Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Wafa Patria Ketua Umum IPPNU Baru

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Kongres XIV Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU),? Kamis (13/7), pukul 05.15, diakhiri dengan? menyanyikan Mars IPPNU mengiringi ketukan palu peresmian Wafa Patria Ummah sebagai Ketua Umum IPPNU periode 2006-2009.

Wafa, kader asal Jombang, Jawa Timur, mengantongi 165 suara dari dari total suara wilayah dan cabang IPPNU seluruh Indonesia, mengalahkan Lia Suci Mulyawati dari Banten yang hanya memperoleh 100 suara.

Wafa Patria Ketua Umum IPPNU Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Wafa Patria Ketua Umum IPPNU Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Wafa Patria Ketua Umum IPPNU Baru

"Kami menyerahkan cinderamata ini kepada ketua baru IPPNU dengan harapan semua yang telah dikatakan tentang kaderisasi dan konsolidasi di daerah-daerah tidak hanya janji yang muluk-muluk," kata salah seorang delegasi dari Papua usai peresmian sambil menyerahkan barang antik khas Papua. Ketua umum terpilih selanjutnya melengkapi kepengurusan pusat IPPNU yang baru dengan didampingi oleh mantan ketua umum? dan tujuh orang dari unsur pengurus wilayah berdasarkan waktu, yakni 2 untuk Indonesia bagian timur (WIT), 2 untuk Indonesia tengah (WITA) dan 3 untuk Indonesia barat (WIB).

Sebelumnya, di hadapan para peserta konggres dari 26 propinsi dan 240 cabang seluruh Indonesia, Wafa berjanji akan menjadikan kaderisasi sebagai? program utama yang akan direalisasikan pada tahun pertama kepengurusannya.

"Nanti saya akan road show ke daerah-daerah untuk memantau perkembangan IPPNU di sana. Saat ini kita memang mengalami krisis kader," kata Wafa pada saat menyampaikan orasinya sebelum pemilihan.

Dikatakanya, saat ini bermunculan berbagai? organisasi kepemudaan? yang? telah menunjukkan kiprahnya masing-masing dan hampir menggelamkan IPPNU dari dunia peran. Hal itu memicu IPPNU untuk semakin serius dalam menjalankan roda keorganisasiiannya. "Agar kita lebih percaya diri berhadapan dengan yang lain," kata Wafa.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Lia Suci Mulyawati, calon ketua umum yang lain, menyatakan, IPPNU perlu mengembalikan kepercayaan publik terhadap berbagai aktivitas organisi pelajar. Dikatakannya masyarakat saat ini tidak begitu antusias dan cenderung psimistik terhadap aktivitas berbagai organisai kepemudaan.

"Kita sekarang perlu realistis dan rasional, apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Kita tidak hanya butuh wacana dan konsep," kata Lia berorasi sebelum pemilihan. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 13 Februari 2018

Terorisme dan Radikalisme Itu Nyata, Bukan Pengalihan Isu

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Terkait pemberitaan terorisme dan radikalisme yang muncul ke permukaan saat ini, ada yang berpendapat bahwa hal itu merupakan pengalihan isu pemerintah dari kondisi pemerintahan yang dinilai sedikit bermasalah di bidang politik dan ekonomi.

Terorisme dan Radikalisme Itu Nyata, Bukan Pengalihan Isu (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme dan Radikalisme Itu Nyata, Bukan Pengalihan Isu (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme dan Radikalisme Itu Nyata, Bukan Pengalihan Isu

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlah Darus Salam Sukorejo, Bangsalsari, Jember KH Misbahus Salam menolak pandangan ini saat menjadi peserta Internasional Conference on Terrorism & ISIS  di JIEXPO Kemayoran Jakarta, 23 Maret 2015.

Menurutnya, terorisme dan radikalisme itu nyata di Indonesia dan terbukti dengan adanya aksi pengeboman dan pelaku bom bunuh diri yang terjadi di beberapa tempat, pembunuhan terhadap aparat dan masyarakat  di Poso, dan ancaman dari Abu Jandal al-Indonesi terhadap Panglima TNI, Polisi, Banser dan penentang Khilafah dan Daulah Islamiyah lainnya. Sejumlah warga Indonesia juga nyata direkrut oleh jaringan kelompok garis keras pendukung negara Islam Irak dan Syuriah (ISIS).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam pandangan Misbah, ektremisme disebabkan antara lain oleh pemahaman ajaran Islam yang dangkal dan sempit, konstelasi politik Timur Tengah, termasuk okupasi dan kekejaman Israil atas Palestina, porak porandanya negara Irak, Lybia dan negara lainnya yang terus menerus diterpa konflik.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Udara kebebasan pascareformasi juga meningkatkan jumlah ormas Islam dan menambah perluasan jaringan teroris internasional untuk mengobarkan semangat membentuk negara Islam di Indonesia. Penyebab lain terorisme dan radikalisme adalah adanya ketidakadilan dalam berbagai sektor kehidupan; kemiskinan, kebodohan, serta kecanggihan teknologi informasi yang dimanfaatkan oleh kelompok ekstrem.

Untuk menyikapi situasi ini, ia menekankan perlunya meningkatkan pemahaman Islam yang benar, damai, sejuk, cinta kasih melalui lembaga-lembaga yang berkompeten seperti NU, Muhammadiyah, pondok pesantren, yayasan,  lembaga swadaya masyarakat, dan lainnya.

“Terapkan hukum positif secara optimal, melengkapi Undang-undang tentang terorisme dan radikalisme, dan wujudkan keadilan di semua sektor,” tandas tokoh muda NU yang juga pernah ikut Diskusi terbatas dengan Densus 88 dan BNPT di Jakarta 11 Maret lalu.

Menurutnya, upaya program deradikalisasi perlu dimaksimalkan dengan menfaatkan teknologi informasi dan media, serta meningkatkan kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah dari negara-negara yang menjadi basis gerakan terorisme dan radikalisme. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 01 Februari 2018

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Syahdan, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, beberapa sisa pasukannya menyebar ke berbagai penjuru. Diantaranya ada yang mengungsi ke wilayah Holing (Bahasa Cina), dalam bahasa jawa disebut Keling-Kalong. Ratusan pasukan tersebut dipimpin oleh Ki Ageng Gombol.

“Mbah Gombol, nama aslinya KH Hambali,” terang Riza Baihaqi, salah satu warga setempat, Sabtu lalu (6/7).

Di papan besar yang dipasang di dekat makam, tertulis bahwa Mbah Gombol berasal dari Bagelan Purworejo. Dia adalah penasehat Pangeran Diponegoro dan ahli strategi perang gerilya. Bersama ratusan pasukannya ia berjuang melawan Belanda.

Ki Ageng Gombol yang dikejar oleh pasukan Kompeni Belanda, akhirnya sampai di wilayah Holing. Di tempat itu, mereka kemudian membuka sebuah padepokan. Daerah yang sebagian besar masih berupa rawa-rawa seluas + 2 hektar  itu kemudian dikeringkan.

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Gombol, Penasihat Pangeran Diponegoro

Selang beberapa bulan kemudian, tanah yang sudah kering dapat digunakan untuk membangun rumah dan berladang. Kemudian oleh Ki Ageng Gombol, tempat yang semula bernama Penatus itu diganti dengan nama Pekajangan, dinamakan seperti itu karena di daerah tersebut banyak ditumbuhi Pohon Kajang. Daerah ini sampai sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Pekajangan, Kedungwuni, Kab. Pekalongan.

Padepokan itu kemudian digunakan untuk tempat ibadah lima waktu dan ilmu kaweruh (santapan rohani) yang dipimpin oleh beberapa orang guru ngaji. Diantaranya ada yang dikenal dengan nama Raden Sitojoyo (Sutojoyo), Raden Gondang Winangun dan juga Raden Suryo Mentaram. Begitu pula dengan kesenian wayang kulit yang juga di uri-uri, juga ilmu silat dan ilmu kanuragan.

Tahun 1840 Masehi bulan Dzulhijah, Ki Ageng Gombol wafat. Beliau dimakamkan di dekat padepokan. Makamnya sempat terlupakan, karena seiring bergantinya generasi. Namun, setahun silam makam tersebut ditemukan kembali oleh tim dari Pesantren Nurul Huda Sragen. Makamnya kemudian dipindahkan di dekat makam lama, bersama dua pengikutnya, yakni Kiai Ageng Basyari (Mbah Sor Pring) dan Raden Mas Suryomentaram.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Setiap malam Jum’at Kliwon, biasanya di makam diadakan pengajian dan banyak peziarah datang” ungkap Baihaqi, yang mengaku masih termasuk keturunan Mbah Gombol itu. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Pahlawan, Kajian Sunnah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 31 Januari 2018

Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi

Seorang sahabat saya bercerita, ada teman fesbuknya menulis ujaran kebencian kepada seorang ulama. Isinya caci maki. Tulisan caci maki itu pun mengundang reaksi para pemuda Ansor.

Si penulis status buruk itu diperingatkan oleh anggota Ansor agar menghapus tulisannya. Dia menolak, tetap merasa berhak mencaci si ulama karena menurutnya si ulama itu orang sesat dan munafik karena dia anggap membela seorang Kristen. Sedangkan menurut dia Kristen itu kafir yang harus diperangi.

Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Penghina Ulama Tantang Ansor Lapor ke Polisi

Anggota Ansor yang lain mengingatkan dia agar berhenti mencaci ulama dan meminta maaf. Si penulis status bergeming, tetap merasa benar dan yang salah adalah si ulama.

Tak mempan dinasihati, seorang anggota Ansor yang lain lagi memberi ancaman: Tolong hapus tulisanmu, jika tidak, akan kami laporkan ke polisi".

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Diancam begitu, si pemuda pengagum Rizieq Shihab itu malah menantang: "Silakan laporkan polisi. Saya tidak takut. Polisi itu thoghut, memakai hukum buatan manusia. Hukum Indonesia itu fasiq. Aku hanya takut hukumnya Allah".

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Banyak yang gemes dengan sesumbarnya itu, tapi para anggota Ansor tetap tidak mengancam semisal akan memberi "hukuman adat" padanya.

Para anggota Ansor disertai beberapa angota IPNU lantas mendatangi rumah si penulis status. Itu upaya terakhir memberi nasihat. Dengan ditemui langsung diharapkan dia akan berhenti pongah. Ternyata tidak, tetap saja sombong dan menantang semakin kencang.

"Silakan laporkan polisi sekarang juga jika kalian tidak terima," ucapnya congkak.

Usai dari rumah si pemuda, para pemuda Ansor langsung ke kantor polisi untuk melapor. Polisi pun memproses laporan tersebut, dan pada hari berikutnya polisi menyampaikan surat panggilan pemeriksaan kepada si pemuda terlapor.

Tak seperti omongannya, si pemuda gemetar begitu mendapat surat panggilan dari polisi. Dia ternyata takut datang ke kantor polisi. Istrinya pun menangis karena melihat suaminya begitu ketakutan akibat terbayang akan dipenjara.

Sore itu, si pemuda congkak yang kini lututnya lemes itu lantas membawa anak dan istrinya ke rumah ketua Ansor. Sambil menangis mengiba-iba dia meminta maaf dan meminta agar laporan itu dicabut.

"Mas, Pak, Kang. Tolong kasihani saya. Ini keluarga saya akan menderita jika saya dipenjara. Mohon maafkan saya, status saya sudah saya hapus dan saya berjanji tidak akan mengulangi. Mohon cabut laporan ke polisi itu. Saya sungguh menyesal," katanya sambil menekuk lutut tanpa menyerah.

Sebenarnya para pemuda Ansor gemes padanya. Ingin mereka meniru ucapan orang-orang GNPF MUI dan FPI: "Maafkan sih maafkan, tapi proses hukum jalan terus". Atau bahkan menggerakkan massa untuk mendemo sampai tiga jilid.

Tapi jelas hal itu tidak akan dilakukan. Sahabat-sahabat Ansor itu terlalu lama digembleng ilmu hikmah oleh para kiai, sehingga hati mereka langsung luluh melihat tangisan seorang wanita dan anaknya. Kasihan pada istri dan si anak dari pemuda itu, maka dimaafkanlah sang penghina ulama.

Ketua Ansor lantas memerintahkan agar mencabut laporan ke polisi. Polisi dinego agar tidak melanjutkan kasus tersebut.

Saya tertawa membayangkan seorang yang congkak tiba-tiba gemetar dipanggil polisi. Hahaha... (Mohammad Ichwan)



Sumber Cerita: Ketua PW IPNU NTB


Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 28 Januari 2018

Tiga TKW Sukabumi Disiksa di Saudi

Sukabumi, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Tiga Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi korban penyiksaan di Arab Saudi dengan luka di sekujur tubuh.

Tiga TKW Sukabumi Disiksa di Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga TKW Sukabumi Disiksa di Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga TKW Sukabumi Disiksa di Saudi

Menurut Ketua Serikat Buruh Migran Jawa Barat (SBMI) Jabar Jejen Nurjanah, Kamis, TKW tersebut bernama Kokom, Tutus, dan Papat.

SBMI menyebutkan bahwa Kokom binti Bamay, warga Kecamatan Cimanggu, sudah 16 bulan bekerja di Arab Saudi. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dia  disiksa lalu dibuang  majikannya di daerah pegunungan di Mekah.

Tutus Djuariah, warga Kecamatan Cisaat, mengalami luka di sekujur tubuhnya bahkan kedua kaki lumpuh serta mata rusak dan rambut digunduli majikan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Korban sudah bekerja sekitar tujuh tahun di majikannya," kata Jejen.

Papat Fatimah, warga Kecamatan Cisaat, sudah bekerja selama lima tahun dan selama bekerja korban mengalami penyiksaan seperti dipukul benda keras sampai ditendang.

"Ketiga TKW yang menjadi korban penyiksaan ini sudah ditampung di Konsulat Jenderal RI di Arab Saudi namun belum bisa dipulangkan, padahal kami dan keluarga para korban sudah tiga bulan meminta kepada KJRI agar ketiganya dipulangkan," katanya.

Menurut Jejen, para korban tidak mendapatkan gaji sepeserpun bahkan saat diselamatkan ke KJRI hanya membawa pakaian yang melekat di badan. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 23 Januari 2018

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

Pacitan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Asad Said Ali hadir dalam Apel Kesetiaan NKRI yang digelar oleh PWNU Jawa Timur di kawasan Pantai Pancer Door Pacitan, Ahad (8/1).?

Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 mengatakan bahwa toleransi model barat tidak cocok di terapkan di NKRI. Mengapa demikian, karena toleransi tersebut tidak sejalan dengan sikap toleransi yang dimiliki NU.

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

"Toleransi model barat mengatakan semuanya bebas. Semua agama bebas. Termasuk menistakan agama orang lain, termasuk juga menghujat Allah. Itu toleransi model barat. Tapi kita beda, kita Pancasila tidak seperti itu. Kita adalah Bhinneka Tunggal Ika," katanya dihadapan 10 ribu kader NU Se-Jawa Timur yang mengikuti Apel

Negara, kata mantan Wakil Kepala BIN itu, harus hadir membikin aturan atau undang-undang yang kuat untuk mengatur rambu-rambu lalu lintas interaksi antar umat beragama, dan antar suku di Indonesia.

"Negara yang namanya Pancasila sekarang ibarat rumah. Setelah 1998, karena liberasi politik, karena tekanan barat, sekali lagi karena tekanan barat, rumah kita menjadi pintunya dibuka. Kurang puas jendelanya dibuka, kurang puas lagi gentengnya dibuka. Maka sekarang kita masuk angin, kena flu," katanya?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Oleh karena itu, NU bersama Negara menyatakan siap mengawal toleransi dengan aturan yang disepakati bersama. NU siap membangun visi baru sesuai dengan sikap tasamuh atau toleransi yang dimiliki NU.

Hadir dalam Apel yang mengusung tema Meneguhkan persatuan umat Islam dan nasional itu, Wasekjen PBNU KH Abdul Munim DZ, Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi, Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah, Bupati Pacitan Indartato, Komandam Korem (Danrem) 081/Dhirotsaha Jaya Madiun Kolonel Infanteri Piek Budiakto, dan ratusan alim ulama lainya. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 20 Januari 2018

Fauzi Bowo Pimpin NU DKI

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama
Fauzi Bowo akhirnya benar-benar tak terbendung untuk meraih kursi Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah NU DKI Jakarta, dalam pemilihan yang digelar Sabtu malam (2/10) lalu.

Tokoh NU yang juga Wakil Gubernur DKI Jakarta itu menyingkirkan rivalnya, Gus Wahid —mantan Ketua PWNU DKI, setelah mendapat dukungan lima cabang, dari enam cabang. Calon lain, Maksum Zubair mengundurkan diri dari pencalonan, karena tidak mendapat satupun dukungan dari enam cabang yang mempunyai hak suara.

Seperti dberitakan sebelumnya, Fauzi Bowo mendapat dukungan suara dari PCNU Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Kepulauan Seribu. Sedangkan satu PCNU, yaitu Jakarta Selatan menetapkan dukungan ke Gus Wahid.

Seperti diperkirakan sebelumnya, proses pemilihan berjalan kurang menarik, karena mayoritas cabang telah menyatakan dukungan kepada Fauzi Bowo. Pemilihan yang seharusnya dilakukan dua tahap terpaksa dilakukan satu tahap karena pada tahap pertama Fauzi Bowo telah mendapat lima suara, sedangkan Gus Wahid hanya mendapat satu suara.

Setelah penghitungan suara tahap pertama berakhir, Gus Wahid menyatakan mundur yang kemudian secara otomatis Fauzi Bowo melenggang ke kursi Ketua PWNU DKI tanpa lawan.

Setelah proses pemilihan usai, ratusan peserta dan warga NU DKI yang memadati Aula hotel Evergreen Cisarua Bogor langsung membaca sholawat seraya menyalami Fauzi Bowo secara bergantian.

Selain mendapat dukungan dari mayoritas cabang, Fauzi Bowo juga mendapat support dari sejumlah Badan Otonom (Banom) NU DKI, seperti LDNU, Lakpesdam, IPNU, IPPNU, Fatayat dan Muslimat.

Menurut Ketua LDNU DKI, Muhammad Shodri, Fauzi Bowo memang tokoh yang paling tepat memimpin NU DKI. Sebab, kualitas dan kemampuan dia dalam berorganisasi tidak perlu diragukan. Selain lahir dan besar dari kalangan NU, Fauzi Bowo menurut penilainya, adalah tokoh yang dibutuhkan NU DKI saat ini. “dia juga benar-benar santri,” kata Shodri.

Proses Demokrasi

Di tempat terpisah, Ketua PCNU Jakarta Selatan, Zainal Arifin yang merupakan representasi dari kubu Gus Wahid dapat menerima kekalahan dengan legowo. Baginya, perbedaan sikap politik adalah hal yang wajar dalam NU. Apalagi, NU selama ini dikenal sebagai organisasi yang pro demokrasi.

“Mayoritas cabang mendukung Pak Fauzi Bowo. Hanya kami satu-satunya yang mendukung Gus Wahid. Saya kira itu wajar saja, sebagai bagian dari demokrasi dalam NU. Kami pun menerima Pak Fauzi dengan baik sebagai Ketua PWNU DKI,” kata Zainal.

Sementara itu, Fauzi Bowo dalam sambutanya berjanji akan melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik. Kepercayaan peserta konferwil yang telah memilih dirinya adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan, tidak hanya pada warga nahdliyin, tapi harus dipertanggung jawabkan kepada Allah. “Ini adalah amanah yang diberikan kepada saya dan harus saya jalankan dengan baik,” kata Fauzi.

Menurutnya, NU DKI memiliki potensi yang besar untuk maju. Sebab, NU DKI mempunyai kuantitas dan kualitas warga yang tidak perlu diragukan. Hanya saja, kuantitas dan kualitas warga NU di Jakarta selama ini belum terorganisir dengan baik. Sehingga NU DKI kurang mempunyai peran di masyarakat. “Ulama kita, sebagian besar keluarga NU. Jadi kalau kita dapat memanfaatkan potensi itu dengan optimal, pasti akan membawa kemajuan untuk NU,” ungkapnya.

Program Utama

Selain akan menjalankan program yang diamanatkan oleh konferwil, program utama yang akan dicanangkan oleh Fauzi Bowo adalah mendata dan membuat database warga nahdliyin di DKI Jakarta. Selain itu, struktur NU di semua tingkatan akan dihidupkan kembali dengan memasang plang di setiap tingkatan kepengurusan. Dengan demikian, keberadaan NU DKI akan benar-benar dirasakan oleh masyarakat. “kalau pekara yang kecil aja tidak dilaksanakan bagaimana dengan hal-hal yang besar,” tambahnya.

Dalam paparannya, Fauzi Bowo juga memberikan penghargaan kepada Gus Wahid yang telah membawa banyak kemajuan terhadap NU DKI. “Tidak lupa penghargaan saya berikan pada Gus Wahid yang telah benyak memajukan NU DKI. Tanpa beliau, NU DKI tidak bisa seperti ini,” pujinya.(amh/dm/cih) 
 

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Daerah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Fauzi Bowo Pimpin NU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Fauzi Bowo Pimpin NU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Fauzi Bowo Pimpin NU DKI

Kamis, 18 Januari 2018

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Selama tiga minggu, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri Jawa Timur meneliti pengelolaan keuangan di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT Jombang. Mereka yang berjumlah lima orang ini ingin mempraktikkan sejumlah pengetahuan yang telah diraih selama berada di kampus.

"Kami dari Fakultas Syariah Program Studi Ekonomi Syariah," kata Krisna Winata Putra, pimpinan kelompok tersebut saat dikonfirmasi Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Rabu (11/2).

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Para mahasiswa sejak tanggal 9 hingga 28 Februari mendatang akan meneliti lebih dekat bagaimana LSPT mendapatkan dana sosial dari para donatur, pengadministrasian, penyaluran dana untuk kegiatan sosial, hingga pelaporan kepada khalayak.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Para peserta juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan LSPT, khususnya saat memberikan santunan kepada sejumlah kalangan," kata Krisna, sapaan akrabnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Seperti pada kegiatan penyaluran bantuan. Bersama salah seorang pengurus, mereka diikutkan kegiatan penyaluran paket susu formula kepada masyarakat. "Kami menyaksikan, bantuan ini tidak semata diberikan kepada kalangan muslim, juga masyarakat yang beragama lain," tandas mahasiswa kelahiran Kediri ini. Bagi para mahasiswa, apa yang dilakukan LSPT adalah cerminan rasa solidaritas membantu masyarakat kurang mampu dengan tanpa membedakan agama dan keyakinan, lanjutnya.

Keterlibatan dengan kegiatan LSPT juga mereka rasakan saat pemberian santunan kepada para 200 fakir miskin dan kaum dluafa di Masjid Ulul Albab yang berada di lingkungan Pesantren Tebuireng. Selama acara berlangsung, para mahasiswa ikut dalam kegiatan shalat dhuha berjamaah, mendengarkan mauidhah hasanah, pemberian santunan dan layanan kesehatan secara gratis.

Bagi mahasiswa semester 6 ini, pengalaman mengikuti sejumlah kegiatan LSPT merupakan hal menarik dan berharga. "Hal ini juga menjadi pembanding dengan ilmu yang selama ini kami peroleh di kampus," ungkapnya.

Meskipun belum genap semingu terlibat dalam kegiatan LSPT, para mahasiswa merasa bahwa secara umum pengelolaan keuangan di lembaga sosial ini lumayan baik. "Apalagi kami dibantu dengan keterbukaan informasi yang disampaikan pengurus," katanya. Keberadaan majalah dan website juga menjadi sarana dalam menyampaikan informasi keadaan keuangan yang masuk serta digunakan sejumlah kegiatan, lanjutnya.

Waktu 3 minggu akan benar-benar dioptimalkan para mahasiswa untuk mendapatkan gambaran pengelolaan administrasi dan keuangan LSPT. "Kami juga akan memberikan saran serta masukan kepada lembaga ini sesuai dengan ilmu yang telah kami dapatkan selama kuliah," pungkas Krisna. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren, Quote, IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 17 Januari 2018

Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren

Bantul,Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Wakil Ketua Panitia Nasional Liga Santri Nusantara (LSN) 2016 Syaifuddin Munis mengatakan, pertandingan sepak bola antarpesantren yang diselenggarakan Kemenpora bekerja sama dengan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU ini, memiliki kualitas pembeda dari liga-liga pembibitan yang lain.

Menurut dia, LSN selain memupuk pemain dengan pendidikan skill sepak bola, juga menonjolkan sisi moralitas karena lahir dari kalangan santri dan pesantren. Hal itu supaya para pemain seimbang antara skill dan moralnya. ?

Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembibitan Sepak Bola Profesional Rasa Pesantren

“Cium tangan kepada wasit; jika terkena hukum tidak protes keras dan tidak melakukan tindakan anarkis; kalau menjatuhkan lawannnya harus segara dibangunkan dan salaman; itu yang terjadi di Liga Santri,” ungkapnya selepas pertandingan semifinal Seri Nasional di stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta pada Sabtu (29/10).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia menambahkan, menonjolkan sisi moralitas sebetulnya tidak menjadi regulasi, tapi menjadi trade mark LSN sejak awal bergulir. Dan itu berlaku sampai sekarang.

Karena, katanya, regulasi itu lebih pada norma-norma pertandingan sesuai ketentuan yang berlaku secara internasional di bidang sepak bola. Rujukannya adalah standar FIFA. Sementara moralitas adalah kultur pesantren yang dibawa santri ke lapangan sepak bola.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Lebih lanjut ia mengatakan, pada sisi pembibitan dan pendidikan pun, Liga Santri sangat serius mengupayakannya. Pada sisi ini LSN serius dalam? regulasi sepak bola yang didampingi langsung M Kusnaeni, seorang profesional di bidang itu. Sementara keseriusan pada sisi pembibitan, Liga Santri didampingi pemandu bakat oleh pemain legendaris nasional, Robby Darwis.

“Sehingga para santri tidak ala tarkam yang tidak ada ujung capaian prestasi di masa yang akan datang,” tambah Direktur Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) untuk olahraga prestasi.

Dengan demikian, ia berharap Liga Santri ini merupakan agenda jangka panjang. Jika hari ini dikatakan sebagai pendidikan dan pembibitan, maka harapannya adalah prestasi di masa yang akan datang.

“Liga Santri bisa menyumbangkan pemain di liga profesional di nasional maupan di event-event internasional. Dan jangan lupa mereka pemain yang sudah digembeleng pada sisi moralitas dan spiritual pesantren yang sangat militan,” jelasnya.? ? ?

Ia juga memberi catatan, penonton Liga Santri berbeda dengan penonton pada sepak bola yang lain. Mereka tertib di pinggir lapangan menyanyinyakn mars persantren dengan tertib dan membacakan shalawat Nabi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 15 Januari 2018

Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Warga NU dan umat Islam di Tanah Air kembali kehilangan ulama panutannya. Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 KH Ali Mustafa Ya’qub wafat pada Kamis (28/4) pagi ini.

Mantan imam besar Masjid Istiqlal ini diberitakan mengembuskan napas terakir di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, pukul 06.00 WIB. KH Ali Musthofa Ya’qub merupakan pengasuh Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan., Banten

Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Ali Mustafa Yaqub Wafat

Idris Mas’ud , pengurus Lakpesdam PBNU yang juga santri KH Ali Mustafa Ya’qub mengatakan, saat ini jenazah almarhum tengah dimandikan di lingkungan Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang Selatan. Rencananya, almarhum akan dishalatkan hari ini, selepas dhuhur, dan dikebumikan sekitar pukul 14.00 WIB.

Ia mengatakan, Kiai Mustafa yang tampak tak sadarkan diri dibawa ke Rumah Sakit Hermina sekitar pukul 04.00 WIB. Menurut Idris, bahkan saat akan menuju rumah sakit Kiai Musthofa diperkirakan sudah meninggal dunia. “Beliau sudah lama sakit, hanya saja beliau jarang mengeluh, dan seperti tidak dirasa,” kata Idris yang sedang ada di lokasi pemandian jenazah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

KH Ali Mustafa Ya’qub yang aktif di Majelis Ulama Indonesia dikenal dengan kepakarannya di bidang ilmu-ilmu keislaman, terutama hadits. Ia banyak melahirkan karya tulis, baik berbahasa Arab maupun Indonesia. (Mahbib)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pesantren, IMNU, Pondok Pesantren Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 14 Januari 2018

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Tertib administrasi dan pendataan warga nahdliyin lewat kepemilikan Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) sudah selayaknya jadi perhatian utama. Apalagi perhatian dan respon warga di beberapa daerah juga sangat membanggakan.

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Antusias Warga Berkartanu Sangat Tinggi

Panitia Kartanu di Jombang cukup optimis bahwa program ini akan berlangsung sukses. Apalagi saat melakukan sejumlah sosialisasi di berbagai Majelis Wakil Cabang (MWC), hampir semuanya menanggapinya dengan serius. "Ada juga yang masih mempertanyakan dan mengajukan berbagai pertanyaan," kata Ahmad Syifa yang juga Wakil Ketua Kartanu di Jombang.

Namun apa yang disampaikan dan dipertanyakan sejumlah pengurus MWC adalah sebuah hal yang wajar. "Pertanyaan dan keraguan dari MWCNU itu mewakili sejumlah tanya dari beberapa warga," katanya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Di antara yang dipertanyakan adalah soal keuntungan atau benefid yang nantinya akan diterima warga saat mereka memiliki kartu identitas tersebut. "Kira-kira apakah yang akan kami terima kalau kemudian memiliki kartu ini?" kata salah seorang pengurus ranting saat sosialisasi di MWCNU Sumobito beberapa waktu lalu.

Ahmad Syifa menyampaikan bahwa ada beberapa keuntungan yang bisa diraih bagi pemegang Kartanu. Diantaranya adalah sejumlah keringanan biaya saat menggunakan fasilitas sejumlah rumah sakit di Jombang. Yakni Rumah Sakit Unipdu Medika Peterongan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama serta Rumah Sakit Ibu dan Anak Muslimat Jombang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Namun hal itu hendaknya jangan dijadikan faktor utama dalam mensukseskan program Kartanu. "Yang terpenting adalah mensukseskan amanah organisasi," kata Afandi, Wakil Sekretaris Kartanu.

Antusiasme para nahdliyin di kota santri untuk mengikuti program Kartanu terus menggeliat. Dalam beberapa bulan kedepan tim Kartanu akan terus bergerak untuk melaksankan pemotretan. Untuk bulan Maret ini adalah untuk daerah MWC Jombang, MWC Peterongan, MWC Sumobito dan MWC Kesamben.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Meme Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 13 Januari 2018

Mbah Said Shalat di Tengah Banjir

Cirebon, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Banyak sekali kisah-kisah menarik tentang sosok pendiri yang mewarnai sejarah pesantren-pesantren di Indonesia. Salah satunya adalah KH Muhammad Said, pendiri pesantren Gedongan, Cirebon.?

Mbah Said Shalat di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Said Shalat di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Said Shalat di Tengah Banjir

Menurut Aghust Muhaimin, pengurus pesantren menceritakan bahwa Mbah Said pernah melakukan shalat padahal kondisi desa sedang mengalami banjir besar. Awalnya seperti biasa, Mbah Said dan para jama’ah melaksanakan shalat di sebuah langgar Gedongan, lalu tiba-tiba hujan besar datang dan menghasilkan banjir yang luar biasa dan membuat para jama’ah yang bermakmum ke Mbah Said terpaksa harus membubarkan diri.

Anehnya Mbah Said tetap meneruskan shalatnya, hingga saat tiba pada rakaat terakhir dan salam, kondisi banjir sudah setinggi pundak Mbah Said, kemudian Mbah Said terheran saat menoleh ke belakang dengan kondisi jamaah yang kosong, tak lama warga kembali untuk menyelamatkan Mbah Said,

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Eh, kenapa kalian bubar?” tanya Mbah Said

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Kampung kebanjiran Kiai, jadi kami terpaksa bubar untuk menyelamatkan diri, tapi kiai tampak sedang khusyu sekali, kami kesulitan untuk mengingatkan Kiai,” jelas salah satu warga

“Loh, hujannya kapan? Tiba-tiba langsung banjir saja,” tanya Mbah Said terheran-heran.

Aghust Muhaimin menambahkan, cerita tentang kekhusyuan shalat Mbah Sa’id ini merupakan sebagian kecil dari pelbagai kisah yang sampai sekarang masih terasa lekat di hati masyarakat Gedongan. Masih terdapat banyak kisah lain yang sebenarnya mengandung amanat dan pesan yang baik bagi masyarakat dan keluarga besar pesantren.

“Kisah tersebut sudah saya konfirmasikan ke pengasuh pondok, KH Amin Siroj, beliau juga menyebutkan kisah-kisah lain yang juga penting untuk dipelajari pesan dan amanatnya,” pungkas pria yang kerap disapa Kang Aghust tersebut. Kamis (9/5).

Selain tentang kisah kekhusyuan shalat Mbah Said, masyarakat juga mencatat kisah-kisah lain yang juga terbilang menarik, diantaranya adalah kemampuan Mbah Said untuk memberhentikan kereta api jurusan Surabaya-Jakarta yang melintas ke tengah pesantren saat digelarnya pasar santri, serta kisah tentang pembuatan sumur kramat yang dilakukan oleh Mbah Said sendiri di beberapa pesantren, seperti di pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon dan Krapyak, Yogyakarta.

KH Muhammad Said yang telah berjasa mendirikan pesantren Gedongan Cirebon ? pada tahun 1880 ini diperingati haulnya pada hari Sabtu, 11 Mei 2013. (Sobih Adnan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sejarah, IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 08 Januari 2018

STAI Brebes Jajaki Kerja Sama dengan PT di Singapura, Malaysia dan Thailand

Brebes, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Guna meningkatkan mutu Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Brebes, Jawa Tengah menjajaki kerja sama akademik dengan tiga perguruan tinggi (PT) di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Poin-poin yang disepakati antara lain pertukaran dosen maupun mahasiswa di tiga PT luar negeri tersebut sebagai bentuk perluasan kawasan.

Demikian disampaikan Pembantu Ketua I STAI Brebes Wahib Isma sepulang penandatangan, di kampus STAI Brebes, Selasa (7/6).

STAI Brebes Jajaki Kerja Sama dengan PT di Singapura, Malaysia dan Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
STAI Brebes Jajaki Kerja Sama dengan PT di Singapura, Malaysia dan Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

STAI Brebes Jajaki Kerja Sama dengan PT di Singapura, Malaysia dan Thailand

Ketiga perguruan tinggi tersebut yakni Universiti Sains Islam Malaysia, Pengajian Tinggi Islam Daarul Maarif (Petidam) Patani, Thailand ? dan Jamiyah Islamiyah Syech Daud Al Fatoni (JISDA) Yala, Thailand.

Penandatanganan tersebut sebagai rangkaian Muhibah (kunjungan) ke Luar Negeri Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (FKPTKIS) Kopertis Wilayah X Jawa Tengah, 24-27 Mei lalu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan di ketiga kampus tersebut dengan para Ketua dan Rektor Perguruan Tinggi setempat. “Kami sepaham dengan berbagai program penawaran kerja sama pertukaran mahasiswa dan dosen, di era MEA,” papar Wahib.?

Pihaknya, memang harus membuka diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi terutama dalam ke Islaman. Sehingga saling menguatkan antar perguruan tinggi yang satu dengan perguruan tinggi lainnya yang senafas.?

Ketua STAI Brebes Prof Dr Muhaimin menambahkan, bahwa STAIB siap untuk menghadapi MEA dan perkembangan dunia lainnya. Bukti dari itu, dirinya mengirimkan salah satu pimpinan STAIB untuk menandatangani MoU dengan perguruan tinggi di luar negeri.

Selain itu, untuk meningkatkan mutu dosen, pihaknya juga memberikan berbagai pelatihan antara lain worshop tentang pengujian skripsi bagi mahasiswa yang diikuti 40 dosen pembimbing skripsi. Para Mahasiswa juga sudah melakukan Rihlah Ilmiah di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.?

Profesor Muhaimin merasa bangga karena STAIB semakin kokoh dan maju apalagi telah mendapatkan SK dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Untuk Prodi PAI (Program Pendidikan Agama Islam) mendapat predikat Terakreditasi B. Pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan Koordinator Perguruan Tinggi Islam (Kopertais) wilayah X semarang. “Jadi kedudukannya jelas, bukan perguruan tinggi abal-abal tapi perguruan tinggi bermutu,” ungkapnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selain prodi PAI, lanjutnya, STAI-B juga telah membuka prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI) yang pada saat ini memasuki tahun keempat. “Target kami, STAIB akan menjadi Institut atau Univesitas Islam dengan 3 jurusan dan 6 prodi,” tekadnya.

Lebih jauh, Muhaimin menerangkan Prodi Hukum Ekonomi Syariah menjadi jurusan yang makin diminati dan memiliki prospek cerah. Hal ini karena negara-negara barat lebih cenderung berminat dengan perbankan syariah dibandingkan dengan perbankan konfensional. “Sehingga lulusan HES nantinya sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia bahkan luar negeri,” ujarnya.

Begitupun dengan Bimbingan Konseling Islam (BKI), masih banyak madrasah yang belum memiliki guru BK. Ribuan guru BK di pendidikan Islam sangat membutuhkan mereka. Diyakininya, STAIB mampu merespon dan memberikan jawaban terhadap tantangan zaman terutama dalam melahirkan sarjana pendidikan yang professional.

Apalagi dengan kelahiran Undang-Undang Dosen dan Guru No 14 Tahun 2005 yang menyebutkan guru dan dosen mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang strategis dalam pembangunan nasional. “Kami yakin, STAIB banyak peminatnya, terbukti sekarang saja mahasiswanya mencapai 658,” ungkapnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Berita, IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 29 Desember 2017

Menaker: Industri Perikanan Harus Lindungi dan Sejahterakan Nelayan

Semarang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sektor perikanan dan kemaritiman Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun potensi tersebut harus dikelola secara baik agar hasilnya maksimal. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri menyadari hal tersebut. Untuk itu, perlu dibangun sistem industri perikanan yang mampu menghasilkan produk berkualitas secara masif dan mampu menyejahterakan nelayan. 

Menaker: Industri Perikanan Harus Lindungi dan Sejahterakan Nelayan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker: Industri Perikanan Harus Lindungi dan Sejahterakan Nelayan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker: Industri Perikanan Harus Lindungi dan Sejahterakan Nelayan

"Perkembangan perikanan kita sangat pesat tapi kita masih tertinggal dari negara lain. Kuncinya ada di sumber daya manusia. Mereka harus memiliki daya saing dan diberikan perlindungan. Kita harus memiliki industri perikanan yang bisa menghasilkan produk berkualitas dan banyak. Jika bicara soal kualitas dan kuantitas maka proses distribusinya harus cepat dan harga terjangkau," kata Hanif di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Sabtu (11/11/2017).

Hanif mencontohkan, di Maluku potensi ikannya besar. Begitu juga di Raja Ampat. Namun, penduduk di sana memperoleh ikan dengan cara yang masih tradisional seperti menggunakan tombak. 

"Kita ingin industri kelautan kompetitif sehingga pendapatan nelayan bisa membaik. Namun, untuk menjadikan perikanan sebagai industri yang kompetitif tentu tidak bisa menangkap ikan hanya dengan tombak. Perlu teknologi," tutur Hanif. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hanif menambahkan, industri perikanan juga harus bisa menyejahterakan nelayan. Pasalnya selama ini meski hasil laut Indonesia sangat melimpah, akan tetapi nelayan masih hidup dalam kemiskinan. 

"Kita jangan hanya memikirkan ketersediaan ikan nasional. Tapi pikirkan juga nasib nelayan. Kalau tidak ketimpangan ekonomi akan semakin besar," ujar Hanif. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hanif juga menyoroti banyaknya nelayan yang belum mendapatkan jaminan sosial. Padahal pemerintah telah memiliki skema jaminan sosial untuk masyarakat melalui BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan. 

"Perlindungan nelayan kita penting karena pekerjaan mereka berisiko tinggi. Saya ingin teman-teman alumni perikanan UNDIP bisa mendorong isu perlindungan ini. Banyak dari nelayan kita belum menjadi peserta BPJS," ungkap Hanif. 

Selain itu, Hanif menambahkan, diperlukan adanya standar kompetensi di bidang perikanan. Dunia pendidikan juga harus menyesuaikan kurikulum agar lulusannya bisa sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. 

"Kita juga harus mendorong sertifikasi profesi dalam perikanan. Kita sudah punya instrumen untuk memberikan perlindungan kepada mereka. Kita harus menyesuaikan input pendidikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan waktu," kata Hanif. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Pendidikan Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 15 Desember 2017

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Meski menjadi pengawal sistem Ahlul halli Wal Aqdi (Ahwa) Rais Syuriyah PWNU Jatim menolak untuk dimasukkan dalam usulan nama-nama calon Ahwa.

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Nama-Nama Kiai Usulan Calon Ahwa PWNU Jatim

"Jawa Timur merupakan penggagas sistem Ahwa ini, karenanya saya sendiri tidak etis jika dimasukkan dalam usulan yang kita sodorkan ke panitia," tutur KH Miftahul Akhyar di Media Center Muktamar ke 33 NU, Rabu (5/8).

Kiai Mif biasa dipanggil mengaku PWNU Jatim sudah menyetor nama nama calon untuk masuk sebagai Ahwa. Para kiai yang diusulkan diantaranya adalah, KH Makruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, KH Anwar Mansur Kediri, KH Subadar dan KH Ali Mashuri (Gus Ali). 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Saya tidak hafal, karena sejak awal untuk Ahwa ini kita tidak menyebut nama. Dan baru kemarin kita sodorkan," imbuhnya mengatakan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nama nama kiai yang diusulkan ini, lanjutnya dinilai memiliki kriteria sebagai calon Ahwa, yakni  faqih atau alim, muaddin atau mengerti agama, muharrik atau mampu mendinamisasi organisasi atau sebagai penggerak organisasi, kemudian memiliki kharisma dan mutawarrik atau wirai.

"Wirai ini adalah bukan hanya soal haram yang  tidak mau, subhab saja tidak mau beliau ini. Dan juga tidak wira-wiri atau menjadi calo politik," tandasnya.

Mengapa KH Muchit Muzadi tidak masuk? Rais PWNU ini mengatakan, sudah meminta ijin akan mengusulkan kakak kandung KH hasyim Muzadi ini. Namun yang bersangkutan menolak.

"Beliau tidak diusulkan, karenan beliau tidak mau," jawabnya.

Terkait beberapa pengurus Cabang NU Jawa Timur yang tidak mendukung sistem Ahwa ini KH Miftahul Ahyar meminta maaf kepada seluruh pengurus NU yang sama-sama mendorong dan memperjuangkan Ahwa.

”Mohon maaf, semuanya. Sebagai penggagas dan pendorong sistem Ahwa ternyata Jawa Timur sendiri ada yang lolos," ujarnya seraya meminta PCNU patuh terhadap keputusan dan kesepatan bersama.

"Di NU itu kan yang diutamakan adalah ketaatan, karenanya kita minta cabang cabang sepaham lah," tandasnya.

KH Miftahul Akhyar juga meminta kepada panitia untuk benar-benar transparan terkait tabulasi nama nama calon Ahwa yang diusulkan PWNU dan PCNU.

"Janjinya panitia akan transparan soal tabulasi nama-nama calon Ahwa, kita harapkan mereka betul betul transparan," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 13 Desember 2017

Di NU, Lesbumi Masih Marginal

Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia disingkat Lesbumi, telah berusia 51 tahun. Lembaga kebudayaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini diresmikan di Bandung 28 Maret 1962. Berarti, ia telah melewati masa Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi.

Pada medio 60-an, Lesbumi cukup disegani di antara lembaga-lembaga kebudayaan lain. Lembaga ini sangat berperan, tidak hanya bagi NU, tetapi bagi Indonesia pada umumnya. Tiga tokoh utamanya, Djamaludin Malik, Usmar Ismail, dan Asrul Sani adalah tokoh film nasional.

Di NU, Lesbumi Masih Marginal (Sumber Gambar : Nu Online)
Di NU, Lesbumi Masih Marginal (Sumber Gambar : Nu Online)

Di NU, Lesbumi Masih Marginal

Pada zaman Orde Baru, sebagaimana beberapa lembaga lain di NU, Lesbumi sempat vakum atau bisa dikatakan mati. Baru pada masa Reformasi dihidupkan kembali.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Lalu, bagaimana kiprah Lesbumi, visi kebudayaan, dan perjuangannya untuk NU  dan Inndonesia? Juga bagaimana keadannya sekarang?  

Berikut  petikan wawancara Abdullah Alawi dari Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan Ketua Pengurus Pusat Lesbumi, Zastrouw Al-Ngatawi, melalui surat elektronik:

Untuk apa Lesbumi lahir, kemudian diresmikan tahun 1962 di Bandung?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Di satu sisi untuk mewadahi para seniman dan budayawan yang ingin bergabung di NU, karena tidak tertampung di tempat lain karena tidak sesuai dengan garis perjuangan dan ideologi para seniman tersebut. Suasana sosial politik saat itu mencerminkana adanya “pertarungan” ideologi yang sangat kuat antara sosialis yang tercermin dalam Lekra dengan kubu kapitalis yang tergabung dalam Manikebu. Para seniman yang tidak tertampung dalam ekdua ideologi tersebut membutuhkan wadah untuk bergabung, dan gagasan itu sejalan dengan ideologi NU, maka wajar saja jika akhirnya mereka memilih NU sebagai sebagai media untuk berjuang melalui wadah Lesbumi.

Disi lain, pada saat itu NU juga membutuhkan suatu sayap politik untuk merealisasikan ideologinya melalui jalur kebudayaan, untuk menghadapi provokasi dan gerakan kebudayaan yang dilakukan oleh Lekra melalui para senimannya. Atas dasar inilaih maka NU mendirikan Lesbumi sebagai wadah berkiprah para seniman dan hudayawan untuk melakukan gerakan politik melalui jalur seni budaya. 

Bagaimana visi kebudayaan Lesbumi waktu itu? 

Kalau pandangan dan visi kebudayaan Lesbumi pada masa awal berdirinya bisa dilihat dari pandangan para tokohnya pada saat itu, khususnya Usmar Ismail dan Asrul Sani. Dalam hal ini bisa dilihat dalam Surat Kepercayaan Asrul Sani dan pidato kebudayaan Usmar Ismail. Intinya Lesbumi pada saat itu menentang liberalisme seni budaya, termasuk ungkapan seni untuk seni. Karena bagi Lesbumi, di balik seni ada etika, norma dan berbagai spirit religiusitas yang tidak bisa semata-mata diabdikan untuk seni. 

Kedua, Lesbumi pada saat itu juga menentang hegemoni kebudayaan asing terhadap budaya lokal. Hal ini dibuktikan dengan penentangan Lesbumi terhadap beredarnya film-film asing secara bebas dan berlebihan. Hal ini bukana semata-mata karena sikap sentimen terhadap film asing, tetapi sebagai upaya menumbuhkan dan meningkatkan kualitas film nasional. Dan hal ini berhasil dilakukan dengan bukti impor film asing turun sampai mendekati angka 50% dalam kurun waktu sekutar 5 tahun dan produksi film nasional naik hampir 100%. Artinya, nasionalisme kebudayaan merupakan visi kebudayaan Lesbumi dan pandangan kebudayaan Lesbumi.

Pandangan dan visi seperti itu yang kami teruskan hingga saat ini. Sebagimana kita ketahui saat ini, atas nama liberalisasi dan globalisasi, seni tradisi dan budaya lokal digencet dari dua sisi; di sisi kiri seni tradisi didesak oleh proses kapaitalisasi dan industrialisasi seni sehingga tidak dapat menemukan ruang kreasi dan ekspresi yang memadai, bahkan cenderung dilindas habis karena dianggap tidak profit dan tidak menarik. Di sisi kanan seni tradisi digencet oleh gerakan puritanisasi agama. Mengangagap seni tradisi sebagai bid’ah yang harus dihilangkan karena mengotori kesucian agama.Ketika budaya, tradisi dan kesenia  lokal digencet dari dua sisi, Lesbumi berusaha melakukan advokasi dan perlawanan melalui berbagai kegiatan yang mengarah pada upaya revitalisasi seni dan tradisi Nusantara. Inilah yang kami lakukana saat ini.

Kami sadar pilihan ini sangat berat, karena harus menghadapi dua tantangan besar sekaligus. Selain itu, juga menghadapi teman-teman di NU sendiri yang tidak paham tentang strategi kebudayaan, sehingga maunya gebyar, kelihatan mentereng, diliput media dan sebagainya. Padahal kami sadar, apa yang kami lakukan ini tidak akan mendapat liputan media atau publikasi besar karena kami melakukan gerakan yang tidak sesuai dengan cara pandang mereka. Kami sedang bergerilya, gerilya budaya. Perlu keuletan, kesabaran dan ketekunan dalam menjalankan semua ini. Untuk melakukan semua ini, jangankan dibantu, dibina atau dikasih jalan, kita malah sering dilecehkan, dipandang sebelah mata bahkan tidak dianggap, dan ironisnya sikap seperti ini juga datang dari kalangan NU sendiri.

Bagaimana Lesbumi memandang kebudayaan Indonesia (Nusantara) secara umum?

Saat ini, Lesbumi memandang kebudayaan Nusantara sebagai identitas kultural dan panduan hidup bangsa dan masyarakat Indonesia. Kebudayaan Nusantara adalah jangkar dan akar sekaligus modal masyarakat Indonesia yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menghadapi globalisasi dan melawan hegemoni kebudayaan lain. Karena kebudayaan Nusantara inilah yang paling compatible dengan cara hidup dan cara pandng masyarakat Indonesia. Oleh karenanya dia harus menjadi sumber  inspirasi dan pijakan untuk membentuk sistem-sistem kehidupan lainnya; sosial, politik, hukum, ekonomi dan sebagainya. 

Lesbumi, dari singkatannya ada “muslim” bagaimana pandangan kesenian muslimnya? Dan bagaimana strategi kebudayaan Lesbumi di tengah kebudayaan Nusantara yang beragam? 

Dalam Rapat kerja tahun 2010, kata seniman budayawan dan muslimin telah diubah menjadi seni budaya muslim. Karena kata muslim itu sendiri sudah mewakili dari kata seniman dan budayawan. Jadi, kata seni budaya muslim itu sendiri artinya adalah para senimaan dan budayawan yang beragama Islam, jadi tidak perlu diulang dengan kata seniman budayawan mulimin.

Strategi kebudayaan Lesbumi sekarang adalah back to local culture. Artinya melakukan revitalisasi terhadap berbagai seni tradisi dan budaya lokal maasyarakat Nusantara sebagai khazanah peradaban bangsa. Lesbumi memahami seni tradisi sebagai akar kebudayaan Nusantara adalah khazanah dan kapital yang bisa dieksplorasi secara kreatif dan cerdas untuk melawan dan menghadapi modernitas di era globalisasi. Jadi, menjadi modern dengan berbasis tradisi. Artinya mendudukkan modernitas dan tradisionalitas secara setara dan komplementer. Inilah strategi kebudayaan Lesbumi sekarang. 

Bagaimana peran dan gerak Lesbumi waktu itu (sebagai lembaga kebudayaan NU) di tengah lembaga-lembaga kebudayaan lain? 

Sebenarnya saya agak canggung untuk bicara peran Lesbumi pada saat itu, karena takut dituduh terjebak dalam romantisme historis, dan hal ini juga bisa kita lihat dari buku-buku yang sudah ditulis. Tapi secara singkat dapat kami katakan bahwa gerakan Lesbumi pada waktu itu memiliki peran yang sangat besar di tengah-tengah lembaga kebudayaan lainnya. Sebagaimana yang saya jelaskan di atas, Lesbumi pada saat itu berhasil melawan dan menghadang gerakan leberalisasi kebudayaan baik yang dilakukan oleh kaum sosialis melalui Lekra maupun kaum kapitalis melalu Manikebu. 

Melalui film dan seni pertunjukan (drama, film dan musik), dua genre kesenian yang benar-benar dikuasai oleh Lesbumi, Lesbumi bisa melakukan gerakan mulai kalangan elite sampai ke akar rumput. 

Bagaimana Lesbumi pada zaman Orde Baru? Bisa bercerita detail dan Kronoligis?

Pada zaman Orde Baru Lesbumi mengalami mati suri, bahkan kepengurusan tidak ada, sehingga kegitannya juga vakum. Ada dua hal yang mendorong hal ini terjadi, pertama karena kuatnya cengkeraman rezim politik Orba, yang menginginkan kekuatan tunggal, termasuk dalam bidang kebudayaan. Lembaga-lembaga kebudayaan di luar bentukan negara, harus diberangus, termasuk Lesbumi. 

Kedua, karena NU merasa sudah tidak membutuhkan lagi sayap politik yang mengurusi kebudayaan. Sebagaimana kita ketahui sejak terjadinya fusi partai pada awal tahun 70-an, gerakan politik NU dibatasi. Hak ini berpengaruh terhadap sayap politik NU termasuk Lesbumi. Kondisi vakum politik ini menjadi kuat ketika dicanangkan gerakan Khittah NU pada tahun 1984. Kondisi inilah yang membuat Lesbumi vakum pad masa Orba. Kondisi seperti ini  tidak hanya terjadi pada Lesbumi tetapi juga lembaga profesi lainnya yang ada di bawah NU, seperti Sarbumusi, Pertanu, Pergunu, dan sejenisnya 

Semangat apa pada zaman Reformasi muncul kembali. Bisa diceritakan secara kronologis?

Saat terjadi reformasi, kran politik dibuka di segala sektor kehidupan maka hal ini berpengaruh juga terhadap NU, termasuk upaya merevitalisasi Lesbumi. Pada muktamar di Solo tahun 2004, para muktamirin merekomendasikan untuk menghidupkan kembali Lesbumi. Atas rekomendasi muktamar inilah pada tahun 2005 diangkat kepengurusan Lesbumi sebagai lembaga seni budaya yang menjalankan progrsm PBNU di bidang seni budaya. Dalam kepengurusan ini saya dan Dienaldo diangkat sebagai ketua dan sekretaris.

Sejak saat itu pengurus mulai melakukan konsolidasi di beberapa daerah untuk melakukan revitalisasi baik secara kelembagaan maupun kegiatan. Spirit Lesbumi sebenarnya sudah muncul di beberapa tempat, apalagi lembaga ini peernah mencatat tinta emas pada zamannya. Sehingga sebenarnya tidak sulit menghidupkan kembali lembaga ini. Namun satu hal yang menjadi kendala adalah, lembaga ini tidak lagi menjadi badan otonom NU sebagaimana yang terjadi pada tahun 60 dan 70, sebelum mengalami vakum. Sejak direvitalisasi tahun 2004, Lesbumi merupakan bagian dari lajnah/lembaga yang merupakan organ pelaksana program PBNU, oleh karena itu, pengangkatan pengurus dilakukan oleh pengurus NU pada tiap-tiap tingkatan. Oleh karenanya, keberadaannya juga tergantung pda kepedulian pengurus di daerah, semangat tinggi beberapa aktivis Lesbumi kadang tak tertampung oleh pengurus daerah sehingga sulit dibentuk. selain itu beberapa pengurus daerah masih berpikiran bahwa Lesbumi hanya merupakan lembaga yang mengurusi soal penyelenggaraan pentas seni, padahal sebenarnya Lesbumi lebih dari itu, karena lembaga ini berperan penting dengan hal-hal yang terkait dengan masalah kebudayaan, tradisi dan seni.

Apa lembaga kebudayaan seperti Lesbumi masih dibutuhkan dalam konteks sekarang? 

Bagi saya tidak hanya dibutuhkan tetapi sangat dibutuhkan….!!!

Bisa dijelaskan? 

Saat ini hampir tidak ada lembaga yang peduli pada kebudayaan, ekonomi, politik, hukum bahkan pemerintah hampir tidak peduli pada kebudayaan, akibatnya semua sistem berjalan tanpa kebudayaan, politk tanpa kebudayaan, ekonomi tanpa kebudayaan, hukum tanpa pada kebudayaan. Akibatnya terjadi degradasi nilai kemanusiaan dalam semua aspek kehidupan. Untuk itu perlu ada lembaga yang secara serius memikirkan soal kebudayaan, merumuskan strategi kebudayaan dan melakukan gerakan kebudayaan, agar nilai-nilai kemanusiaan tidak terdegradasi seperti saat ini. Karena kebudayaanlah yang membedakan manusia dengan hewan. Kalau politik, ekonomi, hukum sudah mengabaikan kebudayaan maka perilakaunya menjadi tidak manusiawi lagi. Inilah pentingnya lembaga kebudayaan seperti Lesbumi.

Apa yang membedakan gerak Lesbumi tahun 1960-an dengan sekarang?

Gerak Lesbumi tahun 60-an berada di pusat kekuasaan, karena dia menjadi bagian dari politik formal NU yang pada saat itu sangat dekat dengan kekuasaan sehingga bisa mengakses langsung pusat-pusat kekuasaan yang strategis.

Sekarang Lesbumi jauh dari kekuasaan, bahkan berada dalam posisi marginal. Jangankan dalam lingkungan kekuasaan politik praktis, dimana NU sendiri secara formal sudah tidak lagi berada di dalamnya. Dalam lingkungan politik NU sendiri Lesbumi berada dalam posisi marginal, karena dianggap tidak penting, dan hanya lembaga hiburan yang mengkordinir event kesenian. Kami sendiri sudah mencoba menjelaskan tentang urgensi gerakan kebudayaan, tetapi belum ada respon yang memadai, karena tampaknya gerakan ekonomi dan politik lebih menarik perhatian daripada gerakan kebudayaan.

Dari segi spirit memperjuangkan kebudayaan nasional yang tercermin dalam berbagai bentuk seni tradisi dan pemikiran lokal masyarakat Nusantara serta melawan hegemoni kebudayaan asing yang tercermin dalam gerkan liberalisasi seni dan puritanisasi agama, tidak ada bedanya antara Lesbumi tahun 60-an dengan yang sekarang. 

Bagaimana pergerakan Lesbumi sekarang secara umum, dari tingkat pusat hingga daerah? Dan bagaimana seharusnya?

Sebagaimana saya sebutkan tadi, pergerakan Lesbumi sekarang masih berada dalam taraf konsolidasi dan gerilya budaya. Dengana kemampuan apa adanya pengurus mencoba mengawal dan menjalankan gerakan ini. Pengurus juga mencoba melakukan komunikasi dengan beberapa pengurus daerah yang sudah terbentuk. 

Terus terang, pengurus di pusat sendiri kurang bisa intens melakukan kordinasi karena Lesbumi di daerah memang tidak seperti lembaga-lembaga lainnya yang bisa memperoleh perhatian intens dari pengurus NU. Hanya beberapa daerah yang memang progresif saja yang bisa melakukan konsolidasi meski tidak mendapat perhatian dari pengurus NU, seperti di Yogya, Magelang, Jepara, Malang, Surabaya, Jawa Timur, Lombok, dan beberapa kota lainnya.

Dari sisi keorganisasian secara struktur, bagaimana Lesbumi di daerah-daerah? 

Lesbumi di daerah masih kurang mendapat perhatian yang memadai dari pengurus NU baik Cabang maupun Wilayah. Sejauh pengalaman kami ketika turun ke daerah, kami menemukan para seniman dan budayawan yang ingin bergabung ke Lesbumi, tetapi ketika kordinasi dengan pengurus Cabang dan Wilayah, kebanyakan hanya ditanggapi sambil lalu. Kalau kemudian membentuk Lesbumi yang diangkat bukan para seniman uyang sudah memiliki concern kebudayaan, tetapi mereka-mereka yang aktif di jamaah rebana atau pengajian yang dekat dengan pengrus NU. Inilah yang kemudian menjadi kendala saat operasional di lapangan, karena rata-rata pengrus NU masih menganggap Lesbumi hanya mengurusi pentas seni yang bernuansa Arab yanag dianggap sebagai seni Islam.

Apa gerakan Lesbumi di satu daerah mesti sama dengan daerah lain? Apa yang menyamakan dan membedakannya?

Bentuk dan format gerakan Lesbumi antara satu daerah dengan daerah lain tidak perlu sama. Karena perbedaan situasi, sumber daya dan krativitas masing-masing daerah berbeda. Selain itu kondisi sosial dan kultural masyarakat di Indonesia ini beragam. Untuk itu format dan bentuk gerakan tidak perlu sama karena hal ini sangat terkait dengan kondisi geografis, sosial, kultural dan kreatifutas masyarakat.

Namun pada sisi visi, missi dan spirit harus harus sama, karena ini yang menjadi roh gerakan Lesbumi. Kesamaan spirit, visi dan missi ini akan menjadi ciri yang membedakan antara kerakan kebudayaan Lesbumi dengan yang lainnya meski bentuk dan formatnya berbeda.

Apa imbauan dan harapan Anda untuk Lesbumi dari pusat hingga daerah untuk membesarkan kembali Lesbumi pada situasi sekarang ini?

Perlu ada kordinasi dan konsolidasi yang utuh dan intensif agar visi dan misi Lesbumi yang sudah dirumuskan oleh pengrus di tingkat pusat dapat dipahami dan dijalankan oleh pengurus Lesbumi di tingkat daerah.

Kedua perlu ada keseriusan dari pengrus daerah baik PC dan PW untuk membentuk kepengrusan Lesbumi, karena dalam konteks kekinian, gerakan kebudayaan menjadi sesuatu yang sangat penting dan strategis. Sebagaimana kita ketahui, saat ini terjadi proses kebangkrutan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdampak pada terjadinya krisis di seluruh sektor kehiduoan termasuk dalam bidang keagmaan. Disinilah dibutuhkan gerakan kebudayaan untuk mengembalikan martabat kemanusiaan.

Apa agenda kebudayaan terdekat dari Lesbumi? 

Untuk tahun ini ada dua agenda besar yaitu pekan kebudayaan Lesbumi dalam rangka peringatan Harlah Lesbumi ke-51. Dalam kegiatan ini akan dilakukan Tadarrus Puisi dan syair dzikir yang dimeriahkan oleh KI Ageng Ganjur, Muhfudz MD, Acep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Niken KDI, Evie Tamala, dan masih banyak lagi. Tanggal 31 Maret, Pemutaran dan Apresiasi film Santri bersama Rieke Dyah Pitaloka, Soultan Saladin, Ray Sahetaphy dll. Pada tanggal 1 s/d 3 April dan wayang kulit dalang Ki Enthus Susmono dengan lakon “Wisanggeni Gugat” pada tanggal 7 April. Semua kegiatan ini dilakukan di gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta.

Agenda kedua adalah melaksanakan Rembuk Budaya Nasional yang akan diikuti oleh para pengurus Lesbumi, pusat maupun daerah, para seniman, budayawan dan akademisi. Dalam event ini akan dilakukan pembahasan secara intens dan mendalam mengenai strategi kebudayaan Nusantara yang akan menjadi kerangka pijakan dan arak kebudayaan Indonesia. Untuk agenda ini sedang disusun TOR, materi dan penjajakan dengan pihak lain untuk kerjasama. (Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Lomba, News Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dinginkan Situasi, Kapolres Jember Kunjungi Gedung Ansor

Jember, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Reaksi keras dari sejumlah elemen NU terhadap pernyataan Ahok terkait kesaksian KH Ma’ruf Amin di sidang penistaan agama kemarin lalu mendorong Kapolres Jember Kusworo Wibowo untuk mengunjungi gedung GP Ansor di Jalan Danau Toba 1 Jember, Kamis (2/1). Kapolres dan rombongan diterima oleh jajaran pimpinan GP Ansor Jember.

Pada saat yang sama, Kasatkorwil Banser Jawa Timur HM Abid Umar juga menjadi tamu penting Ansor Jember terkait dengan rencana agenda kegiatan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) di lapangan Secaba tanggal 23-26 Februari mendatang. Jadilah pertemuan tersebut cukup lengkap dan hangat.

Dalam kesempatan tersebut, Kusworo mengajak Banser untuk selalu bersinergi dengan aparat dalam menangani Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat). Sedangkan terkait dengan kasus pernyataan Ahok terhadap KH Maruf Amin, Kusworo mengimbau agar Banser bersabar dan terus mendorong terciptanya suasana yang sejuk dan kondusif di tengah-tengah masyarakat.

Dinginkan Situasi, Kapolres Jember Kunjungi Gedung Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinginkan Situasi, Kapolres Jember Kunjungi Gedung Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinginkan Situasi, Kapolres Jember Kunjungi Gedung Ansor

“Karena Ahok sudah meminta maaf dan Kiai Maruf Amin juga menerima permitaan maaf itu, maka sebaiknya kita juga memaafkan,” ucapnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara itu, HM Abid Umar menegaskan bahwa Banser akan selalu pro aktif dan siap membantu serta bersinergi dengan petugas dalam mewujudkan Kamtibmas. Sebagai abdi masyarakat, katanya, Banser akan selalu ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan sosial, seperti penanganan korban bencana alam dan sebagainya.

“Namun jika ada pihak-pihak yang sengaja melecehkan ulama, tentu kami tidak rela. Kami harus bela mereka karena Banser adalah benteng dan banteng ulama,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua GP Ansor Jember H Ayub Junaidi. Menurutnya, selama ini pihaknya sudah menjalin sinergi dengan banyak pihak dalam mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat, termasuk dengan TNI dan Polri. Tapi ia mengaku tidak rela jika marwah NU dan ulama, diusik dan NKRI coba dicabik-cabik. Sebab, pendirian NKRI, tak lepas dari perjuangan para pendiri NU.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Bagi kami, ulama adalah panutan, dan NKRI adalah bentuk final perjuangan para ulama. Jadi setiap gerakan yang coba-coba merongrong wibawa ulama dan NKRI, kami wajib berada di garis terdepan untuk membelanya,” tegas Ayub. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Bahtsul Masail, IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 09 Desember 2017

Ironis, Kongres PMII Kembali Tertunda

Jambi, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Kongres PMII XVIII kembali molor tidak sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh panitia. Kongres yang telah dibuka di Gelanggang Olah Raga (GOR), Kota Baru Jambi Jumat (30/5) lalu hingga Selasa malam belum juga dimulai persidangan.

Padahal, jika berjalan dengan normal sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh panitia Kongres,. Senin kemarin seharusnya sudah dimulai sidang pleno pertama yang membahas tentang pembahasaan tata tertib persidangan.

Ironis, Kongres PMII Kembali Tertunda (Sumber Gambar : Nu Online)
Ironis, Kongres PMII Kembali Tertunda (Sumber Gambar : Nu Online)

Ironis, Kongres PMII Kembali Tertunda

Sesuai jadwal, Kongres PB PMII ini digelar dari Senin (30/5) hingga Jumat (5/6). Apabila kemoloran ini berlanjut maka bisa dipastikan Kongres akan molor selama 2 sampai 3 hari.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Kemoloran seperti ini tidak bisa dibiarkan, kemoloran jadwal seperti yang terjadi seperti sekarang harus kita hentikan," kata Alfi salah satu peserta kongres, Selasa (3/6).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Alfi menjelaskan, seperti layaknya acara Kongres yang terjadi, kemoloran menjadi sebuah hal yang biasa. Tapi, sengaja memperlambat jalannya Kongres adalah tindakan yang tidak etik. Menurutnya, memperlambat Kongres dengan maksud tertentu adalah tindakan yang tidak menunjukkan insan organisatoris.

Dia menceritakan, Selasa Siang, ratusan peserta melakukan aksi protes yang ditujukan kepada panitia. Diantara yang melakukan aksi protes adalah cabang dari Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Makasar dan beberapa perwakilan cabang PMII dari seluruh nusantara.

Kekesalan beberapa cabang itu berujung melakukan protes tersebut, bermula pada tindakan beberapa peserta yang sengaja tidak mau melakukan registrasi yang disinyalir sengaja memolorkan jadwal. Panitia pun mengaku kewalahan.

Rencananya, jika administrasi peserta sudah selesai malam ini. Maka dijadwalkan sidang perdana akan dimulai pukul 21.00 WIB. (Nasrul Fani/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, AlaNu Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 22 November 2017

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar

Way Kanan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Way Kanan Lampung Sosialisasikan bahaya seks bebas di SMK 1 Pakuan Ratu, Sabtu (5/3) lalu.

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Way Kanan Sosialisasikan Bahaya Seks Bebas kepada Pelajar

Upaya sosialisasi bahaya perilaku menyimpang khususnya pergaulan bebas yang mengarah ke sex bebas melalui pendidikan ini, digagas Fatayat NU Kabupaten Way Kanan dengan mengusung program kegiatan bertajuk ‘Fatayat Goes To School’ dengan penyuluhan yang menyenangkan bagi siswa menengah atas di Kabupaten Way Kanan.

"Kegiatan ini sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap pergaulan anak-anak yang saat ini cenderung bergaul terlampau bebas, sehingga banyak anak-anak mengalami dampak buruk baik psikologi maupun perkembangan anak tersebut,” ujar Rosmalia Resma Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Way Kanan di Blambangan Umpu, Senin (7/3).

Bahkan, lanjutnya, pelajar rentan mengalami kekerasan, khususnya terhadap anak perempuan. Ini jelas berakibat fatal bagi generasi yang akan datang, bahkan agama pun jelas melarang pergaulan yang kebablasan.

PC Fatayat Way Kanan yang merupakan organisasi perempuan muda NU merasa ikut memberikan kepedulian melalui pendidikan sosial terhadap pelajar dengan memberikan penyuluhan yang menyenangkan pada sekolah-sekolah di tingkat SMA atau sederajat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Ini bentuk kepedulian sosial Fatayat dan merupakan program kerja pengurusan kami dengan Fatayat Goes To School akan memberikan dampak yang baik dan selalu waspada akan prilaku yang menyimpang,” demikian Rosmalia Resma. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Khutbah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 19 November 2017

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Musim kemarau telah lama berlalu. Kini tiba masanya musim hujan. Ketika musim kemarau, kita suka melafalkan doa minta hujan, bahkan dibarengi dengan shalat istisqa. Seketika musim hujan datang, ternyata guyuran hujan tidak selamanya menguntungkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang bermukim di daerah rawan banjir.

Dulu pernah terjadi musim kemarau di masa Rasulullah. Kebanyakan orang datang menghampiri Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan meminta agar Beliau memohon kepada Allah agar hujan diturunkan.

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa yang Dibaca Rasul Ketika Hujan Turun

Tak lama kemudian, hujan lebat pun turun membasahi lingkungan penduduk. Saking kencangnya, rumah-rumah penduduk banyak yang hancur, pepohanan berjatuhan, dan binatang ternak pun ikut menderita. Melihat malapetaka ini, mereka mengadu kepada Rasul agar hujan musibah itu segera dihentikan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Atas dasar permintaan ini, Nabi berdo’a, “Allâhumma hawâlainâ wa lâ ’alainâ (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami),” HR Bukhari.

Hadis riwayat lain al-Bukhari menyebutkan bahwa:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? - ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya Nabi SAW ketika melihat hujan berdo’a: Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat.”

Hadits ini menunjukan bahwa ketika hujan turun, Nabi SAW senantiasa meminta agar hujan yang diturunkan Allah SWT menjadi hujan rahmat, hujan yang membawa berkah,? bukan hujan musibah. Do’a ini dibaca Nabi kisaran dua atau tiga kali berdasarkan riwayat yang disampaikan Ibnu Majah.

Di saat musim hujan seperti sekarang ini, do’a di atas penting untuk kita baca. Semoga hujan musim hujan kali ini membawa kemaslahatan bagi kita bersama. Wallâhu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Santri, IMNU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock