Oleh Syafiq Hasyim
Sepintas pada minggu lalu saya sudah kemukakan bagaimana proses awal peletakan dasar-dasar ilmu Nahwu yang melibatkan para Sahabat Nabi seperti Sayyidina ?Umar dan terutama Sayyidina ?Al? dan juga Ab? al-Aswad al-Du’al?. Agar terkesan lebih sistematis, saya akan menulis babakan sejarah ilmu ini.
***
| Gelombang Ilmu Nahwu (Sumber Gambar : Nu Online) |
Gelombang Ilmu Nahwu
Kalangan sejarahwan Nahwu biasanya membagi ilmu Nahwu ke dalam empat empat gelombang. Pertama, periode peletakan dasar dan pembentukan ilmu Nahwu (al-wa?u wa al-takw?n). Hal terutama dikembangkan oleh kalangan ulama Nahwu berlatar belakang Ba?rah (akan dijelaskan siapa kelompok Basrah dalam tulisan-tulisan berikut). Kedua, periode kemunculan dan perkembangan yang dipelopori baik oleh kubu Ba?rah maupun K?fah. Ketiga, periode hasil dan penyempurnaan yang yang juga oleh kedua kubu Ba?rah dan K?fah. Keempat, periode pemilahan dan juga pelebaran melalui karangan-karangan yang luas.Internet Marketer Nahdlatul Ulama
Periode yang terakhir ini dikembangkan oleh kalangan ulama Nahwu dari Baghdad, Andalusia, Mesir dan Syria. Meskipun periodisasi ini dibuat, namun sebetulnya tidak ada masa dimana benar-benar ada periode murni, terutama setelah gelombang pertama di Basrah. Kalangan Ba?rah bisa dipengaruhi oleh kalangan K?fah (akan dijelaskan dalam tulisan selanjutnya siapa kubu K?fah) dan demikian juga sebaliknya. Atau bahkan saling keterpengaruhan juga bisa terjadi antara kalangan Ba?rah dan K?fah pada satu sisi dan kalangan Mesir, Baghdad dan lain sebagainya pada sisi yang lain.Minggu ini saya akan memulai dengan penulisan gelombang pertama ilmu Nahwu dimana cerita tentang aktor-aktor utama seperti Sayyidina ?Al? dan juga al-Du’al? pasti akan terulang lagi. Hal ini karena mereka berdualah yang boleh dikatakan sebagai peletak dasar ilmu ini sebagaimana yang dikatakan dalam buku Tarikh al-Nahwi al-Arab? f? al-Mashriq wa al-Maghrib, karangan Mu?ammad Mukhtar Wala Abba cetakan tahun 2008.
Internet Marketer Nahdlatul Ulama
***Sebagaimana diketahui dalam sejarah kita, Sayyidina ?Al? adalah sepupu dan hidup lekat dengan keseharian Rasulullah. Konon menurut banyak riwayat, boleh dikata tidak ada hari-hari Rasulullah tanpa Sayyidina ?Al? hadir di sampingnya. Kedekatan Sayyidina ?Al? dengan Rasulullah inilah yang oleh sebagian umat Islam ditafsirkan bahwa kelak akan menjadi pengganti Nabi. Bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad, namun sebagai pengganti kepemimpinannya.
Berdasarkan pada kedekatan ini pula, kalangan sejarahwan Nahwu mengambil kesimpulan jika pemikiran kenahwuan Sayyidina ?Al? diperoleh langsung dari Al-Qur’an dan al-Sunna al-Nabawiyya sebab beliau adalah pihak yang mengetahui paling banyak dengan apa, dimana, dan bagaimana wahyu ini diturunkan kepada Rasulullah secara persis. ?Al? juga mengetahui betul bagaimana Rasulullah melafalkan kitab suci ini.
Di sini, al-Qaf? dalam kitabnya, Inb?h al-Ruwwa (Vol. I, h. 39) mengutip kesaksian al-Du’al? ketika bertamu dengan Sayyidina ?Al?. Diceritakan, ketika al-Du’ali masuk ke kediaman Sayyidina ?Al?, dia melihatnya sedang merenung. Lalu al-Du’ali memberanikan diri untuk bertanya: “wahai pemimpin orang yang beriman, apa yang anda pikirkan?” Ali menjawab: “Saya dengar bahwa di daerahmu ada pembacaan Al-Qur’an yang seperti demikian, karenanya saya bermaksud menuliskan kitab yang berisi dasar-dasar ilmu bahasa Arab.” Lalu al-Du’al? menjawab: ”Jika engkau Am?r al Mulmin?n melakukan hal ini maka itu akan sungguh-sungguh menghidupkan kita dan juga mengekalkan bahasa itu –bahasa Al-Qur’an—dengan kita.”
Dialog itu terhenti sampai beberapa hari kemudian al-Du’al? berkunjung kembali ke kediaman Sayyidina ?Al? dan sudah menemukan lembaran karangan tersebut. Lembaran itu secara bebas saya terjemahkan sebagai berikut: “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, kal?m, (untuk gampangya saja, saya terjemahkan dengan istilah diskursus, meskipun bahasa Arab modern sering menggunakan istilah al-khit?b atau al-qadhaya untuk terjemahan Inggris discourse), itu terdiri dari ismun (nama-nama benda), fi?lun (jenis aktivitas), dan ?arfun (?arfun adalah kategori di luar ismun dan fi?lun).
Adapun ismun –sebut isim–adalah nama yang muncul dari suatu benda yang dinamai (al-musamm?), fi’lun –sebut fi?il– itu adalah sesuatu yang muncul dari pergerakan benda-benda yang dinamai tersebut (al-musamm?), dan sementara harfun –sebut huruf–adalah sesuatu yang muncul dari makna yang tidak bisa masuk ke dalam kategori isim dan fi?il.
Lalu Sayyidina ?Al? berkata kepada al-Du’al?, “ikutlah aturan itu, tambahkan di dalamnya sesuatu yang terjadi padamu dan ingatlah Abu al-Aswad bahwa al-asm?’ (nama-nama, isim) itu terdiri dari tiga hal: yang lahir, yang tersamar, dan sesuatu yang berada di antara kategori lahir dan tersamar.”
Masih banyak versi riwayat tentang interaksi antara Sayyidina Ali dan al-Du’ali yang bisa kita temukan di kitab-kitab besar lainnya seperti dalam Kit?b al-Agh?n? (books of songs) karya al-Isbah?n?, al-Mar?tib al-Lughawiyy?n karya Ab? ?ayyib al-Lughaw?, dan al-Fahrasat karya Ab? Nad?m. Dan inilah semuanya yang menjadi ungkapan pertama tentang ilmu Nahwu yang sekarang kerumitan teorinya kita bisa temukan di dalam karangan-karangan yang panjang-panjang.
***
Sayyidina ?Ali sebetulnya oleh kalangan sejarahwan Nahwu tidak dimasukkan dalam sejarah gelombang pertama ilmu Nahwu, namun diletakkan sebagai cikal dan inspirator utama dimana para generasi gelombang pertama merujuk. Jika bicara gelombang pertama, maka pembicaraan biasanya mulai dari Ab? al-Aswad al-Du’al? sampai pada periode Imam Khal?l b. A?mad.
Lalu siapa al-Du’al?
Pembicaraan tentang dia sudah sedikit disinggung dalam tulisan minggu lalu. Kini saya ulang sedikit lagi. Al-Du’al? memiliki nama lengkap ?lim b. Amr b. Sufy?n b. Jandal b. Ya?mur yang lebih dikenal dengan julukan Abu al-Aswad al-Du’al? atau bisa dibaca dengan al-Dayl?. Beliau hidup di rentang tahun 603 sampai 689 M.
Al-Du’al? sangat dikenal dan selalu disebut di kalangan komunitasnya sebagai seorang qurr?’ (imam pembaca Al-Qur’an, mu?addith (periwayat hadis), penyair dan ahli gramatika Arab. Keahlian dalam pelbagai keilmuan tradisional Islam inilah yang membuat namanya menjadi harum sepanjang hidupnya. Pergaulannya yang erat dengan Sayyidina ?Al? dan juga dengan Ibn ?Abb?s –peletak dasar Tafsir—telah meningkatkan pengetahuan al-Du’al? tentang Al-Qur’an dan sebagai titik tolak akan malakah (kemampuan) dalam bidang bahasa. Ibn Sal?m al-Jamh? dalam kata pendahuluan ?abaq?t al-Shu?ar? menyatakan bahwa Ab? al-Aswad adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar tata bahasa Arab, membuka pintu dan membuat apik (memparadigmakan) bahasa Arab.
Secara spesifik, al-Du?al? memulai pembahasan mengenai f?il (pelaku), maf?l (obyek pelaku), mu?f, huruf jer, rafa?, na?ab dan jazm. (maaf tidak sempat menguraikan satu persatu, saya anggap pembaca sudah berbekal sedikit tentang ilmu ini). Salah satu hal yang al-Du’al? laksanakan dalam proses pengharakatan (pemberian tanda baca) pada Al-Qur’an adalah ketika dia mendengarkan ada seseorang yang membaca surat al-Tawba ayat 3 sebagai berikut: “inna l-l?ha bar?’un min al-mushrik?na wa ras?lihi,” dengan bacaan kasrah pada huruf lam pada kalimat ras?lihi.
Mungkin bagi orang awam, pembacaan seperti ini biasa saja dan sudah benar mengingat tidak ada tanda baca pada mushaf Al-Qur’an pada masa itu. Namun bagi ahli Nahwu, pembacaan yang demikian ini menimbulkan bahaya besar sebab dengan pemberian tanda baca kasrah pada kalimat ras?lihi bisa menciptakan arti lain yakni: “Allah membiarkan orang kafir dan rasul-Nya.”
Al-Du’al? tergugah untuk memberikan tanda baca fathah pada huruf lam, suk?n pada waw dan ?amma pada kalimat ras?lahu. Dengan membetulkan cara pembacaan orang awam tersebut, maka artinya menjadi sama sekali lain “Allah dan Rasul-Nya membiarkan (makna bahasa Jawa, lebaran) dari orang-orang poleteis (percaya banyak Tuhan).
Hal yang dilakukan oleh al-Du’ali bisa jadi dipandang sepele, namun tidak demikian hal sesunggunya bagi mereka yang mengetahui kompleksitas ilmu Nahwu dan kaitannya dengan pembacaan dan pemaknaan Al-Qur’an. Contoh-contoh lain masih banyak lagi, namun nanti saya paparkan pada versi yang agak serius di lain waktu dan lain halaman.
***
Siapa yang mengambil ilmu dari al-Du’al? dalam gelombang pertama ini? Baiklah, selanjutnya saya paparkan beberapa murid utama dari al-Du’al?. Pertama adalah tokoh yang bernama Na?r b. ‘?im al-Layth? yang wafat pada tahun 89 H.
Ibn ?A?im dikenal sebagai seorang f?qih yang bersanad kepada al-Du’al? dalam bidang Tafsir dan Nahwu. Sebagian ulama berpendapat bahwa, dia juga belajar Nahwu dari Ya?y? b. Ya?mar al-?Adaw?n?. Tokoh ini diriwayatkan menulis sebuah kitab tentang bahasa Arab, namun kitab ini tidak diketahui oleh banyak kalangan akan keberadaannya. Namun yang mesti, sebagaimana dinyatakan oleh ?Abd al-?l, Ibn ‘?im memiliki kontribusi dalam menciptakan istilah-istilah bahasa Arab, tanda baca dalam mushaf Al-Qur’an dan sebagian temuannya mempengaruhi cara baca Al-Qur’an.
Al-Zab?di memberikan contoh bagaimana Ibn ‘?im membaca surat al-Ikhl? dimana semua kata a?ad dalam surat ini tidak dibaca dengan tanw?n, a?adun. Perlu diketahui bahwa fenomena bacaan tanw?n baru dikenal di kalangan ahli Nahwu setelah Ibn ?im. Adapun kontribusi Ibn ?im dalam menandai (nuq?a) mushaf Al-Qur’an yang dilakukan bersama-sama dengan Ya?y? b. Ya?mar dan ?asan Ba?r? atas permintaan ?ajj?j b. Y?suf al-Thaqaf?. Semua proyek penuqtahan ini merupakan upaya untuk melengkapi pekerjaan yang sudah dirintis oleh al-Du’al?, yang telah memulai penuqtahan Al-Qur’an secara i?rab? dalam bentuk penkharakatan.
Sementara sumbangan khusus Ibn ?im adalah memberi titik-titik pada abjad Al-Qur’an untuk membedakan satu sama lainnya, misalnya antara kha, ?a, dan jim dan lain sebagainya (lihat kitab al-Zarkash?, al-Burh?n).
Ada dua bacaan yang sering dinisbahkan ke Ibn ?im yang dinilai sebagai aneh (sh?dh: dalam bahasa Jawa bisanya disebut nerecel) yakni (1) al-Araf 165: bi adh?bi ba’si, menurut Ab? al-Fat? bacaan pada ba’si harusnya takhfif seperti bacaan pada kata sa-i-ma dan sa-mi, 2) al-Tawbah 110: afaman ussisa buny?nuhu, dimana oleh Ibn ?im dibaca dengan u-su-su, bentuk plural dari as?sun (lihat Ibn J?nn?, al-Muhtasib, vol. 1, h. 303).
Bahasan Ilmu Nahwu ini merupakan bagian ketiga. Bagian pertama bisa dilihat di sini, bagian kedua bisa dilihat di sini. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.
Dari Nu Online: nu.or.id
Internet Marketer Nahdlatul Ulama Nahdlatul Internet Marketer Nahdlatul Ulama
