Kamis, 28 Desember 2017

Orang Pemarah Teladani Siapa?

Marah merupakan tabi’at yang tidak bisa hilang dalam diri manusia. Ia seakan-akan sudah manunggaling dengan jiwa manusia. Siapapun sebenarnya memiliki potensi marah. Walaupun marah tidak bisa dilenyapkan dari tubuh manusia ia mesti selalu dikontrol dan dikendalikan.

Kepada manusia, Allah SWT mengaruniai akal yang berfungsi untuk menuntun amarah. Bila ada manusia yang tidak mampu mengontrol amarahnya, berarti ia belum mampu mengoptimalkan kinerja akalnya.

Orang Pemarah Teladani Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Pemarah Teladani Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Pemarah Teladani Siapa?

Banyak literatur keislaman menyebutkan bahwa mengendalikan amarah terbilang perbuatan yang mulia. Namun, fakta di lapangan sangat sedikit sekali orang yang mampu menerapkan ajaran ini secara total. Memang rasanya tidak mudah menahan amarah ketika ada orang zhalim dan menyakiti kita apalagi perbuatan itu dilakukan berulang-ulang kali.

Sebab itu Imam al-Ghazali membuat bahasan khusus tentang bahaya amarah dan kiat menghilangkannya dalam Ihya Ulumiddin. Bahasan ini kemudian disarikan oleh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dalam Mau’idzatul Mu’minin. Al-Qasimi menyebutkan dalam kitab ini bahwa salah satu cara yang bisa ditempuh untuk meredam amarah ialah sebagai berikut,

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Di antara cara menghilangkan marah ialah membayangkan buruknya rupa orang yang sedang marah sembari membayangkan bentuk wajah orang lain ketika marah. Jeleknya wajah orang yang sedang marah itu ditanamkan dalam hati dan jika diperhatikan wajahnya hampir serupa dengan binantang buas.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Sementara orang yang sabar diberi petunjuk, dan mampu menahan amarah. Rupanya disamakan dengan para nabi, wali, ulama, dan orang-orang bijak. Ia diberi pilihan apakah mau disamakan dengan binatang buas atau manusia yang paling jelek, atau dengan ulama dan para nabi. Tujuan penyamaan ini adalah agar hati mereka cenderung untuk mengikuti nabi, wali, dan para ulama selama akal sehat masih ada dalam dirinya.

Kutipan ini sekaligus sindiran dan solusi bagi orang yang suka marah. Wajahya disamakan dengan binatang buas. Sedangkan orang yang pandai menahannya diumpakan karakternya dengan para nabi dan wali.

Bagi orang yang berakal tentu ungkapan ini akan membuat mereka berubah. Sebab pada dasarnya tidak ada manusia yang mau disamakan dengan binatang. Berdasarkan penjelasan ini dapat dipahami bahwa Islam identik dengan keramahan, bukan kemarahan. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Halaqoh, Nasional Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kami ada untuk indonesia, Internet Marketer Nahdlatul Ulama.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock