Minggu, 25 Februari 2018

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari

Oleh M. Rikza Chamami

Prof Abdurrahman Masud dalam disertasinya The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teaching menjelaskan bahwa KH Hasyim Asyari (1871-19476) merupakan kiai pergerakan.

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Persatuan Bangsa KH Hasyim Asyari

Kharisma Mbah Hasyim sudah banyak dirasakan masyarakat. Ia merupakan pemimpin yang sangat dekat semua kalangan karena skill dan kepemimpinannya yang sangat khas nusantara. 

Kedalaman ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Timur Tengah dipadu dengan ilmu Jawa khas Walisongo. Pernik-pernik pemikirannya pun terejawantahkan dalam dunia pesantren dan organisasi para kiai, yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Pesan-pesan Mbah Hasyim dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangat jelas. Bahwa Indonesia akan memiliki kekuatan besar jika warganya bersatu dan kompak melawan penjajah. Maka fatwa resolusi jihad yang dikomando olehnya menjadi modal kemerdekaan sejati Indonesia.

Tepat pada Senin Pahing, 17 September 1945/9 Syawal 1364, Mbah Hasyim mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Ini semakin nyata bahwa komitmen kebangsaan Mbah Hasyim sangat tinggi--dimana ketika Presiden meminta fatwa, maka langsung direspon dengan sigap. Di sisi lain yang perlu dilihat adalah fatwa tersebut berisi pesan persatuan bangsa.

Lawan yang dihadapi oleh Indonesia saat itu jelas para penjajah. Maka seluruh komponen bangsa harus bersatu padu, tanpa melihat latar belakang agama, suku dan lainnya. Karena Mbah Hasyim berada pada zona pemimpin bangsa, fatwa itu dikeluarkan dan menjadikan semangat melawan penjajah.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Masih ada dua pesan lagi yang perlu dihayati dalam menjaga persatuan bangsa. Apa itu? Bahwa sepeninggal para penjajah itu, Indonesia masih memiliki tantangan lain, yakni wahabi.

Sangat tegas dituliskan dalam kitab karya Mbah Hasyim, Risalah Ahlussunnah wal Jamaah fi Haditsil Mauta wa Asyratis Saah wa Bayani Mafhumis Sunnah wal Bidah bahwa Jawa (Indonesia) menghadapi tantangan gelombang wahabi pada 1330 H (1909). 

Wahabi merupakan firqah yang bertentangan dengan ulama salaf yang menganut pendapat Muhammad bin Abdul Wahab Annajdi, Ahmad Ibnu Taimiyyah, Ibnu Al-Qayyim, Ibnu Abdi Al-Hadi, Syaikh Muhammad Abduh, dan Syaikh Rasyid Ridla. Mereka misalnya melarang ziarah kubur dan tahlil. 

Keberadaan wahabi dan pengikutnya kata Mbah Hasyim menyitir pendapat Syekh Muhammad Bakhit Al-Hanafi dalam Kitab Tathhirul Fuad Min Danasil Itiqad bahwa wahabi menjadi wabah yang berbahaya sejak dulu sampai sekarang. Keberadaan mereka selalu menjadi kelompok sempalan yang melukai kaum muslimin dan harus diamputasi.

Nampaknya dua pesan Mbah Hasyim ini perlu menjadi renungan kita bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam menyambut hari lahir ke-92 NU.

Pertama, bangsa yang sudah merdeka perlu dijaga dengan baik dan semua harus sigap jika suatu saat ada musuh yang datang merusak NKRI.

Kedua, bahaya gerakan yang mengatasnamakan Islam namun berniat merusak NKRI perlu kita waspadai bersama. Sebab Indonesia selalu banyak dilirik oleh dunia karena memiliki kekuatan SDM dan SDA yang sangat luar biasa.

NU perlu menjadi kekuatan bangsa yang dapat merangkul dan dirangkul semua pihak dalam rangka menebarkan Islam ahlussunnah wal jamaah yang sesuai syariat Islam dan menanamkan cinta tanah air hingga hari kiamat. 

Penulis adalah Pengurus PW GP Ansor Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama PonPes Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kami ada untuk indonesia, Internet Marketer Nahdlatul Ulama.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock