Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari

Oleh M. Rikza Chamami

Prof Abdurrahman Masud dalam disertasinya The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teaching menjelaskan bahwa KH Hasyim Asyari (1871-19476) merupakan kiai pergerakan.

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari

Kharisma Mbah Hasyim sudah banyak dirasakan masyarakat. Ia merupakan pemimpin yang sangat dekat semua kalangan karena skill dan kepemimpinannya yang sangat khas nusantara. 

Kedalaman ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Timur Tengah dipadu dengan ilmu Jawa khas Walisongo. Pernik-pernik pemikirannya pun terejawantahkan dalam dunia pesantren dan organisasi para kiai, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Pesan-pesan Mbah Hasyim dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangat jelas. Bahwa Indonesia akan memiliki kekuatan besar jika warganya bersatu dan kompak melawan penjajah. Maka fatwa resolusi jihad yang dikomando olehnya menjadi modal kemerdekaan sejati Indonesia.

Tepat pada Senin Pahing, 17 September 1945/9 Syawal 1364, Mbah Hasyim mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ini semakin nyata bahwa komitmen kebangsaan Mbah Hasyim sangat tinggi--dimana ketika Presiden meminta fatwa, maka langsung direspon dengan sigap. Di sisi lain yang perlu dilihat adalah fatwa tersebut berisi pesan persatuan bangsa.

Lawan yang dihadapi oleh Indonesia saat itu jelas para penjajah. Maka seluruh komponen bangsa harus bersatu padu, tanpa melihat latar belakang agama, suku dan lainnya. Karena Mbah Hasyim berada pada zona pemimpin bangsa, fatwa itu dikeluarkan dan menjadikan semangat melawan penjajah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Masih ada dua pesan lagi yang perlu dihayati dalam menjaga persatuan bangsa. Apa itu? Bahwa sepeninggal para penjajah itu, Indonesia masih memiliki tantangan lain, yakni wahabi.

Sangat tegas dituliskan dalam kitab karya Mbah Hasyim, Risalah Ahlussunnah wal Jamaah fi Haditsil Mauta wa Asyratis Saah wa Bayani Mafhumis Sunnah wal Bidah bahwa Jawa (Indonesia) menghadapi tantangan gelombang wahabi pada 1330 H (1909). 

Wahabi merupakan firqah yang bertentangan dengan ulama salaf yang menganut pendapat Muhammad bin Abdul Wahab Annajdi, Ahmad Ibnu Taimiyyah, Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Abdi Al-Hadi, Syaikh Muhammad Abduh, dan Syaikh Rasyid Ridla. Mereka misalnya melarang ziarah kubur dan tahlil. 

Keberadaan wahabi dan pengikutnya kata Mbah Hasyim menyitir pendapat Syekh Muhammad Bakhit Al-Hanafi dalam Kitab Tathhirul Fuad Min Danasil Itiqad bahwa wahabi menjadi wabah yang berbahaya sejak dulu sampai sekarang. Keberadaan mereka selalu menjadi kelompok sempalan yang melukai kaum muslimin dan harus diamputasi.

Nampaknya dua pesan Mbah Hasyim ini perlu menjadi renungan kita bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam menyambut hari lahir ke-92 NU.

Pertama, bangsa yang sudah merdeka perlu dijaga dengan baik dan semua harus sigap jika suatu saat ada musuh yang datang merusak NKRI.

Kedua, bahaya gerakan yang mengatasnamakan Islam namun berniat merusak NKRI perlu kita waspadai bersama. Sebab Indonesia selalu banyak dilirik oleh dunia karena memiliki kekuatan SDM dan SDA yang sangat luar biasa.

NU perlu menjadi kekuatan bangsa yang dapat merangkul dan dirangkul semua pihak dalam rangka menebarkan Islam ahlussunnah wal jamaah yang sesuai syariat Islam dan menanamkan cinta tanah air hingga hari kiamat. 

Penulis adalah Pengurus PW GP Ansor Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 20 Februari 2018

IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup

Probolinggo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Probolinggo meminta Pemerintah Kota Probolinggo terutama aparat penegak hukumnya bisa menutup hiburan malam. Pasalnya hal tersebut jelas-jelas sangat mengganggu dan merusak moral generasi muda yang notabene adalah calon pemimpin masa depan.

IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Desak Hiburan Malam Ditutup

Permintaan tersebut disampaikan oleh Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Abdul Jalal dalam Musyawarah Kerja (Musker) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo yang digelar di MTs Sunan Giri Kota Probolinggo, Sabtu (15/11) malam.

“Hiburan malam ini jelas-jelas sudah mengancam moral dan perilaku generasi muda kita. Apalagi sering kami jumpai anak-anak muda sering nongkrong di depan beberapa hiburan malam. Oleh karena itu, kami meminta PCNU Kota Probolinggo bisa bersinergi dengan aparat keamanan dan mendesak agar hiburan malam ini ditutup,” ungkapnya, Senin (17/11).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Menurut Jalal, tempat hiburan malam tersebut lebih banyak mudharatnya dan tidak ada manfaatnya. Pasalnya secara tidak langsung para kader muda ini juga akan ikut-ikutan gaya hidup yang ada di tempat hiburan malam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Biasanya di tempat hiburan malam ini disediakan minuman beralkohol. Jika generasi muda sudah dekat dengan maksiat dan minuman tersebut, lalu mau dibawa kemana masa depan bangsa ini,” tegasnya.

Jalal mengharapkan agar pihak berwenang bisa segera melakukan penanganan serius terhadap beberapa tempat hiburan malam yang sudah sangat meresahkan masyarakat. “Kami akan terus berupaya agar untuk bersinergi dengan pihak terkait supaya tempat hiburan malam yang ada di Kota Probolinggo segera ditutup. Masa depan generasi muda lebih penting dari segalanya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Internasional, Sejarah, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 05 Februari 2018

CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai

Wonosobo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Corps Brigade Pembangunan (CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) kabupaten Wonosobo, bergerak untuk melakukan bersih-bersih sungai Serayu, desa Kejiwan, Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (9/11). Kerusakan lingkungan yang semakin parah mendorong 25 anggota CBP-KPP turun ke sungai.

“Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan anggota agar lebih cinta terhadap keindahan alam. Anggota kita kenalkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan,” ungkap Komandan CBP Wonosobo Hakim Asnawi kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Senin (11/11).

CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP dan KPP Wonosobo Bersih-Bersih Sungai

Bersih-bersih ini, lanjut Hakim, sekaligus untuk kampanye dan sosialisasi di masyarakat untuk menjaga dan saling melestarikan lingkungan. Karena ketika ? lingkungan dijaga, maka lingkungan itu pula akan bisa dimanfaatkan. Namun sebaliknya, ketika kita tidak peduli terhadap lingkungan maka lingkungan juga tidak bersahabat dengan kita.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Kita sebagai kader muda untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan,” tegas Hakim.

Sementara itu, Ketua PC IPNU Wonosobo Ahmad Haryanto mengapresiasi kegiatan bersih-bersih sungai. Kegiatan itu perlu dilanjutkan secara bertahap kepada tingkat kecintaan alam dan menjaga lingkungan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

”Saya sangat senang sekali melihat kader-kader IPNU IPPNU peduli terhadap lingkungan,” ujar Haryanto.

Kegiatan ini diharapkan mampu menarik warga untuk peduli lingkungan dan bisa selalu eksis dalam menjaga lingkungan hidup. (Fathul Jamil/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Meme Islam, PonPes, Syariah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 02 Januari 2018

Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah

Puasa Ramadhan 1434 H / 2013 M sudah dimulai dimeriahkan dengan kegiatan ibadah yang berbentuk mahdlah (murni) maupun ghairu mahdlah (tidak murni). Tidak hanya keramaian atas masuk di bulan suci itu dengan kegiatan yang bersifat mental maupun jasmani saja, tapi juga diramaikan dengan tersebarnya jadwal imsakiyah di masyarakat.

Jadwal imsakiyah inilah yang nanti di bulan Ramadhan yang memberi informasi kepada masyarakat Islam tentang kapan dimulai berpuasa maupun diperbolehkan berbuka puasa dalam setiap hari sehingga sangat dibutuhkan baik untuk perorangan yang nantinya dipasang di rumah ataupun masjid, mushalla dan langgar yang akan dipasang di tempatnya masing-masing sebagai pedoman mengumandangkan azan dalam setiap waktu sholat, berbuka puasa (memasuki waktu magrib) dan informasi memasuki waktu imsakiyah dalam setiap harinya dalam bulan suci Ramadhan, akan tetapi di bulan suci Ramadhan 1434 H ini, ada kemungkinan perbedaan dalam memulai puasa, ada yang memulai tanggal 09 Juli 2013 atau 10 Juli 2013.

Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Menguji Akurasi Jadwal Imsakiyah

Dalam realitanya, jadwal imsakiyah ini tidak hanya berfungsi utama untuk pedoman menentukan awal dan akhir berpuasa dalam setiap harinya, tapi bisa diambil manfaat ekonomi dalam publikasi produk suatu perusahaan. Dengan mencetak jadwal imsakiyah dan mendistribusikannya dengan sederhana, maka dengan sendirinya publikasi produk akan ikut juga karena biasanya produknya sudah tertuang di sekitar jadwal tersebut. Hal tersebut wajar dan logis akan tetapi perlu juga dipertimbangkan apakah jadwal imsakiyah yang dicetak dan didistribusikan sudah valid dengan daerah dimana jadwal imsakiyah itu diterima oleh masyarakat daerah tersebut dan dapat dibuat pedoman sesuai dengan kriteria pembuatan jadwal imsakiyah tersebut.

Nilai Akurasi Jadwal Imsakiyah

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dalam jadwal imsakiyah biasanya dimulai dengan kolom waktu imsak kemudian dilanjutkan shubuh, terbit, duha, dhuhur, ashar, magrib, isya’. Dengan kolom inilah maka salah satu argumen kenapa jadwal shalat ini dinamakan jadwal imsakiyah, disamping karena salah waktu yang tertera di jadwal itu yang penting adalah waktu imsakiyah dengan maksud untuk persiapan awal waktu menahan makan, minum dan hal-hal yang terkait, serta merupakan waktu yang awal-awal ditemui oleh pelaksana puasa pertama kalinya. Bahkan dalam kolom jadwal imsakiyah ini lebih banyak dibandingkan kolom jadwal shalat harian dengan ditambah kolom waktu imsakiyah, terbit, dhuha untuk memberi informasi ke masyarakat muslim tentang waktu ibadah sunah sekaligus kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah dari sisi waktu sehingga bulan Ramadhan bisa dilaksanakan semaksimal mungkin dan tinggi nilai akurasinya dalam pelaksanakaan ibadah. 

Pedoman waktu shalat bermula mengacu pada alam yakni posisi matahari sebagaimana dijelaskan dalam kriteria waktu shalat di penjelasan fiqih, walaupun demikian tidak semudah itu kita mengamati matahari sehingga bisa menentukan awal waktu shalat sesuai syariat. Dengan adanya hal tersebut, maka diadakan penelitian berkaitan posisi matahari yang menunjukkan awal maupun akhir waktu shalat sehingga kewajiban pelaksanaan shalat tetap dijalani walaupun posisi matahari tidak bisa dilihat secara langsung namun bisa ditemukan secara tidak langsung dengan melihat hasil penelitian yang akurat yang akhirnya dituangkan dengan jam yang akurat.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Waktu shalat dalam jadwal imsakiyah tidak banyak dipermasalahkan secara signifikan, hanya beberapa awal waktu shalat yang banyak diperselisihkan dalam penentuannya. Sebagaimana halnya dalam penentuan awal waktu shubuh diperlukan untuk penentuan awal shaum (puasa) dan shalat, karena merupakan waktu awal shaum disebutkan dalam Al-Quran, “… makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar" (QS 2:187). Sedangkan tentang awal waktu shubuh disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Umar, “… dan waktu shalat shubuh sejak terbit fajar selama sebelum terbit matahari” (HR Muslim). 

Yang menjadi pertanyaan fajar apa yang dimaksud dalam hadis tersebut? Karena dalam pemahaman fajar dibagi dua macam, pertama yang melarang makan, tetapi membolehkan shalat, yaitu yang terbit melintang di ufuk. Lainnya, fajar yang melarang shalat (shubuh), tetapi membolehkan makan, yaitu fajar seperti ekor srigala” (HR Hakim). Dalam fiqih kita mengenalnya sebagai fajar shadiq (benar) dan fajar kidzib (palsu). 

Maka perlu penjelasan fenomena sesungguhnya fajar kidzib dan fajar shadiq dan ada batasan kuantitatif yang dapat digunakan dalam formulasi perhitungan untuk diterjemahkan dalam rumus atau algoritma program komputer. Fajar kidzib memang bukan fajar dalam pemahaman umum, yang secara astronomi disebut cahaya zodiak. Cahaya zodiak disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet yang tersebar di bidang ekliptika yang tampak di langit melintasi rangkaian zodiak (rangkaian rasi bintang yang tampaknya dilalui matahari). Oleh karenanya fajar kidzib tampak menjulur ke atas seperti ekor srigala, yang arahnya sesuai dengan arah ekliptika. Fajar kidzib muncul sebelum fajar shadiq ketika malam masih gelap.

Sedang fajar shadiq adalah hamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel di udara yang melingkupi bumi. Dalam bahasa Al-Quran fenomena itu diibaratkan dengan ungkapan “terang bagimu benang putih dari benang hitam”, yaitu peralihan dari gelap malam (hitam) menunju munculnya cahaya (putih). Dalam bahasa fisika hitam bermakna tidak ada cahaya yang dipancarkan, dan putih bermakna ada cahaya yang dipancarkan. Karena sumber cahaya itu dari matahari dan penghamburnya adalah udara, maka cahaya fajar melintang di sepanjang ufuk (horizon, kaki langit). Itu pertanda akhir malam, menjelang matahari terbit. Semakin matahari mendekati ufuk, semakin terang fajar shadiq. Jadi, batasan yang bisa digunakan adalah jarak matahari di bawah ufuk.

Secara astronomi, fajar (morning twilight) dibagi menjadi tiga: fajar astronomi, fajar nautika, dan fajar sipil. Fajar astronomi didefinisikan sebagai akhir malam, ketika cahaya bintang mulai meredup karena mulai munculnya hamburan cahaya matahari. Biasanya didefinisikan berdasarkan kurva cahaya, fajar astronomi ketika matahari berada sekitar 18 derajat di bawah ufuk. Fajar nautika adalah fajar yang menampakkan ufuk bagi para pelaut, pada saat matahari berada sekitar 12 derajat di bawah ufuk. Fajar sipil adalah fajar yang mulai menampakkan benda-benda di sekitar kita, pada saat matahari berada sekitar 6 derajat. Sehingga fajar shadiq bukanlah fajar sipil karena saat fajar sipil sudah cukup terang. Juga bukan fajar nautika karena seusai shalat pun masih gelap. Kalau demikian, fajar shadiq adalah fajar astronomi, saat akhir malam.

Waktu shalat dalam jadwal imsakiyah yang banyak diperselisihkan yang lain yakni awal waktu maghrib karena adakalanya tidak mempertimbangkan ketinggian tempat dimana pelaku puasa berada dan adakalanya mempertimbangkannya. Hal tersebut yang biasanya membedakan hasil perhitungan jadwal imsakiyah yang tersebar di masyarakat.

Perlu Ikhtiyat dalam Memilih Jadwal Imsakiyah

Berkaitan dengan perbedaan yang terjadi dalam proses perhitungan atau pembuatan jadwal imsakiyah, tentunya jangan hanya melihat jadwal imsakiyah yang lebih dahulu dalam awal waktu maghrib dan awal waktu imsak yang terakhir serta tampilan cover jadwal imsakiyah, tapi melihat akurasi jadwal imsakiyah itu yang sesuai dengan daerah dan pedoman syariah.

Untuk menentukan akurasi jadwal imsakiyah bisa dilihat secara sederhana karena kalau dilihat secara mendetail dan terperinci sangatlah sulit. Ada beberapa faktor yang dapat dilihat antara lain: pertama, jadwal imsakiyah menggunakan lintang dan bujur sesuai dengan tempat penyebaran jadwal tersebut yang biasanya menggunakan alat GPS. Kedua, mempertimbangkan tinggi tempat yang biasanya menggunakan altimeter sebagai dasar penentuan awal waktu maghrib maupun terbit, Ketiga, mempertimbangkan ikhtiyat (hati-hati dalam menentukan waktu shalat) karena faktor ini merupakan pertimbangan yang sangat diperhatikan dalam menentukan dalam setiap awal waktu shalat maupun yang lain, dan faktor-faktor lain.

Harapan penulis terhadap masyarakat dalam menggunakan jadwal imsakiyah menggunakan jadwal yang telah mempertimbangkan beberapa faktor di atas agar nilai akurasinya sangat baik. Namun tidak semuanya bisa meneliti jadwal tersebut dari beberapa faktor di atas, untuk penggunaan yang sederhana bisa menggunakan jadwal imsakiyah yang dikeluarkan badan hisab rukyat daerah (BHRD), ormas, perguruan tinggi, atau pesantren yang bisa dipercaya keakurasiannya.

M Agus Yusrun Nafi’, S.Ag, M.Si

Ketua Lajnah Falakiyah NU Kudus dan Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Hannan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Tokoh, Internasional, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 24 Desember 2017

Banser Versi Belakang Layar

Oleh Ahmad Naufa

Barisan Ansor Serbaguna (Banser) merupakan salah satu sayap kekuatan NU yang berada dalam organbisasi underbownya, Gerakan Pemuda Ansor. Banser, dalam perkembangannya, terus-menerus tumbuh dan silih berganti, seiring dengan pergeseran waktu dan perkembangan jaman.

Dalam suatu obrolan yang saya dengar, di ruang instruktur Banser dalam Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) di Purworejo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, ada beberap cerita yang diungkap oleh para instruktur, yaitu Banser-Banser senior yang telah terlatih.?

Banser Versi Belakang Layar (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Versi Belakang Layar (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Versi Belakang Layar

"Tadi, TNI geleng-geleng melihat tekad dan semangat anak-anak Banser, setelah saya menjawab pertanyaan mereka tentang seluk-beluk acara," kata salah satu di antaranya, membuka obrolan. Instruktur lain menyimak.

"Pak, personil-personil Banser ini mengikuti pelatihan selama beberapa hari, meninggalkan pekerjaan, keluarga dan istri. Untuk mengikuti kursus ini, mereka mencukupi kebutuhan selama keluarga ditinggalkan. Tidak hanya itu, mereka juga membayar pendaftaran, dan membeli perlengkapan sendiri. Sampai di acara, mereka juga mau disiksa dengan beberapa materi lapangan berat yang Anda sampaikan," jelasnya, kepada komandan serdadu TNI yang melatih Banser.

Sang komandan pun geleng-geleng kepala. Seakan ia takjub: apa motif di balik ini semua? Tentu bukan pangkat, jabatan, apalagi harta.

"Saya juga punya cerita menarik," imbuh instruktur lain, masuk obrolan. "Dulu, di hari pertama Diklatsar, ada seorang purnawirawan TNI yang ingin mendaftar jadi Banser, tetapi ditangguhkan," ungkapnya. Kurang lebih pembicaraannya seperti ini:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

"Pak, saya pensiunan TNI. Saya ingin mengabdikan diri saya dan kemampuan saya untuk Banser NU. Saya mau ikut acara Diklatsar ini"

"Oh, iya Pak. Boleh sekali anda masuk Banser. Tetapi, tidak bisa hari ini. Pendaftaran sudah tutup beberapa hari yang lalu. Bapak ikut Diklat di zona selanjutnya saja, nanti kita kontak"

Cerita itu, kemudian disambar oleh instruktur lain.

"Kalau pensiunan TNI masuk Banser memang banyak, saya sering menemui di Diklatsar maupun Susbalan di berbagai kabupaten," ketusnya, sambil mengangkat gelas bening berisi kopi. "Mereka rata-rata ingin mengabdikan diri di sisa-sisa umurnya, di dunia yang selama ini tak asing baginya: kemiliteran, kebelanegaraan dan khususnya keagamaan," imbuhnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Obrolan santai itu masih berlanjut. Sepertinya masing-masing punya cerita dan pengalaman tersendiri.?

"Saya juga pernah menemui seorang yang sudah kaya-raya, mapan, dan bahkan anaknya bekerja di BUMN, tetapi mau masuk Banser. Alasannya sederhana tapi berat pelaksanaannya: mau menghibahkan diri untuk kepentingan orang lain, bermanfaat bagi sesama, yang selama ini cenderung memikirkan diri sendiri dan, maksimal, untuk keluarga," kata seorang instruktur.?

Ia mengambil nafas beberapa jenak, kemudian melanjutkan. "Tapi ada sedikit keanehan untuk Banser yang satu ini?," terusnya.

"Keanehan seperti apa?" serobot, seseorang diantara kami, penasaran.

"Dia itu, di kegiatan NU maupun kebanseran, banyak membantu dan menyumbang dana untuk NU. Maklum, dia kaya raya. Tapi, kalau pas ndilalah diminta mengamankan pengajian dan ada uang transport, meskipun kecil untuk sekadar seliter-dua liter bensin, kalau dia tidak dikasih, dia marah," tuturnya. Semua dari kami pun tertawa, sambil berpikir.

"Mungkin, meskipun bisyaroh-nya kecil, kalau bisyaroh hasil ngepam - istilah untuk Banser yang sedang bertugas - hasilnya beda: ada kepuasan dan keberkahan tersendiri," kata salah satu dari kami, mencoba menafsiri.

Suasana di ruang itu begitu hangat, cair dan renyah dengan obrolan seputar NU khususnya Banser yang seakan tiada habisnya.?

Saya sendiri, menyaksikan bagaimana Banser bekerja untuk NU dan bangsa. Tiap kali acara, khususnya acara-acara ke-NU-an, mereka senantiasa siap siapa berjaga, bahkan sampai fajar tiba. Mereka mengawak para kiai yang memasuki arena, di tengah ribuan jamaah yang menyerbu ingin semuanya bersalaman. Tak peduli panas terik matahari dan guyuran hujan, jika sudah tugas organisasi, mereka melaksanakan sepenuh hati. Mereka, selain penerus sejarah panjang Banser, Ansor, NU, Indonesia dan Islam, dengan segala dinamikanya, menjadi Banser adalah sebuah passion dan way of life. Banyak dari mereka yang bangga memakaikan seragam Banser kepada istrinya, anak kecilnya dan bahkan dikenakan ketika pernikahan tiba, salah satu moment terpenting dalam hidupnya.?

Di usianya yang makin tua, dan dihadapkan pada berbagai tantangan kebangsaan seperti terorisme, disintegrasi bangsa, intoleransi antarumat beragama dan berbagai potensi konflik sosial, Banser terus memperbaiki diri dari hari ke hari. diklat-diklat terus dilakukan, untuk memperbaharui anggota, juga pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan SDM. Diklatsar khusus mahasiswa dan dosen muda pun terus gencar digelar.?

Menjelang Harlah GP Ansor yang ke-83 semenjak 24 April 1934, jutaan anggota Banser menjadi semakin penting keberadaannya di Tanah Nusantara. Di Negara Pancasila: NKRI. Yah, mereka punya strategi, punya kekuatan dan punya semangat yang berapi-api. Banser bukan intelektual yang hanya duduk membaca, diskusi dan menulis di depan komputer. Mereka bukan profesor yang banyak menemukan teori. Mereka juga bukan politisi yang bicara tetek bengek persoalan negeri, yang beberapa diantaranya diam-diam korupsi. Banser ada ketika negeri ini dikoyak, agama dan ulama dihujat, yang tak hanya pandai bicara, tetapi siap mengalirkan darah dan nyawa.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Amalan, PonPes, RMI NU Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 20 Desember 2017

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III

Solo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Final Liga Satri Nuansantara Regional Jateng III dimenangkan oleh Pondok Pesantren (PP) Walisongo setelah mengalahkan PP Sabilillah dengan skor 1-0 di Lapangan Kota Barat Solo, Jawa Tengah (7/9).

Pertandingan berjalan pada babak ke dua tim dari Sabililah bernomor punggung 24 mendapat kartu kuning, suasana pertandingan sore ini beranjak mendung waktu kurang 10 menit lagi, dan tibalah dimenit terahir Walisongo Menjadi Juara dengan skors 1-0.

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)
Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III (Sumber Gambar : Nu Online)

Menang Tipis 0-1 dari Sabilillah, Walisongo Sragen Juara LSN Jateng III

Atas kemenangan ini Walisongo berhak mengantongi tiket ke babak 32 besar seri nasional Liga Santri Nusantara. Penyerahan piala juara satu diserahkan oleh KH Yusuf Pengasuh Ponpes API Magelang. Sedangkan untuk juara keduaYhogyo wakil pimpinan DPRD Magelang.

Menurut Gus Yusuf sapaan akrab pengasuh API Tegalrejo mengatakan tim yang menjadi juara di tingkat regional merupan tim yang terbaik. "Selamat untuk PP Walisongo sragen anda layak mewakili LSN region Jateng III ke tingkat nasional," tambahnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Untuk kedua kalinya PP Walisongo lolos ke seri nasional Liga Santri Nusantara, yang pada tahun sebelumnya pesantren yang berasal dari sragen ini juga menjadi juara regional Jateng III. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Jadwal Kajian, Kajian, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Jumat, 15 Desember 2017

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Hilal atau bulan sabit untuk awal bulan Sya’ban 1433 H telah terlihat, antara lain di Jakarta dan Bandung. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit  dilakukan pada Rabu (20/6) petang, bertepatan dengan 29 Rajab 1433 H.

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

Hilal Awal Sya’ban Terlihat di Jakarta dan Bandung

Posisi hilal pada saat dilakukan rukyat memang sudah cukup tinggi, lebih dari 5 derajat. Hilal awal Sya’ban antara lain telah terlihat di lokasi rukyat Kampung Basmol Jakarta Barat dan di Observatorium Bosca Lembang, Bandung.

“Hilal awal Sya’ban disaksikan oleh perukyat NU, H Mawardi dan Syamsuri di Basmol Jakarta Barat. Lalu di Bosca Lembang langsung oleh pengurus Lajnah Falakiyah PBNU Hendro Setyanto,” kata KH A. Ghazalie Masroeri dihubungi Internet Marketer Nahdlatul Ulama di Jakarta, Rabu (20/1) malam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dengan terlihatnya hilal berarti tanggal 1 Sya’ban 1433 H sudah dimulai. Dalam kalender qamariyah (hijriyah) pergantian hari dimulai selepas tenggelamnya matahari. Atau jika disandingkan dengan kalender syamsiyah (masehi) 1 Sya’ban bertepatan dengan hari Kamis, 21 Juni 2012.

Dengan dimulainya bulan Sya’ban, menurut Kiai Ghazalie, umat Islam sudah bisa memulai atau menyiapkan beberapa ibadah khusus di bulan ini.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Secara bahasa Sya’ban berarti cabang, maksudnya cabang dari ibadah. Ada beberapa kesunnahan dalam bulan ini, antara lain puasa 3 hari di awal bulan dan di pertengahan bulan. Dan di pertengahan bulan Sya’ban tentunya ada nisfu sya’ban,” tambahnya.

Hasil rukyat awal Sya’ban ini juga sangat penting dalam rangka pelaksanaan rukyat awal Ramadhan nanti. Pelaksanaan rukyatul hilal pada Rabu (20/6) petang ini berdasarkan atas penetapan awal bulan Rajab kemarin yang ditempuh dengan jalan istikmal atau penyempurnaan hitungan bulan Jumadal Tsaniyah menjadi 30 hari, karena pada saat itu hilal tidak terlihat.

Dengan terlihatnya hilal awal Sya’ban pada Rabu petang, maka rukyat awal Ramadhan akan dilakukan sesuai dengan jadwal yang ada dalam kalender NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah. Rukyat awal Ramadhan 1433 H akan diadakan pada 29 Sya’ban, bertepatan dengan Kamis 19 Juli 2012.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Ulama, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 11 Desember 2017

Makna dan Hikmah Shalat

Shalat secara bahasa bermakna doa. Pemaknaan semacam ini dapat kita simak pada ayat Q.S. At-Taubah (9:103):

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna dan Hikmah Shalat

“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Adapun secara istilah, Syekh Muhammad bin Qasim al-Gharabili (w. 918H) dalam kitab Fathul Qarib (Surabaya: Harisma, 2005), hal. 11 menyebutkan:

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? - ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan secara (istilah) syara’–sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Rofi’i, (shalat ialah) rangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, beserta syarat-syarat yang telah ditentukan”.

Dari dua pemaknaan tersebut kita bisa menemukan titik temu yakni di dalam shalat yang kita kenal, memang terdapat banyak sekali terkandung doa.

Ada banyak sekali hikmah yang terkandung di dalam shalat, diantaranya seperti yang dirangkum oleh Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 98:

1. Dalam shalat, ada sujud; sebuah posisi di mana kita merendahkan diri hingga mencium tanah. Ini merupakan pengingat bagi kita akan kerendahan kita di hadapan Allah Sang Pencipta, karena sesungguhnya di hadapan Allah, kita hanyalah hamba yang mutlak sepenuhnya milik Allah.

2. Menyadarkan kita bahwa pada hakikatnya tiada yang mampu memberikan pertolongan pada kita selain Allah.

3. Shalat dilakukan sehari semalam sebanyak 5 kali. Ini berarti ada 5 kali dalam sehari semalam kita bisa bertobat, kembali kepada Allah, karena memang pada dasarnya dalam sehari semalam, tidaklah mungkin kita terluput dari dosa, baik disengaja ataupun tidak.

4. Memperkuat akidah dan keimanan kita pada Allah SWT, karena sesungguhnya sehari-hari godaan kenikmatan duniawi dan godaan setan senantiasa mengganggu akidah kita hingga kita lupa akan keberadaan Sang Khaliq yang Maha Mengawasi. Dengan melakukan ibadah shalat, kita kembali mempertebal keyakinan dan keimanan kita, sebagaimana tumbuhan kering yang segar kembali sesudah diguyur hujan.

Demikian pemaparan tentang makna dan hikmah shalat yang kami sarikan dari berbagai sumber, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bi shawab. (Muhammad ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 29 November 2017

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok

Salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962. Sebelum wafat, Abah Afandi merupakan Pengasuh Pesantren Asy-Syafiiyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat.

Di antara teman yang akrab dengan Abah Afandi sewaktu mondok di Tambakberas adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat itu Gus Dur ikut pamannya yang bernama Mbah KH Fattah Hasyim Idris (Kiyai sepuh pesantren Tambakberas waktu itu).

Di tengah malam, sekitar pukul 23.00, Abah Afandi sering diajak oleh Gus Dur ngopi di tempat (warung) yang cukup jauh dan berada di luar area pondok pesantren. Pulang kembali ke Pondok sekitar pukul 01.00 dini hari.

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Gus Dur dan Abah Afandi saat Usir Maling di Pondok

Suatu saat, sepulang dari ngopi dan sudah sampai di area pondok, Abah Afandi melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Dia berkata kepada Gus Dur: “Gus, ada dua orang lebih di sana. Sepertinya pencuri mau memanjat pagar pondok, sampean kejar Gus”.?

Gus Dur menjawab dengan santai: “Sampean saja yang mengejar”. Saling menyuruh atau meminta siapa yang di depan ini berlangsung berulang-ulang, suara pun semakin keras diantara keduanya, sampai pada akhirnya sang pencuri tahu ada orang, dan melarikan diri.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Gus Dur pun tertawa terkekeh-kekeh, sambil bilang:” Nah praktis khan, cara ngusir malingnya?” Daripada kita berdua mendekat, jadi babak belur, mendingan kita bisik-bisik yang kencang, maling dengar, jadi kabur, kita pun tidak perlu di tengah malam teriak kencang “maling-maling” yang ganggu orang banyak,” ujar Gus Dur dengan tawa khasnya.

Sepulang Gus Dur berkelana dari di Timur Tengah, persahabatan antara Abah Afandi dan Gus Dur kembali terjalin akrab, Gus Dur sering mengunjungi Abah Afandi di Indramayu. Begitu juga sebaliknya, Abah Afandi sering ke Jakarta menemui Gus Dur. Hal itu berlangsung hingga Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Waktu Gus Dur berangkat di Muktamar Ke-28 NU di Krapyak, Yogyakarta, Gus Dur sempat menginap di rumah Abah Afandi selama dua hari. Gus Dur pun mengajak Abah Afandi untuk turut menghadiri Muktamar di Yogya itu, tapi Abah Afandi menolak dengan bahasa: ”Gus, kulo mboten pantes, kulo namung kiai kampung”(Gus, saya tidak pantas, saya hanya kiai kampung),” tutur Abah Afandi.

Bahkan, ketika Gus Dur tiga periode menjadi Ketua Umum PBNU, Abah Afandi pernah beberapa kali diminta oleh Gus Dur untuk dimasukkan ke jajaran kepengurusan di NU pusat itu, tapi lagi-lagi Abah Afandi menolak: ”Saya tidak pantas masuk jadi pengurus PBNU Gus, saya ini bukan orang pandai,” tuturnya.

Termasuk ketika Gus Dur mendirikan partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tahun 1999, Abah Afandi diminta oleh Gus Dur untuk masuk jajaran pengurus pusat PKB, namun Abah Afandi lagi-lagi menolak dengan bahasa halus dan rendah hati.?

Setengah abad kemudian, pada tahun 2000, Gus Dur sudah berada di Istana Negara. Gus Dur menerima Amanat menjadi Presiden Ke-4 RI. Sebagai Presiden, namun Gus Dur tidak lupa atau melupakan teman-temannya sewaktu muda dulu.?

Beberapa teman di undang untuk berkenan datang di Istana Negara. Diantara mereka adalah Abah Afandi. Awalnya Abah Afandi menolak, ketika diundang Gus Dur ke istana. Beliau merasa hanya “orang cilik”, demikian tawaddunya. Padahal banyak orang (kalangan pesantren) Yang sebelumnya tidak kenal dengan Gus Dur, namun mendadak sering ke Istana saat Gus Dur menjabat Presiden.

?

Karena diundang berulang-ulang, akhirnya pada suatu saat, Abah Afandi mau juga diundang ke istana presiden oleh Gus Dur. ? Ketika Abah Afandi tiba di Istana Negara, di hadapan banyak tamu penting, Gus Dur memperkenalkan kepada mereka.

“Ini, Kiai Afandi Indramayu, teman saya nggudak (ngejar) maling ketika mondok di Tambakberas,” Gus Dur.

Bahkan oleh Gus Dur, Abah Afandi pernah diminta menjadi imam solat berjamaah Maghrib di masjid Istana presiden dengan para mentri. Saksi yang masih hidup perihal kedekatan Abah Afandi dan Gus Dur adalah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dan KH Said Aqil Siroj. Demikian persahabatan Abah Afandi dan Gus Dur yang saling menghormati, saling rendah hati, hingga keduanya menghadap Allah SWT.

Ditulis oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas.

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaSantri, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Selasa, 28 November 2017

Harapan Baru dalam Tokyo Meeting

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama
Harapan baru mulai muncul setelah sebelumnya ancaman perang menghadang didepan mata rakyat Aceh. Pemerintah RI dan GAM akhirnya bersedia duduk satu meja dalam Tokyo Meeting yang akan digelar pada tanggal 17 besok di Tokyo.
?
Kabar baik ini merupakan inisiatif dari beberapa negara donor pemulihan Aceh seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. HDC (Henry Dunant Center) -yang selama ini menjadi fasilitator perdamaian- menyambut baik rencana tersebut.

Namun demikian, sampai saat ini GAM dan RI bersedia datang dengan visi dan misi berbeda. Presiden Megawati menegaskan, pemerintah Indonesia tetap membawa proposal bahwa GAM harus mengakui NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), harus meletakkan senjata, serta harus menerima otonomi khusus.

GAM akan membawa proposal mengenai kelanjutan CoHA (Cessation of Hostilities Agreement/Kesepakatan Penghentian Permusuhan) yang ditandatangani 9 Desember lalu). "Jadi, pembahasannya bukan persoalan NKRI atau peletakan senjata," katanya saat ditemui Arnaz Farouq, wartawan, di markas GAM wilayah Lhokseumawe tadi malam.

Di mata para petinggi GAM, yang harus diagendakan dalam perundingan nanti adalah membahas sekaligus menyelesaikan pelanggaran yang terjadi selama CoHA. Sebab, selama ini, GAM menganggap belum ada mekanisme untuk menyelesaikan pelanggaran yang terjadi setelah penandatanganan perjanjian tidak saling memusuhi dari kedua belah pihak.

Ada tiga alasan mengapa GAM akhirnya menerima itu. Pertama, Jepang negara netral. Kedua, HDC menghendaki itu. Dan, ketiga, hal itu akan menjadi sejarah baru bagi pertemuan dialog RI-GAM.

GAM berharap agar pertemuan tersebut dapat diikuti oleh kalangan sipil di Aceh. Tujuannya, mereka mengetahui secara persis bagaimana proses perdamaian itu berlangsung (jp/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes, Meme Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Harapan Baru dalam Tokyo Meeting (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Baru dalam Tokyo Meeting (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Baru dalam Tokyo Meeting

Jumat, 15 September 2017

Sarung Ansor Bakal Diluncurkan di Konferwil GP Ansor Jateng

Pekalongan, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ribuan utusan dari 35 Cabang dan 409 Anak Cabang Ansor se-Jawa Tengah akan turut serta dalam meramaikan jalannya Konferensi Wilayah (Konferwil) GP Ansor yang digelar di Kajen, Kabupaten Pekalongan, Ahad (12/11).

Sarung Ansor Bakal Diluncurkan di Konferwil GP Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarung Ansor Bakal Diluncurkan di Konferwil GP Ansor Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarung Ansor Bakal Diluncurkan di Konferwil GP Ansor Jateng

Ketua GP Ansor Kabupaten Pekalongan Azmi Fahmi yang ditunjuk sebagai tuan rumah menerangkan, pada momen Konferwil akan dimeriahkan dengan peluncuran sarung Ansor.

"Insyaallah pada acara pembukaan akan dimeriahkan dengan penampilan marching band, sedangkan untuk penutupan akan ada peluncuran sarung Ansor," terang Azmi, Jumat (10/11).

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ditambahkan Azmi, beberapa kebutuhan terkait Konferwil Ansor seperti akomodasi peserta, perlengkapan, hingga acara penunjang seperti bazar dan petugas pengisi acara pembukaan, telah dipersiapkan secara matang.

"Selaku tuan rumah yang berketempatan kegiatan tingkat wilayah, Ansor Kabupaten Pekalongan telah melakukan persiapan yang terbaik, termasuk keamanan dari Banser," ujar Azmi.

Pada kesempatan Konferwil ini, para peserta juga akan memilih ketua baru, yang akan menjadi nakhoda Ansor Jateng untuk beberapa tahun ke depa. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama AlaNu, Santri, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 09 Agustus 2017

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah

Jombang, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ketua Aswaja NU Center Jombang, Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah memiliki ciri khusus (khas) tersendiri. Ciri tersebut sebagai pembeda antara penganut Aswaja dari lainnya.

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah

Di antara ciri-ciri khas tersebut, Yusuf menyebutkan yang pertama adalah secara teologis meyakini bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu, ada tanpa tempat dan arah, Mahasuci dari bentuk dan ukuran, dan tidak dapat dibayangkan.

Terkait sejumlah ayat tentang tuhan di Al-Quran atau yang biasa disebut ayat mutasyabbihat (maknanya masih samar), Aswaja memakai metode tafwidl atau takwil. Ayat-ayat tersebut tidak boleh diartikan dan dipahami secara tekstual, melainkan harus ditafsiri dengan metode-metode tersebut.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ciri yang kedua meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Ketiga tidak mengafirkan seorang muslim dengan sebab dosa besar yang ia lakukan selama ia tidak menghalalkannya (meyakini kehalalannya).



(Baca juga: Kriteria Khas Aswaja NU Rumusan Muktamar Ke-33 NU)


Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Kelima, Mengagungkan para sahabat Nabi secara keseluruhan, lebih-lebih khulafaur Rasyidin. Kemudian ciri yang terakhir meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah.

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah golongan yang senantiasa berpedoman pada ajaran Rasulullah dan para sahabat, dan selalu menjadi kelompok mayoritas di setiap masa. "Dalam? masalah akidah, Aswaja mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi," katanya, Ahad (31/72016).

"Pada saat ini, Ahlussunnah wal Jama’ah dikenal dengan sebutan Asy’ariyyah (para pengikut Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyyah (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi)," imbuhnya.

Di samping itu, golongan yang beraswaja tersebut sudah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu kelompok yang diistimewakan dengan memperoleh balasan surga di antara kelompok-kelompok yang lain.

"Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Sebanyak 72 di antaranya berhak masuk neraka, dan satu golongan akan masuk ke dalam surga, yang kemudian dikenal sbg Ahlussunnah wal Jama’ah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes, Ulama Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Minggu, 11 Juni 2017

PMII DKI Jakarta Luncurkan Klub Diskusi di PBNU

Jakarta, Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DKI Jakarta meluncurkan sebuah klub diskusi di Aula PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (21/1/16).

Klub diskusi tersebut diberi nama Diskursus Pemuda Kebangsaan atau DPK. Menurut Koordinator DPK Don Gusti Rao, forum ini dibentuk guna menjaga iklim kajian di kalangan aktivis pergerakan, khususnya PMII DKI.

PMII DKI Jakarta Luncurkan Klub Diskusi di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII DKI Jakarta Luncurkan Klub Diskusi di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII DKI Jakarta Luncurkan Klub Diskusi di PBNU

PMII, lanjutnya, mempunyai rekam jejak yang cukup disegani di bidang kajian. "Di PMII, dulu terkenal Kajian 164 yang menghasilkan tokoh sekaliber Ulil, Amsar, Ahmad Baso, Umam Wiranu, Imdad, Munim DZ, dan lain-lain. Lalu ada juga Formakkar, KSP dan KKS di PMII DKI. Kita ingin merangsang itu agar eksis kembali," tegasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hal senada disampaikan Mulyadin Permana, Ketua PKC PMII DKI. Ia menyambut baik peluncuran forum kajian ini. "Di tengah isu-isu diskriminatif dan intoleransi, kita butuh diskursus akademik yang mumpuni. Apalagi DPK ini punya concern pada isu-isu kemanusiaan," katanya.

Acara peluncuran yang dibuka dengan pemotongan tumpeng tersebut juga dibarengi dengan diskusi bertajuk “Pemuda dan Pemahaman Kebebasan Beragama” yang menghadirkan Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Jalaluddin Rahmat dari Fraksi PDI P, Ketua Umum Banteng Indonesia I Ketut Guna Artha, Nong Darol Mahmada dari Freedom Institute, Ketua Umum BM Hipmikindo Denny Prasetyo, Wasekjend PP GP Ansor Masud Saleh, dan Kepala Kemenag DKI Abdurrahman Harun sebagai pembicara kunci. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes, Cerita Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Senin, 06 April 2015

Hukum Berpuasa di Bulan Rajab

Rajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj ? Nabi Muhammad ? shalallah ‘alaih wasallam ? untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat ? bulan haram, ketiganya secara berurutan ? adalah: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri, ? Rajab.?

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan ? ini, Al-Qur’an menjelaskan:

Hukum Berpuasa di Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berpuasa di Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berpuasa di Bulan Rajab

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Hukum Puasa Rajab

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.?

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda "Puasalah pada bulan-bulan haram." (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasai dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Syaban. Rasul menjawab: Bulan Syaban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang."

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, "Bulan Syaban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan orang" itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan ? berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram, dan ? Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum ? di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam ? Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Rajab dan ? Muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Hadis Keutamaan Rajab

Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab:?

• Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdoa:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

• "Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan."

• Riwayat al-Thabarani dari Said bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana ? berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya....."

• "Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut".

• Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Rajab itu bulannya Allah, Syaban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku."?

• Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.

(Yusuf Suharto)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Budaya, PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kamis, 23 Juli 2009

PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU

Gorontalo, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Ketua PMII Gorontalo Sutiyopan mendukung sepenuhnya keputusan sidang komisi organisasi pada Munas-Konbes NU 2014 kemarin perihal kembalinya PMII sebagai banom NU. Ia menyebutkan sekurangnya tiga poin sebagai argumentasinya.

Menurut kami, kata Sutiyopan, memang sudah seharusnya PMII kembali kepada NU. Ketika memutuskan sebagai organisasi independen pada 1972, PMII memandang pada saat itu NU sebagai orpol.

PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Gorontalo Setuju PMII Kembali Menginduk ke NU

“Sementara kini kita sudah maklum, NU sudah bukan organisasi politik melainkan organisasi kemasyarakatan,” terang Sutiyopan.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ia menyatakan kekhawatirannya kalau PMII bersikukuh untuk independen, PBNU akan membentuk sayap pergerakan baru bagi mahasiswa NU. “Kalau ini sampai terjadi, organisasi baru itu akan melemahkan integritas dan eksistensi PMII di masa yang akan datang.”

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sutiyopan mengharapkan seluruh kader dan anggota PMII di seluruh Indonesia agar menyatukan presepsi dalam mengambil sikap untuk mendukung kembalinya PMII ke NU. (Zulkarnain Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes, Pahlawan, Jadwal Kajian Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Rabu, 04 Februari 2009

Disayangkan Rencana Pencabutan Perda Diniyah Takmiliyah di Kudus

Kudus, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Harapan masyarakat memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur peningkatan kualitas keagamaan terutama madrasah Diniyah di Kudus seakan di ujung tanduk. Pasalnya, Perda No 3 Tahun 2013 tentang Diniyah Takmiliyah akan dicabut oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) setelah sebelumnya melakukan evaluasi.

Kabag Hukum Setda Kudus Suhastini menginformasikan rencana pencabutan Perda tersebut. Dijelaskan, Perda Diniyah berada pada kewenangan kementerian agama (kemenag) sehingga pemkab Kudus sampai saat ini belum bisa menjalankan.

Disayangkan Rencana Pencabutan Perda Diniyah Takmiliyah di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Disayangkan Rencana Pencabutan Perda Diniyah Takmiliyah di Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Disayangkan Rencana Pencabutan Perda Diniyah Takmiliyah di Kudus

Menanggapi hal tersebut, Pengurus Cabang Nahdlataul Ulama (PCNU) Kabupaten Kudus Jateng sangat menyayangkan rencana pencabutan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tersebut. Menurut Sekretaris PCNU Kudus H. Agus Hari Ageng, alasan kewenangan Kemenag yang memang tidak otonomi Daerah hanyalah upaya melemahkan keberadaan Perda.

"Kudus sebagai kota santri, sudah selayaknya pemkab mengikat dan meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat. Salah satu jalan ya melalui Perda ini," katanya kepada Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Selasa (7/6).

Ageng menilai pemkab belum memiliki Itikad baik terhadap pelaksanaan Perda Diniyah ini. Buktinya, nasib perda yang diputuskan DPRD Kudus tiga tahun lalu nasibnya tidak ada tindak lanjut pelaksanaan. "Belum dijalankan, kok tiba-tiba ada kabar perda dievaluasi dan mau dicabut. Ini bukti lemahnya pengawalan Pemkab dan Kemenag Kudus, kurang serius," tandasnya.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

PCNU, katanya, akan berusaha menjalin komunikasi kepada berbagai pihak guna mengawal Perda yang menjadi keinginan masyarakat Kudus sehingga harapannya bisa tetap dijalankan. "Kalau urusan keagamaan bagian dari Kemenag yang tidak otonomi daerah, saya kira bisa dikompromikan sesuai ketentuan. Para pengambil kebijakan tentunya lebih paham," ujar Ageng.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Dari catatan Internet Marketer Nahdlatul Ulama, Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang Diniyah Takmiliyah sudah disahkan DPRD Kudus pada tahun 2013 lalu. Namun, Perda hasil inisiasi wakil rakyat ini sampai ? kini belum bisa terlaksana. Karena masih menunggu terbitnya Peraturan Bupati (Perbub) sebagai acuan pelaksanaan Perda tersebut. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes, Makam, Kajian Islam Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock