dalam Konferensi Agama-Agama (KAA) yang digelar oleh PGI. Rupanya sehabis kegiatan itu Gus Dur berniat untuk mengunjungi puterinya, Alissa, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM yang kala itu sedang KKN di Magelang. Gus Dur minta kepada kami, teman-teman di Yogya, untuk ditemani. Kebetulan saya waktu itu yang mendapat pesan panitia sedang tidak ada kegiatan. Jadilah saya yang menemani beliau.

Di dalam mobil Toyota Kijang milik panitia seperti biasa pula Gus Dur berbincang akrab. Bercerita tentang situasi politik, bertanya tentang perkembangan buku dan dunia intelektual dan tentu saja diselingi humor yang segar. Kadang suara Gus Dur lenyap karena tertidur, terdengar suara dengkur, tapi hanya sebentar, lalu kemudian terbangun lagi untuk melanjutkan perbincangan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tiba-tiba saja Gus Dur bertanya, siapa di Kalimantan Selatan sosok ulama yang sekarang sangat dihormati. Dengan spontan, saya menjawab "Tuan Guru H. Zainie Ghanie". Saya ceritakan bagaimana pengajian rutin yang diasuh beliau di sebuah kawasan kampung senantiasa dihadiri ribuan masyarakat dan bagaimana kampung itu, ‘Sekumpul’, kemudian dinisbahkan kepada beliau. Jadilah julukan akrabnya ‘Guru Sekumpul’. Nisbat seseorang pada nama sebuah kampung jelas menunjukkan kelas ketokohannya. Dalam sejarah Islam di Kalimantan, ini disandang misal oleh ‘Guru Kelampayan’, gelar kultural-keagamaan bagi Syekh Muhammad Arsyad, yang membuka dan mengembangkan pengajaran Islam di kampung Dalam Pagar, di daerah Kelampayan pada abad 18. Sanad guru-murid Tuan Guru Sekumpul sendiri terhubung sampai Guru Kelampayan ini.? ?

Gus Dur menyimak dan mendengarkan informasi yang saya sampaikan tersebut. Sembari diselingi beberapa pertanyaan mengenai detail yang tampaknya ingin beliau ketahui lebih lanjut.

Perbincangan itu mungkin berlangsung sekitar bulan April 1994. Langit politik Indonesia sedang kemarau karena protes dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Soeharto mulai bertumbuh dan menjamur luas. Dalam iklim yang panas itu, NU juga mengalami efek panas yang luar biasa karena Gus Dur –yang notabene Ketua Umum PBNU-- merupakan sumbu penting suara-suara protes tersebut.

Pak Harto konon sangat marah kepada Gus Dur. Beberapa kali Gus Dur hendak mengajukan sowan untuk melaporkan rencana pelaksanaan muktamar sekaligus meminta kepada Pak Harto untuk membuka, selalu ditolak.

Kala itu Pak Harto sudah tidak ingin Gus Dur jadi ketua umum lagi. Karena ITU, ‘perintah alus’-nya –suatu istilah era kolonial yang menunjukkan ketidakinginan pemerintah kepada suatu figur duduk dalam sebuah organisasi--? melalui aparat militer dan birokrasi berbagai cara dilakukan untuk menjegal Gus Dur. Bahkan ketika menabuh gong untuk membuka muktamar, Pak Harto sama sekali tidak menyapa dan hanya membelakangi Gus Dur. "Dinengke" dan "ra dianggap", istilah Jawanya, suatu simbol politik khas Jawa yang sangat keras.

Muktamar terpanas dalam Sejarah NU, dan politik masyarakat sipil Indonesia di ujung Orde Baru itu berlangsung dengan keras dan berakhir dramatis dengan terpilihnya kembali Gus Dur sebagai ketua PBNU. Gus Dur hanya memenangkan 3 suara dengan pesaingnya, sosok yang sama sekali tak dikenal, Hasan Syazili.

Tapi poinnya bukan itu. Pada Muktamar NU 1994 itu, saya –yang merupakan peserta ‘romli’ (rombongan liar) bertemu dengan senior Dr. Humaidi Abdussami, dosen IAIN (sekarang UIN) Antasari, Banjarmasin, yang datang sebagai peserta muktamar dari NU Kalimantan Selatan. Ia bercerita bahwa sebenarnya Guru Sekumpul ingin datang ke Muktamar ini. Dalam pengajian minggu sebelumnya beliau bilang minggu ini pengajian libur karena ingin menghadiri muktamar atas undangan Gus Dur. Sayang sekali, lanjut Humaidi, pada hari "H muktamar, Guru Sekumpul sakit, sehingga beliau batal hadir.

Saya tidak tahu apakah waktu ngobrol di mobil dan bertanya tentang ulama di Kalimantan Selatan beberapa bulan sebelumnya itu Gus Dur memang belum tahu dan tidak pernah mendengar nama Guru Sekumpul. Apakah beliau hanya ingin menguji pengetahuan saya saja? Atau hanya sekadar untuk mengonfirmasi dan mencocokkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya mengenai Guru Sekumpul. Entahlah. Yang jelas, seperti cerita Dr. Humaidi Abdussami di atas, Guru Sekumpul berniat datang ke muktamar atas undangan Gus Dur, meski kemudian batal karena berhalangan.

Terlepas dari ketidakdatangan beliau, di dalam kepengurusan NU kemudian nama Guru Sekumpul dengan nama resmi KH Zaini Abdul Ghani, tercantum sebagai salah satu dari 9 anggota mustasyar PBNU perode 1994-1999. Mustasyar artinya penasehat. Mustasyar atau Dewan Penasehat ini berada di strata paling tinggi dalam struktur kepengurusan NU.? Mustasyar memang dari segi praktik lebih merupakan daftar nama. Tidak ada tugas organisasi yang harus diemban. Tetapi dari segi makna, mustasyar menunjukkan pengakuan tinggi organisasi ini pada sosok ulama sebagai garda pengawal organisasi ini. Ulama merupakan simbol organisasi ini.

Nama Guru sekumpul sebagai mustasyar itu bermakna lebih penting lagi mengingat setelah muktamar itu, NU terseret konflik antara kubu Gus Dur dan Abu Hasan yang kemudian membuat “NU Tandingan”. Kebetulan NU Kalimantan Selatan berada di kubu yang berseberangan dengan Gus Dur. Namun penentangan terhadap Gus Dur dari Kalimantan Selatan ini tidak begitu keras karena ada nama Guru Sekumpul dalam barisan Mustasyar, meski Guru Sekumpul sendiri tidak turut campur sama sekali. (Kelak sebelum Abu Hasan dan Gus Dur meninggal, keduanya bertemu, islah, dan saling memaafkan. Perbedaan pandangan politik adalah satu hal, persaudaraan adalah hal lain.)

Ketika tahun 2012 saya turut diajak menjadi salah seorang tim penulis dan penyunting Eksiklopedi NU, saya mengusulkan dan memasukkan nama Guru Sekumpul sebagai lema. Usulan ini diterima bulat dan jadilah sosok Guru Sekumpul terpampang sebagai salah satu lema dalam ensiklopedi tersebut.

Menjadi NU sendiri tidak mesti memiliki kartu anggota atau menjadi pengurus. Demikian dengan Guru sekumpul. Dari segi ajaran yang diajarkan dan dikembangkan beliau adalah NU sejati. Pengaruh dan sumbangannya pun amatlah besar kepada ‘masyarakat NU’, bukan hanya di Kalimantan Selatan, tapi di lima penjuru Kalimantan, bahkan keluar Kalimantan. Karena itu apakah namanya masuk dalam jajaran pengurus NU atau tidak, tidaklah penting bagi beliau. Demikian juga, andai tak dicantumkan dalam ensiklopedi, itu sama sekali tak mengurangi kebesaran namanya, seperti juga pencantuman itu tak menambah kebesaran namanya. Yang merasa berkepentingan dan untung tentu NU sendiri karena pencantuman itu memiliki makna simbolik yang dalam dan luas.

Presiden Gus Dur dan Kampanye



Tahun 1999. Politik Indonesia mengalami perubahan yang cepat dan dramatis seusai Pak Harto dimakzulkan. Tak dinyana, Gus Dur diangkat menjadi presiden, lewat suatu kemelut politik yang rumit.

Gus Dur adalah penggemar silaturahmi. Ia bersilaturahmi ke mana dan ke siapa saja. Menjadi presiden tak menghalanginya untuk terus melanjutkan hobi silaturahminya tersebut. Tentu saja ulama selalu ada dalam daftar kunjungan silaturahmi Gus Dur. Dan di antara ulama itu tersebutlah nama Guru Sekumpul.

Pada hari Jumat, 26 Mei tahun 2000 Gus Dur bersilaturahmi ke Martapura mengunjungi Guru Sekumpul dan berziarah ke makan Maulana Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menghadiahi Guru Sekumpul satu pak rokok bermerek Istana Presiden. Gus Dur tahu kalau Guru Sekumpul suka merokok. Menurut cerita, Guru Sekumpul menerimanya, tertawa sangat senang dan berterima kasih. Seorang penulis, Muqarramah Sulaiman Kurdi, menggambarkan pertemuan keduanya “tampak sangat akrab dan penuh canda tawa. Keduanya seperti sahabat lama yang baru bisa berjumpa kembali pada saat itu.”

Menurut catatan, itu adalah pertemuan pertama Gus Dur dan Guru Sekumpul. Tapi dari arsip foto yang beredar luas, di mana Gus Dur maupun Guru Sekumpul mengenakan pakaian yang berbeda, setidaknya Gus Dur lebih dari sekali bertemu dan bersilaturahmi ke tempat Guru Sekumpul. Bisa jadi sebelum dan sesudah 26 Mei 2000 di atas sudah pernah. Namun karena kunjungan di 26 Mei 2000 ini merupakan kunjungan tidak resmi Gus Dur sebagai presiden, maka inilah yang dicatat sebagai yang pertama dan diliput secara luas.

Dalam hal ini, patut saya ulang cerita yang kembali saya kutip dari Dr. Humaidy Abdussami tentang Guru Sekumpul dan Gus Dur ini. Sudah umum diketahui bahwa setelah reformasi, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tentu saja pendirian ini tidak menyenangkan partai-partai lama, karena menggerus pendukung mereka, terutama dalam hal ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Kalimantan Selatan, notebene juga berbasis pada masyarakat NU.

Pada kampanye Pemilu 1999, kontestasi antara? PKB dan PPP pun tak bisa dihindari. Tak terkecuali di Kalimantan Selatan. Dalam kampanye inilah muncul ejekan yang tidak semestinya kepada Gus Dur sebagai pendiri dan Ketua Umum PKB. Fisik Gus Dur yang tak bisa melihat dan buta pun menjadi sasaran ejekan.

Guru Sekumpul rupanya mendengar hal itu. Dalam sebuah pengajian, akhirnya beliau mengatakan yang kira-kira dalam bahasa Banjar kurang lebih demikian: “Aku mandangarlah ada bubuhannya manyambati Gus Dur tu picak. Aku baritahu buhan ikam, jangan diulang lagi, Gus Dur itu ulama. Anak ulama. Dan cucu ulama. Kalo katulahan kaina.” (Aku mendengar banyak orang mengejek Gus Dur picek. Aku kasih tahu kalian, jangan dilakukan lagi, Gus Dur itu seorang ulama. Anak seorang ulama, cucu seorang ulama. Bisa kuwalat kalian nanti.) Demikian kira-kira cerita Humaidy Abdussami, dengan paraprase yang saya buat kembali. Dan peringatan Guru Sekumpul itu bergema seperti guntur. Sejak itu tak ada lagi ejeken demikian terhadap Gus Dur.

Cerita ini menunjukkan betapa Guru Sekumpul sangat menghargai ulama di satu pihak, dan menganggap Gus Dur sebagai salah seorang ulama yang patut dihargai juga. Yang kedua, Guru Sekumpul secara tidak langsung mengingatkan bahwa berbeda boleh saja, Karena itulah Guru Sekumpul tidak memerintahkan memilih salah satunya.? Tetapi yang diingatkan beliau adalah tetap menjaga sopan santun dan akhlak serta persaudaraan.

Guru Sekumpul dan Gus Dur: Dua Wali Awal Abad 21 ?



Baik Guru Sekumpul maupun Gus Dur adalah ulama. Namun keduanya tampil sebagai ulama dalam pola dan lapangan pengabdian yang berbeda, meski dasar ajaran yang dikemukakan pada dasarnya sama.

Guru Sekumpul adalah ulama par excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul.

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syekh yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan orang-orang –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.? ?

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang namanya diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Berbeda dengan itu, Gus Dur tumbuh sebagai ulama dengan kombinasi pendidikan keagamaan tradisional dan pendidikan modern. Ia menulis esai-esai dan mengulas berbagai perkara mulai agama hingga sepakbola di media-media. Ia menjelajahi berbagai profesi dari pekerja LSM, dosen, penulis, konsultan, politisi dan lain-lain. Ia juga bertemu dengan banyak kalangan yang berwarna-warni dan beragama dari agama, etnis, bangsa, budaya, profesi dan banyak lagi lainnya. Artinya sebagai ulama, Gus Dur adalah ulama dengan banyak wajah dan dengan gelanggang yang sangat luas.

Gus Dur memandang tinggi Guru Sekumpul dan karena itu meminta beliau untuk masuk ke jajaran mustasyar, dewan penasihat, himpunan sembilan ulama yang layak memberikan nasihat. Sebaliknya Guru Sekumpul sendiri memandang Gus Dur sebagai ulama.

Lantas di manakah ‘perjumpaan’ antara keduanya? Perjumpaan keduanya terletak pada konsistensi untuk memperkenalkan Islam sebagai agama tauhid dengan nilai-nilai yang universal: kasih sayang, perdamaian, pembebasan. Islam sebagai yang berserah diri dan pasrah.

Guru Sekumpul tak pernah terlibat dalam dialog-dialog antaragama, tetapi pengajaran-pengajaran beliau mengandung dimensi pengembangan jiwa pribadi maupun umat secara mendalam. Seorang teman Katolik pernah bercerita bahwa ia pernah mendengar beberapa kali rekaman pengajian Guru Sekumpul dan ia mengaku sangat apresiatif. Pengajaran-pengajaran beliau penuh dengan nilai-nilai positif, pembangunan karakter jiwa, optimisme, dan kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dan yang penting lagi, menurutnya, tidak ada sama sekali, nada-nada permusuhan dengan kalangan lain. ?

Bergerak di wilayah lain dan dengan strategi yang berbeda, Gus Dur memperkenalkan Islam yang ramah, bukan yang marah. Tak lelah dan tak kenal henti ia meyakinkan bahwa Islam agama yang penuh penghormatan pada martabat kemanusiaan, toleran, dan adil.

Sebuah tulisan dari Muqarramah Sulaiman Kurdi di Gusdurian.net dengan baik mengulas perjumpaan Islam yang diajarkan Guru Sekumpul dan 9 nilai yang dikembangkan Gus Dur selama ini. Dalam bahasa yang singkat, keduanya mengajarkan ‘Islam yang basah’, mengutip Frithjof Schuon, bukan ‘Islam yang kering’, yang hanya memperkenalkan aspek-aspek permukaan dan parsial dari Islam. Tak heran kalau keduanya sangat mendalam pengaruhnya di kalangan pengikutnya masing-masing. Dan tidak aneh juga jika seseorang bisa menjadi pengikut Guru Sekumpul sekaligus penyuka Gus Dur seperti tercermin dalam sosok pemilik restoran yang dikutip di pembuka tulisan di atas.

Saya bersyukur pernah berguru kepada kedua ulama ini secara langsung. Pada masa pendidikan di pesantren dulu, saya cukup sering mengikuti pengajian Guru Sekumpul. Waktu itu, beliau masih menyelenggarakan majlis di Kampung Keraton dan belum lagi pindah ke daerah Sekumpul. Dari Pesantren Alfalah kami naik angkot ke kota Martapura sehabis Asar, mengikuti salat magrib jamaah dan kemudian dilanjut dengan pengajian kitab beliau, di antaranya kitab Ihya ‘ulumiddin dan Risalah Mu’awanah. Sementara pada masa mahasiswa, saya sering sekali bertemu Gus Dur, bahkan sempat berbincang-bincang berdua secara lebih dekat. ?

?

Beberapa tahun lalu, ketika ziarah ke makam para wali, baik di Kalimantan maupun di Jawa, saya pernah terpikir bahwa mereka yang disebut wali dan makamnya dikeramatkan dan diziarahi orang banyak tak henti-henti, adalah tokoh-tokoh masa lalu. Sekarang dan akan datang tak akan pernah ada lagi sosok-sosok demikian.

Ternyata anggapan saya itu keliru. Ketika Tuan Guru Haji Zainie Ghani atau Guru Sekumpul wafat tahun 10 Agustus 2005, lautan manusia melepaskan kepergian beliau. Setelah itu makam beliau di Sekumpul yang sangat bersih dan tertata rapi tiap hari selalu diziarahi banyak orang. Dan haul tahunan Guru Sekumpul juga dihadiri ratusan ribu umat Islam.

Tak berbeda jauh dengan Guru Sekumpul, ketika Gus Dur wafat 30 Desember tahun 2009, ribuan orang juga turut melepasnya. Lalu setelah itu makamnya di Tebu Ireng kini menjadi situs ziarah yang tak pernah habis. Sedemikian besarnya, tak aneh jika K. H. Maimun Zubair dari Sarang, pernah mengemukakan kecemburuannya dan bertanya kepada Gus Mus, apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi penziarah. Uniknya penziarah Gus Dur bukan hanya umat Islam, sebagian juga datang dari kalangan lain.

Baik Tuan Guru Sekumpul dan Gus Dur adalah wali Indonesia abad 21.? ?



Hairus Salim HS, aktivis NU; pendiri Yayasan LKiS


Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sholawat, Hikmah, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 24 Desember 2017

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Raden Sutisna Sendjaya lahir di Wanaraja, Garut, pada 27 Oktober tahun 1890 M dan wafat di Bandung pada 11 Desember tahun 1961. Selain sebagai tokoh NU, ia sangat dikenal sebagai tokoh pers di Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Majalah al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama yang diterbitkan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tasikmalaya pada bulan Agustus 1933. Pengabdiannya di NU, ia lanjutkan hingga tingkat wilayah. Tahun 1948 menjadi ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat. Selain aktif di NU, ia juga salah seorang tokoh pergerakan di Paguyuban Pasundan.

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Sutisna Senjaya, Tokoh Pers dari NU Jabar

Dalam dunia jurnalistik, selain di Al-Mawaidz, ia pernah menjadi redaktur di beberapa surat kabar pada masa penjajahan Belanda seperti Silliwangi (1921-1922). Aktif menulis di surat kabar Sipatahoenan (1923). Dalam menulis, ia sering menggunakan inisial Sutsen.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pendidikan Sutsen ditempuh di Sakola Raja (KweekSchool) di Bandung pada tahun 1911. Sutsen pernah mengajar di HIS Banten kemudian di HIS Bandung. Kemudian ia melanjutkan belajar ke HKS, dan kemudian melanjutkan kembali kegiatan mengajar di HIS Pasundan 1 Tasikmalaya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pada zaman penjajahan Jepang, ia menjadi anggota Chuo Sangi in. Kemudian menjadi koordinator pergerakan perjuangan rakyat pada zaman revolusi fisik dan anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Tasikmalaya.

Pada zaman penjajahan Belanda, Sutsen bersama pengurus NU Tasikmalaya seperti KH Ruhiat (ayah dari Rais Aam PBNU KH Ilyah Ruhiat), berpandangan, gelar ulil amri bagi pemerintah kolonial harus dipandang sebagai suatu siyasi (politik). Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemerintahan yang sah, tetapi statusnya tetaplah penguasa asing yang hanya berkuasa secara politik.

Dengan demikian, pemerintah hanya berwenang mengatur masyarakat berkaitan urusan politik. Masalah lain seperti keagamaan, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada para ulama yang menjadi panutan rakyat. ?

Zaman kemerdekaan, pada tahun 1952, Sutsen menjadi Kepala Kantor Urusan Agama di Jakarta. Setelah pensiun pada tahun 1954, ia bergabung dengan Daya Sunda. Kemudian bersama teman-temannya kembali aktif dalam jurnalistik. Ia menerbitkan mingguan berbahasa Sunda Kalawarta Kudjang (1956) dan bertindak sebagai pemimpin redaksi. (Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 23 Desember 2017

Masjid dan Musholla Gending Butuh Al-Quran

Probolinggo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Masjid dan musholla yang berada di Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo Jawa Timur memerlukan banyak Al-Qur‘an. Ketersedian Al-Qur‘an yang ada di masjid-masjid sangat terbatas. Karenanya, masyarakat menggunakannya secara bergantian.

Masjid dan Musholla Gending Butuh Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid dan Musholla Gending Butuh Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid dan Musholla Gending Butuh Al-Quran

Demikian dikatakan Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Gending Ahmad Zuhri Muslim kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama usai menyalurkan sebanyak 150 Al-Qur‘an di masjid dan musholla se-Kecamatan Gending, Sabtu (7/9).

“Jika jumlah Al-Qur‘an sangat sedikit di masjid dan musholla, maka kendala serius tentunya dirasakan masyarakat,” ungkap Zuhri Muslim.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Zuhri menambahkan, jumlah Al-Qur‘an yang kini tersedia di masjid dan musholla selain terbatas juga sudah mengalami penurunan kualitas yang tidak lagi dapat dipergunakan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sejumlah 150 Al-Qur‘an yang disalurkan itu merupakan sumbangan dari pelbagai pihak. Sumbangan datang dari warga NU, pengurus MWCNU Gending, dan Pemkab Probolinggo. MWCNU Gending pun menyalurkan Al-Qur‘an di kantor-kantor ranting NU yang ada di Gending.

Pengumpulan Al-Qur‘an itu merupakan wujud dari keprihatinan warga NU atas minimnya ketersediaan Al-Qur‘an di rumah-rumah ibadah. Zuhri berharap ke depan bisa lebih banyak lagi yang peduli akan ketersediaan Al-Qur‘an di masjid dan musholla.

(Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 22 Desember 2017

Ini Doa Qunut Nazilah

Berikut ini merupakan lafal doa qunut nazilah. Qunut nazilah pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW selama sebulan ketika kehilangan para sahabatnya di Bi’r Mu‘anah. Qunut nazilah ini dibaca sebelum sujud pada rakaat terakhir di setiap shalat wajib yang lima waktu.

Qunut nazilah diamalkan ketika umat Islam menghadapi persoalan keamanan, pertanian, bencana alam, bencana kemanusiaan, dan lain sebagainya. Selain doa qunut subuh, pada qunut nazilah ini ada baiknya kita menambahkannya dengan doa qunut yang dibaca oleh Sayyidina Umar dan Ibnu Umar RA. Berikut ini doanya.

Ini Doa Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa Qunut Nazilah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Allâhumma innâ nasta‘înuka wa nastaghfiruk, wa nastahdîka wa nu’minu bik wa natawakkalu alaik, wa nutsnî alaikal khaira kullahu nasykuruka wa lâ nakfuruk, wa nakhla‘u wa natruku man yafjuruk. Allâhumma iyyâka na‘budu, wa laka nushallî wa nasjud, wa ilaika nas‘â wa nahfid, narjû rahmataka wa nakhsyâ adzâbak, inna adzâbakal jidda bil kuffâri mulhaq.

Artinya, “Tuhan kami, kami memohon bantuan-Mu, meminta ampunan-Mu, mengharap petunjuk-Mu, beriman kepada-Mu, bertawakkal kepada-Mu, memuji-Mu, bersyukur dan tidak mengingkari atas semua kebaikan-Mu, dan kami menarik diri serta meninggalkan mereka yang mendurhakai-Mu. Tuhan kami, hanya Kau yang kami sembah, hanya kepada-Mu kami hadapkan shalat ini dan bersujud, hanya kepada-Mu kami berjalan dan berlari. Kami mengaharapkan rahmat-Mu. Kami takut pada siksa-Mu karena siksa-Mu yang keras itu akan menimpa orang-orang kafir.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma adzzibil kafarata wal musyrikîn, a‘dâ’ad dînilladzîna yashuddûna ‘an sabîlik, wa yukadzzibûna rusulaka wa yuqâtilûna auliyâ’ak. Allâhummaghfir lil mu’minîna wal mu’minât, wal muslimîna wal muslimât, al-ahyâ’i minhum wal amwât, innaka qarîbun mujîbud da‘awât. Allâhumma ashlih dzâta bainihim, wa allif baina qulûbihim, waj‘al fî qulûbihimul îmâna wal hikmah, wa tsabbithum alâ dînika wa rasûlik, wa auzi‘hum an yûfû bi‘ahdikalladzî ‘âhadtahum alaih, wanshurhum ala ‘aduwwihim wa ‘aduwwika ilâhal haq, waj‘alnâ minhum, wa shallallâhu alâ sayyidinâ muhammadin wa alâ âlihi wa shahbihî wa sallam.

Artinya, “Tuhan kami, jatuhkan azab-Mu kepada orang-orang kafir dan musyrik, (mereka) musuh-musuh agama yang berupaya menghalangi orang lain dari jalan-Mu, mereka yang mendustakan rasul-Mu, dan mereka yang memusuhi kekasih-kekasih-Mu. Ya Allah, ampunilah hamba-hamba-Mu yang beriman laki-laki dan perempuan, kaum muslimin dan muslimat, baik yang hidup maupun yang sudah wafat. Sungguh, Engkau maha dekat dan pendengar segala munajat. Tuhanku, damaikan pertikaian di antara kaum muslimin, bulatkan hati mereka, masukkan kekuatan iman dan hikmah di qalbu mereka, tetapkan mereka di jalan nabi dan rasul-Mu, ilhami mereka untuk memenuhi perjanjian yang telah Kauikat dengan mereka, bantulah mereka mengatasi musuh mereka dan seteru-Mu. Wahai Tuhan hak, masukkanlah kami ke dalam golongan mereka itu. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.”

Doa ini disarikan dari Hasyiyatul Baijuri karya Syekh Ibrahim Al-Baijuri, tanpa keterangan tahun, Beirut, Darul Fikr, juz I, halaman 169). Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, News, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock