Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari

Oleh M. Rikza Chamami

Prof Abdurrahman Masud dalam disertasinya The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teaching menjelaskan bahwa KH Hasyim Asyari (1871-19476) merupakan kiai pergerakan.

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari

Kharisma Mbah Hasyim sudah banyak dirasakan masyarakat. Ia merupakan pemimpin yang sangat dekat semua kalangan karena skill dan kepemimpinannya yang sangat khas nusantara. 

Kedalaman ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Timur Tengah dipadu dengan ilmu Jawa khas Walisongo. Pernik-pernik pemikirannya pun terejawantahkan dalam dunia pesantren dan organisasi para kiai, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Pesan-pesan Mbah Hasyim dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangat jelas. Bahwa Indonesia akan memiliki kekuatan besar jika warganya bersatu dan kompak melawan penjajah. Maka fatwa resolusi jihad yang dikomando olehnya menjadi modal kemerdekaan sejati Indonesia.

Tepat pada Senin Pahing, 17 September 1945/9 Syawal 1364, Mbah Hasyim mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ini semakin nyata bahwa komitmen kebangsaan Mbah Hasyim sangat tinggi--dimana ketika Presiden meminta fatwa, maka langsung direspon dengan sigap. Di sisi lain yang perlu dilihat adalah fatwa tersebut berisi pesan persatuan bangsa.

Lawan yang dihadapi oleh Indonesia saat itu jelas para penjajah. Maka seluruh komponen bangsa harus bersatu padu, tanpa melihat latar belakang agama, suku dan lainnya. Karena Mbah Hasyim berada pada zona pemimpin bangsa, fatwa itu dikeluarkan dan menjadikan semangat melawan penjajah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Masih ada dua pesan lagi yang perlu dihayati dalam menjaga persatuan bangsa. Apa itu? Bahwa sepeninggal para penjajah itu, Indonesia masih memiliki tantangan lain, yakni wahabi.

Sangat tegas dituliskan dalam kitab karya Mbah Hasyim, Risalah Ahlussunnah wal Jamaah fi Haditsil Mauta wa Asyratis Saah wa Bayani Mafhumis Sunnah wal Bidah bahwa Jawa (Indonesia) menghadapi tantangan gelombang wahabi pada 1330 H (1909). 

Wahabi merupakan firqah yang bertentangan dengan ulama salaf yang menganut pendapat Muhammad bin Abdul Wahab Annajdi, Ahmad Ibnu Taimiyyah, Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Abdi Al-Hadi, Syaikh Muhammad Abduh, dan Syaikh Rasyid Ridla. Mereka misalnya melarang ziarah kubur dan tahlil. 

Keberadaan wahabi dan pengikutnya kata Mbah Hasyim menyitir pendapat Syekh Muhammad Bakhit Al-Hanafi dalam Kitab Tathhirul Fuad Min Danasil Itiqad bahwa wahabi menjadi wabah yang berbahaya sejak dulu sampai sekarang. Keberadaan mereka selalu menjadi kelompok sempalan yang melukai kaum muslimin dan harus diamputasi.

Nampaknya dua pesan Mbah Hasyim ini perlu menjadi renungan kita bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam menyambut hari lahir ke-92 NU.

Pertama, bangsa yang sudah merdeka perlu dijaga dengan baik dan semua harus sigap jika suatu saat ada musuh yang datang merusak NKRI.

Kedua, bahaya gerakan yang mengatasnamakan Islam namun berniat merusak NKRI perlu kita waspadai bersama. Sebab Indonesia selalu banyak dilirik oleh dunia karena memiliki kekuatan SDM dan SDA yang sangat luar biasa.

NU perlu menjadi kekuatan bangsa yang dapat merangkul dan dirangkul semua pihak dalam rangka menebarkan Islam ahlussunnah wal jamaah yang sesuai syariat Islam dan menanamkan cinta tanah air hingga hari kiamat. 

Penulis adalah Pengurus PW GP Ansor Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 20 Februari 2018

IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup

Probolinggo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Probolinggo meminta Pemerintah Kota Probolinggo terutama aparat penegak hukumnya bisa menutup hiburan malam. Pasalnya hal tersebut jelas-jelas sangat mengganggu dan merusak moral generasi muda yang notabene adalah calon pemimpin masa depan.

IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup

Permintaan tersebut disampaikan oleh Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Abdul Jalal dalam Musyawarah Kerja (Musker) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo yang digelar di MTs Sunan Giri Kota Probolinggo, Sabtu (15/11) malam.

“Hiburan malam ini jelas-jelas sudah mengancam moral dan perilaku generasi muda kita. Apalagi sering kami jumpai anak-anak muda sering nongkrong di depan beberapa hiburan malam. Oleh karena itu, kami meminta PCNU Kota Probolinggo bisa bersinergi dengan aparat keamanan dan mendesak agar hiburan malam ini ditutup,” ungkapnya, Senin (17/11).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut Jalal, tempat hiburan malam tersebut lebih banyak mudharatnya dan tidak ada manfaatnya. Pasalnya secara tidak langsung para kader muda ini juga akan ikut-ikutan gaya hidup yang ada di tempat hiburan malam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Biasanya di tempat hiburan malam ini disediakan minuman beralkohol. Jika generasi muda sudah dekat dengan maksiat dan minuman tersebut, lalu mau dibawa kemana masa depan bangsa ini,” tegasnya.

Jalal mengharapkan agar pihak berwenang bisa segera melakukan penanganan serius terhadap beberapa tempat hiburan malam yang sudah sangat meresahkan masyarakat. “Kami akan terus berupaya agar untuk bersinergi dengan pihak terkait supaya tempat hiburan malam yang ada di Kota Probolinggo segera ditutup. Masa depan generasi muda lebih penting dari segalanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, Sejarah, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 05 Februari 2018

CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai

Wonosobo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) kabupaten Wonosobo, bergerak untuk melakukan bersih-bersih sungai Serayu, desa Kejiwan, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (9/11). Kerusakan lingkungan yang semakin parah mendorong 25 anggota CBP-KPP turun ke sungai.

“Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan anggota agar lebih cinta terhadap keindahan alam. Anggota kita kenalkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan,” ungkap Komandan CBP Wonosobo Hakim Asnawi kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Senin (11/11).

CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai

Bersih-bersih ini, lanjut Hakim, sekaligus untuk kampanye dan sosialisasi di masyarakat untuk menjaga dan saling melestarikan lingkungan. Karena ketika ? lingkungan dijaga, maka lingkungan itu pula akan bisa dimanfaatkan. Namun sebaliknya, ketika kita tidak peduli terhadap lingkungan maka lingkungan juga tidak bersahabat dengan kita.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Kita sebagai kader muda untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan,” tegas Hakim.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Wonosobo Ahmad Haryanto mengapresiasi kegiatan bersih-bersih sungai. Kegiatan itu perlu dilanjutkan secara bertahap kepada tingkat kecintaan alam dan menjaga lingkungan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Saya sangat senang sekali melihat kader-kader IPNU IPPNU peduli terhadap lingkungan,” ujar Haryanto.

Kegiatan ini diharapkan mampu menarik warga untuk peduli lingkungan dan bisa selalu eksis dalam menjaga lingkungan hidup. (Fathul Jamil/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Meme Islam, PonPes, Syariah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 02 Januari 2018

Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah

Puasa Ramadhan 1434 H / 2013 M sudah dimulai dimeriahkan dengan kegiatan ibadah yang berbentuk mahdlah (murni) maupun ghairu mahdlah (tidak murni). Tidak hanya keramaian atas masuk di bulan suci itu dengan kegiatan yang bersifat mental maupun jasmani saja, tapi juga diramaikan dengan tersebarnya jadwal imsakiyah di masyarakat.

Jadwal imsakiyah inilah yang nanti di bulan Ramadhan yang memberi informasi kepada masyarakat Islam tentang kapan dimulai berpuasa maupun diperbolehkan berbuka puasa dalam setiap hari sehingga sangat dibutuhkan baik untuk perorangan yang nantinya dipasang di rumah ataupun masjid, mushalla dan langgar yang akan dipasang di tempatnya masing-masing sebagai pedoman mengumandangkan azan dalam setiap waktu sholat, berbuka puasa (memasuki waktu magrib) dan informasi memasuki waktu imsakiyah dalam setiap harinya dalam bulan suci Ramadhan, akan tetapi di bulan suci Ramadhan 1434 H ini, ada kemungkinan perbedaan dalam memulai puasa, ada yang memulai tanggal 09 Juli 2013 atau 10 Juli 2013.

Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah

Dalam realitanya, jadwal imsakiyah ini tidak hanya berfungsi utama untuk pedoman menentukan awal dan akhir berpuasa dalam setiap harinya, tapi bisa diambil manfaat ekonomi dalam publikasi produk suatu perusahaan. Dengan mencetak jadwal imsakiyah dan mendistribusikannya dengan sederhana, maka dengan sendirinya publikasi produk akan ikut juga karena biasanya produknya sudah tertuang di sekitar jadwal tersebut. Hal tersebut wajar dan logis akan tetapi perlu juga dipertimbangkan apakah jadwal imsakiyah yang dicetak dan didistribusikan sudah valid dengan daerah dimana jadwal imsakiyah itu diterima oleh masyarakat daerah tersebut dan dapat dibuat pedoman sesuai dengan kriteria pembuatan jadwal imsakiyah tersebut.

Nilai Akurasi Jadwal Imsakiyah

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam jadwal imsakiyah biasanya dimulai dengan kolom waktu imsak kemudian dilanjutkan shubuh, terbit, duha, dhuhur, ashar, magrib, isya’. Dengan kolom inilah maka salah satu argumen kenapa jadwal shalat ini dinamakan jadwal imsakiyah, disamping karena salah waktu yang tertera di jadwal itu yang penting adalah waktu imsakiyah dengan maksud untuk persiapan awal waktu menahan makan, minum dan hal-hal yang terkait, serta merupakan waktu yang awal-awal ditemui oleh pelaksana puasa pertama kalinya. Bahkan dalam kolom jadwal imsakiyah ini lebih banyak dibandingkan kolom jadwal shalat harian dengan ditambah kolom waktu imsakiyah, terbit, dhuha untuk memberi informasi ke masyarakat muslim tentang waktu ibadah sunah sekaligus kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah dari sisi waktu sehingga bulan Ramadhan bisa dilaksanakan semaksimal mungkin dan tinggi nilai akurasinya dalam pelaksanakaan ibadah. 

Pedoman waktu shalat bermula mengacu pada alam yakni posisi matahari sebagaimana dijelaskan dalam kriteria waktu shalat di penjelasan fiqih, walaupun demikian tidak semudah itu kita mengamati matahari sehingga bisa menentukan awal waktu shalat sesuai syariat. Dengan adanya hal tersebut, maka diadakan penelitian berkaitan posisi matahari yang menunjukkan awal maupun akhir waktu shalat sehingga kewajiban pelaksanaan shalat tetap dijalani walaupun posisi matahari tidak bisa dilihat secara langsung namun bisa ditemukan secara tidak langsung dengan melihat hasil penelitian yang akurat yang akhirnya dituangkan dengan jam yang akurat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Waktu shalat dalam jadwal imsakiyah tidak banyak dipermasalahkan secara signifikan, hanya beberapa awal waktu shalat yang banyak diperselisihkan dalam penentuannya. Sebagaimana halnya dalam penentuan awal waktu shubuh diperlukan untuk penentuan awal shaum (puasa) dan shalat, karena merupakan waktu awal shaum disebutkan dalam Al-Quran, “… makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar" (QS 2:187). Sedangkan tentang awal waktu shubuh disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Umar, “… dan waktu shalat shubuh sejak terbit fajar selama sebelum terbit matahari” (HR Muslim). 

Yang menjadi pertanyaan fajar apa yang dimaksud dalam hadis tersebut? Karena dalam pemahaman fajar dibagi dua macam, pertama yang melarang makan, tetapi membolehkan shalat, yaitu yang terbit melintang di ufuk. Lainnya, fajar yang melarang shalat (shubuh), tetapi membolehkan makan, yaitu fajar seperti ekor srigala” (HR Hakim). Dalam fiqih kita mengenalnya sebagai fajar shadiq (benar) dan fajar kidzib (palsu). 

Maka perlu penjelasan fenomena sesungguhnya fajar kidzib dan fajar shadiq dan ada batasan kuantitatif yang dapat digunakan dalam formulasi perhitungan untuk diterjemahkan dalam rumus atau algoritma program komputer. Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Sedang fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat. Sehingga fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam.

Waktu shalat dalam jadwal imsakiyah yang banyak diperselisihkan yang lain yakni awal waktu maghrib karena adakalanya tidak mempertimbangkan ketinggian tempat dimana pelaku puasa berada dan adakalanya mempertimbangkannya. Hal tersebut yang biasanya membedakan hasil perhitungan jadwal imsakiyah yang tersebar di masyarakat.

Perlu Ikhtiyat dalam Memilih Jadwal Imsakiyah

Berkaitan dengan perbedaan yang terjadi dalam proses perhitungan atau pembuatan jadwal imsakiyah, tentunya jangan hanya melihat jadwal imsakiyah yang lebih dahulu dalam awal waktu maghrib dan awal waktu imsak yang terakhir serta tampilan cover jadwal imsakiyah, tapi melihat akurasi jadwal imsakiyah itu yang sesuai dengan daerah dan pedoman syariah.

Untuk menentukan akurasi jadwal imsakiyah bisa dilihat secara sederhana karena kalau dilihat secara mendetail dan terperinci sangatlah sulit. Ada beberapa faktor yang dapat dilihat antara lain: pertama, jadwal imsakiyah menggunakan lintang dan bujur sesuai dengan tempat penyebaran jadwal tersebut yang biasanya menggunakan alat GPS. Kedua, mempertimbangkan tinggi tempat yang biasanya menggunakan altimeter sebagai dasar penentuan awal waktu maghrib maupun terbit, Ketiga, mempertimbangkan ikhtiyat (hati-hati dalam menentukan waktu shalat) karena faktor ini merupakan pertimbangan yang sangat diperhatikan dalam menentukan dalam setiap awal waktu shalat maupun yang lain, dan faktor-faktor lain.

Harapan penulis terhadap masyarakat dalam menggunakan jadwal imsakiyah menggunakan jadwal yang telah mempertimbangkan beberapa faktor di atas agar nilai akurasinya sangat baik. Namun tidak semuanya bisa meneliti jadwal tersebut dari beberapa faktor di atas, untuk penggunaan yang sederhana bisa menggunakan jadwal imsakiyah yang dikeluarkan badan hisab rukyat daerah (BHRD), ormas, perguruan tinggi, atau pesantren yang bisa dipercaya keakurasiannya.

M Agus Yusrun Nafi’, S.Ag, M.Si

Ketua Lajnah Falakiyah NU Kudus dan Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Hannan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tokoh, Internasional, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 24 Desember 2017

Banser Versi Belakang Layar

Oleh Ahmad Naufa

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan salah satu sayap kekuatan NU yang berada dalam organbisasi underbownya, Gerakan Pemuda Ansor. Banser, dalam perkembangannya, terus-menerus tumbuh dan silih berganti, seiring dengan pergeseran waktu dan perkembangan jaman.

Dalam suatu obrolan yang saya dengar, di ruang instruktur Banser dalam Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) di Purworejo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, ada beberap cerita yang diungkap oleh para instruktur, yaitu Banser-Banser senior yang telah terlatih.?

Banser Versi Belakang Layar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Versi Belakang Layar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Versi Belakang Layar

"Tadi, TNI geleng-geleng melihat tekad dan semangat anak-anak Banser, setelah saya menjawab pertanyaan mereka tentang seluk-beluk acara," kata salah satu di antaranya, membuka obrolan. Instruktur lain menyimak.

"Pak, personil-personil Banser ini mengikuti pelatihan selama beberapa hari, meninggalkan pekerjaan, keluarga dan istri. Untuk mengikuti kursus ini, mereka mencukupi kebutuhan selama keluarga ditinggalkan. Tidak hanya itu, mereka juga membayar pendaftaran, dan membeli perlengkapan sendiri. Sampai di acara, mereka juga mau disiksa dengan beberapa materi lapangan berat yang Anda sampaikan," jelasnya, kepada komandan serdadu TNI yang melatih Banser.

Sang komandan pun geleng-geleng kepala. Seakan ia takjub: apa motif di balik ini semua? Tentu bukan pangkat, jabatan, apalagi harta.

"Saya juga punya cerita menarik," imbuh instruktur lain, masuk obrolan. "Dulu, di hari pertama Diklatsar, ada seorang purnawirawan TNI yang ingin mendaftar jadi Banser, tetapi ditangguhkan," ungkapnya. Kurang lebih pembicaraannya seperti ini:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Pak, saya pensiunan TNI. Saya ingin mengabdikan diri saya dan kemampuan saya untuk Banser NU. Saya mau ikut acara Diklatsar ini"

"Oh, iya Pak. Boleh sekali anda masuk Banser. Tetapi, tidak bisa hari ini. Pendaftaran sudah tutup beberapa hari yang lalu. Bapak ikut Diklat di zona selanjutnya saja, nanti kita kontak"

Cerita itu, kemudian disambar oleh instruktur lain.

"Kalau pensiunan TNI masuk Banser memang banyak, saya sering menemui di Diklatsar maupun Susbalan di berbagai kabupaten," ketusnya, sambil mengangkat gelas bening berisi kopi. "Mereka rata-rata ingin mengabdikan diri di sisa-sisa umurnya, di dunia yang selama ini tak asing baginya: kemiliteran, kebelanegaraan dan khususnya keagamaan," imbuhnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Obrolan santai itu masih berlanjut. Sepertinya masing-masing punya cerita dan pengalaman tersendiri.?

"Saya juga pernah menemui seorang yang sudah kaya-raya, mapan, dan bahkan anaknya bekerja di BUMN, tetapi mau masuk Banser. Alasannya sederhana tapi berat pelaksanaannya: mau menghibahkan diri untuk kepentingan orang lain, bermanfaat bagi sesama, yang selama ini cenderung memikirkan diri sendiri dan, maksimal, untuk keluarga," kata seorang instruktur.?

Ia mengambil nafas beberapa jenak, kemudian melanjutkan. "Tapi ada sedikit keanehan untuk Banser yang satu ini?," terusnya.

"Keanehan seperti apa?" serobot, seseorang diantara kami, penasaran.

"Dia itu, di kegiatan NU maupun kebanseran, banyak membantu dan menyumbang dana untuk NU. Maklum, dia kaya raya. Tapi, kalau pas ndilalah diminta mengamankan pengajian dan ada uang transport, meskipun kecil untuk sekadar seliter-dua liter bensin, kalau dia tidak dikasih, dia marah," tuturnya. Semua dari kami pun tertawa, sambil berpikir.

"Mungkin, meskipun bisyaroh-nya kecil, kalau bisyaroh hasil ngepam - istilah untuk Banser yang sedang bertugas - hasilnya beda: ada kepuasan dan keberkahan tersendiri," kata salah satu dari kami, mencoba menafsiri.

Suasana di ruang itu begitu hangat, cair dan renyah dengan obrolan seputar NU khususnya Banser yang seakan tiada habisnya.?

Saya sendiri, menyaksikan bagaimana Banser bekerja untuk NU dan bangsa. Tiap kali acara, khususnya acara-acara ke-NU-an, mereka senantiasa siap siapa berjaga, bahkan sampai fajar tiba. Mereka mengawak para kiai yang memasuki arena, di tengah ribuan jamaah yang menyerbu ingin semuanya bersalaman. Tak peduli panas terik matahari dan guyuran hujan, jika sudah tugas organisasi, mereka melaksanakan sepenuh hati. Mereka, selain penerus sejarah panjang Banser, Ansor, NU, Indonesia dan Islam, dengan segala dinamikanya, menjadi Banser adalah sebuah passion dan way of life. Banyak dari mereka yang bangga memakaikan seragam Banser kepada istrinya, anak kecilnya dan bahkan dikenakan ketika pernikahan tiba, salah satu moment terpenting dalam hidupnya.?

Di usianya yang makin tua, dan dihadapkan pada berbagai tantangan kebangsaan seperti terorisme, disintegrasi bangsa, intoleransi antarumat beragama dan berbagai potensi konflik sosial, Banser terus memperbaiki diri dari hari ke hari. diklat-diklat terus dilakukan, untuk memperbaharui anggota, juga pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan SDM. Diklatsar khusus mahasiswa dan dosen muda pun terus gencar digelar.?

Menjelang Harlah GP Ansor yang ke-83 semenjak 24 April 1934, jutaan anggota Banser menjadi semakin penting keberadaannya di Tanah Nusantara. Di Negara Pancasila: NKRI. Yah, mereka punya strategi, punya kekuatan dan punya semangat yang berapi-api. Banser bukan intelektual yang hanya duduk membaca, diskusi dan menulis di depan komputer. Mereka bukan profesor yang banyak menemukan teori. Mereka juga bukan politisi yang bicara tetek bengek persoalan negeri, yang beberapa diantaranya diam-diam korupsi. Banser ada ketika negeri ini dikoyak, agama dan ulama dihujat, yang tak hanya pandai bicara, tetapi siap mengalirkan darah dan nyawa.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Amalan, PonPes, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 20 Desember 2017

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Final Liga Satri Nuansantara Regional Jateng III dimenangkan oleh Pondok Pesantren (PP) Walisongo setelah mengalahkan PP Sabilillah dengan skor 1-0 di Lapangan Kota Barat Solo, Jawa Tengah (7/9).

Pertandingan berjalan pada babak ke dua tim dari Sabililah bernomor punggung 24 mendapat kartu kuning, suasana pertandingan sore ini beranjak mendung waktu kurang 10 menit lagi, dan tibalah dimenit terahir Walisongo Menjadi Juara dengan skors 1-0.

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)
Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III

Atas kemenangan ini Walisongo berhak mengantongi tiket ke babak 32 besar seri nasional Liga Santri Nusantara. Penyerahan piala juara satu diserahkan oleh KH Yusuf Pengasuh Ponpes API Magelang. Sedangkan untuk juara keduaYhogyo wakil pimpinan DPRD Magelang.

Menurut Gus Yusuf sapaan akrab pengasuh API Tegalrejo mengatakan tim yang menjadi juara di tingkat regional merupan tim yang terbaik. "Selamat untuk PP Walisongo sragen anda layak mewakili LSN region Jateng III ke tingkat nasional," tambahnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Untuk kedua kalinya PP Walisongo lolos ke seri nasional Liga Santri Nusantara, yang pada tahun sebelumnya pesantren yang berasal dari sragen ini juga menjadi juara regional Jateng III. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Kajian, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 15 Desember 2017

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Hilal atau bulan sabit untuk awal bulan Sya’ban 1433 H telah terlihat, antara lain di Jakarta dan Bandung. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit  dilakukan pada Rabu (20/6) petang, bertepatan dengan 29 Rajab 1433 H.

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

Posisi hilal pada saat dilakukan rukyat memang sudah cukup tinggi, lebih dari 5 derajat. Hilal awal Sya’ban antara lain telah terlihat di lokasi rukyat Kampung Basmol Jakarta Barat dan di Observatorium Bosca Lembang, Bandung.

“Hilal awal Sya’ban disaksikan oleh perukyat NU, H Mawardi dan Syamsuri di Basmol Jakarta Barat. Lalu di Bosca Lembang langsung oleh pengurus Lajnah Falakiyah PBNU Hendro Setyanto,” kata KH A. Ghazalie Masroeri dihubungi Internet Marketer Nahdlatul Ulama di Jakarta, Rabu (20/1) malam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dengan terlihatnya hilal berarti tanggal 1 Sya’ban 1433 H sudah dimulai. Dalam kalender qamariyah (hijriyah) pergantian hari dimulai selepas tenggelamnya matahari. Atau jika disandingkan dengan kalender syamsiyah (masehi) 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Kamis, 21 Juni 2012.

Dengan dimulainya bulan Sya’ban, menurut Kiai Ghazalie, umat Islam sudah bisa memulai atau menyiapkan beberapa ibadah khusus di bulan ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Secara bahasa Sya’ban berarti cabang, maksudnya cabang dari ibadah. Ada beberapa kesunnahan dalam bulan ini, antara lain puasa 3 hari di awal bulan dan di pertengahan bulan. Dan di pertengahan bulan Sya’ban tentunya ada nisfu sya’ban,” tambahnya.

Hasil rukyat awal Sya’ban ini juga sangat penting dalam rangka pelaksanaan rukyat awal Ramadhan nanti. Pelaksanaan rukyatul hilal pada Rabu (20/6) petang ini berdasarkan atas penetapan awal bulan Rajab kemarin yang ditempuh dengan jalan istikmal atau penyempurnaan hitungan bulan Jumadal Tsaniyah menjadi 30 hari, karena pada saat itu hilal tidak terlihat.

Dengan terlihatnya hilal awal Sya’ban pada Rabu petang, maka rukyat awal Ramadhan akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang ada dalam kalender NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah. Rukyat awal Ramadhan 1433 H akan diadakan pada 29 Sya’ban, bertepatan dengan Kamis 19 Juli 2012.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock