Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr M Maksum Machfoedz menekankan perlunya dialog antarkelompok internal sebuah agama dalam upaya-upaya toleransi. Menurutnya, dialog-dialog internal sangat dibutuhkan untuk menyamakan persepsi antarkelompok dalam sebuah agama.

“Dialog antarkelompok internal sebuah agama ini yang cukup sulit. Tetapi dialog seperti ini cukup efektif seperti yang pernah dilakukan PBNU dengan mempertemukan sejumlah kelompok Muslim di Afghanistan yang saling bertenangan,” kata Prof Maksum saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama

Dialog antarumat beragama memang penting. Tetapi mempertemukan kelompok-kelompok internal sebuah agama merupakan sebuah upaya yang tidak kalah penting, tambah Prof Maksum.

Ia meyakini bahwa dialog internal sangat penting mengingat setiap agama memiliki kelompok-kelompok ekstremnya sendiri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Hampir setiap agama ada kelompok radikalnya. Ini sebuah fakta,” kata Prof Maksum. (Alhafiz K)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaNu, AlaSantri, Cerita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Setidaknya tiga puluh santri Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kabupaten Jombang melaksanakan istighotsah anti korupsi di Islamic Center Umar Tamim, Jombang, Jawa Timur, Rabu (9/12) kemarin. Hal itu dilakukan untuk mendoakan bangsa Indonesia bersih dari tindakan korupsi.

Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Darul Ulum Gelar Istighotsah Anti Korupsi

Ircham Ali, salah satu santri mengatakan, sebenarnya kegiatan istighotsah tersebut dilaksanakan rutin setiap hari Rabu. Namun Bertepatan dengan hari anti korupsi sekalian dilaksanakan untuk berdoa bersama demi Indonesia bersih dari korupsi.

”Istighotsah santri pergerakan ini merupakan salah satu dari program kerja Biro Muamalah dan Ubudiyah Bidang Pendidikan Agama Putra-Putri, kita jalankan rutin dengan istiqomah setiap hari Rabu sebelum kegiatan PSQ (Pusat Studi Quran),” katanya kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Rabu (9/12) kemarin.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurutnya, peserta yang mengikuti istighotsah itu menamakan diri Santri Pergerakan. Pasalnya, selain sebagai santri, mereka juga tergabung dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) komisariat Umar Tamim.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Para anggota dan kader ini santri dari beberapa asrama di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso. Di antaranya, ada dari asrama Muzamzamah Chosiah, Asrama Nusantara, Asrama IV, Asrama Hurun Inn, dan lainnya,” ujarnya.

Ircham menjelaskan, istighotsah itu penting dilaksanakan.  Selain untuk melaksanakan doa bersama, juga untuk menjaga kebersamaan antar sesama santri. ”Doa bersama kali ini dikhususkan untuk negara kita yang bertahun-tahun tidak pernah lepas dari kasus korupsi,” jelasnya.

Ia berharap, ke depan Indonesia bisa menjadi lebih baik dengan tidak ada lagi kasus korupsi. ”Semoga Indonesia bisa bersih dari korupsi yang dilakukan birokrasi pemerintahan hingga lini terkecil, termasuk ditingkat desa. Hal ini tentu membutuhkan tindakan tegas dari aparat penegak hukum demi kebaikan bangsa ke depan,” lanjutnya .

Ketua PMII Umar Tamim ini juga mengaku senang teman-temannya semangat melaksanakan istighotsah tersebut. Tidak meninggalkan tradisi keagamaan meskipun sudah berstatus aktivis mahasiswa.

”Pagi ini teman-teman tampak bersemangat penuh antusias mengikutinya. Dalam istighotsah ini, tawasul kita tujukan kepada para ulama, khususnya pendiri NU, pendiri Ponpes Darul Ulum  dan pesantren se-Jombang serta dikhususkan untuk almarhum Kiai Abdul Aziz Manshur pengasuh Ponpes Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang yang kemarin sudah wafat,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 05 Februari 2018

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Pada sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu 15 April 2017, KH Aziz Masyhuri Denanyar wafat. Berita ini tentu mengejutkan karena pada paginya beliau masih membaca koran dan melanjutkan menulis buku sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Dengan demikian berarti dua kiai besar bernama Aziz dari Jombang telah tiada, satunya lagi yaitu KH Aziz Mansyur Paculgowang sudah wafat pada 2015 lalu.

Saya, walaupun tidak lama, pernah mengaji ke beliau berdua. Kiai Aziz Mansyur adalah sosok kiai yang mempunyai etos ilmiah ala Lirboyo, yang tidak lain adalah pondok kakeknya sendiri, karena beliau juga lama mondok di Lirboyo. Gaya ngaji beliau; duduk bersila di depan meja kecil, dilengkapi dengan lampu belajar, serta bersandar di bantal. Diatas meja kecil itu, selain ada kitab dan lampu belajar, juga ada segelas air putih.

Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Ketika saya mengaji romadhon pada 2014, saya begitu takjub dengan kedisiplinan Kiai yang menjabat dewan syuro PKB ini. Kalau sudah duduk didepan kitab, maka sekitar 2 jam sampai 2, 5 jam ke depan, tidak beranjak dari tempat duduknya, membaca kitab tanpa berhenti, dan tanpa basa-basi. Ketika membaca kitab semacam ini posisi beliau menghadap ke arah kiblat, bertempat di selasar masjid. sementara kami yang mengaji juga menghadap kiblat, berada di belakang beliau. Nah, ini tentunya menguntungkan bagi saya, karena kalau ngantuk tidak akan ketahuan, hehehe.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kitab yang dikaji ba’da taraweh ketika itu adalah al-Asybah wa An-nadhair, dan Dalailul Khoirot. Belum lagi yang dibaca pada waktu pagi dan sore. Dengan etos yang demikian itu, maka wajar kalau dalam kesempatan romadhon yang biasanya tidak sampai tanggal 20 sudah selesai, berhasil menghatamkan beberapa kitab. Sehingga bisa dimaklumi jika santri alumni pondok salaf, semacam Paculgowang dan Lirboyo mempunyai perbendaharaan kitab kuning yang relatif banyak.

Lalu bagaimana gaya Kiai Aziz Masyhuri mengaji? Tempat belia mengaji tidak? ? di masjid, namun di ruang tamu. Beliau duduk di salah satu kursi, kemudian yang mengaji duduk dikursi-kursi yang lain, ada dua set kursi tamu di ruang tersebut. Sebagaimana layaknya menerima tamu, di meja tersaji aneka hidangan, ada makanan kering yang berada di toples-toples dan ada makanan basah, seperti pisang goreng, roti bakar, atau yang lainnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jadwal mengaji satu minggu sekali, saya perhatikan hidangan di atas meja tersebut selalu berganti. Terasa benar bahwa memang itu disiapkan secara khusus untuk orang-orang yang mengaji pada beliau. Tidak berhenti sampai disitu, setiap ada yang datang, tidak lama kemudian ada yang menghidangkan kopi. Di tengah-tengah pengajian biasanya disusul dengan kolak, lalu diakhir ditutup dengan nasi goreng atau tahu petis. Jadi saya katakan pada Anda, bahwa tips mengaji pada Kiai Aziz Masyhuri haruslah dalam kondisi perut kosong, kalau tidak mau keringat dingin, karena harus menghabiskan makanan yang sedemikian banyak.

Nah, begitu kita datang ternyata tidak langsung mengaji kitab, tetapi masih mengobrol kesana-kemari antara setengah sampai satu jam. Bahan obrolan biasanya tentang permasalahan aktual, tentang ke-NU-an, tentang kegiatan-kegiatan beliau, atau seputar penulisan kitab yang sedang beliau kerjakan.

Jujur, awal-awal saya merasa gelisah dengan ritme mengaji seperti ini, karena tidak langsung to the poin. Tapi lama-kelamaan merasakan hal yang berbeda. Apa yang beliau obrolkan tersebut biasanya adalah pandangan atau sikap beliau sebagai seorang kiai menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Jadi ini adalah pengajian aktual, tidak melulu mengaji kitab, tapi juga mengaji kehidupan. Apalagi ketika membaca kitab juga selalu disisipi dengan penjelasan-penjelasan.

Yang dikaji ketika itu adalah kitab Kawakibul Lama’ah karangan Kiai Fadhol Senori Tuban, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Mungkin Kiai Aziz Masyhuri produktif mengarang kitab karena terinspirasi oleh Kiai Fadhol ini. Kitab lain karya Kiai Fadhol diantaranya adalah ahlal musyamarah yang menceritakan tentang 10 wali di tanah Jawa. Di tangan Kiai Aziz Masyhuri, keterangan kawakibul lama’ah menjadi sangat luas.

Keterangan tentang apa yang tertulis di kawakibul lama’ah sepertinya sudah nempel banget di lidah beliau. Keterangannya bisa sangat detail. Misalkan saja, ketika masuk pada pembahasan devinisi sunnah dan jama’ah, dalam kitab tersebut menyitir devinisi dari kamus Muhith. Oleh beliau dijelaskan kamus mukhit ini merupakan kamus 4 jilid yang patokannya adalah huruf terakhir dari suatu kata. Misal kata ‘wasala’ yang terdiri dari huruf wawu, sin, dan lam, maka cara mencarinya dari huruf lam.

Keterangan ini kemudian melebar pada jenis-jenis kamus. Dimulai dari Tajul Arus yang merupakan sarah kamus mukhit. Lalu ada juga Misbahul Munir yang menurut beliau merupakan kamus yang paling ‘marem’, karena kalau ada masalah fiqh keterangannya dipanjangkan. Ada juga kamus munjit. Ini adalah kamus yang paling gampang, karena kalau ada yang tidak jelas dikasih gambar. Kelebihan yang lain dari kamus ini ada Faraidul Adab-nya. Namun yang mengarang orang kristen.

Keterangan kamus munjit ini menjadi semakin hidup manakala ditambahi dengan kisah Mbah Kiai Maksum Lasem dan putranya Mbah Kiai Ali Maksum. Mbah Kiai Maksum mengharamkan kamus munjit. Ketika Mbah Kiai Ali Maksum masih dipondok, waktu mau dijenguk ayahnya, santri-santri senior yang punya kamus munjit suruh menyembunyikan. Takut kalau-kalau Mbah Kiai Maksum memeriksa kamar-kamar. Nah, nanti kalau sudah pulang boleh dikeluarkan lagi.

Kitab berikutnya yang dikaji setelah kawakibul lama’ahkhatam adalah kitab tipis berjudul, butlani aqoidul syiah, sebuah kitab yang sepertinya belum ada di penerbitah Indonesia. Karena kami mengkajinya pun dari foto copy-an kitab yang beliau punya. Demikianlah Kiai Aziz Masyhuri, perbendaharaan kitab-kitab langkanya melimpah. Sehingga wajar kalau beliau menjadi rujukan kiai-kiai yang lain, termasuk dari pondok-pondok besar. Namun taqdir kami tidak bisa mempelajari kitab ini sampai selesai, karena setelah libur hari raya, pengajian kitab tersebut belum dilanjutkan lagi sampai beliau wafat.

Beliau memang pernah cerita, bahwa jika sedang haji, yang beliau buru adalah kitab-kitab terbitan timur tengah. Saking banyaknya yang beliau beli, sampai-sampai sebagiannya harus dititipkan ke orang lain yang jatah bagasinya masih ada. Maka wajar, kalau wacana kitab kuningnya di atas rata-rata. Sampai-sampai ketika Dr. Musthofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang juga karibnya waktu di Tebuireng membuat tulisan di Republika, tentang banyaknya kesamaan ajaran-ajaran NU melalui kitab karangan KH Hayim Asyari yang terkodifikasi dalam Irsyadus Syari, dengan ajaran-ajaran Wahabi, maka Kiai Aziz Masyhuri menegurnya, ketika bertemu di sebuah acara di madura. Hal ini karena Kiai Aziz Masyhuri mempunyai refrensi lain yang menguatkan tentang perbedaan besar antara ajaran NU dan wahabi.

Dengan kekayaan wacana kitab kuning demikian ini, ternyata Kiai Aziz Masyhuri mentransformasikan apa yang dipunyainya itu dengan cara yang santai; mengajar ngaji disambi dengan makan-makan dan ngobrol kesana-kemari. Perut terisi, kepala pun terisi.

Sedangkan Kiai Aziz Mansyur yang mempunyai tradisi dan etos kitab kuning yang disiplin, ternyata pembawaannya tidak dikit-dikit nge-dalil. Saya teringat ketika resepsi pernikahan saya, dalam tausyiahnya beliau malah hanya bercerita, tidak mendalil, tentang bagaimana galaunya ketika beliau dipasrahi untuk meneruskan estafet kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatun Nasihin, selepas ayahnya meninggal. Juga bercerita tentang awal-awal diundang mengaji ke kampung-kampung dengan mengendarai sepeda ontel, lalu beralih naik sepeda motor, lalu beralih memohon kapeda Allah agar diberi kendaraan yang ada iyup-iyupane (ada atapnya: mobil). Selanjutnya tausyiah beliau malah ditutup dengan penjelasan filosofi janur dan lain-lain, yang biasa digunakan di resepsi pernikahan adat Jawa. Allahummaghfirlahuma...

M. Fathoni Mahsun, Kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 02 Februari 2018

Pelajar NU Jombang Latihan Menulis

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sebanyak 50 pelajar NU mengikuti pelatihan jurnalistik di gedung PCNU Jombang, Ahad (6/4). Acara yang melibatkan pimpinan anak cabang, ranting, komisariat sekolah, dan komisariat perguruan tinggi ini, difasilitasi PC IPNU-IPPNU Jombang.

Pelajar NU Jombang Latihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jombang Latihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jombang Latihan Menulis

Ketua IPNU Jombang Aliyah mengatakan, pelatihan ini merupakan hal yang nyata dari salah satu program kerja PC IPNU-IPPNU Jombang untuk mencetak kader-kader penulis baru di tengah minusnya penulis muda di tubuh pelajar Nahdlatul Ulama.

“Kita tidak sekedar wacana saja, tetapi langsung membimbing dan mengawal rekan dan rekanita untuk bisa cakap dan mampu menulis minimal resensi,” terang Aliyah seperti keterangan pers rilis, Senin (7/4).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pelajar NU, sambung Aliyah, juga sudah diberi kesempatan oleh redaktur majalah Nahdlah untuk mengisi rubrik “Pelajar dan Prestasi” setiap bulan. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa, terang pria alumni STKIP Jombang.

Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Kader-kader IPNU-IPPNU yang sudah cakap, jelas Aliyah, akan kami seleksi dan kami masukan tim pers ipnu-ippnu yang dipimpin Khoirul. Mereka siap mewarnai media baik cetak maupun online.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pelatihan ini dipandu wartawan Jawa Pos Rojif Mamduh. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, Nahdlatul Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 26 Januari 2018

LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa

Kudus,Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Lazisnu Kabupaten Kudus mengadakan santunan untuk yatim piatu, fakir miskin, merbot masjid, pemberian modal usaha bagi janda miskin melalui program "NU Berbagai".

Santunan kerja sama GP Ansor, LAZISNU dan Bank BNI Kudus tersebut akan berlangsung pada tanggal 26-29 Ramadhan atau (1-4/7) di kantor PCNU Kabupaten Kudus dan di masing-masing Ranting NU.

LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Santuni Ribuan Dhuafa

Jika tahun lalu dana sumbangan dari dermawan dan muzakki terkumpul sejumlah Rp 172.770.000,- maka tahun ini LAZISNU Kudus menganggarkan Rp 869.150.000,-.

"Adapun rencananya rincian jumlah penerima anggaran tersebut yakni 3.971 yatama yang berasal dari madrasah dan Ranting se-Kabupaten Kudus berupa uang atau bingkisan alat sekolah, santunan 1.360 fakir miskin, 550 merbot dan 45 janda miskin," jelas Syaroni Suyanto, Ketua LAZISNU Kudus.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Meski rencana baru akan dilaksanakan pada bulan Juli, tapi pada acara Rapat Kerja Cabang (Rakercab) PC GP Ansor, Sabtu malam lalu (25/6) telah diawali dengan santunan 253 yatama se-Kecamatan Kaliwungu.

Kecamatan Kaliwungu sendiri selama ini telah digadang sebagai kecamatan percontohan program LAZISNU di antara sembilan kecamatan di Kudus. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pendidikan, AlaSantri, Santri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 22 Januari 2018

Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud

Assalamu alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama yang terhormat. Dalam diskusi kecil, menurut teman saya cara yang paling benar ketika bangkit dari sujud dalam shalat adalah dengan cara mengepalkan tangan. Berarti praktik shalat yang selama ini kita jalani di mana setiap bangkit dari sujud tidak mengepalkan tangan tetapi menghamparkan telapak tangan dianggap kurang benar.

Bagaimana pandangan pak ustadz dalam masalah ini, mohon penjelasannya? Atas penjelasannya, saya ucapkan terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Taufik/Bogor)

Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengepalkan Tangan ketika Bangun dari Sujud

Jawaban

Assalamu alaikum wr. wb.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sepanjang kami ketahui dalam soal ini adalah bahwa disunahkan bagi orang yang shalat ketika bangun atau bangkit dari sujud atau duduk untuk bertumpu di atas kedua tangannya.

Alasan yang bisa dikemukan dalam hal ini adalah bahwa hal tersebut mengacu kepada praktik Rasulullah SAW itu sendiri. Di samping alasan lain adalah lebih merupakan sebagai simbol ketawadlu’an (asybah lit tawadhu’) dan lebih dapat membantu orang yang shalat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sunah untuk bertopang kepada kedua tangannya ketika bangun dari sujud dan duduk karena hal tersebut lebih tampak sebagai simbol ketawadlu’an, lebih bisa membantu orang yang shalat, dan karena telah dipraktikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana ditetapkan dalam hadits sahih,” (Lihat Muhammad Khathib asy-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Bairut-Dar al-Fikr, juz I, halaman 182).

Jika bertumpu di atas kedua tangan adalah praktik yang dilakukan Rasulullah SAW, pertanyaannya bagaimana caranya? Menurut Muhammad Khathib asy-Syarbini, baik orang kuat maupun yang lemah caranya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jari di atas tanah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sedang cara bertumpunya adalah dengan menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari-jarinya di atas tanah baik orang yang kuat maupun yang lemah,” (Lihat M Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, juz I, halaman 182).

Sedang kalangan yang berpendapat bahwa orang yang shalat ketika bangkit dari sujud dengan cara mengepalkan tangannya didasarkan salah satu hadits berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ketika Rasulullah SAW bangkit dalam shalatnya Beliau meletakkan tangannya di atas tanah sebagaimana tukang adonan roti meletakan tangannya (al-‘ajin).”

Tetapi persoalannya menurut para ulama, hadits ini bukan masuk kategori hadits sahih sehingga tidak bisa dijadikan dasar. Meskipun hadits ini jika dianggap sahih, makna kata al-‘ajin bukan dalam pengertian tukang roti yang membuat adonan roti, tetapi maknanya adalah orang yang tua renta (asy-syaikh al-kabir).

Sehingga makna hadits tersebut adalah Rasulullah SAW ketika berdiri dalam shalat dengan bertumpu dengan kedua telapak tanggannya sebagaimana bertumpunya orang yang tua renta. Bukan diartikan mengepalkan kedua tangannya sebagaimana tukang pembuat adonan roti.

Sebab, praktik yang dilakukan Rasulullah SAW itu sendiri ketika bangkit dari sujud tidak mengepalkan tanggannya, tetapi dengan menjadikan kedua telapak tanggan dan telapak jari-jarinya di atas tanah, sebagaimana yang dijelaskan di atas mengetahui tata-caranya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Adapun hadits yang terdapat dalam kitab al-Wasith dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw ketika berdiri dalam shalat meletakkan tangannya di atas tanah sebagaimana tukang pembuat adonan roti, bukan termasuk hadits sahih. Dan jika hadits ini sahih maka mesti ditafsirkan dengan penafsiran di atas (menjadikan kedua telapak tangan dan telapak jari di atas tanah), dan yang dimaksud dengan al-‘ajin adalah orang yang tua renta bukan tukang pembuat adonan roti (‘ajin al-‘ajn),” (Lihat M Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, juz I, halaman 182).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan sampai perbedaan dalam masalah ini menimbulkan konflik dan saling menyalahkan satu sama lain. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Habib, AlaSantri, Ubudiyah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 18 Januari 2018

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Yogyakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Berdakwah bukan saja dilakukan dengan cara pengajian saja, bisa juga dilakukan dengan seminar dan talk show. Materi dakwah juga bukan sebatas masalah ritual ibadah, tetapi juga terkait kesehatan masyarakat, apalagi terkait kesehatan reproduksi. Inilah yang terus diupayakan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) melalui bekerjasama dengan berbagai pihak dalam melayani masyarakat.

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Demikian ditegaskan drg H Abdul Kadir, Ketua LKNU DIY, dalam acara Talk Show Kesehatan Reproduksi pada Ahad, (8/11) lalu di aula lantai 2 Gedung PWNU DIY. Acara ini terselenggara berkat kerjasama LKNU DIY dengan Majlis Pengajian An-Nisan’ Yogyakarta, Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY.?

Menurut drg. Kadir, pemeriksaan papsmear dan payudara adalah upaya membentengi para ibu dari penyakit dengan prevalensi sangat tinggi dan menjadi penyebab kematian tertinggi ini. Untuk itu, lanjut drg. Kadir, pasangan suami-istri harus saling mendukung dalam mengupayakan kesehatan reproduksi. Suami adalah agen kesehatan bagi istrinya, sehingga harus setia dan bersama-sama periksa kepada dokter. Suami juga harus selalu mengingatkan, disitulah kerjasama keduanya dalam menjaga kesehatan. ?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“LKNU DIY akan terus bekerjasama dengan berbagai pihak. Semua ini semata wujud khidmat untuk kemaslahatan semuanya. Ada banyak kader muda NU yang menekuni kesehatan, kita akan terus mengajak mereka untuk terlibat dalam berbagai program kesehatan, sehingga NU terus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara itu, Dr. H.A. Zuhdi Muhdlor, Wakil Ketua PWNU DIY yang membuka acara menjelaskan, bahwa kaum ibu adalah agen perubahan. Dari rahim para ibu yang sehat dan berkualiatas akan terlahir generasi yang sehat dan berkualitas pula.?

“Generasi yang sehat menjadi perhatian serius NU. Untuk itu, kami berharap LKNU terus menjalin kerjasama dengan banyak pihak dalam merealisasikan program-programnya, sehingga generasi yang sehat dan berkualitas bisa tumbuh untuk membangun bangsa di masa depan,” tegasnya.?

Acara ini diikuti oleh 125 ibu-ibu dari berbagai daerah di DIY. Para ibu ini sangat antusias, terbukti dalam sesi tanya jawab bersama dr. Nila Amalia, dokter muda lulusan UGM yang juga santri Pesantren Al-Muhsin, Krapyak Yogyakarta. Sementara dalam dalam pemeriksaan, tenaga medis dari Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY penuh senyum ketika melayani para ibu yang hadir di Gedung PWNU DIY. (Muahmmadun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 02 Januari 2018

Pemuda NU Harus Mampu Kedepankan Uswatun Hasanah

Probolinggo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin menegaskan kepada seluruh pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser bahwa kehadirannya sebagai profil pemuda NU harus mampu memberikan uswatun hasanah dan contoh-contoh positif di tengah kemunduran mental ini.

Hal tersebut disampaikan H Hasan Aminuddin dalam pelantikan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Krejengan masa khidmat 2016-2018 di halaman MI Raudlatul Ulum Desa Sumberkatimoho Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo akhir pekan lalu.

Pemuda NU Harus Mampu Kedepankan Uswatun Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda NU Harus Mampu Kedepankan Uswatun Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda NU Harus Mampu Kedepankan Uswatun Hasanah

“Sebagai benteng ulama, GP Ansor dan Banser harus selalu siap berada di barisan terdepan untuk senantiasa mendukung langkah dan gerak perjuangan ulama dalam menegakkan ukhuwah Islamiyah sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat,” katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut Hasan, potret perkembangan zaman saat ini adalah meningkatnya tingkat intelegensia generasi muda bahkan melebihi dari orang tuanya. “Seiring dengan masuknya era globalisasi dengan segenap derasnya pengaruh negatifnya, juga berdampak pada bergesernya adat ketimuran bangsa Indonesia,” jelasnya.

Hasan menegaskan bahwa pendidikan akhlak yang kurang memadai di masa pendidikan generasi muda saat ini pun turut menambah penyebab semakin merebaknya kenakalan remaja, pergaulan bebas dan lunturnya norma-norma kesantunan dalam beretika.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Merupakan kewajiban dan tugas guru, ulama’ serta orang tua untuk membentengi putra dan putri kita dari semua pengaruh negatif tersebut melalui pendidikan akhlakul karimah sejak dini,” tegasnya.

Sementara Penasehat PAC GP Ansor Kecamatan Krejengan Muhammad Anshori berharap agar seluruh pemuda Ansor Krejengan bisa menjadi Ansor yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan-kebaikan, khususnya dalam bidang sosial kemasyarakatan.

“Serta mampu mengangkat perekonomian rakyat kecil melalui program kerja Ansor seperti pemberdayaan IKM/UKM melalui pelatihan-pelatihan dari berbagai instansi yang merupakan mitra Ansor,” harapnya.

Pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Krejengan ini dihadiri Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i, Ketua PC GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq, pengurus MWCNU Kecamatan Krejengan serta segenap tokoh agama dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Krejengan. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ini 9 Alasan Kuliah di STAINU Temanggung

Temanggung, Internet Marketer Nahdlatul Ulama 

Kuliah di Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), baik itu STAINU, STKIP NU, STKIP Maarif NU, INISNU, maupun UNU, UMNU dan lainnya, memiliki kelebihan daripada di Perguruan Tinggi (PT) lain.

Ini 9 Alasan Kuliah di STAINU Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 9 Alasan Kuliah di STAINU Temanggung (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 9 Alasan Kuliah di STAINU Temanggung

Pembantu Ketua II Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung Ana Shofiyatul Azizah mengatakan, ada beberapa kelebihan sarjana lulusan PTNU. Sedikitnya, ada 9 alasan, pelajar lulusan SMA, SMK, MA dan lainnya melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Temanggung.

Pertama, mendapatkan porsi terbanyak dari serangkaian yang ada dalam masyarakat, baik secara struktural maupun kultural. Kedua, lulusan PTNU lebih banyak memberikan ilmu agama daripada lulusan kampus lain.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Salah satunya ya STAINU Temanggung sebagai satu-satunya kampus di Kabupaten Temanggung yang memberikan bekal mahasiswa dan mahasiswinya untuk siap melayani, mengabdi dalam kegiatan di masyarakat," jelasnya, di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (6/10). 

Ketiga, menurut Ana, ada kelebihan lain yaitu dibekali kemampuan Baca Tulian Quran (BTQ), tahlil, perawatan jenazah, retorika dakwah dari semester 1-7. Keempat, mahasiswa juga dibekali kemampuan berbahasa asing, baik Arab maupun Inggris.

"Itu semua menjadi syarat untuk terjun ke masyarakat lewat Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui pembekalan materi-materi itu, diharapkan mahasiswa dapat tampil dalam semua kegiatan yang ada di dalam masyarakat," beber dia.

Ia berharap, warga Temanggung, Magelang, Salatiga, Wonosobo, Kabupaten Semarang dan sekitarnya bisa melanjutkan perkuliahan di STAINU Temanggung. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Alasan kelima, saat ini sudah dibuka beberapa prodi baru selain Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Ahwal Al-syahsiyyah (AS). Namun juga sudah ada Ekonomi Syariah (ES), Pendididikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). 

Selain itu, ada alasan keenam, yaitu STAINU Temanggung lokasinya juga dekat dengan pusat kota, terminal. Ketujuh, STAINU Temanggung memiliki lab, lokasi perkuliahan representatif, juga asrama mahasiswa. Selanjutnya, kedelapan, STAINU Temanggung juga memiliki perpustakaan, mushala, kantin dan lainnya. 

Kesembilan, STAINU Temanggung juga memiliki tenaga pengajar minimal S2 lulusan dalam dan luar negeri dan sebagian juga sudah doktor (S3) dan banyak yang sedang menempuh program doktor. Banyak lagi yang bisa didapatkan mahasiswa jika kuliah di STAINU Temanggung. Namun intinya, sarjana yang kuliah di PTNU jelas berbeda dengan di PT lain. 

Lebih lanjut Ana mengatakan, perkembangan roda zaman yang cepat ini, manusia dituntut untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. 

"Saat ini tidak cukup sampai jenjang SMA atau sederajat saja. Kuliah sampai S1 sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat, di kota maupun di desa semuanya sama," katanya. 

Hal itu, menurut Ana, tentu bukan tanpa alasan, karena tingkat kompetensi dalam dunia kerja memang menuntut skill, sertifikat atau ijazah yang wajib dimiliki semua orang. Namun, ada pula tugas lain bagi seorang sarjana selain berkecimpung di dunia kerja. 

"Tidak bisa dipungkiri, sarjana pasti akan diminta kontribusinya dalam kegiatan sosial masyarakat. Mulai dari kegiatan Karang Taruna, madrasah diniyah, TPQ, bahkan takmir masjid, PKK, adanya tahlilan, upacara kelahiran dan kematian di warga. Itu semua merupakan bagian dari kegiatan masyarakat kita yang membutuhkan peran sarjana," bebernya. (Ham/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Habib, AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 24 Desember 2017

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Menjelang pelaksanaan Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara, Ahad (17/1) mendatang, Komunitas Lintas Iman yang terdiri dari PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI, dan LPOI mengadakan pertemuan di Gedung PBNU lantai 8, Jumat (15/1) siang. Seluruh elemen lintas iman menyerukan bahwa terorisme, radikalisme, dan narkoba adalah musuh bersama.

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mewakili seluruh elemen lintas iman mengajak seluruh masyarakat untuk mencegah, mewaspadai, dan membendung serta melawan radikalisme, terorisme, dan narkoba.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Permasalahan ini tidak hanya menjadi tugas aparat keamanan, pemerintah, tetapi membutuhkan peran serta dan partisipasi seluruh pihak. Hanya dengan kebersamaan dan sinergitas yang kuat antara negara dan masyarakat, radikalisme, terorisme, dan narkoba akan sulit berkembang di Indonesia,” ujar Kang Said dalam jumpa pers.

Sesungguhnya yang memberi ruang dan membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya radikalisme, terorisme, dan narkoba di Indonesia adalah sikap ketidakpedulian dan sifat acuh masyarakat terhadap realitas sosial.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan dengan memberikan pemahaman dan penguatan nasionalisme dan kebhinekaan merupakaan ikhtiar mendesak yang harus ditempuh pemerintah,” tambah Kang Said.

Ia mengatakan, kita sebagai negara yang memiliki keragaman bahasa, agama, suku, adat-istiadat, ras, Indonesia telah mampu menunjukkan kepada dunia akan potret kehidupan bangsa yang harmoni.

Keberagaman yang ada merupakan salah satu tonggak dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, tandas Kang Said. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pertandingan, AlaSantri, Santri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 22 Desember 2017

Habib Noval Pimpin "Pertobatan Massal" di Solo

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ada nuansa haru dalam acara Nuzulul Qur’an yang digelar di markas Majelis Ar-Raudhah Dzikir dan Ilmu, Jl Duwetan No. 112, Semanggi, Pasar Kliwon, Kamis (25/7) malam lalu. Tak sedikit dari ratusan jamaah yang hadir, meneteskan air mata. Mereka hanyut saat perenungan dalam rangka pertobatan massal.

Habib Noval Pimpin Pertobatan Massal di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Noval Pimpin Pertobatan Massal di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Noval Pimpin "Pertobatan Massal" di Solo

Pengasuh Ar-Raudhah, Habib Noval bin Muhammad Al-Alaidrus memimpin langsung acara yang bertema Doa dan Munajat Di Malam Nuzulil Quran. Para jamaah meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Habib Noval.

“Meresap sekali renungannya. Sampai saya menitikkan air mata,” kata salah satu jamaah, Andi, kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jamaah dari Laweyan tersebut merasa betapa nikmatnya mengamini setiap untaian doa yang dituntunkan Habib Noval.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam pengajian itu Habib Noval mengajak kepada seluruh jamaah, untuk semakin giat beribadah selama Ramadhan. Ustaz yang produktif dalam menulis ini juga mengingatkan kondisi umat Islam saat ini yang telah banyak mengalami pergeseran akhlak.

Selain itu, dia ingin agar masyarakat muslim Solo pada khususnya, harus bisa shalat. Bahkan cita-citanya itu kelak akan diwujudkan dengan mendirikan kursus Fasolatan di Solo. “Saya mencanangkan di Kota Solo ini tidak ada lagi orang Islam yang tidak bisa Shalat. Semua muslim harus bisa shalat,” tegasnya.

Tidak hanya bisa shalat, tetapi juga mengerti syarat dan rukunnya. “Karena apa, banyak orang yang shalat tapi belum memenuhi syarat dan rukunnya. Nanti, akan dimulai dengan cara berwudhu yang benar,” imbuhnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama News, AlaSantri, Pondok Pesantren Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 13 Desember 2017

NU dan Muhammadiyah Promosikan Demokrasi Nusantara di Jerman

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Jerman Raya dan Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman bekerja sama untuk mempromosikan demokrasi Nusantara di salah satu negara besar di Eropa itu.

"Keberadaan kami di Jerman ini harus jadi momentum untuk sama-sama menyuarakan Islam Indonesia yaitu Islam Nusantara yang berkemajuan di kancah dunia," kata Ketua PCIM Ridho Al Hamdi lewat keterangan persnya yang diterima di Jakarta, Selasa.

NU dan Muhammadiyah Promosikan Demokrasi Nusantara di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah Promosikan Demokrasi Nusantara di Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah Promosikan Demokrasi Nusantara di Jerman

Ridho mengatakan Muhammadiyah dan NU di masa kini sudah bukan saatnya untuk mempersoalkan pertentangan internal karena tantangan eksternal semakin kompleks.

"Kita lelah kalau ribut intern yang tidak ada ujung pangkalnya," kata kandidat doktor ilmu politik di TU Dortmund University ini.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ridho mengatakan saat ini adalah momentum yang baik bagi Muhammadiyah dan NU untuk sama-sama bermain cantik di kancah internasional melalui Jerman di saat Timur Tengah terkena badai konflik dan politik yang tidak stabil.

"Siapa yang tidak tahu Jerman, negara yang kuat dan mapan secara politik, ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya. Di sini pula ada sumber teknologi, sains, kedokteran, kesehatan bahkan filsafat dan seni juga kuat. Jadi, tentu PCIM dan PCINU di Jerman punya nilai lebih dan nilai stategis di tingkat dunia," kata dia.

Senada, Ketua PCINU Jerman Zacky Khairul Umam mengatakan Muhammadiyah dan NU harus mengambil momentum strategis bahwa Islam dan demokrasi dapat bersatu di tengah situasi politik di kawasan Timur Tengah sedang kacau balau. Hal ini dibuktikan dari posisi Indonesia yang dapat menyelaraskan Islam dengan demokrasi.

PCIM Jerman Raya dan PCINU Jerman ke depannya akan memperkuat kerja sama dua organisasi Islam terbesar Indonesia tersebut, dengan fokus merespon isu Islamophobia di Eropa.?

Beberapa hal bisa dilakukan dengan seminar, konferensi pers ke media Jerman dan atau pelatihan. (Antara/Mukafi Niam)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 11 Desember 2017

Makna dan Hikmah Shalat

Shalat secara bahasa bermakna doa. Pemaknaan semacam ini dapat kita simak pada ayat Q.S. At-Taubah (9:103):

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna dan Hikmah Shalat

“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Adapun secara istilah, Syekh Muhammad bin Qasim al-Gharabili (w. 918H) dalam kitab Fathul Qarib (Surabaya: Harisma, 2005), hal. 11 menyebutkan:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? - ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan secara (istilah) syara’–sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Rofi’i, (shalat ialah) rangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, beserta syarat-syarat yang telah ditentukan”.

Dari dua pemaknaan tersebut kita bisa menemukan titik temu yakni di dalam shalat yang kita kenal, memang terdapat banyak sekali terkandung doa.

Ada banyak sekali hikmah yang terkandung di dalam shalat, diantaranya seperti yang dirangkum oleh Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 98:

1. Dalam shalat, ada sujud; sebuah posisi di mana kita merendahkan diri hingga mencium tanah. Ini merupakan pengingat bagi kita akan kerendahan kita di hadapan Allah Sang Pencipta, karena sesungguhnya di hadapan Allah, kita hanyalah hamba yang mutlak sepenuhnya milik Allah.

2. Menyadarkan kita bahwa pada hakikatnya tiada yang mampu memberikan pertolongan pada kita selain Allah.

3. Shalat dilakukan sehari semalam sebanyak 5 kali. Ini berarti ada 5 kali dalam sehari semalam kita bisa bertobat, kembali kepada Allah, karena memang pada dasarnya dalam sehari semalam, tidaklah mungkin kita terluput dari dosa, baik disengaja ataupun tidak.

4. Memperkuat akidah dan keimanan kita pada Allah SWT, karena sesungguhnya sehari-hari godaan kenikmatan duniawi dan godaan setan senantiasa mengganggu akidah kita hingga kita lupa akan keberadaan Sang Khaliq yang Maha Mengawasi. Dengan melakukan ibadah shalat, kita kembali mempertebal keyakinan dan keimanan kita, sebagaimana tumbuhan kering yang segar kembali sesudah diguyur hujan.

Demikian pemaparan tentang makna dan hikmah shalat yang kami sarikan dari berbagai sumber, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bi shawab. (Muhammad ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 08 Desember 2017

Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Angin puting beliung yang menyambar 80 rumah ,tepatnya di Dusun Sumber Miri, Desa Bugasur Kedaleman, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Sabtu (1/10) lalu memantik banyak pihak untuk meringankan beban para korban.

Kali ini upaya untuk menggalang bantuan kemanusiaan terlihat dari kalangan pelajar NU setempat. Mereka turun ke jalan sembari membawa kotak kardus yang bertuliskan "bantuan untuk korban puting beliung Kecamatan Gudo" dan tersebar di beberapa titik yang dianggap ramai dilewati pengendara.?

Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Aksi Galang Bantuan untuk Korban Puting Beliung

Hanifuddin, salah seorang Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gudo saat ditemui di jalan utara Kebon Rojo Jombang mengaku, dirinya juga merasa terpanggil untuk ikut andil membantu para korban setelah mengetahui keberadaan para korban hingga saat ini masih membutuhkan bantuan.

"Kami dan teman-teman menggalang bantuan semacam ini di tiga tempat Mas, dua diantaranya di jalan alun-alun Jombang dan di jalan dekat Keplaksari (Kebon Ratu)," katanya kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Ahad (9/10) siang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia mengungkapkan, setelah dirinya mengunjungi keberadaan korban dan kondisi rumah korban sebelumnya, bantuan yang paling dibutuhkan adalah peralatan rumah.?

"Kalau makanan sih tidak begitu Mas, yang paling tampak kebutuhannya sekarang perabot-perabot rumah," ujarnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dengan demikian, semua dana hasil keringat karena panas matahari di jalanan itu akan dikumpulkan, kemudian disalurkan dalam bentuk bantuan yang dianggap sesuai dengan kebutuhan hingga kini.?

"Kami akan survei lagi ke sana, agar uang ini tepat guna," ucap dia sambil mengusap keringat di lehernya. ?

Sesuai data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang, 7 rumah rusak parah, 26 rumah mengalami kerusakan sedang dan 47 rumah rusak ringan. (Syamsul Arifin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Kyai, Lomba, AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 04 Desember 2017

NU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halal Bihalal Bersama

Pekalongan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ribuan umat Islam dari Pekalongan dan sekitarnya Sabtu malam (24/8) menghadiri acara Halal Bihalal dan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) k- 68 Republik Indonesia yang berlangsung di Jalan Kenanga Kota Pekalongan.

Acara yang digagas Habib Muhammad Luthfy bin Yahya mendapat sambutan sangat luar biasa dari Nahdliyin untuk dapat mengikuti acara demi acara yang telah dipersiapkan panitia.

NU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halal Bihalal Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halal Bihalal Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Rabithah Alawiyah Gelar Halal Bihalal Bersama

Diawali dengan gending gending Jawa oleh kelompok karawitan yang dipimpin Habib Muhammad D Shahab diisi dengan tarian sufi yang cukup dinamis serta penampilan grup kasidah maulid Simtud Duror menambah semaraknya acara yang baru pertama kali digelar.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua panitia pelaksana, H Muhtarom kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama mengatakan, kegiatan acara gabungan antara warga NU dan warga Rabithah Alawiyah secara formal memang baru kali ini dilaksanakan. Akan tetapi secara informal sesungguhnya telah berlangsung sejak lama melalui kepanitiaan bersama pada peringatan Maulidurrasul di Kanzus Sholawat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dikatakan, kesuksesan pelaksanaan kegiatan perdana ini tidak lepas dari dukungan semua pihak, baik Pengurus Cabang NU maupun Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan, utamanya dari Habib Muhammad Luthfy yang secara terus menerus memberikan dorongan dan support agar kegiatan bersama dapat terus dilaksanakan rutin setiap tahun, ujar H Muhtarom yang juga sekretaris PCNU Kota Pekalongan.

Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya kemudian pembacaan teks Pancasila diteruskan dengan sambutan oleh Ketua PCNU Kota Pekalongan dan Ketua Rabithah Alawiyah Kota Pekalongan.

Acara selanjutnya yakni sambutan Ketua Umum Pimpinan Pusat Al Irsyad diteruskan dengan tausiyah oleh Habib Ismail Al Fajri, KH Akrom Sofwan, Habib Umar Muthohar Semarang dan ditutup dengan tausiyah Habib Luthfy bin Yahya.

Ketua PCNU Kota Pekalongan H Ahmad Rofiq mengapresiasi gagasan menggelar kegiatan bersama berupa Halal Bihalal dan Peringatan HUT RI ke 68 ini. Menurutnya, kegiatan yang cukup positif ini dapat dijadikan sarana silaturrahim antar pengamal ajaran ahlus sunnah wal jama’ah, sekaligus meneguhkan komitmen untuk mempertahankan Indonesia dalam bingkai NKRI.

"Halal Bihalal bersama ini sebagai upaya mempererat tali silaturrahim antar pengamal ajaran ahlus sunnah wal jamaah," ujarnya.

Sebagai ormas keagamaan yang cukup besar, Menurut Ahmad Rofiq potensi NU dan Rabithah Alawiyah dapat disinergikan dalam kegiatan kegiatan yang positif baik dalam hal keagamaan maupun sosial, hal yang sama juga bisa dalam bidang ekonomi, budaya dan jika perlu dalam bidang dakwah. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz P

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Nahdlatul, AlaSantri, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 29 November 2017

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok

Salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962. Sebelum wafat, Abah Afandi merupakan Pengasuh Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat.

Di antara teman yang akrab dengan Abah Afandi sewaktu mondok di Tambakberas adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat itu Gus Dur ikut pamannya yang bernama Mbah KH Fattah Hasyim Idris (Kiyai sepuh pesantren Tambakberas waktu itu).

Di tengah malam, sekitar pukul 23.00, Abah Afandi sering diajak oleh Gus Dur ngopi di tempat (warung) yang cukup jauh dan berada di luar area pondok pesantren. Pulang kembali ke Pondok sekitar pukul 01.00 dini hari.

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok

Suatu saat, sepulang dari ngopi dan sudah sampai di area pondok, Abah Afandi melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Dia berkata kepada Gus Dur: “Gus, ada dua orang lebih di sana. Sepertinya pencuri mau memanjat pagar pondok, sampean kejar Gus”.?

Gus Dur menjawab dengan santai: “Sampean saja yang mengejar”. Saling menyuruh atau meminta siapa yang di depan ini berlangsung berulang-ulang, suara pun semakin keras diantara keduanya, sampai pada akhirnya sang pencuri tahu ada orang, dan melarikan diri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Gus Dur pun tertawa terkekeh-kekeh, sambil bilang:” Nah praktis khan, cara ngusir malingnya?” Daripada kita berdua mendekat, jadi babak belur, mendingan kita bisik-bisik yang kencang, maling dengar, jadi kabur, kita pun tidak perlu di tengah malam teriak kencang “maling-maling” yang ganggu orang banyak,” ujar Gus Dur dengan tawa khasnya.

Sepulang Gus Dur berkelana dari di Timur Tengah, persahabatan antara Abah Afandi dan Gus Dur kembali terjalin akrab, Gus Dur sering mengunjungi Abah Afandi di Indramayu. Begitu juga sebaliknya, Abah Afandi sering ke Jakarta menemui Gus Dur. Hal itu berlangsung hingga Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Waktu Gus Dur berangkat di Muktamar Ke-28 NU di Krapyak, Yogyakarta, Gus Dur sempat menginap di rumah Abah Afandi selama dua hari. Gus Dur pun mengajak Abah Afandi untuk turut menghadiri Muktamar di Yogya itu, tapi Abah Afandi menolak dengan bahasa: ”Gus, kulo mboten pantes, kulo namung kiai kampung”(Gus, saya tidak pantas, saya hanya kiai kampung),” tutur Abah Afandi.

Bahkan, ketika Gus Dur tiga periode menjadi Ketua Umum PBNU, Abah Afandi pernah beberapa kali diminta oleh Gus Dur untuk dimasukkan ke jajaran kepengurusan di NU pusat itu, tapi lagi-lagi Abah Afandi menolak: ”Saya tidak pantas masuk jadi pengurus PBNU Gus, saya ini bukan orang pandai,” tuturnya.

Termasuk ketika Gus Dur mendirikan partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tahun 1999, Abah Afandi diminta oleh Gus Dur untuk masuk jajaran pengurus pusat PKB, namun Abah Afandi lagi-lagi menolak dengan bahasa halus dan rendah hati.?

Setengah abad kemudian, pada tahun 2000, Gus Dur sudah berada di Istana Negara. Gus Dur menerima Amanat menjadi Presiden Ke-4 RI. Sebagai Presiden, namun Gus Dur tidak lupa atau melupakan teman-temannya sewaktu muda dulu.?

Beberapa teman di undang untuk berkenan datang di Istana Negara. Diantara mereka adalah Abah Afandi. Awalnya Abah Afandi menolak, ketika diundang Gus Dur ke istana. Beliau merasa hanya “orang cilik”, demikian tawaddunya. Padahal banyak orang (kalangan pesantren) Yang sebelumnya tidak kenal dengan Gus Dur, namun mendadak sering ke Istana saat Gus Dur menjabat Presiden.

?

Karena diundang berulang-ulang, akhirnya pada suatu saat, Abah Afandi mau juga diundang ke istana presiden oleh Gus Dur. ? Ketika Abah Afandi tiba di Istana Negara, di hadapan banyak tamu penting, Gus Dur memperkenalkan kepada mereka.

“Ini, Kiai Afandi Indramayu, teman saya nggudak (ngejar) maling ketika mondok di Tambakberas,” Gus Dur.

Bahkan oleh Gus Dur, Abah Afandi pernah diminta menjadi imam solat berjamaah Maghrib di masjid Istana presiden dengan para mentri. Saksi yang masih hidup perihal kedekatan Abah Afandi dan Gus Dur adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dan KH Said Aqil Siroj. Demikian persahabatan Abah Afandi dan Gus Dur yang saling menghormati, saling rendah hati, hingga keduanya menghadap Allah SWT.

Ditulis oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas.

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 17 November 2017

PWNU DKI Jakarta Gelar Pelatihan Rukyatul Hilal dan Hisab

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Pengurus Wilayah NU DKI Jakarta mengadakan pelatihan rukyatul hilal dan hisab di Graha Mental Spiritual Lantai Delapan, Kamis (25/5). Hadir sebagai narasumber Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri dan Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Mahfud Asirun.

Acara yang diinisiasi Syuriyah PWNU ini dimulai dengan sambutan PWNU DKI Jakarta yang kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dimoderatori oleh Kiai Abdul Kholiq.

PWNU DKI Jakarta Gelar Pelatihan Rukyatul Hilal dan Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DKI Jakarta Gelar Pelatihan Rukyatul Hilal dan Hisab (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DKI Jakarta Gelar Pelatihan Rukyatul Hilal dan Hisab

Pemaparan pertama disampaikan oleh Kiai Mahfud Asirun yang menjelaskan landasan dasar melakukan rukyatul hilal.

Sementara Kiai Ghazalie menyampaikan rukyatul hilal dalam prespektif fikih dan menjelaskan terkait makna kata rukyat dan hilal.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kiai yang sudah memimpin empat periode Lembaga Falakiyah PBNU ini menambahkan, "Perbedaan selama ini bukan NU dan Muhammadiyah, tapi karena perbedaan metode yang dipakai dalam penentuan awal bulan Qamariah."

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sesi terakhir diisi dengan pengenalan tentang peralatan rukyatul hilal dan penyampaian data-data posisi hilal di wilayah Jakarta.

Menurut Ketua Lembaga Falakiyah PWNU DKI Jakarta Ismail Fahmi, kegiatan pelatihan semacam ini sangat penting guna menjaring kader-kader NU DKI yang ingin konsen dan mengembangkan ilmu falak. Selain itu kegiatan rukyat merupakan ciri khas NU yang tidak ditemukan di lembaga agaman lainnya.

“Jadi kita sebagai nahdliyin harus ‘nguri-nguri’ kekhasan ini,” kata Ismail.

Turut hadir Seretaris PWNU DKI Jakarta H Muallim. Pelatihan ini bertujuan untuk menjaring kader yang berpotensi di bidang rukyat. (Nufus Affandi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, Nahdlatul Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 10 November 2017

ISNU Diskusikan Ketahanan Pangan

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pangan akan menjadi persoalan serius jika tidak diantisipasi pengelolaannya dari sekarang. Di Indonesia sendiri, setiap tahun lahir sekitar 3.2 juta bayi, yang tentu saja memerlukan bahan makanan.



ISNU Diskusikan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Diskusikan Ketahanan Pangan (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Diskusikan Ketahanan Pangan

Tahun 1945, diperkirakan terjadi defisit pangan sehingga negara-negara akan bersaing memperebutkan sumber pangan dan energi yang kian langka.

Topik ini menjadi materi pembicaraan dalam diskusi panel ahli yang digelar pengurus pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU). Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa menyatakan, ketahanan pangan merupakan topik pertama yang dibicarakan dari serangkaian diskusi panel ahli yang akan digelar dengan tema-tema strategis seperti energi, pertambangan, dan lingkungan hidup; ekonomi makro; infrastruktur; geopolitik; dan diplomasi internasional, pemerintah daerah dan otonomi daerah; hukum dan tertib sosial; serta agama, budaya dan sumberdaya manusia.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

ISNU akan mengundang para ahli yang kompeten untuk membahas dan mendiskusikan persoalan-persoalan tersebut, memetakan persoalan, dan menyusun peta jalan untuk menyongsong skenario optimistis tentang Indonesia masa depan.

Bertempat di gedung PBNU, putaran pertama diskusi ahli ini menghadirkan narasumber Sutarto Alimoeso, dirut Bulog, Fadhil Hasan (GAPKI), Udhoro Kasih Anggoro, Dirjen ketahanan pangan Kementarian Pertanian, dan Imam Sugema.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Salah satu yang disorot dalam diskusi ini adalah rapuhnya ketahanan pangan domestik, padahal Indonesia adalah negeri Agraris. Indonesia masih tergantung asing untuk memenuhi hajat hidup rakyatnya.?

Indonesia pernah menjadi importir beras terbesar di dunia pada kurun waktu 1998-2001. Indonesia mengimpor garam rata-rata 1 juta ton per tahun, mengimpor 30 persen kebutuhan gula nasional, 70 persen kedelai, 10 persen jagung, 15 persen kacang tanah, 90 persen kebutuhan susu, dan 25 persen daging sapi nasional.

Pada tahun 2008, Indonesia pernah menjadi importir pangan terbesar kedua di dunia setelah Mesir, dengan lahan untuk pangan hanya 359 m per kapita. Akibatnya, devisa yang diperoleh dengan susah payah harus dihabiskan untuk membeli barang yang sebenarnya bisa dihasilkan sendiri di dalam negeri. Tidak ada jalan. Untuk menopang ketahanan pangan, kebijakan pangan nasional harus dirombak dengan fokus pada intensifikasi produksi pangan, ekstensifikasi lahan pertanian dan diversifikasi pangan.

Imam Sugema menjelaskan, upaya meningkatkan produksi pangan adalah melalui peningkatan produksi dan perluasan lahan. Saat ini, subsidi pupuk yang diberikan petani mencapai 16 trilyun per tahun agar produksi bisa meningkat.

Untuk meningkatkan ketahanan pangan, dibutuhkan perluasan lahan sebesar 5 juta hektar. Untuk menciptakan lahan baru, dibutuhkan biaya 40 juta per hektar sehingga secara total dibutuhkan 200 trilyun.

“Kelihatannya banyak, tetapi kalau dibagi dalam 10 tahun, setahun hanya perlu 20 trilyun, tidak begitu besar dibanding manfaat yang diperoleh. Sayangnya kita tidak pernah melakukannya,” paparnya.?

Dana sebesar 16 trilyun untuk subsidi pupuk, jika digunakan untuk perluasan lahan sudah mencapai 500 ribu hektar, sekaligus untuk memindahkan para petaninya.?

Hanya beberapa suku tertentu yang memiliki tradisi bercocok tanam, seperti Jawa, Sunda, Bali, Madura dan Bugis, sementara suku lainnya masih menjadi petani kebun.

Sementara itu, Sutarto Alimoeso menjelaskan, beberapa persoalan dalam menciptakan ketahanan pangan diantaranya adalah akurasi data, lahan, budaya dan pertumbuhan penduduk.

Terkait dengan data, saat ini belum ada data valid yang bisa dijadikan pijakan semua pihak tentang kebutuhan pangan, sehingga ketika terjadi impor pangan, sering terjadi kontraversi karena masing-masing perang data.?

Terkait dengan luasan lahan, ia sepakat dengan Imam Sugema tentang pentingnya pembukaan lahan baru. “Subsidi untuk BBM seharusnya digunakan untuk memperluas lahan pertanian,” jelasnya

Dengan luas lahan pertanian yang hanya 0.3-0.5 hektar, petani tidak mungkin sejahtera dan kalau harga pangan dinaikkan, maka konsumen yang akan menjerit. Karena itu, upaya memperluas lahan pertanian mutlak untuk mensejahterakan petani. “Lahan sempit juga susah untuk mengakses modal perbankan,” paparnya.

Bulog dengan pasukan semutnya, saat ini berusaha jemput bola langsung ke petani agar mereka memiliki nilai tambah tinggi. Pada zaman dahulu, bulog mengandalkan pedagang besar untuk mengumpulkan beras, tetapi tentu saja, mereka mengambil margin besar yang mau tidak mau merugikan para petani.

Terkait dengan budaya, budaya bertani pangan hanya terdapat di Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Bugis. Untuk menumbuhkan tradisi bertani di luar Jawa, perlu memindahkan suku-suku tersebut ke daerah yang memang masih memiliki lahan luas.

Demikian juga terkait dengan budaya pangan. Indonesia diperkenalkan dengan budaya makan gandum sejak 20 tahun yang lalu, sehingga sekarang menjadi terbiasa dan impor gandum semakin meningkat. Karena itu, untuk merubah budaya pangan lagi, diperlukan waktu sampai 20 tahun ke depan.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pendidikan, Daerah, AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 17 Oktober 2017

LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Mengambil momentum hari Assyura pada 10 Muharram 1439 ini, Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PBNU merilis versi beta laman www.nahdlatululama.id. 

“Portal tersebut menjadi solusi kebutuhan Nahdliyin dengan layanan yang disediakan,” kata Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi, Ahad (1/10).

Ia menyebut, layanan disiapkan meliputi Kalkulator Zakat, Cari Ustadz, Info Pesantren, Sekolah, Perguruan Tinggi, Buku dan Koleksi Perpustakaan PBNU, Aplikasi Islami, Mesin Pencari NU, dan biografi Ulama serta info Ziarah, serta Tuntunan Ibadah. 

LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU Rilis Versi Beta Web Layanan Nahdiyin

“Layanan Kalkulator Zakat memberikan kemudahan bagi kalangan awam untuk menghitung zakat yang harus dikeluarkan untuk selanjutnya diarahkan untuk membayar zakat ke LAZISNU sebagaimana arahan dari Ketua PP LAZISNU Syamsul Huda.” terangnya.

Sementara Cari Ustadz berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah NU menampilkan data profil ustadz sesuai wilayahnya. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Sementara ini profil ustad yang tersedia berada wilayah Jawa dan Bali, sehingga memberikan kemudahan bagi perkantoran yang mencari ustadz untuk keperluan seperti khatib Jumat dan kajian keislaman,” lanjut pria yang akrab disapa Cak Usma. 

Mesin pencari memberikan kemudahan dan jaminan keselamatan pencarian artikel keislaman, karena hasil pencarian yang bersumber dari Google sudah disaring sedemikian rupa untuk keselamatan Nahdliyin. 

Cak Usma menegaskan web juga menyajikan lebih dari 6.000 judul buku yang selama ini tersimpan di Perpustakaan PBNU, sehingga memberikan kemudahan bagi para pencari literatur keislamaan ahlussunnah wal jamaah annahdliyah.

“Semoga layanan ini dapat bermanfaat bagi Nahdliyin meskipun masih rilis versi beta,” ungkapnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengembangan aplikasi lainnya dan pengayaan data, Cak Usma mengatakan masih terus berjalan dan menjadi project yang berkesinambungan. (Red Kendi Setiawan)









Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, Nahdlatul, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 11 Oktober 2017

Gus Yus di Balik Naiknya Gus Dur sebagai Presiden

Jember, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Naiknya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke kursi presiden RI di awal reformasi, tidak bisa dilepaskan dari peran politik KH Yusuf Muhammad (Gus Yus) sebagai Ketua fraksi PKB MPR RI waktu itu. Bagaimana sebenarnya sosok Gus Yus?

Gus Yus di Balik Naiknya Gus Dur sebagai Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yus di Balik Naiknya Gus Dur sebagai Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yus di Balik Naiknya Gus Dur sebagai Presiden

Badrul Munir, penuis buku “Mengawal Konstitusi, Pemikiran Gus Yus, Pandangan PKB” mengungkapkan, betapa Gus Yus begitu lihai memainkan peranannya waktu itu. 

“Beliau sangat lihai mencari peluang di semua lini agar nama Gus Dur diterima sebagai calon presiden oleh parlemen,” katanya saat menjadi pembicara dalam peluncuran buku tersebut di Pondok Pesantren Nuris, Antirgo, Jember, Senin (10/9).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut Badrul, Gus Yus adalah sosok  ulama NU yang berpandangan luwas dan luwes dalam berpolitik. “Itu bisa kita lihat bagaimana beliau memainkan loby-loby politik menjelang untuk memunculkan nama Gus Dur, yang kemudian terpilih sebagai presiden,” tukasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Gus Yus, tambah Badrul, sedikit banyak mewarisi sikap dan cara berpikir tokoh NU Nasional, KH. Achmad Shiddiq. Dikatakannya, Gus Yus dalam prakteknya  senantiasa mengedepankan politik kebangsaan, bukan politik kepentingan sesaat.

“Jadi kita berharap ada kesinambungan gagasan-gagasan besar pemikiran tokoh NU sekaliber KH. Achmad Shiddiq sampai dengan peran sejarah fenomenal KH. Wahid Hasyim saat mendirikan negara ini, dengan para politisi NU yang sekarang di Senayan,” harap Badrul.

Dalam peluncuran buku tersebut, selain dihadiri ratusan audien, hadir juga sebagai pembanding antara lain KH. Muhyiddin Abdusshomad (Rais Syuriah PCNU Jember), Abdul Hamid Wahid, pengasuh pesantren Nurul Jadid, Probolinggo sekaligus anggota FKB DPR RI, dan Ketua DPC PKB Jember, Miftahul Ulum.  

Menurut Hamid, Gus Yus adalah tokoh NU Jember yang berkiprah di tingkat nasional, dengan sikapnya yang istiqamah dalam menjaga prinsip-prinsip perjuangan NU. “Karena itu, Gus Yus patut menjadi teladan bagi kita dalam menentukan format perjuangan ke depan,” ucapnya.

Sedangkan Miftahul Ulum, menilai Gus Yus merupakan sosok yang bersih dan berwibawa. Ulum bercerita soal  sikap Gus Yus yang menolak politik transaksional ketika dicalonkan sebagai bupati Jember sekian tahun lalu. Saat itu, kata Fraksi PKB Jember memiliki 17 suara ditambah dua suara PAN. Untuk terpilih sebagai bupati, Gus Yus hanya membutuhkan 4 sura lagi. Untuk itu, lanjut Ulum, ada yang mengusulkan agar PKB selaku penyokong utama Gus Yus, mencari tambahan 4 suara dengan kompensasi uang. 

“Namun Gus Yus menolak. Katanya itu  tidak boleh. Itu sama saja dengan menyogok, dan itu neraka,” jelas Ulum menirukan komentar Gus Yus. Dan septeri diketahui, Gus Yus akhirnya benar-benar terpental dari arus perburuan kursi bupati Jember ketika itu.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Nasional, Amalan, AlaSantri Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock