Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi

Alkisah, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

? ? ? ? ? ?

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keistimewaan Ali bin Abi Thalib dalam Sabda Nabi

"Aku adalah pintunya ilmu, dan Ali adalah kuncinya".

Ya, sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah menantu Baginda Nabi. Dikisahkan, Nabi merupakan pintu ilmu yang sangat luas. Ia sebagai bekal dunia akhirat sebagaimana pernah disabdakan, kunci ilmu dimiliki oleh sahabat Ali. Hati mana yang tak penasaran mendengar sabda Rasul tersebut.

Pun dengan gerombolan orang-orang Khawarij. Mereka gusar tiada tara tatkala mendengar kabar hadits ini. Kemudian mendorong mereka berniat menguji kebenaran hadis kepada Rasulullah secara langsung. Dikumpulkanlah tujuh orang dari golongan mereka.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Jika Ali sebagai kunci ilmu, maka ketika kita beri pertanyaan yang sama tentu jawabannya juga sama". Salah seorang dari mereka mengawali pembicaraan. "Ya, benar kamu. Tidak mungkin seseorang yang dianggap kuncinya ilmu akan menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda. Jika memang benar ia kuncinya ilmu" yang lain menimpali.

Disusunlah strategi, rencana matang disusun, "mari kita uji dengan memberikan pertanyaan yang sama, namun dari orang yang berbeda-beda," usul salah seorang dari ketujuh khawarij tersebut dan mereka berakhir pada kata sepakat. Pertanyaan yang akan diajukan,? antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama??

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Setelah mereka memberikan pertanyaan yang sama. Mereka mendapat jawaban yang sama pula. Antara ilmu dan harta, yang lebih utama adalah ilmu. "Tapi tunggu dulu, apakah Ali juga memberikan alasan tentang jawabannya?" tanya salah seorang dari mereka. "ya, benar" timpal mereka bersama-sama. "Apa itu?".?

"Kalau ilmu menjagamu. Namun, harta, engkau yang harus menjaganya," orang pertama dari kelompok khawarij menyampaikan alasan yang dikemukakan sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah. "Jika ilmu adalah warisan nabi, harta adalah warisan Qorun yang terkutuk". Orang kedua menambahi kemudia "ilmu jika ditasarufkan, akan bertambah. Sedang harta, jika ditasarufkan akan berkurang," tambah orang ketiga menyampaikan kutipan argumentasi yang ia terima.?

Mereka mulai heran akan jawaban yang berbeda-beda. "Andai kau memilih ilmu, kau akan mendapat julukan yang baik, namun jika harta, julukan buruk yang kau dapat," demikian orang keempat menjelaskan. Mereka semakin ragu akan alasan yang berbeda-beda.?

"Ilmu itu menerangi hati, sedangkan harta mengeraskan hati," "Ilmu jika dibiarkan tidak apa-apa, namun harta jika dibiarkan akan rusak", "ilmu ketika di hari kiamat akan menolongmu, namun harta akan menjadi penyebab lamanya hisab di hari kiamat." Demikian mereka bergantian menyampaikan.?

Sejenak, mereka tertegun akan alasan yang berbeda-beda. Bagaimana mungkin, pertanyaan yang diberikan kepada orang satu, menghasilkan jawaban yang memiliki alasan-alasan tersendiri.?

Namun, dengan cepat mereka tersadar akan keutamaan ilmu yang dimiliki sahabat Ali bin Abi Thalib. Alasan demi alasan yang diutarakan sahabat Ali bin Abi Thalib berbeda, namun antara satu dan lainnya saling menguatkan, antara ilmu dan harta lebih utama ilmu.? Subhanallahil adzim wa shodaqo rasuluhu nabiyyul karim.

(Ulin Nuha Karim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 18 Februari 2018

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Oleh Rosidin

Beragam opini menyelimuti akar kata “santri”. Pertama, dari bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”. Kedua, dari bahasa India, shastri, yang berarti “ahli kitab suci agama”,karena shastri berasal dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci agama”. Ketiga, dari bahasa Sansekerta yang berarti “ilmuwan yang pandai menulis”. Keempat, dari bahasa Jawa, cantrik yang berarti “orang yang selalu mengikuti guru”. Kelima, perpaduan dari kata saint yang berarti “manusia baik” dan tra yang berarti “suka menolong”.

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Santri sebagai Pondasi Membangun Negeri

Kelima opini tersebut tidak perlu dibenturkan, melainkan cukup dipadukan untuk merumuskan ciri khas santri berdasarkan telaah bahasa. Hemat penulis, santri adalah “orang muslim yang mempelajari kitab suci agama Islam (al-Qur’an beserta perluasannya dalam “kitab kuning”) kepada guru mengaji (kiai) melalui proses pembelajaran dan peneladanan (di masjid, madrasah diniyah maupun pesantren) agar menjadi manusia yang baik dan suka menolong”.

Dalam bahasa al-Qur’an, tujuan utama menjadi santri adalah tafaqquh fi al-din atau memahami agama Islam secara mendalam (Q.S. al-Taubah [9]: 122). Santri diharapkan mampumenguasai empat sifat agama Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agama wahyu (al-din al-wahyi); (2)agama keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agama kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agama kemajuan (al-din al-ishlahi).Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkantiga prinsip utama pesantren menurut KH Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut pesantren, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda denganalumni perguruan tinggi yang semakin tinggi gelar, semakin jauh dari rakyat. Semakin tinggi gelar alumni pesantren, justru semakin dekat dengan rakyat.

Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI dari segala bentuk penyimpangan agama, seperti komunisme yang mengusung atheisme (anti-Tuhan). 

Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” yang masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demimembangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis Indonesia (PKI), sekaligus sebagai tandinganbagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” yang disebut KH Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampuradukkan agama. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (atheisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) yang menodai SilaKetuhanan Yang Maha Esa. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.Santri merupakan generasi yang bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah orang yang membuat umat muslim selamat (aman) dari perkataan dan perbuatannya” (HR Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh dari kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: 125 yang meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). 

Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH Zainal Mustofa, Pengasuh Pesantren Cimerah Sukamanah, yang melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang yang mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal 18 Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi.

Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus,serta bangsa Indonesia secara umum, agar menuntut kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah yang dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai 76.566 lembaga dan menampung 6.000.062 santri.

Ketiga, Sila Persatuan Indonesia. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada masa penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan Sumatra, 29 September 1945; sedangkan pemerintah Indonesia tidak melakukan perlawanan yang nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul Ulama seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, yang mengajukan Resolusi Jihad yang intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu dampak nyata dari Resolusi Jihad adalah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya yang dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal 22 Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015.

Keempat, Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah diarena birokrasi,baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan Agama Islam atau Menteri Agama Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fiqih: Tasharruful Imam ala raiyyah manuth bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).

Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa yang mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri yang membuat santrisiap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran yang menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial yang membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal wa Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri yang diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp 1.8 Triliun pada tahun 2015.

Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agama, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban Indonesia yang unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi yang mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat Indonesia. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis adalah Pengurus LTN NU Kabupaten Malang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pahlawan, Jadwal Kajian, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 15 Februari 2018

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Setiap momentum peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia, seruan kata “Merdeka!” sering diucapkan dalam setiap kesempatan. Kata ini pula yang menjadi semacam mantra semangat, bagi para pejuang dan pahlawan bangsa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kata tersebut memiliki makna luas. Menurut Pengasuh Majelis Ar-Raudhah Solo, Habib Noval bin Muhammad Al-Idrus, merdeka! ini tidak hanya menjadi seruan pemberi semangat semata. Tetapi lebih dari itu, bermakna syukur kepada Allah swt. atas karunia kemerdekaan.

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekik Merdeka Bermakna Syukur dan Dzikir

“Ucapan Merdeka!? itu bersyukur. Meskipun wujudnya kata merdeka! tapi Allah tahu itu merupakan salah satu wujud syukur,” terang dia, belum lama ini (9/8), dalam sebuah pengajian akbar di Kota Solo.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hal tersebut, lanjut Habib Noval, didasarkan pada perintah Allah di dalam surah ad-Duha ayat 11: Fa amma bini’mati robbika fahaddist, agar kita bersyukur atas ni’mat yang diberikan-Nya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ditambahkan, selain bermakna syukur, kata merdeka! juga dapat bermakna zikir. “Jadi njenengan teriak merdeka! itu zikir, Allahuakbar itu ya dzikir. Dzikir itu bermacam-macam,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, Lomba, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 07 Februari 2018

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Siang itu, pria berumur 34 tahun pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia kemudian berdiri tegap di atas babancong, podium terbuka yang tak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam.

Oleh karena itu, kata dia, kemerdekaan harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dialah Ajengan Ruhiat, tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu, tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sampai ke Cipasung.

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Ruhiat Naik Babancong Sambil Menghunus Pedang

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya mendirikan negara di dalam negara itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya.

Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustopa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustopa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya, lalu dipindahkan ke Sukamiskin selama 9 bulan pada aksi polisional kedua tahun 1948-1949, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan.

Dari beberapa kali penangkapannya, membuktikan bahwa Ajengan Ruhiat sangat tidak kooperatif terhadap penjajah Belanda sehingga sangat dibenci.  Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang Shalat Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda memberondong tembakan. Ajengan Ruhiat selamat, tapi dua santrinya tewas seketika.

Ajengan Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Ajengan Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU  periode 1954-1956 dan 1956-1959.

Ajengan Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya.

Ajengan Ruhiat lahir 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. Sudah 36 tahun Ajengan Ruhiat, ajengan patriot dan pejuang itu meninggalkan kita. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Tokoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 27 Januari 2018

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Pringsewu, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu, Lampung, KH Fuad Abdillah mengatakan, bahwa jika ukuran ibadah haji adalah kekayaan maka seluruh orang kaya sudah melaksanakan rukun Islam ke lima ini. Demikian saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam Walimatissafar Lil Haj Pengasuh Pondok Pesantren Al Wusto Pringsewu, Ustadz Nasihin, Sabtu (5/9) lalu.

Kiai Fuad menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah yang diwajibkan oleh orang yang mampu. Kriteria mampu ini mencakup bukan hanya mampu dalam hal fisik dan materi, namun juga mampu dalam hal mental termasuk niatan yang kuat untuk melaksanakannya.

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ukuran Ibadah Haji Bukan Kekayaan Tapi Keimanan

Keteguhan niat ini perlu dimiliki oleh seluruh orang yang akan menjalankan ibadah haji karena menurut Kiai Fuad, haji adalah ibadah yang merupakan latihan meninggal dunia. "Ketika melaksanakan ibadah haji, para jamaah tidak memikirkan hal-hal duniawi terlebih lebih harta. Ini karena mereka hanya memikirkan ibadah kepada Allah SWT sesempurna mungkin," terangnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam ibadah haji, tambah Kiai Fuad, banyak sekali ibadah-ibadah kepada Allah SWT yang terkesan unik. Namun dibalik keunikan ini mengandung hikmah yang sangat luarbiasa. Contohnya menurut kiai berkacamata ini, seperti rangkaian tawaf yang hanya lari berputar putar, sai y? ng berupa lari bolak balik sofa marwa dan mecari batu untuk lempar jumrah. "Walaupun kelihatannya seperti mainan, namun ibadah ibadah tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT," Jelasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Oleh karena itu, Kiai Fuad yang juga Ketua MUI Kecamatan Pringsewu ini mengajak kepada seluruh jamaah untuk niat mantap melaksanakan ibadah haji tanpa ragu. "Ibadah haji itu sulit teorinya saja namun prakteknya gampang. Apalagi sekarang banyak KBIH yang siap membantu teori manasik sekaligus membantu secara teknis proses haji yang akan dilalui," Jelasnya.

Pada acara walimatus Safar lil haj ini dihadiri oleh Ketua MUI Kabupaten Pringsewu H Hambali, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu yang sekaligus memberi sambutan Perwakilan tamu undangan dan beberapa Tokoh Masyarakat Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 25 Januari 2018

Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan

Way Kanan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Pemerintah Kabupaten Way Kanan Lampung menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 17, di Blambangan Umpu, Rabu (27/4). Gerakan Pemuda Ansor satu-satunya organisasi kepemudaan yang mengikuti upacara dipimpin Bupati Raden Adipati Surya.

Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya Ansor Organisasi Pemuda Ikut Peringati HUT Way Kanan

"Ansor selalu siap berkiprah dalam pembangunan daerah. Kami bangga bisa turut serta langsung mengikuti kegiatan tersebut," ujar Dewan Penasehat Ansor PAC Negara Batin Muhammad Anas Zahroni.

Alumni Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur 1997 itu mengharapkan, daerah pemekaran Kabupaten Lampung Utara 24 April 1999 itu bisa semakin maju.

"Hadirnya Ansor dalam upacara tersebut penegasan bahwa pemuda Nahldatul Ulama siap untuk berbuat untuk Way Kanan. Harapan, kami pemerintah bisa mengembangakan potensi-potensi yang ada, misalnya anak-anak berprestasi di bidang olah raga seperti bulu tangkis atau sepak bola mengingat kemampuan semacam tersebut juga perlu ditampung supaya ada penyaluran bagi mereka," ujar Tri Wahono, kader Ansor dari Kampung Adijaya, Kecamatan Negara Batin.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Memperingati HUT Way Kanan ke 17, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor setempat menurunkan 20 kader dari PAC Negara Batin sehubungan adanya undangan untuk mengikuti upacara dihadiri unsur Forkompida, aparatur sipil negara, TNI, Polri, OSIS dan Pramuka.

"Kami bangga bisa menghadiri upacara peringatan HUT Way Kanan. Semoga Way Kanan menjadi lebih baik. Ansor selalu siap mendukung kegiatan pemerintah yang sejalan dengan tujuan organisasi, salah satunya berperan aktif dan kritis dalam pembangunan nasional demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Indonesia yang berkeadilan, berkemakmuran, berkemanusiaan, dan bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia yang diridai Allah," kata Ketua PAC Ansor Negara Batin Hozin Munir.

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor, ujar Ketua Ansor Way Kanan Gatot Arifianto menambahkan, mengapresiasi partisipasi aktif kader dari Negara Batin untuk organisasi.

"Fokus Ansor terletak pada tiga hal, yakni kaderisasi, ideologisasi, dan aksi nyata. Kami bangga kader-kader Ansor terus menunjukkan eksistensinya, seperti PAC Pakuan Ratu yang menggelar PKD V, lalu PAC Banjit yang menggelar beragam kegiatan, seperti sunatan massal bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dan pelayanan pembuatan identitas kependudukan bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dalam rangka memperingati Harlah ke 82 tahun. Terima kasih untuk energi dan semangat yang diberikan untuk organisasi dengan perbuatan," ujar Gatot. (Ahmad Nursalim/Abdullah Alawi)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 21 Januari 2018

PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah

Kendal, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Cabang NU Kendal melantik Pengurus Lembaga dan Lajnah di tingkat Cabang. Pelantikan perangkat organisasi NU tersebut dilakukan bersamaan pembukaan Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) yang digelar di Pesantren Nurul Qur’an, Sukolilan Patebon Kendal, Rabu malam (14-/11).

PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kendal Lantik Lembaga dan Lajnah

Prosesi pelantikan dilakukan langsung oleh ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial ? dan dihadiri oleh Wakil Bupati Kendal KHM Mustamsikin, Ketua PW NU Jateng H Muhammad Adnan, Segenap Badan Otonom dan pengurus MWC NU se Kab . Kendal. Tampak hadir beberapa pengurus partai di tingkat Kabupaten Kendal.

Dalam sambutaannya ketua PCNU Kendal KH Muhammad Danial mengatakan pelantikan Lembaga dan Lajnah ditingkat cabang mendesak untuk segera dilaksanakan agar mereka bisa segera bekerja, mengingat beberapa pekerjaan sudah menanti.?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dijelaskan, usai Konfercab NU beberapa waktu lalu pengurus PCNU yang ? baru telah menerima wakaf sebidang tanah. Kalau lembaga dan lajnah tidak segera dibentuk dan dilantik dikuatirkan tidak segera ada yag mengurus.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Oleh karenanya ia meminta pengurus Lembaga dan Lajnah yang baru saja dilantik untuk segera bekerja dengan riil tidak sekedar namanya tercantum dalam struktur pengurus.

”Jangan sampai pengurus NU, Lembaga maupun Lajnah hanya numpang nama tanpa ada kerja nyata,” pintanya.

Untuk menghidupkan Lembaga, Lajnah maupun Banom NU pihaknya mengaku akan mengadakan rapat koordinasi rutin tiap tiga bulan sekali. Dalam penilaiannya selama ini yang rutin mengadakan kegiatan setiap tiga bulan sekali baru lembaga Bahtsul Masail.

Lebih lanjut, Kiai Danial yang juga aktif menulis buku itu berkeinginan ada subsidi silang diantara lembaga dan lajnah ditingkat cabang. Lembaga dan Lajnah yang punya banyak dana harus bisa mensubsidi yang lain agar semua lembaga dan lajnah bisa sama-sama mengadakan kegiatan.

“Lembaga dan Lajnah yang ada harus bisa sama-sama hidup dan mengadakan kegiatan karena hakekatnya mereka ? punya tujuan yang sama yaitu menegakkan ahlussunah wal jama’ah dan Nahdlatul Ulama” tegasnya.

Muskercab dan Pelatikan Lembaga dan Lajnah yang dilaksanakan bertepatan dengan peringatan tahun baru 1434 H tersebut disamping menjabarkan pokok-pokok program kerja hasil Konfercab beberapa waktu lalu juga akan menggodok sejumlah rekomendasi serta bahtsul masail diniyah.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Fahroji

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Budaya, Tegal, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 17 Januari 2018

Lafal Niat Shalat Idul Adha

Niat adalah sesuatu yang sangat pokok dalam pelaksanaan ibadah. Tidak sah ibadah seseorang yang tidak disertai dengan niat. Niat terletak di dalam hati, yang menandakan adanya kesengajaan dalam menunaikan ibadah tertentu.

Para ahli fiqih berpandangan, niat berfungsi setidaknya dalam dua hal. Pertama, untuk membedakan antara aktivitas ibadah dan aktivitas biasa lainnya. Seseorang bisa saja, misalnya, melakukan keramas sebagai kebiasaan, namun ketika ia tidak diniatkan sebagai mandi wajib maka aktivitas keramas tersebut belum bisa menghilangkan hadats besar.

Lafal Niat Shalat Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)
Lafal Niat Shalat Idul Adha (Sumber Gambar : Nu Online)

Lafal Niat Shalat Idul Adha

Kedua, niat berfungsi untuk membedakan antara aktivitas ibadah satu dan ibadah lainnya. Misalnya, membedakan antara shalat dhuha dan shalat Idul Adha, shalat Idul Adha dan Idul Fitri, dan seterusnya.

Karena berupa getaran batin, niat tak diwajibkan dilafalkan: cukup apa yang hendak dilakukan “dibunyikan” dalam hati. Namun, melafalkan niat akan membantu hati lebih konsentrasi terhadap niat, terutama bagi orang yang kena penyakit waswas (peragu).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Terkait dengan shalat Idul Adha, contoh lafal niat dalam bahasa Arab adalah berikut ini:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? (?) ? ?

Ushallî rak‘ataini sunnata-li ‘îdil adl-hâ (ma’mûman/imâman) lillâhi ta‘âlâ



Artinya: “Aku niat melaksanakan shalat sunnah Idul Adha (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta‘âlâ.”

Atau bisa lebih lengkap:

? ? ? ? ? ? ? (?)? ? ?

Ushallî sunnata-li ‘îdil adl-hâ rak‘ataini mustaqbilal qiblati (ma’mûman/imâman) lillâhi ta‘âlâ



Artinya: “Aku niat melaksanakan shalat sunnah Idul Adha dua rakaat, menghadap kiblat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta‘ala.”

Lafal niat dibaca menjelang takbiratul ihram. Lafal niat juga bisa menggunakan bahasa lokal setempat. Sebagai catatan, kedudukan lafal niat hanyalah sekunder alias membantu orang yang hendak melaksanakan shalat agar lebih mantap dan fokus pada niatnya. Sementara yang primer tetaplah getaran batin tentang shalat Idul Adha itu sendiri. Imam Ramli mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar lisan dapat membantu (kekhusyukan) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

(Baca juga: Tata Cara Shalat Idul Adha)



Menurut Madzhab Syafi‘î, niat berarti sengaja melakukan sesuatu yang dilaksanakan berbarengan dengan aktivitas pertama saat shalat. Artinya, dalam konteks shalat Idul Adha, jika melafalkan niat dilakukan sebelum takbiratul ihram maka niatnya itu sendiri dilaksanakan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Wallahu a’lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Pesantren, Halaqoh Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 16 Januari 2018

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama?

Film dokumenter “Jalan Dakwah Pesantren” sampai saat ini telah ditonton sekitar 25 ribu orang. Menurut sutradara film tersebut, Yuda Kurniawan, jumlah sebanyak itu setelah diputar 42 kali di tempat berbeda mulai pesantren dan kampus.

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren” (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Ribu Orang Tonton “Jalan Dakwah Pesantren”

“Ini merupakan pemutaran yang ke-42 sejak diputar perdana tanggal 10 Agustus 2016 menjelang Hari Santri. Hingga kini telah ditonton sekitar 25 ribu orang,” katanya selepas pemutaran film itu di peringatan Hari Lahir (harlah) NU ke-91 di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (31/1). Film tersebut memungkasi pemutaran dua film pemenang Kompetisi Film Pendek Dokumenter dalam rangka Hari Santri tahun lalu.?

Menurut Yuda, film berdurasi 37 menit itu telah diputar di 15 kampus dan 26 pesantren di seluruh pulau Jawa. Ke depan, ia ingin memutar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, dan Maluku. Bagi komunitas, pesantren atau kampus di daerah tersebut yang ingin memutarnya, bisa menghubungi email yudakurniawan@yahoo.com.?

Film ini, sambungnya, belum dapat dipublish di media sosial seperti YouTube karena lebih mengutamakan pemutaran dan diskusi.?

Di antara apresiasi dikemukakan Rektor IAI Ibrahimy KH Cholilur Rahman. Menurut dia, film itu bisa memunculkan romantisme tersendiri bagi para alumni pesantren. “Jujur, saya meneteskan air mata saat melihat bagian awal ketika lalaran Alfiyah. Ini benar-benar menumbuhkan kebanggaan bagi santri dengan pesantrennya,” ungkapnya selepas menontonnya di auditorium Institute Agama Islam Ibrahimy, Genteng, Selasa (25/10/2016).?

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Film tersebut, lanjutnya, dibikin selama setahun dengan menyambangi sekitar 15 pesantren di pulau Jawa. Beberapa tokoh yang ada dalam film tersebut adalah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU KH Abdul Gaffar Rozin, pengasuh Pesantren Kaliopak KH Jadul Maula, pengasuh Pesantren Tegalrejo KH Yusuf Chudlori, dan pengasuh Pesantren Kauman Lassem KH Zaim Ahmad Syakir. (Abdullah Alawi)

Official trailer itu diunggah di YouTube dengan penjelasan berikut:

Negeri ini memiliki lembaga pendidikan dengan sejarah panjang. Berabad telah dilewati, banyak peristiwa dihadapi, dari perubahan ke perubahan-pun telah dijalani. Lembaga pendidikan itu berciri khas keagamaan, tapi di sisi lain juga lekat dengan lokalitas dengan beragam tradisi dan budaya. Ia selalu berdialog dengan keadaan dan telah menjadi bagian dari peradaban dunia. Ia adalah “Pondok Pesantren” nama popular lembaga pendidikan yang dimaksud. Pondok Pesantren menjadikan adagium “Melestarikan tradisi yang baik dan mengambil kebaruan yang lebih baik”, sebagai metode untuk terus hidup, berkembang dan bermanfaat. Maka tidak aneh, jika dalam perjalanannya, pesantren, dari satu sisi kuat dengan tradisi, tapi di sisi lain terus berinovasi. Tak aneh pula, jika pesantren tampak terlihat melingkupi banyak lini kehidupan, dari keagamaaan hingga kesenian, dari kemasyarakatan hingga berbangsa.Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Sejarah, Syariah, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 20 Desember 2017

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Final Liga Satri Nuansantara Regional Jateng III dimenangkan oleh Pondok Pesantren (PP) Walisongo setelah mengalahkan PP Sabilillah dengan skor 1-0 di Lapangan Kota Barat Solo, Jawa Tengah (7/9).

Pertandingan berjalan pada babak ke dua tim dari Sabililah bernomor punggung 24 mendapat kartu kuning, suasana pertandingan sore ini beranjak mendung waktu kurang 10 menit lagi, dan tibalah dimenit terahir Walisongo Menjadi Juara dengan skors 1-0.

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)
Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III

Atas kemenangan ini Walisongo berhak mengantongi tiket ke babak 32 besar seri nasional Liga Santri Nusantara. Penyerahan piala juara satu diserahkan oleh KH Yusuf Pengasuh Ponpes API Magelang. Sedangkan untuk juara keduaYhogyo wakil pimpinan DPRD Magelang.

Menurut Gus Yusuf sapaan akrab pengasuh API Tegalrejo mengatakan tim yang menjadi juara di tingkat regional merupan tim yang terbaik. "Selamat untuk PP Walisongo sragen anda layak mewakili LSN region Jateng III ke tingkat nasional," tambahnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Untuk kedua kalinya PP Walisongo lolos ke seri nasional Liga Santri Nusantara, yang pada tahun sebelumnya pesantren yang berasal dari sragen ini juga menjadi juara regional Jateng III. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Kajian, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 09 Oktober 2017

Islam Nusantara, Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Islam seperti air. Air bila ia masuk ke dalam gelas, ia akan berbentuk gelas. Bila ia masuk ke dalam teko, ia akan berbentuk teko. Begitu pula Islam. Ia akan menyesuaikan terhadap budaya dimana ia singgah. Islam tidak seperti balok padat yang tetap menjadi balok walau ditaruh di manapun.

Bagian pertama buku Islam Nusantara ini disajikan dengan model dialog antara seorang Kiai Afid dan santrinya. Tujuan penulisnya, Ahmad Baso, agar mudah dipahami oleh pembaca tentang apa pesan yang ingin disampaikannya. Tentang mengapa harus ada Islam Nusantara, bagaimana ia lahir, tentang silsilah dan sanadnya, dan metodologi Islam Nusantara.

Islam Nusantara, Islam Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara, Islam Rahmatan lil ‘Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara, Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Ahmad Baso mendefinisikan Islam Nusantara dengan “cara bermazhab secara qauli dan manhaji dalam beristinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara penduduk mengamalkan.” (halaman 21)

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) sejak dulu telah merepresentasikan Islam rahmatan lil ‘alamin melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang mulanya berasal dari budaya setempat. Islam Nusantara, sebagaimana diterangkan dalam buku Islam Nusantara ini, bukanlah subyek yang pasif, yang asal menerima apa saja yang datang dari Arab. Melalui kegiatan tahlil, shalawatan, halal bi halal, dan sebagainya, Islam Nusatara membuktikan bahwa Islam bisa dikemas dengan cara yang buka Arab.

Islam terlahir di Arab, kemudian menyebar ke seluruh dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Setelah para penyebar Islam datang di Indonesia, mereka menyebarkannya dengan jalan perdamaian. Melalui jalan perdagangan, perkawinan, dan bukan dengan paksaan. Tidak seperti penyebaran Islam di daerah Eropa melalui penaklukan dan peperangan. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Di masa Wali Songo pula, Islam tersebar dengan cara damai. Untuk menarik hati umat, Wali Songo lebih menampilkan sikap yang lemah lembut. Wali Songo selalu memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana dakwah. Misalnya Sunan Kudus yang dengan arsitektur Menara Kudus dan pelarangan menyembelih sapi bisa membuat masyarakat Hindu bersimpati. Setelah mendapat perhatian dari orang-orang yang belum Islam, di situlah Wali Songo mudah dalam menjalankan dakwahnya.

Dalam kondisi sekarang, Islam tentu menghadapi masalah yang amat pelik. Di antaranya kisruh kekerasan dan jalan dakwah yang radikal. Kelompok-kelompok garis keras masih berkeliaran di muka bumi, terutama di Timur Tengah dengan nama -yang paling terkenal— ISIS. Cara dakwah yang sama sekali bertentangan dengan metode dakwah yang dipakai oleh Wali Songo ini justeru merusak citra Islam sendiri. 

Kemunculan kelompok Islam radikal di Indonesia mengganggu berjalannya Islam Nusantara yang dipegang teguh oleh umat muslim Indonesia. Banyak ijtihad ulama Islam Nusantara yang ternyata tidak ditemukan dalam kitab-kitab ulama klasik (salaf), apalagi dalam al-Qur’an dan Hadits. Bukan berarti ijthad ulama Nusantara meninggalkan dua asas Islam tersebut, bahkan bertentangan. Yang diambil oleh ulama Islam Nusantara adalah spirit Islam, bukan bentuk luar Islam itu sendiri. Maka, selama bentuk sebuah ibadah sulit diterapkan, budaya lokal yang akan mewadahinya.

Prinsip yang dipegang Islam Nusantara adalah prinsip al-muhafadhoh alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah, menjaga kesalehan yang dahulu dan mengambil hal baru yang lebih baik. Oleh karena itu, Islam Nusantara tidak menjadi kaku dan tetap mempunya ciri khas. Islam Nusantara tercermin dalam kehidupan di pondok pesantren, sebagai markas sesungguhnya Nahdlatul Ulama.

Jadi sudah seharusnya Islam menjadi air yang ketika ia menempati Nusantara, ia akan berbentuk sesuai wadahnya. Islam tidak boleh dipaksakan harus sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu, pada masa Rasul atau setelahnya. Karena Islam itu salih li kulli zaman wa makan, patut di segala waktu dan tempat. 

Buku ini menjadi penting karena menjelaskan bahwa Islam Indonesia mempunyai sejarahnnya sendiri. Sejarah yang sama sekali berbeda dengan sejarah Islam di Arab dan negara-negara lain. Dengan melihat apa yang terjadi pada masa Wali Songo, sebelumnya, bahkan setelahnya, kita akan memahami proses meluasnya Islam di Indonesia sehingga menjadi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia. ***

Judul : Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Nusantara, Jilid I

Penulis : Ahmad Baso

Cetaka : I, Juli 2015 

Tebal : xxiii + 370 hlm

Penerbit : Pustaka Afid Jakarta

Peresensi : Hilmi Abdillah, mahasiswa Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama IMNU, Jadwal Kajian, Humor Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sabtu, 24 Juni 2017

Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya

Makassar, Internet Marketer Nahdlatul Ulama 

Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Selatan Hasid Hasan Palogai mengingatkan kepada peserta Pelatihan Penggerak Masjid tentang keberadaan masjid-masjid yang berkultur Nahdlatul Ulama yang sudah mulai dikuasai oleh kelompok-kelompok lain.

Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Lindungi Masjid NU dengan Cara Memakmurkannya

Menurut Hasan, kelompok yang melakukan pengambilan masjid NU itu menggunakan strategi yang matang. Dari mulai menjadi tukang sapu masjid, tukang adzan, menjadi imam, sampai menjadi pengurus masjid. 

Demikian disampaikan Hasid Hasan Palogai saat memberikan sambutan pada acara Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Aula Masjid Syuro Kota Makassar yang diselenggarakan atas kerja sama Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Senin (4/12). 

"Anehnya, masyarakat tidak mempersoalkan, ini karena bisa jadi pemahaman masyarakat (tidak mengerti)," katanya. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Oleh karena itu, ia berpesan kepada peserta yang mengikuti pelatihan agar lebih mengaktifkan dan menyemarakkan masjid untuk mencegah pengambilan masjid-masjid oleh kelompok-kelompok lain. 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kegiatan yang mengusung tema "Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid Sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI" ini dibuka Ketua PCNU Kota Makassar Abdul Wahid Tahir didampingi Wakil Rais Syuriah PCNU Kota Makassar KH Abdul Mutthalib, dan Bendahara PCNU Kota Makassar H Hasnawi Makkatutu. 

Adapun peserta yang mengikuti pelatihan di Kota Makassar ini berjumlah 100 orang  yang terdiri atas beberapa badan otonom NU seperti Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU, PMII dan juga dari remaja masjid sekitar Kota Makassar. (Husni Sahal/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 20 Juni 2017

Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Qori internasional Muammar ZA memimpin pembacaan shalawat badar pada Istighotsah Menyambut Ramadhan 1436 H dan Pembukaan Munas Alim Ulama" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (14/6).

Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Muammar ZA Pimpin Shalawat Badar Puluhan Ribu Nahdliyin

Muammar memandu pembacaan shalawat khas NU itu selepas melantunkan ayat suci al-Quran. Suara Muammar yang melengking disambut antusias puluhan hadirin yang memadati Masjid Istiqlal.

Hingga berita ini ditulis, acara istighotsah sedang berlangsung dengan dipimpin Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mutabarah an-Nahdliyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Tampak di atas panggung antara lain Presiden RI Joko Widodo, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketum PP GP Ansor Nusron Wahid, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti, serta sejumlah pejabat dan para kiai lainnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Secara terpisah, Muammar menyatakan kegembiraannya dengan acara istighotsah NU. "Apalagi dengan melibatkan masyarakat sebanyak ini. Luar biasa," tuturnya.

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama tahun ini mengusung tema "Memelihara Tradisi Rohani, Menjaga Keutuhan Negeri". Sebelumnya, forum tertinggi setelah Muktamar NU ini juga digelar 2014 lalu. (Mahbib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Bahtsul Masail, Kajian Islam, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 01 Juni 2017

Lakpesdam NU Luncurkan Buku “Prakarsa Perdamaian”

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pengurus Pusat (PP) Lakpesdam NU meluncurkan buku hasil penelitian dan pengalaman dari berbagai konflik sosial yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dengan judul “Prakarsa Perdamaian”.

Buku hasil kerjasama dengan European Union yang dicetak sebanyak 2000 eksemplar ini diperkenalkan kepada publik pada hari Selasa, (29/4) di Gedung PBNU.

Lakpesdam NU Luncurkan Buku “Prakarsa Perdamaian” (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Luncurkan Buku “Prakarsa Perdamaian” (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Luncurkan Buku “Prakarsa Perdamaian”

Sejumlah tokoh secara simbolis menerima buku tersebut seperti Sekjen PBNU Dr. Endang Turmudi, Sutradara Film Garin Nugrono, Pengamat Politik Sukardi Rinakit, Peneliti CSIS J. Kristiadi serta perwakilan dari Lakpesdam Society dan Ketua PCNU Sumedang Jabar.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Direktur Lakpesdam Lilis Nurul Husna menjelaskan Indonesia memendam potensi konflik yang luar biasa karena adanya keragaman agama, etnik, dan budaya, juga gesekan politik dan perebutan sumber daya alam.

Konflik tersebut terus berulang baik yang terjadi secara vertical atau antara masyarakat dengan negera atau secara horizontal atau antar kelompok masyarakat. “Sayangnya, upaya meredam konflik tersebut kerap bersikap seremonial dan simbolik, tidak didasarkan pada inisiatif lokal yang sejatinya paling mengerti carut marut persoalan,” tambahnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dikatakannya, Lakpesdam NU memiliki mandat untuk mengembangkan dan menyebarkan wacana kritis tentang perdamaian, anti kekerasan dan keberagaman mengingat besarnya potensi konflik yang terjadi akhir-akhir ini.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya NU dan Lakpesdam, tetapi seluruh elemen masyarakat dalam memperjuangkan kasih sayang bagi seluruh semesta atau rahmatan lil alamiin,” tandasnya.

Buku ini merupakan hasil penelitian lapangan di 12 kabupaten yang mencakup 4 kabupaten di Jawa Barat, 4 Kabupaten di Sulawesi Selatan, dan 4 kabupaten di Nusa Tenggara Barat.

Berbagai pola konflik yang dibahas dalam buku ini adalah konflik antar suku, antar agama, intra agama, kekerasan terhadap masyarakat adat, antar agama dengan adat dan lainnya. Tuduhan sesat terhadap jamaah Ahmadiyah di Jawa Barat dan kekerasan terhadap jamaah tarekat Abah Aziz di Lombok Tengah menjadi bagian pembahasan. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Pemurnian Aqidah, Jadwal Kajian, Bahtsul Masail Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 21 April 2017

Warga NU Blitar Kesulitan Nonton Film Sang Kiai

Blitar, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Para kiai dan waga NU Blitar, kebingungan nonton Film Sang Kiai. Karena di daerah berjuluk Bumi Bung Karno dan Penataran itu tidak gedung Film. Gedung–gedung yang dulu ada seperti Dipoyono sudah gulung tikar  puluhan tahun lalu.

Warga NU Blitar Kesulitan Nonton Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Blitar Kesulitan Nonton Film Sang Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Blitar Kesulitan Nonton Film Sang Kiai

Untuk bisa melihat film drama Indonesia tahun 2013 yang mengangkat kisah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari itu, mereka harus rela pergi ke kota tetangga, misalnya ke Malang, Tulungagung dan Kediri. Itupun hanya sebagian. Padahal antusias warga NU untuk bisa melihat Film yang dibintangi oleh Ikranagara, Christine Hakim, Agus Kuncoro, Adipati Dolken, sangat tinggi.

Konco-konco sangat kebingungan kemana harus melihat film itu. Kan di Blitar tidak ada gedung bioskop,” ungkap Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Imam Sugrowardi, Selasa pagi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Karena film ini bagian dari perjuangan Kiai Hasyim Asyari, maka warga NU sangat ingin melihatnya. Bahkan bila perlu seluruh warga harus nonton bersama (nobar). Cuma teknisya bagaimana yang harus dicari. Mengingat di Blitar tidak ada gedung film.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Karena tidak ada gedung.Maka alternatifnya ada dua. Nonton ke Kediri atau menunggu CD-nya. Tapi sebaikanya nonton bersama saja, Kalau nunggu CD-nya lama,” tambah Mohammad Faizin, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Blitar.

Keduanya sepakat bila agar film tersebut segera bisa diketahui warga NU. Maka sebaiknya dibentuklah panitia Nobar yang melibatkan semua badan otonom NU dan lembaga NU.

“Sebaiknya ada sinergi antara Banom dan lembaga. Misalnya LP Ma’arif  dan Lesbumi. Juga Ansor, IPNU, Fatayat dan Muslimat,” tandas Kiai Imam. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Imam Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 13 April 2017

GP Ansor Sulsel Rekrut Kader Baru di Bulukumba

Bulukumba, Internet Marketer Nahdlatul Ulama - Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) untuk calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Aula Pariwisata Bira Kabupaten Bulukumba, Kamis-Ahad (8-11/9). Sebanyak 108 peserta dari Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, dan Selayar mengikuti Diklatsar.

Pendidikan ini melibatkan calon Banser dalam materi dan praktik. Kegiatan ini melibatkan pihak Dandim 1411 Bulukumba dan Kasatlantas Polresta Bulukumba.

GP Ansor Sulsel Rekrut Kader Baru di Bulukumba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sulsel Rekrut Kader Baru di Bulukumba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sulsel Rekrut Kader Baru di Bulukumba

"Mereka kita gembleng agar menjadi kader NU yang loyal, juga dipersiapkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin NU masa depan," kata Instruktur Diklastsar Banser A Abbas Rauf Rani pada saat penutupan.

Sementara Sekretaris Ansor Sulsel menegaskan pentingnya mengantisipasi gerakan-gerakan yang berpotensi mengancam keutuhan NKRI, dan bagaimana mengantisipasi peredaran narkotika sehingga harus diantisipasi sedini mungkin agar tidak menyerang dan merusak generasi-generasi yang akan datang.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Karena itu Ansor sebagai organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang keagamaan dan kemasyarakatan di bawah naungan NU merasa tergugah dan berusaha mengadakan kegiatan Diklatsar Banser.” (Sudirman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 22 Januari 2017

Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid

Beograd, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Minoritas Muslim di Beograd, ibu kota Serbia, sedang mengalami keterbatasan rumah ibadah. Hingga kini hanya ada satu masjid di sana. Komunitas Muslim Serbia mengaku kesulitan membangun masjid baru lantaran tak mendapat dukungan yang memadai dari pemerintah setempat.

Ironisnya, satu-satunya masjid itu pun berasal dari tahun 1575 ketika kota ini menjadi bagian dari kerajaan Islam Turki Utsmani. Selebihnya, umat Islam di Beograd terpaksa shalat berjamaah di rumah-rumah pribadi yang mereka sulap menjadi masjid.

Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Minoritas Muslim Serbia Hadapi Sulitnya Bangun Masjid

"Ini rumah keluarga. Kita bisa shalat di dalamnya, tapi bangunannya tidak legal," kata Hilmija, seorang Muslim berusia 47 tahun dan anggota minoritas Roma Serbia. "Ini memalukan," tambahnya seperti dikutip Reuters, Rabu.

Pernyataan itu ia lontarkan merujuk pada sebuah bangunan yang hancur dengan puing-puing di sekelilingnya. Rumah tersebut menjadi saksi perjuangan sekitar 20.000 umat Islam untuk bisa shalat berjamaah di kota yang didominasi pemeluk Kristen Ortodoks.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sekretariat Perencanaan Kota di balai kota Beograd membantah telah menghalang-halangi pembangunan masjid baru. Ia mengatakan bahwa tidak ada catatan permintaan bangunan dari Komunitas Islam Serbia.

Namun demikian, komunitas Islam di Serbia mengatakan, pemerintah Beograd telah berulang kali mengabaikan permintaan agar masjid baru dibangun. Padahal, komitmen negara tersebut terhadap hak-hak minoritas menjadi ukuran penting dalam menyongsong masuk sebagai anggota Uni Eropa.

"Kami telah meminta izin beberapa kali untuk beberapa lokasi, selama beberapa dekade... tapi kami tidak pernah berhasil lolos bahkan untuk sekadar memasukkan berkas," kata Mufti Muhamed Hamdi Jusufspahic, ketua Majelis Umum Komunitas Islam Serbia. "Setiap permohonan (hanya) akan dimasukkan ke dalam laci."

Serbia adalah rumah bagi sekitar 230.000 Muslim atau kira-kira 3,1 persen dari total populasi. Mereka terkonsentrasi di wilayah Sandzak bagian barat daya yang berbatasan dengan Bosnia, Kosovo, dan Montenegro.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pada 2004, sebagai respon atas gelombang serangan Albania terhadap orang-orang minoritas Serbia di Kosovo, perusuh membakar masjid Beograd dan fasilitas lain di kota Nis bagian selatan. Kini kondisi sudah pulih. 

Emin Zejnulahu, mufti masjid yang dibongkar di Zemun Polje, mengatakan bahwa umat Islam tidak akan berhenti menjalankan kehidupan beragamanya. 

"Kita harus menjalankan agama kita, apapun rintangannya," katanya. "Kita harus menjadi tetangga yang baik untuk semua orang, terlepas dari keyakinan dan kewarganegaraan mereka." (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, AlaSantri, Quote Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 24 Mei 2012

Cegah Pengangguran, Pelajar Kota Bekasi Pelajari IT dan Desain Grafis

Bekasi, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Sebanyak 15 orang, baik dari Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) maupun PC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengikuti Pelatihan Informasi Teknologi (IT) dan Desain Grafis di Sekretariat PC NU Kota Bekasi, Jl Veteran, Margajaya, Kota Bekasi, Sabtu (30/12) siang.

Ketua PC IPNU Kota Bekasi Adi Prastyo mengungkapkan sangat berbahagia dengan kegiatan tersebut. 

Cegah Pengangguran, Pelajar Kota Bekasi Pelajari IT dan Desain Grafis (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Pengangguran, Pelajar Kota Bekasi Pelajari IT dan Desain Grafis (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Pengangguran, Pelajar Kota Bekasi Pelajari IT dan Desain Grafis

"Hari ini, di era milenial harus mahir di bidang itu (IT dan desain grafis). Kegiatan semacam itu akan terus berlanjut tiap seminggu sekali sampai bisa menguasai pelatihan yang telah diikuti, yakni berupa editor Corel Draw dan Photoshop," kata Tio, sapaan akrabnya. 

Pada tahap awal, peserta pelatihan dibatasi hanya 15 orang. Hal tersebut dikarenakan tempat pelatihan yang kurang memadai. Pada angkatan berikutmua direncanakan jumlah peserta lebih banyak dengan diikutsertakannya pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU. 

"Sebelum ini, kami sudah punya Laboratorium Pelajar Nahdliyin yang khusus digunakan untuk berbagai macam pelatihan. Beberapa waktu lalu, pernah juga dilaksanakan Pelatihan Administrasi dan Keorganisasian," kata Tio.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama





Ia menginformasikan ketika peserta sudah menguasai desain grafis, akan lanjut ke pelatihan menulis untuk kalangan pelajar, minimal pengurus dan anggota.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kegiatan yang bertema Pemberdayaan Keterampilan Pemuda di Bidang IT dan Desain Grafis itu diselenggarakan berkat kerjasama Yayasan Cahya Rabbani Perwira Bekasi dengan Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker). 

Ketua Yayasan Rizki Topananda mengungkapkan peserta adalah pemuda dan pelajar NU. Karenanya, diadakan di sekretariat PCNU yang berlokasi di pusat kota. Kegiatan itu bertujuan sebagai bekal keterampilan selain pendidikan formal di bangkus sekolah atau perguruan tinggi.

"Tujuannya untuk mengurangi angka pengangguran dengan cara membuka lapangan pekerjaan baru di bidang IT dan desain grafis. Di Kota Bekasi, peluang usaha di bidang itu sangat besar," kata pemuda yang juga Sekretaris Jenderal di Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar NU (IPNU) Provinsi Jawa Barat.

Rizki menambahkan, kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara berkesinambungan dan berkala minimal seminggu sekali. Rizki berharap, ketika pemuda dan pelajar sudah terlatih, besar kemungkinan bakal membuka usaha baru di bidang percetakan. (Aru Elgete/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 21 Desember 2010

Perempuan Lebih Utama Shalat di Rumah atau Masjid?

Assalamualaikum ustadz. Saya ingin bertanya mengenai hukum sebenarnya tentang seorang wanita (istri) shalat di masjid? Saya pasangan suami-istri yang baru menikah, saya dengan istri kebetulan mempunyai pemahaman yang berbeda, saya ingin setiap hari bisa shalat berjamaah di masjid bersama istri, namun istri saya mempunyai pemahaman bahwa shalat wanita lebih afdhol di rumah.

Bagaimana jika seperti itu ustadz? Apa sebenarnya hukum wanita di masjid? apa pula hukum wanita pergi ke pasar/mall? Wassalamualaikum ….. Mulyadi Agung

Jawaban :

? ? ? ? ?.
Perempuan Lebih Utama Shalat di Rumah atau Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan Lebih Utama Shalat di Rumah atau Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan Lebih Utama Shalat di Rumah atau Masjid?

Bapak Mulyadi yang kami hormati. Dalam pertanyaan yang disampaikan di atas ada dua poin pembahasan. Pertama, tentang shalat berjamaah bagi wanita di masjid. Kedua, tentang wanita pergi ke pasar/mall. Dalam kesempatan ini, kami akan menjawab poin pertama terlebih dahulu yaitu shalat berjamaah bagi wanita di masjid.

Bapak Mulyadi yang baik, shalat berjamaah memang lebih utama 27 derjat dari pada shalat munfarid (sendirian). Begitulah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits. Dalam masalah keutamaan ini tidak ada perbedaan antara yang didapatkan laki-laki dan perempuan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kemudian, bagaimana dengan pelaksanaannya? Apakah harus di masjid atau cukup di rumah? Dalam hal ini ulama menjelaskan, laki-laki lebih utama melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid dan perempuan lebih utama melaksanakan shalat fardhu berjamaah di rumah. Penjelasan ini dapat kita lihat dalam kitab Ianatut Tholibin karya Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Ad-Dimyathi juz 2 hal. 5 sebagai berikut ;

?: ? ? ? ? ? ?-- ? ?: ? - ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. …….. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya : (Ungkapan Syaikh Zainuddin Al-Malibari : Shalat Fardhu berjamaah di masjid lebih utama bagi laki-laki)hal tersebut berdasarkan hadits : shalatlah kalian di rumah-rumah kalian karena shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang di rumahnya kecuali shalat fardhu……dan di sini terdapat pengecualian bagi perempuan. Untuk perempuan shalat berjamaah lebih utama dilaksanakan di rumahnya dari pada di masjid.

Kemudian, terkait shalat berjamaah untuk suami istri, dalam kitab Hasyiyah Al-Bajuri Ala Syarhi ibn Qosim karangan syaikh Ibrahim Al-Baijuri juz 1 hal. 250 disebutkan : 

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Seorang laki-laki juga mendapatkan keutamaan shalat berjamaah dengan melaksanakannya bersama istri atau keluarga yang lain, bahkan pelaksanaan shalat berjamaah bersama keluarga di rumahnya lebih utama.

Bapak Mulyadi yang budiman, perlu diingat bahwa paparan di atas terkait masalah lebih utama atau tidak, bukan masalah boleh atau tidaknya perempuan melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Jadi, perbedaan pemahaman Bapak dengan istri tentang hal tersebut tidak perlu disikapi dengan kaku. Mudah-mudahan jawaban ini memberikan pencerahan bagi Bapak dan keluarga. Semoga kita selalu mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Ta’ala untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna. Aaamiin…

? ? ?

? ? ? ? ?

 

Ihya’ Ulumuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 23 Juli 2009

PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU

Gorontalo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ketua PMII Gorontalo Sutiyopan mendukung sepenuhnya keputusan sidang komisi organisasi pada Munas-Konbes NU 2014 kemarin perihal kembalinya PMII sebagai banom NU. Ia menyebutkan sekurangnya tiga poin sebagai argumentasinya.

Menurut kami, kata Sutiyopan, memang sudah seharusnya PMII kembali kepada NU. Ketika memutuskan sebagai organisasi independen pada 1972, PMII memandang pada saat itu NU sebagai orpol.

PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU

“Sementara kini kita sudah maklum, NU sudah bukan organisasi politik melainkan organisasi kemasyarakatan,” terang Sutiyopan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia menyatakan kekhawatirannya kalau PMII bersikukuh untuk independen, PBNU akan membentuk sayap pergerakan baru bagi mahasiswa NU. “Kalau ini sampai terjadi, organisasi baru itu akan melemahkan integritas dan eksistensi PMII di masa yang akan datang.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sutiyopan mengharapkan seluruh kader dan anggota PMII di seluruh Indonesia agar menyatukan presepsi dalam mengambil sikap untuk mendukung kembalinya PMII ke NU. (Zulkarnain Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes, Pahlawan, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock