Kamis, 10 Maret 2016

Jangan Hanya Mengaji pada Ustadz Televisi

Sleman, Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Para kader Nahdlatul Ulama (NU) perlu meningkatkan kapasitas keilmuannya menyusul adanya pergeseran ideologi di tubuh ormas Islam terbesar ini. Mereka mesti mengaji pada kiai yang benar-benar kiai, bukan kiai atau ustadz di televisi.

Demikian disampaikan al-Habib Prof Dr KH Said Agil Husin Al Munawar saat mengisi mauidhah hasanah pada acara Syawalan dan Pamitan Calon Jama’ah Haji Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DI Yogyakarta, Sabtu (31/08), di Halaman Gedung SDNU, Jl. Ringroad Barat, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Jangan Hanya Mengaji pada Ustadz Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Hanya Mengaji pada Ustadz Televisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Hanya Mengaji pada Ustadz Televisi

Menteri Agama 2001-2004 ini menjelaskan, maksud dari kiai yang benar-benar kiai adalah mereka yang memiliki ijazah (ketersambungan silsilah keilmuan) dari guru-gurunya terdahulu, sebagai bukti akan adanya otoritas keilmuan dalam dirinya. Kiai seperti itu hanya dapat ditemukan di pesantren, bukan di televisi.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

“Itulah tradisi yang harus kita pertahankan, yaitu ijazah. Di samping keilmuan, ada keberkahan yang tidak ada tandingannya karena kiai lah yang ikhlas dalam mengajar. Pergeseran ideologi harus kita bendung. Solusinya adalah kembali ke pesantren, kiai. Karena kalau tidak seperti itu, tidak ada lagi yang akan bisa membendungnya,” pungkas Said Agil Husin siang itu.

Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Momentum Keterbukaan

Dalam acara Syawalan itu, lulusan Unversitas Ummul Qura Mekah ini juga memaparkan bahwa momentum Syawalan mengajarkan kita tentang keterbukaan. Jika kita terbuka kepada Allah maka Allah juga akan terbuka kepada kita. Sebaliknya, jika kita tidak terbuka kepada Allah maka Allah juga tidak akan terbuka kepada kita.

Ia pun melanjutkan dengan menjelaskan makna dari kata ‘insan’ yang dalam bahasa Arab berarti manusia. Pertama, kata tersebut berasal dari kata kerja (fi’il) nasiya-yansa yang berarti lupa. Itulah kenapa manusia disebut insan, yakni likatsrati nisyanihi, atau karena banyaknya lupa. Kedua, berasal dari kata al-unsu yang berarti harmonis.

“Artinya bahwa manusia itu memiliki potensi untuk membangun suasana harmonis, yakni ketika tidak ada gesekan antar sesamanya. Kalau manusia bersih dari pelanggaran, maka posisinya akan dekat dengan Allah. Sebaliknya, jika ada gesekan maka ia akan merasa sudah tidak dekat lagi, sebelum ada maaf sebagai penghilang gesekan itu,” ungkap Said Agil Husin. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Internet Marketer Nahdlatul Ulama Warta, Hikmah Internet Marketer Nahdlatul Ulama

Kami ada untuk indonesia, Internet Marketer Nahdlatul Ulama.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Internet Marketer Nahdlatul Ulama sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Internet Marketer Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Internet Marketer Nahdlatul Ulama dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock